CHAPTER 2
"Lain kali catat dengan benar Kim Jongin, memandang orang terlalu lama akan membuatmu susah fokus,"
Happy reading!
.
.
.
"Jongin..."
"Hm?"
"Jong..."
"Hmm?"
"Ngin..."
"Apaan?" gerutu Jongin menoleh ke arah Taemin. "Tintamu meluber tuh," tunjuk Taemin dengan dagunya. Jongin menoleh ke arah perkamen tugasnya dan benar saja, tinta pena bulunya menetes, meninggalkan bentuk bulatan besar yang mengenai tulisannya.
"TUGASKU!"
Taemin tertawa sementara Jongin tergopoh-gopoh mencari perkamen baru di antara gulungan kertas yang dibawanya.
"Taemin, perkamenku habis. Minta punyamu dong."
"Makanya fokusnya ke tugas, bukan ke Sehun," goda Taemin sambil memberikan perkamen miliknya kepada Jongin.
"Aku tidak fokus ke sana kok!" gerutu Jongin mulai menulis ulang lagi tugasnya. "Aku sedang...memikirkan cara buat menyelesaikan dare Baekhyun."
Taemin hanya mengangguk-angguk, tidak tahu apa pemuda itu percaya dengan omongan Jongin atau tidak. Jongin sedikit skeptis, karena ia bisa melihat senyuman jahil dari Taemin.
Ya, sejak tadi pandangannya memang ke arah barisan meja Ravenclaw.
Seperti biasa, Sehun akan menghabiskan waktunya untuk mengerjakan tugas di Great Hall. Padahal dulu sebelum mengenalnya, Jongin jarang melihat pemuda albino itu berada di Great Hall, selain untuk makan.
Tentu saja ia tahu, karena sebagian waktu Jongin dihabiskan untuk menemani Taemin mengerjakan tugas di Great Hall, sisanya akan berada di lapangan Quidditch atau ruang rekreasi Hufflepuff. Lagipula Great Hall tempat yang pas untuk bertemu teman-temanmu dari asrama lain.
Namun, sebenarnya dalam hati, Jongin merasa senang. Setidaknya ia bisa melihat Sehun dari jauh.
"Memangnya kemarin tidak jadi?" tanya Taemin masih fokus pada tugasnya.
"Apanya?"
"Kudengar kemarin kau mengajak Sehun makan siang."
"Dari mana kau dengar? Kau kan tidak ada di tempat."
"Ya, kau tahulah anak asrama kita cepat sekali dalam soal gossip."
Jongin menghela nafas lalu menyenderkan kepalanya di meja. Beritanya lebih cepat menyebar seperti sambaran petir. Bagaimana kalau mereka tahu kalau Sehun itu pacarnya? Apa seisi sekolah akan gempar?
"Aku bingung bagaimana mengajaknya makan siang, Min," gumam Jongin sesekali meniup bulu pena miliknya.
"Tinggal...ajak saja?"
Jongin menatap jengah ke arah Taemin. "Kalau dengan cara seperti itu berhasil, dari kemarin aku sudah berhasil!"
"Ya, aku tidak tahu," balas Taemin sambil mengangkat bahunya, tangannya masih fokus untuk menulis. "Kurasa Sehun tipe membosankan."
"Apa maksudmu?" Tanpa sadar, terselip kekesalan di nada bicara Jongin. Taemin melihatnya sekilas sebelum tersenyum ganjil, Jongin berusaha tidak menghiraukan arti senyum sahabatnya itu. "Maksudku, selera Sehun tidak muluk-muluk, tidak harus mewah...kurasa, ajak ke Three Broomstick akhir minggu nanti mungkin dia akan setuju," jelas Taemin.
Tidak harus mewah, pikir Jongin.
Kalau diingat-ingat perkataan Taemin ada benarnya juga. Ia sempat beberapa kali makan dengan Sehun, bahkan jika mereka diam-diam makan di menara barat, Sehun tetap setuju.
'Win my heart again, will you?'
Kembali kata-kata Sehun terngiang di benak Jongin.
Pemuda itu sebenarnya tidak ingat bagaimana cara dirinya mendekati Sehun, itu hampir sepuluh bulan yang lalu, Jongin rasa. Otaknya tidak pandai mengingat memori lama-lama, jika ditanya apa makan siang Jongin kemarin, mungkin ia akan memilih Taemin untuk menjawabnya.
Sehun memang senang sesuatu yang sederhana.
Tapi, Jongin tahu, Sehun akan membuat dare makan siang ini lebih susah dari yang dipikirkan. Jika cara biasa untuk mengajaknya pasti gagal, lebih baik Jongin memilih cara yang luar biasa!
"Kenapa Jong?" tanya Taemin heran ketika melihat Jongin berdiri tiba-tiba. Sorot matanya terlihat serius. Pemuda tan itu menoleh ke arah sahabatnya lalu menjawab, "Terima kasih buat sarannya, Taemin! Aku akan mengajak Sehun makan siang."
Taemin hanya menggeleng melihat kepergian Jongin ke meja barisan Ravenclaw. Kali ini tidak seperti kemarin, Jongin terlihat begitu berani. Beberapa pasang mata sudah fokus melihat pergerakan pemuda itu. Apalagi Baekhyun, tanpa sadar memukul lengan Chanyeol cukup keras. Waktu yang sangat tepat, ia baru saja tiba di Great Hall.
Murid Ravenclaw yang menyadari kedatangan Jongin berusaha tidak melirik ke arahnya, namun mereka memasang telinga baik-baik. Walau Jongin sudah duduk di hadapan Sehun sejak tadi, pemuda albino itu menghiraukan Jongin dan masih fokus pada tugasnya. Akhirnya setelah dua menit berlalu, Sehun menghela nafasnya lalu melirik ke arah Jongin.
"Kau lagi, ada apa?" tanyanya sambil membenarkan posisi kacamatanya.
Dalam hati ia tersenyum, Jongin suka sekali bagian itu. Sehun makin terlihat tampan.
"Kau sibuk?"
"Menurutmu?"
"Kau pernah mendengar kata aegyo?"
Sehun mengerutkan dahinya, heran. Apa hubungan aegyo dengan makan siang?
"Pernah...kenapa?"
"Kau tahu anak-anak Hufflepuff lagi digandrungi Oppaya Aegyo dan kata mereka aku yang terbaik kedua setelah Kei, lho," jelas Jongin. Tidak memedulikan sorakan Baekhyun dari meja Gryffindor atau senyum tipis Kyungsoo yang duduk di sebelah Sehun.
Sehun kembali menulis di perkamennya, sudut bibirnya tertarik sedikit. "Lalu?"
"Kalau kau belum pernah melihatnya, aku akan menunjukan padamu," jawab Jongin sambil tersenyum. Sehun menghentikan kegiatannya sejenak lalu memusatkan perhatiannya ke Jongin.
Pemuda tan itu pun mengangguk lalu mengeluarkan ponsel dari saku jubahnya. Ia mengutak-atik ponsel itu sejenak lalu meletakan benda tersebut di atas meja. Tak lama, alunan musik Sweet Heart milik Seen Root terdengar, Jongin segera melakukan Oppaya Aegyo-nya sebaik mungkin.
Rasanya waktu seakan berhenti bagi Sehun dan Jongin.
Atau–
Memang berhenti bagi seluruh murid di Great Hall, karena mereka sekarang fokus melihat Jongin melakukan aegyo. Para penggemar rahasia Jongin berusaha untuk tidak berteriak, karena Jongin saat itu terlihat sangat menggemaskan.
"Bagaimana?" tanya Jongin memecah keheningan. Sehun masih terdiam, rasanya ada yang baru mengambil pasokan oksigennya.
"Jihoon juga bisa melakukan itu," celetuk suara di dekat mereka.
Pemuda tan itu menoleh dan mendapati Seungcheol, prefek Gryffindor yang sedang berdiri di dekat Jihoon, salah satu murid Ravenclaw. Pemuda bernama Jihoon itu segera memukul Seungcheol, walau wajahnya terkesan datar tapi semburat merah menghiasi pipinya.
"Ah...iya! Iya! Ampun Jihoonie!"
Murid Gryffindor hanya menghela nafas pasrah melihat kelakukan prefek mereka.
Sehun menyeringai melihat kejadian tersebut, dalam hati berterima kasih pada Jihoon yang memberi pelajaran pada kekasihnya itu.
"Bagaimana?" tanya Jongin lagi. Kembali Sehun mengalihkan pandangannya ke arah Jongin, tatapannya kelihatan begitu berbinar seperti puppy yang ingin diberi makan.
"Itu..."
"Pref," Sehun menoleh ke arah suara berat yang memanggilnya, "Professor Kim memanggilmu."
Itu Wonwoo, salah satu teman asramanya yang baru saja datang. Sehun hanya menghela nafas lalu mengangguk ke arah Wonwoo.
"Well..." gumam Sehun sambil membereskan buku-buku dan perkamennya. "Tadi terlihat bagus," lanjutnya ke arah Jongin lalu menepuk kepala pemuda itu sebelum berjalan keluar Great Hall bersama Wonwoo.
Jongin hanya terdiam melihat kepergian Sehun.
Terlihat bagus.
Terlihat...
TERLIHAT BAGUS KATAMU?!
.
.
"HUEEEE TAEMIN! SEHUN ITU JAHAT!" rengek Jongin sambil mencakar-cakar pinggiran sofa di ruang rekreasi. Taemin hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan Jongin. Sangat beda 180 derajat dari yang diperlihatkan tadi di Great Hall.
"Padahal aku sudah menahan malu demi melakukan aegyo itu, kau tahu?!"
"Dan kau juga lupa untuk mengajaknya makan siang."
Jongin semakin menunduk, ucapan Taemin seakan menambah beban besar di pundaknya. "Jangan ingatkan, aku malas memikirkannya lagi," gerutunya pasrah.
Hari ini Jongin berada di kamarnya seharian, tidak mau ke perpustakaan.
.
.
.
Esoknya, berita Jongin yang melakukan aegyo di depan Sehun tersebar sangat cepat melebihi kecepatan sapu Firebolt. Beberapa murid perempuan yang melewatinya terkadang tersenyum, ada beberapa yang berfangirling–Jongin tebak itu not-so-secret-admirer-nya– dan ada juga yang menyemangati Jongin–kebanyakan itu adalah kakak tingkatnya.
"Yo, bintang sekolah kita!" sahut Baekhyun sambil merangkul Jongin. "Aku bukan bintang," gerutu Jongin berusaha menjauhkan tangan Baekhyun.
"Aigoo, Jongin jangan mengambek gitu, yang kemarin kau lakukan sungguh sebuah kemajuan yang pesat!" bujuk Baekhyun. Jongin menghiraukan pemuda berambut pink itu dan terus melanjutkan langkahnya menuju kelas berikutnya.
"Kali ini akan kubantu kalau kau butuh bantuan deh!" tawar Baekhyun terus mengikuti Jongin. "Ngomong-ngomong kau mau ke mana?"
Jongin menghentikan langkahnya di dekat pintu kelas. "Kelas ramuan, kau memangnya tidak ikut kelas ini, Baekhyun?"
Baekhyun segera menepuk jidatnya. Ia lupa, kalau tadi akan kembali ke asrama untuk mengambil buku sebelum bertemu Jongin. "Aku lupa!" teriaknya sebelum berlari meninggalkan Jongin, melewati kerumuan murid yang ada di lorong. Jongin hanya tertawa pelan sebelum memasuki kelas.
Kelas ramuan sebenarnya bukan salah satu mata pelajaran favorit Jongin, tapi ia harus melewati kelas ini dengan baik, agar akhir tahun bisa mengikuti O.W.L dan mewujudkan impiannya untuk menjadi Auror.
"Selamat siang, maaf sekali hari ini Professor Kim tidak bisa menghadiri kelas."
Jongin tersentak mendengar suara yang baru saja menyapa kelas mereka. Ia sangat kenal dengan suara ini. Pemuda tan itu menoleh ke arah seseorang yang berdiri di depan kelas. Oh Sehun berdiri di sana, dengan seragam Ravenclaw dan ekspresi datar kebanggaannya.
"Ada sedikit tugas essay dari beliau."
Terdengar desahan pelan dari seisi kelas, sebagai murid tingkat lima kata essay dan tugas tidak akan jauh dari mereka.
"Saya tahu rasanya, karena kita seangkatan." Sehun tersenyum sekilas. " Tapi ini tidak sesulit tugas dari kelas lainnya kok. Selain itu, Professor Kim meminta kalian untuk melakukan praktek– "
BRAKK!
Pintu kelas ramuan terbuka cukup kencang dan otomatis semua mata memandang ke arah Baekhyun yang baru datang. Pemuda manis itu hanya tersenyum cengengesan sebelum tatapannya beralih ke Sehun.
"Omo! Professor Kim berubah menjadi Oh Sehun...ini bukan kelas Transfigurasi kan?"
"Professor memang tidak datang, Byun Baekhyun. Segera duduk di tempatmu," jawab Sehun datar. Baekhyun yang masih tersenyum segera mengangguk dan mengambil tempat duduk di sebelah Jongin.
Setelah itu Sehun menjelaskan tentang ramuan yang akan mereka praktekan. Jongin tidak ingat Sehun pernah memasuki kelas ramuan, tapi pemuda tersebut dapat mencontohkan dengan baik dan membuat Jongin terpukau untuk beberapa saat. Tidak heran jika guru ramuan mereka meminta Sehun untuk menggantikannya.
"Kau sudah memikirkan cara untuk mengajaknya makan siang?" bisik Baekhyun, sesekali melirik ke arah Sehun yang berada jauh dari mereka. Berjaga-jaga agar omongan mereka tidak didengar.
"Belum," geleng Jongin masih mengaduk ramuan mereka.
Praktek kali ini dilakukan secara berpasangan, Baekhyun bagian yang mempersiapkan alat dan bahan ramuan sementara Jongin yang membuat ramuan. Ia tidak ingin berakhir dipenuhi debu hitam seperti minggu lalu, hanya karena Baekhyun salah membaca petunjuk.
"Mungkin sekarang waktu yang pas, tidak harus di Great Hall!" bisiknya semangat sambil memberikan Castor Oil pada Jongin.
"Aku sedang malas, Baek," gumam Jongin kembali mengaduk ramuan searah jarum jam. Seharusnya tak lama lagi ramuan mereka selesai dibuat dan hanya perlu menunggu sampai warnanya berubah menjadi ungu.
"Malas kenapa?" Baekhyun mengerutkan dahinya bingung.
"Ya, kau pasti tahu..." Jongin pun meletakan alat pengaduk di sebelah kuali sambil menunggu ramuan mereka mendingin.
Baekhyun yang mendengar itu jadi tersenyum mengingat kejadian kemarin. Jongin memang dikenal supel, tapi teman dekatnya tahu kalau Jongin sebenarnya anak yang pemalu, apalagi jika melakukan hal yang bukan kebiasaannya. "Kau berani sekali kemarin, aku acungkan dua jempol!"
"Jadi, karena itu kau menawarkan diri untuk membantuku?"
"Tentu saja, memang ada alasan lain?"
Jongin mendengus lalu kembali memperhatikan ramuan mereka. Rasanya sudah lima menit dirinya dan Baekhyun berbincang, harusnya ramuan mereka sudah jadi. "Kenapa warnanya belum berubah?" gumam Jongin heran melihat ke arah kuali dan catatan miliknya secara bergantian.
Jongin rasa, ia sudah mengikuti sesuai petunjuk di buku dan tips-tips dari Sehun. "Tidak ada bahan yang tertinggal kan?" tanya Baekhyun ikut menjulurkan kepalanya ke arah kuali. Hidungnya sedikit mengerut, karena aroma ramuan yang memasuki indra penciuman. Aromanya terasa aneh.
"Menit kelima tambahkan daun mint dan voila...ramuan sempurna kau dapat."
Jongin tersentak saat Sehun berada di hadapannya, begitu dekat sekali.
Ia rasa hidung mereka akan bersentuhan, jika Jongin tidak memundurkan kepalanya. Pemuda itu baru saja memasukan daun mint ke dalam ramuannya. Benar saja, ramuannya berubah warna tak lama kemudian.
"Wah, iya benar! Yah, Jongin, kau lupa menambahkan daun mint tadi," sikut Baekhyun ke arah Jongin yang masih terpaku.
"Lain kali catat dengan benar Kim Jongin, memandang orang terlalu lama akan membuatmu susah fokus," gumam Sehun sambil menyeringai tipis.
Oh, iya.
Jongin baru ingat, ia lupa menambahkan hal itu tadi dalam catatannya. Penjelasan untuk menambahkan daun mint memang ada di buku, tapi tidak dijelaskan pada menit ke berapa. Perhatiannya tadi memang sempat teralih, karena Sehun memandangnya saat pemuda itu melakukan penjelasan.
Dasar Oh Sehun, curang!
Jongin dapat mendengar siulan pelan dari teman sekelasnya. Mereka seperti penonton yang melihat drama romansa remaja. Sehun masih memandangnya untuk beberapa saaat. Jongin rasa, wajahnya mulai memerah sekarang. Untungnya, ia terselamatkan oleh suara bel.
"Jangan lupa kerjakan essaynya, teman-teman!" sahut Sehun sebelum kembali ke tempatnya.
Jongin akan beranjak dari meja ketika Sehun memanggilnya. Baekhyun sempat melambatkan jalannya, tapi Jongin segera menyuruhnya keluar dan berjanji akan menemuinya nanti.
"Ya?" tanya Jongin seakan tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Sehun diam sejenak sambil menatap Jongin, seperti sedang menyusun kalimat yang penting. "Aku hari ini...tidak bisa ke tempat biasa, ada latihan Quidditch."
Tanggapan Jongin terbilang cukup simpel, ia hanya mengangguk sambil bergumam, "Oh..."
Jongin baru ingat kalau akhir minggu ini ada pertandingan Quidditch antara asramanya dengan asrama Sehun.
"Kau sudah latihan?"
"Senin kemarin kami berlatih, kurasa besok akan berlatih juga," jawab Jongin.
Sehun masih menatapnya sebelum akhirnya mengangguk. "Semoga asrama terbaik yang menang," ucap Sehun mulai berjalan meninggalkan ruangan.
"Yah...O-oh Sehun!" panggil Jongin agak kencang. Ruang kelas itu sudah sepi dan hanya gema suara Jongin yang terdengar.
Sehun berhenti di ambang pintu kelas lalu menoleh ke arah kekasihnya, sebelah alisnya sedikit naik ke atas.
"Kalau timku menang...kau mau...ke Three Broomstick bersamaku?"
Sehun masih diam padahal jantung Jongin sudah berdegup tidak karuan sejak kelas usai tadi. Menahan ekspresi agar tetap tenang sangat susah.
"Boleh, kalau timmu menang," jawab Sehun menekankan di kata 'kalau.'
Hati Jongin rasanya mencelos mendengar jawaban pacarnya sendiri. Rasanya ingin segera menghampiri Sehun dan menjambak rambutnya, tapi Jongin urungkan itu.
"K-kalau tidak?" tanya Jongin lagi.
"Kita lihat nanti." Sehun tersenyum samar. "Sampai nanti Jongin," pamitnya melambaikan tangan lalu hilang di antara kerumunan murid di lorong sore itu.
Jongin menghela nafasnya kasar dan keluar dari kelas ramuan dengan cepat. Dalam hatinya merapalkan tiga kalimat.
Oh Sehun menyebalkan! Oh Sehun menyebalkan! Oh Sehun menyebalkan! Oh Sehun menyebalkan! Oh Sehun menyebalkan! Oh Sehun menyebalkan! Oh Sehun menyebalkan! Oh Sehun menyebalkan!
"Jadi...Quidditch, huh? Caramu menarik juga, Jong."
Jongin tersentak dan menoleh ke arah kanannya. Baekhyun sedang menyenderkan badannya di tembok, tepat di sebelah pintu kelas. Sudah ia duga, pemuda berambut pink itu pasti tidak akan pergi secepat mungkin. Untung ia dapat berlaku normal di hadapan Sehun tadi.
"Daremu menyebalkan, Baekhyun," balas Jongin yang kembali berjalan.
"Hei, hei, hei...itu kan cara bagus untuk mendekatkan kalian berdua," jawab Baekhyun yang menyusul di sebelahnya. "Aku cupid yang handal kan?"
Jongin mendengus. Baekhyun bukan cupid yang handal tapi bodoh, karena dapat tertipu oleh tindakan Sehun dan Jongin.
"Terserah, aku harus berlatih giat untuk pertandingan Sabtu ini."
"Bukannya asramamu berlatih besok?"
Jongin melirik sekilas, ternyata Baekhyun menguping pembicaraan mereka.
"Tapi sekarang aku harus menyiapkan strategi, sampai bertemu makan malam nanti, Baek!" pamit Jongin ketika mereka sudah tiba di persimpangan menuju asrama masing-masing.
Jongin harus memenangkan pertandingan ini.
.
.
.
to be continued
A/N: Baru ngeh di chapter kemarin belum ada anak svt, udah bilang nyelip aja /headesk/ efek baru nulis chapter ini kemarin ;-;
Oppaya aegyo itu gak sengaja karena sambil dengerin lagunya, tp kalau bayangin jongin aegyo di depan sehun, pasti gemass. Aku juga demen pas nulis bagian dia sama sehun di kelas ramuan hahahahahah
Terima kasih buat reviewnya, jangan bekuin saya juseyo (?) /throw sarang/ see you in next chapter~
