Disclaimer: Vocaloid bukan punya Toki

Warning: AU-ish, kemungkinan typo bertebaran, random


A Lady and The Tramp

Chapter 1: 17 dan Liontin


Sayup-sayup aku mendengar ayam berkokok. Perlahan aku membuka mata, memperhatikan sinar mentari menyelinap masuk melalu tirai jendelaku yang tidak tertutup dengan sempurna. Aku menatap kalender di sudut kamar. 27 Desember.

Tebak siapa yang berumur 17 tahun hari ini?

Aku menendang selimut tebal yang semalaman memelukku, lalu memakai sandal rumah jingga kesukaanku. Sambil menyisir rambutku, aku membuka lemari baju untuk memilih pakaianku pagi ini. Dengan cepat aku menarik gaun dibawah lutut berlengan panjang berwarna kuning lemon. Aku tersenyum simpul, seketika mengingat ketika aku merengek agar bunda membelikannya untukku. Menggelengkan kepala, aku mulai melepas gaun tidurku.

Tok Tok

"Tunggu!" ujarku setengah berteriak ketika ada yang mengetuk pintu kamarku. Dengan cepat aku memakai gaun pagiku. Setelah selesai, aku setengah berlari membuka pintu.

Terlihat bunda yang masih menggunakan gaun tidurnya tersenyum padaku. Kedua tangannya bersembunyi dibalik badan rampingnya. Aku pun membalas senyumnya lalu memeluknya. "Bunda tahu hari ini hari apa?" tanyaku dengan nada jahil.

Bunda hanya tertawa pelan. "Tentu saja, hari ini adalah hari dimana seorang bidadari jatuh pada pelukan bunda 17 tahun silam," ujarnya, lalu mengecup dahiku dengan penuh sayang. "Selamat ulang tahun, Rin!"

Aku tertawa lepas; bunda selalu bisa berkata dengan ucapan yang sangat puitis. Tiba-tiba bunda membawa kedua tangannya dari persembunyiannya, kedua tangannya memegang sebuah kotak berukuran sedang. Sebuah pita berwarna jingga tua duduk manis sebagai hiasan. "Ini hadiah kecil dari bunda dan ayah, semoga kau menyukainya." Bunda menaruh kotak itu di meja riasku. "Hm, dimana pitamu?"

Sontak kedua tanganku memegang puncuk kepalaku. Aku tidak merasakan pita kesayangku diatas sana. Bunda hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkahku. "Apalah seorang Rilliane tanpa pita khasnya…" ujar bunda sambil terkekeh.

Bunda terduduk diatas tempat tidurku, lalu tangan kanannya menuntunku untuk mendekatinya. Mengerti maksud bunda, aku menarik kursi kecilku dan duduk didepan bunda.

Dengan lembut bunda merapikan rambutku; jari-jari lentiknya menyentuh perlahan helaian rambutku. Sesaat aku merasakan euphoria kecil akibat sentuhan bunda. Salah satu tangannya meraih pita putih yang merupakan ciri khasku, lalu memakaikan pita itu diatas kepalaku.

"Nah, ini baru Rilliane yang kukenal." Bunda pun berdiri, lalu berjalan kearah pintu. "Bukalah dulu hadiah itu, lalu bergabunglah dengan ayah untuk sarapan; dia tidak sabar untuk bertemu wanita mudanya."

Aku tertawa pelan. Wanita muda? Darimana bunda memikirkan sebutan itu?!

Setelah bunda meninggalkanku, aku berjalan menuju meja riasku. Aku melihat pantulan diriku didepan cermin, lalu tersenyum simpul. Siapa sangka waktu bisa berjalan secepat ini? Seingatku baru kemarin aku mendapat pita putihku ini – dan itu lima tahun yang lalu. Sekarang aku sudah 17 tahun. Tidak lama lagi aku akan memulai lembaran baru hidupku tanpa orang tuaku, dan mulai belajar untuk merasakan bagaimana menjadi orang tua yang sebenarnya.

Aku pun mulai menatap hadiah kecil yang terdiam di sudut meja, lalu mengambilnya dengan dua tanganku. Mengocok kotak itu perlahan, lalu kudekatkan dengan telingaku; sekilas terdengar suara gemericik. Aku mengerutkan dahi; apa gerangan isi kotak ini?

Perlahan aku menarik pita jingga tua yang menjaga agar kotak itu tetap tertutup rapat. Setelah simpul pita itu terlepas, aku membuka kotak itu. Aku pun terkejut melihat benda yang tengah bersembunyi di dalam kotak itu.

Sebuah liontin dengan rantai terbuat dari emas menangkap perhatianku. Liontin kalung itu berbentuk sederhana; menyerupai bentuk wajik. Kuraba liontin itu, lalu memegangnya. Liontin ini terbuat dari emas putih dan terdapat ukiran namaku bagian belakangnya. Aku mencoba untuk memakai kalung itu sendiri, lalu melihat pantulan diriku di cermin. Sesaat aku merasa aneh; aku tidak pernah memakai perhiasan emas sebelumnya, dan aku merasa menjadi sosok yang lebih dewasa sekarang.

Apakah ini perasaan seorang wanita ketika memakai sebuah perhiasan? Apakah wajar jika merka merasa begitu… istimewa?


"Lihatlah putri kecil ayah! Betapa cantiknya dirimu, sayang!"

Aku pun tersipu malu ketika ayahku berteriak saat melihatku memasuki ruang makan. Kulihat pria berumur empat puluh tahun yang kupanggil ayah berjalan mendekati diriku, lalu perlahan mengangkat tubuhku dan berputar. Sontak aku berteriak, sedangkan ayah hanya tertawa. "Ayah! Turunkan aku!" ujarku setengah berteriak, perlahan merasakan mukaku memanas.

Ayah pun berhenti dan menaruhku kembali untuk berdiri. Kedua matanya mengarah pada liontin dari kalung yang kukenakan. "Kau menyukainya?" tanyanya, sekilas kudengar nada khawatir ketika ayah mengatakan kalimat itu.

Aku pun mengangguk kecil. "Tentu saja, karena ayah dan bunda yang memberikannya untukku; pernahkah aku tidak menyukai pemberian ayah dan bunda?" Aku tertawa kecil. "Kurasa tidak ayah."

Ayah pun melihatku dengan mata berkaca-kaca, dan tiba-tiba ayah pun menangis. "Pu-Putri kecilku sudah besar…" ujarnya dengan sedikit terbata.

Aku tertawa kecil, lalu melihat bunda sibuk menata makanan untuk sarapan. Aku menghampirinya, lalu bertanya, "Apakah ada yang bisa kubantu ibunda?"

Bunda hanya tersenyum singkat, lalu menggelengkan kepala. "Ini adalah hari istimewa untukmu, aku tidak ingin membuat gaun dan tanganmu kotor padahal hari masih muda." Bunda pun mengecup dahiku. "Duduk yang manis saja dengan ayah, okay?"

Aku terdiam, lalu akhirnya duduk disamping ayah. Ayah pun mulai berbicara kisah tentang kelahiranku; yang ayah selalu bicarakan sebelum makan pagi dimulai. Tidak lama setelah itu, bunda pun membawa tiga piring berisi beberapa scone, telur orak-arik, beef bacon, dan segelas jus jeruk hangat untukku.


Setelah sarapan, aku memutuskan untuk berjalan disekitar taman didekat rumah. Angin pagi sangatlah menyejukan; dengan lembut menyapu wajahku. Aku melihat beberapa bunga mawar merah masih basah karena embun pagi. Ah, benar-benar hari yang menenang -

"Ooh! Lihatlah, Rilliane sudah dewasa sekarang!"

Seketika wajahku memerah. Aku mengenal sekali siapa yang bisa berteriak sekencang itu – meskipun hari masih pagi. "Berhentilah berteriak, Michaela! Dimana tata kramamu, dan bukankah sudah beberapa kali kuminta padamu untuk memanggilku Rin?" ujarku, dengan volume suara yang lebih kecil dari teriakannya.

Kulihat Michaela berdengus kesal, kerutan di dahinya terlihat jelas. "Dan bukankah sudah kubilang padamu untuk memanggilku Miku? Dasar nona sok pengatur!" Kedua matanya tertuju pada liontinku. "Ooh! Sebuah liontin emas? Mewah sekali!" ujarnya, yang tentunya sambil berteriak.

Aku tertawa perlahan, lalu memperhatikan Michaela, atau Miku, dengan seksama. Rambut tealnya dikuncir dua; membuatnya terlihat mengemaskan (sangat bertolak belakang dengan kenyataan bahwa dia sudah berumur dua puluh dua tahun). Badan rampingnya berbalut gaun panjang berwarna biru muda dan berlengan panjang. Betapa anggunnya gadis ini, dan dia akan lebih anggun jika dia bisa belajar untuk berbicara dengan tidak berteriak.

"Ah, aku lupa untuk membawa hadiahmu! Aku tidak akan menyangka akan bertemu denganmu disini," ujar Miku sambil tertawa kecil. "Aku akan ke rumahmu siang ini. Oh! Dan aku akan mengajak Luka, okay?"

Ah, Luka. Aku hampir melupakan dirinya. Dasar Rin, bisa-bisanya kau melupakan sahabatmu sendiri. "Baiklah, aku akan menunggu kehadiran kalian berdua," jawabku dengan senyum simpul.

Miku terkekeh mendengar jawabanku, lalu melambaikan tangan – mengakhiri pertemuan pagi kami berdua. Dan sekarang aku sendirian di taman ini. Setelah berkeliling dan mengamati taman, aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah.

Untuk sesaat aku merasa seseorang mengawasiku, atau itu hanyalah perasaanku?


A/N: Daaaan, chapter satu selesai! Yeay!

Dan betapa gajenya cerita ini! Yea - /dor

Ehem, intinya, bisa dilihat belum ada kemunculan Len disini, ya kan? Tapi tenang saja! Dia akan muncul cepat atau lambat (?)

Terima kasih buat yang udah membaca prolog pendek cerita ini, Toki benar-benar menghargai itu!

Akhir kata, sampai ketemu di chapter selanjutnyaaa –

/kabur