Desclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

Ettoooo, maap update lama XD moga masih ada yang mau baca fic ini

.

.

Reply Review :

-CindyAra : iya ini lanjut, thx uda baca XD

-Maehieme : makasi reiewnya :-D t btw, ni memang cerita ita-sasu. Soalnya author sendiri saaaannngggaaaaaattttt cciiiinnnntttaaaa sama duo uchiha ini, apalagi hubungan persaudaraan mereka kyaaaaaaaa XXDDDD maaf kalo author menambahkan note sasunaru, itu maksudya biar readers gak kaget aja kalo ada sedikit slight ttg mereka, tapi disini kayaknya gak bakal ada pendalaman ttg hubungan mereka (terutama romance) kok...XD sekali lagi makasih

-Guest : ah, makasih uda review double XD iya ini update

-Makasih juga buat Dee chan - tik, Vipris , Hana Sackura, Rannada Youichi, and DarkCloud XII yang uda review, author bales lewat PM..

.

.

Chapter 2 : Dobe?

.

.

Vampire itu layaknya mayat hidup. Tidak punya darah yang mengalir di nadi mereka, tidak punya jantung yang berdetak, atau tanda kehidupan lainnya. Kecuali fakta bahwa mereka bisa bergerak dan hidup 'seperti' manusia.

.

.

Namaku Sasuke Uchiha.

Dan aku tengah berjalan gontai menuju kelasku, memikirkan apa yang terjadi kemarin malam. Tubuh aniki berubah menjadi hangat? Dan dia mengeluarkan darah…

Aku memeluk lenganku sendiri, mencoba mencari sisa kehangatan tubuh aniki yang kurasakan malam itu. Hal itu…nyata kan? Itu semua…benar adanya kan? Tapi kenyataan itu musnah saat kurasakan tubuh itu kembali mendingin, menenggelamkan kebenaran tentang detak jantung yang kurasakan dari dadanya kala itu.

"Sasukeee…kali ini ajari aku Sejarah ya…"

Suara itu…suara cempreng itu…apa dia punya kehangatan yang sama dengan aniki malam itu? Apa dia punya jantung yang berdetak di dalam dadanya.

"Yamato-sensei memberikanku tugas…un-tuk…" dan ucapannya terbata, bisa kutebak sapphire birunya kini tengah terbelalak. Ya…saat kurengkuh tubuhnya ke dalam dekapanku.

Dan aku bisa merasakannya, kehangatannya…nafasnya…dan juga…detak jantungnya. Jantungnya berdetak…dengan teratur, dan kurasa tidak akan berhenti untuk waktu yang lama.

"Sa-Sasuke…?"

Aku tak menjawab, kumohon…biarkan aku merasakan kehangatan ini sebentar saja. Biar kurasakan kembali detak jantung aniki malam itu.

Teng…teng…teng…

Dan dengan terpaksa kulepas kehangatan itu saat bell masuk dibunyikan.

"Maaf…" gumamku sambil berlalu dari hadapan Naruto dengan kepala tertunduk, meski begitu, sempat kulihat kalau pipi Naruto merona. Kenapa dia?

Aku duduk di bangku ku lalu mengeluarkan buku pelajaran. Tak lama kemudian Asuma-sensei masuk dan mulai mengajar entah apa. Jujur saja aku tidak begitu memperhatikan. Pikiranku terus tertuju pada kejadian malam itu. Bagaimana bisa? Kira-kira apa yang membuatnya bisa begitu? Waktu kah?

Aku kembali mengingat. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 11.30 p.m. hingga 00.30 a.m. Satu jam yang berada tepat di tengah malam. Apa Itachi-nii kembali menjadi manusia saat tengah malam? Tidak tidak…aku pernah beberapa kali bersama dengannya saat tengah malam, dan baru terjadi kali ini. Lalu apa?

"Sasuke Uchiha! Bisakah kau menjelaskan struktur bulan?!"

Dan teguran itu menyadarkanku dari lamunan. Tapi bukan karena Asuma-sensei menatapku dengan tatapan membunuh yang membuatku tercengang, melainkan…bulan. Ya, malam itu kan…

"Half Moon…" gumamku.

~OoooOoooO~

Oke, lalu apa hubungannya half moon dengan semua ini, apa yang membuat Half Moon bisa mengembalikan aniki menjadi manusia, lalu kenapa hanya pada saat tengah malam. Apa kutanyakan langsung saja padanya?

Aku berjalan di sepanjang koridor setelah bell pulang dibunyikan. Lalu tanpa sadar aku menabrak seseorang. Cih! Hari ini aku sering sekali melamun.

"Maaf," ucapku seraya memunguti buku milik orang yang kutabrak.

"Tidak apa-apa," balasnya seraya ikut memunguti buku itu. Well, ternyata dia si Dobe kuning berisik alias Namikaze Naruto. Ha? Kenapa wajahnya masih memerah seperti tadi pagi?

"Kau sakit, Dobe?" kutempelkan tanganku di dahinya, dan wajahnya malah bertambah merah. Dia kenapa sih?

"Ti-tidak kok Teme!" ia menepis tanganku. Aku kembali memunguti bukunya, dan terhenti sesaat ketika aku memungut buku dengan cover bertuliskan Half Moon, sedangkan gambarnya adalah seekor naga bermata crimson dan bertaring panjang, sementara backgroundnya adalah gambar Half Moon berukuran besar.

"Itu buku legenda. Untuk bahan tugas sejarah ku," jelas Naruto tanpa kuminta.

Aku membukanya secara acak, membaca beberapa bait, dan dapat kusimpulkan kalau buku itu menjelaskan bagaimana Half Moon bisa memiliki kekuatan dahsyat yang bahkan bisa membebaskan belenggu naga legendaris.

"Boleh kupinjam?" tanyaku.

"Eh? U-untuk apa, Teme?" Naruto mengerutkan alis.

"Hanya tertarik saja."

"Tapi tugasku belum selesai, Teme."

"Kau mendapatkannya dari mana?"

"Dari toko buku bekas di dekat rumahku. Tapi itu tinggal satu-satunya, dan setelah tugasku selesai buku itu akan dipinjam oleh Kiba."

Bagus, itulah yang aku butuhkan. Penjelasan darinya tanpa kutanya.

"Cih! Baiklah, aku akan membantumu. Tapi setelah itu aku pinjam buku ini," decihku kesal.

"Waaah, benarkah Teme? Terimakasih banyak ya…" cengir Naruto. "Deadline tugasnya masih minggu depan, kau mau membantuku kapan?"

"Hari ini juga."

~OoooOoooO~

Dan disinilah kami. Hanya berdua di perpustakaan sekolah yang sudah tak ada seorang pun karena waktu pulang memang sudah lewat dua jam yang lalu.

"Ugh…ini buku tentang zaman yang kau sebutkan tadi," ucap Naruto sembari meletakkan setumpuk buku di meja.

"Hn…" gumamku seraya membolak-balik beberapa buku yang sudah terbuka di atas meja. "Coba cari tentang zaman Ryuu, Dobe," perintahku.

"Hah? Zaman apaan tuh?" tanyanya tetapi mulai membuka buku-buku itu. Untuk beberapa jam selanjutnya, kami hanya berkutat dengan buku-buku itu sambil menyusun tugas Naruto. Dan saat jarum jam menunjuk angka 07.00 p.m. barulah tugas itu selesai.

"Huaaaaahhhh…" Naruto tampak merenggangkan otot-ototnya. "Akhirnya selesai juga, terimakasih ya Teme…"

"Hn…"

Kami mengembalikan buku-buku ke rak, lalu menenteng ransel dan berjalan keluar perpus. Sementara buku yang kupinjam dari Naruto masih tetap kupegang.

"Kau dijemput, Dobe?" tanyaku.

"Tidak Teme, ini kan belum terlalu malam. Kecuali kalau sudah malam seperti saat aku ke rumahmu, aku akan minta dijemput," jawab Naruto.

"Kalau begitu ku antar," ucapku. Aku tidak ingin dia menjadi makanan vampire gara-gara aku yang memaksa membantunya mengerjakan tugas sampai malam. Apalagi kalau benar aroma darah Dobe begitu memikat seperti apa yang dikatakan aniki.

"Ti-tidak usah Teme…sudah kubilang ini belum terlalu malam."

"Hn…" terserah saja, aku akan tetap mengantarnya.

Saat menuju gerbang sekolah, aku melihat seseorang berdiri bersandar di sana.

"Aniki?" ujarku saat mengenali sosok itu. Aniki tampak tersenyum.

"Oh, Itachi-nii ya, kau menjemput Sasuke?" ucap Naruto.

"Iya, Naruto. Soalnya ini sudah malam," ujar aniki, sepertinya dia sudah bisa mengendalikan dirinya terhadap Naruto.

"Aku mau mengantarnya dulu," ucapku.

"Tidak masalah, aku bisa ikut kan?"

Dan kami pun berjalan santai menuju rumah Naruto. Rumahnya tidak begitu jauh, sama seperti jarak sekolah ke rumahku, hanya saja arahnya berlawanan.

"Itu rumahku," tunjuk Naruto pada rumah yang cukup mewah ber cat kuning gading. Aku mengantarnya sampai pintu rumah, sementara aniki hanya berdiri di depan pintu gerbang. "Mau mampir?" tawar Naruto.

"Tidak, aku…"

Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang pria dan wanita keluar dari sana. Pasti orang tua Naruto.

"Ah, Kaa-san, Tou-san, ini temanku Sasuke dan itu Itachi-nii, kakak Sasuke. Mereka mengantarku pulang…" ucap Naruto.

Kedua orang tua Naruto tampak tak mendengarkan, tatapan mereka tertuju pada aniki. Tatapan tajam yang penuh…kebencian?

Aku menoleh menatap aniki, dan dia malah tersenyum lalu membungkukkan badannya sopan pada kedua orang tua Naruto.

"Kalau begitu saya permisi," ujarku lalu berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari mereka.

"Mereka kenapa?" tanyaku pada aniki saat berjalan pulang.

"Mereka tahu aku vampire," ujar aniki santai.

"Haah?"

"Kau tahu kenapa aku hanya di depan gerbang? Karena rumah mereka dipagari dengan entah apa, yang jelas aku tidak bisa masuk ke dalamnya. Mungkin untuk menjaga diri, apalagi karena putra mereka memiliki aroma darah yang sangat lezat hihihi," terang aniki. "Mereka pasti tahu banyak tentang vampire."

"Heh dan mungkin saat ini mereka sedang mengatakan pada Naruto supaya tidak bergaul denganku lagi," tambahku.

Aniki menatapku aneh, lalu tersenyum jahil. "Kau tidak rela jauh dari Naruto ya?"

Aku mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?" tanyaku tidak mengerti.

"Ah, sudahlah, bukan apa-apa," aniki menatap langit, bulan sudah mulai cembung di atas sana. Ah, aku jadi ingat, aku ingin menanyakan tentang Half Moon.

"Aniki…soal kemarin mala-…"

"Sasuke…" potong Itachi-nii sembari menatapku. "Ada hal yang tidak bisa kukatakan padamu meski aku ingin mengatakannya," senyumnya yang cukup supaya membuatku bungkam.

~OoooOoooO~

Aku membolak-balik buku ditanganku dan membacanya dengan seksama. Memang seperti kata Naruto, ini Cuma buku legenda, tapi bukan berarti tidak menjelaskan apa-apa. Buku ini mengatakan kalau Half Moon bahkan mempunyai kekuatan yang lebih besar dari pada Full Moon. Karena saat terjadi Half Moon, gerbang antara kegelapan dan cahaya terbuka, hal itu dilambangkan dengan sisi terang dan sisi gelap bulan yang seimbang saat terjadinya Half Moon. Pada saat itu, sisi gelap bisa masuk ke sisi cahaya dan juga sebaliknya.

Jadi…itukah yang membuat vampire bisa berubah menjadi manusia?

Di buku ini juga dikatakan kalau Half Moon bisa membangkitkan monster ber mata crimson dan bertaring racun—kuanggap itu sebagai vampire meski di buku ini tergambar naga—karena kekuatan kegelapan dan kekuatan cahaya menyatu. Tapi selain itu juga bisa membuat si monster berubah kembali menjadi guardian dragon yang baik hati—aku menganggapnya kembali menjadi manusia—dan kembali menjaga apa yang dianugerahkannya oleh sang penguasa.

Tapi sialnya, di buku ini tidak tertulis bagaimana cara membuat monster itu berubah menjadi guardian dragon.

"Tch! Aku harus cari informasi dimana," keluhku. Sudah berkali-kali kucari di google tapi hasilnya nihil. Waktu kutanya pada Dobe apa masih ada buku sejenis di toko itu, dia bilang sudah tidak ada, sedangkan aniki tidak mau menjawab saat kutanya. Jadi, bagaimana aku bisa…tunggu, sepertinya aku punya ide.

~OoooOoooO~

"Hallo…aniki? Aku ada acara di rumah teman. Mungkin akan terlambat pulang…"

"…"

"Iya, aku akan menelfon minta jemput kalau aku mau pulang."

"…"

"Oke, bye…" dan aku mematikan telfonku. Maaf aniki, aku harus berbohong. Saat ini aku masih berada di sekolah dan tidak ada rencana akan ke rumah siapapun. Aku hanya menunggu hari berubah malam saja.

Dan setelah kurasa cukup malam, aku melangkahkan kakiku keluar dari sekolah, berjalan santai melewati jalanan kecil yang sepi dimana biasa terjadi penyerangan oleh vampire. Aku memasukkan tanganku ke kantong celana dimana HP ku berada, aku sudah menekan angka 9, nomor speed dial untuk aniki. Dan kini aku berhenti di tengah jalan kecil itu, menunggu 'sesuatu' menyerangku.

Krasak!

Oke! Makhluk 'itu' kah?

Aku melirik gank kecil di kananku, terlihat sekelebat bayangan hitam. Aku menelan ludah berat dengan jantung berdegup kencang. Bagaimanapun, kalau rencanaku gagal, aku mati. Titik.

Bayangan itu semakin jelas dan…

"Meong…!"

Oke, kuakui aku menghela nafas lega, tapi bukan berarti aku belum siap bertemu makhluk itu, bukan juga berarti sudah siap.

"Well, sebaiknya kau jangan bernafas lega begitu."

Dan kali ini mataku terbelalak saat suara itu terdengar di jarak yang dekat sekali. Aku segera melompat dan melangkah mundur, bisa kulihat seorang pria dengan taring tajam dan mata crimson berdiri di tempatku tadi.

"Tapi tidak apa, karena sekarang sepertinya nafasmu tercekat begitu," seringainya. "Tapi ngomong-ngomong, sedang apa kau di tempat seperti ini sendirian? Kau tahu mungkin atau…PASTI akan diserang kan?"

Aku diam, mengumpulkan keberanian dan mengumpulkan kata-kata sebaik mungkin.

"Y-yeah…" ujarku. "Aku…ingin bunuh diri. Aku sudah bosan menghadapi hidupku," ujarku.

"Dan kau menganggap mati di tangan makhluk sepertiku adalah cara yang terbaik?" ucapnya dengan seringaian tak lepas dari bibirnya.

Aku mengangguk canggung. "Well, memberikan makanan untuk 'makhluk' lain kurasa cara mati yang baik, bukan?" ucapku. "Tapi sebelum itu…bisakah kau menjawab pertanyaanku?"

"Hm hm, boleh saja. Kuanggap sebagai permintaan terakhir orang yang mau mati," jawabnya.

"Tentang…Half Moon…" ucapku.

"…" vampire itu terdiam sejenak. "Untuk apa kau menanyakan itu?"

"Hanya ingin tahu," … "…tidak apa-apa kan? Toh aku akan jadi makananmu," tambahku cepat-cepat.

"Hm hm, benar juga. Baiklah, akan kuberitahu. Yah, walaupun sebenarnya ini informasi yang tidak boleh dikatakan pada siapapun atas perintah dewan vampire sih…"

"Dewan vampire?" tanyaku bingung.

"Ha, kau tidak tahu pastinya. Vampire itu juga punya organisasi tertinggi. Mereka menyebut diri mereka Akatsuki. Mereka yang membuat peraturan dan memberitahu semua hal tentang vampire kepada vampire baru. Termasuk peraturan 'jangan berburu secara mencolok' dan tentang Half Moon juga."

Aku diam, menunggu penjelasan selanjutnya.

"Half Moon ya, itu saat dimana vampire kehilangan kekuatannya dan berubah menjadi manusia. Cahaya bulan yang bersanding dengan kegelapan bisa menyucikan kegelapan itu sendiri, begitu katanya."

"Berapa lama hal itu berlangsung?" tanyaku.

"Hanya satu jam saat tengah malam. Tapi itu tetap saja merepotkan. Apalagi kalau hilang kekuatannya terjadi di saat yang tidak tepat," jawabya.

"Apa ada cara membuat vampire menjadi manusia selamanya, atau…sekedar memperpanjang durasinya?"

"Tunggu tunggu, pertanyaanmu itu seolah kau ingin membunuh vampire saat mereka berubah menjadi manusia dan kehilangan kekuatan."

"Tidak, aku hanya-…"

Bats!

Tiba-tiba saja vampire ini sudah ada di hadapanku. "Kalau begitu aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu lebih lanjut. Sayang sekali ya…" dia menyusuri daguku dengan kukunya yang runcing.

"Sudah kubilang, aku akan mati di tanganmu kan? Jadi bagaimana bisa aku menggunakan informasi ini untuk membunuh vampire!" aku berusaha meyakinkan.

"Hoo maaf, mangsaku yang manis, aku tidak bisa memberitahunya,"

Graaauu…! Pip!

Aku menekan tombol call pada ponselku seraya menghindari gigitan vampire itu. "Aku tidak mau jadi makananmu sebelum aku dapat informasi itu," ancamku.

"Terserah saja, toh kau tidak akan menang melawanku," ucapnya dan melesat ke arahku, kulayangkan tendanganku ke wajahnya yang hanya memberi baret kecil di pipinya, meski langsung tertutup lagi. Aku mengambil ponselku dan menempelkannya di telinga sambil bergerak mundur, berusaha mengambil jarak dengan vampire itu.

"Ha? Mau menelfon minta bantuan? Konyol sekali," dan dia kembali melesat ke arahku, kali ini dengan cakarnya.

Pip!

"Halo, Sasuke? Kau sudah mau-…"

"Aniki, to-…Aaaaaaaarrrghhh!" jeritku saat cakar vampire itu berhasil merobek dadaku. Aku terpental menabrak tembok jalan, rasanya benar-benar sakit. Aku menatap handphone ku yang terpental beberapa meter dariku.

"Wah wah wah, lihatlah darahmu ini, kelihatannya sangat menyegarkan," vampire itu mendekatiku, menambah goresan lain di dadaku layaknya seorang psycho yang senang menyiksa korbannya.

"Aaaarrrggh…aagghhh…" erangku kesakitan, kulihat ia menjilat bibirnya sendiri untuk kemudian menjilat darah yang mengalir deras dari lukaku. Ia menyeringai, bersiap menancapkan taringnya di tubuhku dan…

BUAAAKKK!

Tiba-tiba tubuhnya terpental menabrak tembok hingga tembok itu jebol. Di hadapanku sudah berdiri Itachi-nii, syukurlah dia datang di saat yang tepat. Ia melirikku sesaat, lalu menggeram marah. Oke, dia marah karena aku tidak menunggu dia menjemput seperti yang kujanjikan atau marah karena vampire itu telah melukaiku?

Entahlah, yang jelas, sepersekian detik kemudian dia sudah melesat ke arah vampire itu, mencengkeram lehernya kuat dan…CRAAACKKK! Memisahkan kepala vampire itu dari badannya. Kepala vampire itu menggelinding bebas di jalanan, tidak ada darah yang mengalir dari sana, tentu saja.

Itachi-nii masih berdiri diam untuk beberapa saat, lalu sedetik kemudian tubuhku sudah dibanting di ranjang kamarku.

"APA YANG KAU LAKUKAN HAHHH!" ucapnya marah, kulihat dadanya naik turun menahan amarah, tangannya juga terkepal erat, dan yang paling membuatku tak berani menatapnya adalah kilatan matanya.

"SUDAH KUBILANG, TUNGGU AKU MENJEMPUTMU! APA ITU TERLALU LAMA HAH? APA TIDAK BISA KAU MENUNGGU BEBERAPA DETIK SAJA!"

Baiklah, setidaknya dia belum tahu kalau aku berbohong soal ke rumah temanku dan pulang sendiri lalu baru menelfon saat keadaan sudah terdesak.

"Maaf…" lirihku tak berani menatap matanya.

"…" ia menghela nafas berat. "Jangan diulangi lagi…" suaranya melembut. "Kumohon…"

Aku terbelalak. Apa? Kenapa dia yang memohon? Seharusnya aku yang-…

"Kau hidupku, Sasuke. Kau lah satu-satunya alasanku masih hidup meski sudah menjadi makhluk rendahan seperti ini…"

Aku mendongak menatapnya, tatapannya begitu serius sekaligus menyiratkan permohonan yang amat sangat.

"Kumohon…jangan buat dirimu terluka lagi," ia mengusap luka di dadaku yang perlahan menutup. "Aku tidak mau…kalau sampai terjadi apa-apa padamu…" Itachi-nii berlutut, lalu menenggelamkan wajahnya di pangkuanku.

"Maafkan aku…" lirihku. Tapi aku tidak berani mengatakan kalau aku janji tidak akan mengulanginya. Mendapat informasi seperti yang dikatakan vampire itu, membuatku harus melakukan hal lain. Ya…harus. Dan…apa tadi yang aniki bilang? Akulah satu-satunya alasan dia untuk hidup? Ooke, berarti jika suatu saat aku mati nanti, dia juga akan bunuh diri?

Tidak! Aku tidak menginginkannya mati hanya karena hal bodoh seperti itu. Aku juga ingin Itachi-nii mendapatkan kebahagiaannya. Tunggu, bagaimana caranya vampire bunuh diri? Memenggal kepalanya sendiri? Tidak mungkin kan?

Dan seketika onyx ku membola saat mengingat satu hal. Dewan vampire…Akatsuki…mereka pasti yang mengatur segalanya, termasuk jika seorang vampire ingin bunuh diri. Ya, yang harus kulakukan adalah menemui Akatsuki dan meminta penjelasan atas semuanya.

Termasuk…bagaimana cara mengubah Itachi-nii kembali menjadi manusia dengan bantuan Half Moon.

.

.

.

~ To be Continue ~