Bolehkah aku berharap?
Bolehkah aku bermimpi?
Bolehkah aku meminta?
Jika ya, aku ingin sebuah bintang jatuh agar keinginanku dan harapanku terwujud.
…...
Disclaimer : yang jelas not me ^.^v
Warning: AU, OOC, GAJE, EYD ANCUR, BANYAK TYPO(s) dan segala kekurangannya.
Happy Reading
Don't Like Don't Read
.
.
Me, You, and My Dad
Chapter 2
Perlahan-lahan aku membuka mataku, namun menutup lagi, lalu terbuka lagi. Aku mengucek mataku. Setelah sadar sepenuhnya, aku terkejut melihat pemandangan di sekitarku. Rasanya, terakhil kali aku berada di tempat tidur tapi kenapa ini berbeda. Tempat ini sangat indah seperti di padang rumput, tidak, tapi ini benar-benar di padang rumput yang indah, banyak sekali bunga yang bermekaran, dan yang menambah keindahan adalah sebuah danau yang tepat berada di depanku. Aku tersenyum simpul ini seperti déjà vu. Lalu, samar-samar aku mendengar suara yang cukup familiar. Aku berjalan ke sisi padang rumput yang banyak ilalang. Berjalan mengikuti suara itu. Dan untuk kedua kalinya aku terkejut. Ayah dan ibu ada di sana. Mereka tertawa bahagia. Tapi, siapa gadis kecil yang berada di gendongan ayah? Tunggu dulu, bukankah itu aku? Ah, aku ingat ini adalah taman konoha. Dulu aku, ayah dan ibu sering ke tempat ini ketika liburan. Aku tersenyum getir. Aku rindu tempat ini. Aku melangkahkan kakiku mencoba untuk mendekati mereka. Tapi anehnya semakin aku mendekati mereka, mereka semakin jauh. Aku pun berlari mendekati mereka tapi mereka malah semakin jauh. Aku mencoba menggapai mereka.
"Ayah, ibu?" panggilku, tapi mereka seolah tak mendengar panggilanku.
"Ayah, ibu." Panggilku sekali lagi.
Tiba-tiba pemandangan di sekitarku mulai pudar. Ayah dan ibu menghilang. Semuanya menjadi gelap.
"Ayah, ibu.?"
"Ayah, ibu? Kalian dimana? Disini sangat gelap."
"Ayyaaahhh…" teriakku.
Dengan peluh yang membasahi keningku, aku terbangun dari tidurku.
'Ini hanya mimpi' kataku dalam hati. Aku melihat ke arah jam dinding. Jam 6 tepat. Aku memegang pipiku yang terasa sakit dan bengkak.
"Auw…" erangku. Kejadian semalam mulai menghinggap di pikiranku. Aku mencari cara untuk menyembunyikan pipiku. Segera saja aku pergi ke lemari pakaian dan mencari sebuah syal.
"Ah, dapat". gumamku.
Setelah mempersiapkan semuanya, aku pun segera turun ke bawah menuju dapur.
….
"Selamat pagi, Sakura." sambut ayah tersenyum lembut seraya memegang sebuah Koran dan ditemani secangkir kopi panas.
"Pagi." Jawabku sambil tersenyum.
"Kau kenapa, Sakura? Kenapa kau menutupi wajahmu dengan syal?" Tanya ayahku khawatir.
"Tidak apa-apa kok, yah. Sakura hanya terkena flu biasa" dustaku dan dapat ku lihat ibu memandangku sedih. Ia tahu aku berbohong.
"Minumlah obat." Ujarnya. "Bagaimana dengan sekolahmu? Ayah dengar sebentar lagi sekolahmu akan ulang tahun." lanjutnya seraya menyeruput kopinya.
"Baik-baik saja. Iya, 3 hari lagi ultah sekolah dan kami dituntut untuk mempersiapkan semuanya." Kataku sembari tersenyum.
"Baguslah kalau begitu."
"Ibu, ayah, aku berangkat dulu." pamitku seraya berjalan ke arah pintu keluar. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti.
"Hati-hati, Sakura." Ucap ayahku.
Aku menundukkan kepalaku dan menggigit bibirku.
"Iya." Jawabku tersenyum dan memandang ayah yang juga tersenyum ke arahku. "Ayah, bagaimana kalau liburan nanti kita ke taman Konoha? Sudah lama kita tak pergi ke tempat itu. Sakura rindu tempat itu."
"Boleh, tapi setelah ayah mendapatkan pekerjaan, ya?"
Aku mengangguk dan segera berlari. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa sikap ayahku berubah, kan? Aku saja bingung kenapa ia bisa seperti itu. Ia selalu lupa dengan apa yang telah ia buat mungkin karena pengaruh alcohol. Jadi, aku dan ibu sepakat agar bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ibu menyuruhku agar bersikap baik kepada ayah selagi ia masih normal. Awalnya aku menolak dan tidak terima hal itu, tapi karena ibu membujukku mau tidak mau aku harus menurutinya. Sedih bukan? Asal kalian tahu dulu aku tidak seperti ini. Ayah adalah sosok ayah yang baik dan perhatian. Sejak musibah 5 tahun lalu, Ya sejak itu perusahaan ayah bangkrut. Ayah sangat frustasi. Setiap pagi ia mencoba mencari pekerjaan, melamar di sebuah perusahaan tapi ayahku ditolak. Ia pun semakin frustasi dan malamnya ia mabuk-mabukkan dan aku lah yang menjadi pelampiasannya.
FLASHBACK
Waktu aku masih duduk di SMP. Aku merasa tidak konsen saat pelajaran tadi berlangsung. Entahlah aku juga merasa heran. Hari semakin malam, aku pun mempercepat langkahku menuju rumah.
"Tadaima." ucapku.
Akan tetapi tak sahutan dari ayah maupun ibu. Samar-samar aku mendengar suara tangisan. Aku mengikuti suara itu hingga ke ruang dapur. Kulihat Ayah sedang duduk di meja makan. Ia menunduk dengan tangan yang menopang wajahnya. Sedangkan ibu menangis tersedu-sedu disamping ayah.
"Ada apa ini?" tanyaku penuh kebingungan.
"Sakura, maafkan ayah, ya?" Ayah menangis.
"Kalian kenapa seperti itu?" tanyaku semakin heran. "Ada apa ini, bu?"
"Sakura, perusahaan ayahmu bangkrut. Ayahmu juga di pecat sebagai pemilik perusahaan itu." jelas ibuku.
"APAAA? Bagaimana mungkin itu bisa, bu?". Aku merasakan kaku seketika mendengar apa yang ibuku katakan.
"Ayahmu tidak tahu kalau jadinya seperti ini. Ayahmu dibohongi. Para investor mengatakan akan perusahaan kita akan mendapatkan keuntungan yang besar apabila kita menanamkan modal yang besar. Ayahmu pun segera menyumbangkan jutaan yen untuk proyek pembangunan taman rekreasi. Setelah ayahmu menyerahkan uang tersebut, mereka berbohong pada ayahmu. Mereka pun melarikan dengan ratusan yen tersebut." jelas ibu lagi.
"Bagaimana dengan polisi? kalian sudah menghubungi mereka,kan?" tanyaku semakin tidak percaya dengan kenyataan ini.
"Polisi juga tidak banyak membantu." timpal ayah.
"Kita harus bagaimana sekarang?" tanyaku lagi seraya menghampiri ayah.
Ayah memelukku dengan erat. "Ayah akan mencoba mencari pekerjaan baru."
Esoknya, seperti biasa aku berangkat ke sekolah dan pulang dengan tidak bergairah. Semuanya hancur sudah. Kenapa ini semua bisa terjadi. Aku pin berbelok ke arah tikungan tiba-tiba aku melihat ayah.
"Ayah." panggilku. Ku lihat ayah berjalan sempoyongan dengan sake di tangannya.
Eh? Tunggu dulu. Sejak kapan ayah meminum minuman beralkohol. Aku pun menghampirinya. Ia terjatuh aku segera memapahnya. Tapi ia menepis tanganku. Aku terkejut. Ia pun berdiri.
"Hik, semuanya hik hancur." ucapnya.
"Ayo kita pulang ayah." kataku seraya menariknya pulang.
"Jangan sentuh aku, hik putri sialan." Dengan cepat ia menampar pipiku. Aku sungguh-sungguh terkejut. Ini pertamakalinya aku melihatnya seperti ini. Ia membalas menarik rambutku hingga menuju rumah. Aku meronta kesakitan, aku merasa ingin menagis. Ketika sampai di rumah, ibuku terkejut melihat kami.
"Apa yang kau lakukan, KIZASHI?" Teriak ibuku. Ibu mencoba melepaskan tangan ayah dariku.
"Uugh." erangku. Ayahku pun melepaskannya, tapi ia pun melayangkan tangannya dan memukulku lagi.
BUUGHH
Aku tersungkur ke lantai, ibu segera menolongku, tapi tidak sempat. Ayahku memukulku lagi, menyiksaku hingga badan dan wajahku terasa sakit.
Aku menangis sejadi-jadinya.
"Sakura pergilah ke tempat Ino." kata ibuku yang mencoba menahan ayah.
Aku tidak menjawab dan segera bangkit berdiri. Aku pun berlari sekuat tenagaku. Kami-sama kenapa jadi seperti ini?. Aku pun mengetuk rumah Ino. Terlihatlah Ino, ia sangat terkejut melihat wajahku yang lebam. Aku di persilahkan masuk. Paman Inoichi mengobatiku. Aku pun menceritakan semuanya.
"Jadi begitu ya?" ujar Ino sendu.
"Begitulah." ucapku lirih.
Ino megatakan padaku unruk terus sabar dengan semua ini.
FLASHBACK OFF
Aku benci hidup ini. Aku benci keluarga ini. Aku benci Ayah. Kapan aku bisa membuat ayah mengerti perasaanku.
Aku berjalan gontai menuju kelasku, kelas 2-A. Lalu sebuah suara yang tidak asing lagi memanggilku.
"Forehead." Panggil Ino.
Aku menoleh ke belakang dan Ino menghampiriku.
"Ada apa?" kataku malas seraya membetulkan letak syalku.
"Hei, kau sakit?" Tanya Ino.
Aku mengangguk pelan.
"Tapi kau tidak terlihat begitu?" ucap Ino yang mulai curiga.
"Aku terkena flu, Ino-pig."
"Bohong." Ia memegang keningku tapi aku menepis tangannya. "Badanmu saja tidak panas. Kau pasti berbohong."
"Oh, ayolah Forehead. Ada apa sebenarnya?" Ino bersikukuh. Mau tidak mau aku melepaskan syalku perlahan. Ino terkejut.
"Forehead, pipimu beng…hmmpph."
Ucapan Ino terhenti karena aku membekap mulutnya.
"Ssstt…diam, Ino-pig." Kataku seraya menurunkan tanganku dari mulutnya.
"Kau…dipukul olehnya lagi?" Tanya Ino dengan suara yang agak pelan.
Aku mengangguk pelan. Ino memandangku sendu.
"Jangan bilang pada Naruto, ya?" kataku memelas. "Aku tak ingin dia tau." Lanjutku.
"Iya. Forehead, aku tidak tau harus melakukan apa untukmu?"
Aku menggeleng lalu tersenyum.
"Tidak perlu, Ino-pig. Kau mau menjadi sahabatku saja aku sudah senang."
"Kau ini, Forehead. Aku pasti akan menjadi sahabatmu." Ino tersenyum lalu memelukku.
Aku pun melepaskan pelukannya.
"Ino-pig, malam ini aku menginap di rumahmu ya?" kataku.
"Ta-tapi nanti siang aku akan pergi berdua dengan Sai. Kemungkinan aku pulang agak malam."
"Tidak masalah. Aku akan menunggu di rumahmu."
"Umm, baiklah."
"Arigatou."
TTEET TEET TEET
Bunyi bel tanda masuk. Kami pun segera melangkahkan kaki ke kelas. Tapi aku malas ke kelas, jadi aku meminta pada Ino untuk mengatakan pada sensei bahwa aku sedang sakit. Aku pun ijin hingga pelajaran terakhir usai. Dan disinilah aku, duduk sendirian di atap sekolah. Sepertinya semua siswa sudah pulang. Kalau Naruto? Entahlah, pasti ia akan mencak-mencak mencariku. Aku memandang langit biru yang cerah, aku sangat menyukai pemanadangan di atas sebab aku hanya ingin berharap bahwa ada sebuah bintang jatuh yang mau mengabulkan permintaanku.
"Ternyata Sakura-chan ku ada di sini, ya?"
Sebuah suara menghentikan lamunanku. Aku menoleh ke belakang.
"Na-Naruto?"
Aku memandang wajahnya yang sulit untuk di artikan.
"Kenapa kau tidak mengabariku, Sakura-chan?" Tanya Naruto.
"Maaf, Naruto." Ucapku lirih.
"Aku mencarimu kemana-mana, Sakura-chan. Aku bertanya pada Ino dan ia bilang kau sakit. Lalu aku mencarimu ke UKS tapi kau tidak ada disana dan ternyata kau ada disini. Kau membuatku khawatir, kau tahu?" cerita Naruto panjang lebar.
Aku tidak percaya ia akan mencariku seperti itu.
"Maaf, Naruto. Aku hanya tidak ingin kau khawatir."
"Justru kau seperti ini makanya membuatku khawatir." Suara Naruto meninggi membuatku sedikit terkejut.
Tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja. Aku menangis. Mungkin karena efek aku selalu disiksa makanya aku menangis. Aku mngeratkan syalku. Melihatku menangis, Naruto segera memelukku.
"Kalau kau sakit harusnya kau memberitahuku. Berjanjilah untuk jujur padaku dan tidak akan seperti ini lagi."
Aku hanya mengangguk.
"Sudahlah, aku ikut sedih melihatmu sedih. Maafkan aku, Sakura-chan." Ucap Naruto menenangkanku.
"Tidak, hiks. Aku yang hiks salah, aku tidak jujur hiks padamu." Kataku sambil sesenggukkan.
Setelah agak lama aku dipelukannya dan isakanku pun terhenti.
"Apa kau akan memelukku terus, Sakura-chan?" Tanya Naruto sekaligu tersenyum menyeringai.
Dengan cepat aku melepaskan pelukannya lalu memukul kepalanya.
"Ittaii…" rintih Naruto seraya memegang kepalanya.
"Bukannya kau duluan yang memelukku, hah?" ucapku kesal.
"Hei, hei, aku hanya bercanda, Sakura-chan."
"Huft." Aku melipat tanganku didadaku.
"Hei, masih marah ya? Sakura-chan terlihat jelek loh kalau seperti ini."
BUUGGHH
Aku memukulnya lagi.
"Aduduhduh…"
"Makanya jangan bilang aku jelek."
Aku pen segera berlari meninggalkannya sambil tertawa senang. Naruto punya cara untuk menghiburku makanya aku senang berada di dekatnya.
"Hei, tunggu aku, Sakura-chan." Panggil Naruto seraya mengikutiku.
….….…Aurora Borealix…..
Saat ini aku berada di kamar Ino, tentunya sesudah meminta ijin pada ayah Ino. Aku duduk di kasurnya sembari menunggu Ino pulang. Aku melihat ke jam dinding. Jam 7 sudah. Sudah 3 jam aku menunggunya. Aku menghela napas membayangkan ia bersenang-senang bersama Sai. Tiba-tiba bel rumah Ino berbunyi segera saja aku berlari ke ruang tamu dan menuju pintu depan.
"Ino-pig." Teriakku
"Hei, Forehead." Ucap Ino yang terlihat lesuh.
'Apa yang terjadi padanya' pikirku dalam hati.
"Hei, kau kenapa Ino-pig? Kenapa wajahmu lesuh begitu? Apa terjadi sesuatu?" tanyaku bertubi-tubi.
"Umm…karena…"
"Karena…?" tanyaku tidak sabaran.
"Karena…Sai…"
"Ya?"
"Karena…Sai…NEMBAK AKU. KYYAAA SENANGNYA." Ino teriak girang.
"HUUAAA…benarkah?" kataku tak kalah girang.
"Iya, iya. Dan kau tahu? Tadi Sai mencium pipiku. KYAA…Rasanya seperti ingin melayang."
"Huh? Lalu kenapa kau bersikap lesuh tadi?" kataku agak kesal karena sudah dibohongi.
"Hehehe…aku hanya ingin mengerjaimu saja." Ucap Ino seraya mengerling padaku.
"Huh, kau ini." Aku menyikut lengannya.
Aku senang mendengarnya. Entah kenapa melihat orang-orang yang kusayang bahagia aku jadi ikut bahagia dan merasa ingin selalu berada di dekat mereka. Aku juga tak ingin orang-orang yang kusayang menderita dan hancur sepertiku.
"Hei, Ino-pig." Aku memanggilnya. Saat ini kami sedang berbaring di kasur. "Rasanya aku iri padamu. Kau punya banyak orang-orang yang menyayangimu."
"Kau bicara apa, Forehead. Justru aku yang iri padamu."
"Kenapa begitu?" tanyaku bingung. Apa yang pantas untuk di iri dari diriku.
"Meskipun keluargamu tidak akur, tapi kau mampu bertahan dan sabar. Lagipula, kau masih punya aku dan Naruto, kan?"
Aku mengangguk pelan.
"Ngomong-ngomong soal Naruto, bagaimana hubunganmu dengannya?" Tanya Ino.
Sontak wajahku memerah. "Aku dan si Baka baik-baik saja. Tapi terkadang dia membuatku kesal, tapi terkadang juga ia bias membuatku tertawa. Well, aku nyaman bersamanya."
Ino mengangguk mengerti. "Aku harap hubunganku dengan Sai bisa sepertimu."
"Ya, semoga saja." Kataku jujur.
"Huaaamm…Aku ngantuk. Ayo tidur." Ucap Ino seraya menguap.
"Iya." Jawabku
Aku memandang ke luar jendela. Aku memandang langit malam yang indah. Kau tahu, aku masih berharap bahwa ada bintang jatuh yang mau mengabulkan harapanku. Aku pun menguap kecil.
"Selamat malam"
To be Continued
A/N: Hai, minna... terima kasih sudah mau mereview fic ku yang kurang jelas ini. Maaf, bila di sini masih menimbulkan kebingungan... :D
Semoga orang yang mau membaca fic ku akan selalu diberkahi... Amin... XD
Kritik, saran sangat di butuhkan untuk membangkitkan semangat Aurora.
So, REVIEW PLEASE ^.^
