30 Days
by Takatsuki Zhen
KnB belongs to Tadatoshi Fujimaki
AkaKuroMayu
Drama, Romance, Angst, Komedi
.
Terlepas Dari Raga
.
"Kau yakin tidak apa-apa, Akashi?" Furihata Kouki, merasa sangat bersalah karena telah menyetujui peran antagonis yang ditawarkan oleh Akashi dalam hubungan mereka menjadi orang ke tiga.
Akashi meratapi kepergian sang kekasih yang menangis, ingin sekali ia mengejarnya, menarik tangan lembut itu masuk ke dalam pelukannya lalu mengucapkan seribusatu kata cinta dan maaf. Namun, bagaimanapun juga Akashi sudah bertekad bahwa ini harus berakhir. "Demi kebaikanmu, Tetsuya."
Beberapa orang di sekitar yang masih mencuri pandang ke arah sumber keributan tadi, kini mulai melakukan aktifitasnya kembali, menjauh sambil berbisik-bisik gosip, tak ayal mereka melirik kedua tersangka.
Manik dwiwarna itu meredup. Akashi tak perduli apa yang mereka katakan, ia mulai melangkah pergi sebelum akhirnya ia menginjak sesuatu dan segera menunduk untuk mengambil benda itu. "Handphone Tetsuya," gumamnya seraya melirik layar handphone biru langit yang telah retak, sama seperti hati sang pemilik.
"Tugasmu sudah selesai, pulanglah."
Akashi berlalu menuju parkiran, pikirannya benar-benar kacau saat ini, hanya inilah yang bisa ia lakukan supaya Tetsuya terlepas darinya tanpa melibatkan Tetsuya lebih jauh dalam kehidupannya.
Ia melempar sembarang hanphone milik Tetsuya ke bangku penumpang di sebelah kemudi dan langsung memacu mobil sport-nya.
Tanpa Akashi sadari layar handphone Tetsuya menyala dengan sendirinya.
'1-1-2017, 30 Days'
Malam tahun baru yang seharusnya dipenuhi dengan kebahagiaan dan suka cita, Mayuzumi Chihiro justru memperlihatkan jejak urat di dahinya, tak henti bibirnya merapalkan kutukan dan menyumpahi entah siapa.
"Bangsat! Siapapun yang nyolong motor gue, mati!"
Malam ini seharusnya ia dan teman-teman band-nya mendapatkan job manggung di sebuah caffe yang mengadakan pesta perayaan tahun baru. Ia berangkat dari rumah pukul sebelas malam menggunakan motor Yapaha YZF-F25 berwarna abu-abu. Namun, setengah jam yang lalu Mayuzumi mampir ke minimarket untuk membeli rokok. Ia hanya mengeratkan tas gitarnya yang melingkar manis di bahunya sebelum masuk tanpa mengambil kunci motor. Ketika ia membeli rokok di kasir, kesialanpun terjadi, motornya dibawa kabur oleh dua orang asing atas keteledorannya. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi temannya, Hayama Kotarou, untuk menjemputnya, setelah setengah jam menunggu Hayama tak kunjung datang. Habis sudah kesabaran Mayuzumi Chihiro yang selalu tampak kalem, ia memutuskan berjalan kaki menuju halte bus dekat perempatan jalan raya.
'Siapa tau motor gue ketemu di jalan,' batinnya.
Beberapa menit berjalan kaki di trotoar penuh hiruk-pikuk lalulintas dan kembang api yang mulai menyalak menandakan tahun telah berganti. Seharusnya sekarang ia sudah berada di caffe sambil memetik gitarnya secara ganteng menghibur pengunjung, tetapi justru sekarang ia harus terdampar dan lebih mirip seperti pengamen jalanan.
Setelah dekat dengan halte bus, tak jauh dari sana terdapat kerumunan orang-orang yang terlihat panik pada sesuatu. Mayuzumi berfikir doa-nya terkabul bahwa pencuri motornya kecelakaan lalu mati. Ia pun menghampiri kerumunan orang-orang itu.
"Ada apa?" Tanyanya pada seseorang.
"Kecelakaan mobil."
Sedikit (banyak) kecewa, ternyata bukan pencuri motornya yang kecelakaan, Mayuzumi hanya menghembus nafas kesal.
Penasaran, ia menyelinap dengan mudah pada kerumunan orang-orang itu berniat mengetahui siapa korbannya. Matanya membelalak ketika mengetahui siapa korbannya. "Kuroko Tetsuya?"
"Ughh..."
"Sudah sadar-ssu?"
Membuka perlahan, manik Aquamarine pun terlihat. Dalam pandangannya terdapat cahaya kuning yang menyilaukan. Orang itu mengerjapkan mata beberapa kali untuk membiaskan pandangannya.
Kini, Kuroko Tetsuya tengah berbaring di dalam mobil terbalik yang beberapa menit lalu 'dicium truk' dan terguling. Keadaannya terlihat mengenaskan, surai sky blue-nya kontras dengan warna merah darah, di beberapa bagian kulit mulusnya pun demikian, fabrik garmen yang dikenakan juga dihiasi robekan di beberapa sisi.
Kuroko melenguh kesakitan, ia mencoba bergerak dan melepaskan diri. "Sakit... Kepalaku pusing."
"Tenanglah-ssu. Biar kubantu." Seseorang bersurai kuning membantunya keluar dari dalam mobil yang terbalik. Kuroko keluar dengan tertatih-tatih, mengeratkan ngenggamannya pada tangan hangat sang penolong.
Setelah berhasil keluar, Kuroko bersandar pada mobilnya. Ia terus memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit dan pusing.
DUAR! DUAR!
Bunyi kembang api menyalak diiringi bunyi terompet yang ditiupkan. Percikan kembang api menghiasi langit malam bagaikan taman bunga. Terpaku sejenak, Kuroko memandangi indahnya langit malam penuh warna, melupakan rasa sakitnya di kepala dan sepenuhnya melupakan rasa sakit di hati.
"Indahnya...," ucapnya terkagum.
Masih terpaku melihat kembang api yang saling bersautan. Kuroko mendengar seseorang memanggil namanya.
"Kuroko Tetsuya?"
"Hai?"
Ketika menoleh yang ia dapat hanya sekerumunan orang di sisi jalan. Tak ada satupun dari mereka yang terlihat seperti memanggilnya.
"Itu ada apa? Korbannya 'kan aku, kenapa kalian malah di situ?" —diam sejenak, Kuroko menyadari sesuatu.
"Are? Aku kenapa? Mobilku? Apa yang terjadi?" Banyak pertanyaan yang tiba-tiba mengisi kepalanya. Ia berdiri melihat kondisi mobilnya dalam keadaan terbalik dan cacat parah.
Mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya, tetapi sakit itu kembali menyerang kepalanya. "Arghh!"
"Kuroko?" Panggil seseorang.
Kuroko menoleh ke sumber suara yang berasal dari kerumunan.
"Kuroko, bertahanlah kumohon!"
Bertahan?
Kuroko segera menghampiri sekerumunan orang itu. Sirine Ambulance membaur dengan bisingnya kembang api dan terompet tahun baru. Petugas kesehatan berhambur ke tengah kerumunan, orang-orang pun menyingkir. Kuroko menyesali tinggi badannya yang standar anak SMP karena tidak dapat melihat apa yang terjadi di sana.
"Anda keluarganya?" Tanya petugas pada seseorang.
"Saya temannya."
"Baiklah, bisa ikut kami?"
Semakin penasaran apa yang terjadi, Kuroko menembus paksa dinding manusia itu. Kuroko berfikir korban kecelakaannya 'kan dia, tapi kenapa orang lain yang ditolong? Apakah ada korban lain yang tidak sengaja ia tabrak?
Setelah sampai ke depan, mata birunya membulat terkejut melihat dirinya terbaring di Brankar Ambulance yang didorong beberapa petugas. Bingung setengah mati, Kuroko menghampiri orang yang terlihat sepetri dirinya itu. Ia berlari kecil menyejajarkan langkah para petugas, tangannya hendak menggenggam tangan itu, namun tangannya mengabur dan menembus, ia tak dapat menyentuhnya.
Ambulance telah pergi, orang-orang pun mulai membubarkan diri, tinggal beberapa orang polisi yang sedang olah TKP dan beberapa awak media yang sedang meliput berita kecelakaan tersebut.
Kuroko masih tercengang melihat tangannya yang tak dapat menyentuh apapun, bahkan ketika orang lain hendak menabraknya, tubuh Kuroko justru mengabur dan orang itu lewat begitu saja.
"Apa yang sudah terjadi padaku?" Permata Aquamarine itu pun menjatuhkan butiran air.
-To Be Continued-
Terimakasih banyak untuk semua yang telah membaca FF-ku dan tentunya yang sudah vomen. Harapannya semoga FF-ku gak buruk banget ya
Maaf kalo gaya tulisku kurang berkesan, aku masih nubi haha~
Maaf juga kalo chapter dua kelamaan updatenya dan masih berbentuk pembukaan. Aku rasa chapter tiga Kuroko sudah mulai berpetualang mencari cinta sejatinya, tentu saja ditemani si malaikat kuning berisik. Pasti tau kan siapa? ;)
Sampai bertemu di chapter berikutnya.
