Begin

.

.

Awalnya..

.

.

.

.

Sulit untuk memulai.

.

.

.

.

Kisah cinta yang tak biasa

.

.

.

.

.

ketsa burung mockingjay di tengah ruangan café yang saat ini ku singgahi membuatku tertarik. Aku menyukai kisah-kisah mitos. Dan phoenix salah satu yang menghiasi dinding kamarku. Mockingjay tentu ku ketahui dari film favoritku. Dan keunikannya membuatku tertarik.

Mitos.

Dewa-dewi Yunani.

Dan sekarang aku bersama salah satu dari mereka.

Namanya Park Chanyeol. Nama yang indah, selaras dengan rupanya. Dia baru tiba dari Bangkok dua jam yang lalu sebelum mengagetkanku dan membawaku ke café ini. Suasana yang tidak terlalu ramai membuatku merasa nyaman mengobrol dengannya. Aku selalu ingin bertemu dengan Park Bogeum oppa, tapi Ibu tidak pernah mengijinkan ku untuk datang ke fanmeet, fansign atau apapun itu.

Tapi sosok di depanku seolah mewujudkan semuanya. Oh, dia bukan seorang actor atau idol. Aku bahkan baru melihatnya hari ini. Dia bilang, dia pernah melihat blog pribadi ku. Dia membaca cerita-cerita milikku. Aku mengira dia fans ku. Tapi sepertinya bukan.

Karena setelahnya dia kembali menatapku dengan sendu.

Raga setangguh baja….

Jiwa serapuh kapas…

"Hanya kau yang bisa menolongku," kedua kalinya aku mendengar kata-kata itu. "Aku mempunyai satu kisah. Dan aku ingin kau menulisnya"

Aku ragu. Tapi itu terdengar menarik. Aku bertanya kisah apa yang membuatnya harus mencariku, bukannya mencari penulis-penulis terkenal dengan berjuta karya memikat. Dan jawaban yang terlontar dari bibirnya membuatku menggeleng tanpa berpikir. Aku tidak pernah berpikir untuk menulis sesuatu seperti itu.

Maksudku, aku tentu pernah membaca genre seperti itu dulu. Entah kapan. Dan seperti apa kisahnya. Tapi hal itu benar-benar masih asing buatku. Tabu. Jika memungkinkan pun, aku tidak akan menulisnya. Bahkan saat Chanyeol kembali meminta, aku hanya kembali berkata tidak bisa, mengalihkan pandanganku ke balik jendela kaca. Enggan terhanyut dalam kesedihan miliknya yang tidak ku mengerti.

"Apakah karena kata cinta itu?"

Aku melihatnya dari sudut mata. bagaimana kepala itu tertunduk dengan bahu tegap yang merosot jatuh. Namun penuh kebencian di tiap katanya. Aku pernah mengalami beberapa hal yang bagiku belum pernah kualami sebelumnya. Dan beberapa hal terlihat mudah. Aku hanya harus merasakan prosesnya sebelum akhirnya aku mengerti.

Aku tidak mengerti. Mengapa Chanyeol bisa terlihat begitu kehilangan semangat hidupnya? Mengapa di balik keperkasaan dirinya, ada galau berpendar di matanya? Mengapa bisa ada kepedihan yang menyeruak karena penyesalan teramat dalam dan duka yang telah sekian lama terpendam di iris kelamnya? Seperti kata-katanya. Apakah karena kata cinta itu?

"Hanya kau yang bisa menuliskan kisah ini," pintanya parau. "Hanya kau yang bisa membuat kisah cinta ini membahagiakan. Bukan cinta yang dicela, diabaikan dan penuh penyesalan."

Kurasa..

Aku harus mulai mengerti..

.

.

.

.

.

.

.

.

Seperti biasanya, hari senin selalu menjadi hari tersibuk di ibukota. Pegawai kantoran yang berjalan cepat, mobil yang berdesak-desakkan hingga menimbulkan bunyi klakson yang bising, dan tak lupa murid-murid sekolah yang hampir berlari karena takut terlambat. Untuk sebagian orang yang memiliki banyak waktu untuk menghabiskan hari, hal-hal seperti itu benar-benar memusingkan. Menikmati hidup dengan bergerak terburu-buru apakah bisa disebut menikmati?

Tak terkecuali untuk seseorang yang sekarang berada di kursi penumpang sebuah mobil mewah yang terjebak kemacetan di tengah jalan Cheongdam-dong. Matanya awas menatap keluar jendela mobil, tapi tak satupun yang menarik. Seperti de javu. Jalan-jalan yang ia lewati seolah sama. Orang-orang yang berlalu lalang seolah tak berubah. Membosankan.

Helaan nafas keluar dari celah bibirnya. Kepulan asap dari cup kopi panas digenggamannya memang tak menarik sejak awal. Mobil yang ia tumpangi mulai bergerak lambat—setelah hampir sepuluh menit hanya menjadi patung bermesin—dan akhirnya melaju keluar dari kemacetan. Senin ini memang sedikit berbeda dengan senin lalu. Jalanan ibukota Seoul yang selalu terawat, kini di kotori oleh dedaunan kuning yang terus melayang turun bersama hembusan angin.

"Autumn.." gumamnya pada diri sendiri.

Kepalanya tak pernah menoleh dari jendela mobil, mengamati gedung-gedung dan pepohonan yang seolah berjalan cepat. Menikmati hal-hal yang ia lewati meski mereka berlalu dengan cepat. Menunggu semuanya berhenti dan membawanya pada satu tujuan. Yang entah apa, dan untuk siapa.

Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besar sebuah sekolah menengah atas ternama di Seoul. Ia keluar dari mobil setelah menyampirkan tas kepunggungnya serta menenteng almamater yang sempat terabaikan selama perjalanan. Satu tangannya yang lain masih setia menggenggam cup kopi panas. Mobil silver mewah yang ia tumpangi kembali melaju cepat setelah ia berdiri di depan gerbang tinggi keemasan tersebut.

Sebelum benar-benar memasuki sekolah yang telah dua tahun ia singgahi, pria itu mendongak. Menatap pohon ek besar di samping sekolahnya. Satu-satunya pohon yang tak ditebang karena dipercayai sebagai bagian sejarah dari gedung di depannya. Kata teman-teman sekolahnya, pohon itu selalu menjadi pusat pergantian musim. Karena saat musim dingin, daunnya akan berganti dengan tumpukan salju putih yang indah, pun akan menghijau saat musim semi bertamu. Coklatnya daun ek di musim gugur tak lain adalah campur tangan musim panas.

Semuanya menjadi kisah yang indah..

Saat manusia mulai berdongeng..

"Yo!" tepukan di bahu kanannya tak elak membuatnya terkejut, di lanjutkan cup kopi yang kini lenyap dari genggamannya.

Netra nya beralih pada seorang pria yang kini berjalan mendahuluinya. Si pirang platina yang dengan santainya meminum sisa kopi miliknya. Yang kini menoleh kearahnya dengan senyum jenaka.

"Hey Park Chanyeol. Kau akan tetap berdiri disitu seperti pengamen yang menunggu di beri uang?"

Celetukan khas yang sudah terbiasa didengar olehnya. Membuatnya terkekeh sebelum melangkah lebar untuk menggapai pundak si pirang platina dan merangkulnya dengan akrab.

"Panggil aku hyung, bocah Oh."

Si pemilik alur yang diciptakan Park Chanyeol.

Oh Sehun.

.

See You In Autumn

Kim Jongin X Oh Sehun

M

Boys Love

.

.

.

Tidak ada teriakan heboh dan norak yang layaknya terjadi di drama-drama murahan yang sering ditonton oleh Ibu Chen saat para flower boy dan kingka bergiliran masuk ke kantin sekolah. Mereka mengantri makanan seperti biasa. Bercengkrama seperti biasa. Saling menggoda seperti biasa. Bukan berarti anak perempuan tidak terkagum-kagum dengan pesona mereka. Hanya saja seperti mereka sudah terbiasa di beri pemandangan menggiurkan seperti itu.

Pengecualian untuk murid-murid baru di kelas satu. Mereka masih suka menjerit tertahan saat salah seorang flower boy sekolah melintas di koridor atau saat kumpulan dari para pria tampan itu membentuk lingkarang di meja kantin. Seperti saat ini.

"Itu tempat dudukku!" pekik Chen sambil bergegas menyalip diantara tubuh menjulang Chanyeol dan Jongin untuk sekedar menyenggol pinggul Sehun yang hampir duduk di kursi tengah.

"Apa-apaan—" Sehun mendelik kesal saat akhirnya Chen berhasil mengambil alih tempat duduk yang ia klaim sebagai miliknya. "Kau pikir ini sekolah milik kakek buyutmu?!"

"Memang" sahut Chen tanpa mengalihkan perhatiannya dari daging asap di atas nampan.

Sehun berdecak. Dalam hati merutuk tentang dunia yang tidak adil. Mengapa harus kakek buyut si troll Chen pemilik sekolah ini? Ia bisa menuntut ilmu disini. Tapi kenapa tidak bisa menuntut Chen? Bahkan jika ia bisa, akhirnya ia yang akan terdepak dari sekolah elit ini.

Sehun akhirnya memilih duduk di samping Chanyeol yang telah makan dengan tenang. Diantara semua temannya, memang Chanyeol yang terlihat paling normal. Ia bisa membaca buku dengan tenang saat Sehun dan Jongin saling melempar gumpalan kertas. Ia bisa menelan makanan dengan benar saat Chen berteriak nyaring di samping telinganya. Ia bahkan masih bisa tersenyum saat Jongin dan Sehun tak sengaja mencederai kakinya. Padahal Chen sudah berkoar-koar dengan suara tujuh oktafnya.

Sehun tanpa sadar menggeleng sambil berdecak kagum saat kembali teringat hal itu. Sulit sekali mencari orang yang mampu bertahan dari ketulian setelah mendengar suara Chen. Ya, tidak salah ia dijuluki The Real Flower Boy Cheongdam High School.

"Kenapa?" tanya Jongin saat melihat gelagat aneh Sehun, teman sekelas sekaligus partner in crime Sehun yang duduk di depannya.

Sehun menggeleng, lalu mendapati nampannya telah penuh dengan brokoli. Sehun tersenyum pasrah sambil menyendok brokoli-brokoli itu ke mulutnya. Tersangka utama sudah pasti si Tuan Besar Kim Jongin yang takut pada monster hijau bernama brokoli. Hampir setiap hari Sehun harus memakan brokoli transferan Jongin. Ia tidak memiliki masalah dengan brokoli, hanya saja, jika Jongin memang tidak suka pada sayur hijau itu, ia bisa meminta pelayan kantin untuk tidak memasukkannya.

"Lihatlah tubuh kurusmu. Kau harus banyak makan sayur."

"Brokoli memiliki banyak gizi. Aku sengaja mengambilkannya untukmu supaya tubuhmu lebih berisi."

"Mubazir jika di buang."

Dan Kim Jongin selalu punya alasan.

"Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang makan?"sahut Sehun kesal. "Dan lagi, aku tidak sekurus itu Kim!"

Siswa-siswi yang berada di sekitar mereka menoleh saat mendengar Sehun menyentakkan kaleng colanya dengan keras diatas meja. Pria pirang itu mendengus sekali dan kembali melanjutkan makan saat tak ada respon dari Jongin. Sedangkan Chen hanya memutar bola matanya malas.

"Bagaimana dengan sepupumu itu?" tanya Chen di sela kegiatan makannya, sekedar mengalihkan kembali pandangan murid-murid yang mulai menggerutu tidak jelas. Ia tak suka diperhatikan saat makan.

Chanyeol mendongak saat tak ada jawaban dari siapapun, dan mendapati Chen menatap penasaran kearah. "Sepupuku?"

Chen mengangguk. Sehun ikut menatap penasaran pada si kakak kelas.

"Ah, dia sudah mulai sekolah hari ini." Jeda sejenak saat Chanyeol memutar kepalanya menatap sekeliling kantin. "Dia disana." Tunjuknya pada seorang gadis berambut hitam panjang di salah satu sudut kantin.

Ketiga temannya menoleh pada arah yang di tunjuk Chanyeol. Tapi yang dapat mereka lihat hanya punggung gadis itu yang sedang tertawa bersama teman-temannya.

"Menarik" gumam Jongin yang mampu di dengar oleh ketiga temannya.

Sehun menoleh cepat dan berkerut kening, "Kau bahkan tidak melihat wajahnya."

"Aku bisa melihat aura seorang gadis hanya dari punggungnya," sahut Jongin seraya memegangi bahunya, lalu tersenyum. Membuat beberapa kumpulan siswi kelas satu menjerit.

Chanyeol menggeleng, senyuman Kim Jongin memang yang terbaik.

Sedangkan Sehun hanya bergumam dan kembali fokus pada makanannya. Tanpa sadar hanya menghabiskan waktu dengan mengaduk-aduk daging dengan nasi hingga bel masuk berbunyi. Selera makannya hilang.

Kau adalah api…

Aku tau kau adalah api..

.

.

.

.

.

jika kalian tau istilah flower boy dan kingka, berarti kalian adalah penggemar berat drama korea. Mereka adalah murid-murid yang identik dengan wajah dan harta. Tampan dan kaya. Selalu dipuja oleh anak-anak perempuan di seluruh sekolah. Selalu mendapat keistimewaan dan selalu berbuat seenaknya. Tentu saja hal itu hanya berlaku di drama.

Flower boy dan Kingka sekolah memang ada. Diciptakan oleh para siswi. Tapi mereka tak memilik keistimewaan apapun selain disegani karena tampan dan kaya. Sehun memang sering berkata bahwa ia takkan bisa menuntut Chen karena kakek buyutnya adalah pemilik Cheongdam High School. Tapi itu hanya gurauan untuk menakuti murid lain.

Chen memang cucu dari pemilik yayasan sekolah yang digunakannya untuk menuntut ilmu saat ini. Tapi meskipun begitu, tak ada keistimewaan apapun yang di dapatkannya. Ia akan tetap tinggal kelas jika tidak belajar dengan benar. Ia akan tetap mendapat surat pelanggaran serta omelan pedas guru BP saat berbuat onar. Dan semua murid pun seperti itu. Chen pun tidak memiliki masalah dengan itu. kakeknya yang berjuang mendirikan sekolah ini. Ia menuntut ilmu untuk dapat bersikap hormat, bukan untuk dihormati.

Park Chanyeol satu-satunya kakak kelas yang selalu terlihat bergabung bersama dengan adik-adik kelasnya itu. Ia tak pernah mendapat perhatian apapun saat di kelas satu. Namun saat namanya berhasil menjadi juara satu dalam olimpiade matematika serta poster dirinya yang terlihat terlalu tampan di mading sekolah, panggilan flower boy akhirnya melekat di nama belakangnya. Anak tunggal dari CEO perusahaan fashion terkenal di Korea Selatan itu selalu menjadi hyung terbaik untuk ketiga adik kelasnya.

Berbeda dari Chen dan Chanyeol, si duo biang onar Kim Jongin dan Oh Sehun selalu berbangga diri saat seluruh sekolah menetapkan mereka sebagai Kingka-nya Chongdam High School. Karena perbuatan mereka yang berani menumpahkan air sisa pembersih lantai dari lantai dua pada seorang kakak kelas saat ospek. Namun karena ini tahun pertama mereka di CHS, guru BP cantik nan galak itu masih tidak bosan memberi petuah-petuah berharganya pada Jongin dan Sehun.

Jongin dan Sehun terlihat lebih akrab satu sama lain, karena mereka telah mengenal sejak sekolah menengah pertama. Selalu menjadi partner in crime untuk mengerjai teman-temannya yang lain. Meskipun begitu, otak mereka tidak bisa diremehkan. Karena untuk bertahan di sekolah elit seperti Cheongdam High School. Wajah dan otot saja tidak akan bisa menjadi jaminan.

Berbeda dari Jongin yang cukup dikenal oleh para petinggi sekolah karena ayahnya yang dulu adalah salah satu pengajar di CHS sebelum menjadi professor di sebuah Universita ternama, Sehun lebih banyak mengambil perhatian murid-murid. Meskipun senakal Jongin dan kadang bisa secerewet Chen, Sehun nyatanya tak memiliki asal usul yang jelas. Di biodata sekolah, hanya diketahui bahwa ia anak pasangan suami istri yang berasal dari daerah pesisir di Busan. Membuat beberapa murid mengira bahwa Sehun sengaja menyembunyikan identitasnya.

Tidak ada yang tahu dimana tempat tinggal Sehun, bahkan Jongin sekalipun. Terkadang pria dengan bahu lebar itu menginap di salah satu rumah temannya. Seperti saat ini, saat ia berusaha membujuk Chen dengan wajah anak ayamnya itu.

"Ayolah Chen~~ aku tidak akan berulah di rumah mu. Memangnya aku pernah membuat rumahmu gaduh? Tidak kan? Ayolaahhh~" nada manja yang dikeluarkan Sehun tak ayal membuat beberapa murid yang lewat terkekeh geli.

"Eheyy, kau lupa sudah mematahkan kaki Koko?" sengit Chen sambil menghempaskan lengannya yang digelayuti Sehun.

Anak ayam berambut platina itu memberengut kesal. Chen masih saja ingat kejadian itu. Padahal sudah beberapa minggu terlewat. Tentu saja Sehun ingat bagaimana murkanya Chen saat Koko tiba-tiba saja meraung-raung di lantai kamarnya. Lagipula Sehun tidak sengaja. Anjing berbulu emas itu saja yang menggonggong padanya saat ia serius menyelesaikan pekerjaan rumahnya di meja belajar Chen, hingga membuatnya reflex menendang anak anjing itu hingga kakinya patah.

"Aku kan sudah bilang itu tidak sengaja. Lagipula itu salah Koko." Sahut Sehun tetap mempertahankan raut memelasnya.

"Jadi kau menyalahkan Koko?!"

Sehun merasa gendang telinganya hampir pecah saat Chen berteriak. Ia menggeleng dengan wajah polos. "Tidak. Aku tidak bilang begitu. Aku bilang Koko sangat lucu."

Chen tertawa datar,menatap malas kearah Sehun yang masih betah bergelayut di lengannya. "terserah." Ujarnya, yang berarti lampu hijau untuk Sehun.

"Terima kasih Chen." Seru Sehun lalu berlari menghampiri Chanyeol yang sibuk dengan smartphone nya. Merangkul pria itu seolah menjadi kebiasaannya. Dan hanya tersenyum jenaka saat Chanyeol menatapnya bingung. "Eyyy, calon CEO ini selalu sibuk dengan bursa saham" Sehun berdecak malas dibuat-buat.

Chanyeol lagi dibuatnya tersenyum.

Seperti de javu. Hal-hal yang ia lewati seolah sama.

Tapi jika itu Sehun, Jongin atau Chen. Tidak ada hal yang membosankan.

Kau tau semua itu..

Kau adalah sahabat terbaikku..

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Keluar jalur nih ff :v prolognya gimana. Chapter satunya malah makin gimana-gimana :v