Last Kiss

Yunjae fanfiction

Oneshot-Songfic from 'Last Kiss by Taylor Swift'

Story Idea by Me

Cast :

Kim Jaejoong (JYJ)

Jung Yunho (TVXQ)

Kim Junsu (JYJ)

Park Yoochun (JYJ)

Rate : T

Genre : Romace, Drama, Hurt, GS Fanfiction

Warning : This is a Genderswitch Yunjae fanfic. Ini lanjutan dari fanfic Cry, dan fanfic ini akan menceritakan flashback 1 tahun yang lalu hubungan Yunjae dalam fanfic Cry. This is Yunjae. Genderswitch, Newbie, Typo(s), DLDR, NO EDIT, cerita membingungkan. Mohon dibaca pelan-pelan. Gomawo~

Please read the notice, before you read this fic. Thanks, and enjoy~

~Last Kiss~

.

.

I still remember the look on your face
Lit through the darkness at 1:58
The words that you whispered
For just us to know

You told me you loved me
So why did you go

Away
Away..

Aku mengingatnya lagi. Setahun yang lalu, aku memutuskan berpisah denganmu dan kau memutuskan untuk pergi jauh dariku agar bisa melupakanku. Maafkan aku, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita. Meski begitu, kenapa kau malah pergi jauh dariku kau meninggalkanku sendiri disini.

Masih kuingat ekspresi wajahmu ketika kita merayakan anniversary hubungan kita yang pertama, tepatnya 4 tahun yang lalu. Di malam itu kita berbagi kehangatan untuk pertama kalinya, kau sangat tampan dimalam itu wajahmu sungguh bersinar dalam kegelapan malam pukul 1:58 di dalam kamarku ini dengan hanya sinar rembulan yang menerobos malu-malu melalui celah ventilasi kamarku.

Kau mengatakan kata-kata yang selalu menenangkan hatiku. Kau mengataknnya sebelum aku benar-benar jatuh terlelap.

"Jaejoong ah, aku mencintaimu." Kau membisikkan kata itu dengan dalam, hingga mampu membuat debaran jantungku berdebar tak karuan.

"Aku juga mencintaimu Yunho ah." Ku rengkuh pinggang polosnya sebelum benar-benar terlelap dalam pelukan hangatnya. Aku tak bisa menggambarkan betapa bahagianya diriku waktu itu.

Tapi dengan benteng yang terbangun kokoh yang seakan melarang kita untuk tetap terjalin dalam satu untaian rasa. Aku memutuskan untuk berpisah denganmu, hanya berpisah. Kita masih bisa bersama sebagai teman, lalu kenapa kau malah pergi jauh meninggalkanku? Apa kau kecewa denganku? Apa kau kecewa dengan keputus asaanku?

Aku mengingatnya, setahun yang lalu. Ini semua memang salahku.

"Aku mencintaimu Yunho ah, aku mencintaimu hiks hiks." Aku menangis sejadi-jadinya dalam dekapan hangat kekasihku. Aku harus mengungkapkannya, aku tak mau hubungan ini terus berlanjut seperti ini.

"Uljima, boo. Aku juga mencintaimu. Sangat dan lebih mencintaimu." Yunho terus mengusap puncak kepalaku dengan sayang. Aroma hujan masih tercium kental, aku bisa melihat rambut Yunho yang sedikit basah akibat hujan yang mengguyur jalanan Seoul tadi.

"Aku mencintaimu Yunho, tapi maafkan aku ingin mengakhiri hubungan kita." Aku pun melepaskan diri dari dekapan hangatnya, dan mulai merapikan mantelku. Aku sudah akan beranjak pergi, tapi lengan kokoh nan berototnya menahan lenganku yang terbalut mantel. Dia menarik lalu memutar tubuhku agar menghadap kepadanya dan..

Cupp

Last kiss maybe. Dia menciumku lembut namun dengan emosi yang membara ia menciumku dengan ganas hingga aku tak bisa mengimbanginya. Merasa aku tidak bisa bernafas karena kehabisan stock oksigen dia melepaskannya, lalu dia mencium keningku dalam. Dan pergi tanpa mengatakan sepatah katapun, dia pergi meninggalkanku sendirian di trotoar jalanan kota Seoul.

Aku menangis lagi mengingat hal itu, 1 tahun yang lau tapi aku belum bisa melupakannya apalagi dengan kenangan kita 4 tahun yang lalu.

I do recall now
The smell of the rain
Fresh on the pavement
I ran off the plane

That July ninth
The beat of your heart
It jumps through your shirt
I can still feel your arms

Kini benar-benar kuteringat aroma hujan yang sangat segar di trotoar tempat dimana aku memutuskan berpisah denganmu. Aku benar-benar merasa bersalah.

Keesokan harinya aku mendapati kabar bahwa kau akan pergi ke Jerman, tak taukah dirimu. Setelah mendapat kabar dari pak Shin supir pribadimu bahwa 30 menit dari pak Shin menelfonku bahwa pesawatmu akan take off. Aku berlari dari kantorku, aku mengendarai mobil menuju bandara. Dan berlari dalam bandara hanya mencari keberadaanmu tapi Dewi Fortuna tak berpihak kepadaku, ketika aku menemukanmu kau sudah berjalan lurus dan telah siap menuju pesawatmu. Aku berteriak menyerukan namamu. Aku tak peduli berapa banyak orang yang melihatku bahkan menganggapku gila.

"Yunhooo yahhhhhh." Aku berteriak dengan keras tapi jarak kita yang begitu jauh, kau tak dapat mendengarku. Kau tetap berjalan lurus sambil menarik koper besar tanpa menoleh kebelakang. Aku terduduk di lantai bandara ketika kau menghilang dari pandanganku, aku menangis tersedu-sedu.

"Mianhae, Yunho yah. Mianhae my Yunnie bear hiks hiks."

.

Tanggal 9 Juli, adalah hari jadi kita. Dimana aku bisa merasakan pelukanmu, hangatnya dekapanmu, detak jantungmu. Aku masih merasakannya hingga sekarang. Aku tetap mencintaimu, bahkan setelah setahun ini kita berpisah.

.

But now I'll go sit on the floor
Wearing your clothes
All that I know is
I don't know how to be something you missed
Never thought we'd have a last kiss
Never imagine we'd end like this
Your name, forever the name on my lips

Aku terpukul setelah kejadian ditrotoar itu aku menangis semalaman. Aku mengenakan kemeja yang kau tinggalkan dikamarku setelah kita berbagi kehangatan dimalam sebelumnya. Aku terduduk rapuh diatas lantai marmer kamarku, aku tak sanggup berdiri. Aku sangat merindukanmu sekarang.

"Yunho ah, aku merindukanmu. Apa kau merindukanku? Aku sudah di Korea, aku telah kembali dari Amerika. Meskipun kita tak pernah berhubungan aku tau kau selalu memantauku dari jauh. Aku tau itu." Aku berbicara sendiri bak orang gila dengan iringan tangisan pilu.

"Namamu akan selalu kusebut dalam tidurku. Aku tak tau kenapa kita berakhir seperti ini? Dengan ciuman terakhir kita ditrotoar itu. Sebenarnya aku sudah mampu berdiri, tapi setelah waktu itu ketika kita mengadakan rapat. Sebelum meninggalkan meja rapat kau menghampiriku, aku tak kuasa jika harus memandangmu waktu itu, Yunho ah. Mianhae." Aku selalu berbicara sendiri seperti ini. Jiji lah yang selalu ada disampingku ketika sedih.

I do remember
The swing in you step
The life party, you're showing off again
And I roll my eyes and then
You pull me in
I'm not much for dancing
But for you I did

"Wah pesta perayaan perusahaanmu sangat meriah. Aku tak pernah ikut dalam perayaan perusahaanku sendiri. Aku selalu merengek jika disuruh datang ke pesta, tapi appaku selalu menurutiku. Jadi aku diizinkan untuk tidak hadir." Aku tersenyum cerah sambil mengapit lengan Yunho disebuah ballroom hotel untuk merayakan hari jadi perusahaan Yunho.

"Kau sunngguh bandel Joongie. Makanya aku mengjakmu, akan aku tunjukkan betapa kerennya sebuah pesta itu." Yunho selalu seperti itu, ia selalu menunjukkan seseuatu yang baru dalam hidupku.

Aku melihat sekelilingku. Dan deg.. Halmonie Jung. Aku mencoba biasa saja, seakan aku tak melihat apapun dan disaat itu pula Yunho mengulurkan tangannya dihadapanku.

"Mari berdansa." Yunho tersenyum tampan sambil mengulurkan tangannya.

"Aku tak bisa berdansa, bear." Aku berbicara lirih, aku malu. Dan takut mengecewakannya. Tapi jika menolaknya, ia malah akan tambah kecewa.

"Aku akan menuntunmu dengan hati-hati, boo." Kata-katanya membuatku merasadihargai dan meleleh.

"But for you I did, bear."

Because I love your handshake
Meetin' my father
I love how you walk with your hands in your pockets
How you kissed me when I was in the middle of saying something
There's not a day I don't miss those rude interruptions

"Appa Kim, anyeong." Yunho menjabat tangan appa dengan senyum khasnya. Kelihatannya appa tak mempermasalahkan hubunganku dengan Yunho. Aku merasa sangat senang.

"Yunho ah, terima kasih telah menjaga Joongie ketika aku harus menetap di Jepang." Appa malah tersenyum dan mengajak Yunho mengobrol.

"Ah, bukan masalah besar appa. Joongie menjadi anak baik selama tak disamping appanya kok." Appa terlihat tergelak dengan perkataan Yunho. Aku hanya mengerucutkan bibirku.

Aku dan Yunho tengah berjalan beriringan. Kita tengah menuju padang rumput tempat rahasia kita. Yunho berjalan terlebih dahulu melewati dan menerobos hutanpinus dengan aku yang setia mengekor dibelakangnya.

'Kau sangat cool, dengan caramu berjalan sambil memasukkan kedua tanganmu disisi kantung celanamu,'

"Yunho ah, tunggu aku-aku." Tiba-tiba Yunho lari dan tertawa mengejekku.

"Kejar aku Joongie." Kami pun akhirnya berlari menerobos hutan, melewati padang rumput dan sampailah kita ditengah-tengah padang rumput hijau dibawah pohon besar nan kokoh yang juga terdapat rumah pohon milikku dan Yunho.

"Hahh.. aku capek Yunho ah." Aku pun berbaring terlentang diatas rerumputan dengan Yunho yang tengkurap disampingku.

"Bagus sekali pemandangannya udaranya sangar sejuk dan.."

Cup.

"Yakk!" Dia selalu seperti ini mencuri ciumanku ketika aku asik berceloteh. Itu tak sopan dan aku sangat menyukai hobby Yunho yang seperti ini. Aku selalu merindukan setiap kelakuannya itu.

So I'll watch your life in picture like I used to watch you sleep
And I feel you forget me like I used to feel you breathe
And I'll keep up with our old friends just to ask them how you are
Hope it's nice where you are

Ini sudah sebulan sejak pertemuan kita dirapat waktu itu. Bagaimana kabarmu? Apakah kamu kesal dengan sikapku waktu itu yang sekan menolakmu? Atau mungkinkah kau melupakanku? Aku memutuskan untuk ke rumah Junsu. Mumpung ini hari Minggu.

"Aku merindukannya Suie." Aku tengah duduk di ruang keluarga Junsu. Aku iri melihat Junsu yang duduk santai disebelahku sambil mengelus-elus perutnya yang semakin membesar.

"Kenapa sikapmu dulu seperti itu kepadanya ketika setelah rapat?" Junsu menoleh kearahku sambil merengut.

"Aku belum siap untuk bertemu dengannya. Aku merindukannya, aku ingin tau kabarnya." Junsu pun mengambil ponselnya. Dan ..

"Hi, Yunho ah?" Junsu menelponenya.

"Hi, Junsuie. Ada apa?" Junsu me loud speaker ponselnya sambil melirikku.

"Kau dimana? Kabarmu bagaimana?" Junsu langsung to the point menyampaikan pertanyaanku. Aku hanya berharap semoga Junsu tak bilang pada Yunho bahwa aku ada bersama Junsu dan mendengar suaranya.

"Aku tengah dikantor. Kabarku? Kau tau sendirkan Junsuie? Aku tak bisa dikatakan baik jika tak bersamanya." Deg.. aku mendengarnya dia memang masih mengharapkanku. Aku sangat merindukanmu, Yunho ah.

"Apa kau tak merindukannya?"

"Aku sangat merindukannya, Junsuie. Tapi dia tak mau melihatku."

"Yasudah, berpura-puralah keadaanmu baik-baik saja. Mungkin dia senang jika mengetahui kabarmu baik-baik saja. Tidak seperti sebenarnya yang mirip mayat hidup workholic."

Tutttt..

Junsu mematikan sambungan telpon nya.

"Kau punya nomornya?" Jaejoong bertanya.

"Aku tak akan memberikan nomornya kepadamu. Dan sekarang kau tau keadaannya, dia tak baik-baik saja Jaejoongie." Junsu menatap mataku dalam setelah ia berucap seperti itu.

"Aku tau aku salah, Suie." Yah dan akhirnya aku mengisi dia lagi.

And I hope the sun shines
And it's a beautiful day
And something reminds you
You wish you had stayed
You can plan for a change in weather and time
But I never planned in you changing your mind

'Aku berharap keadaanmu akan secerah mata hari yang bersinar pagi ini dan berwana seperti hari yang sangat indah ini.

Meski tanpaku kau harus tetap berdiri kokoh. Meski cinta diantara kita sangatlah kuat, dan walaupun tembok diantara kita lebih kuat. Janganlah bersedih kenang aku bukalah jendela kamarmu setiap akan tidur, karena doa yang selau kupanjatkan setiap malam akan berhembus bersamaan angin yang akan senantiasa menyampaikannya kepadamu.

Janganlah berputus asa, meskipun hungan kita kandas tak seperti yang kita inginkan. Tapi tetaplah ingat untaian cinta kita sangat kuat.

Meskipun kita terpuruk dalam masa lalu yang kelam sekaligus indah, tapi percayalah suata saat pasti akan ada keajaiban yang tak teruduga diantara kita. Tuhan telah menggariskan takdir setiap umatnya, jadi janganlah bersedih jika kebahagiaan belum berpihak kepadamu. Tapi yakinlah Tuhan telah merencanakan sutau rencana kedepan yang lebih baik dari sebelumnya.

Aku mencintaimu Yunho ah.'

Aku tutup buku harianku. Sudah cukup curahanku hari ini. Aku akan tidur dan aku berharap dapat memimpikan mu dalm tidurku malam ini. Selamat malam dunia. Selamat malam Yunho.

Wusssshhhh

Angin diluar sangat kencang menerobos mealalui ventilasi kamarku, tirai-tirai bergoyang akan hembusan angin malam ini hingga membuat rambutku bergoyang seirama ketika aku tengah berdoa dalam kegelapan malam.

Just like our last kiss
Forever the name on my lips
Forever the name on my lips
Just like our last kiss..

.

.

.

.

END

Notes : Hai, readers. Saya kembali. Lambai-lambai.. ini lanjutan fanfic CRY nanti disetiap chapter akan berbeda judul dan langsung END. Tapi di ff ini, ceritanya akan saling berkaitan. Jadi maf jika membuat readers bingung. Jadi bacanya pelan-pelan ya..

Untuk next chap, enaknya gimana? Pake lagu apa? Lagu free (western, kpop, jpop, mandarin). Ayo readers vote ya, soalnya saya bingung pake lagu apa untuk next chap.

Saya juga mau minta maaf untuk remake an I give my first love to you, saya pending. Saya blank, readers. Dan saya juga minta maaf karena harus ganti pen name, mian.. Banyak masalah solnya.

Udah dulu ya. Terima kasih berkenan membaca, dan memberikan review di ff sebelumnya.

Salam kawaii,
Hirana~

10 Juli 2015