Sebuah Remake dari novel yang berjudul A Romantic Story About Serena karya Shanty Agatha

.

Disclaimer:
Ide cerita dan sebagian besar plot diambil dari novel aslinya, disertai dengan penambahan dan pengurangan seperlunya dari saya. KyuMin are not Mine!

.

Warning:
Yaoi, OOC, bad language, typo(s), de el el

.

Part 2

.

-KyuMin-

.

Sial! Lagi-lagi sial! Mau apa lagi manusia arogan itu?

Sungmin menghitung satu persatu langkahnya menuju sebuah pintu besar yang ada di hadapannya. Pintu besar yang sama ia lihat kemarin, dimana manusia yang sama dan juga hal buruk yang sama mungkin saja sedang menunggunya di balik sana. Kenapa aku harus kembali lagi ke sini? Tanya Sungmin tak habis pikir dalam hatinya.

Mau tahu apa yang terjadi?

.

-Flashback on-

"Kau terlambat, Lee Sungmin." Sambut Park Jungsoo, kepala divisi di tempat ia bekerja. Begitu sampai di kantor, salah seorang staf memberitahukan bahwa bos-nya ini ingin Sungmin segera menghadap ke ruangannya. Dan, di sinilah ia sekarang, berdiri setengah menggigil dengan penampilan yang masih berantakan karena berusaha melindungi diri dari hujan tadi.

Sungmin sudah siap mendengar semburan selanjutnya dari kepala divisinya ini, ia pun memilih untuk diam, menunduk dan pasrah. Jangan sampai bos-nya ini memotong gajinya bulan ini hanya karena hal sepele.

"Aku sudah dengar." Kata Jungsoo, bibirnya mengatup tipis, seakan-akan sedang mengambil ancang-ancang untuk tersenyum atau mungkin juga menggerutu.

"Maksud anda?"

"Aku dengar dari resepsionis kau diantar oleh Tuan Cho, CEO perusahaan kita." Jungsoo pun tersenyum begitu lebar, puas sekali sepertinya. Namun Sungmin tidak menemukan alasan kenapa bos-nya kelihatan senang saat mengatakan itu. Ia mengantisipasi kalimat mengejek lah yang akan keluar dari mulut pria berlesung pipit itu, namun kenyataannya malah sebaliknya. Apa yang sedang terjadi?

"Tadi itu kami tidak sengaja berpapasan waktu aku sedang menunggu bus di halte. Mungkin karena melihat aku tidak juga mendapatkan kendaraan Tuan Cho berbaik hati untuk menawari tumpangan sampai ke halte depan." Berbaik hati? Sungmin tidak sungguh-sungguh menyebutkan semua itu. Anggap saja ia terpaksa mengatakannya, ia tidak mau mempersulit hidupnya hanya karena manusia egois itu.

Jungsoo kembali tersenyum, lalu mengangguk-angguk paham seolah ia memaklumi keadaan tersebut. "Itu tidak masalah bagitu. Tapi aku ucapkan selamat untukmu. Kerja bagus, Sungmin-sshi." Katanya senang. Sungmin pun heran.

"Maksud anda?"

"Well, kau mungkin tidak akan pernah menyadari ini tapi ulahmu di acara pameran kemarin sepertinya membawa dampak yang baik terhadap divisi ini. Karena insiden itu Tuan Cho—pimpinan tertinggi di perusahaan kita—terpaksa harus turun tangan untuk menyelesaikan semuanya. Kejadian itu memang cukup memalukan, tapi juga menguntungkan bagi divisi kita. Bisa kau bayangkan, mulai sekarang Tuan Cho semakin mengenali divisi kita, terutama kau, Lee Sungmin. Lihat saja buktinya, dia bahkan memberikanmu tumpangan, hal yang sangat mustahil ia lakukan terhadap karyawan di perusahaan ini."

Sungmin meringis jijik dalam hatinya. Bangga? Menguntungkan? Cih, baginya itu biasa saja, malah ia berharap Cho Kyuhyun tidak perlu memberikan tumpangan untuknya. Lihat sekarang, orang-orang semakin mengelu-elukan sosok 'penjahat' itu.

'Kenapa semua orang begitu membangga-banggakan manusia sombong itu?' umpatnya heran.

"Aku harap kau bisa membawakan diri dengan baik di hadapan Tuan Cho, Sungmin-sshi. Dia orang penting di perusahaan ini, dan divisi ini membutuhkan perhatian dari orang-orang penting sepertinya. Kau mengerti?"

"Baiklah, saya mengerti." Jawab Sungmin patuh. "Kalau begitu saya permisi dulu, saya akan memulai pekerjaan saya pagi ini." Gumam Sungmin hendak pamit, ia tidak mau berlama-lama mendengarkan ocehan sang atasan mengenai CEO arogan itu. Banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan.

"Oh, iya. Sebelum kau pergi, aku ingin menyampaikan pesan dari Tuan Cho untukmu." Cegah Jungsoo sebelum Sungmin meninggalkan ruangannya.

"Untuk saya?"

"Hmm..yeah. Dia berpesan agar kau mengambil barangmu yang ketinggalan di mobilnya sore ini, jam 3."

"Huh? Barang apa?" tanya Sungmin heran.

"Entahlah. Aku hanya menyampaikan saja." kata Jungsoo.

'Barangku? Huh? Payung kah? Oh sial! Aku meninggalkannya di sana! Shit!'

-Flashback off-

.

Payung? Hanya payung? Cho Kyuhyun begitu berbaik hati mengingatkan Sungmin bahwa benda di itu tertinggal di mobilnya. Dan hebatnya lagi CEO muda itu ingin menyerahkan payung itu secara langsung. Ia ingin Sungmin menjemput payung itu ke ruangannya, ruangan yang mungkin jarang dimasuki oleh karyawan biasa seperti Sungmin. Ada apa ini?

Jika hanya ingin mengembalikan payung Sungmin yang tertinggal bukankah ia bisa menitipkannya pada pegawai resepsionis atau ia bisa menyuruh karyawannya saja untuk mengantarkanya ke ruang kerja Sungmin. Cho Kyuhyun itu orang yang super sibuk, tapi kenapa ia masih punya waktu untuk mengurusi payung jelek itu? Aneh sekali.

Bahkan Sungmin tidak akan merasa keberatan jika Cho Kyuhyun membuang payungnya ke tong sampah. Ia akan berusaha untuk maklum dan menganggap itu wajar. Lagipula Sungmin juga tidak akan berani untuk meminta payungnya itu kembali. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan, Cho Kyuhyun memintanya untuk menjemput payung itu kembali, payung yang rencananya akan ia cari gantinya. Well, itu hanya sebuah payung 'kan?

"Anda sudah ditunggu Tuan Cho di dalam." Kata sekretaris Kyuhyun dengan sopan. Sungmin mengangguk ramah lalu segera masuk ke dalam ruang kerja Kyuhyun.

.

-KyuMin-

.

Kyuhyun baru saja menyelesaikan meeting dengan salah satu klien pentingnya, setelah itu ia berencana untuk segera pulang. Ia segera kembali ruangan kerjanya setelah keluar dari ruang meeting yang berada tidak jauh dari sana. Setibanya di dalam ia pun buru-buru menyimpan berkas-berkas penting perusahaannya ke dalam brankas kecil di dekat lemari baca, mengingat janjinya dengan seseorang sore ini.

Tadi pagi ketika mereka sampai di kantor, Kyuhyun menghubungi kepala divisi tempat Sungmin bekerja untuk menjelaskan perihal keterlambatan Sungmin ke kantor, ia berharap agar sang kepala divisi tidak memarahi Sungmin karena keterlambatannya itu. Setelah melakukan itu Kyuhyun berharap ia akan mendapatkan simpati dari Lee Sungmin, minimal ucapan terima kasih. Akan tetapi Kyuhyun juga bisa menebak bagaimana ekspresi jengkel Sungmin jika ia tahu bahwa Kyuhyun menggunakan kekuasannya untuk membantunya. Kyuhyun mulai memahami watak keras Sungmin, ia yakin pemuda mungil itu tidak akan semudah itu berterima kasih kepada dirinya.

Ia juga menyempatkan diri untuk menyelidiki latar belakang Sungmin, mulai dari keluarga sampai tempat tinggalnya. Bahkan ia mencari tahu dimana perusahaan tempat Sungmin bekerja sebelum ini. Ternyata Sungmin tidak berbohong, Sungmin memang anak yatim piatu, ia besar di panti asuhan dan sekarang tinggal seorang diri di sebuah apartemen sederhana.

"Saya besar di panti asuhan, saya tidak punya orang tua." Begitu kata Sungmin tadi pagi. Ia sempat merasa tidak enak hati ketika mendengar hal tersebut. Sungmin memang hidup sebatang kara. Hidupnya pasti sangatlah berat.

Namun jika ia memang hidup seorang diri tentunya tidak akan terlalu besar uang yang ia keluarkan untuk biaya hidupnya.

Kyuhyun membuka sebuah map biru yang berisikan berkas-berkas yang diserahkan oleh bagian personalia kepada dirinya.

"40 Juta." gumam Kyuhyun sambil memandangi biodata Sungmin yang ada di tangannya. "Untuk apa dia meminjam uang sebanyak itu."

Itulah yang menjadi tanya besarnya kini. Jika Sungmin memiliki keluarga yang masih berada dalam tanggungannya maka Kyuhyun tidak akan merasa heran. Sungmin bisa aja menggunakan uang itu untuk keperluan keluarganya, seperti biaya pengobatan, pernikahan atau lain lainnya. Tapi kenyataannya Sungmin tidak punya siapa-siapa. Lantas untuk apa uang itu?

'Atau dia sedang sakit?'

Urghh! Demi Tuhan Kyuhyun berharap bukan itu yang terjadi. Entah kenapa rasanya begitu menyesakkan jika membayangkan Sungmin mengidap penyakit tertentu, Kyuhyun tidak rela. Tapi rasanya itu mustahil, Sungmin sudah melalui tes kesehatan yang cukup ketat sebelum masuk ke perusahaannya dan jika dilihat dari hasil test tersebut ia dinyatakan bebas dari penyakit-penyakit berat. Karena jika ia memang mengidap salah satu penyakit itu maka ia tidak akan diterima di perusahaan ini.

'Lalu untuk apa?' Kyuhyun berpikir lagi. Pasti ada alasan yang cukup kuat sehingga Sungmin mau mau memotong gajinya sampai bertahun-tahun hanya untuk melunasi uang 40 juta yang ia pinjam dari perusahaan. Pasti bukan alasan yang sederhana.

Namun bagaimana jika Sungmin tidak punya alasan yang kuat untuk membuatnya melakukan itu? Bagaimana jika Sungmin memang menggunakan uang itu untuk kebutuhannya? Bisa saja Sungmin adalah seorang pemuda boros yang suka berfoya-foya, yang tidak pernah merasa puas dengan uang gaji yang ia terima setiap bulannya. Ayolah, itu bisa saja terjadi bukan? Coba dilihat, Sungmin tinggal di kota besar, manusia mana yang tidak akan tergoda dengan gaya hidup seperti itu.

'Yeah, pasti itu alasannya.' Kyuhyun menyimpulkan seenaknya.

Jika memang seperti dugaannya maka Kyuhyun punya keuntungan besar karena ia memiliki banyak umpan yang mungkin saja amat sangat dibutuhkan oleh Lee Sungmin sebagai calon mangsanya. Kyuhyun punya uang dan kekuasaan, ia bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan hanya dalam sekejap mata. Sungmin pasti tergiur dengan apa yang ia miliki sekarang. Memikirkan itu saja sudah membuat Kyuhyun bergairah bukan kepalang, jalannya begitu mulus tanpa gangguan. Ia yakin bisa mendapatkan Sungmin dengan sangat mudah.

"Kena kau, Lee Sungmin." jika Sungmin masih membutuhkan uang, maka Kyuhyun akan memberikan semua yang ia butuhkan. Sebagai gantinya, Lee Sungmin harus bersedia melayani dirinya. Itulah rencana gilanya kali ini.

Kyuhyun menyeringai seakan menyambut kemenangannya, dan senyumannya semakin menakutkan ketika sekretarisnya memberitahukan bahwa orang yang ia tunggu-tunggu sudah datang.

"Suruh dia masuk." Perintah Kyuhyun.

'It's show time, Lee Sungmin.'

.

-KyuMin-

.

"Tuan Park bilang anda menyuruh saya datang ke sini untuk menjemput payung saya yang ketinggalan di mobil anda." Tanpa basa basi Sungmin segera saja menyampaikan maksud dan tujuan datang ke sana. Ia masih berdiri dengan kepala terangkat tegas namun tetap sopan di hadapan Kyuhyun.

Dingin sekali suasananya, siapa pun yang satu ruangan dengan kedua orang yang masih berseberangan itu pasti bisa merasakannya.

Diam. Kyuhyun tidak menjawab, melainkan hanya menatap lurus ke arah Sungmin tanpa berberpaling sedikitpun. Sungmin yang merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu tampaknya tidak bisa mengartikan maksud tatapan itu, yang pasti ia tidak suka dengan cara Kyuhyun menatapnya.

"Tuan Cho?"

Kyuhyun mengerjap, memutus tatapan lurusnya ke arah Sungmin.

"Oh, ya. Payungmu." Kata Kyuhyun membuat dirinya terlihat santai, namun tetap—yeah—arogan. "Kau bisa memintanya pada sekretarisku, aku sudah menitipkan payung itu kepadanya."

'What?!' Kening Sungmin mengkerut heran. Lalu untuk apa ia datang ke ruangan ini? Kenapa ia tidak langsung saja disuruh ke meja nona sekretaris tadi?

'Orang ini sudah membuang-buang waktuku.' Geram Sungmin dalam hatinya. Ia pun segera membungkuk sopan, lalu beranjak pamit.

"Kalau begitu terima kasih banyak. Saya akan kembali bekerja." Kata Sungmin.

"Tunggu dulu, Tuan Lee." Panggil Kyuhyun dengan lembut, Sungmin tidak menangkap ada nada arogan lagi dari gaya bicaranya.

Sungmin masih diam di tempatnya, menunggu Kyuhyun untuk mengatakan sesuatu. Kyuhyun pun segera bangkit dari kursi kebesarannya lalu berjalan memutar melewati meja besarnya. Ia berdiri di hadapan Sungmin.

"Aku akan mencabut kata-kataku tadi pagi." Mulai Kyuhyun.

Sungmin mengerutkan keningnya.

"Huh? Maksud anda, tentang apa?"

"Tadi pagi aku menyebutmu sebagai seorang pegawai rendahan biasa dan tidak ada harganya." Jelas Kyuhyun. "Sejujurnya aku tidak pernah menganggapmu sepert itu, aku tidak serius dengan kata-kataku tadi. Sebenarnya kau sangat menarik dan cukup menggairahkan di mataku. Sepertinya aku tertarik denganmu."

Sungmin terhenyak, pengakuan Kyuhyun seperti belati beracun yang mencabik-cabik hati dan juga harga dirinya. Apa yang ada di pikiran orang ini?

Belum tuntas keterkejutan Sungmin, Kyuhyun bicara lagi. "Aku ingin kau menjadi kekasihku. Kau tahu kekasih'kan? Ahh...sebenarnya bukan kekasih, aku tidak mungkin menjadikan seorang pria sebagai kekasihku. Bagaimana caraku menyebutnya, hmm...pria simpanan? Yeah, pria simpanan. Aku ingin kau menjadi pria simpananku. Kau mau 'kan?"

Kyuhyun mengatakan itu dengan sangat santai sekali. Sungmin makin terkejut dibuatnya.

"Kau cukup melayaniku di atas ranjang saja. Yeah, kau tahu bercinta atau berhubungan seks." Jelas Kyuhyun dengan tenang. "Sebagai imbalannya aku akan memberikan semua yang kau butuhkan. Uang, mobil, apartemen, atau bahkan rumah mewah bisa aku berikan untukmu. Aku tahu kau sangat membutuhkan semua itu, aku juga paham bagaimana kesulitan hidup yang sedang kau alami. Tinggal di kota besar tanpa mengikuti perubahan gaya hidup di sini memang sangatlah berat, belum lagi kau hanya seorang karyawan biasa dengan gaji seadanya. Gajimu tidak akan bisa menopang kebutuhan hidupmu yang berselera tinggi itu. Kau bahkan meminjam uang pada perusahaan untuk memenuhi semua kebutuhan itu. Sekarang ada aku di sini, aku bahkan memberikan penawaran menarik untukmu, bahkan jika aku puas dengan semua ini aku akan melunasi semua hutang-hutangmu pada perusahaan ini. Yang perlu kau lakukan hanya puaskan aku, layani aku di atas ranjang setelah itu aku akan memenuhi semua kebutuhanmu."

Sungmin menatap Kyuhyun dengan ngeri, wajah memucat bagai kertas. Tubuhnya menggigil dengan segenap rasa takut serta kebencian yang begitu kuat. Pria ini, pria yang ada di hadapannya ini sudah berani merendahkan harga dirinya. Menawarkan sesuatu seolah dirinya ini adalah seorang pelacur. Demi Tuhan ia benar-benar terhina.

"Kenapa kau diam saja? Apa tawaranku kurang menarik? Atau permintaanku terlalu berat untukmu? Oh, ayolah, jangan bertingkah polos di depanku, aku tahu kau paham betul dengan hal-hal semacam ini. Lagipula kau tidak akan dirugikan sama sekali. Kau seorang laki-laki, berhubungan seks denganku tidak akan membuatmu hamil, bukan? Atau kau masih menjunjung tinggi moralitas—"

PLAAAK!

Keras dan menggema, tamparan Sungmin tepat mengenai pipi dan keangkuhan Kyuhyun.

"Dasar brengsek! Berani-beraninya kau berkata seperti itu padaku!" ujar Sungmin dengan napasnya yang terengah karena dikuasai amarah. "Kau pikir aku ini apa? Huh? Kau sangat menjijikkan. Dasar manusia tidak bermoral! Kau memang bejat!"

"Menjijikkan katamu?" tangan Kyuhyun terkepal marah, tamparan dan cercaan Sungmin benar-benar memukulnya dengan telak. Ia tidak terima dengan semua itu. "Kau sebut aku menjijikkan, kalau begitu..."

Sungmin merasakan ada gelagat tidak baik setelah mendengar ujung kalimat Kyuhyun. Pria itu benar-benar marah, ia dapat memastikan itu. Namun Sungmin juga dalam keadaan yang sama, ia sedang memperjuangkan harga dirinya di sini. Ia takkan akan gentar melawan pria yang ada di hadapannya kali ini.

Kyuhyun menyeringai licik lalu berkata, "Aku menjijikkan, huh?"

Dengan cepat Kyuhyun segera mendorong paksa Sungmin ke dinding sehingga tubuh Sungmin terhempas dengan bunyi 'thud' yang teredam.

"Mau apa kau?" teriak Sungmin berusaha untuk melawan. "Lepaskan aku!"

Kyuhyun sangat diuntungkan dengan postur tubuhnya yang lebih tinggi ketimbang Sungmin yang sedikit lebih mungil, ia dengan ketat mengunci pergerakan Sungmin dengan mengungkung tubuh itu menggunakan kedua tangan kekarnya.

"Aku bilang lepas! Ini pelecehan namanya!" teriak Sungmin terus berusaha.

Kyuhyun tampaknya tidak peduli dengan semua itu, lagipula ruangan ini kedap suara, Sungmin berteriak sampai suaranya habis pun tidak akan ada yang mendengar.

Kyuhyun segera menarik dagu Sungmin, lalu memburu bibirnya. Sungmin masih berusaha untuk menghindar, namun pertahanannya harus kalah oleh kegesitan tangan Kyuhyun. Kyuhyun mendapatkan apa yang ia cari, bibir Sungmin berada dalam jajahannya, ia menciumi bibir itu dengan kasar dan penuh nafsu.

Sungmin masih belum mau menyerah, dengan segenap tenaga yang tersisa ia berusaha menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha menyingkirkan bibir Kyuhyun dengan cara itu, dan tampaknya itu berhasil. Ciuman Kyuhyun bergeser ke rahangnya dan itu memberi kesempatan bagi Sungmin untuk berusaha mendorong pemuda jangkung itu dari tubuhnya. Namun sekali lagi Kyuhyun lebih kuat, dengan cepat ia menangkap kedua tangan Sungmin kemudian mencengkeramnya di sisi kiri dan kanan kepala Sungmin.

Sungmin terus mengelak dan mencegah bibir Kyuhyun mendapatkan bibirnya kembali, ia pun berusaha untuk berteriak lagi. Tapi usahanya malah membuat Kyuhyun berhasil mendapatkkan apa yang ia mau. Kyuhyun segera menyerang bibir itu kembali dan membawa serta lidahnya ke dalam mulut Sungmin yang terbuka hendak meminta tolong tadi.

"Hmppphh..." Sungmin akhirnya terdesak ke dinding, kepala Kyuhyun menekan kepalanya dan membuat perlawanannya terkunci tak bergerak.

Ciuman kasar penuh nafsu itu kini berubah menjadi sensual karena keadaan bibir mereka yang sama-sama terbuka. Kyuhyun menyesapi setiap titik dan sudut bibir Sungmin tanpa henti seolah tidak akan ada habisnya. Bibir Sungmin begitu kenyal dan lembut, membuat sensasi candu yang terus mendorongnya untuk tidak pernah berhenti mengecap, memagut serta menikmati bibir manis itu.

Sungmin terhenyak, Kyuhyun begitu menikmati apa yang ia lakukan. Ciuman ini begitu intim dan sangat intens. Tidak pernah ia mendapatkan atau memberikan ciuman sepanas ini untuk dan dari orang lain. Bahkan dengan Ji Young saja ia tidak pernah berciuman seperti ini. Mungkin ini pengalaman pertamanya dan parahnya ia melakukan itu dengan seorang pria.

Kyuhyun tersenyum dalam pagutannya, Sungmin sepertinya mulai lengah. Ia pun menggunakan kesempatan itu untuk menarik tubuh Sungmin lebih dekat sehingga benar-benar tidak ada jarak lagi di antara mereka. Ciuman itu diperdalamnya, lebih intens daripada sebelumnya. Lidahnya menjilat bibir Sungmin dengan seduktif, membujuk sang pemilik untuk membalas perlakuannya. Sungmin mengerang lemah sambil berusaha untuk menolak, tapi lidah Kyuhyun begitu terampil dan menggoda, ia tidak akan tahan.

'Oh God,' erang Sungmin dalam hati, lidah Kyuhyun masuk dengan begitu leluasa dan kurang ajar, menjelajahi dan menyapukan setiap sudut yang ada di dalam mulutnya.

Kyuhyun memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencoba segala posisi agar semua kenikmatan itu tidak terlewatkan barang sedikitpun. Sungmin membuat gairahnya kian bangkit dan menyerang dengan menggebu-gebu. Ini harus tuntas, Sungmin harus ia 'habisi' sekarang juga. Nafsunya yang mungkin bejat itu sudah tidak bisa menunggu lagi. Sungmin begitu nikmat dan memabukkan.

Tak puas hanya menguasai bibirnya saja, tangan Kyuhyun kini berani menjelajah mulai dari punggung hingga turun ke bokong Sungmin yang padat dan berisi itu. Tangannya yang lain mencari-cari tangan Sungmin yang kini meremas kuat bagian depan bajunya. Kyuhyun menarik tangan itu lalu meremasnya dengan lembut. Dan, surprise! Sungmin membalas remasan tangannya bahkan jari mereka saling bertaut, seolah tak ingin lepas. Kyuhyun semakin menggila.

"Come, on beautiful." Geram Kyuhyun sensual.

Sungmin sudah tidak ingat lagi apa dan bagaimana dirinya, ciuman Kyuhyun sukses melambungkan dirinya. Ia terhanyut dalam sensasi terlarang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia belum pernah berciuman seperti ini dengan siapa pun sebelumnya, bahkan dengan tunangannya sendiri.

'Ji Young? Ya Tuhan!' Sungmin seperti ditarik keluar secara paksa dari lubang hitam yang mengurungnya tadi. Ia pun tersadar dan dengan segenap kekuatan yang tersisa ia segera mendorong tubuh Kyuhyun dan ciuman itu pun terlepas.

"Cukup!" teriak Sungmin marah. Kyuhyun sepertinya masih ingin melanjutkan, bibirnya masih nekat dan menyerang kembali. Namun kali ini Sungmin lebih berani, ia pun menggunakan lututnya lalu menendangkannya ke perut Kyuhyun.

"Aku bilang cukup!" teriak Sungmin terengah-engah.

Kyuhyun terhempas ke belakang dan nyaris saja terjatuh ke lantai, beruntung ada meja yang menahan tubuhnya.

"Kau memang bajingan! Homo! Tidak salah jika aku menyebutmu menjijikkan. Jika kau butuh teman seks, jangan cari aku. Cari saja pelacur-pelacur peliharaanmu itu. Jangan sekali-sekali kau mencoba untuk menyentuhku lagi. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, dasar brengsek!"

Kyuhyun tersenyum sinis lalu melempar tatapan merendahkan ke arah Sungmin. "Kau boleh menghinaku sekarang, tapi setelah ini akan kupastikan kau sendiri yang akan datang dan mengemis-ngemis pertolongan dariku. Kau akan menangisi keangkuhan hari ini di hadapanku, Lee Sungmin. Lihat saja nanti."

"Lebih baik aku mati daripada harus datang memohon kepadamu. Kau tidak lebih rendah dari pada pelacur-pelacur yang pernah kau gunakan selama ini. Dasar bajingan!" Sungmin segara meninggalkan ruangan tersebut lalu membanting pintu dengan keras.

Ia segera melesat menuju lift, tidak menghiraukan tatapan aneh dari setiap orang yang berpapasan dengannnya. Ia tidak peduli, yang penting ia harus segera menyingkir dari tempat ini, dari tempat nista ini.

'Brengsek! Brengsek! Brengsek! Kau memang brengsek, Cho Kyuhyun!'

.

-KyuMin-

.

Ia terduduk diam di kursi mewahnya. Nanar menatap ke pintu, geram karena hasratnya terputus begitu saja.

"Lee Sungmin..." gumamnya seraya mengusap bibirnya yang masih basah karena perbuatannya terhadap Sungmin tadi. Sensasi panas dan aliran gairah itu masih terasa dan menuntut untuk dilanjutkan.

Hampir saja ia ceroboh dan melakukan perbuatan memalukan itu di ruangan ini. Ia lupa dengan keadaan sekitarnya, sehingga nekat berbuat seliar itu. Perbuatannya tadi bisa menjadi skandal besar jika tersebar di luar sana. Posisinya sebagai seorang CEO bisa jadi taruhan setelah itu.

"Oh shit!" geram Kyuhyun sambil menggosok kasar wajahnya. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.

'Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi padaku? Aku sudah kehilangan kendali. Ini sudah gila.'

Tubuhnya masih terasa panas, sensasi itu tak juga hilang. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Belum pernah ada seseorang meninggalkan dampak separah ini terhadap diri dan tubuhnya. Ia ingin menjerit dan menarik Sungmin kembali ke dalam pelukannya, lalu ia akan segera menghabisinya sampai benar-benar tidak ada 'sari' yang tersisa dari diri Sungmin.

"Aku tidak pernah lepas kendali seperti ini, tidak pernah..." gumam Kyuhyun masih tidak percaya dengan perubahan pada dirinya kini.

Ia mengernyit, masih heran dan tak habis pikir dengan semua ini. Ia pun menghempaskan tubuhnya yang masih bergetar dan dikuasai nafsu itu ke sandaran kursi. Ia harus menenangkan diri.

'Apa dugaanku salah selama ini? Jangan-jangan dia memang bukan orang seperti itu. Jika ia membutuhkan banyak uang harusnya ia akan segera tergiur dengan tawaranku tadi. Tapi kenapa dia malah tersinggung dan marah padaku? Apa aku sudah keterlaluan?'

Tidak! Kyuhyun tidak pernah salah. Sungmin tidak ada bedanya dengan para penjilat ulung yang ada di sekitarnya selama ini. Mungkin Sungmin sengaja menolaknya terlebih dahulu agar Kyuhyun semakin frustasi dan segera menaikkan nilai tawarannya. Yeah, pemuda sok suci itu sengaja jual mahal.

'Begitu rupanya.'

"Menjijikkan!" ekspresi Kyuhyun mengeras ketika teringat dengan kata-kata itu. Sungmin sungguh sangat berani.

"Awas saja kau, Lee Sungmin. Kau akan datang lagi padaku, merangkak, memohon-mohon di kakiku. Kau akan menyembahku agar aku mau menerimamu, dan pada saat itu aku akan menghancurkanmu. Kau akan benar-benar hancur sampai kau tidak akan berani untuk hidup lagi di dunia ini. Tunggu saja."

.

-KyuMin-

.

Sepertinya hari ini adalah hari tersial dalam hidupnya. Dihina, dilecehkan hingga nyaris diperkosa oleh bos besar di tempat ia bekerja. Sungmin benar-benar merasa harga dirinya sudah tidak ada lagi. Perasaan sedih, kecewa, dongkol, marah dan dendam kini berkecamuk hebat di dalam dirinya. Begitu berat nasib menimpakan semua kesialan ini untuknya.

Dengan perasaan yang nyaris hancur itu ia menguatkan hatinya untuk datang ke rumah sakit, mencari setitik saja pengobat semua perasaan buruk yang tengah ia rasakan kini. Ia tersenyum sebisanya saat tangannya menyentuh kenop pintu sebuah ruang rawat yang sudah familiar untuknya. Ruang rawat Ji Young.

"Sungmin-sshi!" suara panik suter Lee menyambut kedatangannya.

"Suster Lee?" sahutnya pelan.

"Kemana saja kau? Aku sudah berusaha menghubungimu sejak tadi, tetapi tetap tidak bisa."

Sungmin terhenyak, rasa takut menyerang hebat seketika, pasti ada yang tidak beres. Ia segera berlari menghampiri bilik Ji Young yang ternyata sedang dikeliling oleh beberapa orang suster dan dua orang dokter yang tampak sedang sibuk menstabilkan kondisinya. Tubuh Sungmin pun kian lemas, ia terperosot ke lantai.

"Sungmin-sshi," Suster Lee segera membantu Sungmin untuk berdiri kembali, lalu ia mengajak Sungmin untuk ke luar dari ruangan tersebut kemudian berusaha untuk menenangkannya.

"Apa yang terjadi?" gumam Sungmin berusaha untuk kuat.

"Sepertinya serangan itu datang lagi. Dokter bilang tadi dia sempat sangat kritis, makanya aku putuskan untuk segera menghubungimu, tetapi nomormu tidak bisa dihubungi. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa, keadaan Ji Young sepertinya mulai membaik lagi, dia mendapatkan penanganan yang cepat dari dokter kami. Kau tidak usah khawatir lagi."

Tubuh Sungmin terguncang lemah, ia menangis. Ia lupa menyalakan ponselnya sejak berangkat ke kantor tadi pagi, wajar saja suster itu tidak bisa menghubunginya. Ia memang lega karena dokter bisa menyelamatkan Ji Young yang sempat kritis tadi, namun pikiran buruknya malah membuatnya kian merasa bersalah. Ini kebodohannya, kelalaian yang sangat fatal. Di saat ia terlena dengan kondisi sang tunangan yang mulai stabil akhir-akhir ini, Tuhan berusaha menyadarkannya dengan serangan hebat tadi. Ji Young mungkin nyaris saja mati, sedangkan dirinya tidak bisa dihubungi, jika seandainya Tuhan berkata lain, maka Ji Young bisa saja...

"Ya Tuhan..." Sungmin menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia berusaha menutupi tangisnya.

Suster Lee hanya bisa tersenyum sedih lalu menepuk paha Sungmin untuk memberikan simpati.

"Sudahlah, kau tidak usah cemas lagi. Yang penting keadaannya sudah membaik lagi." Kata suster Lee berusaha untuk menenangkannya.

Pintu kamar rawat Ji Young pun terbuka , salah seorang dokter yang tadinya berada di dalam keluar dari sana. Sungmin beserta suster Lee segera menghampiri dokter tersebut.

"Keadaan Ji Young sudah mulai stabil." Jelas dokter itu, ia tampaknya sudah mengerti kecemasan yang melanda Sungmin. "Ji Young gadis yang kuat, dia bisa bertahan sejauh ini, benar-benar sebuah keajaiban. Seperti yang kau ketahui, kerusakan pada organ-organ dalamnya akibat kecelakaan itu amatlah parah. Dia sangat bergantung pada obat-obatan yang kami berikan selama ini. Tapi, sekarang obat-obatan itu malah membahayakan keselamatannya. Ji Young mengalami kerusakan pada ginjalnya, Sungmin-sshi. Kita harus melakukan tindakan secepatnya."

"Maksud dokter?"

"Kita harus melakukan tindakan operasi terhadap ginjalnya yang rusak itu." jawab dokter itu dengan berat hati.

"Apakah harus dengan operasi? Apakah tidak ada cara lain?"

Dokter itu menggeleng lemah, lalu menatap Sungmin dengan prihatin.

"Sebenarnya tindakan apapun yang kami lakukan terhadap tubuh Ji Young sekarang sangatlah beresiko, namun keadaan akan semakin beresiko jika operasi tidak dilakukan. Maafkan kami, tapi hanya itulah satu-satunya jalan untuk mempertahankan keadaannya. Operasi itu harus dilakukan secepatnya."

Sungmin tertunduk lemah. Ia memang tidak tahu apa-apa, dokter itu tentu lebih mengerti dan paham mengenai apa yang terbaik untuk Ji Young saat ini. Sungmin masih belum rela kehilangan gadis itu, jika dokter itu menyarankan adanya operasi maka Sungmin harus siap dan membiarkan dokter-dokter itu melakukan apa yang mereka bisa.

"Baiklah, jika memang itu satu-satu cara untuk menyelamatkannya, lakukan saja, dokter." Kata Sungmin berusaha memantap keputusannya. "Selamatkan tunanganku. Aku...aku akan menanggung semua biayanya. Berapa uang yang harus aku siapkan untuk operasi kali ini?"

Dokter itu menarik napas sejenak lalu menjawab, "Silahkan kau hubungi bagian admistrasi rumah sakit, dari situ kau akan mendapatkan rincian biayanya."

.

-KyuMin-

.

Hujan. Lagi-lagi ia terjebak dalam hujan. Basah, tanpa perlindungan. Dingin menusuk hingga ke tulang. Matanya yang sembab memandang liar ke segera penjuru yang ada di sekelilingnya.

'Dimana kau?'

Sungmin berlari kecil menuju parkiran direksi perusahaannya, mencari sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam milik seseorang yang cukup ia kenal. Mobil itu masih ada di sana, sepertinya sang pemilik mobil belum meninggalkan kantor ini. Sungmin segera keluar dari areal parkir khusus itu, ia segera melesat menuju kantornya kembali, berharap orang yang ia cari ada di dalam sana.

'Dimana kau, brengsek?' batin Sungmin berteriak.

Orang itu pasti belum pulang, ini hari Jum'at dan dari gossip yang dengar lelaki itu selalu pulang lewat dari jam pulang pada umumnya. Terlebih lagi besok sudah akhir pekan, ia pasti akan berlama-lama di kantornya untuk menyelesaikan beberapa urusan perusahaan yang sangat penting.

Sungmin sudah berdiri di depan pos penjagaan, kondisinya yang sudah basah kuyup dan kedinginan membuatnya urung masuk ke dalam kantor itu lagi. Ia memutuskan untuk menunggu di luar dan berteduh di dekat pos penjaga itu.

Ia menunggu di sana, dengan sabar, dengan segenap harga diri yang masih tersisa—atau mungkin tidak ada lagi. Dan penantian itu sepertinya membuahkan hasil.

Pintu lobby terbuka, Cho Kyuhyun—orang yang ia tunggu-tunggu—muncul dari balik pintu itu.

Salah seorang penjaga yang berdiri di pos tempat Sungmin berteduh itu segera menghampiri Kyuhyun sambil membawa sebuah payung, penjaga itu segera memayungi Kyuhyun lalu mengantarnya ke parkiran direksi.

Sungmin yang melihat hal itu segera berlari ke arah mereka, ia segera mencegat keduanya.

"Tuan Cho." Panggil Sungmin sambil berusaha menahan dingin.

Kyuhyun sedikit terkejut dengan kemunculan Sungmin yang tiba-tiba, pemuda itu basah kuyup dan tampaknya sangat kedinginan. Kyuhyun bisa melihat itu bibirnya yang bergetar dan memucat.

"Kau mengejutkanku, Tuan Lee. Ada perlu apa kau mencariku?" tanya Kyuhyun dingin, namun dalam hatinya ia mulai gusar melihat kondisi Sungmin yang seperti itu.

"Sa-saya ingin bertemu dengan anda...ada yang ingin saya bicarakan..." jawab Sungmin gemetar. Dingin sekali.

Kyuhyun semakin tidak tahan, suara Sungmin begitu lemah tapi ia tampak masih memaksakan diri. Dilihatnya Sungmin sedang memeluk tubuhnya sendiri, ia pasti betul-betul kedinginan. Sudah berapa lama pemuda ini menunggunya di sini?

"Kau boleh pergi." Kyuhyun mengambil alih payung yang dipegang oleh penjaga tadi, orang itu pun pergi dan meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin berdua saja sana.

Setelah penjaga itu sudah jauh, Kyuhyun segera menarik tangan Sungmin lalu membawanya menuju parkiran yang terlindung dari hujan.

"Apa kau sudah gila? Tidak bisakah kau mencari tempat untuk berteduh? Kenapa kau malah membiarkan tubuhmu basah kuyup seperti ini? Huh? Mana payungmu?"

Sungmin tidak menjawab, ia hanya tertunduk pasrah saat Kyuhyun memarahi kebodohannya. Ia sudah tidak peduli dengan semua itu.

Kyuhyun masih menatap pemuda yang ada di hadapannya itu dengan tajam. Ia tidak habis pikir kenapa Sungmin bisa bertindak sebodoh ini, ia bisa saja membahayakan dirinya sendiri dengan berdiri di bawah derasnya hujan seperti tadi.

"Apa yang mau kau bicarakan denganku? Sebaiknya apa yang ingin kau bicarakan itu memang penting. Cepat katakan, aku sedang diburu waktu."

Sungmin mengangkat kepalanya lalu menatap kosong ke arah Kyuhyun.

Sungmin menelan ludahnya. "Saya mau." Katanya pelan. "Saya mau menjadi pria simpanan anda. Anda boleh memiliki tubuh saya, anda boleh memilkinya."

Kyuhyun terkejut, tidak menyangka kata-kata itu lolos dari mulut seorang idealis macam Sungmin. Perasaannya bingung tak karuan, secepat itu Sungmin berubah pikiran. Apa yang sedang terjadi?

"Kau pikir aku masih menginginkanmu?" gumamnya sinis. Rasanya ia tak bisa menerima jika kenyataan yang ada di hadapannya sama seperti perkiraannya selama ini. Sungmin rela menjual tubuhnya demi uang. Kemana hilangnya sosok yang menjunjung tinggi moralitas itu?

Sungmin tahu jalannya tidak akan mudah, namun ia sudah melangkah, ia tidak bisa mundur lagi.

"Anda boleh memiliki saya seutuhnya. Anda hanya cukup memberikan sejumlah uang yang saya butuhkan, setelah itu saya tidak akan menuntut apa-apa lagi dari anda. Saya akan mengikuti semua keinginan anda."

"Sepertinya kau benar-benar sedang membutuhkan uang. Apa yang terjadi padamu? Apa kau kalah berjudi? Atau kau sedang terlilit hutang dengan bank?"

Sungmin membiarkan semua pertanyaan itu menusuk dan mencabik-cabik harga dirinya. Ia berdoa semoga Tuhan menguatkan hatinya ketika mendengar semua itu.

"Baik, kalau memang itu maumu. Berapa uang yang kau butuhkan?"

Sungmin menatap Kyuhyun dengan takut lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya. Ia tak berani menyebutkan nominal uang itu, apakah jumlah uang itu setara dengan harga tubuhnya di hadapan Kyuhyun?

"Cepat katakan! Bukankah kau sedang menjual tubuhmu kepadaku, sekarang katakan berapa hargamu, Lee Sungmin." bentak Kyuhyun tidak sabar.

Sungmin menelan ludah.

"Ti-tiga ratus juta. Dan, saya ingin pembayaran di muka."

"Apa?" Kyuhyun membelalakkan matanya tidak percaya.

"Yeah, tiga ratus juta." Kata Sungmin lagi.

Kyuhyun tertawa sinis lalu menunjukkan tatapan arogannya kembali.

"Kau pikir aku bodoh? Tiga ratus juta untuk orang sepertimu? Uangku jauh lebih berharga dari pada tubuhmu, Tuan Lee."

"Aku hanya minta itu. Setelah itu kau bisa melakukan apa saja dengan tubuhku, aku tidak akan menuntut apa-apa lagi setelahnya."

"Bagaimana kau bisa meyakinkanku bahwa aku bisa memilikimu seutuhnya? Bagaimana jika kau menipuku, meninggalkanku setelah mendapatkan uang dariku. Terlebih lagi kau meminta pembayaran di muka, itu sangatlah beresiko untukku. Aku paling tidak suka dirugikan oleh seekor tikus kecil sepertimu, Tuan Lee."

"Kau bisa membuat surat perjanjian yang sah di mata hukum untuk mengatur transaksi ini." Sungmin mengernyih begitu pedih, ia menjual dirinya sendiri. Harga diri itu benar-benar habis tak bersisa.

Kyuhyun diam sejenak, mencerna baik-baik usulan Sungmin tadi. Sungmin memang sangat serius dengan tawarannya kali ini. Namun, tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Kyuhyun tersenyum licik.

"Sayang sekali Tuan Lee, sepertinya aku benar-benar sudah tidak tertarik padamu. Lagipula harga yang kau tawarkan terlalu mahal untuk orang sekelasmu. Aku bisa menemukan yang lebih baik dengan uang sebanyak itu. Selain itu aku masih tersinggung dengan kata-katamu tadi sore, tidak semudah itu berurusan denganku setelah kau mengucapkan kalimat rendahan itu kepadaku. Cari saja orang lain."

Kyuhyun pun segera berbalik lalu pergi meninggalkan Sungmin.

Sungmin terhenyak, ia teringat dengan Ji Young yang kini tengah berjuang melawan sakitnya. Gadis itu harus bertahan, Sungmin tidak mau kehilangannya.

'Tidak! Kau tidak boleh menolakku, brengsek! Kau harus menerimaku! Aku membutuhkan uangmu!'

Dengan mengenyampingkan semua rasa malunya, Sungmin segera berlari menyusul Kyuhyun yang kini tengah berjalan menuju mobilnya. Ia tidak peduli dengan semua akal sehat yang menahannya selama ini, di otaknya hanya Ji Young dan bagaimana cara menyelamatkan gadis itu.

Sungmin menarik tangan Kyuhyun dan dengan paksa membuat pemuda jangkung itu berbalik. Ia pun menjinjit lalu dengan berani ia mencium bibir Kyuhyun.

Kyuhyun berjengit, tak kuasa menahan keterkejutannya, Sungmin mencengkeram tangannya dengan begitu kuat. Sungmin sedang menciumi bibirnya dengan paksa dan membabi buta. Meski ciuman itu terkesan dipaksakan tapi sukses membuat gairah Kyuhyun mulai naik.

Kyuhyun segera memeluk pinggang Sungmin lalu menarik tubuhnya, kali ini gilirannya yang menguasai permainan. Ia balas menciumi bibir Sungmin dengan lebih ganas dan buas.

Ciuman Kyuhyun memang betul-betul panas dan menggairahkan, tubuh Sungmin lemas saat bibir Kyuhyun kini dengan leluasa mengerjai bibirnya yang masih bergetar karena dingin itu. Ia tidak mampu mengimbangi Kyuhyun, ia hanya terdiam pasrah dan membiarkan Kyuhyun menghajar bibirnya.

Ciuman itu terus berlanjut, Kyuhyun tak henti-hentinya memaksakan agar mulut mereka terus beradu meski Sungmin sudah menyerah dan terengah. Pemuda itu nyaris tak sanggup untuk berdiri dengan benar, beruntung tangan Kyuhyun memegangi tubuhnya agar tidak jatuh.

"Hmpphh...cukup..." desah Sungmin menarik wajahnya. Ia terengah, wajahnya memerah dan tertunduk tak berani menatap mata Kyuhyun secara langsung.

Kyuhyun menatap pemuda yang ada di hadapannya dengan intens. Ia masih belum puas, Sungmin sudah membuatnya semakin ketagihan. Ia harus mencium bibir itu sekali lagi, atau bila perlu ia juga menciumi tubuhnya sekaligus.

Lalu ia melepas pegangan tangannya pada pinggang Sungmin, ia ganti meraih tangan pemuda itu.

"Baik, jika itu yang kau mau. Aku akan menyiapkan uang beserta surat perjanjian itu besok. Kau hanya tinggal menandatanganinya."

Ia pun tersenyum misterius lalu berkata, "Sekarang, kau harus ikut denganku, aku ingin mencoba barang yang sudah ku beli."

.

.

Tbc

HUWWWWOOOOHH! \O/

Part dua yooooowww! Apakah kalian suka?

Kyu-nya jahat bgt yaaaa? Tapi saya suka sama karakter dia di sini! Aaahhh!

Next part kira2 ada apa ya? XDDDD *kabuurr*

Sampai jumpa di part selanjutnya!

NO COPAST KAY!

.

-Mami Ju2E-