-Chapter one-

Chanyeol hanya fokus dengan jalan di depannya, mengemudi dengan sedikit kesal sembari mengeratkan pegangannya pada setir mobilnya. Ia tidak habis pikir mengapa di umur dewasanya ia malah di sibuk kan oleh masalah keluarga? Seharusnya mereka mengerti anaknya yang sudah dewasa ingin kebebasan untuk dirinya sendiri. Seharusnya sekarang dia di sibuk kan dengan keluarga kecilnya, bukan seperti ini.

Keputusan ayahnya memilih wanita itu adalah pilihan yang salah. Seseorang yang mempunyai sifat keras, semaunya, tidak ingin bergaul dengan orang orang dari semua kalangan, merasa dirinya paling kaya dengan harta banyak? What the hell? Semua hartanya berasal dari ku dan ayah. Dan dia tinggal meminta lalu memamerkannya kepada teman temannya. Well, ya. Ayah masih menyuruhku untuk mentransfer beberapa jumlah uang ke rekeningnya dengan alih karena aku sebagai seorang anak yang sudah sukses. Shit, seorang anak? Aku tidak butuh anggapan itu. Selalu saat aku mengingat betapa buruknya aku sekarang, sejatinya lelaki pasti ada renungan tersendiri.

Mengingat bahwa orang yang aku sayangi telah pergi. Mereka orang orang yang mempunyai hubungan baik dalam keluarga. Sekarang aku sendiri, walaupun aku masih mempunyai seorang ayah, tapi jika dia tetap mempunyai sikap seperti itu aku agak berat hati menganggap nya. Aku bukan anak yang durhaka tidak menganggap ayah sendiri, aku masih menganggapnya tetapi tidak sebesar dulu perasaanku terhadapnya.

Chanyeol sedikit mengerutkan keningnya, tetap fokus dengan jalanan walaupun di kepalanya terdapat banyak pikiran. Sesekali ia menyisir toko toko di pinggir jalanan dengan matanya. Mencari toko yang menjual minuman anggur dan toko kue. Berhubung di rumah dia tidak menyetok makanan, chanyeol memutuskan untuk membeli kue dan wine yang tidak beralkohol untuk disuguhkan ke ibu angkatnya. Setelah 15 menit mencari. Akhirnya ia mendapatkannya. Toko yang terbilang mahal dengan kue dan minuman anggurnya, dia tahu ibunya sangat gengsi jika diberikan sesuatu dengan harga murah.

Chanyeol pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan luas itu dan segera memasuki toko. Ia mengedarkan pandangannya pada seisi toko tersebut, mencari cari yang ingin ia beli. Dan benar, toko mewah itu menjual dengan harga yang tinggi, satu botol wine pun bisa mencapai satu juta. Bagi chanyeol dengan harga segitu pun biasa ia beli, tetapi chanyeol bukan orang yang suka dengan foya foya, menghamburkan uang dengan membeli hal yang tidak ada gunanya. Walaupun chanyeol termasuk orang yang mempunyai banyak harta, tetapi ia tidak segan menyimpan dan menyisihkan uangnya untuk keperluan berkontribusi kepada sosial yang membutuhkan. Setelah membeli dua botol wine dan satu kue, dia langsung keluar dari toko, memasuki mobilnya dan langsung menjalankan nya menuju apartemen nya.

Setelah sampai, ia memarkirkan mobilnya, merapikan baju dan jasnya, menenteng yang ia beli tadi dan segera ke atas menuju ruangannya. Chanyeol memencet tombol kode rumahnya, memasukinya dengan santai. Chanyeol melihat ibunya sedang duduk disofa sambil menonton tv favoritnya, acara memasak. Chanyeol tahu karena ibu angkatnya dulu pernah sedikit bercerita tentang kepribadiannya. Ia memberikan bungkusan wine dan kue itu kepada maid nya agar disuguhkan kepada ibunya.

"hai bu" chanyeol mendekat kearah ibunya dan menyapa bahwa ia sudah sampai.

"ah, kau sudah datang sayang? Mengapa lama sekali?" sang ibu memperhatikan chanyeol dari atas sampai bawah, seperti di introgasi. Chanyeol tidak nyaman dengan itu.

"perjalanan menuju ke sini membutuhkan waktu bu" chanyeol tidak habis pikir ibunya terlalu menyuruhnya harus cepat. Sebenarnya ada apa sih? Biasanya dia hanya meminta ditemani dengan alasan dia sudah berumur dan ingin ditemani anaknya. Oh ayolah, itu alasan konyol, lagi pula dia masih mempunyai anak dari suami pertamanya, mengapa harus chanyeol? ketika chanyeol tidak ada pekerjaan sepertinya tak apa meminta seperti itu, tetapi di saat chanyeol sedang ada urusan dan disuruh untuk menemaninya.. bagaimana chanyeol tidak kesal.

Chanyeol menghela nafas "sebenarnya ada apa ibu memanggil aku kemari?"

" kau seperti terburu buru chanyeol. Santailah disini"

"bu.. aku masih ada pekerjaan lain. Tolong mengertilah"

"memangnya pekerjaan kamu seberapa banyak? Sampai melupakan orang tua?"

"bukan begitu bu.. aku-"

"ibu ingin kamu menikah"

Bagai api yang dengan cepat melahap sehelai rambut. Secepat itu juga perasaan chanyeol berubah menjadi tegang. Yang tadinya hanya kesal dan terkesan terburu buru. Sekarang dia menjadi diam seribu bahasa, perasaannya menjadi campur aduk, mencerna omongan yang tadi ibunya ucapkan. Menikah? Kata apalagi itu? Belum ada kata kata seperti itu di dalam kamus keinginan chanyeol dalam waktu dekat ini.

"astaga bu. Kumohon. Jauhkan kata kata itu dariku" chanyeol menunduk kan kepalanya sembari menutup wajahnya dengan tangannya

"kau ini seperti anak kecil chanyeol. Apa ibu salah memintamu menikah di umurmu yang sudah berkepala tiga? Itu bukan umur yang muda lagi chanyeol"

"aku bukannya tidak ingin bu. Tapi biar aku saja sendiri yang mencari calonku, dan ibu tinggal duduk manis"

" tidak! Ibu akan mencarikannya. Kebetulan ibu mempunyai teman seorang anak pengusaha kaya. Dia orangnya sangat cantik. Dia mempunyai darah campuran, ayahnya dari prancis dan mempunyai usaha roti terbesar kedua di prancis sedangkan ibunya designer baju gaun. Kau ingin tahu namanya?"

"oh ayolah bu, aku tidak tertarik sama sekali"

"namanya bae joo hyun"

-Twenty Four Hours Seven Days-

Dua orang lelaki duduk berhadapan sambil memakan makan siang nya. Mereka sedang berada di sebuah restoran di dekat seoul convention hall. Ya, tempat acara tadi berlangsung. Salah satu dari lelaki tersebut hanya memutar garpunya di atas piring beling putih yang berisikan pasta dengan saus cream dan sedikit potongan daging asap, ditemani dengan wine favoritnya. Pandangannya pun hanya menatap makanan tersebut.

"bro, kau kenapa? merasa sedang buruk?" ucap lelaki itu kepada chanyeol yang heran melihat chanyeol hanya diam saja

Lelaki itu bernama jongin, teman seperjuangan nya saat di kampus. Dulu mereka satu kampus saat di jerman, tetapi mereka berada di lain jurusan. Mereka saling mengenal karena ketidak sengaja saat mereka saling bersenggolan di kedai kopi, dan ternyata chanyeol refleks menyebut 'sorry' menjadi dalam bahasa korea 'jeosonghamnida'. Saat itulah mereka saling mengenal satu sama lain, merasa senang berkenalan dengan orang dari negara yang sama di negara orang lain. Mereka menjadi semakin dekat Karena saling membantu jika ada kesulitan dengan tugas atau hal apapun itu. Mereka berada di umur yang sama. Maka dari itu mereka semakin akrab dalam berinteraksi dan tidak ada perbedaan umur. Mungkin semua cerita chanyeol jongin mengetahuinya, begitu pula chanyeol.

"ya?" chanyeol tersadar dari lamunan nya dan menggeser pandangannya dari piringnya ke arah jongin.

"haih, kau ini. Kenapa kau? Cerita saja" jongin adalah tempat untuk bercerita. Tidak hanya wanita saja yang butuh tempat untuk bercerita keluh kesahnya, laki laki pun juga punya teman untuk bercerita seperti jongin ke chanyeol

"kau tau? Ibuku menyuruhku menikah" berbicara itu membuat wajah chanyeol menjadi terlihat kesal

"loh? Bukannya itu hal yang bagus?"

"bagus sih, siapa lelaki yang tidak mau menikah?. Tetapi.. dia mencarikanku calonnya! Aku tidak ingin!" tatapan chanyeol semakin terlihat jika rautnya semakin kesal

"ditengah kesibukan mu seperti ini. Masih sempat mencari calonmu dalam waktu dekat? Tidak kan? Aku rasa ibumu baik mencarikan calon wanitanya" chanyeol semakin kesal lantaran jongin malah berada di pihak ibunya ketimbang dirinya

"kau marah padaku?" dengan wajah santainya, jongin menanyakan hal itu

"lebih baik kau pergi saja jika kau berada dalam pihak ibuku"

"eyy.. tenang bro. Maafkan aku. Maksudku ya.. apa salahnya menerima tawaran orang tua? Apa calon wanita mu harus yang sepemikiran dengan mu?"

"tidak juga sih"

"lalu? Yang cantik? Sudah pasti ibumu mencarikan yang cantik untuk mu"

"kalau cantik itu relative"

"jadi? Yang hobinya sama denganmu? Atau anak orang kaya?"

"bukan jongin"

"lalu?"

"aku menunggu seseorang"

Jongin pun terdiam. Tidak biasanya chanyeol tentang masalah wanita menjadi seserius ini. Hal yang berbeda dalam diri chanyeol pun keluar. Dulu pribadi chanyeol yang jongin ketahui adalah orang yang sangat fokus dengan apa yang dikerjakan. Masalah pun bisa ia selesaikan sendiri jika tidak terlalu berat. Semua cerita pribadi chanyeol ia ceritakan kepada jongin. Orangnya sangat mandiri dan dia selalu belajar dari kemandiriannya menjadi pribadi yang kuat. Jongin tidak pernah melihat chanyeol sibuk mengurusi masalah percintaan atau wanita. Bahkan dengan bodohnya jongin pernah berfikir jika chanyeol tidak suka dengan wanita. Hal bodoh yang pernah ia pikirkan. Tapi sekarang? Bahkan dia berkata jika ada orang yang ia tunggu dalam hidupnya? Chanyeol tidak pernah bercerita tentang ini kepadanya. Hmm.. sepertinya jongin tertinggal satu kisah dalam hidup chanyeol.

"seseorang? Siapa?" jongin pun terheran heran dengan seorang chanyeol. Ternyata dia menyembunyikan sesuatu darinya. Terlebih ini masalah wanita. Dulu dia seorang yang lugu tentang percintaan. Ternyata dia memiliki seseorang yang ia tunggu.

"kau ingin tahu?" chanyeol menaruh garpu itu di atas piring dan menatap jongin

"jika kau tidak keberatan. Ceritalah padaku"

"baiklah" chanyeol pun mulai bercerita dengan jongin, dan jongin hanya mengerutkan keningnya karena terlalu fokus mendengar cerita dari chanyeol. Ternyata selama jongin mendengar, ia kaget dengan kenyataan yang terjadi. Chanyeol pandai menyimpan perasaannya walaupun itu sudah sangat lama

"benarkah itu?"

"apa aku berkata bohong?"

"tidak! Tetapi aku hanya tidak menyangka kau ternyata pandai menyimpan hati, padahal kau tidak tahu sekarang dia sudah bahagia bersama seorang pria lain atau tidak"

"kau meragukan perasaan cinta seorang park chanyeol?"

-Twenty Four Hours Seven Days-

Chanyeol sekarang sedang di perjalanan menuju seoul convention hall. Setelah makan bersama jongin, dia langsung izin untuk pergi terlebih dahulu. Ingin memastikan sesuatu yang sedari tadi ia pikirkan. Ini memang hal konyol yang dia perbuat, tapi mau bagaimana lagi kalau soal hati yang berbicara?

Chanyeol tahu jika acara itu sudah selesai. Tetapi dia tetap kesana sebelum semuanya dibereskan sehabis acara. Chanyeol pun sementara memarkirkan mobilnya di area parkir luar gedung, tidak di basement. Karena dia hanya ingin memastikan sesuatu. Ia pun bergegas ke arah aula dimana acara tadi diselenggarakan. Chanyeol melihat orang orang yang hadir di acara tadi sudah membubarkan diri, berarti acara pun baru saja selesai.

Seperti biasa, dia membungkuk dan tersenyum ketika ber pas pasan dengan orang orang yang menghadiri acara itu. Sungguh chanyeol berhati ramah. Dia memasuki aula itu melewati pintu besar yang dimana dia jalan berlawanan dengan orang orang yang akan keluar dari aula tersebut. Setelah chanyeol masuk, ia pun langsung menemui seseorang di belakang panggung. Dia melihat sekelilingnya sudah menyimpun kursi kursi, kabel, sound system dan lainnya.

"permisi" chanyeol dengan sopan menyapa orang orang yang didalam ruangan tersebut, ternyata mereka sedang briefing setelah acara selesai. Salah seorang wanita yang diketahui sebagai panitia acara pun menghampiri chanyeol

"oh tuan park? Ada yang bisa saya bantu?" wanita itu pun tersenyum dan menyapa sopan kepada chanyeol. Mengetahui chanyeol adalah seorang atasan sebuah perusahaan.

"bisakah saya menemui director acaranya?"

"bisa tuan park, ditunggu sebentar" wanita itu pun balik ke dalam ruangan dan memanggil seseorang

"tuan park? Anda mencari saya?" seseorang yang chanyeol cari pun sudah berada di hadapannya. Kang dae-gi, dialah ketua dari penyelenggara acara ini

"ahh anda director acaranya?"

"iya, saya. Ada yang bisa saya bantu tuan park?"

"hmm.. begini. Bolehkah saya melihat list pembicara dalam acara ini?"

"oh sangat boleh. Kebetulan saya membawa berkasnya disini" director gi pun mengambil beberapa kertas yang menyatu menggunakan steples. Daftar daftar pembicara yang tadi di atas panggung. Chanyeol pun menerima beberapa kertas kertas itu dan segera melihat dengan teliti daftar nama nama orang secara berurutan. Ia menunjuk menggunakan jarinya dan menggeser jarinya nama demi nama. Tepatlah di abjad bagian huruf 'B'. Dia tetap mencari dengan teliti.

"kau tidak mengundang seseorang bernama byun baekhyun?" chanyeol memastikan sesuatu

"byun baekhyun? Hmm.. sepertinya saya tidak pernah mengundang seseorang bernama byun baekhyun" director gi kembali mengecek daftar tersebut

"mungkin yang tuan park maksud adalah bae joohyun? Namanya terdengar sama dengan byun baekhyun menurut saya"

"bae joohyun? dia seseorang yang bekerja di dalam perusahaan?" chanyeol pun mulai menanyakan hal hal lain dan ingin mengetahui sesuatu. Mungkin sedikit berbelok dengan apa yang ingin dicari saat ini.

"ya, dia disini sebagai perwakilan dari S.S.A corporation" chanyeol pun mengingat sekilas pembicaraan wanita itu saat memperkenalkan diri.

'S.S.A corporation? Hmm.. ternyata benar, salah orang. Mungkin tadi aku terlalu terburu buru dan sedikit mempunyai masalah. Jadi tidak terlalu memperhatikan dengan jelas' gumam chanyeol dalam pikirannya

"ah baiklah terima kasih banyak atas infonya director gi, selamat bekerja kembali" chanyeol pun sedikit membungkuk dan tersenyum.

-To Be Continue-