A Hug

Story by Kim Jonghee

Jung Daehyun

Byun Baekhyun

Summary:

Ia tahu semua ini salah. Namun untuk sekali seumur hidup … bolehkah?

Disclaimer:
Para cast milik Tuhan dirinya sendiri juga orang-orang yang mencintai mereka. Plot gsring milik yang buat cerita.

A Hug

Hangat menjalar di pagi lembab tertutup embun. Pagi ini tak cukup cerah juga tak cukup hangat sebenarnya. Hanya saja, ada perasaan lain yang menyebabkan hal itu. Byun Baekhyun, menunduk menatapi jari jemarinya yang saling bertaut satu sama lain. Entah hal apa yang membuatnya resah sekaligus senang dalam waktu yang bersamaan.

Ish! Kenapa harus sakit di saat seperti ini sih?

"Pagi Beakkie hyung!"

Datang dengan nampan di tangan kanan—yang berisikan semangkuk bubur ala kadarnya ditambah segelas susu hangat, juga senyum riang secerah mentari Jung Daehyun mendudukan tubuhnya di pelipir ranjang Bekhyun. Tak ada hal yang bisa dilakukannya selain terus tersenyum senang di depan sang hyung tersayang.

"Bagaimana, sudah merasa lebih baik?" tanyanya dengan nada yang tak sepertinya tak ingin surut. Diletakannya bubur juga susu di atas nakas samping tempat tidur pemuda yang terus menunduk itu.

"Em, yah sudah lebih baik," jawab Baekhyun lirih. Pemuda manis itu menengadah melemparkan sekilas senyum hangat yang dapat ia perlihatkan. Kala tatapannya bertemu pandang dengan pemilik senyum secerah mentari yang duduk di pinggir ranjangnya, Beakhyun cepat-cepat menunduk kembali.

"Eung~ panasnya belum sepenuhnya turun yah, hyung."

Tangan berukuran besar nan lembut itu terjulur menggapai kening yang tersembunyi di balik poni yang menghalanginya. Perasaan itu kembali memjalar memenuhi rongga dadanya. Beakhyun tak berkutik. Ia meremas kuat selimut yang menutupi setengah dari tubuhnya.

Ini salah. Ia … tidak bisa seperti ini.

"Sudah Dae, aku tidak apa-apa." Sedikit kasar, Baekhyun menepis sentuhan yang jelas-jelas ia … inginkan?

Raut kecewa terukir jelas di wajah Daehyun—sang roommate. Namun cepat-cepat ia tepis dengan memasang wajah ceria seperti sedia kala.

"Jangan terlalu memaksakan diri hyung. Nilaimu tidak akan turun drastis hanya karna kau tidak masuk kelas hari ini," hibur Deahyun seraya mengusak rambut hitam legam milik Baekhyun.

Ah, bisakah kau tidak bersikap seperti ini Dae?

"Aku memang tidak akan masuk hari ini Dae." Atau mungkin selamanya, Baekhyun meneruskan dalam hati.

"Aku senang kau masih memikirkan kesehatanmu, hyung."

Memberanikan diri dengan mengangkat wajah, sekali lagi saja, Byun Baekhyun ingin mengamati wajah menganggumkan itu dengan seksama. Garis wajah tegasnya, bibir merah merakah pemuda itu, senyum hangatnya, bisakah Baekhyun melihatnya lagi … nanti?

Grep!

Layaknya puguk yang merindukan sang rembulan, atau langit yang tak akan pernah bertemu bumi, Jung Daehyun begitu jauh untuk di raih. Selagi kesempatan itu masih ada di depan mata, maka Baekhyun akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Selama ia mampu menggenggam keberadaan Daehyun di dekatnya, Baekhyun ingin semua itu hanya terisi tentang pemuda itu. Rengkuhan yang kian erat itu menyesakkan Daehyun, bahkan untuk sekedar bernapas.

"Ugh! hyung … kau terlalu erat memelukku."

Namun, Byun Baekhyun tak ingin detik berlalu begitu saja tanpa memiliki arti di hidupnya. Ia ingin waktu terbatas miliknya, bisa ia habiskan dengan Daehyun. Tapi … rasanya mustahil. Karena roommate-nya itu harus pergi sekolah sesegera mungkin kalau pemuda itu tidak ingin terlambat masuk ke kelas—biarpun jarak asrama mereka dengan sekolah tidak begitu jauh.

"Dae … terimakasih," bisik Baekhyun di ceruk leher Daehyun. Deahyun bahkan dapat merasakan napas hangat sang roommate berisik. Deahyun membalas rengkuhan Baekhyun, mengusap-usap punggung sang sunbae.

"Bukan apa-apa hyung. Itulah gunanya kita tinggal satu kamar hyung," balas Daehyun berhias seulas senyum. Cukup senang dengan tingkah hyung tersayangnya yang seperti ini. Manja juga menggemaskan seperti anak kecil.

"Terimakasih untuk semuanya, Jung Daehyun."

Yang terakhir itu cukup menyesakkan. Dengan sangat terpaksa Baekhyun melepas rengkuhannya. Membiarkan Daehyun terbebas dengan sejuta persepsi yang bergumul di hati.

"Cepatlah berangkat! Kau tidak ingin songsaenim menghukummu dengan hal-hal aneh bukan?" goda Baekhyun dengan memaksakan seulas senyum. Kedua tangannya terjulur meraih kedua pipi Jung Daehyun. Mencubitnya cukup keras saking menggemaskannya pemuda itu.

"Belajar yang benar, jangan malas-malasan. Kerjakan PR-PR-mu, buat hyung-mu ini bangga, Jung Daehyun," ujar Baekhyun diiringi derai tawa setelah beberapa hari ini Daehyun jarang mendengarnya.

"Iya! Iya! Tapi hentikan dulu cubitanmu ini hyung. Kau jadi seperti kebanyakan fans-fans perempuanku di luar sana!" gerutu Daehyun yang berhasil dihadiahi jitakan dari Byun Baekhyun.

"Sombongmu Jung Daehyun!"

Kemudian keduanya terlarut dalam tawa masing-masing. Jung Daehyun senang dengan Baekhyun yang sudah kembali menjadi dirinya sendiri. Sedangkan Bekhyun sendiri, cukup sedih dengan tawa terakhir yang ia bagi bersama Daehyun. His lovely roommate.

"Sudah sana berangkat!"

"Hyung mengusirku?" kedua tangan bersedekap ditambah bibir cemberut membuat Jung Daehyun terlihat semakin menggemaskan.

"Ahaha, tentu saja tidak Dae. Aku hanya tidak ingin kau datang terlambat hanya karena aku menahanmu terlalu lama Dae." Walau sebenarnya aku ingin.

"Iya! Iya! Aku berangkat hyung. Jangan lupa habiskan bubur juga susunya. Aku juga sudah menyiapkan beberapa obat kalau-kalau hyung membutuhkannya."

Baekhyun mengangguk mengiyakan. Tatapannya terus mengikuti kemana Daehyun pergi. Sampai si Jung muda itu menghilang di balik pintu kamar setengah jam yang lalu, Baekhyun masih belum beralih. Ia mengharapkan pemuda itu membolos dan kembali padanya.

Namun, pengharapan hanya sehela napas tak berarti yang akan menghilang bersama dengan rangkaian udara yang bersirkulasi. Byun Baekhyun beringsut menyibak selimut. Turun dari tempat tidurnya lalu segera berbenah diri. Berbenah barang-barang yang harus diangkutnya pagi ini.

Kejadian pagi tadi yang menyapanya menyambut hari, akan terus melekat di hatinya. Biarpun sepele juga tanpa sadar, ia, Byun Baekhyun cukup senang sebagai hadiah terakhir di hari terakhirnya.

Ia tahu semua ini salah. Namun untuk sekali seumur hidup … bolehkah?

Fin

Hai! Aloha! Annyeong! ^_^

Hehe, gak nyangka juga FF ini bakal mendapat respon positif, hehe. Maklumlah, saya masih pemula.. Kkk~ XD

Em, this story just a drabble. ^_^

Jadi, maaf kalo pada pengen yang panjang-panjang. Saya gak sanggup… Kkk

Tapi saya usahakan buat gak berlama-lama buat update kelanjutannya. Kecuali kalau kerjaan lagi numpuk-numpuknya, hehe. Siapa saya yah, bisa ngomong sampe kayak gitu, hehe #ditendang

For the last, thanks for your support and review~ ^_^