Appa
:Daehwi x Minhyun:
:Wanna One:
::
Dorm
Sepi. Dorm hari itu sepi karena yang lain sudah keluar sejak pagi. Daehwi merutuk kesal. Ia tadi bangun terlambat jadinya tak bisa ikut keluar dengan yang lain. Dengan langkah kesal ia masuk ke dapur dan mengambil segelas air lalu meminumnya.
CKLEK
Daehwi memutar tubuhnya kala mendengar suara pintu dorm yang dibuka. Dia segera keluar dapur dan terkejut melihat Minhyun hyungnya tengah melepas sepatu.
"Lho? Hyung kenapa kembali? Ada yang tertinggal?" Minhyun mendongak dan tersenyum manis.
"Ne, ada, kau. Kau yang tertinggal!" Daehwi merona samar. Dia mendekati Minhyun.
"Hyung pulang karena kasihan kau sendirian di dorm. Sejujurnya tadi mereka mau menunggumu bangun, tapi kau nampak lelah jadinya ya ditinggal. Tapi aku kembali, aku ingat harus menghubungi Jonghyunnie~" Daehwi mengerling jahil.
"Ahh~ jadi hyung kembali karena mau menghubungi Jonghyun hyung? bukan menemaniku? Jahatnyaaa~" Daehwi pura-pura cemberut. Minhyun merona samar.
"Apa sih, Hwi-ya?" Daehwi tertawa melihat wajah merona Minhyun. Menggemaskan.
"Hyung, aku laparrr~" rengek si maknae. Minhyun terkekeh geli.
"Sabar ya, hyung ganti baju dulu." Ujar Minhyun. Daehwi mengangguk semangat. Tak lama kemudian Minhyun keluar kamar.
"Kau mau makan apa, hm?" tanya Minhyun yang berjalan ke dapur, dia mengekori Minhyun.
"Adanya apa hyung?" tanya Daehwi.
"Coba kita lihat~" gumam Minhyun. Ia membuka kulkas dan melihat apa saja yang ada di dalam sana. Sayur, telur, sosis, dan lainnya.
"Apa saja lah hyung, aku kelaparann~" rengek Daehwi. Minhyun tertawa pelan dan mengangguk.
"Tapi kau harus bantu, hyung!" Daehwi mengangguk semangat.
"Kau bersihkan sana ruang depan tv itu!" Daehwi segera mengambil sapu dan pel.
"Siap kaptenn!" Daehwi dengan semangat membersihkan ruang depan tv. Minhyun geleng kepala melihatnya.
Sepuluh menit kemudian...
"Hyung sudah selesai!" lapor Daehwi. Minhyun yang tengah memanggang sosis berhenti lalu menuju ruang tengah.
"Bagus, kau lebih baik daripada Jaehwan. Jja, kemari, bawa mangkuk ramyun ini ke meja sana, hyung nanti bawakan sosis dan dagingnya." Ujar Minhyun. Daehwi mengangguk.
Selesai masakan Minhyun jadi. Daehwi dan Minhyun duduk di bawah dan siap menyantap makanannya.
"Ayo berdoa dulu!" Daehwi mengangguk. Ia mengatupkan kedua tangannya dan menutup matanya.
"Aamiin!" ujar keduanya.
"Selamat makan!" Minhyun mengambil mangkuk dan mengisi mangkuknya lalu memberikannya pada Daehwi.
"Gomawo hyunggg~" Minhyun tersenyum dan mengacak rambut daehwi gemas.
"Kau sudah mandi kan tadi?" Daehwi mengangguk dengan mulut penuh makanan. Dia mencomot sosis tak jauh darinya. Juga kimchi.
"Pelan-pelan~" Minhyun beranjak dari tempatnya dan mengambil tisu. Lalu kembali dan membersihkan bibir Daehwi.
"Hyung, apa kau tahu?" Minhyun yang baru membuang tisu itu menatap Daehwi dengan pandangan bertanya.
"Apa?" tanyanya sembari mengambil mangkuknya sendiri lalu memakannya.
"Aku merindukan appaku" gerakan Minhyun terhenti.
"Aku sanggaaaaat merindukannya, aku hanya tinggal dengan eomma. Eomma mengurusku dengan baik, beliau selalu mengutamanku, dan selalu bangga padaku. Tapi hyung, meskipun begitu, pernah tersirat di pikiranku, bagaimana jika ada appa bersama kami?" Minhyun meletakkan mangkuk dan sumpitnya.
"Aku selalu iri pada teman-teman yang setiap pulang sekolah akan dijemput appa mereka dan digendong oleh appanya. Aku iri pada teman-teman saat libur mereka pergi berolahraga atau bermain bersama appanya. Aku iri kala teman-teman bercerita mengenai pekerjaan appa mereka, betapa bangganya mereka pada appanya, aku iri hyung." Daehwi menunduk sedih. Appanya meninggal kala ia masih sangat kecil.
"Aku hanya bisa melihat wajahnya saja." Lirih Daehwi.
"Kau tak bangga pada eommamu?" tanya Minhyun tiba-tiba.
"Eh? Tentu saja aku bangga! Aku hanya hanya-" Minhyun tersenyum. Dia mendekati Daehwi dan memeluknya.
"Aku yakin appamu sangaaaat bangga padamu, aku yakin itu. Eommamu pasti selalu menceritakannya, kan? Bagaimana appamu? Apa kesukaan appamu? Apa yang tidak disukai appamu? Apa pekerjaan appamu? Aku yakin eommamu pasti pernah cerita, kan?" Daehwi mengangguk di pelukan Minhyun.
"Daehwi-ya, apa yang kau janjikan pada eommamu, hm?" tanya Minhyun.
"Membahagiakannya, membuatnya bangga padaku!" Minhyun mengangguk.
"Lakukan itu juga untuk appamu. Mungkin appamu sudah tidak ada bersamamu, tapi aku yakin kasih sayangnya padamu tetap ada disekitarmu hanya saja kau tak merasakannya." Daehwi mengangguk.
"Jja, jika kau rindu appamu-" Minhyun melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Daehwi.
"Tatap aku, temui aku, peluk aku, kau bisa menganggapku appa keduamu disini, Daehwi-ya" Daehwi menatap mata kucing Minhyun dengan air mata yang menetes.
"Hyungggg~" Daehwi memeluk Minhyun lagi. Minhyun terkekeh geli.
"Ssshhtt sudah jangan nangis lagi, hyung disini~" daehwi melepas pelukannya dan mengangguk.
"Gomawo hyung~" ujarnya sembari sesenggukan. Minhyun mengambil tisu dan membersihkan wajah Daehwi.
"Ah! Bukannya hyung mau menghubungi Jonghyun hyung?" Minhyun mengerjap lucu.
"Ah matta! Eh? Ponselku?" Minhyun berdiri dan mengambil ponselnya. Sedang Daehwi lanjut makan. Saat Minhyun sudah dapat ponselnya, ia mencari kontak Jonghyun.
"Hyung, aku baru kepikiran" Minhyun menatap Daehwi yang mengunyah kimchi.
"Kenapa kau tidak jadi eomma keduaku lalu Jonghyun hyung appaku?" BLUSH
.
.
:END:
