Father's Problem


Chapter Two


Thanks for all silent readers and other author for read my fanfics,

seperti yang saya bilang dichap sebelumnya, akan langsung diupdate setelah mendapat 5 review atau lebih. pas saya lihat lagi, udah 19 Review! melebihi harapan saya, sesuai janji akan saya update kilat!

Ada yang nanya umur Naruto dan Hinata berapa, umur Naruto 26 tahun, sedangkan Hinata juga sama.

gak perlu basa basi lagi, silahkan dinikmati!


Keesokan Harinya, foto Hinata dengan bingkai terpampang didinding bagian foto Karyawan, dibawah nya terdapat tulisan 'Hinata Hyuga – Karyawan terbaik bulan ini'

Saat Hinata sampai kekantor, banyak karyawan-karyawan lain menyambutnya, tentu saja ini agak aneh menurut Hinata, sampai akhrinya Hinata tahu kalau fotonya terpampang sebagai karyawan terbaik bulan ini.

Lalu Hinata mendatangi ruangan kerja Naruto.

"Naruto-kun, kau yang mengangkatku menjadi karyawan terbaik tahun ini?" kata Hinata begitu masuk kedalam ruangan Naruto, sementara Naruto tersenyum kearahnya.

"Anggap saja itu adalah terimakasihku karena sudah menjaga dan merawat Arate kemarin, oh iya, honor mu juga sudah kunaikkan 10%...dan sudah ketransfer kerekeningmu" Naruto kembali menyunggingkan senyum pada Hinata.

"Te-Terimakasih...Naruto-kun..."

"A-Aku akan diruanganku jika kau memerlukan sesuatu..." Hinata lalu beranjak keluar, meninggalkan Naruto. Hinata akhirnya sampai diruang kerjanya sendiri. Setelah menyalakan laptop pribadinya, Hinata melirik kearah bingkai foto kecil yang terpajang disisi kanan meja kerja Hinata.

Ruangan kerja Hinata terletak disebelah ruang kerja Naruto, Naruto akan mudah memanggilnya jika dia memerlukan sesuatu.

Bingkai foto itu berisi foto dia dan kawan-kawan lamanya selama masih SMA, betapa menyenangkannya masa-masa saat itu.

Hinata's POV

Aku teringat kembali masa-masa SMA, saat itu Naruto-kun masih seorang yang nakal dan playboy, dan juga seorang yang paling tampan di KHS, aku sendiri tidak bisa menyangkal hal itu.

Aku juga teringat saat Naruto-kun dan Sakura-san berpacaran, hatiku langsung hancur saat itu, Naruto-kun tidak tahu betapa aku menyukainya semasa SMA, namun lama-kelamaan, aku sendiri juga bahagia ketika mereka menikah.

Sampai sekarangpun, aku masih sangat menyukainya, mencintainya...

"Hufff..." aku menghela napas, Naruto-kun sekarang sudah berbeda, dia bukan Naruto-kun yang masih SMA, Naruto-kun yang masih nakal dan playboy. Sekarang Naruto-kun terlihat lebih dewasa, lebih bijaksana, dan lebih tampan tentunya...

Aku sangat sedih ketika Sakura-san meninggal, Naruto-kun akan sangat terbebani karena juga harus mengurus Arate, anak mereka. Kuharap aku bisa melakukan sesuatu untuk meringankan beban Naruto-kun.

Aku melirik kesamping, kulihat Naruto-kun masih sangat sibuk dengan laptopnya, karena dinding pembatas antara ruangan Naruto-kun dengan ruanganku hanya dilapisi dinding kaca, aku sering mencuri-curi pandang untuk melihat Naruto-kun.

"Oh iya, aku sebaiknya segera mengerjakan tugasku.." aku langsung tersadar dari lamunanku, aku sebaiknya segera menyelesaikan pekerjaan kantor, sebelum mulai, aku memasang headset untuk mendengarkan lagu sembari mengerjakan tugas.

Aku melepas headset yang sudah tertempel ditelingaku selama tiga jam ini, aku melirik arlojiku, sudah pukul 11:52, 8 menit lagi sebelum istirahat makan siang. Aku melepas headset , lalu menyelesaikan tugas kantorku.

Kemudian, Naruto-kun masuk kedalam ruanganku. "Hinata-chan, ayo kita makan siang..." Naruto-kun mengajakku untuk makan siang, aku menutup laptopku, dan ikut Naruto-kun untuk makan siang.


Kami berdua makan disalah satu kafe yang letaknya tidak jauh dari gedung kantor, kami berdua sudah biasa makan disini jika sudah waktunya jam makan siang.

Setelah mencari tempat duduk yang kosong, aku dan Naruto-kun memilih menu. "Hmmm, aku pilih satu cinnamon rolls , minumnya cappucino hangat..." lalu pelayan yang berdiri disebelah meja kami mencatat, kini giliran Naruto-kun yang memesan.

"Aku pesan roti keju dengan minumnya kopi susu saja..." kemudian pelayan tadi kembali mencatat pesanan, dan pergi.

Selagi menunggu, kami mengobrol.

"Hinata-chan, kau ada kegiatan saat libur besok...?" tanya Naruto-kun padaku, aku menatapnya,

"Tidak ada, memang kenapa?" aku merasa Naruto-kun akan mengajakku kesuatu tempat.

"Begini, kan besok sudah libur...tadi pagi Arate memintaku untuk mengajakku jalan-jalan, yah sesekali...tapi dia ingin kau juga ikut, Hinata-chan..." aku mengaduk-aduk cappucino yang baru saja diantar, tapi...pasti akan menyenangkan jika bisa berlibur ditengah-tengah rutinitas kerja seperti ini, ditambah lagi bersama Arate dan Naruto-kun.

"Kau mau, Hinata-chan...Arate pasti akan senang sekali bila kau ikut..." Aku tidak bisa menolak, lagipula aku tidak ada alasan untuk menolak.

Aku tersenyum kepada Naruto-kun, "Baiklah Naruto-kun...aku ikut besok..." kemudian aku menyeruput cappucino yang sudah agak dingin dihadapanku, Naruto-kun yang duduk dihadapanku sekarang, dia juga terlihat senang.

"Terimakasih, Hinata-chan..." Naruto-kun tersenyum padaku, pasti wajahku sudah memerah sekarang, senyuman Naruto-kun selalu membuat wajahku memerah.

"Besok jam 9 siang, kau akan kujemput dimansionmu, lalu kita akan segera berangkat ke taman bermain." Naruto-kun lalu menyeruput kopinya.

End of Hinata's POV

Keesokan Harinya...

Pukul 9 pagi, mobil mewah milik Naruto berhenti didepan gerbang mansion Hyuga, sementara Arate duduk manis dikursi belakang. Kemudian Naruto turun dari mobil. Naruto mengenakan kemeja casual berwarna putih, celana panjang hitam, dan kacamata hitam yang masih dipakainya, bahkan beberapa wanita yang lewat, memandangi Naruto karena kegantengannya.

"Arate, kau tunggu disini sebentar ya.." Arate kemudian mengangguk, Naruto berjalan memasuki gerbang, dan sampai kepintu masuk.

Naruto mengetuk pintu, kemudian seorang maid yang membuka pintu, "Selamat siang, bisa aku bertemu dengan Hyuga Hinata, apa dia ada?" kata Naruto ramah.

"Nona Hinata? Tunggu sebentar, silahkan masuk..." maid barusan mempersilahkan Naruto masuk, Naruto kemudian duduk disofa diruang tamu mansion yang megah, tapi Naruto sudah pernah mengunjungi mansion ini sebelumnya.

Tak lama kemudian, turun Hinata datang menuruni tangga, Hinata mengenakan suspender dengan dalamannya kaus ungu polos, celana jeans ungu, membawa tas kulit mahal bermerk Guess berwarna coklat dan memakai high heels berwarna hitam, juga Hinata tidak memakai make-up yang tebal-tebal. Hinata terlihat seperti seorang gadis remaja, Naruto sampai terbengong-bengong mengagumi kecantikan Hinata sekarang.

"Naruto-kun, kenapa melihatku seperti itu..?" Hinata menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Naruto menarik lengan Hinata lembut, "Tidak apa-apa, ayo berangkat"

Naruto dan Hinata masuk kedalam mobil, Arate sangat senang ketika melihat Hinata, "Ibu..."

Naruto langsung menatap Hinata ketika mendengat ucapan Arate barusan, "Ibu, dia bilang?"

Hinata tersenyum kepada Naruto, kemudian Hinata duduk dikursi belakang, menemani Arate.

"Lihatlah, Ibu membawa mainan untukmu" Hinata mengeluarkan sebuah mainan transformers dari dalam tasnya, Arate sangat senang sekali.

"Wow, mainan transformers model terbaru..! keren!" Hinata kemudian memeluk Arate yang masih memainkan mainannya. Sosok keibuan yang sangat menonjol dari Hinata dapat dilihat oleh Naruto yang melihat mereka berdua melalui kaca spion tengah.

'Hinata, kau pasti akan menjadi seorang ibu yang sangat dibanggakan oleh anak dan suamimu kelak...' batin Naruto dalam hati, kemudian Naruto memacu mobilnya menuju taman bermain.

Disepanjang perjalanan, Hinata dan Arate bercanda, bermain tebak-tebakkan, Hinata bergitu menyayangi Arate seperti anaknya sendiri. Bagi Naruto, sosok wanita seperti Hinatalah yang tengah dicari oleh Naruto untuk menjadi ibu bagi Arate.

Naruto tersenyum.

Naruto, Hinata dan Arate kini telah sampai di taman bermain, banyak wahana-wahana yang sangat menarik terdapat disana, Naruto dan Hinata jalan berdua, Naruto menggenggam erat lengan Hinata, membuat orang-orang sekitar melihat mereka berdua seperti pasangan suami-istri yang sangat harmonis. Muncul semburat merah diwajah Hinata manakala Naruto menatapnya lembut.

Arate berjalan sendiri sambil memainkan mainan transformers yang baru saja diberikan Hinata untuknya, tidak perduli kalau ayahnya dan 'ibu'nya, tengah berjalan berduaan dibelakangnya.

Sampai akhirnya Arate melihat wahana bianglala, "Ayah, ayo naik itu..." Arate menunjuk keatas, kearah bianglala. "Aku ingin lihat pemandangan..." kata Arate lagi polos.

Akhirnya mereka bertiga naik bianglala, kemudian bianglala bergerak hingga mengantarkan posisi mereka bertiga dipuncak bianglala. Disini Arate memandang keluar, menikmati pemandangan kota Konoha, sementara Naruto merangkul bahu Hinata, Hinata sendiri tidak keberatan, malah senang jika mereka bisa menghabiskan waktu senggang berdua.

Sebenarnya, Hinata sudah memendam perasaan cinta dihatinya pada Naruto sejak mereka masih SMA, bahkan sampai sekarang, rasa cinta tersebut tidak roboh meskipun sudah bertahun-tahun berlalu.

Begitu pula Naruto, rasa cintanya pada Hinata mulai tumbuh dihatinya sejak Hinata sangat dekat sebagai sahabatnya dan asistennya dikantor, saat dua bulan setelah Sakura meninggal, namun Naruto sendiri belum punya nyali untuk mengatakan yang sebenarnya pada Hinata.

Naruto kemudian tersenyum melihat putra tunggalnya yang saat ini terlihat sangat senang.

Bianglala bergerak, kini posisi mereka sudah berada dibawah, mereka bertiga turun, dan mencari wahana yang mengasyikkan lainnya.


Mereka tiba di booth yang mengadakan permainan seru, yaitu Naruto harus menembak 10 target yang letaknya agak jauh. Jika kena semua, maka Naruto bisa memilih hadiah.

"Ayah, ayo coba itu..." mereka bertiga mendekati booth tadi, lalu penjaganya menyapa dengan ramah. "Selamat siang, apa anda ingin mencoba permainan ini?"

"Iya, berapa harganya?" tanya Naruto.

"10 yen untuk sekali permainan" Naruto membayar, lalu penjaga booth memberikan senapan angin.

"Tembak 10 target yang ada disana, jika kena semua, anda bisa memilih hadiah yang anda inginkan" penjaga tadi menunjuk kearah berbagai macam mainan dan benda-benda yang sangat menarik.

"Baiklah..." Naruto mengambil posisi.

"DOR, DOR, DOR, DOR, DOR, DOR, DOR, DOR, DOR, DOR!" Naruto sudah menembak sepuluh kali, penjaga tadi mendatangi target sasaran untuk mengecheck keakuratan menembak Naruto.

"Hebat sekali, anda berhasil menembak semua target dengan akurat!" kata penjaga itu dengan senang, lalu penjaga itu mempersilahkan Naruto memilih hadiah.

"Arate, kau mau pilih yang mana?" tanya Naruto pada anaknya, Arate lalu memilih sebuah mainan model pesawat tempur yang sangat mirip dengan aslinya, tapi hanya lebih kecil. Setelah membungkuskan mainan tersebut, penjaga tadi menegur Naruto.

"Wah, kalian berdua serasi sekali, kalian pasti sudah menikah kan?" tanya penjaga itu, begitu mendengarnya, langsung kecanggungan terjadi diantara Naruto dan Hinata. Wajah mereka berdua memerah ketika mendengarnya.

"Yaa, kami..." jawab Naruto dan Hinata bersamaan. Penjaga itu melihat wajah mereka berdua memerah.

Sebelum Naruto dan Hinata melanjutkan omongan mereka, penjaga tadi memberikan sesuatu pada Naruto dan Hinata. Penjaga tadi memberikan sebuah boneka serigala lucu berukuran sedang yang berwarna orange dengan ekor sembilan.

"Ini, ambillah. Anggap saja sebagai bonus untuk hubungan kalian!" kata penjaga tersebut sambil nyengir.

"Te-terimakasih..." Arate, Naruto dan Hinata pergi dari booth itu, lalu penjaga booth tersebut melambaikan tangan kepada mereka.

"Semoga hari kalian menyenangkan!"


Hari mulai menjelang sore, setelah menikmati berbagai macam wahana yang menyenangkan, mereka bertiga singgah kerestoran fast food untuk makan.

"Arate, kau mau pesan apa?" tanya Naruto kepada anaknya yang kini asyik memainkan mainan pesawat dan mainan transformers. "Aku mau pesan cheese burger dengan milkshake saja deh yah..."

"Kalau kau Hinata?" Naruto bertanya pada Hinata, "Hmm, aku ikuti apa yang kau pesan saja deh, Naruto-kun..." Hinata memutuskan untuk menyamakan pesanannya dengan Naruto.

"Baiklah, akan kupesan sekarang" Naruto beranjak dari tempat duduknya, dia menuju meja kasir untuk memesan makanan. Sementara itu, tinggal Hinata dan Arate.

Hinata mengacak-acak rambut pirang jabrik Arate, "Sayang, kau senang hari ini?" tanya Hinata sambil memeluk Arate dengan penuh kasih sayang. Hinata menganggap Arate adalah anaknya sendiri, Hinata begitu menyayanginya.

"Senang sekali bu..." Hinata mengelus-elus punggung Arate. Sementara Naruto mengamati mereka dari meja kasir tanpa diketahui oleh Hinata. Naruto kembali menyunggingkan senyum. Sosok seperti Hinata akan menjadi ibu yang sangat baik bagi Arate, pikir Naruto.

Setelah mengambil pesanan, Naruto kembali duduk dihadapan Hinata. Lalu membagikan makanan kepada Hinata dan Arate.

"Bu, suapi aku dong..." kata Arate manja, Hinata tersenyum, kemudian menyuapi Arate pelan-pelan.

"Arate, kau kenapa tidak makan sendiri saja?" Naruto meminta Arate makan sendiri agar tidak menyusahkan Hinata.

"Tidak apa-apa Naruto-kun, aku malah senang kok" Hinata kembali menyuapi Arate, Arate makan dengan lahap.

Naruto menunda makannya, dia kembali memperhatikan Hinata yang menyuapi Arate makan.

Naruto's POV

Hinata, dia benar-benar menyayangi Arate seperti anaknya sendiri. Dia juga benar-benar cantik, tersirat dipikiranku, untuk menjadikan Hinata sebagai ibu Arate, dan sebagai istriku juga. Pasti wajahku memerah sekarang.

"Naruto-kun, kenapa kau tidak makan?" aku langsung salah tingkah, Hinata menatapku aneh, buru-buru aku makan.

Ugh, sejak SMA, Hinata memang kuakui sangat cantik. Namun hatiku lebih memilih Sakura saat itu. Setelah Sakura meninggal, juga saat dia menjadi asistenku dikantor, kami berdua jadi sangat dekat. Bahkan dia selalu menanyakan apa aku sudah makan, bagaimana kabar Arate, benar-benar perhatian.

Kuakui, aku memang mencintai Hinata...

End of Naruto's POV

Mobil Mercedes-Benz SLS AMG sampai digerbang depan mansion Hyuga. Itu mobil milik Naruto, saat Hinata ingin membuka pintu, Arate menghentikan langkah Hinata.

"Bu, jangan pulang..." kata-kata polos Arate, membuat Hinata mengurungkan niatnya untuk pulang. Sepertinya Arate ingin Hinata terus bersamanya. Arate benar-benar tidak ingin 'Ibu'nya pergi lagi.

"Naruto-kun, izinkanlah aku menemani Arate lagi malam ini" Hinata sekarang menatap Naruto, Naruto menghela napas. Berarti Hinata akan menginap dirumahnya malam ini.

"Baiklah, kau yakin?" Hinata akhirnya diizinkan untuk menginap malam ini saja dirumah Naruto. Hinata mengangguk yakin, Naruto sebenarnya juga senang kalau Hinata menginap.

"Horeee!" Arate berteriak senang.

Naruto kembali tancap gas, memacu mobilnya sampai kerumah.


Hari sudah malam, Naruto sudah berganti mandi dan berganti pakaian dengan pakaian rumah, Hinata juga sudah berganti pakaian menggunakan pakaian milik Sakura dulu yang masih cocok dikenakan Hinata.

Naruto duduk disofa diruang keluarga sambil menonton TV. Lalu Hinata turun dari lantai atas.

"Hinata-chan, kau boleh menggunakan kamarku untuk tidur nanti, aku akan tidur disofa..." kata Naruto pada Hinata yang berjalan menuju dapur.

"Aku akan tidur dengan Arate malam ini, Naruto-kun. Dia ingin aku menemaninya" Hinata lalu kembali dari dapur dengan membawa segelas air yang diminta Arate.

"Oh begitu, maaf ya kalau merepotkan..."

Hinata lalu tersenyum, dan berjalan kelantai atas. "Selamat malam, Naruto-kun..."


"Errghh..." Hinata terbangun tengah malam, dia menyalakan handphone miliknya untuk sekadar melihat jam. Masih pukul 23:45, hampir tengah malam. Hinata lalu berjalan keluar kamar, turun keruang tamu, rupanya Naruto-kun tertidur saat masih menonton televisi.

Hinata mematikan televisinya, kemudian berlutut disebelah Naruto yang tertidur pulas di atas sofa. Hinata masuk kekamar Naruto, mengambil selimut, dan memakaikannya untuk Naruto. Sebelum Hinata kembali tidur dikamar atas, Hinata menyisir rambut pirang jabrik Naruto dengan jemari lentiknya, kemudian menelusuri wajah Naruto dengan jemarinya lagi.

"Naruto-kun...izinkan aku menghilangkan permasalahan hidupmu..." dicium pipi kanan Naruto dengan sangat pelan.

Hinata mendekatkan bibirnya dengan bibir pria yang tertidur dihadapannya. Dikecup bibir Naruto dengan sangat pelang agar tidak membangunkan Naruto.

Hinata mengelus pipi Naruto sebelum dia kembali tidur.


Hoaa, maaf kalo sebelumnya ada yang merasa klo chap ini kecepetan alur, mohon maaf yah #plak

untuk chap berikutnya, saya masih nulis, jadi mohon ditunggu update 'na , terimaksih dah review, fav, alert, flame dll, yang penting reviewnya dlo ya!