Lama di depan pintu, ujung bibir Asano mengeja rangkaian abjad pada secarik kertas di genggamnya melalui derai bisik.

Tidak salah lagi. Memang inilah tempatnya, perhentian terakhir yang dituju.

Telinganya sudah sering mendengar kalau Isogai Yuuma bukanlah orang yang berada, jadi dia tidak perlu terkejut ketika mendapati sebuah bangunan kumuh yang tampak tidak kokohsetidaknya itu kesan pertama yang ditangkap oleh matanya.

Menepis rasa gentar, dijulurkan perak pipih dari saku celananya untuk segera memantapkan fungsinya.

Klik.


The Perfect View

Assassination Classroom (c) Matsui Yūsei
Warning: Slice of Life. Keju. Drama. Gakushuu centric for this round.

.
by Ratu Obeng (id: 1658345)

.

.

.

Side A; Asano's View


"Aku pulang."

"Tumben hari ini pulang cepat. Selamat datang..."

Tubuh Asano mematung sepintas. Entah perasaan syok atau lega karena ada yang membalas sapaannya. Selama ini suara-suara yang menyahutnya selalu kaku dan dibuat-buat; sebutlah mereka pelayan-pelayan beruntung yang bisa bekerja di rumahnya dengan upah tinggi.

"...Yuuma?"

Wanita yang menyambutnya sudah tidak muda lagi, tapi belum pantas disebut tua. Helai sewarna malamnya diikat pinggir menjuntai di bahu kanan, persis tipikal klasik ibu rumah tangga kebanyakan.

"Perkenalkan, nama saya Asano Gakushuu... saya akan merepotkan di sini untuk tiga hari ke depan." tutur diplomatis mewakili kalimat pembuka, disertai bungkuk sopan, "Sementara Iso—Yuuma akan berada di rumah saya."

Rasa curiga wanita itu perlahan luntur, berganti dengan senyum hangat.

"Program yang sangat menarik. Sekolah kalian pasti sangat menyenangkan."

Program? Ah, ya. Andai Asano diberi kesempatan menciptakan satu agenda lagi selama menjabat sebagai ketua Osis, pertukaran rumah antar pelajar sepertinya bukanlah ide buruk.

Ada batuk sebentar sebelum sang tuan rumah menyapa tamunya kembali, "Di sini tidak ada apa-apa, tapi anggaplah rumah sendiri."

"Tentu saja..." tidak bisa, lidahnya gagal berhenti di sana, "...ibu."

"Ibu?"

Kulit putih Asano sukses terbakar, "De-dengan memanggil anda begitu, saya merasa... merasa seperti di rumah..." ucapnya terbata sembari mengatur napas.

"Dengan senang hati. Kau juga anakku..."

Serupa pancar mentari yang menyapanya tiap pagi, Asano merasakan punggungnya mendadak hangat ketika nyonya Isogai memeluknya. Tangan itu halus dan lentik, menelusuri helai yang pucat dalam hitungan detik. Jantungnya bereaksi paling kentara pada sentuhan, detaknya semakin jauh dari normal.

"Ngomong-ngomong, apa kau sudah makan? Ibu baru selesai membuat makan malam.."

"Tidak usah repot-repot. Saya bisa pesan antar—"

"Gakushuu!" ada kaget luar biasa tatkala nama kecilnya tiba-tiba digunakan, "Masakan buatan ibu enak, loh... kau pasti tidak akan menyesal. Ayo masuk dulu!"

Mendengarnya, Asano buru-buru melepas alas kaki lalu mengikuti instruksi untuk menjelajah ruangan lebih dalam. Hanya butuh beberapa langkah karena ruang makan juga difungsikan sebagai ruang keluarga dan area belajar, terlihat tumpukan buku pelajaran murid kelas kelas menengah akhir yang terserak di dekat kaki meja.

"Hmp. Pantas saja nilai-nilainya bagus... dia serius, rupanya." gumam itu disertai seringai pendek. Setelah menaruh tas-nya di sekitar perabot sederhana, tangannya meraih sebuah buku cetak bertema sosiologi yang per halamannya sudah dihiasi terlalu banyak coretan, "Sayangnya aku juga tidak akan kalah."

Meskipun dalam mode menunggu, Asano tidak bisa diam saja melihat wanita itu sibuk sendirian sehingga dia berinisiatif membereskan penghuni-penghuni meja yang sekiranya mengganggu.

"Terima kasih." ucap yang berumur seraya meletakkan piring kosong dan jamuan baru masak. Ruangan yang sempit membuat jarak mereka tidak terpaut terlalu jauh, "Yuuma harus selalu disuruh dulu baru mau berhenti belajar dan beres-beres sebelum makan."

Berita luar biasa, "Dia tidak terlihat seperti tipe yang mengerjakan sesuatu setelah disuruh."

"Kalau begitu ini jadi rahasia kita berdua, ya..."

"Ahaha, " Asano menahan tawa mendengarnya. Siapa sangka kalau seorang Isogai Yuuma ternyata tidak sesempurna kelihatannya. Terbayang wajah polos itu mengeluh sewaktu harus menutup bukunya lalu mengelap permukaan meja.

"Ngomong-ngomong kau suka kroket?"

Menutupi canggung yang belum surut, bibir pucatnya tergelak dipaksakan, "Saya..."

"Hei, jangan terlalu formal. Tiga hari ini aku ibumu, kan?" cubitan ringan di bagian hidung membuat Asano mengaduh pelan.

"Sa... aku... tidak begitu paham. Selama ini, makanan di rumah rasanya begitu-begitu saja."

Semua pangan mewah yang diterimanya setiap hari memang tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan apa yang tersaji di hadapannya kini—semangkuk nasi dengan beberapa kroket dihiasi satu jenis sayuran dan sop bening. Tapi setiap hari, baginya memang tidak ada perencah istimewa, bahkan ketika memasukkannya ke mulut, melewati kerongkongan, lalu terbuang begitu saja di toilet melewati anus.

Hambar.

"Itu tidak benar. Makanan apapun pasti akan menjadi sangat enak karena dua hal; dibuat oleh seorang ibu dan dimakan setelah memanjatkan doa."

Asano benar-benar terbahak kali ini. Perihal yang baru disebutkan sudah tidak pernah lagi mengisi kehidupannya. Semua telah lenyap, tanpa menyisakan bahkan serpihan paling kecil. Dan semua kesalahan dia timpakan pada sang ayah, yang membesarkannya tanpa menyertai bumbu cinta hingga kini karena hanya sibuk dengan urusan kerja—kerja—hanya bekerja.

"Selamat makan." usai mengatupkan tangan lalu menutup mata sejenak, Asano mengoyak lauk miliknya dengan sumpit. Mendapati sensasi cukup asing pada lidahnya.

Enak.

Enak dan luar biasa enak.

Kepala Asano mengangguk sebagai isyarat kasat mata ketika ditanya perihal rasa. Tentu saja wacana itu dipertegas dengan meraih lauk selanjutnya, dilakukannya berulang hingga bagian miliknya tak bersisa.

"Untunglah kau suka. Ini makanan kesukaan Yuuma, jadi ibu berjuang keras membuatnya."

Si rambut pucat tertegun.

Inikah namanya seorang ibu? Berjuang demi buah hati bahkan untuk hal remeh yang mungkin tidak selalu diberi ucapan terima kasih di setiap harinya?

Lalu tangisnya tumpah entah kenapa, Asano sendiri tidak paham.

"Gakushuu?"

"Maaf. Ini enak sekali..." seka ujung mata sejenak dengan punggung tangan, "...baru pertama..." parau. Suaranya semakin tidak terdengar.

Nyonya Isogai memancarkan aura keibuan yang sangat terasa, terutama ketika Asano merasakan usapan berkala menyentuh halus surainya, "Dihabiskan, ya. Kalau mau tambah masih ada—"

Momen sentimentil itu terhenti saat terdengar suara batuk beruntun.

"IBU!?" panik, Asano bergegas menopang tubuh rapuh di hadapannya, "Ibu kenapa?"

"Tidak bisa begitu! Ibuku sedang sakit,"

Kalimat Isogai bergema nyaring di kepala. Tentu saja! Asano ingin mengutuk diri karena sudah lalai mengabaikan petunjuk penting.

"Sudah ke rumah sakit?"

Tangan wanita itu dikibas, memberi gestur jelas agar putranya tidak usah khawatir, "Istirahat sebentar saja pasti sembuh, kok."

"Tidak boleh! Kita akan ke rumah sakit, SEKARANG!"

Perjanjian yang diingatnya hanya bertukar tempat tinggal sementara, bukan sampai fasilitas utama. Maka Asano tidak merasa bersalah saat meraih telepon genggamnya, bermaksud memanggil supir pribadinya dengan alasan darurat.

"Gaku...shuu,"

Remaja itu tidak akan lupa pada jeriji rapuh yang menyisir helainya lembut untuk kesekian kali.


.


Kalau Asano pernah mencicipi posisi tidur paling tidak nyaman, mungkin dia sedang mengalaminya sekarang.

Karena setelah pelupuknya terangkat, tubuhnya masih terduduk dengan kepala menyender ke tembok. Suatu keajaiban dia tidak roboh dengan pose fantastis, tapi lehernya terasa pegal sekarang.

Pemandangannya masih sama; bangunan kumuh yang tampak tidak kokoh. Ternyata selain menjadi ruang makan dan belajar, ruangan yang sama juga berfungsi sebagai kamar tidur. Hanya menggeser sedikit meja kemudian menambahkan futon seadanya.

"Maaf... membangunkanmu..."

Dari arah ranjang, nyonya Isogai berusaha menutup mulut agar batuknya tak terdengar. Tapi percuma saja, Asano yang sudah terlanjur bangun segera mengisi gelas dengan air segar untuk menenangkan paru-paru wanita tersebut.

"Bagaimana keadaan ibu sekarang?"

"Jauh lebih baik..."

Hal selanjutnya yang Asano pelajari dari seorang ibu; mereka pembohong besar.

Visum sementara menyebutkan gejala bronkitis akut sebagai penyebab utama sehingga pasien disarankan menghindari makanan dengan produk susu, udara dingin, debu, juga tidak boleh terlalu lelah.

Butuh perhatian lebih pada poin terakhir karena kini Asano berupaya menghentikan sosok yang berusaha bangkit dari futon tipis penyangganya, "Mau ke mana?"

"Ke dapur. Ibu akan buatkan sarapan,"

"Istirahat saja, biar aku yang buat makanan."

Reaksi kaget, "Kau bisa masak?"

"Lumayan." terlalu banyak fungsi internet di jaman sekarang, apalagi cuma untuk sekedar menampilkan menu primitif. Asano hanya lupa kalau isi kulkas di rumah itu tidak penuh seperti harapannya, dia harus berjuang memakai bahan seadanya untuk diolah sesuai instruksi medis.

"Maaf, malah menyusahkan..."

"Tidak sama sekali..." gelengan tipis, "Kecuali bagian keras kepala karena tidak mau pergi ke rumah sakit dan membuatku terpaksa memanggil dokternya kemari."

Nyonya Isogai menyambut cibiran itu dengan tawa sekilas.

Dari sana Asano tidak bersuara lagi. Hanya terpaku pada layar handphone dan properti masak-memasak, lagipula bukan karakterisasinya juga untuk mengucapkan terlalu banyak kalimat walaupun dia punya banyak bahan pembicaraan untuk dibahas.

Selesai dengan menanak nasi dan menggoreng lauk, dia membawa semuanya ke tempat sang ibu berbaring. Terjadi perdebatan beberapa saat karena yang lebih tua bersikeras untuk makan sendiri, dengan berbekal janji tidak berpindah dari alas tidurnya.

"Sekarang hari sabtu, kau tidak pergi jalan-jalan? Dengan pacarmu, mungkin?"

Asano terbatuk kecil untuk meminimalisir tersedak di antara kunyahan. Sayangnya dia lebih nyaman mendedikasikan hidupnya bersama kertas kotretan dan buku pelajaran daripada makhluk-makhluk yang disebut sebagai teman, "Aku tidak punya pacar."

"Bohong. Padahal kau setampan ini?"

"Pendidikan lebih penting. Hal lain bisa menyusul..." sebuah pemikiran tidak biasa untuk remaja berusia belasan, membuat sang tuan rumah tak pelak memandang kagum.

"Tapi tidak baik terus-terusan belajar tanpa istirahat. Lihat, kedua matamu merah."

"Ini karena posisi tidurku semalam kurang enak..."

"Tidur lagi saja. Futon Yuuma ada di dalam lemari,"

"Aku yang ambil!" karena kalau tidak diinterupsi, nyonya Isogai pasti sudah nekat mengerjakannya sendiri. Membuat Asano berpikir juga untuk mengambil tali tambang dan mengikat wanita itu agar tidak lepas sementara dari kasurnya.

"Seharusnya kau dijamu di sini, tapi harus malah jadi repot..." nada getir, "Seandainya ada Yuuma... dia pasti—"

"Ibu!" rasanya Asano berhasil balas dendam atas keterkejutannya di hari pertama karena sekarang wanita itu bereaksi sama.

"Sampai besok anak ibu adalah aku. Bukan Yuuma atau siapapun." rahangnya mengeras, sejurus genggaman tangannya, "Percayalah padaku..."

Tidak banyak berubah. Hanya saja senyum di antara wajah yang berhias kerut itu lebih lama dari biasanya, disertai anggukan untuk menyetujui. Sementara urung mengambil futon yang dimaksud, Asano segera membereskan sisa alat makan yang berserak untuk kemudian berbaring—mencuri sedikit area tempat tidur yang sudah terhampar.

"Tidak keberatan kalau wilayah kasurnya menyempit, kan?" kali ini gilirannya untuk membenamkan jarinya di antara rambut legam.

Akhir minggu masih terlalu panjang, tapi Asano sudah terlelap nyaman di sebelah sosok tersayang—mengabaikan tatami kasar yang mungkin membuat tubuhnya pegal setelah bangun kembali nanti.


.


"Malam ini kau sudah harus pulang, ya?"

Asano masih berkonsentrasi dengan buku cetak dan catatan ketika diajak bicara, hanya berupaya mengangguk sebagai respon maksimal. Apapun bentuk kesepakatannya, pendidikannya tidak boleh terganggu. Dia tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah dan bersiap untuk quiz dadakan dari wali kelas A di hari berikutnya.

Periode terakhir ini dia tidak melakukan apapun, masih menjaga wanita separuh baya yang tidak bisa diam karena menolak untuk beristirahat dan malah ikut bertelut di depan meja—sekedar menemani agar yang belajar tidak bosan, katanya.

"Apa tidak sebaiknya ibu istirahat?" Asano mendesak. Kalau hanya sekedar makan malam sederhana atau membereskan rumah, dia juga masih sanggup.

"Sebentar, sedikit lagi..."

"Istirahat...!"

"Ibu janji, hanya sebentar lagi..." suara memelas, "...ya?"

Anak itu memutar bola matanya pasrah.

Sejak pagi beliau tampak berkonsentrasi dengan karya tangannya yang entah apa, yang remaja juga tidak terlalu memerhatikan. Baru sejenak tenggelam di dalam lautan soal, konsentrasi Asano kembali pecah untuk mengacuhkan suara yang menginterupsinya lagi,

"Coba kemarikan tanganmu." imbuh wanita itu dengan gestur meminta.

Pena yang digenggam ditinggalkan. Dengan patuh Asano menjulurkan salah satu tangannya untuk meraih telapak rapuh tersebut.

"Dua-duanya, sayang..."

"Eh?"

Sang ibu mengangguk samar, "Lalu pejamkan matamu. Jangan dibuka sampai hitungan ketiga, ya..."

Mana mungkin Asano menolak senyum teduh itu, "...t-tapi,"

"Satu..."

Terpaksa, dua iris cerahnya bersembunyi dalam gelap. Sesaat tidak ada perubahan berarti hingga sesuatu yang hangat terasa membungkus tangan kanannya sampai daerah pergelangan.

"Dua..."

Kali ini giliran tangan kiri.

"Tiga. Sekarang buka matamu."

Tatkala irisnya menerima cahaya, Asano mendapati pasang tangannya terbalut manis dalam rajutan sarung tangan sederhana. Asano hanya mampu terkesima, terutama karena sekarang jari-jarinya selain ibu jari tidak bisa bergerak leluasa. Daripada sarung tangan orang dewasa, yang membungkus tangannya lebih mirip sarung tangan bayi.

"Ini...?"

"Sebentar lagi musim dingin. Maaf tidak bisa selesai dengan terperinci karena waktunya terlalu sempit."

Masih tertegun, belum lepas matanya memandang apa yang menjadi miliknya sekarang, "Tapi aku... ini..."

Nyonya Isogai memasang mimik muka cemas. Jika sudah begitu, beliau mirip sekali dengan anak kandungnya, "Kau tidak suka?"

Justru sebaliknya, "Ini akan kusimpan dengan baik,"

Asano memperlakukan sarung tangan barunya hati-hati seakan bahan dasarnya terbuat dari kaca, "—dan terima kasih." hampir saja kalimat wasiat penting terlupa.

"Kau pribadi yang luar biasa. Ibumu di surga pasti bangga memiliki anak sepertimu."

Asano tercengang total, "Bagaimana bisa...?"

"Berhati-hatilah. Feeling seorang ibu sangatlah kuat." satu hal lagi yang dipelajari Asano tentang seorang ibu di detik-detik kebersamaan mereka.

Sehingga ada senyum lepas di wajahnya setelah sekian lama. Benar-benar tersenyum yang tulus. Didekap sarung tangan rajut itu erat-erat, memanjatkan doa singkat. Ibunya yang sesungguhnya pasti juga sedang tersenyum dari atas sana.

"Terima kasih..." dua kata yang ingin terus dia ucapkan hingga tenggorokannya tidak mampu lagi bersuara.

"Kapan-kapan mainlah kemari lagi. Ibu dan Yuuma pasti akan menyambutmu." paras itu berbinar, "Kita bertiga bisa makan kroket bersama-sama."

Sederhana. Bahagia itu sederhana—katanya. Tapi nyatanya hal sederhana sekalipun harus tunduk oleh keegoisan sang waktu. Waktu hampir menunjukkan pukul delapan malam, sebentar lagi Asano akan dijemput dan kembali ke kediaman membosankan lalu menjalani rutinitas mewah nan semu seperti biasanya.

"Ibu, sebelum pergi... aku punya permintaan..."

Sesuatu yang tidak bisa dicari di internet ataupun dipanggil menggunakan selular. Asano menikmati punggungnya yang kian hangat dalam sekian menit ke depan.


.


[Seorang Ibu dan kita adalah ibarat mata dengan lengan.
Jika mata tergores lengan tidak akan merasa sakit, tapi jika lengan terluka maka mata akan mengeluarkan tangisnya untuk lengan.

—Azzahra Alya]


.


"Yo!"

Reaksi Isogai agak berlebihan sewaktu keduanya bertatap muka. Karena memang tidak biasanya seorang ketua kelas A yang terkenal angkuh mau menyapa murid beda kasta di khalayak umum tanpa niat terselubung,

"Ini kunci rumahmu." lanjutnya seraya memindahkan benda pipih itu dengan cara dilempar.

Hup. Diterima sang empunya dengan baik, "H-hei!"

"Hm?"

"Terima kasih... sudah menjaga ibuku..."

"Bukan masalah."

Kepalanya tertunduk. Asano berharap poninya lebih panjang sedikit lagi karena dia gagal menyembunyikan ujung-ujung bibirnya yang terlanjur naik. Tidak mau berlama-lama, segera saja dia melangkah pergi.

"ASANO!"

Kaki yang dipanggil terpaksa berhenti. Mulutnya memang tidak menyahut, tapi iris tajamnya jelas menyerukan 'APA?' yang sangat tersirat.

"Kau harus bangga karena aku akan memanggil namamu begitu, mulai hari ini dan juga seterusnya, Asano Gakushuu!" masih belum terpaut jauh, Isogai terlihat sangat berseri-seri.

"Hah? Tiga hari kemarin apa yang—"

Terputus. Asano menaikkan salah satu alisnya, terutama melihat sesuatu tidak biasa terpajang mencolok di seputaran leher lawan bicara.

Isogai salah tingkah menyadari ke mana fokus Asano tertaut. Rupanya rantai yang melingkar di area kerah gagal tersembunyi dengan rapi, buru-buru dia berusaha melepaskan benda tersebut.

"Eh... ahh... ini dari ayahmu. Kurasa... kau yang lebih pantas memakainya,"

"Itu milikmu." Asano menginterupsi cekatan. Tangannya diam-diam menyelip ke dalam saku celana, di mana sarung tangan rajutan hangat berharga miliknya tersembunyi, "Simpan saja. Kita sudah impas."

Butuh waktu hingga cemas di wajah ikemen berganti dengan senyum lebar.

"Terima kasih, Asano."

Terima kasih.

Sebuah kosakata penting yang dipelajari sang ketua Osis selama tiga hari singkat. Mungkin di akhir minggu kemudian, dia dan Isogai bisa bertukar momen penting lain sambil menikmati tumpukan kroket hangat.


(Side A) END

.

.

.

A/N:
Ngga kerasa udah hitungan bulan. Ya ampun, rasanya sulid bener ngais mood kalau mau apdet fic MC _(꒪ཀ꒪」∠)_

Btw ngga tau deh nyokap Asano emang udah ko'it apa belum, yang pasti bokap Isogai emang udah meninggal. Isogai aslinya juga punya dua adik, cewe dan cowo (semua bertunas pohon di atas kepala) tapi karena setting di sini AT, akhirnya sengaja di-skip biar fokusnya ngga melebar. Lagian niatnya cuma bikin fic drama ringan kok...

Yuk, ah! Sampe ketemu di chapter selanjutnya~
Selanjutnya; OTP... Ohohohuihuihuihehahohu (?)

R&R Maybe? C: