Entah kenapa sejak pertemuan Karma-Asano di halte itu, mereka jadi sering tatap muka di sekolah. Dan sialnya lagi bagi Karma, setiap dia bareng Asano pasti MaeIso selalu muncul. Kayaknya takdir beneran mau buat dia belok deh.

Jangan tanya juga kenapa Karma manggil mereka begitu. Kayak fujo yang ngeship pair humu memang, tapi memang lebih singkat. Berterimakasihlah pada otak Karma yang sudah menciptakan singkatan itu, agaknya dia punya bakat jadi fudan. Mungkin dia bakal collab bareng Sugino untuk buat doujin. Ah, abaikan yang terakhir itu.

.

.

.

Assassination Classroom ©Matsui Yusei

Shitteru ©undeuxtroisWaltz

Requested from SheraYuki

Warnings : Sho-ai, typos, bahasa campuran, sedikit humor, adanya bumbu romance, OOC, etc.

Rate : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Pair : AsaKaru(main), slight MaeIso, slight AsaIso, slight NagiKaru.

.

.

.

Shitteru

.

.

.

Friday, August 13, 20XX

Kelas 2-B, SMU Kunugigaoka

Suara pintu terbuka terdengar. Menampakkan seorang pemuda berambut jingga.

"Oh, Akabane. Apa yang kau lakukan sendirian di kelas sore-sore begini?" Tanya Asano saat dirinya melihat Karma yang masih berada di sekolah saat sudah tidak ada jam pelajaran lagi.

"Aku menunggu Nagisa. Niatnya sih kami ingin pulang bareng karena rumahnya searah denganku, tapi dia ada kelas tambahan. Jadi aku memutuskan untuk menunggunya." Jawab Karma sambil menoleh ke arah Asano.

"Begitu ya. Kukira kau ketiduran di kelas sampai tidak sadar kalau jam pelajaran sudah berakhir." Ejek Asano.

"Heh, aku tidak seperti itu, Asano-kun. Lagipula, kenapa kau tidak mengerjakan laporanmu di ruang OSIS dan malah ke kelasku?" Tanya Karma sambil menunjuk ke kertas laporan yang dibawa Asano.

"Terlalu banyak tumpukan kertas laporan di ruang OSIS dan juga kelas lainnya terlalu berisik." Balas Asano.

"Kukira kau mengerjakannya di sini karena rindu padaku." Karma melirik Asano yang duduk tak terlalu jauh dari tempatnya.

"Jangan berharap." Asano mendengus.

Suasana dalam kelas itu hening. Mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing. Sampai—

—kedua orang lelaki memasuki ruang kelas itu.

"A-ah, maaf kalau mengganggu. Aku hanya ingin mengambil catatanku yang ketinggalan." Ucap pemuda yang rambutnya dicurigai tumbuh rumput itu.

"Hn." Asano membalas singkat. Sedangkan Karma kelihatan tidak terlalu peduli.

"Hoi, cepatlah Isogai! Kita punya acara malam ini." Pemuda yang berada di samping Isogai itu mulai buka suara.

Isogai mulai memerah karena perkataan ambigu yang didengarnya. "Maehara-kun! Ja-jangan membuat pernyataan ambigu begitu, dasar!"

"Ahaha, kau manis kalau merona begitu, Isogai." Balas pemuda bernama Maehara itu.

Karma melihat Asano menggenggam pensilnya erat-erat dan hampir patah kalau saja ia tidak berkata, "Oi, kalau kalian sudah menyelesaikan urusan kalian cepatlah pergi. Bukankah ada banyak tempat untuk bermesraan selain di sini?" Karma menatap jengah ke arah kedua orang itu.

"Iya-iya, kami sudah selesai kok. Ayo Isogai." Balas Maehara sambil menarik pergelangan tangan Isogai keluar.

Hening sejenak saat mereka berdua pergi sebelum Karma bertanya, "Asano-kun, apa kau—masih menyukai Isogai?" Pertanyaan bodoh. Jawabannya sudah pasti 'iya' 'kan, lihat saja sikapnya tadi.

"Kau sudah tahu jawabannya, Akabane." Balas Asano dengan nada datar.

'Ah, memang sekali aku masih berharap.' Batin Karma.

"Kalau begitu kau harus berusaha, Asano-kun! Kalau tidak kau hanya akan diabaikan loh~" Karma berkata sambil tersenyum mengejek untuk menggoda Asano.

"Tch, aku tahu Akabane. Jangan mengguruiku, itu menyebalkan." Balas Asano, sedikit menggerutu.

"Ahahahahaha~ Kalau begitu berjuanglah A-sa-no-kun~" Ucap Karma seraya tertawa dan dibalas dengan death glare dari Asano.

"Aku akan selalu mendukungmu."

Ucapan Karma barusan memang terdengar seperti bisikan, tapi Asano dapat dengan jelas mendengarnya berhubung hanya ada mereka berdua di kelas saat ini.

Asano menolehkan kepalanya ke arah pemuda bersurai merah itu dan melihatnya menyunggingkan seulas senyuman. Bukan senyuman mengejek atau seringaian, tapi senyuman tulus yang diberikan pemuda itu seraya menatapnya lembut seolah berkata, 'Jangan Khawatir, Aku selalu ada di sini.' Pemandangan yang sungguh langka.

Mau tidak mau Asano tersenyum juga ke arah pemuda bersurai merah itu.

"Ya, Terima kasih, Karma."

Setelah adegan saling lempar senyum itu terjadi, mereka kembali mengerjakan pekerjaan masing-masing. Asano dengan kertas laporan OSISnya dan Karma hanya memandang ke luar jendela sambil menunggu Nagisa selesai mengikuti pelajaran tambahan.

'Heeeeh~ Padahalaku masih ingin berbicara dengannya, tapi sudahlah.' Batin Karma.

Ia kembali menatap ke luar jendela, pikirannya kembali memikirkan perkataannya tadi.

'Aku akan selalu mendukungmu? Heh, aku mengatakan hal seperti itu padanya. Benar-benar sebuah aku bilang, "Aku menyu—ah, tidak aku mencintaimu."Aku tidak berani mengatakannya, dan dia juga tidak menyadarinya. Ah, aku ini benar-benar—'

"—Naif"

"Hm? Kau mengatakan sesuatu, Akabane?" Gawat, sepertinya ia mengatakannya terlalu kuat.

Bahu Karma menegang sejenak lalu rileks kembali, sebelum menjawab, "O-oh, tidak. Aku hanya…hanya—sedang belajar melafalkan kosa kata Bahasa Inggris! Baru sampai knife sih, A-Ahahahaa~" Jawab Karma sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Jelas saja kalau itu sebuah kebohongan, tapi Asano tidak terlihat mempermasalahkannya.

"Hm, kurasa aku bisa membantumu saat pekerjaanku sudah selesai." Tawar Asano diiringi dengan tatapan lembut dan senyum ramahnya.

Karma yang melihat ini hanya dapat terdiam dan tak lama kemudian, dia merespon, "O-oh, K-kalau begitu, Mohon bantuannya ya!"

Setelah mengatakan hal itu dia tersenyum manis yang membuat Asano salah tingkah dan memerah.

"Ya.." Hanya itu yang dapat Asano katakan dan kembali berkutat pada lembar tugasnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Suasana kembali hening. Karma mulai mengutak-atik ponselnya untuk mengecek apa ada pesan masuk dari Nagisa. Tetapi dia tidak melihat tanda-tanda ada pesan masuk.

"Haaah~" Karma menghela napas pelan. 'Nagisa lama sekali, aku jadi mengantuk. Tidur sebentar tidak masalah kan?' Batin Karma yang kelihatannya sudah lelah fisik maupun jiwa.

Tak butuh waktu lama, pemuda bersurai merah itu sudah menjelajahi alam mimpi.

.

.

.

'Selesai juga!' Batin pemuda bersurai jingga itu.

"Hei, Akabane, aku sudah selesai mengerjakan laporanku. Apa kau masih mau kubantu de—" Asano menghentikan ucapannya saat melihat ke arah Karma yang sedang tertidur.

Asano mendekati Karma sambil bergumam, "Kurasa dia kelelahan." Lalu mengusap surai merah itu perlahan, mencoba untuk tidak membangunkannya.

Ia memutuskan menunggu Karma bangun dan mengambil kursi untuk duduk di sebelah Karma.

Tak lama kemudian erangan pelan terdengar dari pemuda bersurai merah erangan yang seperti 'itu' jangan berpikiran macam-macam, Asano tidak melakukan apapun pada Karma. Setidaknya belum.

Karma membuka matanya dan memandangi seluruh ruangan. "Aku..ada di mana?"

Asano mengerjap lalu berkata, "Oh, kau sudah bangun? Selamat datang di neraka, Akabane Karma! Kau telah menjadi tamu spesial hari ini."

Ayolah, Asano tahu kalau Karma hanya berpura-pura. Ia hanya ingin mengikuti permainan Karma.

"Waah~ Jadi ini neraka? Dan lagi, aku jadi tamu spesial, senangnyaaa—" Karma memasang wajah bahagia sebelum melanjutkan "—tch, mana mungkin 'kan?" kemudian ia menatap ke arah orang yang telah 'menyambutnya' tadi.

"Aku hanya mengikuti permainanmu, Akabane." Balas Asano sambil menyeringai jahil.

"Haaah, sudahlah. Ngomong-ngomong Asano-kun, apa yang kau lakukan di sini—di sebelahku tepatnya? Bukankah kau harus menyelesaikan laporan OSISmu?"

"Sudah kuselesaikan." Balas Asano singkat.

"…Lalu kenapa kau masih ada di sini?" Tanya Karma lagi.

"Aku menunggumu bangun, kau tidak mau terkunci sendirian di dalam kelas 'kan?" Tanya Asano balik.

Karma terdiam sejenak untuk mencerna ucapan Asano. Kemudian ia merespon,

"Hooo~ Jadi begitu.. Maksudmu akan lebih baik kalau aku terkunci di sini bersamamu. Begitu, Asano-kun?" Karma berniat menggoda Asano.

Asano terkekeh pelan, lalu menjawab "Wah, wah. Idemu bagus juga, Akabane. Apa kau menginginkannya, hm? Aku bisa mengabulkan permintaanmu jika kau benar-benar menginginkannya."

Checkmate! Karma speechless. Bukannya berhasil menggoda Asano, pemuda beriris violet itu malah menyetujui hal yang diucapkan Karma dan parahnya, menawarkan kesempatan itu padanya.

Karma memalingkan wajahnya, berharap Asano tidak melihat wajahnya merona. Dia jadi sedikit menyesal karena berniat menggoda Asano tadi.

"Ahahahahaha! Seharusnya kau lihat wajahmu sekarang Karma, aku sampai tidak bisa membedakan yang mana rambut dan wajahmu." Asano malah menertawakan Karma, sepertinya dia menikmati menggoda pemuda ini.

"Sialan!" Ucap Karma seraya mengayunkan tangannya untuk memukul Asano dan terlambat—

—Asano lebih cepat. Asano menggenggam pergelangan tangan Karma dan mendekatkan wajahnya. "Tapi perkataanku sebelumnya cukup membuatmu berdebar 'kan, Karma-chan~" Balas Asano semakin memajukan wajahnya.

Demi apa Karma mendengar namanya diberi imbuhan –chan? Dan apalagi yang pemuda di hadapannya ini katakan? Wajahnya juga terlalu dekat! Karma yakin wajahnya sudah memerah sepenuhnya kali ini.

Drrt..Drrt..

Karma memajukan kepalanya sampai keningnya bertabrakan dengan kening Asano dan segera menjawab panggilan dihandphonenya.

"H-halo? Iya. Eh, pulang duluan? Kau sendiri bagaimana? O-oh, baiklah. Jaa ne, Nagisa-kun." Tutup Karma.

Setelah percakapannya dengan Nagisa selesai, Karma melirik ke arah Asano—dan mendapati Asano masih memasang seringai menyebalkannya. Ingin rasanya Karma melempar wajah tampan Asano dengan sesuatu untuk menghilangkan seringaiannya.

Tapi alih-alih melempar wajah Asano, Karma malah bertanya dengan galaknya, "Apa?!"

"Fuh, jangan galak begitu Karma-chan~ nanti manisnya hilang loh…" Ucap Asano sambil mengedipkan sebelah matanya.

Dafuq, Karma malah ingin mencakar wajah Asano sekarang. Kesannya Karma malah seperti wanita yang sedang pms. Melihat ekspresi Karma, Asano mati-matian menahan diri untuk tidak tertawa.

Asano akhirnya bisa mengendalikan dirinya dan bertanya, "Jadi, kau mau pulang bersama atau tidak?"

"Tch, tidak." Balas Karma ketus.

"Hoo~ Jadi kau benar-benar berharap kalau kita berdua terkunci di dalam kelas, hm? Baiklah, tidak masalah buatku kalau terkunci berdua bersamamu di sini, semalaman." Asano memasang seringai iblisnya yang entah kenapa membuat bulu kuduk Karma meremang.

"Tidak, Aku berubah pikiran. Ayo pulang." Ucap Karma sambil membereskan barang-barangnya lalu berjalan keluar. Asano mengikutinya masih dengan seringai terpampang jelas di wajahnya.

.

.

.

"Oi, Akabane, mau kuantar pulang?" Tanya Asano saat mereka sudah berada di luar gerbang sekolah.

"Tidak, terimakasih. Kau tahu 'kan kalau aku bukan gadis yang harus diantar pulang saat sudah malam? Lagipula aku bisa mengatasi jika ada sekumpulan berandalan yang menggangguku." Jawab Karma sambil menatap Asano datar.

"Fuh, Aku tidak berniat melindungimu dari sekumpulan berandalan, Karma-chan~. Aku tahu kalau kau bisa mengatasi mereka sendirian. Tapi—"

"—Kau itu manis, jadi ada kemungkinan kau diincar oleh sekumpulan om-om pedo di jalan. Lagipula kau juga tsundere, sifatmu yang seperti itu bisa memancing mereka mendekatimu." Asano menyeringai ke arah Karma.

"Heh, jadi kau akhirnya menyadari kalau aku man—tunggu dulu," Acara bernarsis ria Karma terhenti. Ia mencerna apa yang dikatakan Asano tadi. Sejurus kemudian wajahnya merona.

"H-haaaah?! A-apa maksudmu mengatakan aku manis, hah?! A-aku itu tampan, bukan manis! La-lagipula, A-aku tidak tsundere! K-kau—ukhh.." Karma kehilangan kata-kata saat dia menyadari bahwa Asano benar, dia tsundere. Sekarang wajahnya sudah mulai mengeluarkan asap.

"Ahahahahaha! Kau jadi manis sekali kalau merona seperti itu, aku jadi ingin memakanmu." Asano menyeringai tampan.

"Tch, berisik!" Balas Karma ketus. Sepertinya tsundere nya kambuh lagi.

"Kuantar kau pulang." Ucap—ralat, perintah Asano.

"Terserah."

Perjalanan terasa lama padahal rumah Karma tidak terlalu perjalanan kali ini serasa perjalanan mendaki gunung turuni lembah, kenapa jadi opening anime fandom sebelah? Yang jelas waktu yang sebentar terasa lama, bagi Karma.

.

.

.

Keesokan harinya, Karma dikejutkan oleh berita tentang Asano yang diganggu oleh om-om pedo—eh. Maksudnya berita tentang Asano yang berangkat bareng Isogai. Mampus, Karma ngiri. Masalahnya ya, Asano itu bahkan sampai nganter Isogai ke kelasnya. Gimana gak iri coba?

Karma mempercepat langkahnya menuju kelas berharap bahwa berita itu hanyalah rumor belaka, Cuma ilusi semata. Namun sepertinya ia berharap terlalu banyak, kenyataan menamparnya tepat di wajah. Oh, sepertinya kenyataan benar-benar tidak sayang nyawa—bukan itu. Sesampainya di kelas, Karma melihat mereka. Dua orang yang sedang digosipkan, sedang bercengkrama tanpa mengetahui bahwa mereka sedang menjadi trending topic di sekolah.

Karma mematung sejenak di pintu masuk kelas, kemudian segera menaruh tas dan melengos pergi. Kemanapun tidak masalah, yang penting ia ingin menjauhi kelasnya, lebih tepatnya kedua orang yang belum menyadari kedatangannya tadi.

Kakinya terus berjalan tak tentu arah, kemudian berhenti di taman belakang sekolah. Sepertinya ia akan menenangkan dirinya di sini untuk beberapa saat. Lagipula taman ini sepi, jadi tidak akan ada yang mengganggunya.

Karma berjalan gontai ke bawah sebuah pohon dan beristirahat di sana. Jangan berharap ada hembusan angin yang akan menerpa wajah atau semacamnya. Sekarang cuacanya panas walaupun masih pagi, bisa terhindar dari sinar matahari saja sudah syukur.

Karma memajamkan matanya, pikirannya sekarang sudah dipenuhi oleh banyak pertanyan yang tidak ia ketahui jawabannya. IQnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi kalau itu menyangkut soal Asano. Yah, seseorang pernah berkata bahwa Holmes pun tidak akan mengetahui perasaan orang yang disukainya. Sepertinya itu benar dan Karma sekarang clueless.

Tidak bisakah kau berpaling darinya barang sebentar saja Asano-kun?

Tidakkah kau ingin memberi kesempatan padaku barang hanya sekali?

'Hey, Asano-kun lihat ke sini! Aku akan selalu berada di sisimu, jadi jangan khawatir! Karena aku—mencintaimu' Perlukah aku berkata seperti itu kepadamu agar kau bisa melihatku, menyadariku? Heh, bicara apa aku ini? Kalau aku berkata seperti itu kau pasti akan langsung tertawa dan mulai mengeluarkan kata-kata sarkastis. Aku tidak ingin itu terjadi. Kau mungkin hanya menganggapnya sebagai candaan, tapi aku bisa terluka karena itu Asano-kun.

Aku tahu perasaanku tidak mungkin terbalas karena—kau hanya menyukainya. Haruskah aku menyerah?

'Kau ingin menyerah begitu saja?' Aku bisa mendengar suara dari siluet donat bertabur wi—maksudku, suara hatiku yang bertanya apa aku ingin menyerah begitu saja.

Tch, sebenarnya aku hanya perlu mengabaikan pertanyannya karena dia ditaburi wi—gaaaah!

Yang pasti aku sebenarnya tidak ingin menyerah, hanya saja…tetap berusaha walaupun kau tahu bahwa di hasilnya hanya ada kegagalan itu menyakitkan. Tapi—

—aku tahu aku egois, tapi masih bolehkah aku berharap? Ah, mungkin itu terlalu muluk. Masih bisa dekat denganmu saja aku sudah bersyukur.

Sepanjang hari itu, Karma membolos pelajaran untuk sekedar menenangkan diri hingga bel pulang berbunyi. Persetan dengan tasnya yang ia tinggalkan di kelas, toh tidak ada yang berharga juga. Handphone dan dompetnya sudah dibawa, paling isi tasnya hanya buku pelajaran. Hilangpun Karma tidak peduli.

'Ini memuakkan, aku ingin pulang.' Batin Karma.

Oh, baru kali ini seorang Akabane Karma benar-benar putus asa soal cinta.

.

.

.

Pulang sekolah

'Tch, ada apa denganku haah?! Ini membingungkan. Aku gak ngerti sama sekaliii' inner Karma mulai depresi.

'Ini menyebalkan, dadaku terasa sakit. Tch, dasar lipan sialan! Kalau dia suka sama Isogai jangan deket-dekat napa, dasar tukang PHP!' Oh, dia baper ternyata. Tapi itu wajar sih, Asano memang suka php, Ren bahkan pernah jadi korban. Ah, ya. Sebelum ketemu Karma, Asano dekat dengan Ren dan begitulah, Asano ngebuat Ren baper dan Ren berakhir di php dan malah jadian dengan Sugino.

"Arrgghh! Kuso! Lipan si—"

"Ahahahaha~ Asano-kun, tadi itu benar-benar menyenangkan!"

Acara mengumpat Karma mendadak terhenti karena mendengar suara seseorang yang ia kenal memanggil nama—calon gebetannya—di antara kalimat ambigu yang di ucapkan. Karma akhirnya niat menguping.

"Aku jadi ingin lagi. Ne, kapan-kapan ayo lakukan lagi ya, Asano-kun." Ucap seseorang itu dengan nada yang—bagaimana cara mengatakannya ya—ambigu. Karma merasakan kakinya melemas, tubuhnya juga bergetar entah menahan marah atau tangis. 'Ternyata mereka sudah sejauh itu. A-aku tidak menyangka.'

"Aku tidak menyangka kalau matematika bisa semenarik itu. Kapan-kapan ajari aku lagi ya!"

"Eh?"

Sepertinya pikiranmu terlalu berlebihan Karma. Orang itu cuma minta diajari matematika kok, lagipula author belum ada niat untuk menaikkan rate.

Entah Karma harus kesal atau lega karena dia salah paham, tapi melihat—calon gebetannya—berjalan bersama orang lain itu menyakitkan. Hei, andai saja itu Karma. Andai saja dia yang dijemput oleh Asano, andai saja dia yang sedang berada di samping Asano sekarang, andai saja dia yang berpacaran dengan Maehara agar Asano cemburu—Ah, sepertinya yang terakhir tidak.

Tapi yang pasti Karma iri.

"Oh, sampai di sini saja kau mengantarku Asano-kun. Aku ada urusan sebentar." Ucap Isogai.

"Kau yakin tidak ingin ku antar sampai rumah?" Tanya Asano.

Isogai menggeleng sebagai jawaban, kemudian melambaikan tangan ke Asano sembari berjalan pergi. Asano membalas lambaian tangan Isogai, matanya terus menatap punggung Isogai yang semakin menjauh hingga memasuki gang. Ia terdiam sejenak di tempatnya sebelum—

"Sampai kapan kau akan berdiri di situ? Hei, stalker-san?"

—menegur sesosok manusia yang berada tepat di balik sebuah bangunan di sampingnya.

.

.

.

Balasan review guest :

Hikari : Yah, asupan itu memang harus dibagi-bagi 8"D terima kasih juga telah mereview

Onozuka Mikado : Hiksu, iya, WB itu penuh cinta/nak. Ini sudah dilanjut~

NasFajrin : Ini sudah diupdate, maaf karena lama 8")

A/N :

Terima kasih untuk review, fav dan follownya di chap pertama 8")

Emang author tukang php, maunya update cepet tapi kuota abis 8")) giliran ada kuota gabisa update karena ikut st 8")

Akhirnya ya gini, updatenya pas udah masuk sekolah/hiksu

Saya tau ini aneh, tapi ya—sudahlah. Review bila berkenan 8"))