(Hinata's POV)
Apa yang bisa kulakukan sekarang? Menyapanya? Bersikap biasa saja? Pergi dan seolah tidak terjadi apa-apa? Uh ... aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Entah apakah aku harus senang atau ... Oh Tuhan, saat ini aku hanya merasa kaget luar biasa!
Dan lagi, kenapa dia diam saja? Apa dia tidak mau memulai menyapaku dulu? Apakah prinsip Ladies First berlaku saat situasi seperti ini? Ah, jangan. Aku terlalu takut untuk memulainya.
Aku benar-benar terpaku di tempat dan dia terus menatapku dengan mata birunya yang membulat. Aku rasa dia juga menegang sepertiku. Dan ketika ketegangannya mengendur, dia menatapku dengan ramah.
"Hei, kau belum pulang, Hinata?" seperti biasa, dia lalu melebarkan senyumannya.
Ketakutanku menghilang di hisap oleh senyuman itu. Bagaikan lubang hitam saja. Kuberanikan melangkah maju lebih dekat. Mataku terus tertuju pada biru itu. Kilasan balik semasa kecilku yang memperjelas mata itu, sedang berputar. Aku ingat ... aku ingat mata itu, aku ingat senyuman itu, warna surai itu juga.
Aku ingat semuanya ...
~o~
Fluent and Lonely © Chiharu Kazawa
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Naruto and Hinata
.
Romance and Drama
~o~
Kembali ke 10 tahun yang lalu ...
Hari-hari telah aku lewati bersama Ayah dan pelatihan musiknya. Dari mulai siang hingga sore, selama 5 jam, aku dituntut selalu duduk di bangku tak berpunggung ini. Pertama kali aku duduk, bangku ini sangat nyaman dan sejuk, dan sekarang terasa sangat panas. Di hadapan alat musik yang telah termakan usia puluhan tahun ini, aku menekan-nekan tuts-tuts balok yang aku tidak tahu apa nama notnya meski Ayah telah mengajariku dari awal. Dan ratusan kali aku telah berbuat kesalahan. Otakku seakan menolak semua ajaran musik yang telah Ayah berikan padaku. Tapi aku tidak menyerah. Aku terus mendengarkan ajaran dan nasihat dengan sangat serius dan sesekali aku mendengar Ayah menyelipkan harapannya padaku untuk mewarisi bakatnya sebagai pianis dan menyuarakan motivasinya. Ayah, aku akan melakukan yang terbaik untuk Ayah.
Di saat waktu sarapan tiba, aku terus memikirkan pemain biola itu. Ayah bilang kalau pemain biola itu tidak bisa datang ke rumah karena ada urusan keluarganya yang mengharuskan dia pergi keluar kota. Aku berusaha mengerti kondisinya. Berhari-hari aku terus berlatih meski geraman dan hardikan Ayah menjadi makanan sehari-hariku karena aku tidak kunjung bermain satu pun bait lagu. Maka berhari-hari juga aku menunggu kedatangan pemain biola itu yang sukses mencuri hatiku dengan permainan indahnya dan aku terus berharap bisa bermain musik bersama pemain biola itu jika dia telah datang.
Tapi ... satu bulan kemudian ... di jam latihan yang sama, Ayah menggebrak piano dengan tangan besinya. Suara gebrakkan Ayah seiring pekikkan kencang piano sangat mengagetkanku. Aku bergemetar hebat.
Mata Ayah yang berwarna senada denganku, menyalang tajam bak elang yang ingin menangkap mangsanya. Aku sangat takut. Kepalaku terus tertunduk, meremas rok hijau selututku, menerka-nerka apa yang membuat Ayahku marah.
"Kau payah, Hinata. Kau payah." desis pelan Ayahku menusuk hingga menebus ulu hatiku. Dari suaranya, aku tahu, Ayahku menahan emosinya yang sedang mendidih.
Aku angkat kepalaku perlahan, "Ayah ..."
"Jangan panggil aku Ayah."
Deg!
Air mataku tak bisa di bendung lagi. Jatuhlah semua, meleleh membasahi pipiku yang memerah. Ingin kusuarakan isakkanku, tetapi aku takut hal itu akan membuat emosi Ayah menjadi-jadi. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Rasa perih di bawah bibirku melanda. Walaupun begitu, aku terus menggigitnya hingga cairan merah itu tak henti-hentinya mengalir. Aku tidak peduli rasa asin air mata dan darah bercampur. Aku sangat takut dan sangat sedih.
Ayah menatap datar kondisiku saat ini. "Ayah terus berusaha menjadikanmu apa yang Ayah dan kau inginkan. Menjadi pianis. Ayah berpikir, usaha apa yang Ayah tidak lakukan untukmu agar kau bisa, walau hanya memainkan delapan not dasar atau satu bait lagu. Tapi apa yang kau lakukan, kau selalu melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Selama satu bulan ini, Ayah muak, Hinata. Muak." Ayah mencengkram kedua lenganku erat dan isak tangisku pun akhirnya meledak.
"Ayah berpikir tentang dirimu, apa yang menghambatmu dalam bermusik. Dan apa yang menjadi ketakutan Ayah terjadi," Ayah menggantungkan kalimatnya.
"Kau buta nada. Buta nada. Kau tidak terlahir untuk musik."
Manik amethyst milikku membulat. Isakku berhenti. Badanku lemas seiring hempasan tangan Ayah yang lepas dari lenganku.
Buta nada? Apa itu buta nada? Apa itu artinya aku tidak akan bisa memahami nada-nada musik untuk selamanya, begitu kah Ayah? Tapi aku tidak bisa menyuarakannya. Kepalaku malah terpaku pada perkataan terakhir Ayah.
"... Aku tidak terlahir untuk musik?" tanyaku lirih. Dan selanjutnya, aku menangis keras di ikuti Ayah yang keluar dari ruangan dan menutup pintunya, tanpa menoleh sedikitpun padaku.
.
Aku ... tetaplah aku yang dulu. Terus mengurung di kamar, meringkuk di sudut kamar sambil berpikir apa yang selama ini terjadi padaku. Bukan Ayah yang mengurungku, tetapi aku lah yang mengurung diriku sendiri, aku membatasi interaksi dengan semua orang tak terkecuali Ayahku. Dan juga kucingku, Toro, mungkin tidak sepenuhnya aku menjauhi Toro. Aku masih sangat membutuhkan kucing belang hitam dan jingga itu.
Buta nada, apa itu penyakit? kelainan? sakit jiwa? Heh, aku ingin tahu, apa buta nada bisa di sembuhkan ...? Tapi teringat kata-kata Ayah bahwa aku tidak terlahir untuk musik, memberiku asumsi bahwa aku tidak bisa bermain musik sampai hembusan nafas terakhirku.
Aku tegakkan kepalaku ke atas. Menatap sendu langit-langit kamar. Entah kenapa, sesuatu dariku ada yang menghilang. Dan aku tahu musik adalah bagian jiwaku yang hilang kini. Bakat musik Ayahku seharusnya mengalir dalam darahku, tapi kenapa? Kenapa Tuhan memberiku cobaan seberat ini?
Aku benar-benar ingin tahu asal muasal buta nada itu datang padaku. Apakah bermula saat aku jatuh dari lantai tiga tempo lalu? Tidak. Jangan ... jangan salahkan kejadian itu. Sungguh, kupikir, cacar apiku sembuh mungkin karena kejadian itu. Tapi aku tidak bisa memastikannya juga.
Lupakan. Ini semua sudah terjadi, tidak perlu lagi mencari akar permasalahannya. Kepalaku sangat pusing dan terasa berat. Maka aku pun meringkuk ke atas kasur dan menenggelamkanku seluruhnya dalam selimut. Aku sudah pasrah, aku putus asa dengan keadaanku.
Ku dengar Ayah berbicara dengan seseorang dari luar kamarku. Samar-samar Ayah menyebut namaku di selingi helaan nafasnya yang gusar lalu Ayah membicarakan masalahku baru-baru ini, kemudian helaan nafas darinya terdengar lagi. Ah, kurasa Ayah sudah menyerah dan tidak menganggapku sebagai anaknya. Huhu ... Ayah ...
Memikirkan itu semua membuatku lelah sekali. Aku ingin tidur. Hm? Dimana Toro?
Aku tidak bisa tidur kalau aku tidak memeluknya. Mungkin agak kejam kalau aku menjadikan Toro hewan peliharaanku juga sebagai boneka tidurku, itu karena selama ini hanya Toro yang menemaniku, dan juga tampaknya Toro tidak keberatan.
Dimana dia? Aku mencarinya di bawah ranjang, kolong meja, di kasur kecilnya, di mana-mana, semua sudut-sudut kamar tapi aku tidak menemukannya. Apa dia sedang dimandikan atau sedang bermain di luar?
Sekejap, aku menoleh ke arah pintu. Itu suara Toro, dia ada di luar kamar. Dia terus mengeong. Apa yang dia lakukan?
"Toro..." aku panggil dia dari dalam kamar. Aku berjalan hendak membuka pintu namun terhenti mendengar ketukan pintu di depanku.
"Hinata, dia sudah datang." itu suara Ayahku.
Hm? Dia? Dia siapa yang dimaksud Ayah?
Lalu alunan biola melengking terdengar, kurasa aku tahu jawabannya. Oh Tuhan. D-Dia sudah kembali? Dia sudah kembali!
Bila kalian mengira aku sangat senang, sebenarnya tidak, aku sangat ... takut dan malu. Aku berlari memasuki lemari, aku terduduk ketakutan, kedua lututku bergemetar. Berharap suara itu terhalangi oleh lapisan kayu lemariku agar suara itu tidak masuk telingaku.
"Hinata!"
Dug! Dug! Dug!
Ayah terus memanggilku dan menggedor pintu kamarku. Maaf Ayah, tapi aku tidak akan keluar sebelum suara biola itu berhenti dan violinist itu pergi dari rumah ini. Tapi harapan tetaplah harapan, suara itu terus melengking keras, indah tapi racun.
Teringat dengan kebutaan nadaku. Aku tidak bisa menemuinya, aku sangat malu. Dan yang terburuknya, tampaknya Ayah sudah menceritakan tentang masalahku padanya. Apa yang akan di pikirkannya kalau anak mantan pianis terkenal itu buta nada? Apakah seperti, jadi dia seperti ini? Atau apapun ... Ah, Ayahku saja malu menatapku apalagi orang lain terhadapku. Kira-kira seperti apa perlakuan dia terhadapku nanti? Memikirkannya membuatku takut.
Panggilan dan gedoran itu makin memekakkan telingaku. "Tidak Ayah! Aku tidak mau bertemu dengannya! Pulangkan saja dia!" teriakku dari dalam lemari. Entahlah apakah Ayahku dengar atau tidak, kepalaku sangat pusing. Aku ingin segera menghentikan permainan biola itu.
Hening. Apa yang terjadi? Apakah orang itu menyerah dan pulang, dan Ayah pergi dari sana? Suara ketukan pelan menarik dugaanku kembali.
"Hinata ..." Aku sedikit membulatkan mataku. Itu bukan suara Ayahku jadi itukah ... suara pemain biola itu? Jadi dia laki-laki ...?
Perlahan, aku keluar dari lemari tapi tidak dengan tubuhku hanya kepalaku saja yang menyembul keluar. Tersadar kalau aku memang sangat penasaran dengan sosok pemain biola itu. Meski ada sedikit keberanian ingin keluar tapi rasa takut dan malu lebih mendominasi.
"... aku sudah datang ..." lanjutnya, kali ini dengan suara kekehannya. Aku memang ingin menemuinya tapi ...
Aku tidak bisa melawan ketakutanku ini.
.
Berjam-jam, violinist itu terus menyuarakan biolanya. Aku masih terduduk bersandar di dalam lemari. Tertidur. Menunggu dia pergi, cukup membuatku mengantuk bahkan tanpa Toro disampingku. Hebat sekali. Dan aku terbangun di tengah malam harinya. Disaat perutku melilit karena lapar dan Toro yang terus mengeong di luar kamarku, tampaknya dia meminta masuk. Oh, Toro-ku yang malang. Dan setelah aku menghampiri Toro dan mengambil jatah makan malamku diam-diam, aku tidak bisa tertidur meski melihat Toro tidur di pangkuanku terlihat menggoda untuk memejamkan mata. Malam itu terasa sangat panjang dan sunyi. Tidak ada suara binatang malam berbunyi bahkan dengkuran Toro pun tidak terdengar. Oh, sunyi sekali.
.
Esok harinya, lusanya lalu berganti berminggu-minggu, pemain biola itu tidak menyerah kembali ke rumah dan di balik sekat pintuku, ia memainkan lagu yang sama seperti awal aku mendengarnya dan ajakannya kepadaku selalu sama seperti ...
"Hinata, ayo kita bermain bersama-sama di luar,"
"Keluarlah, kau tertarik dengan musik, kan? Aku akan mengajarimu bermain biola,"
"Kau tahu, Hinata, dirumahku sering didatangi banyak kucing, bila kau datang kerumahku dengan Toro, hatimu akan senang dan Toro akan banyak memiliki teman,"
Dan banyak lagi. Aku tidak bisa mengingat semuanya.
.
Sudah satu bulan terlewati, pemain biola itu tetap bersikukuh untuk bermain untukku. Penolakan dingin seolah tidak menyurutkan keteguhan hatinya untuk bertemu denganku. Tapi aku tidak peduli. Kuharap, dengan sifatku seperti ini, bisa membuatnya menyerah yang berusaha ingin bertemu.
Di siang hari, Ayah berkata padaku di balik pintu kamar, kalau hatiku telah berubah menjadi batu. Keras. Aku egois, tidak mau memikirkan dan mendengarkan orang lain. Begitukah pemikiran Ayahku kepadaku selama ini? Tidak Ayah, aku hanya ... Ah, aku merasa seperti anak yang durhaka. Oh Tuhan ...
Maka saat itu, aku berniat meminta maaf pada Ayah serta menceritakan penyebab ketakutanku bertemu dengannya beberapa minggu yang lalu dan aku pun berusaha menguatkan hatiku untuk bertemu dengan pemain biola itu. Ayahku hanya terdiam dan aku tidak berhasil menguatkan hatiku secara optimal saat bertemu dengannya. Karena aku sibuk dengan pikiranku sendiri tentang Ayah yang selama ini terus bersikap dingin padaku, seperti sekarang, hingga aku tidak begitu menyadari jam rutinnya mendatangi rumah Ayahku telah datang. Meski aku merasakan kehadirannya di belakangku, itu sudah membuat nyaliku ciut. Nyaliku lagi-lagi di uji saat violinist itu berada di sampingku, ku lirik lewat ekor mataku ke arahnya takut-takut, sebuah senyuman hangat menyambutku pertama kali dan yang membuatku terkejut, tinggi pemain biola itu setara denganku! Mungkinkah dia seumuran denganku?
Tanpa menoleh sedikitpun, aku kembali masuk ke kamar, meringkuk memeluk lutut di pojok kamar. Aku sangat takut dan malu. Mengapa perasaan ini sulit dihilangkan?
Suara setapak demi setapak mendekatiku. Ah! Aku lupa mengunci pintunya. Aku semakin menenggelamkan wajahku diantara lututku. Seluruh tubuhku bergemetar saat kurasakan seseorang duduk di sampingku.
"Hai, Hinata. Ini adalah pertama kalinya aku bertemu denganmu secara langsung. Selama ini Ayahmu memberiku foto-fotomu, tapi melihatmu secara langsung seperti ini membuatku senang,"
"..."
"Ayahmu banyak cerita tentangmu dan aku prihatin atas penderitaan yang terus kau alami, dulu dan sekarang,"
"..."
"Tapi tak apa, aku dan Ayahmu ada disini, kami akan selalu melindungimu,"
Mulutku terasa berat di gerakkan. Aku terus terdiam bisu mendengarkan ucapannya. Meski dia mulai menceritakan tentang musik sampai masa-masa mainnya yang menurutku sedikit lucu dan aku juga bisa mengetahui pemain biola ini banyak bicara dan ceroboh. Tapi aku tetap bergeming.
Terdengar suara resleting terbuka dan suara lengking khas biola berbunyi sebentar. Ah ... dia akan mulai bermain kah?
"Hinata, kau mau dengar lagu baruku, aku khususkan ini un-"
"PERGI!"
Nafasku megap-megap. Tidak percaya aku berteriak keras, ini tidak sepertiku. Air mataku menggenang di pelupuk mata. Entah kenapa, rasanya aku ingin menangis.
"Hinata ...?" aku tidak tahu seperti apa ekspresinya sekarang tapi didengar dari suaranya, dia juga tidak percaya aku berteriak barusan.
Aku menunduk dalam, membiarkan air mataku jatuh. "Aku tidak suka musik. Aku benci musik. Aku membencimu. Pergi!" itu bohong. Itu bohong ...
Mengapa semudah itu aku mengatakannya? Aku ... aku ... hanya ...
Greb!
Mataku membulat. Kepalaku di tarik ke belakang lalu sebuah rengkuhan dari belakang di sekeliling leherku sangat mengejutkanku.
Helaian rambut pirang jatuh dan menutupi sebagian mataku. Perkiraanku, orang ini lebih tinggi dariku. Dadaku sesak ketika rengkuhan itu semakin mengerat dan lebih dalam masuk hingga bisa kurasakan punggungku bersentuhan dengan badannya. Hangat.
"... sesuai keinginanmu, aku akan pergi. Tapi asal kau tahu Hinata, aku mencintaimu dan aku tetap menyimpan rasa ini, tidak peduli kalau kau masih membenciku, karena aku yakin kita akan bertemu lagi..."
Dia ... apa? Cinta? Bahkan aku belum mengenalnya dan dia juga belum mengenalku sepenuhnya. Cinta? Apa dia yakin perasaannya itu cinta? Benarkah dia mencintaiku? Menerima segala kekuranganku terutama kebutaan nadaku? Sepertinya dia sedang bercanda. Maka aku pun tepis jauh-jauh pernyataan yang kurasa terlalu awal untuk aku mengerti.
Kali ini aku harus berusaha menepis rasa takut ini. Sedikit, aku menggerakkan kepalaku ke belakang untuk melihatnya. Biru, itu adalah pertama kali yang aku lihat. Biru itu teduh. Tidak pernah aku lihat mata sesejuk itu. Dan detik itu, aku menemukan hal yang aku sukai selain musik.
.
.
.
10 tahun kemudian di dalam ruang kelas X-A
Pelan namun pasti aku mendekatinya. Tidak ada rasa takut, tidak ada keraguan, yang ada hanya keyakinan diri. Meyakinkan diriku, Naruto adalah seorang violinist yang sangat aku rindukan sekaligus aku takuti saat aku masih kecil.
Dia sangat mirip dengannya! Aku tidak salah kan? tidak salah lagi, aku yakin, Naruto adalah violinist itu!
Kepalaku berusaha merancang pertanyaan-pertanyaan yang akan aku ajukan padanya. Dan, bagaimana pun aku harus siap mengatasi rasa takutku yang mungkin akan datang tiba-tiba.
Langkahku terhenti saat Naruto bergerak, menyimpan biolanya ke dalam tas yang berbentuk sama dengan biolanya di atas meja, tepat di belakangnya.
"Kau mendengarnya, Hinata? Bagaimana menurutmu? Bagus kah?" tanyanya beruntut dengan suara yang datar. Kulihat peluh keringat membasahi wajahnya. Mengapa dia berkeringat, bermain biola tidaklah banyak menguras keringat.
"Naru ..."
"Oh, ya, ngomong-ngomong, kenapa kau belum pulang? Apa ada barang milikmu yang tertinggal disini?" dengan senyum yang menurutku agak aneh dan kepala yang celingak-celinguk mencari barang milikku yang ketinggalan-sebenarnya tidak ada-, dia tidak memberiku kesempatan menjawab pertanyaannya atau berbicara. Sebenarnya kenapa dia ...? Dia kelihatan ketakutan.
Aku baru saja ingin membuka suara namun aku urung karena suara helaan nafas keras terdengar darinya, dia benar-benar tidak ingin aku berbicara.
"Hah ... sekolah sedikit mengerikan saat sepi, tapi aku beruntung bertemu denganmu disini, aku jadi tidak merasa sendiri," alisku bertaut, pembicaraannya semakin kemana-mana tidak jelas.
"Dan-"
"Naruto-san, seorang violinist yang sering memainkan lagunya di rumahku saat aku kecil, itukah kau?" tanyaku cepat.
Naruto terdiam. Aku menunggunya menjawab. Ugh, kenapa dadaku berdebar-debar? Oke, mungkin karena situasi seperti ini sering terjadi di opera sabun yang sering Ayame-san tonton dan ketika salah satu adegan itu terjadi padaku sekarang, membuatku merasa seperti tokoh utama yang sedang membongkar rahasia siapa ibu kandung yang sebenarnya di opera sabun itu. Lupakan.
Aku sangat yakin kalau Naruto adalah orang itu. Iramanya, ritmenya, sangat berbeda dengan lagu aslinya dan memiliki improvisasi khas yang sangat mirip dengan permainan orang itu. Aku masih ingat sangat jelas. Aku sangat merindukan orang itu tapi aku juga takut bila berhadapan dengannya. Bila benar orang itu adalah Naruto, maka aku akan memeluknya dan berkata, aku tidak takut lagi kepadamu dan aku tidak membencimu. Tunggu ... apa? Mungkin ini karena aku sangat menantikan jawaban Naruto, hingga aku berpikir yang tidak-tidak. Ohhh... aku sangat gemas, mengapa Naruto tidak juga bersuara?! Mau sampai kapan dia pura-pura bisu?
"Apa itu benar?"
"Bukan." dengan muka yang datar, Naruto menjawabnya. Bukan? Aku pasti salah dengar.
Aku condongkan telinga kiriku di hadapannya dan meletakkan telapak tangan kiriku di bawah telinga, "Maaf, apa tadi?"
Naruto mengerling matanya ke samping, "Bukan, itu bukan aku." Lalu tatapannya beralih kepadaku, "Aku tidak pernah bermain biola di rumahmu, rumah besar Hyuuga."
Dahiku berkedut, "Benarkah?" tanyaku intimidasi.
"Ya!" jawabnya mantap, diakhiri senyumnya yang melebar. Tidak mungkin, padahal ciri-ciri violinist itu sangat mendekati Naruto. Aku sangat yakin!
"Naruto-san, ka-"
"Maafkan aku, Hinata, tapi aku harus pergi. Sampai jumpa," ucapnya seraya menggendong tas gendongnya dan menenteng tas biolanya, berlari pelan mendahuluiku.
"Tunggu, Naruto-san!"
Bam! Pintu kelas pun tertutup.
Aku terlalu lamban mencegahnya tapi aku tidak akan membiarkannya kabur sebelum dia mengatakan yang sejujurnya bahwa dia adalah violinist itu! Dengan sekuat tenaga aku kembali membuka pintu kelas.
"Naruto-san!" teriakanku menggema di seluruh sudut koridor. Kulihat Naruto sedikit terkejut mendengarnya dan mempercepat jalannya.
"Naruto-san, tunggu dulu!" aku berlari mengejar Naruto dan itu malah membuat Naruto ikut berlari juga. Uhh! Dia membuatku kesal. Awas saja kalau aku telah menangkapnya.
Kami terus berlari. Aku tidak akan menyerah meski kaki Naruto begitu panjang dan larinya juga lebih cepat dariku. Entah sudah berapa ruangan yang kami lewati, tidak peduli dengan keadaan kaki kami masing-masing yang terasa sangat ngilu dan sakit karena puluhan anak tangga kami turuni-kelihatannya Naruto hendak menuju pintu utama di lantai pertama-dan kami pun tidak memerdulikan suara protes siswa lain yang masih memiliki aktivitas ekstra di sekolah karena suara langkah kami dikoridor sangatlah berisik dan itu membuat mereka terganggu.
"Hei, Hinata, kenapa kau mengejarku? Aku sudah katakan kan kalau aku bukanlah violinist itu!" teriak Naruto seraya masih berlari dengan nafasnya tersengal-sengal.
"Aku tidak akan menyerah! Walau di titik darah penghabisanku! Aku tidak akan menyerah untuk membuatmu jujur kalau kau violinist itu!" balasku dengan suara yang tak kalah keras darinya. Sungguh, berteriak-teriak seperti ini bukanlah seperti aku ...
Naruto meringis, "Ya ampun ... kau tahu Hinata, melihatmu saat ini, mengingatkanku pada Sadako, kau menyeramkan!"
Hah, persetan dengan ucapannya. Aku terkejut karena kami telah menuruni tangga menuju lantai pertama. Ini tidak bagus, aku harus menangkapnya sebelum dia keluar dari gedung sekolah ini. Dan pintu utama itu terletak setelah aku melewati belokan itu. Ini semakin tidak bagus, tidak bagus.
"Naruto-san, berhentilah. Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar," ucapku kembali melembut.
Naruto menengok kebelakang sedikit, "Jangan sekarang, saat ini aku sedang ada urusan!" oh ayolah!
Pintu utama semakin dekat. Aku menggigit bibir bawahku, aku belum bisa menjangkau Naruto. Dia sangat jauh ... jauh ...
Punggung itu ... sangat jauh ...
... seperti punggung Ayah yang semakin menjauh dariku...
Aku tersentak ketika siluet badan Ayah tiba-tiba muncul. Dan aku baru tersadar ketika Naruto berbelok begitu juga aku yang ikut berbelok. Bumi seakan berguncang seketika saat badanku terhempas ke belakang. Sepertinya aku menabrak sesuatu atau seseorang. Apakah aku menabrak Naruto? Lebih dari itu, bagian bokongku sangat sakit. Uhh ...
"Berlari-lari di dalam gedung itu tidak bagus. Kau tak apa?" secepat cahaya aku membuka mataku dan mendongak ke atas. Pria tinggi, bertubuh besar dan surai perak melawan gravitasi mengejutkanku.
Aku memiringkan kepalaku ke samping kiri, mataku membulat, "Ah! Naruto-san!" teriakku tapi nyatanya percuma saja, Naruto sudah keluar. Tidak, aku tidak akan berhenti disini, aku harus mengejarnya karena aku memiliki keyakinan yang kuat kalau-oww ... sepertinya aku tidak bisa berdiri untuk beberapa menit.
Kembali aku dikejutkan dengan pria itu duduk di depanku dan menatapku dengan tatapannya yang sayu. "Hm, kau tidak bisa berdiri, ya? Itu cukup buruk. Kau Hyuuga Hinata bukan, aku sangat mengenal keluargamu terutama Ayahmu. Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang? Tidak perlu mencurigaiku yang tidak-tidak, aku Hatake Kakashi, guru disini." pria itu tersenyum di balik masker putihnya.
Guru ya, kurasa aku bisa mempercayainya. Tapi aku tidak mau merepotkan dirinya maka aku pun menolaknya. Perlahan-lahan, aku bangkit dan berjalan keluar gedung dengan tertatih-tatih. Meski aku sudah menolaknya, pria itu terus mengekoriku.
"Aku tidak bisa meninggalkan anak gadis temanku dengan keadaan sakit. Jadi, ayo, akan aku antarkan kau pulang,"
"Tapi rumahku sangat jauh, di Konoha, apa tidak apa?"
Lagi-lagi guru itu tersenyum, "Tidak apa." hah ... yah, terserahlah. Oke.
.
.
.
Guru yang bernama lengkap Hatake Kakashi itu menuntunku menuju mobilnya yang bertipe Mazda berwarna merah metalik itu sangat mencolok diantara mobil lainnya. Aku duduk di samping kursi kemudi. Di sepanjang perjalanan, Hatake-san hanya bertanya tentang kabar Ayahku dan berapa umurku, itu saja, lalu setelahnya hening sampai tiba di rumahku.
Rasa sakit di bokongku telah menghilang, aku berlari pelan menuju gerbang dan menekan tombol bel selama mungkin. Ayame-san menyambutku dengan pelukan mautnya tanpa memperdulikan ada seorang pria yang memperhatikan kami. Dan setelah aku menyadarkannya, baru dia melepaskan pelukannya dan menatap guruku sangat lama lalu dia menunduk dengan wajahnya yang memerah. Ahh ...
"Kurasa sudah waktunya aku harus kembali pulang, aku mohon pamit." Hatake-san membuka suara.
Ayame-san terperanjat lalu mencegah Hatake-san membuka pintu mobilnya, "Ah, jangan. Bagaimana kalau duduk mengobrol dulu dengan secangkir ocha hangat dan manisan di dalam, tuan?" tanyanya dengan wajahnya yang di'manis-manis'kan. Ayame-san, apa yang kau lakukan?
"Terima kasih, tapi sekarang langit sudah menggelap, aku harus kembali pulang, ada orang yang menungguku saat ini." Air muka wajah Ayame-san melayu. Pasti dia mendengar Hatake-san mengatakan 'ada orang yang menungguku saat ini', pasti itu. Ayame-san, jangan terbawa hati.
"Hinata!" seluruh badanku tersentak luar biasa. Itu suara Ayahku dari dalam rumah. Dia pasti marah karena aku pulang sangat lama.
"Ayame-san ... itu Ayah ..." bisikku ketakutan. Ayame-san menghampiriku dengan cepat lalu menenangkanku layaknya seorang kakak.
Suara langkah kaki Ayah mendekat, "Sudah Ayah katakan, kalau kau berniat ingin sekolah di Suna kau harus pulang lebih awal dari semua orang. Kau tidak perlu mengikuti klub apapun!" gerbang rumahku terbuka lebih lebar dan menampakkan wajah sangar Ayah, menatapku dengan matanya yang buas.
"Apa yang telah kau lakukan di sekolah hingga kau pulang terlambat? Apa kau mengikuti klub disana? Jawab!" aku hanya tertunduk. Tanganku bergemetar hebat, Ayame-san menyadari itu dan memelukku, seolah berusaha melindungiku dari terkaman Ayah. Kami berdua sama-sama menunduk terdiam.
"Kau tidak perlu sekeras itu bila mendidik anak, Hiashi-san ..." perhatian Ayah teralih oleh suara Hatake-san. Begitu pun aku. Aku cukup terkejut, ini adalah pertama kalinya seseorang berani berbicara kepada Ayah saat dia marah seperti sekarang.
Kulihat, mata Ayah membulat tapi berusaha mungkin ia tutupi keterkejutannya. "Kakashi ...?" dahi Ayah berkedut sangat dalam.
Hatake-san mengangkat sebelah tangannya dan tersenyum, "Lama tidak berjumpa, ya, Hiashi-san,"
Aku tidak tahu apa hubungan Ayah dengan Hatake-san. Tapi aku melihat, di mata Ayah, ada sebuah kilatan tajam yang sangat menantang kepada Hatake-san. Kurasa, hubungan Hatake-san dengan Ayahku tidaklah begitu baik ...
.
.
.
~o~
To Be Continued
~o~
A/N: *OOC detected* Hinata agresif banget di sini! #argghh! pake acara kejar-kejaran ama Naruto lagi :3 dan oh ya, bagi para reader yang menantikan romance NH, kayaknya gak bisa datang(?) lebih cepat, karena sekarang aku lagi asyik-asyiknya menghadirkan dan memikirkan, konflik-konflik apa yang bakal hadir di fic ini tapi bukan berarti roman-roman NH juga tidak aku pikirkan :3
Terima kasih buat kalian semua yang udah nge-review chap kemarin, nge-foll dan nge-fave fic ini :3 :* dan tidak lupa saya ucapkan terima kasih*kayak pidato aja ya*untuk semua sekalian waaahaaaai silent reader :*
Oke. Bye \**/
