Hanya para lady CLAMP yang memiliki semua karakter XXX HOLIC dan ceritanya.

Enjoy it, my dears... :D

xxXxx

2

Doumeki menemukan Watanuki menggenggam erat baju olah raganya sambil berdiri di depan pintu ruang ganti. Tidak biasanya Doumeki berpapasan dengan Watanuki saat jam olah raga, tapi karena guru olah raga kelasnya sedang cuti, jadwal pelajaran olah raga kelas mereka disatukan. Doumeki mengamati saat Watanuki ragu untuk masuk ke dalam ruangan, dan tanpa diberi tahu, ia mengerti sebabnya. Saat Watanuki akhirnya menghela napas dan bergerak membuka pintu, Doumeki menahan tangannya.

"Doumeki?"

"Ganti di ruang klub panahan. Disana kosong," sambil berkata begitu, ia menariknya, mengejutkan karena Watanuki tidak menolak tawarannya. Ia mengira pemuda itu akan mulai berteriak-teriak dan memasang tarian gila. Tapi tidak. Watanuki menurut, ada kecemasan di matanya, dan Doumeki tidak suka itu.

Seperti yang sudah di duganya, ruang ganti klub kosong. Ia menutup pintu dan memandang wajah semerah tomat yang masih tidak mau menatapnya. Ia tampak berusaha keras tidak mengacuhkan hal lain selain Doumeki. Tiba-tiba saja ide berduaan dengan Watanuki terlihat berbahaya. Doumeki bersyukur ia dilatih memiliki pengendalian diri yang kuat.

Semua tidak akan menyusahkan seandainya Doumeki tidak menemukan bahwa Watanuki sangat atraktif.

"Oi."

"Namaku bukan oi!"

"Apa kau hanya akan berdiri disana sepanjang waktu atau segera mengganti seragammu," nada suara Doumeki monoton sama seperti biasanya. Pemuda itu mendongak, akhirnya. Doumeki tersenyum diam-diam saat melihat wajah merah itu menga-nga saat melihatya melepaskan kancing kemejanya, memperlihatkan otot yang membentuk tubuhnya dan bulu-bulu lebat yang maskulin.

"Apa aku harus mengganti pakaianmu atau apa?" Doumeki membuyarkan lamunannya.

"B—bodoh!" serunya kesal sambil membalikkan badan. Doumeki penasaran apakah Watanuki takut? Mungkin perkataannya keterlaluan?

"Wata—" ia berhenti seketika saat pemuda itu melepas kancing kemejanya dan melemparkannya ke dalam loker, lalu bergerak melepaskan celana panjangnya. Doumeki menatap kulit pucat itu dengan mata lebar, seandainya matanya bisa lebih lebar lagi. "Kau—"

"Hm?" Watanuki menoleh dan lebih banyak lagi kulit telanjang yang terlihat jelas. Putingnya yang merah muda tampak menawan dan perutnya yang indah, juga dadanya yang mulus, tampak kontras dengan apa yang dimiliki Doumeki. Tubuh Watanuki yang ramping hanya berbalut boxer dan ia bisa melihat paha mulus yang biasa disembunyikan. Ia merasakan tatapan Doumeki, "Apa?" sergahnya dengan pipi merona. Ia bergegas memakai kaosnya, menyembunyikan puting merah muda itu, membuat Doumeki menahan diri untuk tidak berdecak kecewa.

"Selama ini kau ganti bajudi ruang ganti?" kenyataan ada laki-laki lain yang melihat pemandangan ini membuat Doumeki kesal. Tapi nada bicaranya tidak menunjukkan hal itu.

Watanuki menggeliat, ia tampak tak nyaman saat menjawab, "Tidak. Uh, aku biasanya memakai ruang peralatan. Tapi kau tahu tempat itu sedang di renovasi sekarang."

"Kenapa?"

"Aku tidak tahu, mungkin karena atapnya bocor?"

"Bukan itu maksudku."

"Oh," bibirnya yang merah membuka lalu menutup kembali, semburat merah muda menjalar di pipinya dengan warna yang cantik. "Uh. Kau tahu, aku tidak begitu percaya diri—"

"Aku tidak mengerti."

"Kubilang aku tidak percaya diri, idiot! Kau lihat sendiri, aku tidak se-se-semaskulin anak laki-laki yang lain! Aku tidak ingin diejek! LAGI PULA INI BUKAN URUSANMU!"

Mata Doumeki bergerak ke tubuh setengah telanjang itu. "Hn. Tidak ada yang salah denganmu," kecuali bahwa Watanuki sangat menawan dan tubuhnya sangat indah dengan gestur dan postur yang lebih feminin dibanding anak laki-laki kebanyakan. Tapi jelas, Watanuki tidak sekeras atau sebesar Doumeki sehingga membuatnya tampak rapuh, sepertinya itu yang menganggangu Watanuki, sekalipun tidak baginya.

"Berhenti menatapku! Raksasa bodoh sepertimu memang tidak akan mengerti!" ia memakai celana pendek olah raganya yang membingkai pantatnya dengan menakjubkan, membuat siapapun bisa membayangkan apa yang ada dibaliknya. Kata-kata Watanuki selanjutnya membuat Doumeki membeku, "Kau tidak mungkin pernah di sentuh dengan cara yang kurang ajar, kan? Atau diintip ketika mandi," ia bergidik. "Itu menyebalkan."

Itu lebih dari sekedar menyebalkan, Doumeki murka. Tanpa sadar ia mencengkeram lengan Watanuki. "Aw! Apa yang kau lakukan, bodoh?"

"Seberapa sering?"

"Apa?"

"Seberapa sering itu terjadi?"

Watanuki menggeliat, "Itu bukan urusanmu." Doumeki memutuskan kejadian itu lebih sering dari kelihatannya.

"Katakan padaku."

Watanuki menghela napas, menyadarkan Doumeki bahwa sekarang mereka berdiri sangat rapat; hidung Watanuki hampir menyentuh ceruk antara leher dan bahunya. Saat pemuda itu menggeliat menjauh, tangan Doumeki menahannya. "Uh, tidak separah itu awalnya. Tapi akhir-akhir ini..." ia menggelengkan kepala dan melemparkan pandangan ke tempat lain, "Dulu aku masih bisa ganti baju di ruang ganti, kau tahu... tidak ada yang menatapku dengan cara aneh. Tapi setelah beberapa anak mulai menumbuhkan rambut," ia merona, "Dan yang lainnya menghasilkan otot karena kegiatan klub mereka, sementara aku... aku..."

"Aku mengerti."

Watanuki memandangnya garang. "Mana mungkin kau mengerti! Kau! Raksasa bodoh," ia memukul dada solid Doumeki. "Lihat dirimu." Tangan Kimihiro berada di dada keras itu, ia bisa merasakan tubuh di bawah sentuhannya menegang. Hembusan napas menyapu telinganya. Watanuki menarik tangannya seolah terbakar.

"Aku mungkin tidak tahu rasanya, tapi aku mengerti."

"Uh, idiot."

Doumeki bersyukur, rasa kurang percaya dirinya telah menjauhkan Watanuki dari ruangan berbahaya itu. Sisanya tinggal mencari cara menjauhkan Watanuki dari sana selamanya.

"Ayo. Aku tidak mau kita terlambat," ia melepaskan Watanuki dan mengganti bajunya dengan cepat.

Pada pelajaran olah raga hari itu awalnya mereka melakukan pemanasan. Watanuki tidak pernah menyukai guru olah raganya, Fei Wong Sensei. Ia berharap mendapatkan Kurogane-sensei, tapi kelas Doumeki sialan yang mendapatkannya. Fei Wong Sensei punya kebiasaan aneh yang menyebalkan. Bukan pertamakalinya ia mendapati pria itu berkeliaran di depan pintu shower-nya. Juga bukan pertamakalinya pria itu mencoba menyentuhnya dengan cara yang menjijikkan.

Watanuki benci pelajaran olah raga karena itu.

"Watanuki, apa aku perlu mengajarimu bagaimana cara merenggangkan kaki dengan benar?"

"Tidak perlu, Fei-sensei," katanya sambil mundur selangkah. Tapi pria itu menangkap lengannya.

"Kau seharusnya bersyukur aku mau mengajarimu secara pribadi." Tangannya meraba paha Watanuki, membuatnya berjengit takut.

Siswa dan siswi lainnya menatap mereka dengan pandangan aneh. Beberapa siswa berbisik sambil menyeringai aneh. Watanuki berusaha melepaskan diri dari cengkeraman, "Fei-sensei, kau menyakitiku." Ia merasakan rasa panik menjalar di tulang belakangnya. Tiba-tiba, tangan yang besar menarik tangan Fei-sensei dengan keras. "Aku bisa menggantikanmu, Fei-sensei," suara datar dan monoton itu menyentak Watanuki, membuatnya lepas dari cengkaram. Lengan Doumeki yang bebas menahan punggungnya.

Fei-sensei menyerngit oleh cengkraman Doumeki. Jika Doumeki marah, wajahnya tidak menunjukkannya; wajahnya sama datarnya seperti biasanya. Lalu, tanpa banyak bicara Fei-sensei pergi, berseru pada siswa yang lain, "Kalian, lanjutkan!"

Doumeki mengirimkan tatapan tajam pada para siswa yang masih memperhatikan mereka, membuat mereka menundukkan kepala atau membuang muka. Watanuki masih membeku dalam pelukan lengan kuat Doumeki, sadar tidak seperti pada orang lain, ia tidak merasa takut pada sentuhan itu, Doumeki tidak pernah membuatnya takut.

Melihat Doumeki belum juga melepaskannya, Watanuki mendongak kebingungan, "Doumeki?"

Doumeki menatapnya, menyipitkan mata, "Caramu merenggangkan kaki itu memang salah, idiot."

"Ap—Kau!"

"Jangan bertingkah jika perenggangan macam ini saja tidak bisa kau lakukan, bodoh. Aku akan menemanimu latihan."

"AKU TIDAK BUTUH DI TEMANI ORANG MENYEBALKAN SEPERTIMU!"

Doumeki hanya melemparkan senyum mengejek. Tapi tangannya tidak pernah melepaskan punggung Watanuki. Ia tidak berteriak atau menyalak saat marah seperti Watanuki, tapi sinyal yang dikirimkannya pada semua orang yang menatap mereka sudah jelas; milikku. Ia tidak akan segan-segan bertindak kasar jika ada yang berani menyentuh Watanuki-nya.

Untuk pertama kalinya Watanuki tahu Doumeki sama bagusnya bermain sepak bola seperti dirinya. Mereka berada di tim yang berbeda, dan mengalami pertandingan sengit. Watanuki tidak mau kalah, tentu saja, di depan Himawari-chan, ia bisa membuktikan dirinya lebih baik dari Doumeki. Tapi menyebalkan, karena setiap taktik dan rencana yang sudah disusunnya, bola selalu berakhir di kaki Doumeki setiap ia mendekati gawang.

"Itu tadi pertandingan yang seru, Watanuki-kun, Doumeki-kun."

"Akh! Aku pasti bisa menang jika raksasa bodoh ini tidak main curang!"

"Aku tidak curang."

"Kau menjegal kakiku!"

"Aku merebut bola, idiot. Wasit juga tahu."

Pipi Kimihiro memerah. Doumeki melemparkan senyum mengejek. "BERHENTI TERSENYUM SEPERTI ITU!"

"Kalian sungguh sangat akrab!" seru Himawari.

"Kau salah Himawari-chaaann."

"Berisik."

"Pergi sana, Doumeki, huss huss! Kau mengganggu!"

"Tapi Watanuki-kun dan Doumeki-kun memang teman yang baik. Kalian selalu berangkat dan pulang bersama, dan Watanuki-kun selalu membawakan bekal untuk Doumeki-kun."

"Dia memaksaku, Himawari-chan! Dia tiba-tiba bertingkah seperti baby sitter! Aku bukan bayi!"

"Memang bukan, kau idiot."

"DOUMEKI!"

"Aku mau makan Ohagi besok."

"Kau lihat?" serunya pada Himawari, lalu berbalik pada DoumekI, "Aku membencimu, Doumeki! AKU BUKAN KOKI PRIBADIMU!"

"Oi."

"Namaku bukan OI!"

"Tunggu aku di ruangan klub pulang sekolah nanti."

"Kenapa juga aku harus menunggumu, idiot!"

"Aku ada latihan untuk pertandingan panahan sebentar lagi, tapi aku akan mengantarmu pulang."

"SIAPA JUGA YANG MAU KAU ANTAR PULANG!"

"Ada pertandingan sebentar lagi, Doumeki-kun?"

"Hn. Tiga hari lagi."

"Ah! Aku senang jika bisa datang menyemangatimu, benar kan Watanuki-kun?"

"Aku?"

"Tentu. Kita bisa datang ke pertandingan itu bersama-sama. Benar, kan?"

"Uh... tentu."

Mereka berjalan keluar dari lapangan bola menuju gedung sekolah saat suara teriakan mengagetkan mereka, "Awas, Bahaya!" Watanuki membeku saat melihat bola baseball melesat dari lapangan ke arahnya. Ia bahkan belum sempat menutup mata saat tarikan yang keras membuat tubuhnya melayang, disusul dengan suara keras membentur tembok. Watanuki menoleh ke belakang, melihat bola baseball menggelinding tak jauh darinya. "Oi!" seru Doumeki ke arah lapangan baseball. "Itu bahaya!" suara teriakan Doumeki menyadarkan mereka jika ia jauh lebih marah dari pada kelihatannya.

"Maaf!" seru salah satu anggota klub baseball yang berlari mendekati mereka. Ia merundukkan tubuh dalam-dalam. "Kami minta maaf! Apa kau tidak apa-apa, Watanuki-san?"

Doumeki melayangkan pandangan padanya.

"Huh?" Watanuki mengerjap.

"Kau baik-baik saja, Watanuki-kun?"

"A-aku baik-baik saja, Himawari-chan..."

Anak dari klub baseball mengambil bolanya dan merunduk dalam sekali lagi sebelum berlari kembali ke lapangan.

"Aneh..." bisik Watanuki.

"Apa?"

"Uh... dia tahu namaku, tapi aku tidak mengenalnya."

Doumeki bertukar pandang dengan Himawari. Gadis itu tersenyum pada Watanuki, "Itu tadi hampir sekali, untung Doumeki menyelamatkanmu."

Watanuki yang baru tersadar berada dalam pelukan Doumeki, melompat mundur. Mukanya merah dan tingkah lakunya gugup. Doumeki melemparkan senyum miring.

"APA?"

"Ohagi."

"Uh..."

"Aku juga ingin tempura."

"AKU BUKAN PELAYANMU, Bodoh!"

Himawari tertawa. "Aku rasa kau lebih mirip istrinya Doumeki-kun dibandingkan pelayannya, Watanuki-kun! Kalian bertengkar seperti orang tuaku!"

"Himawari-chaaaaannn!"

"Idiot."

Setelah jam olah raga selesai, Doumeki menemaninya ganti baju di ruang klub panahan. Awalnya Watanuki memang tidak terlalu memperhatikan, tapi Doumeki memang memiliki tubuh yang bagus. Saat ia melepaskan kaosnya yang penuh keringat, ia bisa melihat otot-otot itu dibangun dengan baik. Ia heran apa yang membuatnya memiliki semua itu, kegiatan Doumeki hanya makan dan panahan, yang hanya membuatnya berdiam diri seharian sambil melepaskan busur. Kegiatannya sebagai anak pendeta juga tidak berat. Watanuki hanya bisa menyalahkan gen. Ada terlalu banyak Yuuko dalam dirinya, dan satu-satunya hal yang diturunkan ayahnya padanya hanya kemampuan memasak!

"Kau mau memandangiku seharian?"

Watanuki mengalihkan pandangan dengan pipi merona saat ketahuan. "A-aku akan memakai shower."

Doumeki juga masuk ke salah satu bilik, membersihkan dirinya dengan cepat sebelum keluar, mengeringkan diri dan memakai kembali seragamnya. Watanuki masih belum keluar dari biliknya, jadi ia memilih menunggu di bangku kayu sambil membetulkan kemejanya.

"Doumeki?" bisik Watanuki dari dalam biliknya. "Bisa kau ambilkan handukku? Aku meninggalkannya di dalam loker."

"Hn." Doumeki menyerahkannya, membeku saat tangan telanjang yang sangat pucat dan memerah karena air hangat keluar menggapai handuknya. Harum strawberry menguar dari ruangan yang tertutup. "Kau memakai wangi strawberry?" katanya masih membeku di tempatnya.

"Ya. Kenapa?"

"Apa kau bodoh?"

Tiba-tiba pintu terayun terbuka, Watanuki masih dalam balutan handuk dan harum strawberry menyalak padanya, "APA KAU MENGHINAKU?!"

Mata Doumeki melebar tidak percaya saat makhluk indah itu keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk yang hanya cukup menutupi bagian bawah tubuhnya. Matanya tidak bisa lepas dari puting-puting merah muda diantara kulit indah yang masih basah itu. "Apa?" kata Watanuki sambil mengeringkan rambut. Gerakannya membuat Doumeki bisa melihat ketiak yang biasanya tertutupi. Watanuki benar-benar mulus, ia jadi penasaran apa di bagian bawah juga— "Jangan menatapku, mesum!" mata biru membara itu menyentaknya. Pemuda di depannya menggeliat tak nyaman, "Seperti kau pertamakali mandi dengan laki-laki, saja," gerutu Watanuki.

Doumeki menatapnya dengan mata separuh tertutup; ya memang, ini pertama kalinya dengan makhluk seindah Watanuki Kimihiro. Doumeki tahu dengan jelas sekarang, alasan mengapa Kimihiro tidak nyaman ganti baju dengan anak lain. Mereka pasti memandanginya, karena rasanya tidak seperti ganti baju dengan laki-laki, dan Watanuki lebih cantik dari sebagian besar siswi di sekolah ini. "Doumeki?" bisiknya tak nyaman. "Kau tidak apa-apa?" ia berjalan mendekatinya. Masih hanya dengan balutan handuk. Doumeki menggosok belakang kepalanya dengan frustasi, ia menghela napas, bersyukur memiliki pengendalian diri yang sangat kuat. "Jangan lagi memakai sampo berbau strawberry." Katanya sambil menyentuh lengan Watanuki, menyerngit saat merasakan sensasi kulit lembut itu.

"Kenapa?" tanyanya polos. Doumeki benar-benar ingin menciumnya sekarang. "Doumeki? Apa kau sakit?" kali ini Watanuki berjinjit dan menempelkan dahinya ke dahi Doumeki. Semerbak harum strawberry seketika memenuhi indranya. Doumeki mencengkeram pinggang Watanuki, melawan hasratnya untuk menarik tubuh itu semakin dekat, Doumeki sedikit mendorongnya menjauh. Bocah bodoh, ia tidak tahu sekeras apa Doumeki mengendalikan dirinya. Doumeki menggeram, "Strawberry hanya untuk perempuan, idiot."

"Ap—kau! AKU BUKAN PEREMPUAN!"

"Memang bukan. Apa kau mengerti?" nada suara Doumeki membuat Watanuki terdiam.

"Aku tidak mengerti, tapi baiklah. Sampo itu Yuuko yang membelikannya, aku akan bilang padanya untuk memilih wangi lain."

"Kau bisa memakai wangi Apel atau lebih bagus mint, jangan sekali-kali kau memakai harum vanila apalagi permen."

"Uh... baiklah, tolol."

"Hn." Ia masih belum melepaskan cengkeramannya pada pinggang Watanuki. Sadar dengan jelas, penghalangnya hanya sebuah handuk kecil—"Mulai sekarang jangan pernah menunjukkan tubuhmu ke laki-laki lain selain aku."

Watanuki mengerutkan dahi bingung. "Kenapa?"

Doumeki menahan diri tidak memutar bola matanya. Sampai dimana kepolosan ini berakhir. "Berjanji saja, idiot."

"Mana mungkin aku menjanjikan sesuatu yang tidak ku mengerti!"

"Kalau kau tidak mau berjanji aku tidak akan melepaskanmu, dan jika kau melanggar janjinya bersiaplah pada sesuatu yang lebih buruk," Doumeki berbisik di telinga Watanuki. "Aku tidak yakin kau siap mendengar apa hukumannya sekarang."

Mata biru indah Watanuki melebar dengan menakjubkan. Mungkin ia tidak mengerti sebagian besar yang dikatakan Doumeki, tapi ia sadar benar dimana tangan Doumeki sekarang berada, dan ancaman tidak akan melepaskannya terdengar bukan ancaman kosong.

"Lepaskan aku! SIAPA KAU TIBA-TIBA BERHAK MENGHUKUMKU! AKU BISA MELAKUKAN APAPUN YANG KUINGINKAN!" Watanuki menggeliat, membuat semuanya menjadi bertambah buruk. Doumeki mendorongnya ke pintu loker dan menghimpitnya, menahannya disana.

"Berhenti menggeliat, idiot. Aku akan melepaskanmu jika kau sudah berjanji."

"Uh. Aku merasa ada sesuatu dibalik janji itu."

"Apa kau takut?"

"Apa?! Mana mungkin kau membuatku takut, idiot, bodoh!"

Doumeki menyeringai, "Jadi kenapa kau tidak mau berjanji? Aku tidak pernah menyakitimu."

Watanuki mendongak, seakan mempertimbangkan ucapannya. "Uh... baiklah... Sekarang lepaskan aku!"

Doumeki memiringkan kepalanya, menghirup harum di ceruk antara leher dan bahu Watanuki, "Aku tidak mendengarnya dengan jelas."

Watanuki merasakan hembusan napas Doumeki di lehernya, ia mencondongkan kepalanya menjauh, tidak menyadari malah memberikan ruang pada Doumeki untuk melihat leher jenjang yang pucat dan indah itu tampak semakin jelas. Doumeki menahan diri untuk menyapukan bibirnya ke kulit lembut itu. "BAIKLAH! BAIKLAH! AKU BERJANJI, IDIOT!"

Mengangguk puas, Doumeki melepaskannya. Watanuki memeluk dirinya, merasakan wajahnya panas dan seluruh tubuhnya gemetar. Doumeki berpikir, seandainya Watanuki tidak tahu apa yang Doumeki lakukan, setidaknya tubuhnya bereaksi seperti apa yang Doumeki inginkan.

Doumeki tersadar bahwa ada sisi Watanuki yang menganggapnya atraktif. Maka, tindakan nyata hanya masalah waktu. Doumeki orang yang tidak pernah kehilangan buruannya. Ia sabar dan bersungguh-sungguh. Perlahan Watanuki pasti akan jadi miliknya.

Doumeki mengambil seragam Watanuki di loker dan melemparkannya pada pemuda itu. "Bergegaslah, atau aku perlu juga mengganti pakaianmu?"

Watanuki memerah seperti tomat. "Idiot! Cara bicaramu semakin mesum!"

Jangan salahkan aku, batinnya. Sepertinya Doumeki tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.

xxXxx

Watanuki sedang berada di kelas tata boga pada jam terakhir. Ia sedang mengaduk adonannya sementara Himawari mengamati di sisinya. "Doumeki-kun tidak suka terlalu manis, Watanuki-kun."

"Uh. Aku tidak sedang membuatkan untuknya. Aku sedang membuatnya untukmu, Himawari-chaaan..."

Himawari tertawa, "Terima kasih, Watanuki-kun. Tapi kau tahu aku sudah punya biskuit ku sendiri. Aku tidak akan bisa memakan semuanya!"

"Uh."

"Sebaiknya kau memberikannya pada Doumeki-kun. Bukankah kau akan menemaninya latihan pulang sekolah nanti."

"Mana mungkin!" kata Watanuki sambil memperagakan gerakan antik.

Himawari tertawa, "Tentu dia akan senang. Aku akan menemanimu pergi kesana sebelum pulang."

Jika Watanuki merasa Himawari seperti sedang memaksanya pergi menemui Doumeki, ia tidak menunjukkannya. Ia hanya bingung apa yang membuat gadis pujaannya itu bersemangat membuat ia dan Doumeki menjadi teman baik. Sejak awal, Watanuki saja langsung tahu kalau ia tidak akan cocok bergaul dengan si bodoh yang sok keren, Doumeki Shizuka.

"Wow, Watanuki-kun!" Fai Sensei mengintip dari bahunya. "Kau sangat berbakat!" ia mengambil satu biskuit yang sudah jadi, "Ini lebih dari buatan pro!"

"Bento buatan Watanuki-kun sangat hebat, sensei," kata Himawari riang.

"Ah~ kebetulan sekali!" seru Fai sensei senang. "Aku menemukan orang yang cocok untuk mengolah sisa suplai yang baru di kirim kemarin."

"Suplai?"

"Ya," Fai-sensei menarik lengan Watanuki ke lembari es. "Kau bisa memanfaatkan bahan ini untuk membuat sesuatu, Watanuki."

"Uh... tapi untuk apa? Kenapa tidak kau saja yang membuatnya, sensei?"

Fai menggeleng-gelengkan kepala, "Aku terlalu sibuk! Kau tahu aku juga mengajar kelas bahasa Inggris dan Ekonomi. Aku tidak akan sempat memanfaatkan semua bahan ini sebelum busuk. Bagaimana Watanuki-kun? Kau sangat beruntung mendapatkan bahan yang bagus kan?"

"Uh... kupikir... tapi aku juga tidak bisa memakan semuanya sendiri!"

"Oh, Watanuki-kun~ pasti banyak yang akan menghabiskannya ketika semua bahan itu menjadi makanan jadi! Doumeki misalnya."

"Raksasa bodoh itu! tidak ada yang dipikirkannya selain perut," gerutunya. "Yeah... aku akan melakukannya. Tapi bukan karena aku ingin memasakkan Doumeki atau apa! Aku hanya tidak ingin membuang-buang bahan makanan!"

"Sudah kukira Watanuki-kun dan Doumeki-kun sungguh teman yang akrab!"

"Himawari-chaaan!"

Ruangan klub panahan tampak lebih hidup dibandingkan pagi saat Watanuki pergi kesana. Anggota klub lainnya tampak serius berlatih.

"Yo." Doumeki menyapa mereka dengan wajah batunya seperti biasa.

Watanuki merasakan pipinya merona, mengingat kejadian di ruang ganti klub panahan. Ia belum pernah merasakan perasaan sekuat itu. Dan itu tidak menyenangkan, membuatnya seperti terkena serangan jantung. Watanuki mengingat sesulit apa ia berjalan setelah itu. Kakinya berubah menjadi bubur!

"Kau sudah bekerja keras, Doumeki-kun."

"Hn." Mata Doumeki jatuh pada kotak bekal yang dibawa Watanuki. "Aku mencium ayam goreng."

"Kau! Selalu saja kalau soal makanan—"

"Watanuki-kun membuatnya di kelas tata boga. Juga biskuit. Pastikan kau mencobanya Doumeki-kun! Rasanya luar biasa."

"Himawari-chaaan... sudah kubilang aku membuatkannya untukmu."

"Terima kasih, Watanuki-kun! Tapi aku harus segera pulang. Berjuanglah Doumeki-kun. Sampai jumpa kalian berdua!" sambil melambai ia berlari pulang.

"Uh! Kenapa! Kenapa Himawari-chan harus pulaaaang~ dan kenapa aku harus bersamamuuuuu!"

"Berisik. Duduk di sana, dan jangan ribut."

"Kau tidak latihan?"

"Aku akan melanjutkannya setelah makan."

"Uh, dasar otak satu saluran dengan perut. Kau memang bodoh, tolol!"

"Hn. Kau membawa teh?"

"JANGAN BERTINGKAH SEAKAN AKU PELAYANMU!"

"Ssssttt. Kau mengganggu."

Watanuki merona saat menyadari tatapan penasaran anggota klub panahan yang lain. "Uh." Ia menyurut mundur, meraih termos dan menuangkan teh ke gelas kertas. "Paling tidak katakan sesuatu saat ada orang yang memberimu makan, idiot!"

"Tambah."

"Kau!" Watanuki menghela napas dan membuka kotak bekal yang lain. "Sudah ku duga perut lubang hitammu tidak akan puas hanya dengan satu kotak saja."

"Jadi kau memang sengaja membuatkan itu untukku?" goda Doumeki, dengan suara monotonnya.

Watanuki merona. "Tentu saja tidak! Sudah kubilang ini semua sisa kelas tata boga!"

Doumeki tidak berkomentar walau ia tahu Watanuki memang sengaja membuatkan semua makanan ini untuknya, makanan sisa itu hanya alasan.

Seandainya Watanuki tahu jika Doumeki tidak makan masakan buatan sembarang orang. Memang ia pernah makan masakan buatan orang yang level masakannya setingkat dengan Watanuki, yang jarang sekali ada. Tapi hanya Watanuki yang masakannya terasa mudah untuk di telan. Bahkan sebelum ia mengenal Watanuki, terasa mudah untuk makan masakan buatannya. Ketika memakannya, Doumeki tahu sejauh apa rasa cinta Watanuki dalam memasak; masakannya memiliki jiwa dan unik. Watanuki adalah penyihir dapur dengan level masakan yang menandingi hotel bintang 5.

Doumeki mengamatinya, ia selalu mengamati, Watanuki selalu makan dengan cara yang penuh tata krama seakan ia dibesarkan pada masa yang berbeda. Mungkin karena keluarganya menjalankan bisnis restoran tradisional. Watanuki memang selalu heboh, juga melancarkan tarian gila sambil berteriak-teriak menarik perhatian banyak orang. Tapi ketika ia diam, Doumeki menyadari kehalusan caranya bersikap. Saat ia duduk, punggungnya tegak; itu cara duduk yang sulit dilakukan, terutama selama berjam-jam, tapi Watanuki mampu melakukannya. Caranya makan atau caranya bergerak dari satu posisi ke posisi yang lain tidak pernah terburu-buru, membuat gerakannya mirip seperti tarian. Doumeki juga memperhatikan saat Watanuki meletakkan sumpitnya, alisnya berkerut dan berteriak, "BERHENTI MENATAPKU!"

Setelah menghabiskan seluruh bekal, Doumeki beranjak meraih busurnya, "Tunggu disini."

Watanuki menggerutu, tapi ia tetap tinggal.

Satu persatu anggota klub panahan pulang. Hanya tinggal Doumeki pada akhirnya. Watanuki menguap, ia ingin menyalak pada Doumeki dan menariknya pulang, atau diam-diam pergi dari sana. Berbagai sekenario berputar-putar di kepalanya, sampai ia tersadar Doumeki sudah tidak ada di tempatnya. Ia pasti sudah masuk ke ruang ganti. busurnya disandarkan di tembok. Watanuki berdiri dan merenggangkan punggung. Ia berjalan mendekati busur itu dengan penasaran.

Ia mengangkat busurnya dengan satu tangan, membuat tubuhnya terhuyung ke depan. Ia tidak pernah tahu jika busur bisa seberat ini, dan Doumeki menggenggamnya selama berjam-jam sambil berusaha mengarahkan anak panah?! Itu mustahil! Pantas saja tubuhnya bisa seperti itu. Watanuki mencoba mengarahkan busurnya.

"Cara memegangmu salah," hembusan hangat menyapu telinga Watanuki dan melingkupinya. Tiba-tiba saja punggungnya menekan keras tubuh berotot Doumeki. Ia sudah memakai seragamnya.

"Do-doumeki?" tangan pemuda itu meraih tangannya, membetulkan posisinya, tangan yang lain membantunya menahan busur yang berat. "A-aku hanya penasaran... " ia menurunkan busurnya. Tapi tubuh yang keras dan solid itu masih di posisinya, menempel ketat pada sisi belakang tubuhnya. "MUNDUR, Doumeki! KAU TERLALU DEKAT!"

Doumeki menaikkan sebelah alis, tersenyum mengejek.

Doumeki berbisik di telinganya, "Ayo. Aku akan mengantarmu pulang," menyapukan sentuhannya di perut Watanuki sebelum melepaskannya.

Berdiri dengan kaki goyah, Watanuki menyalak, "Aku membencimu, Doumeki!"

xxXxx

Ah.. ah...ah...! ide berhamburan, aku bingung menangkapnya!

Tunggu chapter selanjutnya, my dears... :D