Disclaimer: Naruto beserta tokoh-tokoh didalamnya adalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang mencoba meluaskan imajinasi saya ^^
Genre : Romance, Hurt/Comfort,
Warning: OOC, OC mis-typo(s)
Rated : M
CHAPTER 2 : He Is Tobirama
Aku berjalan mendekatinya. Mengapa pertemuan ini kusebut aneh? Karena dalam beberapa hari ini, selama mencari tanaman obat di hutan aku tidak pernah bertemu dengan orang lain dan saat aku bertemu dengan seorang manusia yang menjejakkan kaki di hutan perbatasan antara tiga klan terkuat ini dan manusia itu ternyata anak berambut putih iyang kutemui 2 minggu lalu. Dari sudut pandangku, dia terlihat tidak begitu peduli dengan keberadaanku. Saat aku mencoba berjalan lebih dekat kearahnya, anak laki-laki itu tengah mencari sesuatu dalam rimbunnya semak belukar itu.
"Emm, halo" sapaku agak canggung. "Emm, apa yang kau lakukan disini?" tanyaku sopan.
Anak laki-laki itu tidak bergeming sedikitpun. Ia tetap sibuk mencari-cari sesuatu (entah apa itu. Mungkin juga Ia mencari sebagian jiwanya karena sepertinya Ia akan mati jika tidak menemukan apa yang dicarinya) dalam semak-semak tanpa mempedulikan sapaanku padanya.
'Betul-betul membuat emosi anak ini!', pikirku dalam hati. Kurasa sapaan yang kulontarkan padanya cukup sopan mengingat kami tidak saling mengenal satu sama lain tetapi Ia pernah menolongku dua minggu lalu.
'Baiklah! Aku mengalah!' aku mengumpat dalam hati sambil mengangkat bahu.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau telah menolongku dua minggu lalu. Itupun kalau kau masih ingat bahwa dua minggu lalu kita pernah bertemu" ujarku santai. Sebenarnya, aku menanti apa responnya terhadap kata-kata yang baru saja terlontar dari mulutku.
"Aku masih ingat" gumam anak laki-laki itu singkat tanpa menoleh ke arahku. "Sama-sama" sambungnya datar.
Huh!
Aku menarik nafas panjang. Aku berjalan dan berjongkok disampingnya, memperhatikannya. Anak laki-laki itu terlihat begitu serius mencari sesuatu dalam semak belukar itu hingga dahinya berkerut.
"Boleh kutahu siapa namamu?" tanyaku kemudian. "Sepertinya tidak akan menyenangkan jika aku terus memanggilmu dengan panggilan 'Kau'. Kau juga merasa begitu 'kan?".
Akhirnya anak laki-laki itu menoleh ke arahku. Ia masih terlihat sama dengan dua minggu lalu. Sorot mata merahnya tetap (atau mungkin lebih tepat bila kukatakan selalu) tajam, seolah Ia tengah merasakan kehadiran musuh disekitarnya.
Sesaat kemudian, ia kembali mengacuhkanku dan kembali fokus pada apa yang dari tadi Ia kerjakan.
"Namaku Nozu" aku mengulurkan tangan kananku ke depan wajahnya. Sejenak, kulihat anak laki-laki itu tertegun menatap tangan kananku yang terulur didepan matanya. Hal itu tidak berlangsung lama, Ia segera kembali ke pekerjaan awalnya.
'Astaga! Anak ini benar-benar! Aku bermaksud baik, hanya ingin berkenalan, itu saja..'
"Kenapa kau memperkenalkan namamu terlebih dahulu pada orang asing yang belum kau kenal?" anak laki-laki berambut putih itu tiba-tiba bicara. Suaranya yang agak berat untuk anak seumurannya membuatku cukup terkejut.
"Bagaimana ya?" ujarku agak sebal "Yang ditanya tidak menjawab, jadi aku mulai duluan".
'srakk'
Ada sehelai kertas yang jatuh dari pangkuan anak laki-laki berambut putih itu. Kertasnya mendarat manis diatas kakiku. Aku mengambil dan melihat apa isinya.
Gambar daun saga. Lengkap dengan tulisan tambahan mengenai ciri-ciri tanamannya.
'Tunggu, daun saga?'
"Ini, kertasmu jatuh" gumamku sambil menyerahkan kertas bergambar daun saga itu padanya. "Kau sedang mencari tanaman obat, benar tidak?" tanyaku kemudian.
Anak laki-laki itu cukup terkejut mendengar pertanyaanku. Ia menoleh dan mulai memperhatikanku lagi dengan mata merahnya yang tajam.
"Apa sih?" tanyaku spontan. Aku mulai tidak nyaman dengan caranya memandangku.
"Kau tahu dari mana kalau tanaman ini termasuk tanaman obat?" tanyanya sambil mengambil kertas yang tengah kusodorkan padanya.
"Hehe.." aku tertawa kecil. "Aku ini tukang obat" gumamku bercanda. "Kau bisa memanggilku tukang obat jika kau mau" ujarku setengah tertawa.
Sekilas kulihat, anak laki-laki berambut putih itu tersenyum tipis.
"Heh, jadi siapa yang terluka? Kau mencari daun saga itu untuknya 'kan? Daun saga tidak tumbuh bagus disini, jadi sulit dicari" aku mulai mencari-cari daun itu di semak belukar lainnya.
"Kakak laki-lakiku" balas anak laki-laki itu singkat.
"Kakakmu sakit apa?" aku bertanya lagi.
"Dia tertusuk panah beracun" jawab anak itu singkat tanpa menoleh.
"Eh, tunggu! Sudah berapa hari?" tanyaku mulai khawatir.
"Untuk apa kau tahu itu?" Tanya anak laki-laki itu agak sinis.
"Hmm, kena panah ya?" gumamku pelan sambil bangkit berdiri tanpa mempedulikan pertanyaannya padaku. "Tunggu disini ya!"
"Kau mau kemana?" tanya anak itu spontan.
"Ya, pokoknya tunggu saja. Jangan pergi kemana-mana!" ujarku yang mulai berlari meninggalkannya sambil tersenyum.
Aku tahu betul tanaman obat seperti apa yang dibutuhkan oleh seseorang yang tertusuk panah dan dimana tanaman-tanaman itu diperoleh. Maklum, biar begini aku adalah ninja medis. Aku belajar banyak hal mengenai tanaman obat-obatan dan aku mengingatnya dengan cukup baik. Hehe, kalau boleh aku bicara jujur, aku adalah satu-satunya kunoichi, eh, bahkan shinobi yang memiliki kemampuan ini di klan Hagoromo.
Kupikir, aku bisa membantu anak laki-laki itu.
-8-8-8-
Sudah satu jam lamanya anak bernama Nozu itu pergi meninggalkannya. Tobirama menarik nafas panjang sambil menyeka keringat yang mulai menetes dari dahinya. Pagi ini panas sekali dan Ia tidak membawa air minum
'bagus! Lengkap sudah penderitaanku hari ini' umpatnya dalam hati.
"Bukan!" ujar Tobirama kesal. Sudah 5 kali Ia salah mengenali morfologi daun saga. Daun-daunan yang berada di padang rumput itu terlihat sama, hanya ada barangkali 1-2 perbedaan yang begitu tipis diantaranya. Tobirama menghela nafas panjang. Tadi malam Ia ikut berjaga bersama ayahnya di daerah perbatasan klan, menggantikan kakaknya, Hashirama yang sedang sakit. Kurang tidur sepertinya menjadi salah satu penyebab mengapa Ia sulit berkonsentrasi pagi itu.
Tobirama terdiam sesaat. Ia duduk di tanah, mengistirahatkan kedua kakinya yang sedari dari berjongkok 1 jam lamanya untuk mencari tanaman obat.
'Ayah menyuruhku mencari tanaman-tanaman ini di padang rumput sebesar ini, gila!' keluhnya dalam hati.
Ia duduk, merenung. Memandangi deretan tanaman berdaun-daun kecil berwarna hijau yang bergoyang-goyang pelan tertiup angin.
"Jadi, namanya Nozu" gumam Tobirama pelan. Ia merasa seperti pernah bertemu sebelumnya dengan anak perempuan itu, namun Ia tidak mengingat pasti kapan dan dimana mereka pernah bertemu.
Tobirama menggelengkan kepalanya. Ia melirik ke arah tumpukan secarik kertas yang ada di sebelahnya. Tersenyum tipis, Ia bangkit dari duduknya, mengambil kertas-kertas itu dan mengamatinya dengan seksama.
"Apa yang kupikirkan,sih? Aku harus mencari tanaman obat-obatan ini untuk kakak" gumamnya pelan sambil bergegas mencari ke semak belukar lainnya.
-8-8-8-
"Nah, ini yang terakhir!" aku memetik beberapa bunga krisan di sebuah tanah lapang yang terletak tidak jauh dari tempat aku bertemu dengan anak laki-laki berambut putih tadi. "Saatnya kembali!" aku meneruskan langkahku menuju tempat dimana aku meninggalkan anak laki-laki itu.
Setibanya di tempat aku meninggalkan anak laki-laki berambut putih itu. Aku tersenyum, rupanya anak laki-laki itu mau mendengarkan perkataanku. Ia tidak pergi ke tempat lain padahal tempat ini bukanlah tempat yang cocok untuk ditumbuhi tanaman obat-obatan. Dari caranya mengidentifikasi daun-daun disini, aku tahu betul dia tidak terbiasa mencari tanaman obat-obatan di hutan.
"Kau sudah datang, eh? Lama sekali"
'Hah!? '
Aku berdiri di jarak 500 meter darinya. Aku juga telah mencoba menyembunyikan hawa kehadiranku, tapi kenapa dia bisa tahu aku disini? Bahkan tanpa menoleh kebelakang! Hal itu tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa.
'Apa dia juga seorang shinobi?' tanyaku makin penasaran dalam hati.
Aku berjalan menghampirinya. Anak itu tidak menoleh ke arahku, Ia masih saja sibuk menggeledah semak-semak dengan kedua tangannya yang sekarang sudah terlihat lebih kotor dari tadi. Aku tersenyum. Anak ini tidak berhenti mencari tanaman obat itu. Sepertinya dia memang tidak tahu jika tanaman obat sulit ditemukan disini.
"Sudah, berhentilah mencari hal yang tak mungkin kau temukan" aku mencoba mengganggu konsentrasi anak laki-laki itu, tapi ia tidak bergeming sedikitpun.
"Hei, kau dengar apa yang kukatakan padamu tidak,sih?" tanyaku kemudian.
"AKU TIDAK AKAN PULANG ATAU BERHENTI SEBELUM BERHASIL MENGUMPULKAN SEMUA TANAMAN OBAT INI UNTUK KAKAKKU!"
Aku agak terkejut dengan nada suara yang terlontar dari kata-katanya. Aku memperhatikan wajah anak laki-laki itu. Ia terlihat begitu serius. Namun, dibalik keseriusannya, aku tahu bahwa anak itu tengah kelelahan. Kelopak mata bawahnya agak hitam dan tatapan matanya lelah.
"Kau tidak mungkin menemukan semua tanaman itu jika tidak fokus!" kataku yang masih bercanda dan bicara sok menggurui. Yah, sebenarnya apa yang kukatakan memang benar. Butuh fokus lebih dari 100% untuk mencari tanaman obat di hutan, apalagi jika kau jarang melakukannya.
"Kau masih mencari disini karena aku yang menyuruhmu untuk menungguku disini, ya?" tanyaku kemudian.
Anak itu makin mengerutkan dahinya, namun Ia tidak mau membalas perkataanku.
"Aku 'kan sudah bilang.."
"Kalau kau memang tidak ada urusan denganku, lebih baik kau diam atau pergi dari sini!"
Aku sangat terkejut dengan suara anak laki-laki itu. Suaranya terdengar datar tetapi membuat bulu romaku berdiri. Anak laki-laki itu seperti mengusirku dengan aura yang keluar darinya, entah aura macam apa itu tapi yang jelas Ia membuatku terkejut hanya dengan mendengarnya bicara. Saking terkejutnya, keranjang yang berisi tanaman obat-obatan yang tadi kucari jatuh, isinya keluar, berantakan.
Aku sadar, tidak seharusnya aku mengatakan hal itu padanya, yang sedang kesulitan. Aku berjongkok dan mulai mengumpulkan tanaman obat yang jatuh, kemudiannya memasukkannya lagi dalam keranjang yang kubawa.
Perlahan, aku berjalan kearahnya dan menyodorkan keranjang berisi tanaman obat itu di depan wajahnya. "Ini, obat untuk luka terkena panah. Kau tidak perlu repot-repot mencarinya lagi" ujarku agak salah tingkah. "maaf sudah membuatmu kesal"
Anak laki-laki itu kembali tertegun. Dia menatap keranjang obat itu dengan tatapan tidak percaya.
"Kau memberikan ini padaku?" tanyanya heran.
"Tidak ada anggota keluargaku yang sedang terluka kena panah. Ini untukmu" ujarkusambil memaksakan diri untuk tersenyum (walaupun sebenarnya aku masihmerasa takut padanya). Namun, aku senang sekali bisa membantunya. "Aku 'kan tukang obat! Kau lupa?" tanyaku setengah tertawa.
Kini, anak laki-laki itu terlihat salah tingkah. Entahlah, mungkin dia merasa bersalah telah meneriakkiku tadi.
"Sudah, tidak apa-apa, perbuatanmu padaku tadi sudah kumaafkan. Ini ambil!" aku menyodorkan keranjang itu lebih dekat lagi kearahnya. "Semoga kakakmu cepat sembuh!"
Entah mengapa pandangan matanya berubah setelah kata-kata tadi keluar dari mulutku. Kini Ia tengah menatap keranjang yang kuberikan padanya dengan tatapan aneh. Benar atau tidak, menurutku Ia terlihat ragu, apakah aku betul-betul ingin menolongnya atau melakukan hal sebaliknya.
"Kau kenapa, sih? Aku sudah susah-susah berjalan jauh, memanjat pohon juga, cuma untuk mengumpulkan ini dan kau tidak mau menerimanya?" tanyaku yang lama-lama kesal. Anak ini sepertinya curiga dengan semua hal yang ada disekitarnya.
Anak laki-laki itu diam.
Dengan berat hati (raut wajahnya mengatakan itu), akhirnya Ia mengambil keranjang yang kuberikan padanya dengan kerutan di dahinya. "Terima kasih" ujarnya pelan.
"Sama-sama, emm.."
"Tobirama" ujar anak laki-laki itu singkat. "Itu namaku"
"Wah!" aku bersorak girang seperti saat memenangkan undian judi (untuk apa juga?).
"Tobirama, mulai hari ini aku adalah temanmu dan kau adalah temanku. Jangan sungkan meminta bantuanku jika kita bertemu karena mungkin aku juga akan meminta bantuanmu untuk beberapa hal, hehe" ujarku kegirangan. Entah mengapa, setelah mengetahui namanya, aku tidak merasa canggung untuk bicara dengannya. Sedangkan lawan bicaraku itu hanya diam sambil mendengarkanku.
Anak itu tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya. "Senang berkenalan denganmu, Nozu"
Aku menyambut uluran tangannya.
"Ya" balasku sambil tersenyum. Aku senang, akhirnya bisa berteman dengan anak laki-laki yang sekarang bisa kupanggil dengan nama Tobirama. Nama yang cukup panjang, eh?
"Aku harus segera pulang dan mengobati kakakku" ujar Tobirama.
"Baiklah" aku tersenyum. "Semoga kakakmu cepat sembuh! Kuharap kita bisa bertemu lagi besok disini, bagaimana?" entah mengapa kata-kata itu meluncur keluar dari mulutku. Walaupun sifatnya memang berlawanan dengan sifatku, anehnya aku merasa cocok dengannya.
"Ya, jika ada waktu, besok kita bertemu disini" Tobirama melompat ke atas dahan pohon yang cukup tinggi. "Sampai jumpa!"
"Ah! Dan kau harus istirahat yang cukup sebelum pingsan di tengah jalan!" Aku berkata dengan suara lebih keras, berharap Tobirama masih mendengarnya walaupun mungkin Ia sudah berada cukup jauh dariku.
Aku hanya bisa menatap sosoknya yang lama kelamaan menghilang dibalik rimbunnya hutan sambil tersenyum.
Tobirama, anak itu memang seorang shinobi.
-8-8-8-
Malam itu berjalan seperti biasanya. Setelah makan malam, Tobirama memilih untuk menemani kakaknya daripada melakukan apapun. Setelah minum obat dari daun-daunan diberikan Nozu padanya tadi pagi, Kakaknya sudah terlihat lebih baik. Tobirama menatap kakak laki-lakinya yang tengah tertidur. Andai saja tadi Ia tidak menerima keranjang obat pemberian Nozu, mungkin malam ini keadaan kakaknya masih sama seperti tadi pagi, badannya meriang dan panas. Setelah minum obat, panas badannya menurun dan badannya sudah tidak gemetar lagi.
"Aku akan disini, menjaga kakak. Tidur yang nyenyak ya, kak"
'BRAKK'
Tobirama terkejut bukan main. Ternyata ayahnya membuka pintu kamar dengan begitu keras. Setibanya di dalam kamar, Butsuma senju langsung membuka lemari tempat pakaian perang dan pedangnya disimpan. Ia segera mengenakannya secepat mungkin. Tobirama hanya mengerutkan dahi melihat tingkah laku ayahnya yang tidak biasa.
"Ada apa ayah? Apa ada musuh yang datang? Uchiha?" tanya Tobirama spontan sambil bangkit berdiri.
Tanpa menoleh ke arah Tobirama dan masih bergegas mengenakan pakaian perangnya, butsuma berkata "Rencana kita menyerang klan Hagoromo dipercepat. Ada informasi penjagaan disana sedang lenggang!"
Tobirama sangat terkejut mendengar perkataan Ayahnya. Butsuma senju menoleh ke arah anak laki-laki keduanya itu.
"Tobirama, tinggalkan kakakmu disini! Akan ada anggota klan yang menjaganya. Cepat kau pakai baju perangmu. Malam ini, kita balaskan dendam Kawarama pada mereka! Cepat!"
"Ya, ayah" entah mengapa kalimat itu meluncur keluar dari mulut Tobirama.
"Cepatlah! Ayah menunggu di daerah perbatasan! Kita habisi mereka tanpa sisa malam ini!" Butsuma Senju bergegas keluar, meninggalkan Tobirama dan kakaknya dalam kamar.
Tobirama tertegun. Ia melirik kakaknya yang terbaring, tidak tahu apa-apa. Jika kakaknya sadar, pastilah sudah terjadi pertengkaran antara ayah dan kakaknya. Tobirama sangat yakin kakaknya tidak akan setuju dengan rencana ini.
"Maaf kak. Aku hanya bisa mematuhi perintah ayah"
Tobirama bangkit berdiri dan bergegas membuka lemari bajunya, mengenakan baju perang dan mengambil pedangnya. Ia mengenakan pelindung kepalanya dan bergegas keluar, menuju daerah perbatasan.
To be Continued..
A/N: Halo Readers! (author datang sambil berlinangan air mata). Saya senang luar biasa karena kalian sudah meluangkan waktu untuk sekedar memberi review untuk fic pertama saya ini! Terima kasih bannyakkkkk semuanyaaa! :"D. Finally, saya bisa update chapter 2 hari ini. Oh iya, saya senang sekali karena readers penasaran dan ingin saya tetap lanjutin fic ini :'D. Sebagai tambahan juga, sebelumnya saya pernah tulis fic ini dengan judul 'The Precious Remorse' tapi saya re-make jadi 'The Second's bride'
Oh iya, sebagai penjelasan nih, disini saya menggunakan POV orang pertama untuk Nozu (kalo Nozu yang bicara, saya tulis 'aku') dan POV orang ketiga untuk Tobirama :3. Oh iya readers, kalian tahu kan kalo Nozu itu perempuan? :o (author takut kalian kira Nozu itu laki-laki karena author yang kurang jelas tulis ceritanya ._.). Di chapter ini, author kasih tulisan kalo Nozu itu kunoichi hehe :p.
Gimana nih readers? Tambah penasaran ga sama ceritanya setelah baca chapter 2-nya? Penasaran ga, kira-kira apa Tobirama ketemu Nozu nanti? Hehe, saya berharap kalian makin penasaran supaya baca terusss ;). Saya masih tetap mengharapkan review dari readers untuk bab ini . Gaya penulisan, karakter OC, penggambaran suasana dan lainnya, pokoknya apapun itu tentang cerita ini! ;)
See you all in the next chapter! :"D
