Title: Love Trauma
Author: Nekun
Cast:
Wu Shixun 23 tahun
Xi Luhan 27 tahun
Wu Yifan 29 tahun
Huang Zitao 24 tahun
Wu Sehan 4 tahun
Pairing: HunHan and KrisTao
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rate: M
Warning! : GS for uke, bahasa tidak baku, typo
Disclaimer: semua cast bukan milik saya
PART 2
Di sebuah kamar yang berdesain minimalis namun terkesan elegan dan didominasi dengan warna cream bernuansa kayu yang menenangkan, terlihat seorang yeoja terbaring lemah diatas tempat tidur dengan seorang dokter yang sibuk memeriksa kondisi tubuhnya. Namun sayangnya yeoja itu dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tak jauh dari situ, berdiri seorang namja tampan dengan alis tajamnya, yang sedari tadi memandang khawatir pada si yeoja. Ya, dia adalah pemilik rumah ini Wu Shixun
Joongmyun, dokter muda berusia 28 tahun yang sekarang menggantikan posisi ayahnya sebagai dokter pribadi keluarga Wu itu memandang Sehun perlahan
"Apa tidak sebaiknya Luhan kembali dulu ke rumah orang tuanya?" Tanya Joongmyun lembut. Pembawaanya pun kalem dan jangan lupakan senyuman malaikatnya yang bisa memikat siapapun yang melihatnya. Oh baiklah, yang terakhir itu memang sedikit berlebihan.
"Tidak," jawab Sehun cepat yang menyebabkan kerutan di dahi sang dokter seolah bertanya 'maksudmu dengan tidak?'
"Luhan ingin tinggal disini, dan aku tidak mau mengecewakannya dengan menyuruhnya pulang," jelas Sehun seperti mengerti apa yang sedang di pikirkan sang dr. Kim muda
"Apakah tidak apa-apa? Tapi keadaan-"
"Luhan akan baik-baik saja. Kumohon dokter, ijinkan dia tinggal disini, aku akan merawatnya dengan baik," lagi, Sehun memotong perkataan Joongmyun
Yang lebih tua mendesah pasrah, "Sehun, kau pasti tahu kan jika yang aku khawatirkan bukan keadaan Luhan?" Selidik Joongmyun sambil melirik kepalan kedua tangan Sehun, jelas sekali jika pemuda berusia 23 tahun itu sedang menahan sesuatu, "..tapi lebih pada keadaanmu Wu Shixun, aku tidak yakin sampai kapan kau bisa bertahan. Dan dengan keadaan Luhan yang masih seperti ini, semuanya akan jauh lebih sulit,"
Sehun menunduk pasrah, "..aku akan berusaha bertahan, percayalah padaku dokter,"
"Sampai?"
Pemuda bersuarai drak brown itu terdiam sebentar, "Sampai Luhan menginginkannya sendiri,"
"Aku tidak percaya!" Terdengar jelas sekali, ada nada mencemooh dari suara Joongmun
"Dokter ak-"
"Baiklah-baiklah aku mengalah. Tapi ingat, jika keadaan Luhan tidak kunjung membaik, segera pulangkan dia ke rumah orang tuanya," saran dr. Kim dan Sehun hanya mengangguk sebagai balasan, "Tadi aku menyuntikan obat penenang padanya, tapi reaksinya tidak akan lama. Kupikir sebentar lagi dia juga akan bangun"
Lagi-lagi Sehun hanya mengangguk sebelum dia merasakan tepukan di bahu kanannya, "Itu tadi pesanku sebagai dokter, Sehun" ujar Joongmyun dengan senyum, "Tapi sebagai kakak yang menganggapmu sebagai adiknya sendiri aku turut bahagia melihat Luhan sekarang berada di sisimu. Aku tahu bagaimana menderitanya dirimu selama ini ,"
Hati Sehun menghangat mendengar kata-kata Joongmyun, jujur saja untuk saat ini Sehun memang membutuhkan dukungan moril," Terima kasih hyung," ucap Sehun tulus
Sang dokter mudapun hanya balas tersenyum, "Hahh sepertinya sudah waktu aku pergi Sehun-ah. Jaga dirimu baik-baik,"
"Ya, hyung aku bukan anak kecil!" Sangkal Sehun sedikit kesal yang menimbulkan kekehan dari Joongmyun
"Haha ya ya kau bukan anak kecil, sudah dulu ya aku pergi dulu"
"Ne hyung.." Sehun memang tidak mengantar Joongmyun sampai ke pintu depan. Toh sang dokter sudah hafal betul seluk beluk rumah Sehun
Tinggalah dia dan Luhan diruangan itu, dengan perlahan Sehun berjalan mendekat agar dia lebih jelas memandang sosok sang istri yang terbaring lemah. Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana perasaan Sehun saat ini. Bahagia sudah pasti, tapi lebih dari itu. Dia benar-benar tidak menyangka jika Luhan sendiri yang meminta untuk tinggal bersamanya.
"Lu, aku merindukanmu.." dan air mata itu tak dapat dibendung lagi, Sehun menangis hingga terisak, "Aku tersiksa Lu, tersiksa sekali..."
Di tengah isak tangisnya sendiri, sayup-sayup Sehun mendengar suara ponselnya berbunyi. Pemuda berkulit putih itu mengusap air mata denga punggung tangan sebelum merogoh saku celana untuk mengambil poncel pintar miliknya.
'Chanyeol Hyung Calling' tertera di layar poncel milik Sehun. Namja berwajah datar itu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Luhan sebelum dia mengangkat panggilan Chanyeol
"Ne hyung, ada apa?" Tanya Sehun setelah berhasil menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Sehun mendongakkan wajahnya di sandaran sofa. Dan sesekali jemari panjangnnya memijat pelipis untuk mengurangi rasa pening. Walaupun dia memejamkan mata, dia masih bisa mendengar Chanyeol
'Sehun, kudengar dari Baekyun istrimu mulai tinggal bersamamu mulai hari ini apa itu benar?' Tanya suara di seberang sana, namanya Park Chanyeol berusia 27 th. Salah satu kepala bagian di Wu Corp. atau tidak lain dan tidak bukan atasan Sehun sendiri. Ya, Sehun memang ingin memulai semua dari awal, makanya dia hanya menjabat sebagai stuff biasa di perusahaan milik ayahnya sendiri.
"Hmm," gumam Sehun untuk merespon pertanyaan Chanyeol, dia masih sibuk memejamkan mata sambil memijit-mijit pelipisnya jika kalian tahu
'Tapi kalau begitu...apa kau baik-baik saja?' Selidik Chanyeol
"Hmm" begitu lagi reaksi Sehun
'Sehun, aku sudah bisa menebak bagaimana reaksi tubuhmu, tapi aku harap kau bisa mengendalikan diri. Kalau tidak, kesembuhan Luhan-'
"Aku tahu hyung,"potong Sehun cepat dan bersamaan dengan itu matanya terbuka. Tapi ada yang aneh dengan mata Sehun, matanya berkabut. Ya, kabut nafsu.
Masih sama seperti lima tahun lalu, Sehun memiliki obsesi berlebih pada Luhan. Keinginan untuk menyentuh dan memiliki Luhan begitu besar. Andai kalian tahu bagaimana tersiksanya Sehun saat ini. Susah payah dia menahan hasyat dan nafsu yang menggerogoti setiap aliran darah serta hembusan nafasnya.
Sehun ingin menyentuh Luhan, sangat ingin. Tapi dia harus menahan semua itu karena keadaan Luhan yang belum pulih benar. Jika Sehun memaksa kehendak nafsunya, sudah bisa dipastikan keadaan mental Luhan tidak akan terselamatkan. Itulah yang dikhawatirkan Joongmyun dan Chanyeol, mereka tahu bagaimana terobsesinya Sehun pada Luhan. Mereka takut jika sewaktu-waktu Sehun lepas kendali dan menyakiti Luhan.
Sungguh kejam garis takdir yang mengikat mereka. Luhan yang begitu ingin berdekatan dengan Sehun, tapi tubuhnya mengingkari. Rasa cintanya pada pemuda itu tidak bisa mengalahkan ego tubuhnya yang menolak sentuhan Sehun. Sebaliknya, tubuh Sehun begitu menginginkan Luhan, ingin menyentuhnya tapi hatinya berkata lain. Hati nuraninya masih ada hingga dapat mengesampingkan nafsu yang membelenggunya sejak lima tahun yang lalu.
Sehun menjatuhkan poncel di genggamannya hingga terjatuh menempel pada sandaran sofa, dia tidak perduli dengan sambungan yang masih tersambung dengan Chanyeol. Dengan terhuyung dia bangkit dari duduk dan tertatih kembali menuju kamar Luhan. Di dorongnya pintu yang tidak tertutup sempurna saat terakhir ia tinggalkan tadi.
Beruntungnya dia, sepertinya Luhan sudah sadarkan diri. Yeoja itu memandang ke arah pintu dimana Sehun berdiri. Tidak bisa dipungkiri, ada kilatan rasa takut di mata Luhan, dan jujur saja itu menyakiti Sehun. Seperti hantaman keras yang memukulnya, menyadarkannya bahwa dia lah penyebab dari semua ini.
"S-sehun..." desis Luhan lirih dengan suara pecah
Sedangkan Sehun yang sedari tadi tidak bergeming di ambang pintu akhirnya bergerak. Dia berjalan mendekat ke arah Luhan. Membuat yeoja itu berjengit waspada, sungguh tubuhnya sangat sensitif dengan Sehun, keinginan untuk lari begitu kuat.
Entah apa yang ada dipikiran Sehun saat ini, walau dengan keadaan Luhan yang lemah dan ketakutan seperti itu Sehun nekat naik ke tempat tidur dimana Luhan berbaring. Membuat luhat tersentak seketika. Dia panik dan jantungnya berdegup dengan kencang.
"S-sehun, apa yang kau lakukan..?"dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Luhan mencoba menggeser tubuhnya menjahui Sehun, walaupun sepertinya percuma saja karena Sehun sudah mulai merangkak di atas tubuh Luhan sekarang.
Nafas yeoja itu terputus-putus, dia berusaha untuk tidak berteriak. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk sembuh. Jika memang Sehun menginginkannya sekarang, maka dia akan menerimanya.
Sehun menatap dalam yeoja yang berada di bawahnya, wajah ketakutan itu masih ada. Kelihatan sekali jika Luhan memaksakan diri. Bahkan Sehun bisa merasakan tangan Luhan bergetar di genggamannya. Sehun menutup matanya menahan rasa pedih yang menjalari hatinya. Lalu dia menggulingkan tubuhnya kesamping dan menarik Luhan menghadap padanya. Ditangkupnya wajah istrinya itu dengan lembut. Dingin, kulit Luhan terasa dingin. Terlihat jelas jika yeoja disampingya begitu ketakutan.
"Lu, aku tidak akan menyakitimu," ujar Sehun lembut, tapi Luhan hanya diam saja. Yeoja itu tidak berani menggerakkan inderanya barang sedikitpun, dia takut jika bergerak sedikit saja maka Sehun akan berubah menjadi buas seperti lima tahun lalu.
Melihat Luhan hanya diam saja membuat hati Sehun seperti teriris sembilu. Keterdiaman Luhan menjelaskan semuanya, bahwa yeoja itu belum percaya sepenuhnya pada Sehun. Ditariknya Luhan mendekat dan merengkuhnya dalam sebuah pelukan. Lagi-lagi Sehun tersenyum miris saat merasakan tubuh Luhan menegang di pelukannya.
"Aku tidak akan menyakitimu," bisik Sehun tepat ditelinga Luhan, "Aku tidak akan memaksamu seperti dulu, percayalah padaku Lu," tangan Sehun mengusap-usap punggung Luhan berusaha menenangkan.
"Kau akan sembuh, aku yang akan membantumu. Kita akan melalui semua ini bersama, kau tidak perlu takut padaku. Yakinlah bahwa aku tidak akan menyakitimu, itu janjiku Lu. Mulai sekarang aku yang akan menjagamu, tidak akan aku biarkan siapapun menyakitimu. Kau percaya padaku?"
Bukannya menjawab, Luhan malah terisak. Entahlah dia merasa lega saja ketakutannya tadi tidak terbukti. Entah keberanian dari mana Luhan justru semakin menenggelamkan dirinya di pelukan Sehun. Dia merasakan menemukan orang yang selama ini dia cari. Orang yang memeluknya sekarang adalah Sehun, orang yang sama yang sering diceritakan orang tuanya. Orang yang dia cintai, Luhan tidak pernah merasa begitu terlindungi lebih dari ini sebelumnya.
"Kau tahu Lu, Sehun itu orang yang lembut. Pernah suatu hari Sehan menangis karena diejek tidak memiliki umma. Namun dengan penuh kesabaran Sehun menenangkannya, kata-katanya sungguh terdengar lembut dan menenangkan. Jika itu belum berhasil, maka Sehun akan memeluk Sehan sambil mengusap-usap punggungnya hingga tertidur"
Dan tiba-tiba ucapan ibunya dulu terngiang lagi di telinganya. Dia merasa tidak asing dengan orang yang memeluknya sekarang. Padahal jika dipikir lagi, ini adalah pertemuan pertama mereka setelah lima tahun. Usapan tangan Sehun memang yang terbaik, buktinya kesadaran Luhan perlahan-lahan memudar dan jatuh tertidur.
.
.
.
Sementara itu ditempat lain beberapa waktu yang lalu.
"Ya, Wu Shixun jawab aku!" Teriak namja bertelinga besar pada phoncel di genggamannya, "Aishh dasar anak itu sealu seenaknya saja, aku kan belum selesai bicara," gerutunya sambil mengusap rambut hitam legamnya kasar
"Apa tadi itu Sehun?" Chanyeol, namja bertelinga besar itu terlonjak kaget saat mendengar suara dari belakang tiba-tiba menginterupsinya
Chanyeolpun berbalik dan dia mendapati namja tinggi bersurai blond, "Ohh Sajangnim, ne tadi saya sedang menelepon Sehun,"
"Jangan panggil aku Sajangnim, ini sudah lewat dari jam kerja," namja bersurai blond itu Kris, Wu Yifan. Namja berusia 29 tahun yang sekarang menjabat sebagai direktur utama Wu Corp.
Chanyeol menggaruk hidungnya yang tidak gatal, "Emmm kau sudah tahu mengenai Luhan?"
Bukannya menjawab Kris justru memandang Chanyeol penuh arti,"Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi Chanyeol, kau tahu bagaimana sifatku kan?" Kata-kata yang ambigu, tapi ada satu yang Chanyeol sadari. Cepat atau lambat perang saudara dari keluarga Wu akan terjadi.
XOXO
Pagi menjelang, sang surya dengan malu-malu meninggalkan peraduannya. Mengusik tidur anak manusia sebagai tanda bahwa mereka harus segera bangun untuk menjalankan aktifitas. Begitupun dengan kediaman rumah keluarga Wu, para pemghuninya sudah mulai sibuk melakukan rutinitas pagi hari tak terkecuali pemilik kamar bernuansa pink bertema hello kitty, Wu Sehan. Bocah perempuan berusia 4 th itu sibuk merias diri di bantu beby sitternya dan juga seorang yeoja yang berusia dipertengahan 20. Yeoja bermata panda yang memiliki rambut panjang hitam bergelombang hingga sebatas punggung. Perawakannya tinggi berisi, bahkan bisa dinandingkan dengan postur tubuh model profesional. Huang Zitao, nama yeoja itu. Gadis asal China yang dinikahi anak sulung keluarga Wu tiga tahun lalu.
"Aunty, kapan halmoni pulang? Thehan kangen~~" rengek bocah bermata rusa yang diwarisinya dari sang ibu
Zitao yang sibuk menyisir rambut bocah itu hanya bisa terkekeh, "Seminggu lagi sayang, halmoni kan harus menemani haraboji di China," jawab Zitao
Mendengar itu si bocah justru mempoutkan bibirnya, dengan kesal dia melipat kedua tangan di depan dada, "ugh cebal, halmoni ga cayang lagi cama Thehan!"
"Emm tidak boleh bicara begitu sayang, nanti halmoni sedih lo.."
"Morning princess,"tiba-tiba ada suara seorang namja terdengar. Sepertinya sang bocah sudah begitu akrap dengan suara itu. Buktinya dia buru-buru turun dari bangku rias dan berlari ke arah pintu.
"Uncle!" teriak Sehan semangat dan langsung menghambur pada pelukan Kris, sang uncle tercinta.
"Aww my princess, kau merindukan uncle?" Tanya Kris dengan suara yang dibuat kekanakan sambil mengangkat Sehan kedalam gendongannya
Si bocah hanya mengangguk semangat, "Uncle lupa membacakan dongeng untuk Thehan cemalam, Thehan benci!"
"Ahhh maafkan Uncle sayang, semalam Uncle sibuk dan pulang terlambat. Tapi Uncle janji nanti malam Uncle akan pulang lebih cepat,"
"Janji?" Ulang Sehan sambil mengulurkan jari kelingkingnya di depan Kris
Sang paman hanya bisa terkekeh melihat tingkah keponakannya itu, "Aku berjanji sayang," diapun menyambut uluran pinky promise Sehan. Dan tak berapa lama senyum kekanakan yang begitu manis muncul di wajah Sehan. Senyum yang sama persis dengan milik seseorang yang dia cintai, Xi Luhan.
Sedangkan didepan meja rias mini milik si empunya kamar Zitao hanya bisa berdiri terdiam melihat interaksi antara paman dan keponakan itu. Jika mereka sudah bersama, mereka seperti memiliki dunianya sendiri yang Zitao pun tidak bisa memasukinya.
"Minah, tolong bawa Sehan turun dulu untuk sarapan. Aku ingin berbicara sebentar dengan Zitao," perintah Kris yang di sambut anggukan dari sang beby sitter.
"Saya permisi tuan," pamit Minah saat Sehan sudah beralih dalam gendongannya. Kris hanya mengangguk sekilas . Saat dipastikan mereka berdua sudah cukup jauh Kris beralih memandang Zitao
"Kau pasti sudah dengar tentang kepindahan Luhan ke rumah Sehun kan?" Tanya Kris to the point
"Ya, aku sudah mendengarnya. Tapi apa hubungannya denganku?"
"Kau pasti sudah tahu hatiku tidak pernah berubah Zitao, aku masih mencintai Luhan. Dan kali ini aku yang akan merebutnya dari Sehun," dingin, kata-kata Kris sungguh terdengar dingin
"Kali ini aku tidak main-main. Aku sudah mengurus surat perceraian kita, dan sebagai gantinya kau berhak memiliki semua aset kakek yang berada di China. Sesuai dengan apa yang diancamkan mendiang jika aku berani menceraikanmu,"
Zitao tak bergeming, dia sama sekali tak menunjukkan keterkejutan. Toh dia sudah tahu dari awal jika akhirnya akan menjadi seperti ini.
"Aku harap kau bisa bekerja sama dan tidak mempersulit keadaan. Hanya itu yang aku inginkan," tutup Kris dengan jelas lalu menghilang dari hadapan Zitao.
Setelah kepergian Kris, air mata Zitao menetes. Tidak ada isakan, yeoja cantik itu hanya menangis dalam diam. Tangan lentiknya mulai terangkat dan mengelus perut datarnya perlahan.
"Mungkin sampai akhir, umma tidak bisa memberitahukan keberadaanmu pada appamu sayang. Maafkan umma.." air mata itupun mengalir lagi seiring dengan runtuhnya ketegaran Zitao yang dia bangun selama tiga tahun terakhir. Menjadi istri dari Wu Yifan, orang yang sekalipun tidak pernah menganggap keberadaan Zitao cukup sebagi alasan kenapa yeoja itu harus memiliki hati yang lapang dan kuat.
Lima tahun yang lalu adalah pertama kali Zitao bertemu Kris saat pemuda itu datang ke China untuk menenangkan diri. Zitao sendiri adalah anak panti asuhan yang diangkat oleh kakek Kris. Rasa sayang kakek Kris pada Zitao sungguh luar biasa, bahkan tiga tahun yang lalu saat beliau harus tutup usia, kakek Kris meninggalkan wasiat agar Kris mau menikahi Zitao. Tentu saja Kris marah, karena dia hanya mencintai Luhan. Itulah kenapa dia tidak pernah menyukai Zitao. Lalu bagaimana dengan Zitao sendiri?
Yeoja itu sebenarnya juga tidak mencintai Kris, tapi dengan berjalannya waktu rasa itu mulai tumbuh. Zitao yang perperangai keras itupun tidak kuasa menolak pesona Kris dan juga sentuhan namja tinggi itu. Walaupun Zitao tahu Kris tidak pernah melibatkan perasaan saat dia menyentuhnya.
Zitao juga tahu alasan Kris ingin tetap tinggal di rumah ini walaupun dia sudah menikah adalah Sehan. Kris ingin dekat dengan putri adiknya sendiri agar suatu saat nanti jika Luhan sudah sembuh dan mau menikah dengannya, mereka berdualah yang akan merawat Sehan. Bersama Luhan tentunya, dia tidak mempermasalahkan jika Sehan itu putri Sehun. Dia ingin hidup bahagia bersama Luhan, Sehan dan anak-anak mereka sendiri nantinya.
XOXO
Luhan menggeliatkan tubuhnya perlahan, dia hiraukan rasa kantuk yang masih menjeratnya dan bangkit bangun. Sehun sudah tidak ada di sampingnya dan itu membuat yeoja cantik itu merasa gagal sebagai seorang istri.
Luhan turun kebawah dan langsung disambut aroma masakan dar arah dapur, Luhan pun mengikuti sumber aroma itu sebelum dia menghentikan sesuatu karena mendengar seseorang berbicara.
"Awww jangan marah pada appa sayang, appa janji nanti siang appa akan datang mengunjungimu," ternyata itu suara Sehun. Namja tampan itu sedang berbicara melalui handphone, tapi karena kedua tangannya sibuk membuat pan cake maka dengan terpaksa dia menjepit phoncel pintarnya diantara bahu dan pipinya.
Luhan tertegun, Sehun memanggil dirinya 'appa' jadi kemungkinan besar orang yang sedang berbicara dengan Sehun adalah Sehan, putri mereka. Betapa Luhan ingin bertemu dengan putri semata wayangnya itu. Membayangkan bahwa Luhan telah melewatkan 4 tahun masa pertumbuhan Sehan membuat yeoja itu tertunduk sedih.
"Iya, iya sayang appa janji. Appa akan menjemputmu nanti siang ok? Belajar yang baik dan jangan menyusahkan Aunty,"lanjut Sehun," Baiklah kalau begitu, bye sayang appa juga mencintaimu mmuachh!" Sehun mengakhiri acara meneleponnya dengan virtual kiss, lucu sekali.
Saat dirasa masakannya sudang matang Sehun segera mematikan kompor dan memindahkan pan cake buatannya ke atas piring di meja makan yang terletak di belakangnya. Saat itulah dia baru menyadari keberadaan Luhan yang sudah berdiri di belakangnya.
"Lu, kau sudah bangun?"
Luhan hanya mengangguk sebagai jawaban
"Duduklah Lu, kita sarapan bersama,"
Tanpa berniat protes Luhan menarik kursi di sampingnya dan duduk di depan Sehun,"Sehun, apa tadi itu Sehan?"
Sehun yang sedang menuang madu ke atas pan cake menghentikan gerakannya dan memandang Luhan,"Kau mendengarnya?" Sehun malah balik bertanya dan Luhan mengangguk mengiyakan
"Ya kau benar, yang tadi itu Sehan. Akhir-akhir ini dia sering rewel karena appa dan umma pergi ke China dan aku jarang menemuinya."
"Apa aku boleh menemuinya?" Tanya Luhan tiba-tiba yang cukup membuat Sehun terkejut
Namja tampan itu menghela nafas pelan," Tidak sekarang Lu, mungkin nanti jika kau sudah sembuh benar. Tidak apa kan?" Sebenarnya Sehun tidak suka mengecewakan istrinya seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Semua ini dia lakukan juga demi untuk kebaikan Luhan
"Jadi asalkan aku sudah sembuh aku boleh menemuinya kan?"
Sehun mengangguk sambil tersenyum yakin
"Janji?"ulang Luhan yang menyebabkan senyum Sehun semakin lebar. Baru saja namja berkulit putih itu menemukan jawaban dari mana sifat menggemaskan putrinya itu menurun. Lihatlah Luhan sekarang dia benar-benar bertingkah seperti Sehan jika sedang merajuk. Mata rusa yang sama, benar-benar cantik.
"Aku janji,Lu"
XOXO
Seperti yang sudah dia janjikan tadi pagi, siang itu benar saja Sehun datang ke sekolah Sehan untuk mengajak putrinya itu makan siang. Tak perlu menunggu lama sampai Sehan muncul bersama Zitao yang menggandeng tangan mungilnya. Memang sudah menjadi rutinitas jika Zitaolah yang akan mengantar Sehan menghadiri pre-school programnya jika mertuanya sedang tidak ada di rumah.
"Appa!" Teriak Sehan antusias saat melihat Sehun di depannya. Dilepasnya genggaman Zitao dan berlari ke arah ayah tercinta
"Halo sayang, bagaimana harimu?" Tanya Sehun pada putriya yang sekarang sudah berada di gendongannya.
"Junwa nakal appa, Thehan cebal pokoknya cama dia!" Rengek Sehan manja
Sehun terkekeh, bahkan dalam keadaan marah seperti ini Sehan masih terlihat menggemaskan.
"Apa kau tidak sibuk, tumben sekali kau datang kesini?" Tanya Zitao yang sudah bergabung dengan ayah dan anak tersebut
"Kalau mengurusi kesibukan tidak akan ada habisnya noona, tapi tadi pagi Sehan merengek padaku. Jadi aku menyempatkan datang kesini," jelas Sehun
"Ohh jadi jika tidak sempat kau tidak akan datang?" Goda Zitao pada adik iparnya itu
"Ya bukan begitu noona, tapi kan aku memamg tidak bisa sering-sering berkunjung,"bela Sehun tak mau kalah. Mereka memang akrab, mungkin karena usia mereka juga yang tidak terpaut jauh sehingga mereka merasa cocok jika mengobrol.
"Ohh ya, ku dengar Luhan sudah pindah ketempatmu?"
"Ya kemarin dia baru datang,"jawab Sehun
"Aku bingung mau memanggilnya apa, dia lebih tua dariku jadi seharusnya aku memanggilnya unnie. Tapi walaupun begitu dia istri adik iparku, jadi jika menurut silsilah keluarga harus aku yang dituakan. Hemm membingungkan, menurutmu bagaimana Sehun?"
Sehun hanya terkekeh mendengar celotehan Zitao,"Terserah noona saja mau memanggilnya bagaimana, dia tidak akan keberatan ko,"
Zitao terdiam, dipandanginya wajah Sehun saat membicarakan Luhan. Begitu bahagia dan bersemangat, berbeda sekali dengan Sehun yang dia kenal selama ini.
"Hahh aku jadi ingin bertemu Luhan.."desis Zitao
"Memangnya kenapa noona?"
"Aku hanya penasaran, orang seperti apa wanita yang dicintai Kris,,"Zitao mengatakan itu dengan pandangan kosong dan Sehun mengerti. Sehun tahu jika kakaknya masih mencintai Luhan. Sehun juga tahu bagaimana menderitanya kakak iparnya itu. Sebatang kara datang ke negeri entah berantah yang belum dia datangi sebelumnya, harus belajar menyesuaikan adat yang baru, harus berbica dengan bahasa yang tidak dia mengerti. Penderitannya bertambah saat mengetahui jika satu-satunya orang yang dia percaya, yang dia harap bisa melindunginya di tempat asing itu tidak pernah perduli padanya.
TBC
a.n
Big thanks buat semuanya yang uda baca, review, fav and follow ff ini. Aku bener-bener makasih sama reader sekalian
And buat Ai, aku juga bingung mo ngomong ke kamu lewat apa chingu, coz kamu ga ada akun ffn, tapi kalo kamu tetep mo ngobrol ma aku boleh de kirim email ke nekunminnizer gmail . com ato ga mention ke twitter anjarcassiopeia , tapi kalo soal ide cerita aku minta maaf bgd ya,,kayaknya aku ga bisa make, coz kerangka ff ini uda jadi, so aku ga bisa ngerubah lagi, ga papa kan?
