RnR ^^
Mikasa POV~
"Mikasa, apa kau mau minum teh?"
Aku menggeleng.
"Tidak, aku tidak suka teh."
Levi tersenyum licik.
"Aku juga. Aku lebih suka meminum dirimu dari pada minum teh."
Kampret-
Berani sekali si bonsai ini merayuku. Kutatap matanya yang berwarna hampir sama dengan milikku. Dia tersenyum dan memamerkan gigi iblisnya. Aku hanya diam sembari membuang muka.
"Mikasa~"
Aku kembali menoleh kearah asal suara yang cukup terdengar maskulin. Sayangnya pemilik suara itu tidak sekeren suaranya. Pria kecil itu mendekatkan wajahnya dengan wajahku dengan nafas memburu. Tangannya mulai menyentuh pergelangan tanganku.
"Kau sungguh menggoda hari ini mikasa."
Bibirnya semakin dekat dengan wajahku. Tapi tiba tiba-
Levi menghentikan aksinya.
Oh, ternyata.
Tanpa sadar penaku menancap di pahanya. Wajah lelaki bonsai itu langsung memerah menahan perih. Aku hanya diam melihatnya. Levi segera menjauhkan tubuhnya dari hadapanku. Dia keluar dari kamarnya dengan penaku yang masih menancap di pahanya. Tak lama kemudian, dia datang membawa 2 cangkir coklat panas dengan wajah tenang. Sepertinya penaku sudah hilang dari pahanya.
"Nah Mikasa, silahkan diminum."
Nada yang digunakan Levi sangat ramah. Tapi terlalu ramah sehingga membuat tulang ikan yang kumakan tadi pagi hampir keluar.
"Le-Levi, berhenti. Kau membuatku takut."
Sialan, tanpa sadar aku mengutarakan perasaan takutku.
Levi menatapku dengan ekspresi bingung. Dia meletakkan 2 cangkir tersebut di atas meja dan duduk di sofa yang berhadapan denganku.
"Maaf Mikasa."
JEGERRRR!
Seorang Levi meminta maaf?! Minta maaf? MIN-TA-MA-AF? Wadefak! Ini kejadian yang sangat langkah.
Aku melirik Levi dengan ekspresi yang agak cemas. Dia hanya tersenym lembut. Kok tiba tiba jadi pada OOC sih?
"Baiklah Mikasa, ayo kita kerjakan."
Levi memberiku tiga lembar kertas dan sebuah pena. Aku menulis 40 soal, begitu juga dengannya.
Penaku terus memuntahkan tinta diatas kertas putih tersebut. Aku sudah tidak bisa merasakan waktu berjalan. Aku sudah tidak bisa merasakan haus. Atmosfir 'disini terlalu tegang! Otakku bisa terpelintir jika begini! Padahal tinggal 2 soal lagi. kenapa aku jadi tegang begini!'
"aku sudah selesai. Bagaimana denganmu Mikasa?"
Aku tersadar dari lamunanku begitu mendengar Levi berbicara.
"emm, tinggal 2 soal lagi."
"sini biar aku yang mengerjakannya."
"eh?"
"lebih baik kau istirahat Mikasa."
Aku terkejut mendengar Levi yang begitu baik padaku. Sebenarnya sifat dia ini seperti apa sih? Disekolah dia seperti serangga, sekarang dia seperti kucing persia. Sungguh lelaki yang tidak bisa dimengerti.
Dia mengambil kertasku dan mulai menulis. Aku hanya terdiam sambil memperhatikannya saja. Saat pandanganku beralih ke jendela,
"hah? Sudah gelap?"
Ternyata sudah malam. Aku bisa dimarahi ibu!
"Oh! Baiklah Mikasa. Sini biar kuantar. Gadis cantik tidak boleh berjalan sendirian dimalam hari."
Levi kembali menjadi lelaki genit. Dia menarik tanganku dan mengantarku kedepan rumahnya. Dia mengambil motornya dan menyuruhku naik. Aku naik ke motornya tanpa basa basi. Dia mengantarku sampai tepat didepan rumahku.
"terimakasih Levi."
Tiba tiba Levi mendekatkan wajahnya dan memejamkan mata. Sepertinya dia mengharapkan ciuman. Genit mode kembali aktif ternyata.
Aku segera masuk kedalam rumah ku tanpa memperdulikan Levi yang masih terbalut fantasinya yang membuatku mual.
Aku segera masuk kekamarku dan segera tidur karena kelelahan.
Keesokan harinya
"Levi! Kau mau menciumku?"
Ck, jeritan menjijikan kembali terdengar dari seorang Annie. Mereka belum sembuh dari kebutaan rupanya.
"Maaf Annie sayang, bibirku sedang tidak memerlukan pelembab."
Levi mengelus bibir bawah Annie yang membuat beberapa murid perempuan berteriak histeris.
BRAKK!
"Mikasa ackerman. Aku memerlukan bantuanmu."
Aku menoleh kearah seseorang yang membuka pintu kelas dan dengan lantang memanggil namaku. Itu, itu, itu! EREEEENNN!
Dia sangat tampan! Eren beda kelas denganku. Dia di kelas 3-4 sementara aku di kelas 3-2. Seandainya dia bisa sekelas denganku, aku akan sujud syukur diatas kepala pixie.
"a-ada apa Eren?"
Aku bahkan terlalu gugup untuk sekedar melihat wajahnya.
"bisakah kau membantuku? Ada soal matematika yang tidak kumengerti."
Aku hanya mengangguk gugup. Eren menarik lenganku dan membawaku kekelasnya.
Levi POV~
Mikasa pergi bersama Eren. Ternyata bocah coklat itu memaksa Mikasa untuk mengikuti keinginannya. Mikasa pasti ketakutan! aku akan menolongnya dari cengkraman iblis si jeager!
Aku meninggalkan kerumunan gadis gadis yang merupakan fans fanatic milikku. Aku melangkah keluar kelas dan berjalan cepat menuju kelas 3-4. Kalau tidak salah, itu kelasnya Eren.
Kubuka pintu kelasnya dan pandanganku langsung menyapu setiap sudut yang ada di ruangan itu untuk mencari Mikasa-ku.
Tidak ada.
Disitu juga tidak ada.
Dimana dia?
Ahh..
"Eren, seharusnya bukan begituu"
Wajahnya memerah.
"Eren, seharusnya kau menggunakan rumus ini."
Mereka terlalu dekat.
"Eren?"
Sepertinya dia senang.
Aku menutup pintu dan segera pulang ke kelasku. Kupercepat langkahku dan aku merasa melayang. Aku sudah tidak peduli lagi pada sekitar.
Panas...
Tubuhku panas..
Ah, bukan. Bukan tubuhku yang terasa panas.
Sepertinya organ ekskresi dalam tubuhku yang bertugas mengeluarkan empedu lah yang mulai mengalami gangguan.
"Ah,sudahlah.."
TBC
