Naruto yang sedang panik tidak bisa berpikir jernih. Ia tak bisa mengemudi, akhirnya memilih untuk menunggu kendaraan yang lewat. Akan tetapi, setelah beberapa saat tak kunjung ada kendaraan yang lewat untuk meminta pertolongan.

"Kami-sama.. Bagaimana ini?" Naruto panik bukan kepalang, apalagi Sasuke sudah tidak bisa diajak bicara. Naruto melihat kunci yang masih tertancap dimobil. Dengan langkah seribu, dia duduk dikursi kemudi dan menyalakan mesin.

Bbrrrmmm..

Mendapati mobil menyala, Naruto tetap bingung. Dia memang pernah belajar menyetir mobil, tapi catat– itu empat tahun yang lalu. Saat Naruto di Konoha. Ia meminta kepada Minato untuk mengajarinya meyetir mobil, Minatopun mengajarinya. Mengemudikan mobil pengangkut sayur. Hasilnya? 3 bulan keluarga Namikaze itu harus menghemat makan. Naruto menabrakkan mobil pengangkut sayur itu pada tiang listrik. Kushina sampai menangis dua hari, karena tabungan dan biaya hidupnya melayang untuk biaya ganti. Naruto terserang trauma hebat.

Jadi, bagaimana sekarang?

"Uuggh!" Erang Sasuke kesakitan. Napasnya tersengal dengan darah segar mengalir disudut bibirnya juga hidungnya.

"Sabar, Sas. Aku akan berusaha!" Meskipun panik, Naruto berusaha agar tetap tenang. Ia menutup pintu, lalu memantapkan posisinya dibelakang kemudi. Mesin mobil telah menyala. Sambil memantapkan pegangan tangannya pada stir mobil, Naruto menginjak gas mobil kuat-kuat. Lalu, kaki kirinya mengjinjak satu injakan sebelah kiri.

Eh? Ternyata itu bukan kopling, melain'kan rem. Naruto kalang kabut.

"Aduh! Aku lupa kalau mobil ini otomatis, ttebayo!" Naruto menggerutu sendiri atas kebodohannya. "Oke, Naruto. Jangan panik! Kamu bisa! Kami-sama...," ia berdoa.

Setelah itu, dia mengijak gas. Menyala. Pun mobil bergerak maju. Naruto sedikit menyeringai karena bangga akan dirinya sendiri, ia lebih percaya diri sekarang. Jalannya lurus, jadi tidak terlalu sulit mengemudikannya.

Ckiiiittt!

Tiba-tiba saja Naruto mengerem mobilnya. Ia masih lupa sesuatu. "DIMANA LETAKNYA RUMAH SAKIIT? AKU TIDAK TAHU, TTEBAYO!"

Dia tidak tahu harus kemana. Jalanan sepi, tidak ada kendaraan satupun yang lewat. Ia bukan orang asli Shibuya. Ah.. Apalagi kesialan yang akan aku hadapi lagi? Pikir Naruto kalut. Naruto mengambil HP dari sakunya, mencoba mencari bantuan. Ketika dia menatap layar HP, terlihat ada miss call dari Shikamaru.

"Ohya! Shikamaru!" Seketika pemuda berusia 22 tahun itu menelepon Shikamaru.

"Shika?! Tolong aku! Sekarang aku di Queen street. Temanku habis dipukuli orang. Dimana rumah sakit terdekat?" Tanya Naruto tanpa basa basi.

Diseberang sana, Shikamaru kaget. /"Siapa yang terluka, Naru?/ Pemuda Nara itu jadi ikut panik juga khawatir terhadap pemuda pirang kesukaannya.

"Jawab saja Shika! Ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya!"

/"Oke-Oke. Sekarang dengarkan instruksiku,..."/ Shikamaru lalu menjelaskan letak rumah sakit yang tak jauh dari Queen street. Naruto mengikuti petunjuk Shikamaru. Mobilnya berjalan zig-zag. Sesekali, dia mengerem. Sesekali juga, gasnya menghentak mengaggetkan. Naruto bahkan sampai menabrak kotak majalah dipinggir jalan karena tangan kirinya sibuk memegang HP. Majalah-majalah itu tumpah kejalanan. Naruto sama sekali tidak peduli– bahkan pada klakson-klakson yang mencicit didepan maupun dibelakangnya. Terpenting, ia segera membawa Sasuke kerumah sakit.

"Aku sudah sampai!" Pekik Naruto ketika ia melihat gerbang rumah sakit. Shikamaru yang sedang dilanda ketegangan ikut mendesah lega.

"Sekarang, kamu segera teriak emergency kepada satpam didepan gerbang. Dan bawa temanmu ke IGD. Aku akan segera menyusul kesana," tukas Shikamaru yang dijawab mantap oleh Naruto, kemudian sambungan telepon mereka terputus.

Naruto membuka pintu belakang dan membatu Sasuke keluar. Selanjutnya, ia pun berteriak meminta pertolongan kepada penjaga pos didekatnya. Satpam yang melihatnya segera menerima Sasuke. Mereka membawa pemuda berusia 25 tahun itu ke ruang IGD. Naruto berlari mengikuti Sasuke yang di bawa di atas tempat tidur beroda. Mereka melewati lorong demi lorong yang terang.

"Na-Naru..," gumam Sasuke yang berlumuran darah. Suara Sasuke terdengar tak berdaya, tampaknya organ dalam pemuda itu terluka.

Naruto meringgis, ia menguatkan genggaman tangannya kepada Sasuke. "Aku disini, Sasuke. bertahanlah.."

"Kamu tidak boleh masuk!" cegah sang perawat ketika Sasuke memasuki ruang IGD. Naruto mengangguk dan melihat tubuh Sasuke yang menghilang dibalik pintu. Ia mendesah panjang, kejadian ini terlalu mendadak dan membuatnya serasa mau mati jantungan. Lalu, pemuda itupun segera menghampiri front desk untuk mengisi beberapa informasi mengenai Sasuke.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru slight ShikaNaru

Rate : T

Gendre : Romance,Drama

Warning : YAOI,ANEH,GAJE, TYPOS,DLL

LOVE in Shibuya By Akira Naru-desu

.

.

"Siapa orang-orang itu? Mereka tak tampak seperti perampok. Apakah mereka preman dan Sasuke punya utang sehingga dihadang di jalan?" di toilet Naruto terus bertanya-tanya dari kejadian yang baru menimpa Sasuke. Sementara, tangannya sibuk membersihkan pakaiannya.

"Kemungkinan yang lain, Sasuke adalah anggota salah satu geng dan sedang bermusuhan dengan geng lainnya. Atau, Sasuke berutang narkoba dan dia dipukuli karena belum bayar," Naruto meracau sendiri, "ah! kemungkinan yang ini tidak mungkin. Badan Sasuke sangat atletis. Matanya bening dan kulitnya segar, tidak seperti pengguna narkoba. Kemungkinan lain, Sasuke berurusan dengan kekasih orang. Mungkin, dia sudah memacari salah satu pacar keempat orang itu. Mereka cemburu, lalu memukuli Sasuke. Ini yang paling mungkin karena disamping tampan, Sasuke juga karismatik." Naruto manggut-manggut sendiri dengan kerutan pada dahinya. Sepertinya ia terlalu berpikir menjadi detektif dadakan.

"Tapi.., tunggu dulu! Kenapa aku jadi memuji si Teme begini?" tanyanya pada cermin yang memantulkan dirinya sendiri. Pemuda pirang itupun meringgis sendiri. "Ini efek sikon yang kacau," gumamnya.

Semuanya terasa misterius. Naruto diam dalam hening di toilet itu. Dia terus mencari jawaban dari film-film hollywood yang pernah ia tonton bersama Kiba– mencari sebuah motif. Bahkan pemuda itu sudah menghabiskan puluhan lembar tisu untuk membersihkan bercak darah itu. Masalah ini terlalu rumit untukknya. Namun, ini tentang Sasuke. Entah kenapa ia ingin tahu mengenai laki-laki bersurai seperti pantat' sesuatu' itu. Naruto membuang nafas, untuk menghalau getaran hatinya.

"Semoga Sasuke baik-baik saja," lirihnya.

Saat keluar dari toilet, Naruto kaget bukan kepalang. Belasan polisi berpakaian seragam hitam sudah berkeliaran didepan kamar tempat Sasuke . Naruto masuk toilet lagi. Ditatanya nafas yang tadi tersengal.

"Kami-sama... Kenapa jadi runyam begini?" desah Naruto. Untuk beberapa saat, dia tetap ditoilet. "Ah.. Sial!" runtuknya.

Narutopun memberanikan diri keluar. Ia berjalan tenang dan duduk didepan front desk.

"Konbawa, gadis muda." Salah satu polisi mendatanginya. Dahi Naruto mau tak mau berkedut kesal. Ia pura-pura tak mendengar.

"Nona?" polisi itu kembali memanggil Naruto.

"Maaf? Apa anda sedang berbicara dengan saya?" tanya Naruto tersenyum kaku. Si polisi mengangguk. "Maaf membuat anda kecewa. Tapi,sesungguhnya– pada kenyataannya saya pria," lanjutnya sedikit terdengar ketus karena jelas-jelas pemuda itu tersinggung.

Sang polisi berdehem. "Maaf, nak," katanya terlihat tak enak. Kembali sang polisi bertanya, "Bisa saya berbicara?" tanya polisi itu, lalu duduk disebelah Naruto.

"Kami melihat anda mengemudi ugal-ugalan, menabrak kotak majalah dijalan, dan mengendarai mobil sambil menelepon. Kami ikuti, namun Anda tidak peduli. Anda tetap maju sampai rumah sakit. Bisa anda jelaskan apa yang terjadi?"

Glup!

Wajah Naruto pucat pasi. Ia bahkan merasa menelan sebuah roti tanpa dikunyah saat mencoba menelan ludahnya sendiri. Terasa susah. "Saya akan jelaskan, pak..," cicitnya. Naruto lalu menceritakan semua runtutan kejadian yang dialaminya dari mulai berangkat dari apartemen sampai kejadian tadi. Si Polisi tersenyum geli saat dengan nyerocosnya Naruto bercerita begitu detail, saking detailnya, ia menceritakan bagaimana pesta dikediaman Kakashi yang sesungguhnya tidak perlu. Saking takutnya dipenjara.

"Sasuke?"tanya polisi.

"Ya, saya sedang membawa Sasuke kerumah sakit. Saya tidak bisa mengemudikan mobil, oleh karena itu saya ugal-ugalan. Tapi, ini daraurat, pak!" kata Naruto mengakhiri penjelasannya dan mencoba membuat alibi sekuat mungkin.

"Baik saya mengerti. Tapi, anda tetap melanggar peraturan lalu lintas," kata si polisi dengan senyum ramah. Naruto merasa dunianya susut.

Apa itu berarti ia akan dipenjara? Atau didenda? TIDAKKK!

Seorang polisi lagi menghampiri mereka berdua. "Anda tadi mengatakan nama Sasuke. Apa yang anda maksud itu Uchiha Sasuke?" tanyanya.

"Uchiha?" Naruto memiringkan wajahnya. Kedua polisi itu terlihat gemas. "Saya tidak tahu nama belakangnya," celetuknya seraya menggeleng. "Kami baru saling kenal," lanjutnya ketika kedua polisi itu menatapnya menuntut.

"Menurut catatan kami, mobil itu tercatat atas nama keluarga Uchiha Fugaku."

"Anda tidak tahu?" Si polisi bername tag Yamato itu tampak tak percaya.

"Saya orang baru di Shibuya, ttebayo! Saya orang Konoha," jelas Naruto.

Yamato mengangguk. "Dia adalah seorang pengusaha besar di Jepang. Semua orang mengenalnya. Dia yang memberikan donasi paling besar untuk proyek pembangunan resort di Shibya. Kau seharusnya mengenal pacarmu lebih jauh, young lady," dalam keadaan seperti ini Yamato masih sempat bercanda.

Tapi?

"Saya bukan pacarnya! Lagian, saya itu PRIA , ttebayo!" seru Naruto manyun. Yamato melongo mendengarnya, si polisi teman Yamato hanya terkekeh. Tadi juga ia salah kira. Bukan salah mereka sih, salah Naruto yang punya wajah seperti itu. Akan tetapi, ada baiknya. Ketegangan Naruto mereda, polisi di Shibuya tidak menyeramkan tapi ramah. Tidak seperti polisi difilm-film hollywood, polisinya kejam.

Beberapa saat kemudian, Shikamaru datang setengah berlari dengan sweater cokelat dan ramput kuncir nanasnya.

"Naru, bagaimana temanmu?" tanya Shikamaru setelah melewati beberapa polisi yang juga berjaga didepan kamar Sasuke dirawat.

"Dia diruang IGD," kata Naruto tersenyum pahit ketika Shikamaru duduk disebelahnya dan menatapnya khawatir.

"Apa polisi-polisi itu merepotkanmu?"

"Iya, Shika. Apa aku akan dipenjara dan mendapat denda karena mengemudi ugal-ugalan? Lalu bagaimana?" desahnya hendak menangis dengan mata berkaca-kaca.

Demi Tuhan... Dia sedang krisis keuangan! Dan bagaimana dengan kuliahnya kalau dia dipenjara ? Kushina mungkin akan menangis dua puluh satu hari penuh.

"Mendokusai. Tenang saja, aku akan menangani mereka untukmu, Naru," tukas Shikamaru menenangkan, membuat wajah Naruto kembali berseri. "Sebentar, aku akan berbicara dengan polisi-polisi itu." Shikamaru'pun beranjak.

Lalu, pemuda Nara itu mendatangi beberapa polisi yang masih berdiri melingkar. Dia terlihat sedang menegosiasikan sesuatu. Naruto terus memandangi pemuda yang bernegosiasi dengan para polisi itu. Wajah Shikamaru tampak serius, dalam penglihatan Naruto ia yakin melihat betapa tampannya pemuda itu.

"Sepertinya Kiba benar, Shikamaru itu keren," bisiknya pada diri sendiri, tidak menyadari apa yang dikatakannya barusan.

Tak lama kemudian, Shikamaru menjabat tangan beberapa polisi diantaranya. Hanya butuh beberapa menit saja urusannya selesai.

"Bagaiman Shika?"

"Semuanya beres. Kau tidak usah khawatir, kau tidak dikenai sanksi apapun karena sedang dalam keadaan darurat. Lain kali, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, kau membuatku khawatir. Mendokusai..," kata Shikamaru mengacak rambut Naruto penuh sayang.

Naruto nyengir. "Arigatou! Aku tidak tahu apa yang kau katakan kepada mereka, tapi aku benar-benar berterima kasih padamu!" serunya begitu lega karena terbebas dari bayangan mengerikan sebuah sel penjara. Hii... Naruto menggigil. Naruto tidak tahu bahwa sebenarnya ayah Shikamaru adalah kepala kepolisian Shibuya. Pemuda jenius itu tersenyum kecil.

"Ohya, kudengar temanmu itu bernama Uchiha Sasuke, benarkah?"tanya pemuda Nara itu menyelidik.

"Hmm," gumam Naruto mengangguk. Ia jadi teringat kembali bagaimana keadaan Sasuke yang belum ada kabar lagi. Ia jadi semakin khawatir.

"Kau mengenalnya dari mana?" Shikmaru terlihat kurang suka melihat raut khawatir Naruto untuk orang lain.

Safir biru Naruto tertuju langsung pada iris yang terlihat malas dihadapannya. "Ceritanya panjang. Tapi, aku hanya baru mengenalnya tadi pagi."

Shikamaru mengangguk. Ia diam, tidak bertanya lagi karena melihat keadaan Naruto yang cukup mengkhawatirkan. Dia nampak sedikit pucat. Rupanya, dia belum sempat meredakan rasa kaget setelah mengalami kejadian tadi. Shikmaru melihatnya dengan jelas. Ia mencoba menenangkan. Dirangkulnya Naruto hingga menyandar dibahunya.

"Tenang, Naru. Aku akan selalu ada disampingmu," katanya lembut. Terdengar asing ditelinga Naruto karena biasanya ia hanya bisa mendengar nada malas saja.

Beberapa polisi melirik kearah mereka berdua. Naruto lalu buru-buru melepaskan rangkulan Shikamaru. Pemuda Nara itu tampak sedikit kecewa. Sementara, Naruto jadi salah tingkah.

Untuk mencairkan suasana yang agak absurd–menurut Naruto. Ia menceritakan kejadian tadi dan bagaimana ia mengusir preman-preman itu dengan mengaku-ngaku sebagai salah satu yakuza bawahan Orochimaru. Oh.. Jangan lupa pistol imajinernya.

"Thats so cool, Naru! Haha...," Shikamaru tertawa seraya bertepuk tangan dengan OOC-nya setelah mendengar cerita heroik Naruto. Namun, tidak bagi Naruto.

"Eh, cool sih cool! Tapi, itu bisa jadi bahaya untukku,ttebayo!" sentaknya marah karena Shikamaru malah tertawa bahagia atas ketakutan yang dirasakannya. "Bagaimana kalau ternyata mereka adalah salah satu geng musuh Hebi? Aku bisa diincar lalu dibunuh!" pekiknya semakin kalut karena ia baru sadar akan efek samping dari kata-katanya sendiri kepada empat preman itu.

Shikamaru menahan tawa. "Tenang, tenang– Naru. Kau hanya perlu berdoa saja," katanya sama sekali tidak membantu Naruto yang sekarang hampir mewek.

Kedatangan dokter dengan dua orang perawat mengalihkan fokus mereka berdua. Naruto dan Shikamaru belum diperbolehkan masuk. Dokter telah memberikan obat penenang. Katanya, Sasuke perlu istirahat sampai besok.

'Sebegitu parahkah keadaan Sasuke?' pikiran Naruto berkecambuk. 'Andai saja aku lebih cepat keluar menyelamatkan Sasuke, mungkin keadaannya lebih baik.'

Selanjutnya, Naruto pun memilih untuk pulang saja karena ia besok harus kuliah pagi. Dengan diantar oleh Shikamaru, ia berdoa semoga Sasuke lekas sembuh.

.

.

~~Akira Naru-desu~~

.

.

Sebenarnya Naruto sedang dikejar-kejar tugas. Namun, tugas ini lebih parah dari sekedar membuat artikel atau position paper. Naruto sedang dikejar deadline untuk mengumpulkan bab lima alias isi pembahasan dari tugas skripsinya.

Sekarang, sudah bulan Januari. Naruto harus oral defense sebelum Agustus. Beasiswanya berakhir bulan Agustus. Jika tidak selesai, dia harus menambah satu semesterlagi. Dan itu mimpi buruk bagi Naruto. Ya, itu artinya Minato harus menjual kebun miliknya di bukit Konoha, sepuluh ekor babi, dua ekor kuda , plus dua ratus ayam beserta anak-anaknya untuk membiayai satu semester itu. Itupun kalau ada yang mau beli.

Meskipun demikian, sepulang dari rumah sakit Naruto tidak bisa konsentrasi mengerjakan tugasnya. Pikirannya selalu kepada Sasuke. Berbagai macam pertanyaan berganti-ganti menghampiri pikirannya. Bagaimana keadaannya? Apakah seharusnya dia menunggu disana?

Dan sialnya, ia tak menyimpan nomor HP Sasuke. Lalu, bagaimana menghubunginya?

"Siapa Uchiha Fugaku itu? Siapa sebenarnya dirimu Sasuke?" bisik Naruto setelah berfikir.

Akhirnya, Naruto tergelitik untuk mencari tahu. Dibukanya internet dan diketiknya nama Uchiha Fugaku. Dan beberapa detik saja berbagai situs tertera dilaman google itu. Ia meng-klik deretan teratas. Situs itu adalah Uchiha Corporation. Website yang ditata dengan profesional dengan warna hitam sebagai tema-nya yang apik. Naruto memilih klik founder dan munculah gambar wajah Uchiha Fugaku. Pria dengan umur sekitar 50 tahun dengan pakaian jas dan dasi yang sangat rapi. Wajahnya, dingin, karismatik dan terkesan arogan. Disebuah artikel, disebutkan bahwa Fugaku membangun proyek resort di Shubiya. Di artikel lain ada gambar Fugaku dan Sasuke. Uchiha Fugaku di sebut-sebut sebagai salah satu investor terbesar untuk proyek resort itu. Dia merupakan sosok miliarder yang berkelas.

Di artikel lain lagi, disebutkan bahwa Sasuke mendirikan sebuah yayasan pengembangan masyarakat bernama Tomodachi no Taka. Naruto penasaran. Dia masuk lebih dalam tahu untuk mencari tahu mengenai yayasan itu. Ternyata itu adalah sebuah organisasi advokasi. Organisasi yang sekarang fokus pada pembangun resort itu. Naruto manggut-manggut. Ternyata, Sasuke mempunyai prestasi yang luar biasa, disamping ia adalah seorang pengusaha muda yang sukses.

"Apa mungkin orang-orang yang memukul tadi adalah bagian dari proyek resort yang dihalangi oleh yayasan Sasuke? Mungkin, Sasuke memang terlalu berani sehingga diberi pelajaran semacam itu. Tapi, bukankah invertor terbesarnya tak lain adalah ayahnya sendiri. Masa iya, Fugaku memerintah orang-orang memukuli anaknya sendiri?"

Naruto terdiam sejenak. Berusaha memutar-mutar keping-keping petunjuk dikelapanya. "Ini tidak bisa diterima. Masa seorang ayah memukuli anaknya sendiri?" desahnya. Misteri itu dirasa Naruto semakin rumit. Ia membaringkan tubuhnya dikasur mini kamarnya, matanya menerawang kelangit-langit kamar. Ia bahkan tidak kuasa membayangkan ayahnya– Minato– memukulnya. Tidak pernah terbayang. Pasti sangat menyakitkan hati.

"Haaaah..," ia menghela nafas sebelum memejamkan matanya.

'Orang-orang kaya itu hidupnya rumit.'

Ketika akhirnya terlelap malam itu, Naruto belum tahu tahu bahwa setelah kejadian yang dialaminya dengan Sasuke akan merubah hidupnya menjadi rumit.

.

Akira Naru-desu~~

.

.

Uchiha Fugaku mendengar kabar anaknya sedang berada dibawah perawatan rumah sakit. Pria itu terlihat tidak khawatir maupun panik. Ia hanya menghirup aroma kopi hitam kesukaannya dengan khitmat, seakan kabar yang didengarnya tidaklah penting sama sekali. Matanya yang tajam melihat pada sebuah foto yang memperlihatkan anaknya yang sedang dipapah oleh seorang pemuda bersurai pirang.

Wajahnya tetap datar. Tidak menjunjukkan satu emosipun. Kemudian, tangannya yang besar meraih foto itu, membawanya kedalam kantung jas nya. Sebelum ia pergi, ia melirik kearah dua orang anak buahnya dan berkata.

"Bawa Uzumaki Naruto kehadapanku besok!" Titahnya mutlak menuai anggukan kompak dari kedua anak buahnya. Fugaku'pun berlalu dari ruangan kantornya.

'Rupanya kau telah berani menantangku, Sasuke,' batinnya.

.

.

~~ Akira Naru-desu~~

.

.

Ketika bangun tidur, Naruto merasa seperti sedang ada yang mengawasi. Sambil berusaha tetap tenang, dia buka jendela apartemennya pelan-pelan. Dari atas, dia lihat ada mobil yang sedang parkir di depan parkiran apartementnya. Seperti fobia, Naruto mereasa itu mobil milik musuhnya Sasuke. Naruto memutuskan untuk tetap di apartemen saja dan tidak kemana-mana. Dia ingin menenangkan diri dari kejutan aneh di akhir pekan ini.

Sisi lainnya ia ingin menengok Sasuke. Akan tetapi, mungkin tidak saat ini. Dia tidak mau bertemu dengan Uchiha Fugaku, kalau-kalau ternyata ia sedang menjenguk anaknya. Rasanya, Fugaku bukanlah seseorang yang enak untuk diajak berbicara atau apapun. Terlebih, dia tidak mau urusannya menjadi lebih runyam.

Akhirnya, Naruto memutuskan untuk membaca buku dan menonton film terbaru bersama Kiba saja. Beberapa lembar buku telah ia baca. Tetapi, sulit bagi Naruto untuk berkonsentrasi.

"Arghh! Kuso! Kenapa aku terus kepikiran orang itu sih?" kutuknya merasa aneh karena ia tidak bisa menghilangkan bayangan Sasuke dalam pikirannya. Beberapa kali timbul perasaan ingin bertemu dengan Sasuke. "Ada apa denganku, ttebayo?!" tanyanya pusing sendiri.

Tak lama HP-nya berbunyi. Shikamaru menelepon. Naruto mengangkatnya.

"Moshi-moshi?"

/"Naru, kamu harus melihat koran hari ini."/

"Memangnya ada apa Shika?" tanya Naruto dengan kerutan pada dahinya pertanda bingung.

/"Fotomu ada disana. Dan lihatlah berita yang mereka sampaikan,/" kata Shikamaru terdengar sangat khawatir.

"A-apa? Kamu serius?"

Sontak Naruto berlari keluar ruangan. Diambilnya koran itu, dengan tergesa-gesa ia membaca halaman yang menjadi hot news. Betapa terkejutnya Naruto ketika melihat fotonya sedang memapah Sasuke di Queen street.

"Ini gila!" Raungnya. Bukan karena ia melihat fotonya, ia shock. Tapi, karena ternyata saat itu ada orang yang melihat dan memotret mereka tanpa memberi pertolongan.

Sialan!

"Shika, kamu harus menolongku! Apa yang harus aku lakukan?!"

"Tenang Naru. Jangan khawatir. Itu tak lain adalah kerjaan paparazi. Kamu tahu'kan? Nama Sasuke sekarang sedang naik karena kasusnya menentang pembangunan proyek resort itu. Sekarang, dia sedang menjadi sasaran berita," kata Shikamaru menenangkan. "Masyarakat akan tahu bahwa semua yang ada disana dilebih-lebihkan," lanjutnya ketika Naruto hanya diam.

Wajah Naruto pucat pasi. Lidahnya terasa kelu dan kepalanya mendadak pusing, seperti berputar-putar.

"Naru? Nar–"

Tut Tut Tut.

Kiba yang sedari tadi ternyata memperhatikan Naruto, tampak cemas dengan keadaan sahabatnya yang seperti kehilangan nyawa. Ia menghapiri sahabatnya.

"Nar, kamu kenapa?" Tanya Kiba seraya mengguncangkan tubuh Naruto. Namun, pemuda pirang itu tak bereaksi. Kiba hanya melihat tatapan kosong Naruto, ia semakin cemas. Kemudian, dibawanya Naruto duduk dikursi lobi. Ia mengambil koran yang terpegang erat ditangan Naruto kemudian ia membacanya.

HAH?!

SASUKE UCHIHA 'BERTEMAN' DENGAN SEORANG YAKUZA.

Pemuda Inuzuka itu kemudian melanjutkan membaca. Disana juga dikabarkan bahwa pemuda pirang yang memapah Sasuke itu adalah tak lain kekasih dari Uchiha Sasuke sendiri, si Yakuza pirang.

"Naru...," lirih Kiba prihatin. Ia memijat pundak Naruto, sehingga membuat sahabatnya sedikit nyaman.

"Kenapa harus aku, Kib?" bisik Naruto tercekat terasa dunianya jungkir balik.

Kiba menghela nafas. Ia juga terlalu terkejut ketika Naruto ada di surat kabar. Terlebih, ini terlalu mendadak dan ekstrim. Ia juga tidak tahu harus berkata apa. Tepatnya, ia bingung apa yang sedang terjadi menimpa sahabatnya itu.

Diam.

Kiba mencoba berkata, "Mungkin karena kamu seorang pria."

Naruto menoleh bingung. "Hah? Apa hubungannya?"

Kiba menelan ludah. "Sejujurnya Naru, aku tidak tahu mengenai mengapa kamu dikatakan seorang Yakuza, " katanya terhenti sebentar, "tapi, jika kau bertanya kenapa Sasuke digosipkan adalah kekasihmu. Maka jawabannya, Sasuke Uchiha adalah seorang gay," lanjutnya.

Naruto melotot.

"Jika kamu bertanya aku tahu dari mana. Jujur saja, setelah kemarin aku mengobrol denganmu aku segera mencari tahu tentang Uchiha itu. Yeah– aku merasa familiar dengan wajahnya. Dan kau tahu? Dia adalah anak seorang konglomerat Jepang," cicitnya menjelaskan terasa sangat menakjubkan.

Naruto masih diam. Ia tahu tentang itu, sehingga ia tak berkomentar.

"Dan mengenai kenapa semua orang tahu bahwa ia gay, karena ia pernah memutuskan sebuah pertunangan dengan seorang wanita dengan alasan ia mencintai seorang pria," katanya lagi memberikan informasi yang membuat Naruto semakin jantungan.

"Kami-sama.." Naruto mendesah, lalu mengigit bibir.

"Jangan khawatir sobat. Kamu harus menjunjukkan sikap tenang untuk menjunjukkan bahwa berita itu tidaklah benar." Kali ini, Kiba terdengar bijaksana. "Aku akan selalu membantumu. Maaf Naru, tapi aku harus segera ke kampus. Dosen bimbinganku meminta deadline. Hati-hati, kalau ada apa-apa segera hubungi aku," pamitnya kemudian melambai kearah Naruto setelah ia mengacak rambut halus pirang itu.

Naruto mengangguk. "Oke. Arigato Kiba. Kamu memang sahabatku yang baik."

Kiba pun nyengir.

.

.

Naruto menata bukunya, lalu berjalan menuju lift. Rencananya, ia akan mengembalikan buku yang ia pinjam dari Ten Ten, teman sekelasnya yang juga kebetulan satu apartemen namun letaknya 4 tingkat dibawah kamarnya. Naruto keluar dari lift itu dan seketika ia terkejut. Ada dua laki-laki betrubuh besar menggunakan jas hitam juga kaca mata hitam menghadangnya– berdiri tepat dihadapannya.

"Ohayo.. Uzumaki-san. Bisakah kau ikut dengan kami?"

"Siapa kalinan?!"

"Ikut saja dengan kami," kata salah satu dari pria itu memaksa, membuat Naruto sedikit gemetar karena suaranya yang besar dan serak.

"Tidak! Aku tidak akan pergi kemana-mana. Siapa kalian? Pergi!"

Kedua pria itu saling bertatapan, kemudian mengangguk kompak. "Maaf jika kamu tidak mau. Kami akan menggunakan cara ini."

Mereka membekap Naruto, menutup mulutnya dengan kain. Naruto rupanya dibius. Pandangannya tiba-tiba kabur dan rasa kantuk dan pusing yang dahsyat menyerangnya. Naruto akhirnya pingsan. Namun, sebelum ia pingsan ia sayup-sayup mendengar salah satu pria itu berbicara.

"Beritahu Fugaku-sama, bahwa kita sudah membawanya."

Dua laki-laki itu membopong Naruto kedalam mobil. Ironisnya, tak ada yang melihat kejadian itu.

.

.

Bersambung...

.

.

Hehe... Apa ini termasuk apdet kilat? #ngarep

Yah... Untuk sekarang segini aja dulu. Maaf yang mengharapkan adanya adegan SasuNaru di chap ini ditunda sepenuhnya. Hoho..

Gak tau lagi pengen nonjolin ShikaNaru.

But, jangan khawatir main pair tetep favorit kita SasuNaru dongs!

Yosh, segitu aja dulu. Mudah-mudahan tiga hari kedepan Kira bisa apdet fic ini lagi. Sekedar info, lepiku yang lagi diservis masih sebulan lagi. Itu artinya kelanjutan fic yang lain masih harus nunggu sebulan lagi. Hohohoo... Gomen!

Balasan riview:

Kuro to Shiroi : Hhooho... Betul! Sekarang jarang banget Shika rebutan ma Sasuke. Kebanyakan Gaara. Jadi, Kira munculin deh tuh. Soalnya, suka juga sih sama ShikaNaru. Hoho..

Ini udah dilanjut. Makasih rivinya.

Haerpaairiry: Oke ini udah di next saaayyyy... :D mksih rivinya...

Sasu-chan si Uke Naru : Oh makasih deh cha kalo kamu suka. Berarti cukup ya segini, walaupun banyaaaaak banget yang melenceng. Seperti chap ini saja contohnya. Kagak ada di skrip kamu. Hohoh...

Sama-sama. Makasih juga skripnya yang enak.

Sip.. Pasti lanjut sampe tamat ko.

Mel : Huum Kira emang sengaja bikin yang seringan mungkin biar apdetnya cepet n gak banyak mikir. Hoho.. Makasih udah rivi n bilang fic ini ga ngebosenin. #terharu

Bisa req ko. Tapi, di publish n apdetnya gak jamin. Soalnya tergantung cerita dri skrip yang dikirim. Soalnya, otak kira terbatas jadi yaa sebisanya aja... heheh..

Loly : Oke dilanjut. Iya, segi empat antara sasunarushikakiba.

Aih, suka sama saya? Err.. Kira masih normal. Suka cowok #ditabok

Canda deh... Hahaha..

Sip, dilanjut pasti. Makasi udah rivi..

Hanazawa Kay: Tetep dongs.. SasuNaru itu kan polepel.. hoho... Mkaasih udah rivi.. XD

Yun Ran Liviandra : Hhohoho... Jiah.. Bisa aja jeng ini... Ko fic aneh gini bisa buat jatuh cintrong sih? #pegang idung.. mkasih udah suka, mdh2n chap ini gak ngecewain ya.

Apa ini termasuk apdet kilat? O.o

LemonTea07: Hohoh.. Iya makasih sarannya.. sangat membatu... duh duh, kekurangan Kira emang typonya suka parah n tidak tau aturan EYD.. heheh...

Diksi juga jadi masalah Kira.. Mklum ya, indonesia tuh nilainya gak pernah bagus.. #curcol..

Makasih rivinya.

S.N: Iya aduh maaf soal typo.. soalnya Kira suka males baca ulang n ngedit.. heheh...

Makasih udah suka.. n riview..

Mrs. Tara Fujitatsu : ini udah dilanjut saay.. makasih udah baca n rivi... :'D

kkhukhukhukhudattebayo sampe skrang nulis pen name yang unik ini begitu sulit... #lapkeringet. Aduh fic abal ini dibilang keren? #idungkembangkempis.. ah bisa aja jeng ini... #bulshing..

Yaaa.. Pertanyaan jeng disini akan terjawab semua.. hohoh.. mkasih udah rivi...

Dhiya chan: eeeehh ada omaa dhi.. :'D Helloooo omaaaa?

Yosh... dilanjut nih...

Sopo dulu dong, Naruuuu-chaaaaaan! Keren kan tuh aksi heroiknya? #padahal refleks

Ga ada tuh uke yang bisa nyelamatin semenya dari 4 preman kaya Naru milikku! #dihajar.. disini sasu-teme emang cemen! Masa iya ditolongin sama uke terus tepar gitu aja sama preman ecek-ecek gitu? #woy elu yang bikin cerita..

Hoho.. makasih udah rivi... :*

RaraRyanFuoshiSN: Oke ini next say... Disini pertanyaanmu udah kejawab kan? Heheh... Ugh, bagi penggemar ShikaKiba kayanya kudu disiapin ati deh buat sakit ati.. hoho.. soalnya Shika suka Naru..

Makasih udah rivi.. XD

Yummy: Makasih atas pujiannya... #nahanbusungdada.. ha

Naru kan emang gimanaaaa gitu ya? Bikin gemeeeessss! XD Jadi mklum kalo dikira gadis tomboy.. hoho..

Pertanyaannya udah kejawab ya di chap ini.. mksih rivinya...

.

.

Akhir kata..

Jangan lupa riview..

Jaa nee!