"Bagaimana bisa begitu, Hinata?" suara Hiashi terdengar menggelegar. Hinata menunduk karena takut.
"Ini tiba-tiba terjadi bahkan aku tidak tahu kenapa, Tou-san," jawab Hinata sambil susah payah menahan air mata. Di sebelahnya, Hanabi memandangi kakaknya dengan khawatir.
Hiashi menghela nafas, berusaha menenangkan dirinya sendiri dan meyakinkan hatinya bahwa hal-hal semacam ini tidak mungkin terjadi. Dalam satu malam, anak perempuannya berubah menjadi pria sempurna. Bahkan wajahnya jadi semakin mirip dia.
Aneh.
"Bagaimana kalau kita ke dokter?" usul Hanabi cepat. Hiashi menoleh ke arah anak bungsunya. Ia menggeleng.
"Jangan. Belum boleh ada yang tahu bahwa putriku berubah jenis kelamin, paling tidak sampai kita tahu apa penyebabnya."
"T-tapi, aku masih mau sekolah," kata Hinata memelas.
Hiashi menggeleng. "Begini saja," katanya datar. "Aku akan memberitahu pihak sekolahmu atas insiden ini. Hanya pihak sekolahmu. Aku akan memastikan kau bisa kembali masuk ke sekolahmu, di kelas yang sama."
"Tou-san tidak marah, kan?" tanya Hinata hati-hati.
"Aku akan marah jika insiden ini akibat keteledoranmu, Hinata," jawab Hiashi tajam.
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
Yoru
a sequel?
Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING: Ide nggak masuk akal, alur belepotan, ending nggak jelas dan
warning ini nggak menjelaskan banyak hal
ALURNYA BELUM JELAS!
Senin pagi. Hal yang dikhawatirkan Sakura dan Sasori terjadi sudah. Hinata tidak datang ke sekolah bahkan sampai jam istirahat. Apa gadis itu ada masalah?
Hari Selasa, Rabu, dan Kamis... Hinata masih absen. Dan anehnya guru-guru bahkan tidak bertanya banyak seputar hilangnya anak itu. Ada apa sebenarnya?
Pada hari Jum'at, Kakashi masuk ke kelas untuk jam pertamanya dan membawa seorang anak laki-laki berwajah murung. Tubuhnya tidak setinggi anak laki-laki di kelasnya, rambutnya indigo berantakan, dan matanya berwarna mutiara. Sakura sama sekali belum mengenali anak laki-laki itu, tapi wajahnya terlihat familiar.
"Dia murid dari Suna dalam program pertukaran pelajar. Namanya Yoru Hyuuga, menggantikan Hinata Hyuuga, yang kebetulan adalah sepupunya juga," jelas Kakashi. "Yoru, sekarang perkenalkan dirimu."
Murid pergantian pelajar yang dipanggil Yoru itu memperkenalkan dirinya serba singkat dengan suara agak bergetar. Kelas mendadak riuh. Setiap orang saling berbisik-bisik.
"Aku tidak pernah mendengar Hinata punya sepupu selain Neji-san sebelumnya."
"Aku juga tidak."
"Tapi dia lebih mirip kembaran fraternal-nya Hinata-san, ya."
"Kalau berasal dari klan yang sama, kenapa tinggal di tempat yang berbeda?"
Kakashi mendiamkan kelas kembali. Ia menatap sekeliling, mencari siswa yang kira-kira bisa menjadi teman sebangku Yoru. "Kiba, kamu pindah ke bangku sebelah Karin, yang kosong. Nah. Yoru, kamu bisa duduk di sebelah Sasuke," ia menunjuk pada Kiba yang menggerutu sambil membereskan tas dan peralatannya kemudian pindah ke sebelah Karin.
Air muka Yoru berubah. Merah.
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
"Hei, kamu sepupunya Hinata, ya?"
"Kenapa mirip banget sama Hinata?"
"Eh... alamatmu di mana?"
Hinata mendesah ngeri. Baru saja mendudukkan diri di bangkunya, di sebelah Sasuke... ia dikerubungi oleh teman-teman sekelasnya, dan kebanyakan perempuan. Ia tidak mengerti kenapa sekarang teman-teman ceweknya berubah genit padanya. Apa Hinata sekarang setampan itu?
Sesuatu yang lembut menghantam sikunya. Hinata menoleh, mendapati Sasuke mengusir semua cewek-cewek keganjenan di sekeliling mereka, yang otomatis membuat murid-murid lain ikut menjauh darinya dengan hormat. Pantas saja. Sasuke 'kan kharismatik.
"Bawa baju olahraga?" tanya Sasuke datar.
Hinata mengangguk.
"Kalau begitu cepat ganti baju. Toilet pria sedang diperbaiki," Sasuke menjauh sedikit dari Hinata—yang ia anggap sebagai anak baru bernama Yoru. Hinata memproses semua itu di otaknya.
"N-n... ganti baju? Di mana?" tanya Yoru takut-takut.
Sasuke menghela nafas bosan. "Di sini. Dengan yang lainnya."
Yoru menahan mati-matian agar tidak berteriak. Ganti baju... maksudnya, lepas seragam... di sini? Dengan anak laki-laki? Oh, yang benar saja. Yoru tersenyum tipis untuk menutupi ketakutannya.
Si raven bermata onyx itu menyipitkan mata. Sepertinya ia kenal senyuman ini.
Ternyata dia benar. Sekarang sudah menjelang pelajaran olahraga. Murid-murid perempuan keluar kelas sambil menenteng seragam olahraga menuju ruang ganti perempuan. Kemudian pintu dibanting tertutup. Murid laki-laki yang jumlahnya beberapa belas itu mulai dengan santainya berganti baju. Yoru menutup matanya dengan wajah semerah tomat matang.
"Hei, Yoru, kenapa menutup mata seperti itu? Ha ha," tawa Kiba.
Jantungnya berdetak melebihi kecepatan normal. Bayangkan saja. Di belakangnya, tepat di belakangnya, sekitar selusin teman sekelasnya sedang membuka kancing seragam dan tidak peduli ada perempuan satu ruangan dengan mereka. Menakutkan. Tidak, setidaknya Hinata bukan perempuan. Dia Yoru. Paling tidak untuk sekarang ini.
Jadi, daripada dibilang banci, akhirnya Yoru berbalik ke belakang dan menghampiri ruang kosong di belakang kelas—tempat teman-temannya ganti baju. Dia tidak berniat menutup matanya, jadi Yoru membuka kelopak matanya lebar-lebar dan langsung bertatapan dengan Sasuke yang...
Topless!
Dengan jantung menyentak-nyentak, ia menunduk dan mulai membuka satu kancing seragamnya. Berusaha mengalihkan diri dari Sasuke yang oh-so-damn-smexy dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Apa yang ditakutkan? Mereka tidak akan melihat tali bra-nya, bukan? Ia membuka semua kancing seragamnya cepat-cepat dan langsung memakai seragam atasan olahraga. Dia tidak perlu takut mengganti celana seragamnya, ia sudah memakainya. Melapisinya.
"Kamu sepupunya Hinata?"
Ada jari telunjuk menyentuh bahunya. Yoru menoleh. Sasori. Dia sudah berpakaian lengkap. Yoru mengangguk sambil menyembunyikan rona merah yang sudah menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Apa kamu tahu kalau Hinata sedang sakit?" tanya Sasori lebih pelan.
Yoru mengangguk lagi, kemudian berkata, "ya."
"Kira-kira... apa ada perubahan di tubuh Hinata?"
"Apa?"
Sasori berpikir. "Entahlah. Aku juga tidak yakin," kata Sasori pelan. "Tapi jangan beritahu siapa-siapa. Hal ini belum tentu benar. Aku rasa... Hinata diracuni seseorang."
"Benarkah?" Yoru terkejut. Ia benar-benar terkejut. Ia saja yang merupakan "Hinata" itu sendiri tidak mengetahui apa-apa.
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
PRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT...!
Mereka mendesah kesal. Cowok-cowok yang sudah berpakaian lengkap itu cepat-cepat menaruh seragam mereka di meja masing-masing dan buru-buru ke luar kelas, karena sang guru olahraga mesum itu sudah meniup deadline-nya. Yoru ikutan melempar sebungkusan seragam laki-lakinya di dalam tasnya dan keluar kelas dengan langkah besar-besar.
"Hari ini kita latihan basket. Sekarang, bagi kelompok menjadi dua," perintah Kakashi—guru Sosial sekaligus Olahraga yang sering mengajarkan hal kurang baik terhadap siswa-siswanya, contohnya membawa buku hentai ke sekolah. Di tangannya saja sekarang terkepit buku oranye. Gelombang penasaran menyapu murid-murid kelas dua belas tersebut. Biasanya mereka hanya disuruh main voli.
Awalnya, Kakashi meminta mereka melatih gerakan dasar seperti menangkap dan melempar bola ke dalam ring. Kalau ada satu peraturan yang hanya bisa diingat dalam memainkan basket, yaitu jangan pernah pakai kakimu. Itu yang selalu diucapkan Kakashi berulang-ulang sampai seperempat murid bosan.
Yoru menelan ludah. Dia tidak pintar basket.
"Heeei, TANGKAP!" teriak Naruto riang sambil mengangkat basket sejajar dengan dadanya. Yoru terkejut. Tahu-tahu Naruto sudah melemparkan bola itu ke arahnya, ia tidak siap, bola itu mendorong kepalanya dan membuatnya terjatuh ke tanah. Lantai semen berkerikil panas oleh keringatnya.
Aaaah, nanti aku bisa gegar otak! pikir Yoru—Hinata—panik.
Semua orang mulai berkumpul padanya. Kakashi mengernyitkan kepalanya. Beberapa cewek mulai berbisik-bisik lagi. Rasa sakit di kepalanya membutakan segalanya. Ia tidak bisa bangkit. Bahkan menarik nafas saja rasanya hampir-hampir tak mampu. Cowok itu membiarkan dirinya terbaring di lantai—dengan rambut indigo berantakan menutupi setengah wajahnya.
"Hyuuga-san?" itu suara Naruto dan Kiba.
"Lain kali, berhati-hatilah dan selalu siaga," komentar Kakashi. "Aku masih harus melakukan penilaian di sini, seseorang bawa dia ke ruang kesehatan," perintahnya. "Terjatuh dengan kepala membentur pertama kali bisa sangat berbahaya. Reaksinya bisa terjadi dua puluh tahun kemudian."
Yoru tidak berani bergerak. Sebentar lagi, sampai ia cukup kuat untuk berdiri...
Tahu-tahu kerumunan sudah lenyap, dan tinggal satu orang yang berdiri di hadapannya. "Berdiri," kata orang itu, sambil mengulurkan tangannya. "Berdiri."
Dia tidak bisa menggerakkan tangannya.
"Baik," kata orang itu. Tiba-tiba, orang itu berlutut, meraih tengkuk Yoru dan langsung menggendongnya. Yoru melotot. Apalagi ketika orang itu membawanya pergi menjauh dari teman-temannya di dalam gymnasium.
"K-kenapa kau—"
"Kelihatannya kau tidak bisa berjalan," ternyata seseorang itu Sasuke. Jantung cowok berambut indigo acak-acakan itu seolah akan melompat dari tempatnya saat itu juga. "Dan siapa yang akan menolongmu di saat yang lain tidak mau?"
"Tapi... a-aku... tidak suka dilihat orang-orang," bisik Yoru pelan. Membenamkan diri di seragam olahraga Sasuke yang berbau keringat, tapi malah membuatnya semakin merah padam.
Sasuke berhenti. Tatapannya memicing pada cowok berwajah manis dalam rengkuhannya. Ucapan cowok ini seperti... ucapan yang biasa dikatakan perempuan.
Tapi, Sasuke tidak mengatakan apa-apa lagi sampai selesai mengantarkan Yoru ke UKS. Tidak memedulikan sekitar selusin fangirl-nya (dari berbagai kelas dan bahkan pedagang kantin sekalipun) yang melongo dan langsung pasang tampang pangeranku-diembat-COWOK.
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
Pulang sekolah
Aah, masuk UKS lagi, keluh Hinata dalam hati, saat perjalanan pulang ke rumahnya.
Ia terburu-buru berlari menuju rumahnya kemudian langsung membuka gerbang rumahnya begitu sampai, dan menutupnya cepat-cepat. Tentu saja dia tidak ingin dianggap aneh oleh tetangga di sekeliling rumahnya—kenapa Hinata tidak pernah kelihatan lagi dan sebagai gantinya ada seorang cowok keluar masuk rumah setiap siang.
Dan bahkan pipi kemerahan itu belum hilang saat Hinata berhasil mencapai kamarnya sendiri dan mengunci pintunya, kemudian terduduk ngos-ngosan dibalik pintu. Kejadian di gymnasium itu berputar-putar di benaknya. Nyeri di kepalanya berdenyut. Dia hanya belum pernah digendong bridal style sebelumnya...
Berhenti memikirkan itu!
Ponselnya berdering. Hinata menelan ludah. Dari Sakura.
Sambil berharap mati-matian, Hinata menekan tombolnya.
"Hinata? Aku dengar kamu pindah... kenapa nggak bilang-bilang sebelumnya?" suara Sakura langsung memenuhi telinganya.
"Itu... aku lupa."
"Hei, kenapa suaramu aneh begitu?"
Hinata memutus hubungan telepon. Terang saja, suaranya berubah 180 derajat. Mungkin sekarang ia harus menjauh dari teman-teman "Hinata". Dan mencoba hidup baru sebagai "Yoru".
Ya. Yoru...
Tapi, bagaimana dengan Sasuke?
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
Sakura menaruh ponselnya di atas meja.
"Langsung ditutup."
Ia mendesah. Sasori mengangkat bahu, kemudian memasukkan sekeping disc ke dalam DVD Player. "Mana aku tahu. Dia sudah terlanjur pergi. Kita tidak bisa memberitahunya."
"Tapi ada yang aneh."
Sasori menekan tombol di sebelah lidah DVD Player.
"Aneh?"
"Waktu di telepon, suara Hinata terdengar aneh."
Sekarang sudah selesai. Intro film mulai muncul silih berganti di layar. "Seperti?"
"Hinata seperti sedang sakit tenggorokan. Nge-bass."
Suara teriakan dari arah speaker mengagetkan mereka berdua. Sakura beringsut ke depan. Diraihnya roda pengatur pada speaker lalu diputarnya ke arah kiri.
"Oh. Jadi... maksudmu, minuman dari Karin membuat tenggorokannya rusak, begitu?" tanya Sasori santai. "Seram sekali."
"Memangnya ada alasan lain suara seseorang bisa berubah, ya?" tanya Sakura balik.
"Panas dalam."
"Hmm..."
"Terlalu sering bernyanyi."
"Siapa tahu."
"Berubah jadi cowok."
"Hah?"
"Ada apa?"
Kini, layar televisi menampilkan gambar rumah sakit yang sudah tak terurus, penuh sarang laba-laba dan bekas operasi. Sakura menelan ludah. "Mana mungkin Hinata berubah jadi cowok."
"Memang tidak," kata Sasori. "Kita doakan saja dia baik-baik saja."
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
Lilin-lilin malam telah padam, hari cerah
Berjingkat di puncak-puncak gunung berkabut.
Aku harus pergi dan hidup, atau tetap di sini dan mati.
"Siapa yang mati?"
Hinata tersentak, melepaskan pandangan dari karya Shakespeare yang sedang dibacanya. Apa Romeo baru saja berbicara di otaknya?
Bukan. Tepatnya dari arah pintu depan rumah. Dan suaranya terdengar seperti...
Neji-nii!
"Aku bilang, di mana kuncinya, Hanabi. Lepas dulu earphone-mu, akhir-akhir ini telingamu bermasalah, Imouto," terdengar suara Neji lagi. Hinata tahu, Hanabi punya kebiasaan jelek menyelundupkan perangkat musik ke sekolah dan memasangnya selepas sekolah, dan Hinata juga tahu kalau Hanabi sudah menyetel satu lagu saja, itu berarti apa yang kita katakan tidak akan diacuhkan olehnya.
"Tunggu sebentar." Nah, itu suara Hanabi.
Cring cring. Ckrek. Suara kunci yang diputar di dalam lubang kunci. Pintu terbuka. Suara ketukan converse memenuhi koridor rumah besar Hyuuga. Dan...
Hinata cepat-cepat menutup pintu kamarnya. Bagaimana jika Neji melihatnya? Apa reaksinya nanti begitu melihat... anak laki-laki sepertinya. Neji pasti tertawa sampai sakit perut.
Atau curiga dan terus menyelidiki.
"Banyak hal yang berubah sejak terakhir Neji-nii mengunjungi kami," kata Hanabi. Meskipun masih SMP, tapi ucapannya membuat Hinata merasa adiknya sudah lulus kuliah. "Termasuk Hinata-nee—eh—"
Oh, tidak!
"Kenapa dia?" tanya Neji. Seperti biasa, nada suara Neji selalu berubah serius ketika membicarakan keadaan adik-adik sepupunya—dua anak perempuan kecil yang harus dilindunginya baik-baik—yah, meskipun hanya adik sepupunya. "Hanabi," desaknya, ketika Hanabi tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Tidak apa-apa, Nii-san," geleng Hanabi. Ia mengalihkan pembicaraan. "Ngg, mau dibuatkan apa?"
"Jawab pertanyaanku dulu, Hanabi."
Hanabi linglung. Ia mendesah pelan beberapa kali. Neji menatapnya curiga. Hinata bersandar tepat di balik pintu kamarnya. Kamarnya terletak di depan koridor utama rumah jadi bila Hinata keluar kamar sekarang, Neji dan Hanabi akan langsung melihatnya. Hinata tidak tahu apa mereka sudah melewati koridor atau belum. Satu-satunya cara untuk memastikan adalah melihatnya sendiri.
Dan kemudian Hinata membuka pintu kamarnya. Ia langsung terkejut dan akan menutup pintunya lagi, tapi terlambat. Neji sudah menoleh ke arahnya. Mereka masih melintasi koridor yang panjang, dan sekarang Neji berjalan ke arahnya yang masih mematung di depan kamarnya.
"Siapa dia?" tanya Neji datar. "Kenapa dia ada di kamar Hinata?"
Hanabi gelagapan. "Eh—dia—"
"Aku H-Hyuuga Hinata," kata Hinata lambat. "Ada... sesuatu yang membuatku jadi s-seperti ini."
Senyap sebentar. Neji memandangnya skeptis, tapi mulutnya membentuk senyum tertahan. Tuh kan, dia tidak percaya, batin Hinata putus asa.
"Siapa dia?" Neji mengulang pertanyaannya. "Tidak mungkin dia Hinata. Kalian bercanda."
Bagi Neji, cowok di hadapannya ini jelas bukan Hinata. Dia sama sekali tidak seperti perempuan ataupun perempuan yang berpakaian laki-laki dan memotong rambutnya sekalipun. Dia manis, tapi tidak keperempuan-perempuanan. Cowok itu mengenakan seragam sekolah laki-laki yang agak kebesaran dan sudah kusut. Di luar semua itu, matanya memang lavender pucat dan ekspresi polos itu memang milik Hinata sepupunya.
"Biar aku jelaskan," ujar Hanabi yang sedari tadi diam.
Dan Hanabi menjelaskannya. Panjang lebar.
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
"Kalau begitu, kalian harus periksakan Hinata ke dokter," komentar Neji, setelah cerita panjang itu berakhir.
"Otou-san tidak mau," kata Hinata. "Tentu saja dia tidak mau... Apa p-pendapat teman-temannya ketika m-mengetahui salah satu anaknya..."
Neji mengangkat bahu. Yang jelas sekarang Hinata berharap besar agar kakak sepupunya tidak membocorkan pada siapapun bahwa Yoru Hyuuga adalah Hinata Hyuuga yang berganti jenis kelamin. Sebelumnya Neji pernah bersekolah di SMA tempat Hinata bersekolah, dan hampir semua temannya sudah kenal mantan kakak kelasnya tersebut. Apalagi Tenten. Bagaimana kalau tiba-tiba Neji keceplosan—
"Yah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa," kata Neji lagi. "Aku sering mendengar atlet pria yang berubah jenis kelamin menjadi wanita, tapi," ia bersandar di dinding. "Aku belum pernah dengar kasus sebaliknya."
"Apa atlet-atlet itu bisa kembali menjadi pria?" celetuk Hanabi antusias.
"Sampai mereka akhirnya memutuskan untuk menikahi pria dan hidup sebagai wanita? Tidak."
Hinata lemas. Apa ia akan selamanya terjebak di dalam tubuh seorang cowok?
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
Di sekolah
Sasuke menghela nafas kesal. Andaikan ia tidak ditunjuk piket kelas hari ini, pasti ia sudah ada di kamarnya dan tidur. Hampir murid-murid yang dikenalnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Lagipula, cowok itu tidak tahu apa-apa soal bersih-bersih. Hal yang dengan mudah dilakukan oleh pelayan-pelayan di rumahnya.
Seharusnya hari ini ada Naruto juga, tapi seperti biasa, si Annoying Orange itu kabur. Sasuke tidak bisa mencegahnya ataupun ikut kabur dengannya. Bisa jatuh harga diri Uchiha nanti.
Disambarnya kemoceng dari kaitan di sudut kelas dan mulai mengebut debu apapun yang dilihatnya. Meja siswa, pajangan di dinding. Kemudian ia mulai memeriksa laci meja siswa satu persatu. Laci tersebut terletak di bawah meja setiap siswa. Bila Sasuke atau siapapun menemukan benda yang mencurigakan, akan langsung dilaporkan ke pihak guru.
Tapi guru-guru sudah setengahnya pulang.
Sasuke mendecak. Sampai tiba di lacinya sendiri, ia melewatinya karena menganggap di lacinya tidak ada barang-barang penting. Ia langsung memeriksa meja murid baru itu, yang dulunya meja milik Kiba.
Tidak ada benda aneh apapun.
Sasuke menjulurkan tangan untuk merogoh lebih dalam. Saat menarik tangannya lagi, ia menemukan tempat pensil Yoru tertinggal di sana dengan risleting setengah terbuka. Dirogohnya tempat pensil itu, dan menemukan sesuatu.
Pulpen ungu yang seolah pernah dilihatnya. Tepatnya, ketika ia melihat Hinata memegang-megangnya. Kemudian ia ingat sekarang. Ini pulpen kesayangan Hinata.
Kenapa pulpen itu bisa ada di sini?
.
ноᴙᴍᴏᴎᴈ
.
to be continued
GLOOMY SUNDAY SYNDROME NAYAKA KUMAT LAGI! T^T
well, saya butuh kritik sebanyak-banyaknya ataupun pembetulan kalau ada misstypo. please! kalau ada!
tapi jangan pedes-pedes bahasanya... ._.
saya hampir setres cuma buat ngapdet chappi 2 ini doang. soalnya setiap mau ngesave draft, selalu ada masalah. mulai dari masa login 3 hari tiba-tiba abis ataupun tiba-tiba browser ke-exit tanpa sengaja! oh my God. mesti ditulis ulang, tulis ulang. mungkin kapan-kapan harus tulis murni lewat microsoft word atau openoffice?
dan... nggak begitu yakin kalo gaya penulisan fict ini bagus. lanjutkan atau hapus?
butuh usul buat summary =w= pokoknya... fict ini masih banyak kekurangan di sana-sini.
Ai HinataLawliet; ngeliat sih tapi... kan mereka belum tau minuman itu berbahaya *pasang muka ala detektif conan*
secret garden? padahal nggak inget hal itu sama sekali. #eh
k-karma...? *ngelirik karin* *pasang muka horror* diusahain deh. tapi Aya niatnya bikin Karin makin ngedeketin Saskay gitu, hehe =w= #eh #tampar
ulva-chan; dibilang fict yang berbeda juga boleh, kok ^^ #eh Aya malah mikir kalo ini lebih cocok jadi independent fict (istilah dari mana tuh?)
nggak ngebosenin? o/o mmm, siapa tau makin ke sini makin ngebosenin T^T
readers yang menentukan o/o
hesti hyuga-chan; ini kilat nggak yah? ._. *ngeliat tanggal publish*
seru? jadi malu o , o ini sih biasa aja v_v
YamanakaemO; masiih! *peluk-peluk*
*ditendang*
*tepar*
emang nggak masuk akal. tapi fict ini terinspirasi dari beberapa kasus atlet cowok yang pada suatu hari [ceilah -,-] berubah jadi cewek tulen secara bertahap. pertama suara, kemudian dada, kemudian... [nggak bisa ngelanjutin lagi]
bahkan salah satu mantan atlet Indonesia ada yang ngalamin loh -,- cuma lupa namanya -,-
*ditendang*
*tepar*
.
yup. masih ada yang mau review? OwO
