JUST MINE
Disclaimer: Masashi-senpai
Pair: NaruFemKyuu
Rate: T
Genre: Fantasy, Romance
WARNING: OOC, abal, Gaje, dan lainnnnnya
A/N: Hhuhuhhuhu.. Hiks.. Kyuura terharu, ternyata ada yg baca juga, padahal Kyuura berniat mau menghapus fic nista penuh typo, plothole, abal, gaje, nista, dll (?) ini. Yeahh, apalagi pas Kyuura baca ulang di sekolah ternyata typonya banyakkkkkkk bgt, mungkin krna Kyuura ngetiknya kilat n ga sempet bca ulang n Kyuura juga masih sangattttt baru.. (._.)a baik sbg reader maupun author, n jrag megang nb jga soalnya. Yeah... awal yg baik adlah hal kecil... iya kn.. Maafkan setiap kekurangannya.. m(_ _)m.
Trima kasih... ^^
Summary:
Naruto adalah sang penebang pohon dan Kyuubi adalah peri hutan,, atau sebaliknya.. silahkan pilih sendiri.. XD
.
Tanah yang tadinya sempat mereka berdua pijaki tadi atau yang kini hanya di pijaki Naruto telah jatuh mengikuti gravitasi, oleh alam, oleh air, oleh takdir, oleh Kyuubi? Yeah, argument terakhir terdengar lebih logis bagi Kyuubi. Tebing itu longsor tanpa dirinya, tapi membawa Naruto bersamanya, membawa setengah kesadaran Kyuubi yang masih tenggelam pada manik sapphire Naruto yang masih memancarkan kehangatan. Bibir Naruto menggumamkan kata 'bodoh' tanpa suara lalu tersenyum. Kyuubi terpaku, menatap Naruto tidak percaya, manik rubynya yang biasanya hanya diisi kekosongan dan kehampaan kini memancarkan berbagai emosi di dalamnya, wajahnya yang biasanya juga datar dan redup kini jauh dari itu semua. Detik... Setiap detiknya terasa sangat lama, seakan waktu menjadi tidak fana, menjadi tabu dan mempermainkannya. Kyuubi memang sempat atau pernah berharap, akan ada yang menyelamatkannya dari kekosongan dunianya, menariknya dari bayangan ketakutan dunia, menunjukkan padanya warna baru dunianya yang selama ini terdiri dari dua warna dan menunjukkan berbagai perasaan... Yeah, perasaan, tapi bukan perasaan sedih, bingung, kecewa, terluka, bersalah, takut, dan ah- tentu bukan itu yang ingin ia rasakan lagi, perasaan semacam itu sudah lama melekat dalam hidupnya yang hitam putih dan menjauhkannya dari bioritmik dunia yang lama ditinggalkannya.
CTAR!
Suara petir menyentaknya, mengembalikan kesadarannya, tepat pada detik di mana bocah sapphire bodoh itu hilang dari pandangannya. Dan detik itu juga ia ikut menghilang
.
.
.
Sapphirenya yang setengah terbuka menatap air hujan yang terus jatuh dari langit searah dengan jatuhnya sekarang. Naruto bahkan tidak sadar kapan posisi jatuhnya sudah berubah, dengan kepala di bawah menuju dasar yang menantinya, baru beberapa detik yang lalu ia tersenyum meyakinkan pada gadis bodoh tadi, bodoh? Yeah, siapa yang lebih bodoh? Tentu saja dirinya sendiri. Ia tersenyum tipis menyadari hal itu. Gadis itu... ia bahkan tidak tau siapa namanya, ia hanya tau sedikit rumor tentangnya dari penduduk sekitar, dan ditambah pengakuan gadis tadi sendiri. Kalau dipikir ia memang tidak tau apa-apa. Yeah, mau bagaimana lagi... menghargai sebuah kehidupan adalah apa yang di ajarkan seseorang yang sangat berharga baginya sejak dulu. Lagipula hidupnya juga membosankan, meski banyak orang yang sangat menyayanginya seperti kaa-sannya, tou-sannya, nii-sannya, teman-temannya, ah... benar juga mereka mungkin akan sedih. Kini ia yakin yang bodoh memang dirinya sendiri.
Berbagai kenangan hidupnya mulai terlintas, dari saat ia kecil hingga sekarang, hingga ia menemukan gadis bodoh tadi. Mungkin ini yang terjadi pada setiap orang yang mendekati mautnya, eh? Sambil mendesah pelan ia memejamkan matanya, menyembunyikan manik sapphirenya yang seindah langit siang musim panas, ia melakukannya bukan karna tidak siap atau takut akan rasa sakit yang tidak lama lagi akan menderanya, menghancurkan tubuhnya, mengakhiri hidupnya. Yeah, ia melakukannya agar kenangan yang terlintas semakin jelas, lebih jelas. Ia ingin menikmatinya dengan baik jika memang ini adalah saat-saat terakhirnya... sebelum impuls-impulsnya menghantarkan rasa sakit ke otaknya hingga saat tak terasa apa-apa lagi.
GREP!
Sepasang tangan hangat merengkuh tubuhnya, membuatnya membuka kembali kelopak matanya, memperlihatkan kembali manik sapphirenya, mempertemukannya dengan sepasang manik ruby yang juga tengah menatapnya. Sesuai harapan... gadis itu... memang sangat bodoh.
Sepasang tangan Kyuubi kini beralih, melepaskan rengkuhan hangatnya , bergerak menelusur ke wajah Naruto yang juga basah oleh air hujan. Menyentuh rahangnya lalu berhenti dan membingkai wajah Naruto yang kini dihiasi senyum tipis, membuat Kyuubi ikut tersenyum tipis tanpa disadarinya.
Naruto merengkuh Kyuubi dalam dekapannya, sebisa mungkin berharap bisa melindungi atau setidaknya mengurangi efek saat tiba di dasar nanti.
"Bodoh" ucap Kyuubi sambil perlahan mulai mengeliminasi jarak di antara mereka. Ah... bagaimana bisa? suaranya... suara Kyuubi bahkan terdengar sangat jernih, jelas, dan lembut di pendengaran Naruto, bahkan meski ada suara air terjun yang lebih deras dari biasanya, ada suara air langit yang menimpa bumi tanpa ampun, ada suara tanah longsor yang mengikuti gravitasi, juga suara gemuruh langit dan petir yang menggelegar serta terus sahut-menyahut.
Senyumannya juga sangat manis, dari jarak sedekat ini Naruto bisa melihat jelas manik ruby Kyuubi yang kini memancarkan berbagai emosi, pelupuk matanya juga tergenang, mungkin air hujan tapi Naruto yakin itu air matanya. Yeah, positif thinking di ambang kematian tidak ada salahnya kan? Naruto mulai berpikir kalau memang hal yang terakhir yang dilihatnya sebelum malaikat maut menyeretnya adalah senyum tulus gadis bodoh ini, maka ia rela, bahkan rasa sesak, sesal, maupun bersalah akan orang-orang yang akan ditinggalkannya kini menguap entah ke mana.
Jarak yang harus dan akan mereka berdua eliminasi semakin sedikit, sungguh sedikit.
'Malaikat mautku pasti iri' batin Naruto ketika milimeter terakhir berhasil mereka lenyapkan, dan tergantikan dengan kelembutan serta kehangatan yang mereka bagi dalam ciuman itu. Keduanya tidak memejamkan matanya, membiarkan kedua pasang iris mereka yang berbeda warna terus bertemu, saling bertautan, saling menyelami, sama-sama tidak berniat melewatkan setiap detiknya, pungutan lembut itu menyampaikan banyak hal dalam waktu yang amat sangat singkat. Didetik berikutnya, tepat saat pungutan itu berakhir, pandangan Naruto mulai buram dan mengabur, kelopak matanya menjadi sangat berat, hingga akhirnya ia tenggelam dalam kegelapan... Yeah, setidaknya ia sudah mendapat hadiah dari surga sebelum maut menjemputnya.
Didetik berikutnya... keduanya menghilang.
BRUKKK
Tidak ada suara air terjun, tidak ada kerasnya dasar danau yang tadinya menanti mereka, tidak ada dinginnya air danau yang harusnya menenggelamkan merekq, tidak ada air hujan yang tadinya dan harusnya menimpa mereka. Kini yang ada hanya suara isak tangis seorang gadis yang setengah tubuhnya menindih seorang pemuda yang tengah kehilangan kesadarannya di sebuah ruangan berlantai tatami yang lebih sering kita sebut sebagai washitsu. Ruangan itu gelap karna lampunya yang belum dinyalakan, meski saat itu masih sore atau tepatnya menjelang sore namun tentu awan gelap pembawa hujan telah merubahnya menjadi segelap petang di mana matahari sudah kembali ke peraduannya.
Suara rintik hujan yang mulai mereda sayup-sayup masih terdengar, menemani Kyuubi yang tidak lagi terisak, namun cairan bening tetap mengalir dari pelupuk matanya. Ia menangis dalam diam, membiarkan cairan bening itu mengalir dan menetes mengenai baju pemuda yang ia anggap bodoh, gila, sialan, menawan, dan sudahlah... Kyuubi juga tidak berniat beranjak karna baju Naruto kan memang dari awal sudah basah, air matanya hanya andil sebagian kecil saja... terlebih air matanya juga hangat kan? Kyuubi mendesah berat menyadari cairan bening itu mengalir tanpa bisa ia hentikan. Seingatnya ia sudah la memahami alasan terus mengalirnya cairan bening dari kedua manik rubynya. Senang kah? Sedih kah? Lelah kah? Tersentuh kah? Rasa bersalah kah? Kasian kah? Takut kah? atau... Semuanya kah? Ia juga tidak tau.
Kyuubi mengernyitkan dahinya ketika perlahan ia rasakan kepalanya berdenyut-denyut, lama-lama semakin terasa sakit, seakan ada seribu jarum yang yang menusuk kepalanya secara random, ia tau jelas ini efek dari apa yang di lakukannya tadi. Hingga kemudian kesadarannya ikut menghilang. Yang pertama berefek hingga membuatnya pingsan... cukup adil bagi Kyuubi.
.
.
Kelopak matanya bergerak sebelum kemudian terbuka perlahan-lahan, lalu mengerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikannya dengan kegelapan yang menyambutnya. Nampaknya hari sudah gelap dan hujan juga sudah reda karna tidak ada lagi suara rintik hujan teratur yang tertangkap oleh pendengarannya. Hanya suara detak jantung teratur namun cepat yang kini ia dengar, detak jantung pemuda yang ia tindih sejak beberapa jam yang lalu juga suara nafas memburu yang juga ia yakini berasal dari pemuda itu. Ia menghela nafas berat sebelum kemudian mencoba bangun dengan bertumpu lengannya.
"Akh..." Ia merintih pelan merasakan kepalanya kembali terasa sakit, membuatnya mengurungkan niatnya untuk beranjak, ia kembali menyamankan dirinya di atas tubuh pemuda itu, mengabaikan fakta bahwa pemuda itu kini tengah sakit dan perlu pertolongan. Yeah, untuk sebentar lagi saja tidak apa-apa kan? Seseorang tidak akan mati karna demam kan? Lagipula egois memang sifatnya.
.
.
.
.
Kyuubi menghela nafas berat untuk yang kesekian kalinya malam itu. Manik rubynya tak lepas dari pemuda bodoh yang kini diketahuinya bernama Namikaze Naruto dari kartu identitasnya yang ada di dompetnya yang di temukan Kyuubi di saku belakang jeans hitam yang tadi di kenakan Naruto. Meski Kyuubi sudah mengganti baju basah Naruto dengan baju kering milik Naruto yang dipilih Kyuubi secara acak dari lemari pakaian Naruto. Yeah, Kyuubi memang sudah memulangkan Naruto ke rumahnya dengan cara sama yang juga berdampak kembali membuatnya merasakan sakit kepala berlebih seperti saat pertama ia lakukan di air terjun siang atau menjelang sore tadi? meski memang sudah lebih berkurang, mungkin ia hanya perlu membiasakan diri menggunakan kekuatannya dalam kuantitas yang lebih besar hm? Yeah, berpindah tempat atau tleport atau jumping? yang pasti ini sangat berguna baginya. Kyuubi tersenyum kecil menyadari untuk pertama kalinya ia merasa senang akan kekuatannya.
Hujan sudah kembali mengguyur bumi tanpa ampun malam itu, disertai dengan gemuruh petir yang memecah kesunyian malam, membawa udara dingin bersama ribuan molekul air yang terus tumpah dari gumpalan gelap di langit yang menyembunyikan indahnya langit malam bertabur bintang di musim semi yang harusnya sudah lebih hangat. Setidaknya bunga sakura akan terlambat mekar tahun ini, dan itu membuat orang-orang yang hendak merayakan festival Hanami akan menekuk wajah sepanjang hujan turun.
Tentu hanya Kyuubi seorang yang bersyukur dan merasa senang akan hal itu. Manik rubynya beralih dari jendela cermin besar di kamar Naruto yang menyajikan pemandangan jatuhnya air langit ke taman kembali pada Naruto yang kini terbaring lemah di tempat tidur king sizenya dengan wajah pucat dan nafas memburu. Kyuubi mendesah menyadari demam Naruto belum juga turun, malah kelihatannya bertambah parah saja sakitnya. "Ternyata manusia itu sangat lemah ya" gumamnya sembari duduk di tepi tempat tidur Naruto.
Meski Kyuubi sudah melepaskan kekuatannya yang mengikat kesadaran Naruto beberapa jam yang lalu namun Naruto belum juga bangun dari pingsannya atau kini bisa disebut tidur? Kyuubi tidak tau mana yang tepat, mengingat ia sudah cukup lama tidak bercengkrama dengan dunia itu wajar kan? bahkan mengatasi demam saja ia tidak tau.
Kyuubi terdiam cukup lama sambil menyilangkan tangan di depan dada, manik rubynya memicing menatap pemuda bodoh bernama Naruto yang masih tak bergeming, mengabaikan kilat cahaya dan suara petir yang sahut-menyahut dan mencekam di luar sana, membiarkan dirinya larut dalam pikirannya sendiri yang tengah bergulat, berperang, bertarung, berebut, ber-hah! akan sesuatu, hingga akhirnya bibir ranumnya kembali mendesah frustasi. Manik rubynya yang kini hanya setengah terbuka menatap lembut wajah pucat Naruto. Diangkatnya sebelah tangannya menuju dahi Naruto yang berpeluh -akibat demamnya-.
Perlahan tangannya mulai terselimuti pendar-pendar cahaya berwarna merah ke-orange-an, namun gerakan sebelah tangan Kyuubi itu terhenti ketika manik rubynya yang sedari tadi setengah terbuka dan nampak lelah itu menangkap suatu gerakan kecil di dahi Naruto, guratan dari dua sisi dahinya saling mendekat. Mengernyitkan dahi. Sakitkah? Herankah? Sedihkah? Takutkah? Entahlah, Kyuubi tidak tau mana yang benar, yang pasti itu pertanda ia tidak nyaman kan? atau mungkin ia bermimpi buruk?
Tangannya yang sempat ia biarkan menggantung di udara kini kembali ia gerakan, namun pendar-pendar orange tidak lagi membalut kulit porselen tangannya. Perlahan disingkirkannya rambut pirang basah -karna peluh- Naruto yang menempel di dahi Naruto. Seringai kecil terukir di wajah manis Kyuubi ketika entah apa yang mendorongnya, hingga membuatnya meletakkan sebelah tangannya yang bebas di samping kepala Naruto, untuk menahan tubuhnya yang kini menunduk sembari mensejajarkan wajahnya dengan wajah tidur Naruto yang nampak damai. Aroma citrus yang menguar dari tubuh Naruto dan nafas hangat Naruto yang kini menerpa wajah Kyuubi menandakan jarak di antara mereka sangat dekat.
Dengan sedikit memiringkan wajahnya, membiarkan hidungnya yang bersentuhan atau tepatnya bergesekan dengan hidung Naruto menjadi saksi atas tereliminasinya jarak di antara keduanya. Mempertemukan bibir ranumnya yang hangat dengan bibir pucat Naruto yang sedikit terbuka. Menyalurkan sedikit kekuatannya melalui pungutan lembut yang harusnya tidak berlangsung lama itu. Dengan enggan Kyuubi mengakhiri kontak kecil yang di lakukannya, namun lagi-lagi entah apa yang mendorongnya, bibir ranumnya malah beralih menelusuri rahang Naruto, memungutnya lembut, naik hingga hampir mencapai telinga... dan...
CTAR
Suara petir menyentak Kyuubi, menariknya ke dunia nyata, menyadarkannya atas apa yang kini di lakukannya. Kyuubi langsung mengangkat wajahnya, kembali berdiri tegak. Nafasnya tercekat sesaat, ia merasa seperti di tampar tangan tak terlihat dari neraka, ia menggigit bibir bawahnya. Namun kemudian ia mengembangkan senyum kecil sembari menyentuh bibirnya sendiri dengan sebelah tangannya, menelusurinya sesaat.
"Manis sekali..." lirih Kyuubi ambigu. Entah bibir Naruto yang terasa manis atau perasaan yang kini membuncah di hatinya yang ia bilang manis... atau keduanya, eh?
Tangannya beralih turun tepat ke dadanya, menekan tangannya di sana, semakin kuat seiring dengan semakin lebarnya senyum manis yang merekah di wajahnya. Satu hal yang baru disadarinya... ia menyukai Naruto, jantungnya yang berdetak random, bibirnya yang terus membentuk senyum ketika menatap Naruto, dan- ah... cukup itu saja sudah membuktikan hipotesa Kyuubi.
Sesaat setelahnya, secara berangsur-angsur keadaan Naruto mulai membaik. Yeah, Kyuubi melakukan itu tadi bukan tanpa alasan, ia melakukannya untuk menyembuhkan Naruto dengan kekuatannya, karna ia kan tidak tau cara merawat orang sakit, ia kan tidak pernah sakit. Yang ia tau hanya jika demam maka harus menurunkan demamnya dengan di kompres, dan minum obat. Tapi setelah ia mengompres Naruto selama berjam-jam dan demamnya tidak juga turun. Ia mulai meragukan pengetahuan itu. Terlebih lagi ia juga tidak tau apa obat penurun demam! dan tidak tau di mana mendapatkannya! Ia juga terlalu angkuh untuk minta bantuan pada pengurusnya. Hell no...
.
.
.
Buram. Itulah yang pertama tertangkap oleh manik sapphire Naruto ketika bangun dari tidurnya pagi itu. Setelah mengerjap beberapa kali, hal pertama yang dilakukannya adalah memutar kepala ke samping untuk melihat jam kecil di atas meja nakas di samping tempat tidurnya. Kebiasaannya setiap pagi.
'jam delapan' batinnya sembari mengalihkan pandangannya ke jendela cermin besar yang meperlihatkan pemandangan merah muda di taman belakangnya.
Yeah, itu adalah bunga sakura yang kini mulai bermekaran, kamar Naruto yang berada di lantai dua dan posisinya yang masih belum beranjak dari pembaringannya membuatnya hanya melihat bagian atas bunga sakura, tanpa terlihat batang maupun taman di sekitarnya. Hanya bunga sakura yang salah satu sisinya tersinari cahaya matahari. Membuatnya semakin indah. Perlahan ia angkat tubuhnya sembari mengucek pelan sebelah matanya dan secara tidak sengaja sebelah matanya menangkap warna merah asing di sisi lain tempat tidurnya, membuatnya memutar leher untuk memastikan. Naruto terpaku sesaat, mulutnya terkatup rapat, manik sapphirenya menatap datar. Warna merah tadi ternyata rambut seorang gadis, posisinya meringkuk menghadap Naruto sehingga wajah tidur manisnya terlihat jelas oleh Naruto , membuatnya langsung teringat dengan semua yang terjadi padanya tempo hari. Hutan, danau, gadis, rumor, hujan, tebing, longsor, jatuh, dan.. gelap. Naruto tersenyum kecil menyadari itu semua bukan hanya mimpi. Manisnya.. akhirnya mulai sekarang ada warna baru di hidupnya yang 'sempurna'.
.
.
.
Terlihat seorang gadis berambut coklat pendek terduduk lemas di tengah roka, menghadap ke sebuah ruangan gelap di depannya. Manik hazelnya berkaca-kaca dan nampak sendu. Bahunya bergetar namun bibirnya tetap terkatup rapat. Pandangannya kemudian beralih ke sebuah ponsel model flip di tangan kanannya. Layar LCDnya menampakkan sebuah nama yang harus dihubunginya. Namun hatinya membuatnya ragu untuk segera menekan tombol hijau guna mengawali panggilan pada nama itu. Sambil mengigit bibir bawahnya sendiri akhirnya ia menekan tombol hijau itu. Tangannya bergetar ketika mengarahkan ponselnya ke telinganya.
Tutt... Tutt
Untuk beberapa saat pertama yang dapat ia dengar adalah nada tunggu yang entah kenapa terdengar semerdu lonceng surga bagi pendengarrannya. Dalam hati ia sangat berharap orang yang tengah di hubunginya sedang sibuk, sedang sakit, sedang apapun saja! yang penting sedang tidak bisa di hubungi sekarang, atau selamanya, eh? Setidaknya sampai ia menemukan keberadaan Kyuubi sebelum terlambat. Ia tau jelas bahwa semua akan berakhir jika orang yang kini di hubunginya tau bahwa Kyuubi hilang dari rumah. Bisa dipastikan orang itu akan langsung mengirim pembunuh berkedok penduduk untuk membunuh Kyuubi, lalu beberapa hari kemudian mengabarkan kematian Kyuubi dengan berurai air mata kepalsuan. Meski begitu ia juga tidak punya pilihan. Ia tidak bisa menyembunyikan kabar ini, kedatangannya sudah pasti diketahui oleh mata-mata desa. Kalau ia ketahuan menyembunyikan kabar ini neneknya bisa terkena imbasnya.
Yang ia harapkan hanyalah sedikit waktu, ia tidak tau Kyuubi sudah hilang dari rumah sejak kapan, terakhir ia mengunjungi Kyuubi adalah 3 hari lalu. Itupun hanya beberapa menit. Bertemu, minum teh bersama, mengobrol basa-basi, mungkin bukan mengobrol juga mengingat hanya ia sendiri yang terus mengoceh. Dan hanya di balas Kyuubi dengan gumaman tak jelas dan tatapan jengah. Namun meski begitu ia tetap tau kalau Kyuubi menikmati obrolan sore membosankan itu. Mengenal dan mengurus Kyuubi selama setahun terakhir tentu membuatnya mengerti pesan tak terucap Kyuubi. Mengetahui masa lalu dan perjalanan hidup Kyuubi juga membuatnya lebih bisa memahami apa yang di rasakan Kyuubi. Apa saja yang hingga kini masih tertopengi wajah angkuh nan datar Kyuubi. Hal-hal yang membuat manik sewarna crimson menyerupai batu ruby itu tidak lagi bercahaya, atau tidak bercahaya. Karna memang tidak ada kata 'lagi' baginya, mengingat ia tidak pernah melihat manik ruby itu bercahaya dari pertama mereka bertemu sekitar setahun lalu.
Yeah, saat itu ia masih Natsukaze Matsuri yang bebas. Hingga kabar bahwa neneknya yang mengurus Kyuubi sejak kecil mengalami kecelakaan, keadaannya parah, namun tentu masalah ekonomi menyulitkannya. Matsuri juga yatim piatu, ia bergantung pada neneknya untuk masalah keuangan, dan ia juga tidak tau menahu mengenai perbendaharaan neneknya itu. Bahkan berapa gaji yang diterima neneknya untuk merawat Kyuubi dari keluarga Akasuna atau kini dari Akasuna Corp... mengingat keluarga Akasuna tidak tersisa lagi selain Kyuubi sendiri. Yeah, yang pasti kala itu Kakuzu yang merupakan wali Kyuubi sejak kecil, menolongnya dan membiayai semuanya dengan syarat ia sendiri yang akan menggantikan neneknya sebagai 'penjaga' Kyuubi. Ia langsung menerima tanpa berpikir, keselamatan neneknya adalah prioritas utamanya kala itu. Setelahnya.. ia baru tau dan sadar kalau ternyata apa yang diyakininya mengenai hidup Kyuubi teramat salah. Setiap mozaik kenyataan mendatanginya dengan sendirinya. Kyuubi bukan gadis sakit-sakitan yang angkuh seperti yang segelintir orang tau, bukan gadis manja seperti yang ia kira, bukan gadis penyakitan yang membenci bioritmik dunia karna iri, tapi gadis tersesat yang kehilangan segalanya seperti yang dikatakan neneknya. Ceria... Ia tidak pernah melihat rubah manis itu melengkungkan sebuah 'senyum sebenarnya' di wajah manis nan dingin itu.
Dan Kakuzu? menyebut nama orang itu saja Matsuri sudah sangat enggan. Kakuzu adalah wali sekaligus paman Kyuubi dari pihak ayahnya. Angkat tentu saja. Semua Akasuna hanya keluarga angkat Kyuubi... Mozaik kehidupan Kyuubi yang lain. Pria bernama Kakuzu itu tidak lebih dari orang gila mata duitan yang memanfaatkan kemalangan orang lain dengan keji, bahkan meski itu adalah kematian adiknya sendiri sekalipun. Setidaknya itulah yang Matsuri tau.
Kala itu... Chiyo yang merupakan pengasuh Kyuubi mengubah alur cerita kejadian itu. Merahasiakan apa yang Kyuubi lakukan saat peristiwa pembantaian keluarganya. Dengan uang setiap rekayasa bisa dibuat, Huh! Namun Kakuzu yang mengetahui hal itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengendalikan Chiyo dengan jaminan rahasianya akan Kyuubi akan tersimpan dengan baik.
Menjadi wali Kyuubi dan mendapat hak atas Akasuna Corp yang harusnya jatuh ke tangan Kyuubi, menipu Kyuubi akan betapa dunia tidak menginginkan eksistensinya sebagai setengah siluman pembunuh, Kyuubi yang masih polos dan masih shock pun hanya mempercayai apapun doktrin yang disuapkan Kakuzu padanya. Mengisolasi Kyuubi dari dunia. Mengatakan pada dunia bahwa Kyuubi menderita penyakit Xeroderma pigmentosum. Bahkan mencoba membunuh Kyuubi dengan doktrin-dokrin itu. Mempengaruhi pikiran Kyuubi untuk menyudahi hidupnya sendiri. Mengingat ia tidak bisa membunuh Kyuubi yang notabenenya setengah siluman rubah. Matsuri sempat berpikir kenapa Kakuzu harus bertindak sejauh itu.
[Hallo] suara berat di ujung telepon sana menyentak Matsuri. Menariknya kembali dari lamunannya.
"..." Matsuri kesulitan mengeluarkan suaranya untuk memberi tahu hilangnya Kyuubi dari rumah pada orang yang sangat ia benci itu. Benci? Matsuri sendiri tidak mengerti kenapa ia membenci Kakuzu, mungkin karna kepribadiannya yang memuakkan,
[Katakan! Apa maumu?] Kakuzu mulai kehilangan kesabarannya, terlihat dari nada suaranya yang berubah dari datar menjadi naik beberapa oktaf.
"Kyuubi-" Matsuri mengambil jeda, menimbang-nimbang konsekuensinya.
[Ia menghilang?] nada suara Kakuzu di seberang sana berubah menjadi lebih senang di indera pendengaran Matsuri, membuat rahangnya mengeras menahan emosi. Ia harus menjaga sikap, demi pengobatan neneknya yang belum juga berakhir hingga sekarang. Dengan sebelah tangan bebasnya mengepal kuat, ia menjawab,
"Ya" lirih Matsuri semakin pelan.
[Baiklah] Dan dengan satu kata dari Kakuzu panggilan itu terputus. Meninggakan Matsuri yang mulai terisak kembali.
.
.
.
Cahaya matahari pagi tampak menembus jendela cermin besar di belakang kursi CEO Akasuna Corp. Sementara seorang pria paruh baya yang duduk di kursi itu nampak menyeringai sembari meletakkan ponsel yang baru saja digunakannya di atas meja tepat di depannya.
Tuk.. Tuk.. Tuk
Suara jari telunjuk pria itu yang beradu dengan meja saat empunya mengetuk-ngetukkannya pada meja dengan sengaja menjadi satu-satunya suara di ruang CEO Akasuna Corp itu. Pandangan matanya menatap datar pintu kayu berkualitas terbaik yang masih tertutup rapat cukup jauh di seberang meja kerjanya. Jelas sekali ia tengah menunggu seseorang.
Ceklek
Pintu mahogani itu akhirnya terbuka perlahan, tanpa ketukan sopan yang biasanya ia dapatkan ketika seseorang hendak memasuki ruangannya ini.
Namun ia tetap tak bergeming. Tak berniat mempermasalahkan hal itu.
Seorang pemuda berambut merah kusam, bergigi runcing berjalan pelan dengan mengulum senyum miring. Langkahnya santai dan pelan tidak seperti eksekutif yang selalu kaku.
"Ada apa Kakuzu?" tanya pemuda itu santai sembari mendudukkan dirinya di kursi tamu di depan meja CEO. Gerakan jari telunjuk pria yang di panggil Kakuzu itu terhenti.
"Setidaknya gunakan suffik san atau sama padaku... Suigetsu-san?!" pinta sekaligus perintah Kakuzu dengan nada sopan.
"Huh" Suigetsu membuang wajahnya sembari mendengus pelan. "Apa itu penting... eh? Kakuzu?" lanjutnya menyampaikan keberatannya sembari menatap Kakuzu dengan jenaka dan mengukir senyum miring di wajahnya.
"Itu menunjukkan perbedaan antara orang yang punya uang dan yang tidak... kau tau?" desis Kakuzu disertai tatapan tajam.
"Memang hanya uang yang kau pikirkan, huh?" ucap Suigetsu sarkastik.
"Ya" tanggap Kakuzu mantap, membuat pemuda bergigi runcing itu mengerlingkan matanya jengah.
"Anak rubah itu hilang lagi, lakukan yang harus kau lakukan, dan jangan mengulur waktu terlalu lama." jelas Kakuzu menerawang.
"..." Suigetsu hanya terdiam menatap lurus ke mata Kakuzu yang juga tengah menatapnya.
"Ada apa? Aku akan membayarmu dengan cepat dan cukup kalau itu yang sedang kau khawatirkan." ujar Kakuzu merasa heran pada pemuda di depannya ini. Tidak biasanya Suigetsu terdiam setelah mendengar siapa yang harus ia habisi.
"Bukan itu" kilah Suigetsu sembari menyilangkan tangan di dada dan menyamankan punggungnya yang bersandar di sandaran kursi yang kini tengah didudukinya. Kakuzu hanya menaikkan sebelah alisnya meminta penjelasan lebih lanjut.
"Apa harus di bunuh juga?" tanya Suigetsu akhirnya.
"Ya... tentu saja!? apa maksudmu?" nada suara Kakuzu kembali meninggi. Ia menggeram sesaat, matanya memicing menatap Suigetsu.
"Hm... aneh saja, untuk apa membunuhnya jika ia sudah tunduk padamu dan ia kan kartu as mu untuk kursi yang kau duduki itu." jelas Suigetsu sembari menunjuk kursi yang diduduki Kakuzu dengan dagunya. Pandangannya yang tadi menatap kursi itu untuk mendukung gerakan sederhana dagunya dalam menunjukkan maksudnya tadi kini beralih kembali menatap jenaka Kakuzu yang tengah mendecih.
"Umur penderita Xerodermia Pigmentosum tidak jauh dari 20 tahun, anak rubah itu sudah 19 tahun. Lagipula menipu itu juga melelahkan." ungkapnya menerawang.
"dan aku juga tidak berminat mengeluarkan lebih banyak uang untuk anak rubah itu. Dengan kematiannya tidak akan ada lagi kimono-kimono mahal, tidak ada lagi biaya pengobatan untuk nenek merepotkan dan bocah yang koma itu." lanjutnya dengan bibir melengkungkan senyuman dan tatapan menerawang.
"Lagi-lagi soal uang, huh" Suigetsu melenggang pergi dengan santai.
"Dan-" Langkah Suigetsu terhenti, menunggu lanjutan kalimat Kakuzu yang menggantung.
"Aku ingin kau turun tangan langsung kali ini." seru Kakuzu datar. Suigetsu hanya diam dan melanjutkan langkahnya yang tertunda tadi. Pikirannya sedikit kacau. Membunuh adalah hal biasa baginya, tapi gadis itu... Suigetsu tidak tau namanya, meski ia lah yang selalu di tunjuk Kakuzu untuk mengurusi gadis itu. Yeah, ini bukan pertama kali baginya, tapi dulu ia hanya perlu menekan psikisnya tanpa kontak fisik. Itupun hanya menyuruh anak buahnya.
Ia tau ada yang disembunyikan Kakuzu darinya mengenai gadis itu. Dan itu membuatnya merasa aneh. Seakan tabu baginya untuk membunuh gadis itu. Tapi itu tetap tugasnya kan?
.
TBC.. ^^
