Title : Joonmyeon's Diary (Journal I mean)
Author : Christian Wu
Rated : K maybe M later (?)
Genre : General, Romance
Warning : Typo, Yaoi, AU.
Disclaimer : EXO is not mine *sobs* this story is!
Pairing : Krisho and more to come!
.
.
.
Chapter 2
.
.
Sesampainya mereka berdua di kediaman Joonmyeon, mereka disambut oleh Sehun yang tampaknya habis mandi. Rambut pirangnya masih terlihat basah.
"Tao-hyung!", ujar pemuda yang paling muda di antara mereka bertiga dengan cengiran.
"Yah Sehun-ah, apa kau melupakan hyung-mu?", kata Joonmyeon bermain-main.
Sehun hanya menjulurkan lidah.
Hyung-nya hanya tertawa pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Sehun. Beginilah Sehun, jika Tao sudah datang Joonmyeon pasti akan dihiraukan jika itu tidak berkaitan dengan makanan tentunya.
Tao ikut tertawa bersama Joonmyeon, "Annyeong Sehun-ah. Di mana Kkamjong?"
"Dia belum pulang. Dia bilang dia harus membantu bosnya membawakan radio yang biasa mereka pakai untuk diperbaiki. Aku pikir dia sudah mengirimkan pesan padamu Hyung?", tanya Sehun sambil menatap Joonmyeon.
"Eh? Jinjja?", Joonmyeon mengeluarkan ponsel dari saku celana jeansnya dan benar saja. Dua buah pesan dan satu panggilan tak terjawab telah diterimanya.
"Aigoo, mianhae. Aku lupa memeriksa ponselku"
Sehun terkekeh, "Hati-hati Hyung. Bisa-bisa kau sebentar lagi menjadi seperti harrabeoji"
"Yah! Aku tidak setua itu!", timbal Joonmyeon kesal.
Tao dan Sehun tertawa melihat reaksi orang tertua diantara mereka. Joonmyeon memang paling mudah untuk dijahili.
Joonmyeon mendengus pelan.
"Dasar kalian ini. Sudahlah, ayo masuk ke dalam. Sebentar lagi akan hujan"
.
.
.
.
"Tao, apa kau membawa baju-bajumu?"
"Gege akan mengantarkannya besok, Joonmyeon-ge. Aku sudah mengirim alamat rumahmu padanya", kata Tao yang sedang membantu Sehun menyediakan mangkuk-mangkuk kecil di atas meja makan
Sehun yang sekarang sedang duduk kursi meja makan paling ujung mengerutkan dahinya bingung,
"Apa maksudmu Tao-hyung? Untuk apa kau membawa baju-bajumu ke sini?"
"Tao akan menginap disini selama beberapa hari Sehun. Aku yakin kau tidak akan keberatan bukan?", tanya Joonmyeon.
Orang termuda di rumah itu membulatkan matanya tidak percaya.
"Jinjja?! Wuaah, kita akan bermain semalaman kalau begitu Tao-hyung!", ujar Sehun sambil mengusap-usap kedua tangannya dengan senang.
Hyung-nya yang kini tengah mengeluarkan beberapa sayur dan daging dari lemari pendingin hanya berkata,
"Tidak boleh terlalu malam. Kau masih ada sekolah besok. Kai, kau juga tidak boleh terlalu malam bermain bersama Sehun-ah dan Tao"
Kai yang baru saja memasuki ruang makan dengan pakaian yang sedikit basah akibat gerimis di luar hanya mengerucutkan bibirnya.
"Ayolah Joonmyeon-hyung. Aku dan Sehun sudah lama tidak bermain bersama Tao-hyung. Benarkan Sehun-ah?", ujarnya sambil menyimpan ransel hitamnya dibawah kursi meja makan yang kini didudukinya. Tao duduk diseberang mereka berdua sambil memangku dagunya dengan tangan kanannya.
Lelaki tertua yang berada di rumah itu menggelengkan kepalanya sambil memotong-motong kubis.
"Tidak. Kau sering mengantuk saat kuliah dan Sehun, kemarin aku menerima telepon dari wali kelasmu. Katanya nilai Bahasa Inggrimu menurun, tapi kabar baiknya nilai Bahasa Mandarinmu sekarang meningkat meskipun masih di bawah standar yang seharusnya. Kau harus lebih rajin belajar Sehun-ah. Jangan lupa untuk berterimakasih kepada Tao yang sudah mengajarimu Mandarin,"
Kai terkekeh dan menatap Sehun dengan pandangan mengejek. Ia langsung dihadiahi Sehun dengan pukulan dikepalanya.
"Yah.. Aku ini lebih tua darimu tahu!", ujar Kai sambil mengusap-usap kepalanya yang sekarang benjol.
"Kita hanya berbeda beberapa bulan saja Kkamjong. Lagipula, aku tahu nilaimu tidak jauh berbeda denganku", timbal pemuda berkulit pucat itu sambil me- 'mehrong' pada Kai.
"Yah! Dasar kau cadel!"
"Sudahlah kalian ini. Nilaimu tidak akan berubah menjadi lebih bagus jika kau terus bertengkar dengan Kai, Sehun-ah. Dan Kai, Sehun benar, nilaimu tidak jauh berbeda dengannya jadi sebaiknya kalian hentikan pertengkaran kalian ini atau semua jatah makan kalian akan kuberikan kepada Tao"
Joonmyeon yang sekarang tengah mengaduk-aduk bahan-bahan masakan kedalam sebuah panci mencoba rasa dari supnya itu. Ia mengangguk saat rasanya telah pas dan sesuai. Ia segera mengambil mangkuk besar sebagai tempat sup itu dan menghidangkannya di atas meja makan.
Tao, Kai dan Sehun segera mengambil mangkuk mereka masing-masing. Sehun dan Kai kembali bertengkar mengenai siapa duluan yang akan mengambil sup itu. Joonmyeon menghela nafas panjang dan memukul kedua adiknya di kepala menggunakan sendok makannya.
"Auw! Hyung!"
"Aish! Appoyo~"
"Sudah kubilang hentikan pertengkaran kalian. Lagipula, tamu kita terlebih dahulu yang harus dilayani. Arraseo?"
Kai dan Sehun hanya menggerutu sambil mengusap-usap kepala mereka. Sekali-kali menatap hyungnya.
"Arrasseo?"
"Arrasseo, Joonmyeon-hyung", ujar keduanya bersamaan dengan nada mengalah.
Tao tertawa dengan kencang, "Kalian ini. Benar-benar lucu sekali. Baiklah, jangan menangis kalau jatah kalian aku habiskan saat ini juga" katanya dengan tatapan jahil.
"Andwe!"
"Andweyo!"
Tao tertawa menjadi-jadi.
.
.
.
"Jaljjayeo Tao-hyung", ucap Sehun sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
Kai hanya melambaikan tangannya lalu menyusul Sehun dan memasuki kamarnya sendiri.
Tao yang sedang membantu Joonmyeon mencuci mangkuk-mangkuk tersenyum. Ia selalu merindukan suasana keluarga seperti ini. Hangat dan ceria. Tao menggelengkan kepalanya pelan dan berpaling kepada Joonmyeon sambil tetap mengelap mangkuk-mangkuk itu.
"Kau sangat beruntung Joonmyeon-ge"
"Eh? Apa maksudmu Tao?", tanya Joonmyeon tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaan yang sedang ia lakukan.
Tao kembali fokus mengelap mangkuk yang dipegangnya. Ia membiarkan perkataannya menggantung dan menikmati suara air yang keluar dari keran cuci piring.
"Aku selalu menginginkan keluarga seperti ini. Hangat, ceria dan penuh tawa. Aku hampir tidak pernah mendapatkan hal seperti ini dalam keluargaku. Kau memang sangat beruntung Joonmyeon-ge,"
Pemuda berambut merah itu menghentikan gerakannya dan memalingkan wajahnya kepada Tao. Kini ia mengerti apa yang dimaksud pemuda asal Cina itu.
"Keluargaku tidak sempurna Tao. Aku sudah tidak memiliki ayah dan ibu. Berbeda dengan dirimu", kata Joonmyeon dengan suara yang kecil dan parau. Ia segera membilas mangkuk kecil yang ia pegang dan menyimpannya di dekat mangkuk-mangkuk yang sudah disusun rapi oleh Tao.
Tao hanya menggelengkan kepalanya. Ia membersihkan tangannya dan mengeringkannya menggunakan kaos hitam miliknya. Joonmyeon mengerutkan dahinya dengan jijik. Pemuda berambut hitam kelam itu menyandarkan punggungnya ke pinggir meja makan dengan tangan-tangannya yang menopang tubuhnya. Ia menghela nafas lega.
"Aku iri padamu," ia mengambil nafas dalam. Entah mengapa setiap kali ia membahas tentang ini, dadanya terasa berat.
"Aku tidak butuh keluarga sempurna yang seperti itu. Aku hanya butuh keluarga yang mau meluangkan waktu mereka bersama meskipun hanya sebentar. Aku ingin sebuah kebersamaan. Aku ingin merasakan lagi kasih sayang orangtuaku. Dulu Ayah sibuk mengurusi perusahaannya, sekarang beliau berada di rumah sakit karena penyakitnya yang tidak kunjung sembuh. Ibu sibuk pulang-pergi dari Guangzou ke Canada atau ke tempat-tempat lain menjadi translator. Aku merasa, untuk apa aku tinggal di rumah orangtuaku yang sering kosong dan hanya ditinggali oleh pelayan-pelayan yang mengurusnya. Aku lebih sering tinggal bersama Gege semenjak Ayah dan Ibu jarang berada di rumah," jelas Tao panjang.
Joonmyeon menyandarkan tubuhnya di sebelah Tao dengan posisi yang sama.
"Aku yakin orangtuamu melakukan semua itu untuk kebaikanmu juga Tao. Orangtua selalu memberikan yang tebaik untuk anak-anaknya meskipun cara mereka terkadang tersembunyi dengan hal-hal yang kita anggap buruk"
Pemuda berambut hitam itu menghela nafas pelan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku hidup dari uang pemberian Gege, Joonmyeon-ge. Aku masih bisa makan, belanja, kuliah, bersenang-senang tanpa khawatir uangku akan habis karena itu semua adalah pemberian Gege. Dialah yang selama ini membiayaiku kuliah, memberiku uang jajan atau kartu kredit untuk membeli tas Gucci kesukaanku dan yang membiayai uang bensin motorku. Ironis sekali bukan? Bahkan untuk motor kesayanganku itu aku tidak bisa membiayainya"
Joonmyeon terkejut mendengar hal itu, 'Jadi selama ini... Ia hidup karena orang yang ia panggil Gege itu? Tapi... mengapa?'
"Tao... kenapa.. bukan orangtuamu yang membiayai kehidupanmu?"
Tao hanya terkekeh,
"Aku menolak dibiayai oleh mereka"
"Mwo? Kenapa? Kau seharusnya bersyukur mereka membiayaimu Tao!"
Tao menatap lurus kedepan dengan raut muka yang sulit dibaca.
"Aku tidak mau dibiayai atau dihidupi oleh orang yang telah menyakiti Gege"
Joonmyeon terksiap dengan jawaban Tao yang dingin. Sebenarnya, apa yang terjadi?
Kini sosok Tao yang dulu ia kira sebagai sakah satu anggota mafia terlihat lebih nyata di matanya. Tangan pemuda itu mengepal dengan keras untuk menahan amarahnya.
Joonmyeon hampir bergidik jika bukan karena senyuman kecil Tao yang kemudian terukir di wajahnya.
"Ah.. Maafkan aku ge. Aku terbawa suasana,"
Joonmyeon hanya menatap Tao dengan rasa iba dan pengertian. Ia menatap ke depan, membiarkan keheningan menyambut mereka. Waktu sudah pukul 10 malam. Kai dan Sehun mungkin kini sedang tertidur atau mereka masih terjaga. Joonmyeon membiarkan pikirannya melayang sebentar sebelum akhirnya ia membuka suara.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Silakan saja Joonmyeon-ge"
"Orang yang kau panggil Gege ini, apa orangtuamu.. menyiksanya?"
Tao memalingkan wajahnya kepada Joonymeon dengan tatapan bingung.
"Maksudku, apa orangtuamu memukulinya atau-"
Tao tertawa dengan pelan setelah mengerti apa maksud pertanyaannya.
"Bukan. Bukan seperti itu"
"Lalu?"
Tao kembali terdiam dan menatap Joonmyeon dengan mata hitam kelamnya. Mulutnya terutup rapat sampai ia akhirnya berbicara,
"Aku tidak tahu"
Hening.
"Kau tidak tahu?"
Tao menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ia sedikit malu karena ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Gege-nya.
"Gege tidak pernah membicarakannya. Aku hanya tahu ia pernah terluka karena mereka. Tapi aku tidak tahu apa yang dilakukan orangtuaku kepadanya. Setahuku bukan secara fisik. Lagipula aku hanya menebak saja,"
Entah Joonmyeon harus tertawa atau memutarkan matanya mengetahui tingkah Tao yang dibilang cukup konyol hanya berasumsi seperti itu.
"Oh.. begitu"
Suara hujan menyelimuti keheningan mereka dengan nyaman. Tidak ada satupun dari mereka yang beranjak dari ruangan itu. Mereka membiarkan diri mereka nyaman dengan alunan suara hujan yang menenangkan hati sampai Joonmyeon mempertanyakan sesuatu pada pemuda di sampingnya.
"...Tao"
"Hm?"
"Orang yang kau panggil Gege itu, ia seperti apa?"
Tao menyengir meskipun ia tahu Joonmyeon tidak bisa melihatnya.
"Apa kau tertarik dengan Gege?"
"Bertemu saja tidak pernah bagaimana mungkin aku bisa menyukainya? Dasar kau ini", ujar Joonmyeon sambil memukul pelan bahu Tao.
"Hahaha.. Aku bercanda Joonmyeon-ge. Gege-ku itu orang sangat hebat dimataku. Ia adalah orang yang sangat berarti bagiku. Sebelum kau berpikir yang aneh-aneh, aku tidak menyukai Gege layaknya seorang kekasih, terima kasih." terdengar sinisme dalam nada Tao.
Joonmyeon mendengus pelan. "Ada-ada saja kau ini. Haah, lebih baik aku istirahat dulu. Kau juga sebaiknya Tao"
Pemuda bersurai hitam itu menggelengkan kepalanya pelan, "Aku nanti saja. Aku ingin menelepon Gege dulu,"
Joonmyeon mengangguk lalu menepuk bahu Tao dan pergi menuju kamarnya.
Sayup-sayup ia mendengar Tao berbicara dengan melalui ponselnya menggunakan bahasa Mandarin.
'Pasti orang itu,' pikirnya.
Joonmyeon merebahkan dirinya di atas tempat tidur berwarna hijau tosca miliknya dan menatap langit-langit kamarnya yang berhiaskan stiker-stiker menyala berbentuk bintang. Tangannya ia angkat seperti ingin menggapai bintang-bintang itu. Ia mengela nafas dan menurunkan kembali tangannya saat ekor matanya menangkap sebuah buku yang tergeletak di meja lampu dekat tempat tidur. Jurnalnya.
Joonmyeon lalu mengambil jurnal tersebut dan berbaring di atas perutnya lalu menuliskan sesuatu di buku itu.
.
29 Mei 2012
Tao hari ini menginap dirumahku untuk beberapa hari. Kai dan Sehun sangat senang dengan hal ini. Akupun ikut senang, setidaknya ada yang dapat kuajak bicara saat malam. Aku baru mengetahui sedikit latar berlakang keluarga Tao yang dapat kubilang, mengkhawatirkan? Ah sudahlah.. Aku memang mengkhawatirkan Tao, dia sudah seperti adikku sendiri tapi bukan berarti juga aku harus mencampuri urusan dalam hidupnya bukan?
Hm... Cuaca hari ini tidak begitu buruk. Mungkin itu karena aku tidak kehujanan meskipun di luar sana hujan masih deras. Kadang aku penasaran bagaimana rasanya berdiri di tengah-tengah hujan seperti itu tanpa harus khawatir akan sakit atau orang-orang menatapku dengan aneh. Apakah air hujan yang mengenai tubuhku itu sama seperti saat aku berenang? Pernah salah satu teman wanitaku berkata ,
'Terkadang di cuaca yang buruk sekalipun, luka seseorang dapat pulih perlahan.'
Apa maksudnya dari 'luka seseorang dapat pulih'? Apa luka fisik yang dimaksudkannya? Tapi sepertinya mustahil jika air yang turun dari langit itu dapat menyembuhkan luka fisik. Kecuali jika ada dewa yang dapat menyembuhkan luka dengan kekuatan air. Haha... aku mulai mengkhayal. Tapi, aku cukup penasaran juga rasanya memiliki kekuatan super seperti itu. Kira-kira, kekuatan apa yang cocok untukku ya? Ah lupakan saja, itu tidak penting.
Ah... Setelah mendengar penjelasan dari Tao, ia bilang orang yang dipanggil Gege adalah yang paling berharga untuknya. Aku jadi penasaran siapa orang itu. Tapi, bukan berarti aku akan bertemu dia bukan? Ah, ada-ada saja aku ini. Lebih baik aku tidur saja sebelum pikiranku ini menjalar ke mana-mana.
Annyeong,
Joonmyeon
.
Setelah selesai, buku itu ditempatkannya dibawah kasur dan ia meletakkan ponselnya di dekat lampu. Ia menatap sebentar foto ayah dan ibunya yang ia selipkan di sarung bantalnya sampai sebuah senyuman kecil terukir di wajahnya yang cantik.
"Jalljayeo Umma, Appa."
Lampu ia matikan dan tidak lama Joonmyeon sudah tertidur pulas.
.
.
.
XOXO
A/N : wuih, ternyata banyak juga yg suka KrisHo xD seneng nih author. Abisnya author punya tmn yg gk suka suho gtw kenapa ==a, padahal kan Suho itu adorable
Anyways, ini chap 2! Maaf kalau singkat ya, chapter-chapter berikutnya gk akan mengecewakan kq.
Author lg fall in love sama lagu EXO - Peter Pan nih, lyric-nya aduh sweet and heart melting TT_TT
kalau kalian suka lagu yang mana? :D
.
Jangan lupa review! Thanks buat yg udah review , follow and favourites~
.
.
Christian_Wu
