Sakura ya...

Terlepas dari statusnya sebagai sahabatku, dia merupakan gadis yang unik. Yang tetap manis walau gayanya tidak terlalu girly. Dia unik, aku menyukainya, temanku yang lain juga begitu. Kami menyukainya, kami menyayanginya. Well, sebenarnya aku kurang suka berbagi, mungkin ini karena aku anak terakhir dan hanya memiliki satu kakak –walau enggan kuakui, selalu mengalah padaku.

Dan melihat Sakura memberi perhatian ke cowok - cowok yang tak jelas sama sekali tak pernah kubayangkan, makanya aku begitu penasaran siapa yang berhasil mencuri hati teman kecilku itu.

"Sai, memangnya siapa yang disukai Sakura?" Itu pertanyaan to the point milikku yang langsung disambut oleh tawa Sai.

"Hahaha, ekspresimu aneh Sasuke. Tenang saja, cowok itu cowok baik-baik kok, kenapa? Cemburu?" Aku? Cemburu? Kheh, yang benar saja! Aku hanya khawatir!

"Tentu saja tidak, tak pernah ada sejarahnya kalau Uchiha merasa cemburu,"

"Pfft, semua orang pernah cemburu Sasuke, om Fugaku saja pernah cemburu karena om Minato dekat dengan tante Mikoto waktu jaman mereka kuliah dulu,"

"Terserah. Yang jelas, aku-tidak-cemburu."

"Ya, ya, ya, terserah," Sai memutar matanya, "Oh aku hampir terlambat, aku pamit dulu Sasu." Sai terlihat buru-buru, tapi baru beberapa langkah dia berbalik kemudian mengedipkan sebelah matanya. Ugh aku mual, dia lupa ya kalau aku bukan gadis yang sering dia gombali -lagi pula aku bukan gadis!

"Pekalah sedikit lil'bro." Dan itu menjadi kalimat terakhir Sai sebelum benar-benar pergi. Peka? Peka apa? Saraf-saraf reseptor tubuhku masih peka kok. Ah, itu mayat ngomong apa coba.


.

.

Disclaimer

Naruto oleh Masashi Kishimoto

FRIENDZONE! oleh Vi'keesha Keilantra

.

AU, diganggu oleh pihak ketiga bernama typo, gaya bahasa sesuai keadaan hati penulis, tanda petik, koma, titik dan segala kesalahan dalam bentuk ketikan mohon dimaafkan, dan kalau bisa mohon berkenan untuk mengingatkan agar diperbaiki. -Oh satu lagi, ini fanfic, apapun bisa terjadi, jalan cerita sepenuhnya hak saya, hoohoho... just fyi, i like all pair - especially crack pair.

.

Oh saya lupa bilang ini di chapter yang lalu, para tokoh di sini sangat-sangat di luar karakter tokoh sebenarnya. Dan… Alur cerita ini juga sangat lambat, bahkan terkesan tak jelas bagaimana akhirnya.

.

Title : FRIENDZONE!

Author: Vi'keesha Keilantra

Main Chara: Haruno Sakura

Pair : Mungkin sebagian besar pair ada, SasuSaku, SaiSaku, SaiIno, SaiKarin, KibaIno, -Ah, apapun itu yang jelas jangan terlalu banyak berharap, banyak pair bertebaran, yang pasti tokoh utamanya tetap Sakura.

Genre : Silahkan nilai sendiri (Mungkin Friendship terbalut drama isi romance dengan taburan Family?)

Rated : T -mungkin nanti bertambah

.

Chapter 02 -Berdua-

.


Aku melihat pemandangan taman yang berada di bawah kamarku. Yaps, kamarku ada di lantai atas, aku sedang duduk di salah satu jendelanya, dan kakiku terjulur keluar. Jujur saja, moodku kali ini agak jelek, benar-benar jelek malah. Coba bayangkan, Mamaku yang tadi pagi baru datang berkunjung sudah harus pergi lagi -walau belum kembali ke negara tempat ayah sekarang sih. Tapi tetap saja! Memangnya dia tidak kangen apa menghabiskan waktu bersama Sakuranya yang cantik ini?!

"Heh, geser dong," Ihhh ini lagi si makhluk rupawan berkepala ekor bebek, buat apa coba nyempit-nyempit di kusen jendela?

"Tidak mau! Pergi sana, hus... hus..." Bukannya mendengarkan perkataanku dia malah tersenyum jahil. Ini nih kelakuan asli pangeran keren yang dipuja-puji kaum cewek Konoha High School.

"Woi pantat bebek! sempit tauuuu~" dan walaupun ku cubit dia masih bertahan untuk tetap duduk bersamaku di jendela yang sama, semacam tak ada jendela lain saja.

"Biarin, ini rumahku kok," dia tersenyum mengejek. Astogeh ini anak, selaluuuu... saja punya kalimat yang bikin orang diam tak berdaya.

"Terserah." Aku mengakhiri debat tak penting kami.

Dan hening mendominasi, sesekali diselingi suara gorden kamar yang tertiup angin.

"Saku…"

"Hn?" Aku meniru gaya bicaranya.

"Saku?"

"Apa sih sasuke?" –mengganggu orang memandangi bintang saja.

"Saku~"

"Ap- Hahhaha." Lihat. Dia di sana, Uchiha Sasuke yang dipuja-puja gadis se-KHS, sedang memegang tomat di depan hidungnya. Pfft… mau jadi badut ya. Dan… dia tersenyum lembut. Sial. Kapan move on nya kaau begini?

"Nah. Moodmu sudah baikan kan? Tidur sana," Aaa~ manisnya, menggangguku hanya untuk memperbaiki moodku. "Kenapa tak bergerak?" Sasuke kembali berbicara.

BRUKKK –dan aku menyingkirkannya dengan paksa dari jendela. Bagaimana aku bisa bergerak kalau dia duduk di satu jendela yang sesempit ini bersamaku?

"Aw! Tcih, dasar cewek setengah monster."

"HEII! SASUUUUUU!"

"Dah Saku, Oyasumi~"

BRAKK -pintuku ditutup paksa.

Kan? Bagaimana aku tidak menyukai Sasuke kalau tingkahnya selalu lucu dan menyenangkan begitu? Dan aku gadis paling beruntung, karena hanya aku yang 'tahu' sisi lain miliknya. Sasuke itu pribadi yang dingin? Siapa bilang?

.

.


.

.

Nah, mari kembali ke beberapa menit yang lalu sebelum aku, Sasuke, Kak Itachi, dan Sai duduk melingkar di lantai seperti ini. Eh tunggu? Kenapa kami di lantai sih? Kenapa tadi tidak di kursi saja? Ah lupakan, mungkin kak Itachi bermaksud membangun suasana serius dengan duduk rapat-rapat di lantai begini.

Jadi, em… aku harus mulai darimana? Ah!

Jadi… tak lama sesudah Sasuke keluar dari kamarku, ada suara berisik yang entah bagaimana sudah bisa ku pastikan berasal dari tangga, cukup lama sampai akhirnya bisa memicu rasa penasaranku, anehnya, saat aku melihat ke arah tangga, tak ada siapa pun. Daaaaan… di lantai bawah, di dekat ruang kosong di bawah tangga, Kak Itachi sudah berdiri dengan memangku tangan.

Dan di sana. Sasuke dan Sai dalam keadaan kepergok basah! Serius! Basah! ASLI!

Yang basah bukan itunya ya! Tungu-tunggu! Kenapa aku menyebut itu sih?! Kan kalimatku jadi ambigu, duh kmvrt, ini pasti karena aku masuk grup chat para pemuda setengah pria yang tadi pagi sarapan di sini. Lah ini topiknya kenapa lariiii?!

Nah, sampai mana tadi? Oh basah. Mereka benar-benar basah oleh keringat. Wajah mereka bahkan memerah, dan kancing atas kemeja Sai entah pergi kemana. Kacau. Iya kan?

Tapi ini kenapa masih hening sih kak Itachi?

"Ehem… Ja…di?" Aku berusaha merusak suasana mencekam di antara kami berempat. Plis deh, ini bukan malam jumat, ini malam senin! Eh sama seremnya sih, besok mesti sekolah lagi. Mampus! Tugas dari Orochi-sensei belum selesai!

"Hah~" Kak Itachi menghela napas, "Aku tahu kalian sudah besar, jadi… aku tidak bisa mengatakan apa-apa."

"T-Tunggu kak! Ini tidak seperti yang kalian pikirkan kok!" Sasuke mulai terlihat panik. Ugh, Sasuke kebanyakan nonton drama nih, memangnya dia mind reader apa sampai tahu apa yang kami pikirkan?

"Memangnya kau tahu apa yang ku pikirkan, hm?" Kak Itachi bertanya sambil menahan senyumnya, Oh ayolah, kak Itachi sudah memulai aksi isengnya, aku harus bisa menahan diri untuk tidak tertawa sampai akhir.

"Tentu saja! Kalian pasti berpikir yang tidak-tidak. Apalagi melihat bajuku yang kusut, ditambah kemeja Sai yang begitu dan dileher Sai juga ada merah-merah."

Sebentar! Tidak ada me –oh, aku lihat.

"Memangnya yang tidak-tidak itu seperti apa Sasu?" Sai mulai buka suara yang entah kenapa aku merasakan aura jahilnya yang mirip dengan kak Itachi, "Kita kan melakukan yang 'iya-iya'," Sai membentuk tanda kutip dengan jari tangannya. Sementara Sasu-ke? Sasu?! Ya ampun matanya tadi terbelalak dan hidungnya langsung memerah seperti menahan ingus-tangis- dengan segala harga dirinya.

Oh ya ampun, sudahkah ku beritahu? Sasuke itu sama sekali tak dingin. Dia juga tidak cool. Itu hanya pandangan orang luar yang tidak dekat dengannya. Dia sangat ekspresif dengan orang-orang yang dikenalnya walau cenderung agak jual mahal dan tak peduli (padahal dia sangat peduli). Apa yah istilahnya? Tsuni? Tsuna? Tsunadere? Tsundere? Yah, itulah, aku tak begitu mengerti, tidak peduli juga.

Tapi lihat! Sai mulai kelabakan. Dia mungkin tak menyangka Sasuke akan memasang ekspresi nahan tangisan seperti itu. Pfft… Jangan terjebak Sai.

"Iya maaf-maaf Sasu! Aku akan jelaskan!" Sai mulai menyerah, sementara sekilas aku melihat senyuman miring milik Sasuke. Sekarang siapa yang menjahili siapa? Haha.

" Kami cuman sedang bercanda di tangga kak, ini yang kami jadikan gurauan," Sai menunjuk lehernya yang memerah mirip gigitan nyamuk, aku tahu gurauan anak laki-laki itu selalu tak normal, tapi ayolah, kenapa harus di tangga? "dan akhirnya kami malah jatuh terguling sampai ke balik tangga. Jatuhnya nggak tinggi, cuman beberapa anak tangga, tapi lumayan sedap sampai baju kami kusut." Sai melanjutkan.

"Aku tahu," Kak Itachi membalas perkataan Sai sambil bangkit berdiri, "waktu kecil kalian sering seperti ini kok."

"Waktu kecil?" Sasuke bergumam dengan nada bertanya sementara kak Itachi berjalan ke arah pintu menuju taman di bawah kamarku.

"Sai, selesaikan urusanmu. Dan… pulanglah."

Oh bagus, sepertinya masalah sudah selesai, lebih baik aku ke kamar.

"Sakura aku ingin bicara denganmu." Yak, kalau begini kapan tugas dari Orochi-sensei selesai?

"Oke bicara saja." –Kenapa kau yang balas Sasuuuu?!

"Aku ingin bicara dengan Sakura bukan kau Sasuke, aku juga sudah meminta izin pada tante Mikoto kok, jadi kami akan keluar sebentar." Sai tampak agak aneh. Tumben? Pake acara keluar segala, ah aku malas ganti baju, bajuku ini saja. Sasuke terlihat akan berbicara "Kami Sasuke. Aku. Dan. Sakura. Berdua."

.

.


.

.

"Apa yang dikatakan Sai?" Sasuke langsung membombardirku dengan pertanyaan.

"Yah… banyak. Dia ada masalah sepertinya." Aku akhirnya menjawab. Tapi aku jelas tidak akan menjawab dengan alasan Sai sebenarnya mengajakku keluar.

"Dia menyukaimu, aku yakin. Aku hanya membantumu. Kau terbantu, aku terhibur. Melihat Sasuke cemburu, hiburan mana yang sebanding dengan itu?"

Ah terkadang Sai bisa kekanakan juga ternyata. Membuat orang cemburu? Helloooo, ya kalau doi cemburu, kalau nggak?

"Contohnya?"

"Hah apa Sasu?"

"Banyak yang kalian bicarakan itu contohnya apa?"

"Um… Cewek?" Aku menjawab tak yakin. Aku cewek juga kan? Dan tadi kami banyak berbicara tentang aku dan Sasuke. Nah kenapa aku ragu? Aku kan memang cewek!

"Sai dan Cewek? Uh, hal yang tak terbayangkan."

"Eh kenapa? Sai kan hobi tebar pesona ke cewek-cewek." Dan entah kenapa tiba-tiba Sasuke berubah serius.

"Sakura. Kalau Sai memang sedang suka dengan seorang cewek, dan dia curhat padamu, bantu saja. Ok?" Sasuke memegang kedua bahuku, sialan, jangan baper jangan bapar jangan baper -aaaargh aku baper lagi! "Aku mohon. Sai butuh bantuanmu. Dia tak pernah punya pacar."

"Memangnya kau pernah punya pacar?"

Krikk Kriikkk

Sasuke melepaskan tangannya dari bahuku. Hahhh… leganya. Dan walau berusaha mempertahankan muka seriusnya sasuke akhirnya mulai tertawa garing.

"Nggak sih. Tapi setidaknya aku masih menunjukkan ketertarikanku pada perempuan. Nah Sai? Walau sering tebar pesona dia biasa-biasa aja kalau dekat cewek. Ah sudahlah, sudah malam. Aku tidur duluan. Bye Saku."

Aku mengabaikan tangan Sasuke yang mengacak-acak rambutku, padahal biasanya aku selalu kesal. Aku masih memikirkan ucapan Sasuke barusan, secara tidak langsung Sasuke bilang Sai tidak berminat pada perempuan kan? Masa sih? Nggak. Sasuke jelas salah. Mungkin saja Sai sedang menjaga hatinya saat ini. Iya kan?

.

.


"Kau sendiri bagaimana Sai? Nggak adil dong kalau kau tau semua tentangku, sementara kau tidak cerita apapun."

Sai memandang ke atas taburan bintang-bintang. Tak menyahuti kalimatku barusan.

"Siapa nama pacarmu?"

"Tak ada."

"Hah?! Kupikir kau sudah punya pacar. Um… orang yang sukai?"

"Tak ada."

"Oh oke, mimpimu saja. Apa mimpimu? Sesuatu yang begitu kauharapkan?"

"Tak ada."

Ah aku menyerah. Sai sepertinya tak suka kalau urusan hatinya diketahui atau mendapat campur tangan orang lain. Dih, dia sendiri mencampuri urusanku.

"Aku tak punya pacar, tapi aku punya calon istri."

Aku terkejut. Sungguh. Aku langsung menoleh ke arah Sai. Matanya menatap kejauhan tapi aku bisa lihat ada pendar aneh di matanya, yang mengundang senyumannya dan ikut menulariku. Aku tersenyum. Calon istri? Yang benar saja!

"Aku tak punya orang yang ku sukai. Tapi ada dua perempuan yang begitu berharga dan kurindukan. Orang yang pernah ku sebut Ibu dan seseorang yang ku sebut sebagai calon istriku tadi, benar-benar berharga." Sai kembali melanjutkan jawabannya atas pertanyaan-pertanyaanku tadi, "Mimpi itu sesuatu yang tidak nyata kan? Aku tak punya mimpi. Karena harapanku nanti pasti akan jadi nyata."

Untuk sesaat ada hening yang begitu menenangkan. Aku tak menyangka player yang hobi terbar pesona dan memasang senyum palsu seperti Sai bisa memasang ekspresi seperti itu.

"Wah. Kau belajar merangkai kata dimana Sai?" Aku mulai meledeknya

"Sialan, padahal aku sudah serius. Haha, Ayo pulang, aku bisa dibunuh Sasuke kalau kau pulang terlalu malam."

Kurasa… menghabiskan waktu berdua dengan Sai tak buruk juga

-yah walau aku harus mengorbankan waktu tidurku untuk mengerjakan tugas dari Orochi-sensei. Ugh, aku tidak mau dihukum seperti Lee! Membersihkan kandang ular peliharaannya? Dih!

.

FRIENDZONE!

.

Chapter 02 -Berdua- : Selesai

.

.

.

.


Vi'keesha's Box/?:

Hai, Saya kembali dengan Chapter 02.

Duh gak nyangka ada yang baca. Terima kasih telah membaca dan menyempatkan diri memberikan review ^^ Terima kasih juga buat yang nambah ke daftar favorit sama ngikutin cerita saya :'

Haha makin ke sini kok ceritanya makin aneh ya ._. Ah sudahlah.

Mungkin ini efek karena saya sakit dan nggak bisa ikut perpisahan angkatan saya sendiri tanggal 26 kemaren? /Alasan. Duh sedihnya.

Dan… kalau nggak ada halangan seminggu lagi saya bakal balik bawa 'Chapter 03-Anak SMA-' Niatnya sih dua minggu lagi, tapi kayaknya gak bisa deh, tanggal 15 saya ikut usm pkn stan soalnya, doain saya ya :'

Duh pengumuman lulus aja belum udah minta doa buat tes aja. :'3

.

(oh iya, mohon maaf kalau misalnya nanti judul perchapternya berubah :'v saya mikirin sepotong konsep dulu sama judul chapternya baru nulis. :' yah buat pancingan/? Ide istilahnya :'3 )

.

Oke sekian, sampai jumpa~

.

Salam Fanfiction!

Unleash Your Imagination

Tertanda

Vi'keesha Keilantra

Pekanbaru, 30 April 2016

(semoga beberapa bulan lagi kata Pekanbaru di atas bisa berubah jadi Jakarta, Amin)