Kenangan Masa Lalu

Disclaimer:

Thomas Romain & Tania Palumbo,


Balasan Review:

Momoka Mayuyu: Hahaha, iya. Tapi kan namanya juga junior :3 . Hng, tapi kalau Disclaimer-nya seperti ini, tidak apa-apa juga, kan?

Terima kasih! Hng, nantikan aja kematian Jeremie-nya :3 .


Keesokan harinya, Ibu Yumi pergi ke kamar Yumi untuk membangunkannya.

"Ada apa dengannya? Mengapa sampai sekarang Yumi belum bangun? Apa dia masih marah karena kemarin..?"gumam Ibu Yumi.

Ketika Ibu Yumi membuka pintu kamar anaknya itu, ia segera terkejut ketika kamar anaknya itu kosong.

"A..a.. Yumi..?! Di mana kau?!"katanya sambil kaget.

Ia pun masuk ke kamar Yumi, dan di tempat tidurnya ada secarik kertas.

Tanpa menunggu lagi, Ibu Yumi segera mengambil kertas itu, dan membaca isinya.

Kurang lebih satu menit ia membacanya, Ibu Yumi pun menjadi shock.

"Y..Yumi.. Kamu ke mana, Nak..? Ibu ingin meminta maaf padamu atas kejadian kemarin yang sempat menyakiti hatimu.."isak Ibu Yumi penuh penyesalan.

Di sekolah Kadic..

"Hei, di mana Yumi?"tanya Ulrich pada teman- temannya yang lain.

"Aku tidak tahu. Hei, mengapa kau menanyakan itu pada orang yang tidak tahu juga?"tanya Jeremie.

"Eh, aku pikir kalian tahu.."balas Ulrich dengan nada agak lemas.

"Dasar bodoh."jawab Odd singkat tapi menjengkelkan Ulrich.

"Apa?! Jadi kau bilang aku ini bodoh?!"bentak Ulrich.

"Hei, sudah- sudah! Jangan berantam di sini!"lerai Aelita.

"Aku punya usul. Jika dia tidak datang- datang ke sini, bagaimana kalau kita melihatnya ke rumahnya?"usul William.

Mereka berpikir sejenak, dan serentak mereka mengangguk.

"Oke! Jadi, William, kau harus mengawasi keadaan di kelasmu, siapa tahu ada yang mengetahui tentang ketidakhadiran Yumi. Kalau dia memang benar tidak hadir, kita berkumpul di taman."perintah Jeremie.

Kriing Kring Kriing!

"Wah, bel sudah berbunyi. Sampai jumpa!"ucap William sambil berlari menuju kelasnya.

"Sampai jumpa!"balas mereka semua.

Dalam perjalanan ke kelas, Aelita sempat berbicara sejenak dengan Ulrich, Jeremie, dan Odd.

"Aku merasa ada yang tidak beres dengan Yumi.. Aku khawatir dengannya.."ucap Aelita.

"Aku juga, sebenarnya.."balas Ulrich dengan gelisah.

"Hei, jangan berpikiran negatif! Tenanglah! Dia pasti baik- baik saja!"hibur Jeremie membuyarkan kegelisahan mereka.

Aelita dan Ulrich tersenyum. Lalu melanjutkan perjalanan mereka ke kelas.

Yumi's POV

Aku merasa, aku sudah tidak ada di rumah lagi, jauh dari teman- teman dan keluargaku. Aku berusaha membuka mata, dan yang terlihat olehku adalah langit- langit sebuah bangunan. Aku pun mengangkat tubuhku. Alangkah terkejutnya aku melihat pemandangan ini..

"Yang Mulia, apa anda sudah sadar?"tanya seorang berbaju layaknya seperti seorang ksatria pemberani.

Sepertinya dia menanyai aku, tapi mengapa dia memanggilku 'Yang Mulia'?

"Yang Mulia? Anda mendengar hamba?"tanya orang itu lagi.

"Apa yang kau maksud itu adalah aku?"kataku pada orang yang sama sekali tidak kukenal itu.

"Tentu saja, Yang Mulia!"jawabnya.

"Ya, aku baik-baik saja. Tetapi jujur, kepalaku agak sakit sedikit. Ngomong-ngomong, siapakah namamu?"tanyaku. Aku mulai memberanikan diri berbicara padanya.

Mendengar pertanyaanku, sepertinya dia agak terkejut. Tetapi kemudian ia tersenyum dan menjawab.

"Aku Akatachi Kira. Aku adalah ksatria di kerajaan Yang Mulia."

Jawabannya membuatku sangat kaget. Ternyata dia berdarah Jepang, sama sepertiku. Tunggu sebentar, mengapa dia mengatakan 'Kerajaan'?

"Kerajaan? Apa maksudmu?"tanyaku kembali.

"Ada apa dengan anda, Yang Mulia? Apakah anda tidak mengingat semua ini? Bahkan waktu terakhir kali kita bersama? Anda tidak ingat.. Semua tentang kami?"tanya Kira dengan nada agak gelisah, mungkin.

"Apa maksudmu?! Aku tidak punya kerajaan! Aku tidak pernah mengenalmu!"aku mulai membentaknya.

Emosiku sudah menuju puncak. Sebentar lagi mungkin aku akan menghajarnya.

Dia terdiam sejenak. Ia menundukkan kepalanya.

"K..Kira.."ucapku pelan. Aku mulai merasa bersalah terhadapnya..

"Y..Yang Mulia? Kau memanggil namaku?"ucapnya. Dia seperti agak kegirangan setelah aku memanggil namanya.

"Hhh.. Sudahlah, lupakan. Aku minta, tinggalkan aku sendiri, di sini."pintaku.

Dia sepertinya menurut. Dia pun pergi.

Dalam hatiku, aku masih terheran-heran. Apa maksudnya kerajaan? Selama hidupku aku tidak pernah mempunyai kerajaan, sama sekali tidak. Tetapi kenapa dia tetap bersikeras?

"Huf, sudahlah. Aku tidak peduli."gumamku cuek.

Normal POV

Murid-murid Kadic Senior High School sudah pulang sekolah, Ulrich, Jeremie, Aelita, dan Odd berkumpul di taman, sesuai janji mereka tadi.

"Kita tunggu William."saran Jeremie singkat.

Mereka menurutinya Mereka pun menunggu William.

Sementara di kelas 11, William sibuk menanyakan tentang Yumi pada teman- temannya. Setelah ia merasa tidak ada yang tahu, ia langsung menyerah dan pergi ke taman untuk menemui teman- temannya yang lain.

Melihat William dari kejauhan, mereka langsung berdiri.

"Hei, William! Apa ada petunjuk?"tanya Jeremie.

"Tidak! Semua orang tidak tahu tentang Yumi!"sahut William.

"Oh, jadi begitu.. Kalau seperti itu, kita hanya punya satu jalan. Kita temui dia langsung ke rumahnya!"kata Ulrich.

"Oke, ayo pergi!"ajak Aelita.

Mereka pun beranjak dari tempat itu dan memulai langkah untuk pergi.

Kira's POV

Aku tidak menyangka bahwa Yang Mulia tidak mengingatku.. Padahal aku yang paling dekat dengannya..

Apa ini pengaruh orang asing itu? Sehingga dia hilang ingatan terhadap kerajaannya, dunianya, bahkan semua rakyat-rakyatnya?

Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan?

"Hei, Kira."ucap seseorang dari belakang dan membuyarkan lamunanku.

"Oh, Kenji.. Kau ternyata.."kataku lega setelah melihat orang itu ternyata adalah sahabatku, Mikuyama Kenji. Kami sama-sama adalah ksatria di kerajaan Ishiyama.

"Ada apa? Mengapa kau murung?"tanya Kenji dengan ramah padaku.

"A.. Kenji.. Putri Ishiyama yang sudah lama hilang, kau tahu kan?"balasku padanya.

"Ya, tentu aku tahu. Memangnya ada apa?"tanyanya kembali.

"Hhh.. Dia sudah kembali ke kerajaan ini.."jawabku lemas.

"Apa?! Itu kabar baik! Tapi, mengapa kau murung seperti ini?"balas Kenji.

Aku memakluminya, dia selalu bertanya padaku jika ada yang janggal terhadapku.

"Sayangnya, dia tidak ingat pada kita, kerajaannya, dan semua rakyat-rakyatnya..!"jawabku lagi dengan gelisah.

"..."dia terdiam sejenak.

Kemudian ia membuka mulutnya.

"Jadi dia juga tidak mengingat kenangannya bersama kita dulu waktu masih kecil? Dia tidak ingat semuanya?"nada pertanyaannya mulai sedikit gelisah dari yang pertama tadi.

Aku menjawab singkat, "Iya."

Setelah aku menjawab pertanyaannya, dia pun diam, demikian juga aku.

Kapan aku dapat bersama lagi dengannya? Itu yang selalu ada di pikiranku...

Normal POV

Sesampainya di rumah Yumi, Jeremie langsung mengetuk pintu rumah itu.

Tok Tok Tok!

Tak lama kemudian, Ibu Yumi membukakan pintu untuk mereka.

"Permisi, Bu. Apa Yumi-nya ada?"tanya Aelita.

Ibu Yumi diam, lalu ia menjawab, "Masuklah.."

Tanpa menunggu lagi, mereka segera masuk ke dalam rumah itu.

Kemudian, mereka dipersilahkan duduk oleh Ibu Yumi.

"Eh, maaf Bu. Kami hanya ingin menanyakan tentang—"

"Yumi, kan? Saya ingin mengatakan kepada kalian bahwa semalam Yumi menghilang.."

Mendengar pernyataan Ibu Yumi, mereka langsung terkejut.

"MENGHILANG?!"sahut mereka serentak.

"Benar sekali.. Kemarin kami meninggalkannya di rumah ini.. Tadi pagi, Ibu pergi ke kamarnya. Dan ternyata, dia sudah tidak ada lagi di kamarnya.."jawab Ibu Yumi sambil menangis.

"Tenanglah, Bu.. Kami akan menemukannya.."hibur Ulrich.

"Apa mungkin dia ke pabrik?"kata William pada Jeremie.

"Tidak mungkin! Lagipula aku sudah membuat pengaman agar tidak sembarang orang dapat masuk ke pabrik.. Hanya aku, Aelita, dan Ulrich yang dapat membuka pintu pabrik itu."jelas Jeremie.

"Oh."

"Tunggu sebentar.. Ada sebuah surat yang Tante temukan di atas tempat tidurnya.."kata Ibu Yumi sambil menyodorkan secarik kertas pada Ulrich.

Ulrich pun menerima surat itu dan membacanya.

"Wahai kalian, makhluk jahat! Kami sudah menemukan Yang Mulia di sini! Sekarang kami akan membawa Yang Mulia ke kerajaannya yang sudah ditinggalkannya selama 1500 tahun yang lalu. Terkutuklah kalian, hai makhluk jahat!"

"Apa? Yang Mulia? Makhluk jahat?!"bentak William.

"Jangan marah dulu, William!"tegur Aelita.

"Sekarang bagaimana? Orang itu sudah membawa Yumi ke 1500 tahun yang lampau!"kata Ulrich.

"Kalau begitu, kami pamit dulu, Tante."ucap mereka.

Di Pabrik..

"Bagaimana sekarang?"tanya Aelita dengan khawatir.

Jeremie teringat akan benda penemuannya itu.

"Aha! Aku punya jalan keluarnya!"sahut Jeremie.

"Oh ya! Benda penemuanmu itu, kan?"balas Odd sambil menunjuk ke arah Jeremie.

"Benar sekali! Tapi aku tidak tahu apakah TeleportWatch dapat membawa kita sejauh itu.."ucap Jeremie.

"Kita coba saja, ini demi sahabat kita!"kata Aelita.

"Dia benar Jeremie! Ini juga demi keluarganya!"balas William.

"Baiklah! Berkemaslah! Nanti malam kita berkumpul di sini! Tepatnya jam sembilan malam. Kita akan memulai misi kita!"kata Jeremie dengan penuh semangat.

"Siap!"sahut mereka serentak.

.

"Yumi, tunggu kami! Kami akan menjemputmu secepatnya!"kata Ulrich dalam hati dengan penuh semangat.


To Be the Next Chapter...!