SMUGGLER'S RUN 3: FULL AUTO - WANGAN AND TOUGE CHAOS
Disclaimer:
Karaketer yang ada di fic ini adalah fiksi. Kesamaan dengan orang asli, hidup atau mati adalah kesalahan yang tidak disengaja. Karaketer apapun dari anime, kartun, film, game, buku, dll (selain OC) adalah milik si pembuat/developer.
Warning:
OC, OOC, gaje, lebay, narsis, Hyper crossover, tidak sesuai KBBI (Namanya juga fic). Selainnya lihat sendiri.
Prologue
Aleppo, 5 Januari 2015
1320 hours (01:20 pm)
With Taz & Weda (Taz's Narration and POV)
...
[BGM: Stone Sour - 30/30-150]
"Anjrit," geram gua yang melihat sebuah peluru kaliber 7.62 mm tepat memecahkan kaca belakang dari Ford Mustang 428CJ (singkatannya Cobra Jet) putih bergaris hitam yang dikemudikan oleh teman gua, Weda yang agak...ahem lagi asyik dengerin lagu 30/30-150 dari Stone Sour. "Wed, bisa ga lu pake nos? Ini udah banyak pasukan pemerintah yang nguber," pintaku sambil teriak.
"Eet dah, lu ga tau kalo gua pake nos terus-terusan, mobil ini meleduk. Tau ga, lagi pula juga bentar nyampe kok," balas Weda dengan nada agak terganggu.
"Iye, nyampe liang lahat," balas gua dengan kesal. Weda pun langsung menatapku dengan cengok.
"Yasalam. Tenang aja kaleee. Kite ga bakal mati kok, tuh tempatnya" balas Weda santai tepat setelah lagu itu selesai. Dia pun langusng menekan rem tangannya untuk melakukan powerslide ke sebuah gedung di sebelah kanannya yang hancur.
Di gedung ini, Weda pun melakukan slalom melalui pilar-pilar gedung yang bisa kau anggap adalah sebuah aksi stunt untuk sebuah film dan kelihatannya keren. Tapi maaf, ini kenyataan dan sangat menakutkan, bahkan bagiku yang dulunya adalah Blacklist nomor 14 di Rockport sekalipun. Di sini banyak mobil tentara pemerintah rezim Suriah yang banyak membunuh orang asing dan lawan politik dari si presiden Suriah yang bejat, siapa lagi kalo bukan Muhammad Alihoun Al-Bussari, sukses diledakkan oleh tembakkan roket PG-7VL dari RPG-7 dari pasukan pembebasan Suriah.
Beberapa meter setelahnya, dia pun mengeremkan mobil kesayangannya (yang sayangnya akan segera meleduk di bagian mesinnya) tepat di depan sebuah bunker alami yang dijaga beberapa orang tentara berseragamkan warna kombinasi putih, hijau, dan hitam. Kami pun keluar dengan sebuah brankas putih yang kupegang dan brankas silver yang dibawa Weda(yang sebenarnya bukan bagian dari misi pengantaran ini sih). Oh, aku lupa bilang kali aku dan Weda adalah penyelundup atau pengantar barang dan tentu saja sahabat baik.
"Oh, tidak...Cobra Jetku...kenapa kau harus mati tragis seperti ini?" tangis Weda sambil berlutut ke arah mobilnya. Tentu saja pasukan yang ada di sana langsung sweatdropped melihatnya.
"Yasalam, Wed...MOBIL MANA BISA MATI?!" teriakku sambil mengarahkan loudspeaker (yang entah darimana pula datang dan ada di tas gua) ke arah Weda. Weda pun jelas kaget (bukan jantungan ya).
"Tentu saja bisa, BODOH!" balas Weda dengan nada kesal. Gua agak heran dengan dia. Walaupun dia jarang sekali lebay, namun kalo sekalinya dia udah lebay, sorry deh para seleb Indo pada lewat levelnya. "Dan Kilic, lu kira gua budek napa?" teriaknya dengan nada kesal dan keki. Oh, aku lupa bilang kalo nama asliku adalah Vince Kilic dengan nama samaran Taz.
"Alhamduhillah, akhirnya kalian...lo mana mobil yang satunya?" tanya seorang perwira yang berpangkat Brigadir Jenderal dari tentara pembebasan Suriah yang kebingungan melihat mobil yang biasa kukendarai, Kia Cee'd putih tidak ada ditempat.
"Keburu diledakkan ama pasukan divisi berat ke-18nya Al-Bussari. Syukur ada Weda yang kebetulan lagi latihan gymkhana (semacam event dimana kombinasi drift dan slalom, mirip autocross namun dalam konsep ekstrim)," balasku sambil melihat Weda yang berdiri di pojok dari bunker (harap maklum, Weda kalo ga ada kaitannya dengan misi kepadanya ya langsung ngacir).
"Alhamduhillah, syukur ada dia," kata si Jenderal sambil menerima brankas dariku. Dia pun membuka isinya yang berupa map berisikan dokumen penting tentang posisi terkini dari peluru kendali milik pemerintah dan semacam foto aneh, berupa UFO di atas kota Damascus. Dia membacanya sebentar, kemudian berpaling ke foto aneh dan bertanya kepadaku,"Apa kau pernah melihat ini? Apa ini senjata rahasia dari Al-Bussari?"
"Mohon maaf Jenderal, namun saya tidak tahu-menahu akan hal ini. Yang aku tahu, aku hanya disuruh mengantarkan foto peluru kendali ini dari resimen ke-17 dari Ramdan," balasku. Dia pun mengambil uang $25000 yang diberikan kepadaku, namun dia secara tidak sengaja juga menyerahkan foto aneh itu. Aku pun langsung keluar dari bunker dan memberi $10000 kepada Weda.
"Taz, itu apaan?" tanya Weda sambil menunjuk foto aneh itu. Astaga, si Jenderal menyelipkan foto aneh itu, jadi aku berniat akan mengembalikannya.
"Hei...tunggu..." teriak si Jenderal.
Ketika si Weda mengambil foto aneh itu dan melihatnya sebentar. Dia pun langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kenape lu?" tanyaku.
"Taz, ini mah foto Neuroi," balas Weda singkat.
"Wed...lu ga lagi demam Strike Witches kan?" tanyaku balik (harap maklum kembali, Weda ini adalah penggemar Strike Witches) sebelum kepala gua dikemplang oleh Weda.
"Blekok, gua tau ini. Neuroi ini semacam monster yang datang menyerang bumi dengan laser merahnya yang mampu menghancurkan baja apapun, kecuali Warlord dan Executioner dari Full Auto 2. Mereka sulit dihancurkan dengan senjata terkuat sekalipun kecuali kalo kau tepat menyentuh core/inti fragmennya. Kalo itu tembus, tidak ada jejak yang tersisa, mereka menghilang, musnah bagaikan abu," balas Weda dengan nada penuh detail (agak sedikit ngarang sih), walaupun agak imajinatif untuk bagian Full Auto 2 kalo kupikir (hey, itu kan game Weda).
"Menurut lu ini foto apa?" tanyaku balik.
"Ini tipe Super Hivenya dari Neuroi," balasnya santai.
"Tunggu, kau tahu ini?" tanya si Jenderal yang ternyata sudah mendengarkan omongan kita tadi. Weda pun hanya menganggukan kepalanya. "Apa monster ini dibuat oleh Al-Bussari?" tanyanya pada Weda.
"Oh, tentu saja tidak, pak. Mereka datang dari galaksi lain. Malah saya baru liat ini tepat di sana," balas Weda sambil menunjuk Super Hive Neuroi yang ada dalam foto yang ternyata sudah berada di daerah Saladin yang dikuasai oleh para tentara pembebasan Suriah sambil menembakkan lasernya.
"Gawat!" seorang tentara berlari ke arah Jenderal tersebut.
"Ada apa, Letnan?" balas si Jenderal dengan berwibawanya.
"Kolonel Ramdan melaporkan bahwa peluru kendali milik Al-Bussari sudah diluncurkan dan itu menuju ke arah Ankara, di mana konferensi PBB dan G30 sedang dilangsungkan. Dan itu adalah rudal SCUD Stealth Estreil. Dan semua unit infantri ke-12 yang menguasai daerah Saladin sudah tewas," lapor si Letnan dengan panik.
"Kurang ajar...Al-Bussari ini emang licik. Dia menembakkan rudal SCUD yang tidak bisa ditembak jatuh, ditambah Neuroi sialan ini," geram si Jenderal sambil memukul kap mesin Cobra Jet milik Weda. Weda yang santai-santai saja langsung membuka brankas emas tersebut.
"Itu apaan Wed?" tanyaku.
"Hembe meneketehe," balas Weda dengan konyol. Isi dari brankas itu adalah semacam alat kendali.
"Oh ini alat kendali, ada remotenya lagi," katanya santai. Yang tidak Weda sadari, dia membawa alat kendali dari...SCUD Stealth Estreil!
"Astaga, ini kendali Stealth Estreil!" kata si Letnan nada kaget. Semua pasukan yang sedang berada di sana langsung melongok kepada Weda yang di kepala penuh tanda tanya.
"Hah, pada kenapa ini?" tanya Weda dengan nada bingung.
"Maaf, namun saya ingin bertanya, darimana anda mendapat alat pengendali ini?" tanya si Jenderal kepada Weda.
"Hadiah misi, kalo ga salah gua disuruh ngantarin paket...oh paket senjata buat Zoids...tapi tipenya saya lupa pak. Cuma tujuannya waktu itu ke kota Homs," balas Weda sambil meningat-ingat.
"Dan lu ga tau kalo itu alat kendalinya?" tanyaku.
"Gua mana tahu, Taz. Soalnya pas gua menerima bayaran, gua juga dikasih ini," balas Weda.
"Siapa yang ngasih lu misi?" tanyaku balik.
"Kalo ga salah namanya Team Blitz," balas Weda.
"Maaf mengganggu, tapi apa kau bisa mengubah arah dari misil itu sebelum kota Ankara meledak?" tanya si Jenderal balik.
"Hmmm...Yasudah...biar kucoba," balas Weda sambil menghela nafasnya sejenak. Dia pun lalu menghidupkan alat kendali dan berhasil mengambil alih rudal tersebut. Dalam waktu singkat ia langsung menanyakan arah rudal.
"Rudal sudah dalam kendali. Ini mau dibawa kemana pak?" tanya Weda.
"Yang penting jauh dari Ankara," balas sang Jenderal.
[BGM: Brian Tyler - Need For Speed The Run Theme]
"Siap laksanakan," balas Weda sambil memberi hormat. Dia pun lalu mengarahkan rudal itu. Namun beberapa menit kemudian akan terjadi saat-saat yang tidak terduga untuk semua yang berada di sini.
"Wed, lu ngarahinnya ke mana?" bisikku saat melihat rudal SCUD itu melaju melewati bunker tempat kami berada.
"Super Hivenya Neuroi. Gua mau nyoba apakah rudal beracun sialan itu mampu menembus baja paling tebalnya Neuroi," bisik Weda.
"Tapi, lu kan belum tau corenya...lagipul..." kataku sebelum Super Hive itu meledak. Ledakan itu sangat dashyat sampai-sampai Super Hive itu tidak menyisakan bekas apapun. Gua dan si Jenderal pun tercengang melihatnya.
"Lapor, di sini Fuad dari infantri ke-10. Saladin sudah bebas dari Al-Bussari dan UFO jahanam itu. Aleppo sudah bebas!" terdengar bunyi radio yang melaporkan perihal tersebut.
"Allahuakbar," teriak si Jenderal kemudian langsung mengepalkan tangannya sambil meneriakkan teriakkan kemenangan yang disusul oleh pasukan pembebasan Suriah yang lainnya.
"Wed, jangan bilang kalo lu kebetulan lagi hoki nebak dimana corenya," ancamku kepada Weda yang tetap...biasa-biasa aja dengan nada agak lega.
"Emang iya, gue lagi hoki," balas Weda datar.
"Dasar bego!" kataku sambil mengeplak kepalanya Weda. "Wed, lu ga tau ya, kalo seandainya itu rudal ga nembus core, kita akan menjadi uap udara sebab kita tewas ditembak dengan lasernya," kataku dengan kesal.
"Nyantai Taz...nyantai...lu ga bakal mati kalo ada gua," kata Weda dengan sedikit bangga...akan kehokiannya. Well, si Weda emang hoki melulu, pertama hadiah misinya adalah kunci dari kemenangan perang, kedua entah dari mana dia bisa menghancurkan core Neuroi hanya dalam sekali tembak, dengan rudal kendali SCUD yang dia ambil alih untuk pertama kalinya (mending tipe Scout, lah ini tipe Super Hive cuy), ketiga adalah entah darimana dia bisa menebak dengan benar dimana kelemahan dari Hive itu (padahal dia jarang baca wiki khusus buat Strike Witches).
Tapi kalo menyangkut alasan gua ga bakal mati selama ada si Weda ini memang benar. Semenjak kejadian gua bebas dari penangkapan semua Blacklist di Rockport (karena dia kebetulan lagi lewat pas gua mau ke parkiran mobil), gua selalu beranggapan bahwa dia itu adalah jimat hoki gua. Setiap gua dalam keadaan apes dan bahaya, dia datang sebagai sang juru kunci klase...eh selamat deh (emang bola ya, ya gua juga agak pikun kalo misalnya survive dari kejadian gila seperti ini).
"Ngomong-ngomong, ada mobil ga?" tanya Weda, sambil membuyarkan lamunanku akan masa lalu yang cukup indah selama bersamanya (gue bukan homo, okay?).
"Yah Wed, gua mana..." kataku sebelum si Jenderal melemparkan kunci mobil Toyota Hilux lama kepadaku.
"Aku berterima kasih karena kalian berdua. Sayang hanya itu yang bisa kami peroleh untuk kalian. Kalau ada permintaan lain, akan kami usahakan. Ah, namaku adalah Jenderal Mahmoud Ali Ramsik. Panggil saja Ali atau Jenderal Ali, kalau kalian ingin berkata sopan," kata si Jenderal.
"Ah begini, Jenderal Ali. Kami dikejar oleh sekelompok mantan tentara bayaran bernama The A-Team yang dikomandoi oleh Hunt Stockwell. Kami hanya ingin kabur karena mereka jauh lebih gesit ketimbang kami. Oh soal yang tadi bilang kalo rudal milik Al-Bussari salah sasaran dan menghancurkan UFO itu dalam perjalanannya. Ini rahasia top secret," kata Weda sambil mengambil kunci mobil itu dariku. "Dan satu lagi, apakah anda punya dua set pakaian tentara untuk kita? Karena aku rasa saya dan Taz akan berpapasan dengan mereka," tanyanya.
"A-Team? Aku kira itu hanya..."
"Mohon maaf Jenderal, ini nyata. Kami terlibat dalam sebuah kasus yang melibatkan pembunuhan sebuah informan CIA di Washington dimana kami kebetulan menjadi orang terakhir yang keluar dari sebuah bar tempat dimana informan tersebut mati terbunuh. Dan kami secara tidak sengaja harus menyelundupkan sebuah pakaian perang pada zaman dulu atas permintaan sebuah mafia Italia yang ada kaitannya dengan kematian informan tersebut," balasku sambil berganti baju.
"Sebenarnya bukan pakaian perang, Taz, tapi baju zirah lengkap dengan senjatanya. Kalo ga salah namanya The Vile Armour, dengan Vile Blade, Vile Shield, dan Vile Helmet. Oh ama cincin Holy Band. Itu dulunya dipakai oleh seorang raja bernama Auris, yang kemudian berinkarnasi menjadi Siris, yang ditipu oleh Worker of Secrets dengan membunuh lawannya yang berupa Deathless, sebuah organisasi kegelapan pada zaman lalu. Yang untungnya dia mati dibunuh oleh Cydonia dengan Dual Infinity Blade berelemen Rainbow dan Darkfire," balas Weda sambil mengkoreksi ucapanku. Aku pun kagum akannya, walaupun dia seperti pemalas.
"Terus apakah kau mengirimkan barangnya sesuai rencana?" tanya Jenderal Ali.
"Sebenarnya sang mafia yang menyuruh kami tertangkap karena keterlambatan kami dan kesigapan A-Team, jadi aku memutuskan untuk mengirimkannya ke Phoenix Foundation. Di sana kami bilang ke Macgyver bahwa kami berniat mengembalikan harta pusaka berharga itu," balas Weda. "Dia hanya satu-satunya orang yang percaya kepadaku, selain Taz tentu saja," lanjutnya sambil masuk ke dalam mobil yang sudah kududuki di kursi penumpang dan mengucapkan sampai jumpa kepada Jenderal Ali. Mobil Hilux yang dikemudikan oleh Weda pun kemudian meninggalkan bunker tersebut.
Saat dalam perjalanan pun handphone milik Weda berbunyi Grab The Devilnya SUM41. Dia pun langsung mengangkatnya.
"Smuggler's Run disini," kata Weda sambil mengemudikan Hiluxnya dengan kecepatan 60 kilometer per jam (kph).
"Ini aku Prien, Apa kau dan Taz bisa mengantarkan paket untuk nona Adolphine Galland?" jelas itu sebuah misi pengantaran buat kami berdua.
"Dari siapa Prien?" tanya Weda.
"Kurang tahu. Tapi dia bilang kau harus pergi ke Sakuragouka untuk menemuinya dan aku tidak tahu dimana itu? Tapi dia menunggu jawabanmu" jawab Prien.
"Itu berarti Jepang. Oke, Prien, tunggu aku di U-47," balas Weda santai. Dia pun menutup teleponnya.
"Ada apa Wed?" tanyaku saat mendengar hp Weda berbunyi lagi. Dia pun langsung menerimanya.
"Smuggler's Run disini," kata Weda.
"Apa kau menerima misi pengantaran ini?" kata seorang pria misterius.
"Bayarannya?"
"Dua mobil baru di Tokyo, bila kau mau. Atau uang kalo kau ingin pensiun dari dunia penyelundupan?"
"Kuterima, untuk yang mobilnya," balas Weda.
"Baiklah, aku menunggu di kapal selam U-47. Tapi aku akan ikut denganmu," kata si pria misterius itu dan menutup teleponnya. Aku dan Weda saling bertatapan dan tersenyum karena akhirnya kami akan menyelundupkan barang di salah satu negara paling keren di dunia, Jepang.
Wkrish57: Akhirnya, fic Indonesia pertama gua. Ini terinspirasi dari game Smuggler's Run, namun ada beberapa fakta yang ingin saya sampaikan:
1. U-47 emang ada, nama kapten yang gua pakai pun juga ada.
2. Perang di Aleppo masih berlangsung...cuma settingannya gua set tiga tahun setelahnya
Taz: Nah, silahkan dibaca, dan mohon direview.
Weda: Hatur Nuhun (Lho, kok jadi Sunda, eh Jawa apa Sunda ya...tolong...)
Wkrish57 dan Taz: Begonya kebangetan -_-!
PROLOGUE END
