Akankah ada harapan untuk perasaan cintaku padamu, dimana aku akan terus menerobos masuk menghancurkan dinding kokohmu
..
..
Wall Wound
HK69 PROUDLY PRESENT
..
..
Park Chanyeol – Byun Baekhyun
Other Cast
..
..
WARNING[!] THIS IS GENDERSWITCH
DON'T LIKE DON'T READ
..
..
..
..
Baekhyun berjalan santai dengan koper di sebelah tangan kanannya dan sebuah paperbag di tangan kirinya, Wanita itu tersenyum cerah. Matanya menatap sekelilingnya dengan takjub. Akhirnya ia bisa kembali melihat betapa indah tanah kelahirannya.
Wanita cantik itu melirik jam tangannya dan kembali menarik bibirnya melekung ke atas dengan mata yang semakin melengkung bagaikan bulan sabit. Sangat cantik dan bersinar.
Baekhyun melihat sosok yang ia rindukan selama ini, dengan langkah sedikit berlari dan terburu buru Baekhyun menarik kopernya gemas. Langkahnya semakin cepat saat Baekhyun melihat sosok itu semakin dekat.
Bruk
Baekhyun segera melepas kopernya dan memeluk erat sosok jangkung di depannya dengan senyum yang semakin bersinar cerah. Bahkan Baekhyun meneteskan airmatanya, bukan airmata sedih tapi airmata bahagia. Ia sangat merindukan sosok yang ia peluk saat ini, bahkan saat ini ia terus memeluk erat sosok jangkung itu dengan erat dari belakang.
"A-aku benar benar sangat merindukanmu Chanyeolie" Baekhyun merasakan tangannya di sentuh halus oleh sosok jangkung itu yang di ketahui adalah Chanyeol, Park Chanyeol. Suaminya. Chanyeol melepaskan tangan Baekhyun dari perutnya dengan lembut. Lalu setelah itu membalikan badannya menghadap wanita cantik itu dengan pandangan yang tidak terbaca. Terlihat perasaan senang tapi terlihat juga tatapan terluka dan marah.
"Aku senang kau datang menjemputku di bandara, Aku benar benar senang Yeollie~" Baekhyun kembali menerjang Chanyeol, memeluknya erat jika sebelumnya ia memeluk Chanyeol dari belakang kini ia memeluk Chanyeol-Nya dari depan. Chanyeol menggerakan tangannya untuk membalas pelukan Baekhyun tapi ia terhenti saat mendengar pernyataan Baekhyun.
"Chanyeol, Aku merindukanmu. Kau tau selama ini yang kupikirkan hanya Suamiku. Aku selalu berharap suamiku akan kembali memelukku hangat dan mengucapkan kalimat kalimat sayang dengan lembut" Pandangan mata Chanyeol kini kosong, entah nengapa perkataan Baekhyun begitu menohok hatinya. Suamiku? Chanyeol bahkan tersenyum pahit. Tanpa membalaskan perkataan Baekhyun, kini Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun pelan agar melepaskan pelukannya lalu segera meraih koper Baekhyun dan berjalan meninggalkan Baekhyun yang mematung.
.
.
.
Hening. Mereka sama sama fokus dengan pikiran masing masing. Dimana Baekhyun yang menggenggam paper bagnya erat dan menggigit bibirnya dengan tatapan lurus kedepan. Dan Chanyeol, ia hanya fokus dengan cara mengemudinya. Tidak bergeming. Bahkan Baekhyun tidak mendengarkan satu kata pun terlintas dari kedua belah bibir Chanyeol sejak di bandara.
Baekhyun melirik Chanyeol dan tatapannya berubah sendu, namun dalam sepersekian detik senyuman dengan mata bulan sabit itu mengembang cerah. Baekhyun yang awalnya hanya melirik kini ia menolehkan kepalanya dengan senyuman cerah.
Baekhyun terus memandangi Chanyeol dengan tatapan bersinar, ia benar benar merindukan ini. Saat ia hanya memandangi wajah Suaminya dengan tatapan memuja. Baekhyun sangat menyukai dimana ia hanya memandangi wajah Chanyeol seperti saat ini dengan Chanyeol yang akan tersenyum tampan, ia jadi teringat dimana saat ia selalu memperhatikan Chanyeol saat semasa sekolah dulu. Baekhyun yang baru saja pindah ke sekolah itu langsung terhanyut dalam pesona Chanyeol, saat Chanyeol mengenalkan dirinya dan mengajak ia berkeliling sekolah untuk mengenalkan Baekhyun pada setiap sudut Sekolah.
..
..
..
Wall Wound
..
..
..
"Kau terus menatapku? Apakah ada yang salah dengan wajahku?" Baekhyun memalingkan wajahnya cepat saat mendengar suara berat sang Ketua Osis. Bahkan terlihat rona merah di pipi Baekhyun, dan ia merasa jantungnya akan lompat keluar karena pompaan yang sangat kuat.
"Haha manis sekali" Ya Tuhan siapapun tolong bawa Baekhyun pergi menjauh dari Pria tampan ini.
"A-aku ti-tidak me-natapmu" Chanyeol terkikik gemas, murid pindahan ini benar benar sangat menggemaskan.
"Hmm begitukah? Padahal aku sangat suka melihat tatapanmu saat kau memandangku. Sangat cantik" Chanyeol berjalan santai meninggalkan Baekhyun setelah berkata seperti itu. Ya Tuhan ia harus melaporkan Ketua Osis itu atas percobaan pembunuhan, Jantungnya terus saja bekerja abnormal.
"Kau tidak ingin melanjutkannya Byunie?" Heol. Panggilan apa itu. Baekhyun berjalan berlawanan arah meninggalkan Chanyeol, sepertinya gadis ini sudah tidak tahan. Dan Chanyeol hanya menatap punggung Baekhyun yang menjauh gemas.
..
..
..
Wall Wound
..
..
..
Chanyeol sadar saat Baekhyun terus menatapnya. Chanyeol mencoba untuk fokus dengan mengemudinya, tapi siapa yang bisa mengontrol gemuruh di dalam tubuhnya. Chanyeol menggenggam kemudi mobilnya dengan erat. Laki laki itu tetap pada tatapan fokus dan wajah datarnya.
"Yeollie kau semakin tampan" Chanyeol semakin mengeratkan pegangannya pada kemudi. Bahkan wajahnya semakin mengeras. Chanyeol masih setia dengan mendiamkan Baekhyun, Baekhyun tersenyum dan terus menatap Chanyeol dan tidak akan menyerah untuk membuat Chanyeol berbicara.
"Apakah kau makan dengan baik, mengapa kau terlihat semakin kurus?"
"Apakah kau tidur dengan nyenyak, mengapa matamu terlihat lelah dengan lingkarang hitam?"
"Apakah kau tidak merindukanku, karena aku sangat merindukanmu" Chanyeol menoleh, membuat mereka bertatapan langsung. Chanyeol memandang Baekhyun dengan tatapan yang sangat aneh, bahkan Baekhyun terlihat bingung dengan tatapan itu. Chanyeol menatapnya begitu dalam. Hanya menatapnya terus begitu hingga lampu merah berganti hijau dan Chanyeol kembali fokus mengemudi.
Baekhyun menautkan alisnya bingung, tatapan Chanyeol. Tatapannya membuat Baekhyun ingin nenangis, entah mengapa Baekhyun merasakan luka yang sangat dalam dari tatapan Chanyeol. Sangat menyakitkan. Baekhyun mengalihkan tatapannya dan menatap jendela. Tetes demi tetes airmata lolos dari kedua mata sipitnya.
Chanyeol melihat bahu Baekhyun yang bergetar, Chanyeol mendengar suara Baekhyun yang terisak pelan. Tanpa sadar satu tetes airmata lolos dari mata bulat Lelaki tampan itu, dan Chanyeol segera mengusaknya kasar.
"Maafkan Aku Baek…"
.
.
.
Baekhyun tertidur dengan lelehan airmata di sekitar pipinya yang sudah mengering, Chanyeol menatap mata Baekhyun yang tertutup. Mereka sudah sampai satu jam yang lalu, dan selama satu jam itu juga Chanyeol hanya memandangi Baekhyun yang tengah terlelap. Chanyeol sangat merindukan belahan jiwanya, saat mendengar pertanyaan Baekhyun apakah ia merindukannya atau tidak tentu jawabannya Iya. Bahkan mungkin rasa rindu Chanyeol lebih besar dari Baekhyun. Chanyeol ingin sekali mendekap tubuh mungil itu saat di bandara, menyambutnya dengan hangat, dan mengecup keningnya lembut. Tapi, itu semua hanya keinginan yang tidak bisa Chanyeol lakukan –lebih tepatnya hal yang sangat ia hindari. Chanyeol melihat Baekhyun terusik dalam tidurnya, dan dengan secepat kilat Chanyeol kembali pada posisi duduk menatap lurus ke depan.
"Eunghh" Baekhyun membuka kedua matanya. Ia menatap pemandangan di luar kaca mobil Chanyeol dengan pandangan bertanya. Kenapa mereka disini? Baekhyun menatap Chanyeol bingung. Tak berapa lama Chanyeol turun dan mengeluarkan koper Baekhyun dalam bagasi. Baekhyun membuka pintu cepat dan menyusul Chanyeol.
"Chan, mengapa kita disini?" Chanyeol hanya diam, lebih tepatnya ia tetap diam. Baekhyun geram dengan tingkah Chanyeol.
"CHANYEOL! JAWAB AKU! MENGAPA KAU MENGANTARKU KE RUMAH ORANGTUA KU?" Baekhyun meninggikan nada bicaranya, wajahnya memerah karena kesal.
"Ini rumahmu" Baekhyun tertohok. Chanyeol berjalan ke arah pintu rumahnya dan meninggalkan koper Baekhyun disana. Ia berjalan melewati Baekhyun untuk kembali ke mobilnya tetapi Baekhyun menahan pergelangan tangannya dan menggenggam tangannya kuat.
"Aku tak mengerti Chan, aku benar benar tidak mengerti" Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan terluka, airmata yang sudah membasahi wajahnya itu terus saja mengalir dengan deras, bahkan isakan isakan kasar yang keluar dari mulut Baekhyun terlihat sangat mencekik wanita cantik itu.
"Chan, jawab aku hiks" Chanyeol menatap mata Baekhyun datar.
"Aku yang tak mengerti Baek, bagaimana kau terus pada sikap kekanakanmu. Apakah kau sedang mempermainkanku" Baekhyun menautkan alisnya bingung.
"Kau semakin membuatku bingung Chan" Chanyeol melepaskan pegangan tangan Baekhyun pada tangannya. Baekhyun menatap tangan Chanyeol terluka dan setelah itu apa yang Chanyeol lakukan benar benar membuatnya hancur berkeping keping.
"Aku tidak tau apa yang terjadi padamu dua tahun terakhir. Tapi ketahuilah Baek kita sudah bukan lagi sepasang Suami Istri." Chanyeol menyerahkan Cincin pernikahan mereka pada Baekhyun dan setelah itu ia berjalan kasar menaiki mobilnya dan meninggalkan Baekhyun yang mematung.
Cincin itu terjatuh. Dan saat itu juga tatapan Baekhyun menggelap. Baekhyun tidak sadarkan diri di halaman rumahnya.
..
..
..
Wall wound
..
..
..
Wanita cantik dengan mata rusa yang sangat bersinar itu menautkan alisnya bingung saat melihat Suaminya masuk dengan wajah yang berantakan. Wanita itu mengikuti suaminya yang berajalan ke arah lantai dua dan memasuki kamar mereka, Wanita itu terkaget saat suaminya membanting pintu kamar mereka dengan keras dan setelah itu terdengan suara barang barang yang dilempar dengan kasar, dan suara teriakan yang terisak.
Wanita cantik itu segera memasuki kamarnya cepat dan melihat keadaan sang suami yang begitu miris, Wanita itu berjalan pelan ke arah suaminya yang terisak, membawanya kedalam pelukannya dan mengucapkan kalimat kalimat penenang.
"Tenanglah, aku tidak ingin melihatmu kembali terbaring dirumah sakit untuk kesekian kalinya Chanyeol" Wanita itu menangis, rasanya hancur saat mengetahui suamimu menangisi wanita lain. Benar benar menyakitkan, tetapi ia tau statusnya, ia tau batasan batasan apa yang tidak boleh ia lewati.
Luhan, Xi Luhan atau lebih tepatnya Park Luhan adalah istri sah dari Park Chanyeol. Belum lama ini mereka mengikat janji suci di depan Tuhan dan keluarga mereka. Pernikahan ini adalah sebuah pernikahan bisnis antar keluarga. Luhan hancur saat mendengar cerita Ibu mertuanya tentang suaminya. Rasanya bagaikan tertusuk beribu ribu duri. Tetapi itu tidak membuat Luhan mundur, Luhan tetap menyetujui perjodohan itu dan menikah dengan Park Chanyeol. Suaminya saat ini.
"Chanyeol tenanglah, jangan seperti ini" Luhan terus mengelus bahu Suaminya lembut dan juga isakan kecil dari mulutnya karena sedih melihat Suaminya seperti ini. Selama satu setengah tahun pernikahannya Luhan sudah menyaksikan hal seperti ini berkali kali dan itu selalu berakhir dengan Sang suami yang di larikan kerumah sakit karena tidak sadarkan diri. Dan jika ini kembali terjadi jika Luhan tidak salah menghitungnya mungkin ini akan menjadi yang ke sepuluh kalinya, dan akankah Chanyeol kembali seperti dulu saat ia hanya terbaring lemah di rumah sakit dengan wajah pucatnya. Luhan menggeleng cepat dan airmatanya semakin deras berlomba lomba untuk keluar dari kedua mata rusanya.
"Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi kumohon Chan berhentilah melukai dirimu sendiri. Kau bisa membagi lukamu denganku, aku tidak sanggup Chan melihat kau hancur seperti ini" Luhan terisak, ia semakin merapatkan pelukannya pada suaminya.
"Baekhyun baekhyun" Luhan tertohok, nama itu lagi. Rasanya Luhan ingin membunuh wanita itu sekarang juga. Walaupun Luhan juga tau bukan hanya Chanyeol yang terluka seperti ini, ia bahkan menangis tak henti saat Ibu mertuanya menceritakan semua padanya. Dan mengatakan jika dua pasangan itu sangat sangat bodoh, bahkan Luhan dengan terang terangan mengatakan Chanyeol bodoh di depan Mertuanya sendiri selaku orang tua Chanyeol. Luhan tidak mengerti, mengapa takdir seolah mempermainkan mereka atau mereka yang mempermainkan takdir mereka sendiri.
.
.
.
Setelah mengajak Chanyeol untuk beristirahat di Kamar tamu, Luhan merapikan kekacauan di kamar mereka. Beruntung Chanyeol tidak di larikan kerumah sakit. Luhan hanya berharap Chanyeol lupa dengan yang terjadi malam ini dan kembali dengan Chanyeol yang selalu tenang dan mengontrol emosinya dengan baik. Dokter selalu mengatakan jika ia harus mengalihkan pikiran Chanyeol dengan kenangan kenangan yang membuatnya hancur, karena jika Chanyeol hanya terfokus pada kenangannya itu sama saja Chanyeol mencoba untuk membunuh dirinya sendiri.
Drrtt drrtt
Luhan mendengar ponselnya bergetar dan segera mengambil ponselnya yang terjatuh, mungkin karena Chanyeol mengamuk tadi. Ia tersenyum melihat ibu mertuanya yang menghubunginya dan dengan cepat menggeser tombol hijau.
"Ne eommoni"
"…"
"Jadi itu yang membuatnya seperti tadi"
".."
"Tidak Eommoni, Chanyeol baik baik saja ia sedang beristirahat sekarang"
"…"
"Ne Eommoni. Aku mengerti, aku juga menyayangimu Eommoni"
Luhan terduduk di atas kasur dan menghela nafas panjang, ia sekarang tau alasan mengapa Chanyeol bersikap seperti tadi. Mungkin ini saatnya Luhan membatin. Luhan segera bangkit dan melanjutkan membersihkan kamar mereka.
..
..
..
Wall Wound
..
..
..
"Eommoni sebenarnya apa yang terjadi dengan Chanyeol" Luhan terisak, ini adalah malam pertama pernikahannya dan tiba tiba saja Chanyeol berteriak keras di kamar mereka dan jatuh tak sadarkan diri. Luhan yang panik segera menghubungi ambulance dan kedua orangtuanya.
"Tenanglah sayang, Chanyeol akan baik baik saja" Nyonya Park meyakinkan Luhan, dan secara tidak langsung ia juga meyakinkan dirinya jika Putranya akan baik baik saja.
"Aku sangat khawatir Eommoni, Chanyeol tiba tiba menangis dan berteriak terisak dan setelah itu ia tidak sadarkan diri hiks" Nyonya Park memeluk menantunya lembut.
"Apakah ada hal aneh yang Chanyeol lakukan atau kau mengatakan sesuatu padanya?"
"Tidak Eommoni, bahkan sebelumnya Chanyeol terlihat baik baik saja. Tapi setelah ia keluar dari kamar mandi, ia menatapku dan tiba tiba saja ia menangis lalu setelah itu ia berteriak menggumamkan nama itu berulang kali"
"Mungkin Chanyeol hanya mengingat kenangannya saat tinggal bersama mantan istrinya, Maafkan Eommoni sayang. Tidak seharusnya Wanita cantik sepertimu menikahi putraku, yang bahkan masih terbayang bayang oleh kenangannya bersama Mantan istrinya" Nyonya Park tertunduk lesu.
"Tidak Eommoni, aku mencintai Chanyeol. Dan aku akan berusaha membantu Chanyeol untuk bangkit dari kenangan masa lalunya" –atau aku akan membuat mereka berhenti saling melukai perasaan mereka sendiri Luhan melanjutkan dalam hati.
..
..
..
Wall Wound
..
..
..
Nyonya Park menatap Mantan menantunya dengan padangan sedih. Bibi Ahn selaku Maid keluarga Byun menghubunginya dan mengatakan jika Baekhyun tidak sadarkan diri di depan halaman Keluarga Byun. Apakah kalian bingung mengapa Maid keluarga Byun menghubungi Nyonya Park, itu karena Nyonya Park sendiri yang mengatakan pada Maid keluarga Byun sebelumnya.
Keluarga Byun menghubunginya dan mengatakan jika Baekhyun akan kembali ke korea, dan meminta Chanyeol untuk menjemputnya. Ibu Chanyeol sempat menolak dengan tegas mengingat kondisi putranya yang tidak baik dan status mereka yang bukan lagi Suami Istri. Tapi setelah mendengar penjelasan temannya itu, Nyonya Park menyetujuinya. Ia sempat kesal dan marah dengan keputusan Keluarga Baekhyun untuk memisahkan Anak-anak mereka. Bahkan dulu Nyonya Park sampai berlutut memohon untuk tidak melakukannya, tapi karena perkataan Ibu Baekhyun saat itu ia merasa sudah tidak bisa berbuat apa apa.
..
..
..
Wall Wound
..
..
..
"Jun candaanmu benar benar tidak lucu" Jaejong Ibu Chanyeol menatap Junhi Ibu Baekhyun dengan pandangan jengkel. Bagaimana tidak perkataannya benar benar sangat aneh.
"Aku tidak bercanda Jae, Aku tidak tahan melihat kondisi Baekhyun saat ini" Ia menatap Jaejong dengan serius. Meyakinkan jika apa yang ia katakan sebelumnya adalah kebenaran.
"Aku akan membicarakan ini dengan Chanyeol"
"Kau selalu berkata seperti itu, tapi nyatanya putramu terus saja bersikap acuh kepada Putriku. Ibu mana yang tidak sedih melihat keadaan putrinya yang hancur seperti itu" Ini sudah ke lima kalinya Jaejong mengatakan akan membicarakannya dengan Chanyeol, tapi nyatanya Chanyeol terus bersikap seperti itu membuat Junhi semakin Kesal dan marah.
"aku mohon Junhi, jangan gegabah seperti ini"
"Chanyeol mungkin sudah tidak mencintai Baekhyun lagi Jae" Jaejong manatap Junhi tidak percaya, bagaimana bisa ia mengatakan Putranya sudah tidak mencintai Baekhyun lagi, bahkan saat Chanyeol memeluknya dan mengatakan jika ia menyalahkan dirinya karena membuat Baekhyun kehilangan penglihatannya dan Anak mereka Jaejong tau jika Putranya masih sangat mencintai Istrinya.
"Tidak, bahkan Chanyeol juga hancur jun. Chanyeol juga sama kehilangannya dengan Baekhyun, Aku mengerti dengan perasaan putraku Jun" Junhi hanya mengabaikan perkataan Jaejong dan mengeluarkan Amplop putih dan menyerahkannya pada Jaejong.
"Aku sudah mengurus semuanya, Putriku juga sudah menandatanganinya. Aku akan membawa Baekhyun ke Amerika" Junhi menyerahkan surat perceraian kedua anak mereka kepada Jaejong, Jaejong hanya membulatkan matanya dan menatap Junhi kesal.
"Baekhyun tidak mungkin menandatanganinya"
"Memang. Tapi yang terpenting Surat ini sudah di tandantangani oleh putriku"
"Kau memanfaatkan Putrimu yang buta"
"Aku hanya ingin putriku bahagia"
"Dan aku akan membawa Baekhyun pergi hari ini" Junhi melanjutkan perkataannya dan melangkah melewati Jaejong, dan dengan kaget Junhi menghentikan langkahnya. Ia membulatkan matanya melihat teman sekolahnya dulu berlutut di kakinya dengan airmata yang sudah menetes dengan deras.
"Aku mohon jun aku mohon, jangan pisahkan Baekhyun dengan Chanyeol. Putraku sangat mencintai Baekhyun, Chanyeol juga hancur jun" Junhi menatap sedih Jaejong, ia juga tau jika Baekhyun mencintai Chanyeol. Ia hanya tidak tahan dengan sikap Chanyeol yang seolah mengacuhkan putrinya. Setelah kecelakaan itu Putrinya sudah kehilangan anaknya dan penglihatannya. Tapi apa yang Chanyeol lakukan, bahkan saat Baekhyun meraung menangis menginginkan Chanyeol berada di sisinya, menantunya itu tidak tau sedang berada dimana.
Junhi hanya merasa kecewa dengan sikap Chanyeol, sikap Chanyeol yang seperti itu hanya membuat Putrinya semakin terluka, Putrinya juga menyalahkan dirinya sendiri mengatakan jika ia yang membunuh anaknya dengan Chanyeol. Dan sikap Chanyeol membuat putrinya membenarkan apa yang di rasakannya.
"Aku melakukannya bukan tanpa alasan Jae, ini semua salah Putramu. Sikapnya yang membuatku lebih memilih untuk membawa Baekhyun pergi bersamaku, bahkan Baekhyun sudah kehilangan penglihatannya Jae, aku sedih saat Baekhyun mengatakan jika Chanyeol tidak ingin tidur bersamanya, dan Chanyeol yang selalu meninggalkannya di meja makan seorang diri. Kau tau aku sangat menyanyangi Putriku, dan bagaimana aku bisa tega melihat keadaan rumah tangganya seperti itu" Jaejong melepaskan tangannya pada Kaki junhi dan nenangis terisak.
"Aku minta maaf Jae, Aku harus melakukannya. Aku bisa membatalkannya jika Chanyeol sendiri yang datang padaku dan berjanji jika ia akan menjaga putriku dengan baik" Dan setelah itu Junhi meninggalkan Rumah besar Keluarga Park dan meninggalkan pekarangan Rumah itu untuk segera menuju rumah putrinya.
..
..
..
Wall Wound
..
..
..
Nyonya Park memandang Baekhyun sedih dan mengelus Putrinya dengan lembut. Nyonya Park sangat menyayangi Baekhyun sama seperti Nyonya Byun, bahkan ia sudah menganggap Baekhyun Putrinya sendiri saat pertama kali Chanyeol mengenalkan Baekhyun kepadanya saat mereka resmi berpacaran. Setelah itu Nyonya Park segera mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menghubungi seseorang.
"Ne eommoni"
"Apakah Chanyeol baik baik saja sayang? Baekhyun baru saja kembali ke korea"
"Jadi itu yang membuatnya seperti tadi"
"Apakah terjadi sesuatu?"
"Tidak Eommoni, Chanyeol baik baik saja ia sedang beristirahat sekarang"
"Baguslah. Tolong jaga Chanyeol Lu, Eommoni sangat menyayangimu"
"Ne Eommoni. Aku mengerti, aku juga menyayangimu Eommoni"
Ia menatap Baekhyun sendu, banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kenapa Baekhyun bisa sampai tidak sadarkan diri seperti itu. Entah mengapa Nyonya Park sangat membenci Nyonya Byun, ia yang terlebih dulu meminta untuk memisahkan Anak anak mereka, tapi lihatlah apa yang ia lakukan. Bahkan ia membohongi putrinya, tidak menceritakan tentang perceraian antara Putrinya dan Chanyeol. Nyonya Park benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Nyonya Byun.
Dan entah mengapa Nyonya Park meringis saat membayangkan bagaimana jika Baekhyun tahu, Jika Chanyeol sudah menikah kembali. Nyonya Park menetaskan airmatanya dan terisak pelan, karena sudah tidak bisa menahan isakannya ia segera keluar kamar Baekhyun dengan cepat.
.
.
.
Luhan sedang menyiapkan sarapan untuknya dan Chanyeol. Entah apa yang membuat dirinya menikah dengan Chanyeol, bahkan di saat Wanita cantik itu tau jika Chanyeol masih tidak bisa melupakan Mantan Istrinya. Tetapi satu hal yang Luhan tau, jika ia sangat mencintai Chanyeol. Saat ia melihat Chanyeol, entah apa yang di rasakannya tapi Luhan hanya ingin berada di sisi pria tampan itu dan memeluk Chanyeol yang terlihat rapuh.
Luhan sudah membulatkan tekadnya. Ia akan melakukan apapun untuk kebahagian Chanyeol meskipun harus melepaskan kebahagiannya. Luhan mendengar suara pintu kamar mereka terbuka, ia segera menolehkan kepalanya dan melihat Chanyeol yang sudah berganti pakaian dan terlihat rapi. Luhan tersenyum, mungkin Chanyeol sudah melupakan kejadian semalam.
"Selamat Pagi, Aigoo mengapa suamiku sangat tampan" Luhan menggoda Chanyeol yang sedang berjalan ke arah meja makan, Chanyeol hanya bergumam dan tersenyun seadanya.
"Kau akan kekantor? Apakah ingin membawa bekal untuk makan siangmu?" Luhan mendudukan dirinya dan menyiapkan roti untuk Suaminya. Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya dan meminum kopinya.
"Kau tidak ingin. Tapi aku memaksa" Luhan tersenyum meledek ke arah Chanyeol, Chanyeol menatap mata itu. Mata yang bersinar dan pandangan mata Luhan selalu mengingatkannya pada Baekhyun. Baekhyun yang selalu menatapnya bersinar dengan senyuman bulan sabitnya.
Chanyeol menatap matanya, Luhan yang membalas tatapan Chanyeol dan melihat jika tatapan Chanyeol terlihat kosong segera menyentuh pipi sang Suami dan tersenyum saat merasa Chanyeol sudah kembali sadar.
"Apakah aku sangat cantik? Hingga membuatmu tidak berhenti menatapku seperti itu" Luhan mengerlingkan matanya di hadapan Chanyeol, Chanyeol yang melihat hanya manatap sendu dan mengangkat tangannya untuk mengelus wajah Luhan lembut. Luhan yang di perlakukan seperti itu hanya membulatkan matanya.
"Maafkan aku" Luhan tidak mengerti mengapa Chanyeol meminta maaf seperti itu. Saat ingin membalaskan perkataan Chanyeol tetapi Suaminya itu lebih dulu membuka mulutnya dan melanjutkan perkataannya.
"Jangan pernah lelah, tetaplah disisiku apapun yang terjadi" Setelah itu Luhan merasakan bibir sang suami mencium bibirnya hanya sebentar, tidak dengan lumatan yang dalam.
"Kau menciumku?" Luhan bertanya dengan memegangi bibirnya dan menatap Chanyeol dengan mata yang membulat terkejut.
"Kau istriku bukan?" Luhan rasanya sedang bermimpi, ia memukul keras pipinya hingga memerah, dan itu berhasil membuat Chanyeol menatapnya khawatir.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Chanyeol dan tersirat nada khawatir pada perkataannya. Chanyeol mengelus pipi Luhan yang di pukul sendiri oleh Luhan. Luhan rasanya ingin mati, bagaimana tidak mendengar nada khawatir Chanyeol benar benar membuatnya gila jangan lupa tatapannya saat mengelus pipi Luhan, Ya Tuhan.
Hubungan rumah tangga mereka memang baik baik saja hanya saja, mereka seolah memberi jarak. Luhan sadar akan batasan batasan yang ia ciptakan sendiri, sedangkan Chanyeol dia seperti hidup di dua dunia, dimana di dunia ia bersama Baekhyun dan dunia nyatanya bersama Luhan. Chanyeol tidak pernah bersikap kasar pada Luhan, Chanyeol sangat menghargai status Luhan yang selaku istrinya. Bahkan mereka sudah berkali kali melakukan kegiatan panas di ranjang, tapi memang tidak di pungkiri sudah hampir dua tahun pernikahan mereka tidak membuat Chanyeol bangkit dari masa lalunya. Masa lalu yang sangat indah dengan luka yang lebar. Luhan sangat mengerti dengan keadaan Chanyeol dan itu juga yang membuat batasan batasan tak kasat mata yang ia buat sendiri, bahkan sikap Luhan tergolong seperti Kakak yang melindungi Adiknya.
Dan sekarang perasaan egois tiba tiba menjelar di tubuh Luhan, Ia ingin hal lebih. Tapi setelah itu ia sadar, jika Chanyeol hanya mencintai wanita itu. Mungkin sikap Chanyeol seperti ini hanya untuk menghargainya yang berstatus sebagai istri Park Chanyeol.
Luhan menatap Chanyeol mantap, ia akan membantu Chanyeol mengobati lukanya dan membuat kenangan masa lalu Chanyeol yang indah menjadi indah seutuhnya. Luhan memang wanita yang baik, bahkan ia dengan rela menikah dengan Chanyeol yang tidak akan pernah membalas perasaannya.
"Aku akan disisimu, membantumu dan menguatkanmu Chan" Chanyeol tersenyum lalu setelah itu ia melanjutkan sarapannya dengan pelan, Luhan masih fokus menatap Chanyeol dalam. Luhan berdeham sebentar lalu setelah itu melanjutkan perkataannya dan membuat Chanyeol menjatuhkan gelas yang berada di sampingnya mendengar penuturan panjang Luhan.
"Dan seperti yang aku katakan, aku akan membantumu. Membantumu untuk mengobati lukamu bersama Baekhyun. Kau tidak bisa hidup seperti ini terus menerus Chan, kau masih mencintainya dan Baekhyun pun masih mencintaimu, apa yang salah dengan kembali bersama. Berhentilah egois dan berhentilah untuk melukai dirimu sendiri"
..
..
..
Wall Wound
..
..
..
"CHANYEOL!"
Prang
Nyonya Park yang sedang menyiapkan sarapan bersama Bibi Ahn menjatuhkan piring yang di pegangnya saat mendengar teriakan dari lantai dua, Nyonya Park berlari cepat disusul oleh Bibi Ahn di belakanganya dengan tatapan Khawatir.
"Sayang ada apa denganmu?" Nyonya Park segera berlari keranjang Baekhyun dan memeluk Baekhyun lembut menenangkan.
"Chanyeol hiks cha-chanyeol" Baekhyun terisak di dalam pelukan Nyonya Park.
"Tenanglah sayang" Nyonya Park semakin mengeratkan pelukannya pada Baekhyun dan mengelus rambut Baekhyun lembut bergumam menenangkan terus menerus. Baekhyun melepaskan pelukan Nyonya Park dan menatap Nyonya Park dengan tatapan terluka yang amat sangat.
"Eommoni Chanyeol hiks me-mengatakan padaku jika aku bukan istrinya hiks lagi" Jantung Nyonya Park bergemuruh, mendengar isakan Baekhyun sangat menyakitkan. Suaranya benar benar parau dan tatapannya begitu terluka. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Apakah ia juga harus berbohong seperti Junhi, ataukah membeberkan kenyataan kepada Baekhyun. Dan yang dilakukan Nyonya Park hanya kembali memeluk Baekhyun erat memberikan kekuatan pada wanita yang sangat rapuh ini.
"Tenanglah sayang, jika kau terus menangis kau akan kesulitan bernafas" Nyonya Park mengelus punggung Baekhyun lembut, dan Baekhyun juga membalas pelukan Nyonya Park dengan nyaman.
.
.
.
"Eommoni aku bermimpi Chanyeol menjemputku dan mengantarku kerumah orang tuaku dan mengatakan jika aku bukanlah lagi istrinya" Baekhyun bermanja dalam rangkulan Nyonya Park. Nyonya Park hanya tersenyum miris, apakah Baekhyun tidak tau jika itu adalah sebuah kenyataan.
"Semuanya terasa nyata Eommoni dan sangat menyakitkan" Nyonya Park mengelus kepala Baekhyun lembut.
"Haha kau ada ada saja, apakah kau tidak tau jika Eommoni yang menjemputmu dan mengantarmu ke rumah orangtuamu" Nyonya Park mencubit gemas hidung Baekhyun dan Baekhyun hanya mempoutkan bibirnya kesal.
"Aku sangat senang, itu hanya mimpi buruk. Jika itu benar terjadi aku tidak tau lagi apa yang akan kulakukan. Tapi Eommoni,.." Baekhyun menjeda pada perkataannya dan Nyonya Park hanya bergumam untuk meminta Baekhyun melanjutkan perkataannya.
"Kenapa Eommoni mengantarku ke rumah keluargaku bukan kah aku harus berada di rumahku dan Chanyeol, aku sangat merindukan Chanyeol Eommoni" Nyonya Park menegang, bahkan Baekhyun juga merasakannya.
"Eommoni baik baik saja?" Baekhyun menatap Nyonya Park khawatir, dan dengan segera Nyonya Park tersenyum dan kembali membawa Baekhyun pada rengkuhannya.
"Chanyeol sedang ada urusan di jepang, kau tau bukan jika Suamimu itu sangat penggila kerja" Baekhyun hanya menganggukan kepalanya mendengar penuturan Nyonya Park, setelah itu mereka melanjutkan perbincangan kecil dan Nyonya Park memilih jalan yang sama seperti Orang tua Baekhyun yaitu, membohongin wanita mungil ini.
.
.
.
Luhan menuruni mobilnya dan menatap pagar rumah di depannya itu, ia mencocokan nomornya dan ternyata itu sama. Luhan segera menekan bel dan menunggu orang yang berada di rumah itu membukakan pintunya. Luhan melihat seorang wanita paruh baya berjalan ke arah pagar dengan senyum hangatnya.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu Nyonya?"
"Apakah benar ini kediaman keluarga Byun?" Luhan bertanya dengan sopan, sebelumnya ia sudah menundukan badannya memberi salam kepada wanita paruh baya di depannya.
"Ne, jika boleh tau anda siapa dan ada keperluan apa datang kesini Nyonya?"
"Saya Luhan, saya ingin bertemu dengan Baekhyun. Apakah ia ada di dalam?"
"Nyonya Baekhyun ada di dalam, silahkan masuk Luhan-shi" Bibi Ahn mempersilahkan Luhan masuk, Luhan tersenyum sopan dan berjalan menuju pintu utama. Dan saat memasuki ruang tamu Luhan mematung, ada mertuanya yang sedang tertawa dengan merengkuh tubuh seorang wanita yang Luhan yakini adalah Baekhyun. Luhan tersenyum kecil lalu kemudian ia membalikan tubuhnya untuk membatalkan niatnya untuk bertemu Baekhyun.
"Eoh Luhan-shi anda ingin pergi?" Bibi Ahn yang baru memasuki rumah keluarga Byun terkejut saat melihat Luhan berjalan kembali ke arah pintu utama. Nyonya Park yang mendengar suara Bibi Ahn segera beranjak dan di susul Baekhyun di belakangnya.
Nyonya Park mematung saat melihat Luhan berdiri di hadapan Bibi Ahn, sedangkan Baekhyun hanya menatap wanita itu bingung. Siapa wanita itu pikir Baekhyun dengan tatapan mata bertanya pada Bibi Ahn.
"Baek, ini Luhan ia datang mencarimu" Luhan membalikan tubuhnya menghadap Nyonya Park dan Baekhyun setelah itu ia menunduk sopan memberi salam.
"Saya Luhan, mungkin anda tidak mengenal saya tapi ada hal yang ingin saya bicarakan dengan anda Baekhyun-shi" Baekhyun tersenyum sopan membalas sapaan Luhan. Nyonya Park mematung, ia sungguh tidak mengerti mengapa Luhan bisa berada disini, dan apa tujuan Luhan datang kesini membuat Nyonya Park di geluti rasa takut.
.
.
.
Luhan, Baekhyun dan Nyonya Park duduk di ruang tamu dengan tenang. Sesekali Baekhyun menatap khawatir Nyonya Park karena wanita paruh baya itu terlihat pucat. Tidak hanya Baekhyun, Luhan juga menatap Nyonya Park khawatir.
"Eommoni apakah Eommoni baik baik saja?" Baekhyun menggenggam tangan Nyonya Park lembut lalu setelah itu Nyonya Park tersenyum dan mengangguk.
"Eommoni baik baik saja Baekkie" Baekkie? Luhan merasa sangat iri, sepertinya Nyonya Park sangat dekat dengan Baekhyun. Luhan tersenyum kecil lalu berdeham saat ia ingin membuka mulutnya tiba tiba saja Nyonya Park menyuruh Baekhyun untuk ke kamar untuk mengambil ponsel Nyonya Park. Dan Baekhyun hanya tersenyum lalu segera beranjak dari sana.
Nyonya Park menatap Luhan dalam, Luhan tersenyum sopan.
"Mengapa kau bisa berada disini Luhan?"
"Ada hal yang ingin ku bicarakan Eommoni"
"Baekhyun. Ia tidak tau jika mereka telah bercerai dan ia juga tidak tau jika Chanyeol sudah menikah denganmu" Nyonya Park menatap Luhan tegas, memberitahu Luhan dengan tenang.
"Eommoni" Luhan menatap Nyonya Park tidak percaya, ia benar benar dibuat kaget. Baekhyun tidak tau jika ia telah bercerai dengan Chanyeol dan sekarang Chanyeol sudah menikah dengannya. Heol Luhan semakin bingung, bingung mengapa situasinya menjadi rumit.
"Dan Eommoni mohon Luhan jangan memberitahukan apapun pada Baekhyun"
..
..
..
"Eommonim ini ponselnya"
Nyonya Park dan juga Luhan kaget saat melihat sosok Baekhyun dihadapannya. Apa mungkin Baekhyun mendengar percakapan mereka tadi?
"B-Baek sejak Kapan Kau ada disitu" Nyonya Park bertanya dengan gugup. Baekhyun hanya memandang kearah Nyonya Park dan Luhan lalu kemudian segera duduk disamping nyonya Park dan menyandarkan kepalanya di Bahu Nyonya Park.
"Aku baru saja tiba. Kenapa? Aku mengganggu Eommoni dan Luhan-ssi?" Baekhyun bertanya dengan polosnya sambil bermanja kepada Nyonya Park.
"Tidak Baekkie, Kau tidak menganggu kami" Nyonya park mengelus surai madu Baekhyun dan mengecupnya. Sedangkan Luhan yang melihat adegan itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
"Oh ya, Luhan-ssi bukannya tadi Kau ingin berkata sesuatu padaku. Apa yang ingin Kau katakan?"
Luhan terdiam sejenak. Percakapannya dengan Nyonya Park tadi membuat niatnya untuk berkata yang sebenarnya pada Baekhyun harus Ia kubur dalam-dalam. Dan kini saat ditanya oleh Baekhyun. Luhan bingung harus menjawab apa.
Baekhyun menatap Luhan dalam, ia menunggu apa yang akan Luhan katakan tapi setelah beberapa menit Luhan hanya terdiam Baekhyun kembali bertanya.
"Hm Luhan-ssi?" Luhan menatap Baekhyun terkejut. Lalu setelah itu ia tersenyum canggung.
"Ah, Aku ingin-"
Drrrtt Ddrrtt
Luhan menatap Nyonya Park begitupun juga Baekhyun, lalu setelah itu Nyonya Park mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja. Baekhyun menatap Ponsel Nyonya Park dan saat ia melihat Nyonya Park memutuskan panggilannya membuat Baekhyun menautkan alisnya bingung.
"Eomoni bukankah itu Chanyeol yang menelpon?" Nyonya Park menolehkan wajahnya cepat menatap Baekhyun dan sedikit membolakan kedua matanya.
"Bu-bukan sayang ini han-" Ponsel Nyonya Park kembali bergetar dengan nama yang sama, Baekhyun menatap Nyonya Park dan meminta Nyonya Park agar ia yang menjawab panggilan Chanyeol. Dengan ragu Nyonya Park memberikan ponselnya kepada Baekhyun, sedangkan Baekhyun dengan cepat mengambil ponsel itu dari tangan Nyonya Park dan segera menjawab panggilan itu.
"Eomma kenapa lama sekali?"
"…" Baekhyun hanya mematung. Setelah itu ia menatap Nyonya Park dan Luhan secara bergantian dan kemudian bibirnya tertarik tersenyum.
"Yeollie"
"…"
"Aku merindukanmu Chanyeolie, Kau tidak merindukanku?"
"…"
"Apakah kau baik baik saja? Aku sudah berada di korea, dan sekarang aku berada di rumah orangtuaku. Kapan kau akan menjemputku Yeollie?"
"…"
"Yeollie mengapa kau tidak menjawabku?" –ttut Chanyeol memutuskan panggilannya. Baekhyun mematung.
"Ada apa dengan Yeollie, apakah sinyal disana tidak baik. Ia tidak menjawabku" Baekhyun menyerahkan ponsel Nyonya Park dan menatap Nyonya Park bertanya.
"Mungkin saja sayang" Nyonya Park mengusak surai Baekhyun lembut. Luhan terdiam. Ia memikirkan bagaimana keadaan Chanyeol sekarang, apakah Suaminya akan baik baik saja.
"Ada urusan yang harus saya selesaikan hari ini, maafkan saya jika saya mengganggu waktumu Baekhyun-ssi. Saya permisi" Luhan berjalan cepat keluar dari pekarangan Keluarga Byun, menaiki mobilnya tergesa dan menuju Kantor Chanyeol secepatnya.
..
..
..
Luhan menatap Chanyeol yang kini telah tertidur di pelukannya. Tangan indah Luhan mengelus punggung besar sang suami yang tertidur setelah beberapa menit yang lalu mengamuk.
Mengamuk? Ya Chanyeol kembali mengamuk dan berteriak tidak karuan. Baekhyun sangat berpengaruh pada keadaan Suaminya, dan itu yang membuat Luhan dengan cepat menuju kantor Chanyeol tetapi yang ia dapatkan hanyalah Seketaris Chanyeol yang mengatakan jika Chanyeol telah kembali ke rumah mereka.
Luhan menatap miris Chanyeol. Tidak bisa ia pungkiri bahwa jauh didalam hatinya yang paling dalam. Luhan merasa sakit. Sakit saat melihat sang suami belum bisa melepaskan sang mantan istri. Dan apakah jika Chanyeol tahu jika Baekhyun tidak tahu dengan perceraian mereka ia akan kembali dengan Baekhyun dan meninggalkannya. Tidak ada yang tau bukan, jika memang Luhan berniat menyatukan mereka kembali tidak di pungkiri juga jika Luhan yang tidak ingin Chanyeol meninggalkannya.
Luhan ingin Chanyeol dan Baekhyun bersama lagi seperti dulu. Bersama membangun rumah tangga. Luhan rela harus mengalah demi Baekhyun. Bukan kah cinta itu tak harus saling memiliki?
Tak terasa kini airmata mengalir dikedua pipi Luhan. Luhan menangis. Menangis memikirkan kisah rumah tangganya dan juga kisah antara Baekhyun dan Chanyeol. Mengapa harus begini? Keadaan ini sungguh membingungkan.
Luhan pun menghapus airmata dikedua pipinya lalu mencium hangat kening sang suami.
"Aku mencintaimu Chanyeol"
..
..
..
Airmata terus mengalir dari kedua mata indah Baekhyun. Hidungnya memerah akibat menangis. Matanya membengkak. Tangannya gemetar menggenggam foto pernikahannya bersama Chanyeol.
Baekhyun menangis? Ya Baekhyun memang menangis. Menangisi takdir hidupnya yang sangat berat ini. Menangisi takdir yang mempermainkannya. Dan menangisi pengkhianatan serta kebohongan yang dijalani orang-orang terdekatnya.
Baekhyun sudah tahu semuanya. Baekhyun telah mengetahui fakta sebenarnya bahwa Chanyeol telah menikah dengan Luhan. Baekhyun sudah tahu.
Tadi siang saat Nyonya Park dan Luhan tengah berbincang, Baekhyun tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Percakapan tentang Chanyeol dan Luhan yang telah resmi menikah dan percakapan mengenai perceraian Chanyeol dan Baekhyun. Hati Baekhyun sungguh sakit. Jantungnya seperti diremas saat mengetahui kebenaran yang terjadi. Namun Baekhyun hanya bisa diam. Pura-pura tidak mengetahui kebenarannya.
Dalam hati kecilnya Baekhyun bertanya-tanya dimana letak kesalahannya hingga takdir dan kehidupan rumah tangganya dengan Chanyeol terjadi seperti ini. Dosa apa yang Baekhyun perbuat hingga takdir mempermainkannya seperti ini. Baekhyun sungguh tak tahu harus berbuat apalagi. Hidupnya telah hampa. Tidak ada lagi harapan dan tujuan hidupnya.
Baekhyun hanya ingin tahu apa yang akan mereka lakukan untuk menutupi kenyataan ini. Rasa egois tumbuh di dalam benaknya, dimana ia akan berusaha untuk menarik Chanyeol kembali ke sisinya.
Kini Baekhyun masih setia memandang foto pernikahannya mengelus wajah tampan Chanyeol di foto tersebut.
"Aku bahkan tidak tahu kapan kita mengakhiri ini. Apakah kau sudah tidak mencintaiku Yeollie, apakah rasa bencimu padaku membuang semua rasa cintamu padaku? Aku akan memastikannya Yeollie dengan kedua mata dan telingaku jika kita sudah berakhir. Dan izinkan aku untuk merasakan kebahagian bersamamu, kali ini saja"
..
..
..
"Aku akan berangkat kerja Lu"
Chanyeol meminum kopi hangatnya lalu beranjak dari meja makan. Luhan yang melihat hal itu segera membantu sang suami. Membawakan jas dan juga tas kerja Chanyeol. Saat sampai didepan pintu rumah Luhan membantu Chanyeol memakai jasnya dan merapikan dasi Chanyeol.
Chanyeol hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Luhan. Jauh didalam lubuk hati Chanyeol yang paling dalam. Ia ingin Baekhyunnya sekarang yang berada di posisi Luhan. Baekhyun manisnya yang menyediakan sarapan untuknya. Baekhyun yang merapikan dan memakaikan Chanyeol dasi dan jas. Serta Baekhyun yang mengantar hingga depan pintu rumah. Sungguh Chanyeol sangat mengharapkan hal itu terjadi. Namun, harapan tersebut hanya bisa menjadi mimpi bagi Chanyeol. Ia sadar karena sikapnya sekarang Chanyeol berpisah dengan Baekhyun. Dan sebenarnya kau bisa mendapatkannya kembali jika kau berhenti untuk egois Park Bodoh Chanyeol.
"Chan?"
Teguran dari Luhan mampu menyadarkan Chanyeol dari fantasinya mengenai Baekhyun. Kini Chanyeol menatap mata Luhan dalam lalu mencium bibir Luhan. Luhan yang dicium oleh Chanyeol hanya bisa diam. Terkejut. Mengapa tiba-tiba Chanyeol menciumnya seperti ini.
Chanyeol kembali menempalkan bibirnya pada bibir Luhan, dan melumat bibir Luhan seolah ingin memakan bibir tipis itu hingga habis. Sedangkan Luhan yang dicium seperti itu hanya bisa mendesah tertahan menerima perlakuan sang suami.
Tangan Chanyeol juga kini tidak tinggal diam. Tangan Chanyeol kini perlahan mulai mengusap belahan dada Luhan hingga mampu membuat Luhan mendesah makin keras. Bahkan kini Chanyeol mulai beralih menghisap leher jenjang Luhan. Sedangkan Luhan hanya bisa mendesah dan mendesah menerima perlakuan panas dari Chanyeol.
"Lu kurasa Aku memiliki waktu 30 menit untuk bermain sebentar" Belum sempat Luhan membalas perkataan Chanyeol. Kini Chanyeol menggendong Luhan dengan Gaya Koala masuk kedalam rumah untuk menuntaskan hasrat terpendamnya.
Namun tanpa disadari oleh Luhan dan Chanyeol. Kegiatan panas mereka tersebut disaksikan oleh sosok lain yang terpaku dibalik pagar besar gerbang rumah Chanyeol dan Luhan.
..
..
..
Baekhyun meninggalkan rumah tanpa sepengatahuan Nyonya Park, ia berhasil menemukan kediaman Suaminya yang baru. Baekhyun membuka GPS Chanyeol di Ponsel Nyonya Park dan dengan cepat ia mencatat alamat yang tertera disana. Dan sekarang ia sedang berada di salah Komplek dengan gaya eropa, Baekhyun memperhatikan kertas yang berisi alamat Chanyeol ia hanya ingin memastikannya. Memastikan segalanya. Walaupun ia tau jika ia akan terluka, tapi toh lagi pula ia juga sudah terluka. Bukan begitu?
Baekhyun terus melangkahkan kakinya, menghitung setiap nomor yang tertera pada setiap rumah. Dan saat ia merasa sudah dekat Baekhyun melambatkan langkahnya, dari tempat ia berdiri terlihat Seorang Pria berpawakan tinggi sedang saling berpagutan dengan seorang wanita yang lebih mungil.
Satu tetes air mata jatuh dari kedua mata mungil Baekhyun dan mengalir cepat di pipinya. Itu Chanyeol. Suaminya. Chanyeolnya bersama wanita lain. Baekhyun mengepal kedua tangannya dengan erat, saat melihat Chanyeol membawa wanita itu memasuki pekarangan rumah mereka terasa persendian di kedua kaki Baekhyun melemah. Baekhyun terus terisak keras dengan mata dan hidung yang memerah.
"Jika akan seperti ini aku lebih memilih untuk menjadi buta selamanya"
..
..
..
Chanyeol berjalan memasuki perusahannya dengan wajah datarnya. Chanyeol terlambat 2 jam datang ke kantor karena pertarungan panasnya dengan Luhan tadi pagi. Chanyeol merutuki perbuatannya. Karena akibat perbuatan mesumnya bersama Luhan Ia jadi terlambat datang ke kantor. Secara tidak langsung ini merusak nama baiknya selaku CEO dari perusahaannya sendiri. Benar-benar CEO yang tidak patut di contoh.
Tak terasa kini Chanyeol telah berada didepan pintu ruangannya. Saat Chanyeol membuka pintu ruangannya, Chanyeol terkejut. tubuhnya terasa kaku, persendiannya melemas saat melihat sosok wanita yang kini duduk manis di kursi kerjanya.
"B-Baekhyun?"
..
..
..
Wall Wound
..
..
..
Luhan kini tengah memasak dan mempersiapkan makan siang untuk Chanyeol suaminya. Sudah rutinitasnya ia membuatkan makan siang untuk Chanyeol, walaupun dulu saat pertama kali melakukan ini Chanyeol pernah dengan kasar menolak makan siangnya tapi sekarang dengan sikap keras kepala Luhan akhirnya Chanyeol menyetujuinya.
Jika kalian perhatikan lebih baik, wajah wanita bermata rusa ini sedikit meredup. Terlihat kedua mata rusanya yang membengkak dengan hidung yang memerah.
Sebenarnya ini bukan juga yang pertama kali, setiap kali mereka melakukan itu pasti akan menjadi airmata kesedihan untuk Luhan. Bagaimana tidak, di saat Suamimu melakukan itu ia malah menyebutkan nama orang lain berulang kali. Luhan sadar, sekeras apapun ia mencoba Chanyeol tetaplah Chanyeol yang mencintai Baekhyun dan tidak akan pernah berubah menjadi mencintai Luhan.
Luhan selalu mencoba untuk menjadi yang seorang istri yang baik, walaupun sakit Luhan akan mencoba untuk kuat dan tegar. Seperti beberapa kali Chanyeol akan memanggilnya dengan panggilan Baekkie, tapi Luhan hanya mengabaikannya. Chanyeol memang tidak pernah sadar dengan apa yang ia katakan, bukankah aku sudah pernah bilang Chanyeol bagaikan punya 2 dunia. Dimana dunianya bersama Baekhyun dan dunia nyatanya bersama Luhan.
Luhan mengusak wajahnya dengan kasar, merapikan nasi bento yang ia siapkan untuk Chanyeol setelah itu menuju kamar mereka untuk berganti pakaian. Sudah hampir jam makan siang, Luhan harus bergegas segera.
..
..
..
Baekhyun menatap Chanyeol dengan senyuman cerahnya, lalu setelah itu ia bangkit dan memeluk Chanyeol dengan hangat. Chanyeol hanya mematung, mencoba mengontrol dirinya dengan baik.
Baekhyun melepaskan pelukannya dan setelah itu ia menatap mata Chanyeol dalam, Baekhyun melihat tatapan Chanyeol yang kosong dan dengan sedikit berjinjit Baekhyun mencium kedua mata Chanyeol lalu kedua belah bibir Chanyeol. Baekhyun sedikit melumat bibir Chanyeol dengan lembut, tapi Baekhyun tidak segera mendapatkan balasannya dan saat ia melepaskan bibirnya dari bibir Chanyeol satu tetes airmata jatuh membasahi pipi putihnya. Dan dengan cepat pula Baekhyun mengusak airmatanya dan kembali tersenyum.
"Kau tau, ini pertama kalinya aku mendatangi ruangan Presdil Park, kau tau bukan saat itu aku tidak bisa melihat jadi ini menjadi pertama kalinya" Baekhyun menatap ruangan Chanyeol dengan kagum. Lalu ia menatap Chanyeol yang masih tidak bergeming, Baekhyun menarik bibirnya tipis setelah itu ia berjalan ke arah sofa dan mendudukan dirinya disana.
"Ruangan ini sangat luas Yeollie~ aku suka sekali" Chanyeol menatap Baekhyun, terlihat peluh membasahi dahi Chanyeol dan wajah Chanyeol yang memucat. Baekhyun tidak menyadari itu, ia terus saja menatap sekeliling ruangan Chanyeol.
"Tapi ada satu hal yang tidak aku suka-" Baekhyun menatap Chanyeol tajam, sempat terlihat raut khawatir saat melihat keadaan Chanyeol tapi dengan cepat ia membuang wajahnya agar tidak menatap Chanyeol.
"Disana. Aku tidak suka itu" Baekhyun menunjuk satu figura tidak terlalu besar tapi cukup besar dengan bingkai mewah dan terlihat foto Luhan yang bersandar pada bahu Chanyeol dengan memakai baju pengantin.
Chanyeol masih tidak bergeming. Ia masih menatap Baekhyun, menatap Baekhyun dengan pandangan kosong yang sangat aneh. Baekhyun berjalan menuju figura itu dan tersenyum sedih.
"Kau menyakitiku lagi Yeollie" Baekhyun tidak bisa menahannya lagi ia kembali menangis. Menangisi semua yang terjadi padanya, mengapa Tuhan begitu keras membuat hukuman untuknya, bahkan Baekhyun saja tidak tau dimana letak kesahalan yang ia buat sampai hati Tuhan menghukumnya seperti ini.
Chanyeol memegangi kepalanya dengan kasar, dengan sedikit terhuyung sampai ia berhasil menahan tubuhnya pada dinding di dekatnya. Baekhyun yang melihatnya segera berlari ke arah Chanyeol.
"Yeollie ada apa denganmu? Kau baik baik saja?" Baekhyun memegang kedua bahu Chanyeol dengan lembut dan menatap Khawatir Chanyeol.
"Arghhh" Wajah Chanyeol memerah dan terlihat peluh semakin membanjiri keningnya. Baekhyun menangis. Baekhyun terisak kasar dan terus menyebut nama Chanyeol berkali kali, sedangkan Chanyeol hanya berteriak kesakitan. Baekhyun berteriak minta tolong. Dan tiba tiba ia mendengar suara pintu yang dibuka dengan kasar.
BRAK
"To-tolong panggilkan amb-" Baekhyun jatuh dengan kasar karena seseorang mendorongnya dengan kencang. Dan saat Baekhyun melihat siapa yang mendorongnya Baekhyun mematung di tempatnya.
Luhan. Wanita itu berada disini, Luhan dengan cepat menghubungi ambulance lalu setelah itu ia memeluk Chanyeol dengan lembut. Baekhyun membola, airmata kembali keluar dari kedua mata kecilnya semakin deras.
"Tenanglah Chan, aku disini. Aku tau kau bisa mengontrolnya dengan baik, tenanglah" Luhan terus menenangkan Chanyeol, Chanyeol masih terus memegangi kepalanya kasar dan berteriak kesakitan.
Dan saat ada dua petugas yang masuk ke dalam ruangan Chanyeol, dengan cepat mereka membawa Chanyeol menuju rumah sakit.
..
..
..
To Be Continued
..
..
..
Sorry for late update /bow/
Maafkan untuk Chapter ini, Berbi Ra dan Princess Eno bener bener cekcok soal akhir yang seperti apa untuk ff ini, so jika kalian ada saran bagaimana Ending untuk ff ini silahkan tinggalkan kalimat cinta kalian di Kotak review hehehe
Terimakasih -
