THE GATE OF DIMENSION (NARUTO X READER)

Author : honeyhamaadaa

BAHASA INDONESIA

Guide :

(Y/N) = Your Name

(L/N) = Last Name

(H/C) = Hair Color

(E/C) = Eye Color

(F/C) = Favorite Color

CHAPTER 2

BERASAL DARI MANA DIA?

.

.

.

.

.

.

.

"Konoha?"

Seketika hatiku terasa geli, bicara apa para anime cosplayers ini?

"Hahahaha..." tanpa ragu kulepaskan tawaku. Mana mungkin aku berada di desa fiksional seperti Konoha.

Apa para anime cosplayers ini benar-benar terobsesi dengan serial si landak kuning itu?

Kulihat orang-orang yang ada didepanku mengerutkan kening dan mengangkat sebelah alis mereka dalam kebingungan.

"Kalian sudah gila ya? Mana mungkin ini desa Konoha" kulontarkan kata-kata itu dengan mudahnya sambil melepaskan tawaku lagi, "Konoha hanya desa khayalan, kawan".

"Apa katamu?! Desa khayalan? Kau sudah gila ya? Kau benar-benar berada di sini, bodoh.." kulihat pria yang meniru gaya Naruto itu terlihat emosi dengan jawabanku.

"Aku masih waras, bodoh" jawabku sambil memutar mata. "Aku baru saja membaca komik tentang kartun tercinta kalian, Naruto" jawabku.

"Komik? Tentangku?" Mata biru pria berambut kuning itu menunjukkan kepolosan ketidaktahuannya.

Krikk.. krikk..

Ruangan itu hening, semua menatap Naruto gadungan itu dengan tatapan aneh.

"Aku merasa ada hal ganjil" pria berambut putih silver tiba-tiba angkat bicara. Apa maksudnya?

"Hal ganjil?" Gadis berambut pink itu bertanya.

Hal ganjil? Pikiranku pun ikut bertanya. Hal ganjil apa?

"Akan kucari tahu mengapa gadis itu berbicara seperti itu, sepertinya dia benar-benar bukan berasal dari sini" pria berambut putih itu berbalik dan berjalan sambil membuka tabir putih yang ada di hadapannya. "Jaga dia baik-baik ya" ia pun pergi.

Apa maksud perkataannya tadi?

"Baik, Guru" yang lainnya menjawab.

Gadis berambut pink itu menoleh dan mengulurkan tangan, "Namaku Sakura, siapa namamu?" Tanyanya.

"Namaku (Y/N), senang berkenalan denganmu" aku tersenyum membalas tindakan manisnya.

"Namaku Sai" pria pucat itu tiba-tiba angkat bicara sambil tersenyum, "Senang berkenalan denganmu" ia melambaikan tangannya.

Aku hanya tersenyum padanya sebagai balasan. Lalu aku menoleh ke arah pria yang sedang ber-cosplaying sebagai Naruto.

Sulit dipercaya, dia sangat mirip dengan aslinya. Butuh berapa banyak biaya yang ia keluarkan untuk ber-cosplaying seperti ini?

"Jadi.. siapa nama asli si peniru Naruto ini?" Tanyaku tanpa ragu sambil menunjuk pria berambut kuning itu.

Seketika Sakura dan Sai berekspresi aneh dan kebingungan mendengar kata-kataku. Memangnya apa yang salah? Dia memang cosplayer-nya Naruto bukan?

"Peniru Naruto? Hey, bodoh! Aku ini memang Naruto! Uzumaki Naruto!" Si landak kuning itu protes.

"Hahahaha, kau ini benar-benar terobsesi dengan kartun bodoh itu ya? Dengar ya, yang kutahu Naruto hanyalah karakter khayalan bodoh ciptaan Masashi Kishimoto. Kau tahu itu kan? Jadi berhentilah mengaku-ngaku sebagai Naruto" jawabku sambil melipat tangan.

"Kau ini bicara apa? Siapa itu Masashi Kishimoto? Benar-benar tidak bisa dimengerti kau ini" Si landak kuning itu terlihat bingung.

"Haduh.." aku menutupi wajahku dengan telapak tangan.

Cosplayer aneh.. pencipta kartun obsesinya sendiri saja tidak tahu.

"Sudahlah Naruto.. tidak usah bahas itu.. 'iya' kan saja semua pendapat gadis ini" kudengar Sai membujuk 'Naruto' untuk mengalah. Ya, sebaiknya begitu. Takkan ada habisnya jika membahas pendapat para cosplayer aneh ini.

"Dia benar, Naruto. Mungkin Naruto yang dimaksud (Y/N) itu Naruto yang lain" ujar Sakura.

"Huh.." si landak kuning itu menghela nafas, "Baiklah" jawabnya.

"Jadi nama orang ini memang Naruto?" Tanyaku.

Sakura mengangguk, "Ya".

Aku tersenyum, "Salam kenal ya" kutepuk lengan Naruto. "Maaf atas ketidaksopananku tadi, mungkin kau hanya mirip dengan karakter fiksi yang kubaca dari komik milik Ben-" kupotong kalimatku sendiri, seketika aku teringat dengan keluargaku yang tadi masih ada di kapal.. "Tunggu.. Ben.. Gwen.. Grandpa Max!" Rasa panik mulai melonjak memenuhi pikiranku.

"Ada apa, (Y/N)?" Tanya Sakura.

"Keluargaku.. mereka masih berada dalam kapal saat badai itu terjadi" jawabku.

"Jadi keluargamu hilang?" Tanya Sai.

Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya.

"Baiklah" Sai berbalik, "Aku akan laporkan ini kepada guru Kakashi" ia pun memulai langkahnya untuk pergi.

"Guru Kakashi?" Tanyaku.

"Ya, pria yang memakai penutup wajah" jawab Sakura.

"Oh" jawabku singkat.

"Jadi, sekarang bagaimana?" Tanya Naruto.

"Hmm.." Sakura tampaknya sedikit berpikir. "Biar kuperiksa kondisinya" ucapnya.

Ia pun menaruh satu telapak tangannya di atas dadaku (tapi tidak menempel) seolah-olah tangannya adalah sebuah stetoskop dokter. Lalu keluarlah caha ya hijau dari tangannya.

Wow... apa gadis berambut pink ini memiliki kekuatan medis? Sulit dipercaya.

"Kondisimu sudah membaik" ucapnya dan menarik kembali telapak tangannya.

"Wow.. bagaimana caranya kau melakukan itu? Kau.. punya.. kekuatan super?" Tanyaku dengan polosnya.

Seketika Sakura tersenyum geli mendengar pertanyaanku. "Itu chakra medisku" jawabnya.

Chakra... ya.. yang kutahu chakra adalah pusaran energi yang ada didalam tubuh.

Hebat.. sepertinya ia sudah bisa mengendalikan salah satu dari ketujuh pusaran energi yang ada di dalam tubuhnya untuk mengobati orang lain. Menakjubkan.

"Hebat.." ucapku dengan polosnya.

"Kau belum pernah melihat yang seperti itu di tempatmu?" Tanya Naruto.

Tanpa ragu aku menggelengkan kepala.

Naruto menyeringai, "Akan kutunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari itu" ucapnya.

Author's P.O.V

- Kantor Hokage -

"Sepertinya ini masalah serius" Tsunade menaruh dua jarinya di dagu sambil berpikir sesuatu. "Apa kau yakin gadis itu benar-benar berasal dari dimensi lain?" Tanyanya lagi kepada Kakashi.

"Sangat yakin, Nona. Dia menganggap bahwa kami dan desa ini adalah sebuah khayalan" jawab Kakashi.

"Apa yang membuatmu yakin akan hal itu?" Tanya Tsunade.

"Dia mengira bahwa kami adalah 'peniru' dari karakter buku yang ia baca sebelum ia tenggelam" jawab Kakashi.

"Tunggu, dia mengira semua ini adalah khayalan? Apa dia sudah gila?" Tanya Shizune.

"Tidak, Nona Shizune. Tidak ada gejala-gejala kelainan jiwa pada gadis itu, Sakura sudah memeriksanya dengan teliti. Sepertinya gadis itu terpengaruh genjutsu seseorang hingga ia terlempar ke dalam dimensi yang menurutnya adalah dunia khayalan" jawab Kakashi.

"Hmm.. perkiraanmu cukup masuk akal, sebaiknya kita selidiki ini secepatnya. Akan kutemui gadis itu untuk memeriksa apakah benar ia terpengaruh genjutsu atau tidak. Sebaiknya kau kembali ke laut untuk melakukan-" belum selesai Tsunade berbicara, suara ketukan pintu memotong kalimatnya.

"Masuk" jawab Tsunade.

Sai pun muncul dibalik pintu yang dibukanya, ia pun mengambil beberapa langkah untuk masuk. "Maaf jika aku mengganggu pembicaraan kalian, ada satu hal yang berhubungan dengan (Y/N).. gadis yang kami temukan saat patroli laut".

"Beri tahu kami, cepat" jawab Tsunade.

"Ternyata (Y/N) bersama keluarganya di sebuah kapal pada saat badai itu terjadi. Jadi... keluarga (Y/N) menghilang setelah badai" jelas Sai.

"Pemberitahuan bagus, Sai. Kakashi, kembalilah ke laut dan lakukan penyelidikan sekaligus pencarian terhadap keluarga (Y/N) bersama Guy, Kurenai dan Shikamaru. Sai, sampaikan pesan misi dadakan ini kepada Guy, Kurenai dan Shikamaru, lalu wawancarai (Y/N) untuk meminta data ciri-ciri keluarganya" ujar Tsunade.

"Baik Tsunade-sama" jawab Kakashi & Sai serempak.

Dengan sigap Sai mengeluarkan perangkat menggambarnya dan mulai menulis sesuatu. "Choju Giga!" Seketika beberapa ekor burung keluar dari kertas itu dan terbang keluar dari kantor Hokage untuk menyampaikan pesan.

Naruto's P.O.V

Kulangkahkan kaki untuk keluar dari rumah sakit bersama (Y/N) dan Sakura. Syukurlah (Y/N) sudah pulih sekarang.

Kuperhatikan matanya memancarkan tatapan aneh saat melihat pemandangan sekitar desa. Apa yang salah? Apa lingkungan di sini terlalu kuno baginya?

"Desa ini seperti kota Nagi di daerah Okiyama, Jepang" ucapnya.

Lagi-lagi ia berbicara hal yang tidak bisa dimengerti. Apa benar hal yang dikatakan guru Kakashi bahwa (Y/N) memang benar-benar bukan berasal dari Negara Api yang kutinggali ini? Jika demikian, berasal darimana dia?

"Apa itu tempat tinggalmu?" Ditengah pemikiranku tentang daerah asal (Y/N), Sakura melontarkan pertanyaan yang tepat kepada (Y/N).

"Bukan, aku pernah berkunjung ke sana saat liburan musim dingin" jawab (Y/N).

"Lalu dimana tempat tinggalmu yang sebenarnya?" Tanpa ragu kukeluarkan pertanyaan itu.

"Aku tinggal di Tokyo, Jepang" jawabnya.

Tokyo? Kota apa itu? Tak pernah kudengar nama kota itu sebelumnya. Aku menoleh ke arah Sakura sebagai kode pertanyaan ia tahu kota itu atau tidak, namun nihil, ia menjawab kode itu dengan mengangkat bahunya tanda ia juga tidak tahu.

"Aku merasa ada hal aneh, mengapa kalian sama sekali tidak tahu hal apapun yang kubicarakan?" Tanyanya. "Apa pembicaraanku tidak masuk akal?" Lanjutnya.

"Ya, hal-hal yang kaubicarakan sama sekali tidak bisa dimengerti dan terlalu asing, menurutku.." jawabku.

Kulihat ia menundukkan kepala, "Sebenarnya dimana aku ini? Apa aku sudah mati dan terjebak di dunia lain? Yah kurasa aku sudah mati" Terlihat sekali ekspresi pesimisnya dari raut murung wajahnya.

"Hey, jangan berbicara seperti itu" kuputuskan untuk berhenti di hadapannya. "Lihat aku, (Y/N)" kusentuh kedua bahunya. "Lihat dirimu, (Y/N). Kau masih bisa menghirup udara, bukan? Matamu masih bisa melihat dengan jelas, bukan? Syukuri itu.. (Y/N).. kau masih hidup, jangan pikirkan soal perbandingan tempat ini dengan tempat tinggalmu, yang terpenting bagimu adalah bagaimana caranya kau menyesuaikan diri dengan tempat yang asing bagimu. Kami para Shinobi Konoha akan berusaha membantumu menemukan keluargamu yang hilang dan memulangkan kalian ke Tokyo" tanpa direncanakan kata-kata itu keluar begitu saja.

"Naruto benar, (Y/N).. saat ini kau hanya perlu bersabar. Kami akan berusaha" Sakura turut andil untuk menyemangati (Y/N).

Akhirnya senyum kecil terukir di bibir (Y/N). Cukup manis. "Terima kasih dorongannya" ucapnya.

Aku hanya tersenyum melihatnya merasa lebih baik.

"Oh ya, kau bilang kau ingin menunjukkan sesuatu yang keren kepadaku?" Tanyanya. "Bisakah kau tunjukkan itu kepadaku?" Lanjutnya.

"Ikut aku" jawabku dan menuntunnya ikut ke suatu tempat.

.

.

.

.

Bersambung..