disclaimer: SVT © Pledis Entertainment. I write this for the simple reason which is self-pleasure, thus it doesn't gain any moneys or whatsoever.
CHAPTER 1 – Right Now, I'll Fall in Love
Senin itu adalah hari pertama semester genap tahun kedua Jihoon bersekolah di Akademi Pledis. Gadis itu bangun pagi, mencuci muka dan menyikat gigi, mengganti piyama tidurnya dengan seragam, duduk di meja rias dan mengikat rambutnya dengan karet warna-warni lalu turun ke lantai bawah dengan tas beruang kesukaannya di punggung.
Ibunya, Jung Soyeon, dengan celemek cantik terikat asal di pinggang dan rambut yang digelung ke atas urung melangkahkan kakinya meniti tangga. Jihoon menyeringai mendapati tatapan ibunya bergulir dari atas hingga bawah. Dia menjentikkan jari.
"Aku tahu pertanyaan yang mau Ibu ajukan."
Zutto Mae Kara Suki Deshita
chapter: 1/30
rating: teenager (pg-12)
lenght: multi-chapter (series)
genre(s): school-life, romance, friendship, hurt/comfort, slice-of-life
pairing: multi-pairing (final – ot3 seunghansoo, hozi, gyuwon, verkwan, seokjun, chanhao)
warning(s): alternate-universe; face-paced style; teenager-life; genderbender/genderswitch/sex-reverse; beware of much drama; complicated relationship; contain cheesy-lines, delicate chara and crack on the future chapter
trigger(s): sekuhara; severe fighting scenes
Ibunya mengangkat alis. Berakting tertarik. Dia masih menilai tampilan anaknya—yang mana tidak biasa karena ini adalah sesuatu yang perdana. "Apa?"
"Tentang kenapa aku bisa bangun tanpa dibangunkan dan berangkat saat masih pagi buta."
Soyeon menunggu.
"Aku mau belajar jadi gadis dewasa." lontar Jihoon.
"Sungguh?" Soyeon bertepuktangan heboh. Wanita itu bisa menjadi kekanakan lebih daripada bocah karena pada dasarnya dia sendiri masih muda; interval usianya dengan Jihoon hanya dua dasawarsa. Jihoon mengerutkan hidung, mungkin alasannya susah dewasa juga dipengaruhi DNA. "Bukankah Ibu bangga padaku?"
"Hmm. Hmm." Mengangguk-angguk, dia mendorong punggung anaknya untuk jalan di depan. "Sekarang ayo ke meja makan. Ibu sudah siapkan nasi kimchi dan mi kacang hitam."
Saat tiba di dapur, Jihoon langsung menyambar roti dan menyemirnya dengan mentega tipis-tipis. "Sepertinya aku akan sarapan hanya dengan ini, Bu."
"Kau tidak menunggu Soonyoungie menjemput?"
"Tidak."
"Kenapa?" Soyeon menahan senyum. Mengikuti sang anak yang tak mengambil banyak waktu untuk bermain-main dan segera ke ruang depan untuk mengenakan sepatunya.
Sadar belum menjawab pertanyaan, Jihoon menggeleng—mustahil untuk membagi alasan pada ibunya; setidaknya bukan sekarang. Selembar roti berada dalam rongga mulut. Dia melakukan dwitugas; mengunyah sarapannya dan mengikat sepatu.
Mengepalkan tangan kiri, Jihoon mengeratkan pegangan pada tali tasnya. Tangan kanannya memantapkan sepatu tali yang dia pakai. Kemudian, dia berdiri dan mencium pipi Soyeon. "Aku pergi sekolah dulu, Bu."
Di ambang pagar, Soyeon menyaksikan punggung anak perempuannya menjauh, "Hati-hati di jalan, Sayang." katanya. Cukup keras terdengar hingga Jihoon tersenyum. Soyeon kembali masuk beberapa menit kemudian—sebab dia sendiri harus bersiap untuk pergi ke kantor.
Jihoon menatap sekitar. Dia baru tahu mengapa sebagian orang rela bangun pagi dan berangkat saat masih ada sisa waktu untuk tidur lebih lama. Dia menyesal kenapa tak melakukannya sejak lama; karena langit pagi yang merona ternyata sangat indah bila dilihat langsung, bahkan lebih indah daripada di lukisan.
Motifnya cukup banyak bila dijabarkan. Pendek kata, Jihoon ingin membuat langkah baru. Dia ingin berubah menjadi sebenar-benarnya gadis (setidaknya, dia ingin bangun pagi karena mendapat ilham lewat sepotong kalimat).
Dua hari terakhir sebelum liburan berakhir, Jihoon membaca sebuah artikel. Rubrik remaja. Artikel itu menyatakan bahwa kehidupan seorang perempuan akan sempurna jika tiga hal ini terjadi: satu – ketika ibu mereka tersenyum karena dirinya, dua – mensyukuri kehidupan dan menyadari bahwa dunia ini sangat menakjubkan, dan tiga – mendapatkan laki-laki sejati yang rela mengorbankan apapun demi mereka.
Akan tetapi, tiga hal itu tidaklah gratis. Semua perlu kompensasi. Dia telah mendapatkan yang pertama karena Soyeon memang tersenyum atas usahanya bangun dan berangkat sekolah tanpa dibangunkan. Dia juga mendapatkan yang kedua, karena apa yang dikatakan artikel itu benar, bahwa dunia itu indah. Bahkan, tempatnya tinggalnya yang luput dari perhatian menjadi menyenangkan saat belum banyak pejalan kaki berjubel di trotoar. Tampaknya, Jihoon harus melakukan ini setiap hari. Cuma yang terakhir yang belum terlintas dalam benak.
Tentu saja keinginan Jihoon tak muluk-muluk amat. Untuk pernyataan yang ketiga, Jihoon tidak merasa dia harus buru-buru mendapatkan karena semua hal butuh proses. Dia hanya berharap laki-laki itu bukan orang asing. Lagipula, itu bisa belakangan.
Jihoon menarik oksigen segar, rakus mengisi paru-parunya. Dia terpejam. Bisa menerawang bahwa harinya akan menyenangkan.
Bagaimanapun, harinya tidak berjalan sesuai harapan karena ada hama tidak diduga. Belum ada lima menit Jihoon berharap, langkahnya dihadang. Segerombol laki-laki berseragam sekolah acak-acakan (seragamnya berbeda jadi Jihoon pikir mereka bukan dari sekolahnya) mengitarinya, membuatnya tidak bisa pergi ke mana-mana. Beberapa dari mereka menindik telinga dan menarik rambutnya ke belakang dengan tatanan punk.
Kemudian, salah satu dari mereka maju dan Jihoon mendapat firasat tidak enak.
Mungkin itu salah Tuhan. Mungkin juga itu salah orangtuanya. Atau mungkin itu salah kedua pihak karena telah membuatnya terlahir dengan badan mungil dan wajah yang seperti anak kecil.
Jihoon sudah membuat tameng. Bersikap galak, berkata-kata kasar, dan mengeluarkan aura permusuhan kentara. Maka, dia masih belum bisa mengerti kenapa laki-laki selalu menganggapnya menarik.
Tubuhnya merinding saat dagunya diangkat. "Pagi, Manis~"
"P-pagi ..." jawabnya, terbata-bata. Jihoon menyingkirkan tangan laki-laki asing itu; sebab tangan itu sudah lancang menyentuh wajahnya. Selain itu, Jihoon juga merasakan banyak pertanda aneh karena menurutnya, laki-laki ini tidak akan berhenti sampai di situ saja.
Laki-laki itu menerbitkan seringai—yang bagi Jihoon sangat mengerikan, membuat badannya gemetar tanpa sadar. "Aku baru melihat gadis mungil sepertimu. Kau anak baru, ya? Kelas satu, kelas dua?" Pipi Jihoon ditangkup. "Cantik."
Sebenarnya, tidak tepat jika laki-laki itu dikatakan asing. Jihoon tahu dia. Dia adalah Yunsik. Jung Yunsik dari Akademi Gakuza. Dia terkenal di kalangan pelajar sekolah karena trek berkelahinya hampir menyamai jumlah kertas dalam buku catatan Jihoon. Jihoon tak berkeinginan menjalin pertemanan atau mengenal Yunsik, jadi dia mengarang alasan: "Permisi, Sunbae. Aku harus segera pergi karena pagi ini aku dapat giliran piket, jadi—"
Lengan Jihoon ditarik saat dia mencoba melarikan diri.
"Ayolah. Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku," Yunsik menelengkan kepala.
"A-aku minta maaf, t-tapi aku benar-benar harus pergi—"
"Jangan tergesa-gesa begitu. Masih ada setengah jam lagi sampai bel masuk. Bagaimana jika kita menghabiskannya dulu sebentar di sini. Tenang saja, nanti kuantar kau ke sekolah. Tidak akan terlambat."
"B-bukan itu masalahnya."
Yunsik memajukan wajah. Menatap Jihoon dengan pandangan mendominasi. Jihoon makin ketakutan. "Mungkinkah ... kau takut padaku?"
Jihoon menegakkan tubuhnya, berakting tak gentar sementara perasaan khawatir berkumpul jadi satu di dadanya. "A-aku tidak."
"Suaramu bergetar."
"Aku tidak punya waktu berurusan dengan bajingan gila sepertimu!" ucapnya lantang, dalam satu silabel dan tepat di depan muka Yunsik.
Yunsik mengerutkan bibirnya, nampak terpancing dengan kalimat Jihoon. "Kau barusan bilang apa?"
Jihoon menggeram, kesabarannya sudah diuji dan dia tidak bisa menolerir lagi. Yunsik benar-benar membuatnya tak nyaman. "Aku katakan, kau adalah bajingan. Selain bajingan apakah kau juga tuli?" Dia menginjak kaki Yunsik dan membuat laki-laki itu mengaduh, berjinjit di atas satu kaki dan menahan sakit karena perlakuan Jihoon barusan sungguh di luar dugaan.
Mengambil kesempatan, Jihoon mengerat pegangan pada tali tasnya dan melangkah lebar. Tapi karena dia perempuan, Yunsik mencegahnya berlari jauh.
"Eits eits. Tunggu dulu." kata Yunsik saat berhasil menghadang, membuat senyum miring. "Kaupikir kau bisa pergi setelah melakukan itu padaku? Hah?" bentaknya.
Jihoon membulatkan mata lalu meludahi wajah Yunsik. "Dasar laki-laki rendahan. Aku paling tidak suka dibentak." Karena semasa hidup dulu, mendiang ayahnya bahkan tak pernah bicara dengan nada keras pada gadis itu.
Yunsik terpana. "Oh. Menarik sekali." Dia melap wajahnya yang barusan diludahi Jihoon dengan punggung tangan. "Baru kali ini aku menemukan mainan yang melawan." Laki-laki itu lalu membuat gestur yang membangkitkan ketakutan Jihoon berkali-kali lipat.
Jihoon dikurung tidak bisa pergi ke manapun karena jika dia melangkah ke sisi tertentu, ada anak buah Yunsik berjaga di sana. "Harusnya kau belajar. Aku tidak berniat main kasar, tapi kau yang meminta. Apa boleh buat." Yunsik mengangkat bahu, tanpa dosa.
Pinggang Jihoon ditarik. Jihoon benci ini. Dia ingin melawan, tapi kekuatan perempuan tidaklah seberapa terhadap laki-laki yang sedang naik darah. Dagunya dinaikkan, matanya dipaksa bertatapan. Jihoon menolak, pipinya ditampar. Tangan Yunsik merayap ke bokong Jihoon. Jihoon bergulat dengan putus asa karena tangannya sendiri dikunci di belakang punggungnya. Satu persatu kancing seragamnya dipreteli, dan Jihoon hanya mampu berkata, "Jangan ..." sambil menahan airmata jatuh. Sebab, dia tak mau terlihat lemah di depan bajingan yang mencoba menang atasnya.
Saat kancing seragamnya hampir terbuka seluruhnya, kuncian lengannya terbuka dan dia dibawa ke pelukan hangat yang akrab dalam ingatannya.
Yunsik tersungkur dengan hidung berdarah. Matanya nyalang, murka pada siapapun yang sedang memeluk Jihoon sekarang. Jihoon tak butuh mendongak karena suara penyelamatnya sudah teregister dalam memori jangka panjang dan jangka pendek. Terlalu familier untuk dilupakan.
Sahabatnya sedari kecil. Teman sekelasnya. Laki-laki yang selalu berada di dekatnya; Kwon Soonyoung.
Soonyoung menatapnya, "Kautunggu di belakangku, oke. Jangan bergerak sedikitpun."
Jihoon mengangguk, terpatah.
Perhatian Soonyoung kemudian pindah ke Yunsik. "Hal kotor apa yang kaulakukan pada gadis lemah?" Sengaja dia merendahkan suaranya, "dasar tengik."
Yunsik mengesah. "Aku tidak tertarik bermain dengan pemuda tentu saja." Matanya berhenti di dada Jihoon—yang sekarang bersembunyi di belakang Soonyoung dan memandang Yunsik dengan ekspresi sukar dibahasakan, "dan karena gadis itu punya ukuran yang menyenangkan."
Soonyoung meninju lagi, kali ini di pipi lawannya sampai membuat gusi yang berbenturan dengan sudut mulut berdarah. "Kau sungguh punya mulut yang pintar bicara."
"Hah?" Yunsik tidak terima, menggulung lengan kemeja.
"Jaga ucapanmu jika tidak ingin terlibat denganku."
"Man. Apa masalahmu?" Yunsik geram. Dia memejamkan mata, emosinya memang di ubun-ubun. Tapi, dia merentangkan tangan untuk mengajak kompromi.
Alis Soonyoung bertaut. "Tentu saja jadi masalahku. Kau masuk dan mengajakku berurusan. Harusnya kautahu aku tidak bisa begitu saja tinggal diam."
Yunsik memberi pandangan laser pada Jihoon. "Memangnya apa urusanmu dengan gadis itu?!"
Tanpa pikir panjang, Soonyoung menyerang dengan sebuah pukulan telak di perut Yunsik. "Dia milikku."
Perlu semenit bagi Yunsik untuk memproses seluruh serangan Soonyoung, tapi dia masih belum gentar. Dia berdiri, hampir oleng, tapi mencegah anak buahnya bertindak karena itu akan mencoreng harga dirinya. "Woah. Aku ternyata sudah berurusan dengan Kwon si harimau. Apakah ini pertanda hari buruk?" tawanya.
Bagaimanapun, anak buah Yunsik pasang kuda-kuda. Salah satu dari mereka bersiap dengan kepalan mantap. Yunsik melap darah dari hidungnya dengan jari telunjuk. Dia pasang kuda-kuda juga, merenggangkan kepala hingga terdengar bunyi gemerutuk, dan mengendurkan jari-jari. "Kalau tidak salah, kau masuk ke Akademi Pledis, ya. Lumayan juga bagimu."
Soonyoung tersenyum kecil, tapi cenderung lurus. Bahasa tubuh yang menandakan tak tertarik. "Karena aku punya otak daripada seseorang yang harus dikeluarkan dan melanjutkan pendidikan di sekolah pinggiran."
Jihoon berkedip. Geming di tempatnya. Dia bergantian melirik kedua pihak yang saling bertentangan.
"Kurang ajar!" Kepalan tangan Yunsik terarah langsung ke wajah Soonyoung.
Jihoon tidak mengantisipasi kapan, tapi sebelum Yunsik berhasil membuat tinjuan ke lawannya, tangan Soonyoung sudah menawan kerah seragam Yunsik dan membuat kaki laki-laki pengganggu itu terangkat beberapa inci dari permukaan tanah.
Yunsik bergeliat dalam posisinya. Lalu, Soonyoung meninjunya berulang-ulang hingga Yunsik terbatuk-batuk.
"Sori. Tanganku terpeleset." katanya, setelah puas meninju. Dan membebaskan Yunsik berdiri dengan kakinya.
"Kau benar-benar membuatku meledak!" Yunsik membelalak seperti bolamatanya akan melompat keluar. Kemarahannya sudah tidak bisa ditolerir, jadi dia menyerang membabibuta—mungkin Soonyoung telah membuat langkah yang salah karena telah melepaskannya tadi.
Soonyoung cukup kewalahan juga. Yunsik menendang tulang keringnya, sehingga Soonyoung tersungkur. Anak buahnya memegangi lengan Soonyoung, Yunsik memberi tinju balasan yang sama kuatnya seperti yang dilakukannya pada laki-laki itu. Mulut Soonyoung mengeluarkan darah. Namun Soonyoung belajar di perguruan bukan untuk sesuatu yang sia-sia; jadi, sebelum pukulan ke sekian Yunsik terhadapnya, dia mengelak dengan mundur dan memanfaatkan titik buta. Dia membenturkan kepala anak buah Yunsik, membuat mereka melihat bintang-bintang dalam satu gerakan. Satu-persatu dari mereka tumbang, memegangi lengan yang serasa patah dari dalam atau kaki yang lunak bagai jeli.
Yunsik sendiri KO dengan hasil duel yang timpang.
Sebelum mereka benar-benar enyah, Yunsik merendahkan tubuhnya, menyejajarkan mulutnya ke telinga Jihoon. Dia berbisik, "Ternyata kau jalangnya Soonyoung. Heh. Aku menyesal sudah meletakkan tanganku ke tubuhmu." Pandangan Yunsik dalam, menusuk. Jihoon mengkeret. Dia menundukkan kepala, menatap sepatunya.
Yunsik tak melupakan Soonyoung. Dia mengarahkan dua jari ke matanya dan melemparnya ke Soonyoung seperti mengimplikasikan: Aku mundur kali ini. Tunggu pembalasanku. Begitu gerombolan itu pergi, Soonyoung berbalik pada Jihoon. "Apa kau terluka? Mana yang sakit? Di mana si brengsek itu sudah menyentuhmu?"
Jihoon menggigit bibirnya. Kemudian, dia menggeleng. "Tidak ada. Jangan khawatir, Soonyoung." Karena kau harusnya lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri, lanjutnya dalam hati. Dia menepis tangan Soonyoung, menumbuhkan heran di kepala laki-laki itu tapi akhirnya dia mengerti. Badan Jihoon gemetar, tak begitu kentara tapi Soonyoung rasa gadis itu masih merasakan efek syok.
Soonyoung mendesis di bawah napasnya. "Lain kali akan kupatahkan tangan bajingan itu." Dia membuat kutukan dalam hati. Di luar, pandangannya melembut. "Tapi kenapa kau berangkat sendiri?"
Jihoon memalingkan muka, ke mana saja asal jangan Soonyoung karena laki-laki itu selalu pandai membaca dari tatapan mata. "Maaf." Pada akhirnya, hanya itu yang bisa dia katakan.
Tangan Soonyoung melayang, ingin sekali memberi tepukan di pucuk rambut atau sekedar merangkul gadis itu untuk menenangkan, namun ditahannya mati-matian. "Baiklah, jika kau belum ingin mengatakan alasannya."
"Maaf."
"Sudah kubilang, jangan pikirkan." Soonyoung berkata, "tapi saat aku ke rumahmu dan Bibi Soyeon bilang kau sudah berangkat. Ini benar-benar mengejutkanku. Kau kerasukan?"
Bibir Jihoon maju beberapa senti. "Yah! Kau bicara seakan-akan aku ini gadis termalas yang ada di dunia ini, huh!" Raut gadis itu terpana, melihat Soonyoung terkekeh dan ada bulan sabit tenggelam di matanya.
Soonyoung lega: Nah. Akhirnya kau tersenyum lagi.
Biasanya, mereka berangkat bersama. Soonyoung akan menjemput Jihoon ke rumahnya; Jung Soyeon menggeleng pasrah karena kelakuan anak perempuannya yang tahan tidur berjam-jam dan bangun kesiangan. Lalu, setelah diijinkan, Soonyoung akan masuk ke kamar Jihoon dan menarik selimut gadis itu. Jika dia masih belum bangun juga, Soonyoung memerangkap gadis yang masih tidur itu, berbisik rendah di telinganya: "Jika kau tidak bangun pada hitungan sepuluh, aku akan menggerayangi tubuhmu. Aku tidak main-main, Jihoon." yang membuat Jihoon refleks bangkit. Berlari ke kamar mandi. Jihoon akan bersiap dengan sisa waktu yang kurang dari duapuluh menit. Tak memedulikan penampilan, Jihoon menyandang tasnya dan menarik lengan Soonyoung pergi meninggalkan salam "Kami berangkat, Bu!" yang cukup keras. Jarak rumah mereka ke sekolah membutuhkan limabelas menit. Tidak akan sempat dicapai jika mereka berjalan biasa. Sehingga, mereka akan berlari dengan napas terengah-engah. Gerbang sekolah sudah ditutup oleh petugas keamanan; "Pulang. Kalian berdua terlambat." dan mereka akan saling menyalahkan tentang siapa yang berlari lebih lambat. Petugas keamanan tak ambil pusing. Belum mau menyerah, Jihoon memainkan jarinya dan berkata dengan kecewa: "Sayang sekali. Daftar presensiku kena coreng hanya karena terlambat beberapa menit. Padahal hari ini ada ulangan. Buat apa aku belajar keras semalam, ya?" wajahnya membuat mimik yang sedih—Soonyoung bahkan tak menyangka bagaimana bisa Jihoon mengatur ekspresi sehebat itu. Sang petugas keamanan langsung luluh. Akhirnya, mereka diberi ijin masuk. Jihoon melompat karena senang, menarik tangan Soonyoung masuk. Petugas keamanan memelototi Soonyoung yang merangkul pundak gadis itu lekat (dan karena Soonyoung melempar ejekan dengan menjulurkan lidahnya terang-terangan).
Jadi, menemukan Jihoon membuat inovasi dalam kesehariannya, tentu saja tidak disangka. Tapi Soonyoung senang, benar-benar dari dalam hatinya. Itu berarti pola pikir Jihoon telah menjadi dewasa.
Mereka larut dalam tawa untuk alasan yang sama-sama berbeda. Jihoon yang merasa kebetulan itu lucu karena sekeras apapun dia menjauh dari Soonyoung, dia pasti akan berakhir terlibat dengan laki-laki itu. Sementara Soonyoung puas karena gadis itu bisa tertawa setelah apa yang dialaminya.
Kemudian, secara tak sengaja, mata Soonyoung beredar dan terpaku pada satu spot. Mereka berdua memang telah membuang sumber kekacauan, tapi dampak khaos itu sendiri belum dibenahi sepenuhnya. Seragam Jihoon belum dikancing kembali. Bra kasual dengan motif strip-strip biru terbayang-bayang di pikiran Soonyoung. Soonyoung menggaruk tengkuk, memandang ke manapun kecuali gadis mungil di depannya. Jihoon belum mengerti kode nonverbal Soonyoung hingga laki-laki itu berkata: "Um. Tampaknya kau harus membenahi kekacauan yang dibuat Yunsik barusan." Telunjuk Soonyoung menunjuk seragam berkancing terbuka.
Muka Jihoon bagai kepiting rebus.
Soonyoung berbalik untuk memberi Jihoon ruang privasi. "Jangan lama-lama, kita bisa terlambat lagi."
Jihoon cemberut tapi berkata, "Yaa."
Setelah memberikan waktu bagi Jihoon untuk merapikan seragamnya seperti semula, Soonyoung bertanya sebagai klarifikasi. "Sudah selesai?"
"Mm-hmm."
Soonyoung mengambil posisi seperti pelari akan memulai garis mula.
"Kenapa kau berjongkok?" Jihoon bertanya.
"Naik ke punggungku. Aku gendong kau sampai sekolah."
"A-aku bisa jalan sendiri." Jihoon berjalan.
"Lihat. Kakimu terkilir. Jangan banyak protes dan cepat lakukan yang kuperintahkan. Kau bisa komentar kapanpun tapi jangan sekarang."
Mendapat jaminan, Jihoon akhirnya menurut. Tangannya mengalung di leher si teman masa kecil. Soonyoung menjalin tangannya tepat di bawah paha Jihoon. "Peluk yang erat atau kau akan jatuh, Jihoon."
Jihoon mendesis. Pipinya memerah (untuk alasan yang berbeda—dipikir-pikir, dia telah merona berkali-kali hari ini). Soonyoung terkekeh kecil, sebab tanpa dilihat pun dia tahu Jihoon sedang malu.
"Kenapa mereka bisa mengenalmu?" tanyanya, mencoba memecah kekakuan. Sebab, mereka sudah berjalan sekitar lima menit tapi tak ada satupun yang berbicara. Kemudian Jihoon terdiam panjang; menyadari bahwa yang sebenarnya ingin dia tanyakan adalah: Apakah wajahmu tidak kenapa-napa?
Soonyoung mengulum senyum, "Hanya kenalan biasa," katanya. "Aish, sial. Pukulannya sakit juga." Pipi Soonyoung lebam, ada bekas biru tercetak setelah Yunsik melayangkan tinjuan. Dia tidak membahasnya lebih jauh.
Jihoon terkenal sebagai kepala batu nomor satu. "Kau kenal Yunsik?"
Soonyoung mengeratkan pegangannya. Sejak dulu, gadis ini sama sekali tidak berubah. Masih pendek, dan rasa ingintahunya masih besar. Dia tidak akan selesai sebelum mendapat jawaban. "Dulu aku dan Yunsik belajar taekwondo di satu perguruan yang sama, sampai akhirnya dia tidak pernah datang lagi setelah kalah dariku dalam adu tingkatan. Kurang lebih begitu."
"Kalian bertanding?"
Anggukan. "Untuk merebut sabuk hitam."
"Kau ..."
"Mungkin dia masih menyimpan dendam padaku. Entahlah."
Jihoon hanya menelan pertanyaannya tak peduli betapa inginnya dia bertanya lebih jauh; sebab Soonyoung membuat hawa aneh yang memaku mereka terjebak dalam hening.
Jihoon minta diturunkan sepuluh langkah di depan gerbang sekolah. Dia bahkan lupa mengucapkan terima kasih dan langsung berlalu. Soonyoung berjalan mengekorinya dengan sikap siaga jika sewaktu-waktu gadis itu terjatuh, karena cara melangkah Jihoon agak pincang.
Temannya di Sekolah Menengah Pertama pernah bilang, Jihoon lebih baik mencari laki-laki lain untuk dikencani. Jihoon bertanya apa alasannya. Temannya mendesah: Karena Soonyoung yang kausukai tidak akan pernah menganggapmu lebih dari teman. Jihoon menolak gagasan itu. Di lain sisi, dia bingung. Benar juga yang dikatakan temannya. Hubungan macam apa yang sebenarnya dia dan Soonyoung jalani. Orang-orang di sekitar mereka kerap menyangka mereka adalah sepasang kekasih. Laki-laki itu memanggil ibunya dengan nama gadisnya; begitu pula Jihoon memanggil kedua orangtua Soonyoung dengan nama depan mereka.
Tujuhbelas tahun. Mereka menghabiskan tujuhbelas tahun berdua. Mulai dari mengenakan popok dengan merek jual sama; makan dan minum dari wadah yang sama; main di kotak pasir yang sama; mendaftar dan lulus dari sekolah yang sama; hingga menginjak dunia remaja juga bersama-sama.
Soonyoung selalu mengatakan bahwa Jihoon miliknya. Namun laki-laki itu tidak sekalipun mengatakan suka, atau menunjukkan tanda-tanda jika dia menginginkan Jihoon seperti seorang pemuda. Mereka selalu berdiri di tengah garis pemisah—dan Jihoon perlahan mengerti, bahwa akan sulit bagi orang yang terbiasa bersama untuk terikat dalam hal abstrak bertajuk cinta.
Jihoon menunggu. Dalam jangka yang tidak sedikit. Dia pernah menggantungkan harapan—jika mungkin, persahabatan mereka bisa melangkah lebih jauh ke tahap saling menyukai.
Sampai akhirnya dia lelah dan memutuskan mundur. Jihoon sempat melewati masa-masa patah hati dan mengurung diri di kamar. Seminggu berlalu dengan dia yang memblokir segala komunikasi, dia kembali ke sekolah (karena absennya perlu diperbaiki jika dia ingin tetap lulus). Dia pergi ke ruang kesehatan untuk bolos dan mencari ketenangan. Saat itulah dia bertemu dengan Joshua. Prosesnya lumayan panjang; tapi intinya Joshua membuatnya jatuh cinta untuk kedua kali, setelah dia menyadari perasaannya pada Soonyoung mungkin hanya akan jadi angan-angan.
Jihoon meletakkan tas di meja, lalu melangkah ke jendela. Dia baru akan terhanyut dalam lamunan saat laki-laki yang sedang dia pikirkan muncul dalam kenyataan. Joshua berjalan di tengah lapangan, akan masuk ke gedung utama, dikerubungi oleh banyak siswi yang mencoba menarik perhatian.
Dia memandangi Joshua. Entah ada angin apa, Joshua mengangkat kepalanya. Tatapan mereka berfusi. Jihoon tersihir tak bisa beralih ke mana-mana. Walau dari jarak bermeter, Jihoon bisa melihat Joshua melambai, bibirnya membentuk kurva yang membuat napas Jihoon tercekat beberapa detik. Seolah-olah, laki-laki itu sedang mengucap selamat pagi khusus untuknya.
Jihoon tak tahu dia mendapat urgensi dari mana, namun begitu dia sadar pandangannya sudah lumayan lama bertemu dengan manik Joshua, dia seketika menyembunyikan diri. Gerakan yang tiba-tiba membuat kepalanya terantuk sisi meja. Dia mengutuk dirinya sendiri atas sikap cerobohnya.
Di bangkunya, Soonyoung mengamati semua tanpa ada yang terlewat.
Begitu dia kembali menatap ke bawah dari jendela, Joshua sudah tidak di sana. Mungkin dia tengah meletakkan sepatunya di rak saat ini. Masih dengan dikerumuni gadis-gadis centil yang mengaku penggemar.
"Ada seseorang di bawah?" Soonyoung bertanya, melongok ke bawah mengikuti arah mata Jihoon menatap.
Jihoon mencebikkan bibir. Agak terkejut juga mendapati Soonyoung berdiri di sampingnya. Padahal setahunya tadi laki-laki itu duduk tenang di bangkunya. Sambil mengusap bekas antukan meja, Jihoon menyembur, "Memangnya kau harus mengetahuinya?"
Soonyoung mengerutkan bibir. "Tidak juga. Cuma tanya."
"Kalau begitu kubur rasa penasaranmu dalam-dalam karena aku tidak akan memberitahu," Jihoon menjulurkan lidah.
Lawannya merasa sedang dipanas-panasi. "... Siapa yang barusan kaulihat, Jihoon?"
"Apa urusanmu, sih?"
"Aku hanya ingin tahu."
"Aku tidak mau bilang."
"Jangan mengujiku." Soonyoung berkata. Intimidasi lekat dalam kalimatnya.
Jihoon mengerutkan dahi. "Apa masalahmu? Tiap hari kau selalu menempel padaku. Kita bicara tapi ujungnya kau mengajakku bertengkar terus. Aku tidak mengerti."
Soonyoung menarik pipi Jihoon, tapi respon gadis bersangkutan adalah tatapan mata yang menusuk.
"Jwangwan swentuh akwu swembwarangwan." (Jangan sentuh aku sembarangan.)
"Habis, Jihoon lucu kalau sedang marah." Bukan. Aku hanya ingin melihat lebih banyak ekspresi darimu.
Jihoon menepuk lengan Soonyoung. Panas menyebar di lengan Soonyoung dan membuatnya mengaduh. "Aw. Sakit, Jihoonie." ucapnya, separuh menggoda, separuh lagi benar-benar menyuarakan yang dirasakannya.
"Jangan sentuh aku sesukamu."
Terdengar bisik-bisik dari teman sekelas mereka. Jihoon bisa mendengar, walau terlalu pelan, ada siswi lain di kelasnya yang terang-terangan membicarakannya alih-alih hanya berjarak beberapa meter darinya. Lihat dia, dia bertingkah jual mahal lagi. Aku kesal sekali melihatnya. Lebih baik Soonyoung dengan Nayoung saja. Nayoung lebih cantik, lagipula. Jihoon bisa melihat Sujeong melempar pandangan benci terhadapnya. Tangan Jihoon mengepal, cukup kuat hingga kuku-kukunya menusuk buku-buku jari.
Jihoon tak menyukai rasa bersalah ini. Bukan salahnya jika Soonyoung mengikutinya. Dia tidak pernah meminta. "Menjauh dariku, Soonyoung."
"Kenapa aku harus?"
Karena jika kau terus menempel padaku, kau membuatku semakin dimusuhi gadis sekelas. "Kau menyebalkan." Jihoon berkata pelan.
Soonyoung tidak mengerti. "Coba ulangi. Aku tidak dengar yang kaukatakan."
"Kubilang, jangan melakukan sesuatu yang membuatku kesal!" Coba lihat situasinya, Soonyoung.
"Maaf?"
Perasaan Jihoon tumpah-ruah tanpa bisa dicegah.
"Berhentilah berlagak seperti kita berpacaran. Semua orang bisa salah paham!" Setelah berteriak begitu, Jihoon menghentakkan kaki keluar dari kelas. Sekilas, Soonyoung dapat melihat mata gadis itu berkaca-kaca. Dia sukses meninggalkan Soonyoung yang memperoleh atensi dari seisi kelas.
Soonyoung menggaruk tengkuknya. Dia tertawa hambar, terlalu keras. Lalu, pandangan Soonyoung berubah mengerikan; semua orang kembali ke kesibukannya masing-masing.
Dia menggeretakkan gigi. Dadanya serasa diremas kuat-kuat. Soonyoung tidak punya keluhan sakit jantung atau semacamnya. Hanya satu yang dia curigai sebagai penyebabnya. Satu-satunya yang tak bisa dia enyahkan; kalimat terakhir sebelum Jihoon meninggalkan kelas: "Aku membencimu, Soonyoung."
Seokmin membuat sengiran lebar saat melihat temannya melangkah lebar-lebar ke spot tongkrongan mereka jika istirahat makan siang tiba.
"Yoo~ wazzap!" tegurnya, mencoba menarik senyum lebar temannya yang biasanya selalu hadir di sudut bibir.
Alih-alih menjawab, Soonyoung mendobrak meja yang ditempati oleh Seokmin. "Sialan!" makinya keras. Pandangan seisi kafeteria langsung teralih padanya. Tak terkecuali Seokmin. "... Santai, Bro. Datang-datang sudah bawa hawa mau bakar kantin saja."
"Hibur aku, Seokmin." Soonyoung berkata. Stres bermanifestasi jadi hal tak kasat mata yang memberatkan pundaknya. Dia menarik bangku di samping Seokmin dan duduk.
Melihat temannya galau, Seokmin coba mengangkat suasana. Ide jahil muncul di kepala Seokmin. "Wah. Aku tidak menyangka bahwa kau berbelok jadi menyukai laki-laki."
Tapi kali ini Soonyoung tidak tertawa. Terkekeh kecil pun tidak. Tanpa diberitahu, Seokmin dengan cepat mengerti akar masalahnya.
Semenjak mereka bertiga ditempatkan dalam kelas yang sama, mustahil bagi Seokmin melewatkan kejadian kontroversial (paling tidak, dalam perspektifnya). Pagi tadi, sahabatnya dan Jihoon membuat drama. Drama yang seisi kelas bahkan tidak antisipasi. Keduanya memang sering bertengkar, tapi tidak pernah besar dan separah itu.
"Jihoon ... lagi?" Dia bertanya pelan. Telinga Soonyoung sangat sensitif dengan sebuah nama—Lee Jihoon, tepatnya. Pelipis laki-laki itu berkedut. Tebakan Seokmin mencetak presisi.
Soonyoung selalu memiliki sumbu kesabaran yang panjang; meskipun diledek koloni gadis remaja, yang dilakukannya hanya mengembangkan sengiran. Hanya satu yang mampu membuatnya hilang kendali; dan itu adalah sahabat perempuannya, Jihoon. Bukan berarti Soonyoung gampang disetir perasaan, tapi bagaimana orang berlaku di depan orang yang disukainya adalah tergantung pribadi masing-masing.
Seokmin menghela napas. "Sudah berapa kali aku bilang, mau sampai kapan kau pura-pura tak peduli. Sikapmu terlalu jelas menunjukkan bagaimana perasaanmu. Copot label sahabat. Kau sudah menginginkannya lebih dari itu."
Butuh lima detik sampai Soonyoung merespon, "Maksudmu?"
"Kau. Menyukai. Jihoon."
Soonyoung mendelik. "Aku tidak."
Satu lagi hal yang mendarah-daging dalam kepribadian temannya adalah sifatnya yang keras kepala. Sampai sekarang Seokmin kurang paham mengapa Soonyoung sangat teguh pendirian, untuk menolak tentang apa yang dia rasa terhadap Jihoon, ketua kelas mereka. Jihoon juga keras kepala; jadi Seokmin pikir mereka sangat serasi dengan banyak hal mirip dari keduanya.
"Jika kau tidak menyukainya, kenapa kau sekarang emosi?"
"Kutekankan lagi. Aku dan Jihoon hanya bersahabat, oke."
"Terserah dengan caramu menyangkal," Seokmin memainkan bolamata, "tapi jangan pernah menyesal jika tiba-tiba Jihoon diserobot orang karena kau terlambat untuk menyatakan."
Soonyoung mengetukkan lidah. Dia tahu dia tidak akan pernah bisa menang berdebat dengan Seokmin. Laki-laki itu punya kemampuan memanipulasi kata-kata dan memojokkan lawan bicara. Jadi, dia mencari bahan lain untuk dijadikan topik. Omong-omong, Seokmin daritadi menyeringai kecil, dan Soonyoung sadar ada penemuan baru yang dia dapati dari sang sahabat. Bahwa Seokmin ternyata juga bisa membuat ekspresi bahagia seperti orang pada umumnya. Dia bahagia, dia bahagia setiap hari; tapi tidak begini.
Walau sekilas, Soonyoung mengerti jika sahabat—rekan dalam kejahilan—nya punya sesuatu yang membuat auranya semakin silau. Seokmin adalah jenis yang selalu tersenyum bahkan jika keadaan tidak mendukung. Buktinya, dia tetap bisa tersenyum padahal jelas-jelas Soonyoung sedang gundah gulana. Katakan dia tumpul; tapi itulah sisi positif sekaligus sisi negatif Lee Seokmin.
"Sepertinya ada yang sedang senang, ya." Nada bicara Soonyoung entah bagaimana terdengar sinis. Seokmin mengerutkan bibir. "Kau cemburu, kan?"
"Kenapa harus cemburu?"
"Karena penantianku selama ini berbuah manis, hahaha."
"Tsk. Selera gadisku tidak nyentrik sepertimu," balas Soonyoung. Ada jeda berapa lama. Soonyoung mengusir pikirannya yang terlalu banyak memikirkan Jihoon, sehingga dia membuat candaan. "Jadi, keberadaanmu sudah disadari kakak kelas hermafrodit itu, Seok? Bagus juga ..."
Seokmin boleh jadi tumpul, tapi dia tidak lemot.
"... Kau berniat menghancurkan persahabatan di antara kita, heh?" Wajah Seokmin sedatar kain satin baru disetrika saat mengatakannya. Soonyoung puas bisa membalas. Satu sama.
"Oke—oke. Damai." Tertawa, Soonyoung membuat tanda berdamai di telunjuk dan jari tengahnya. "Lantas, pingin berbagi? Apa sekarang Jun Sunbae sudah membalas cintamu?"
Seokmin berdeham, "Mauku sih, begitu. Tapi sayangnya ini bukan tentang Jun Sunbae."
"Oh. Kau sudah putar haluan." Soonyoung menjentikkan jari.
"Cintaku tidak segampang itu. Aku tidak akan mundur seperti laki-laki payah yang menolak mengakui perasaan hanya karena ingin menjaga tali persahabatannya dengan perempuan yang disukainya." Kurang-lebih, dia setali tiga uang menyindir Soonyoung.
"Ya, ya." Soonyoung tersenyum paksa. "Selamat mengejar Junhwi Sunbae-mu yang cantik dan anggun itu."
Seokmin menyengir lebar, lalu mengeluarkan secarik amplop berwarna biru bayi yang dibubuhi perangko bunga sebagai perekatnya.
"Apa itu?"
"Surat. Aku menemukannya di loker tadi pagi saat menukar sepatu." Seokmin menyengir, dari telinga ke telinga. "Kupikir, aku punya penggemar rahasia mulai sekarang."
Soonyoung memutar bolamata. Dia sungguh tidak berniat didongengkan kisah romansa atau terjebak untuk mendengarkan ocehan Seokmin tentang penggemar barunya. Maka, dia beralih ke topik lain lagi. Seokmin tidak keberatan. "Omong-omong, mana Seungkwan? Tumben anak itu belum kelihatan batang hidungnya. Yah, maksudku dalam arti harfiah, oke. Anak itu kan, hidungnya mancung ke dalam."
Mereka tertawa dan mengerling sebagai kode. Tawa mereka benar-benar mengguncang dan seluruh pengunjung memerhatikan mereka seperti mereka adalah jerawat merah yang pecah di hidung. Seokmin sedikit puas; Soonyoung kembali ke kepribadiannya.
"Tadi aku sempat berpapasan dengan dia di koridor. Dia kewalahan membawa banyak tumpukan kertas. Waktu kutawari apakah perlu bantuan, dia melewatiku begitu saja. Sepertinya sih, sedang buru-buru. Aku tidak paham juga."
"Akhir-akhir ini dia jadi sering melewatkan makan siang bersama kita, bukannya?"
Seokmin mengetuk-ngetuk meja. "Kupikir. Dia juga sering bolak-balik ruang senat sekarang."
"Buat apa dia berurusan dengan hal-hal itu?"
"Mungkin dia ingin mencoba terobosan baru." Seokmin berujar asal.
Soonyoung menggeleng. "Mustahil, Seok. Bocah macam dia tentu lebih senang baca komik."
Setahu Soonyoung, Seungkwan adalah jenis yang tidak mau ambil susah dengan terlibat bersama komite elit sekolah—malah, pernah dalam suatu kesempatan, Seungkwan mencibir tak langsung perihal orang-orang dalam struktur senat mereka bekerja dengan kurang becus. Gadis itu memang kupu-kupu sosial, suka bertandang ke sana ke mari, bahkan membuat obrolan dengan orang lain sama sekali belum kenal hanya dalam jangka waktu singkat, tapi tidak akan ke tahap ini. Senat sekolah adalah bisul di pantat; sangat banyak aturan, menyusahkan, terlalu formal sehingga Seungkwan sangat tidak suka.
"Kudengar, dia baru direkrut jadi anggota senat tambahan." Seokmin berucap, seperti menjawab keheranan Soonyoung.
"Anggota senat?" Soonyoung mengerutkan dahi. "Seungkwan?"
Seokmin mengendikkan bahu. "Aku juga sempat tidak percaya pada awalnya."
Soonyoung menangkupkan tangan. "Siapa yang menunjuk?"
"Kurang tahu juga, sih. Tapi aku dengar dari kelas sebelah katanya kakak kelas bernama Choi Seung ..." Seokmin mengingat-ingat, "Seungcheol. Ya, Seungcheol. Entahlah. Kau kenal dia?"
Mana mungkin tidak kenal. Seungcheol itu—"Sepupu kandung Jihoon. Aku selalu melihatnya jika sedang bermain ke rumah Jihoon." cibirnya. "Daripada sepupu, kurasa dia itu malah seperti kakak brocon."
"Heh?"
"Begitulah."
"... Aku baru tahu."
"Kau tidak pernah tanya, kan?"
Seokmin menganga.
"Tapi ... kalau memang Seungcheol yang terlibat di balik semuanya, aku kasihan pada Seungkwan. Sungguh." Soonyoung berucap. "Susah ya, jadi anak kelas satu."
Seokmin angkat bahu. Soonyoung memesan makanannya dan melahapnya dengan terlalu biasa. Siang itu, Soonyoung lebih banyak melamun daripada bertingkah gila seperti seharusnya. Seokmin tak ingin bertanya karena dia ingin memberikan spasi bagi sahabatnya. Dia sendiri belum paham bagaimana Jihoon mampu membuat Soonyoung memiliki sisi dingin mengenyampingkan bahwa laki-laki itu terkenal sebagai penebar kehangatan. Soonyoung adalah laki-laki yang mirip dengannya—punya banyak candaan, tapi mungkin akan memberi beberapa pengecualian terhadap sejumlah hal.
Akan tetapi, percintaan Soonyoung memang misterius. Walaupun telah bersahabat sejak Masa Orientasi, yang Seokmin tahu hanyalah fakta bahwa gadis lucu bernama Lee Jihoon adalah teman sejak kecil Soonyoung. Entah mereka saling menyukai atau tidak, Seokmin hanya bisa bertanya-tanya. Sebab, meskipun dia gampang mendorong orang untuk buka rahasia, dia tetap menghormati sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal pribadi. Dia menghargai privasi; sehingga akan menunggu sampai Soonyoung bercerita dan meminta saran layaknya sahabat.
(Jihoon bolos jam pelajaran pertama sampai jam ketiga. Setelah istirahat makan siang pun dia tak kembali. Dia juga tidak muncul di subjek Musik alih-alih itu adalah pelajaran yang paling disukainya. Jihoon tidak kembali ke kelas hingga bel pulang dibunyikan. Teman-teman sekelas enggan memperpanjang, ketika guru mereka bertanya di mana sang ketua kelas berada, mereka hanya mampu menjawab serentak dengan angkat bahu karena mereka tahu apa yang terjadi tadi pagi. Tas beruangnya dibiarkan menemani bangku yang kosong tanpa pemilik. Soonyoung menunggu lama di loker sepatu, cukup lama hingga akhirnya pulang dengan gontai.)
つづく(to-be-continued)
zula's note:
honestly chapter ini tadinya cuman mau sepanjang 2k. aku sendiri ngga ngerti kenapa malah jadi 5k. tapi emang aku keasikan waktu nulis adegan berantem-beranteman ;w;) #abaikan. makasih banyak buat reviewers. jujur ya, aku ngga sangka bakal sebanyak itu yg tertarik hheheh mana feedbacknya somehow persis kek yg aku mau. aku balas sekalian disini ya. special thanks for yukkage dan jcancsh buat koreksian nama seungcheol. abis romanisasi namanya ribet. maklumin ya kalo masih salah ketik, jariku bingung TT dek nurul, iyaa itu typo harusnya itu nico, bukan rico. hehe jujur aku juga rada lupa waktu ngetik abis hapalnya yaa desain karakternya doang. dek es doger, tak tahukah kamu kalo jun itu cantik mirip bidadari. TT dek bunon, iya kemarin kelewatan nulis seungkwan kelas berapa tapi chap 1 udah aku ralat kok, bisa diliat :p jihooneys yeps genre utama ff ini slice-of-life! nene jeongcheol+jisoo bakal nimbrung di ch mendatang itsathenazi mungkin kita terhubung #yha. ourwonu kok aku yg kesian ama mingyu ya setelah baca reviewmu ;w; 17misscarat bentar. ini aku yg salah baca apa kamu emg nulisnya bener wonu suka wonu? dia narsis? kelelawar witty diapdet bareng hari ini, cek aja. menboong sumpah aku lebih gemeter baca review kamu daripada pas uts kemaren haha. dek inisapaseh yaaah abis orang sempurna mau cari apalagi? udah punya semuanya~~ aqizakura tenang ajaa. aku gabakal nekat publish kok kalo gapunya draf kasar ttg kerangka ceritanya. makasih sarannya~~ dek nuna iyah ff ini macem rujak awas salah gigit(?) alien it seems like you're misinterpret my words. bukannya gamau disemangatin, tapii aku cuma gasuka review yg isinya fighting tanpa embel-embel lain. dek li, makasih yaa doanya TT semangat jugaa buat sekolahmu! kingjongin waah aku gak sangka di ffn ada juga yang nyari gs ehehe. :v dek felix gimana ya, abis itu ga sesuai ekspektasi aku. lagian aku udah gapunya banyak waktu senggang buat nulis kayak dulu ... gomen. sexybaekby hmm. if you're really insist 'bout fic request, pls send me pm and tell me whose pairing, which genre(s), and which rating you do want me to write. i'm so honoured if you also give me a prompt to expand. tbh, i can't grant the request which is written in review box. gomen. i hope you'll consider my rule. :)buat istilah jejepangan ... kalau yg dimaksud dek hani, jeon jaeri dan xppatrash itu dere-scale, intinya yaa ini skala penerimaan. kalo digambar satu garis panjang ((anggep aja garis negatif-nol-positif)) dere yan itu adanya di kiri, dan dere tsun itu adanya di kanan, di tengah-tengah letaknya dere normal. makin tsun, sifat org itu makin denial, makin yan, sifat org itu makin obsesif. setingkat di bawah yandere berturut2 ada yangire, dandere, kuudere, tsunshun, dere-dere, himedere, kamidere, dan terakhir tsundere. ato pake analogi begini deh: dere yan itu apa yg diliat dari luarnya kawaii, manis, lucu & patut dilindungi, tapi di dalamnya sanggup bunuh orang demi cinta ((luar hangat, dalam dingin)); on the other hand, dere tsun itu dari luarnya dingin, ga pedulian, kasar, punya kata2 yg keras, tapi di dalamnya hangat, penuh cinta ((luar dingin, dalam hangat)). udah nyambung belum? ;w; kl masih ruwet aku pasang pp ff ini gambar ttg dere-scale tuh, cek sendiri ya.
reviewer, silent reader, siapapun yg nyempetin kemari makasih udah baca! mohon ninggalin reviewnya untuk chapter ini dan ke depannya yaa. luvya.
ps: ... gue panasdingin pas nulis chap ini serius deh.
ps2: album love&letter rilis ampun TT ga tahan mau denger full track-nya.
ps3: dan dari tu album banyak banget material buat inspirasi yatuhan. di chapter pertengahan pokoknya kalo ada scene dating n semacemnya, aku bakal mengacu kesitu.
ps4: fik ini bakal dikasih bgm(?) di scene-scene tertentu. dan bgm itu make seluruh ost descendants of the sun. buat chapter ini sendiri ... waktu soonyoung nyelametin jihoon: gummy – you are my everything; waktu soonyoung gendong jihoon ke sekolah ((tepatnya waktu dia bilang, peluk yg erat, atau kau akan jatuh, jihoon: chen ft. punch – everytime;waktu tatapan mata jihoon ketemu sama josh: t yoon mirae – always ((mulai bait yg i love youuu));waktu jihoon pergi ninggalin soonyoung dikelas: kim nayoung ft. mad clown – once again; waktu seokmin nunjukkin suratnya: k-will – tell me! what are you doing?!
ps5: semua fakta di sini canon loh yaa. jihun, realitanya susah bangun pagi dan baru bangun kalo dibantu suara diva boo(?), soonyoung beneran pandai beladiri dan dia udah pegang sabuk tinggi, selera seokmin itu nuna nuna jd kubikin dia demen sunbae.
ps6: ada yg inget yunsik itu siapa, ngga? o.o)/
ps7: banyak orang salahpaham ngeliat avatarku, dikiranya aku ngebias josh. ahahah bukan. aku pasang avatar josh soalnya mukaku itu persis josh ((dan az emang narsis)). idung mata kuping bibir ampe senyum plus kantung matanya ada semua sama aku. rambut doang beda, soalnya potongan rambutku skrg persis jun predebut. makanya waktu aku pertama ngenalin ni bocah2 norak ke temen sekelas, mereka ganti2 ngeliatin josh dan az terus nanya: lah elu sejak kapan jadi boiben!? wahahah. masih kepo biasku siapa? mereka bilang antimainstream. seventeen punya cowok multitalent gabisa dilewatin namanya lee seokmin. seok-zul(?) lucu kan? iyain aja. udah titik.
ps8: langsung apdet setelah review masuk lumayan m_m)
