THIS IS THE NEXT CHAPPIE~

Guys, ara minta map ya apdetnya lemot~ ara capek KURIKULUM 2013 ituloohhhhh~~~

Hehe…. Langsung ajaaaa cekidott~~~

SORRY FOR TYPO(s) dan don't forget to leave your REVIEW lalalala~~~~

.

.

.

"Taozi, lama sekali?" tanya Kris begitu Tao kembali membawa dua ice cream ditangannya.

"Aku terlibat perbincangan kecil dengan seorang teman lama." jawab Tao sambil meletakkan ice cream milik Kris dimeja dan menggesernya kearah Kris. Dahi Kris mengerut bingung. "Teman lama?" gumamnya pelan. Tao mengangguk. "Kurasa tidak ada temanmu yang tidak kukenal. Siapa namanya?" tanya Kris sambil menyuapkan sesendok ice cream kemulutnya.

"Astaga ace, papamu sangat jorok." Tao mengambil tissue dan menyodorkannya pada Kris. Kris tersenyum malu.

"Aku masih menunggu, Zitao."

"Ya, ya. Umm, sebenarnya aku tidak terlalu yakin tapi kurasa dia sudah berulang kali menyebutkan namanya. Ge, dia memakai masker. Kalau tidak salah dia bilang dia terserang flu dan itu memaksanya untuk memakai masker. Tao tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas, Tao sudah meminta dia mengulang namanya beberapa kali. Namun karena Tao merasa tidak sopan, Tao akhirnya mengangguk meski Tao tidak terlalu yakin."

"Memangnya apa yang kau dengar, Zitao?" Kris geleng-geleng melihat tingkah adiknya yang -sok- bergaya ala orang frustasi.

"Bekho? Bakyon?" Tao tampak seperti orang linglung.

Kris menghela nafas. "Sudahlah, lupakan. Mungkin dia memang teman lamamu, kau bisa mencarinya dibuku kenangan."

Tao mengangguk.

"Habiskan ice cream-mu dan setelah ini kita pulang."

"Tapi ge..."

Kris mendongak menatap Tao yang sedang memasang wajah memelas.

"Tao mau tambah lagi..."

.OoO.

Kris mengetuk pintu kamar Tao, lalu dibukanya perlahan. Dilihatnya Zitao menumpukan kepalanya di meja belajarnya. Kris menghampirinya lalu mengelus surai hitam Tao.

"Tao-err, sudahi saja belajarnya jika kau sudah lelah. Gege tidak memaksamu harus belajar sekeras ini." ujar Kris lembut.

Tak ada jawaban dari Tao.

Kris mengerutkan dahinya, Tao tertidur?

Oh, astaga. Kris tidak menyadarinya.

Kris mengangkat tubuh Tao dan membaringkannya di ranjang lalu menyelimutinya. "Jangan belajar terlalu keras sayang, nanti kau malah sakit." gumam Kris sambil mengelus dahi Tao dan mengecupnya pelan. Kris lalu berjalan keluar kamar Tao. Membiarkan Tao beristirahat.

.OoO.

"Gege! Gege! Gegeee!"

Tao berteriak sambil menuruni tangga dan mengibas-ngibaskan kemeja seragamnya. Dilihatnya Kris sedang menyiapkan sarapan.

"Astaga Zitao. Ada apa sayang? Tidak bisakah berhati-hati sedikit?" ujar Kris lalu meraih kemeja yang Tao sodorkan padanya.

"Tao lupa memberitahu gege kalau kancing kemeja Tao hilang. Tao tidak bisa menjahit." jelas Tao. "Tao ingin menjahit, nanti gege ajarkan Tao ya? Sekarang Tao mandi dulu ya ge."

Kris hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Tao. Terlalu berlebihan untuk ukuran lelaki berumur 18 tahun.

.OoO.

"Yiran!" Tao berlari menghampiri sahabatnya yang sedang berjalan menelusuri koridor sekolah, menuju ke kelas mereka. "Yiraaaann!"

Gadis mungil itu tak kunjung menoleh. Tao sempat berpikir ia menggunakan earphone untuk mendengarkan lagu, tapi ternyata ia tidak melihat seutas kabelpun. "Alevarania Casandra!" teriak Tao akhirnya setelah berusaha mengingat-ingat nama sahabatnya yang -menurutnya- terlalu sulit itu.

"Ya?" gadis menyebalkan itu akhirnya menoleh juga, melihat Tao dari atas sampai bawah, lalu keatas lagi -lebih tepatnya, mendongak- berusaha mencari tahu apa urusan lelaki tinggi yang berwajah seram tetapi berhati hello kitty ini dengannya.

"Kau tidak dengar aku memanggilmu sejak tadi?" Tao menumpukan tangannya dibahu Yiran. Terlalu lelah. Tao bersumpah, ini masih pagi dan ia sudah merasa lelah hanya karena memanggil gadis yang ternyata memakai earphone bluetooth itu.

Aleva -atau Yiran- membuka salah satu earphone-nya. "Ada apa Zitao? Belum mengerjakan tugas?" tanyanya kalem. "Bukan begitu bodoh." balas Tao sinis. Ia masih berusaha mengatur nafasnya.

"Lalu?"

"Apakah Qira tjietjie bisa mengajarkanku mata pelajaran bahasa asing?" tanya Tao pada akhirnya. Kini mereka mulai berjalan lagi menuju kelas.

"Mengapa harus tjietjie? Mengapa tidak aku? Aku juga bisa!" Yiran merasa sedikit -ehem- kecewa dan tersinggung ketika ternyata sahabatnya tidak ingin diajarkan olehnya.

"Lagipula memang kau mau apa dengan bahasa asing? Bahasa Inggris?" Tao mengangguk.

"Kris ge bilang aku dan Kris ge akan pindah ke Kanada setelah aku lulus SHS nanti..." ujar Tao tak terlalu yakin.

"Ige mwoyaaa?!"

"BAHASA APA LAGI ITU?!"

.OoO.

"Ma-i neim is Tao.." Yiran mendecak kesal. "Tidak Tao. Jangan di-eja. Katakan seperti biasa, My name is Tao." Tao mendelik lelah. "Ah sudahlah! Ini baru satu kata Yiran!" Yiran melirik sinis. "Kalimat, maksudmu?" Tao mengangguk. "Maksudku satu kalimat. Tapi kita sudah menghabiskan waktu hampir empat puluh lima menit dan Kris ge akan datang dalam waktu kurang lebih lima belas menit lagi apa yang harus aku lakukan Yiran aku malas mengantarmu pulang atau kau ingin tetap disini saja itu terserahmu aku ikut sajalah."

Perlu beberapa waktu bagi Yiran untuk memahami apa yang Tao ucapkan. Yiran mengerjapkan matanya berulang kali. Sampai lima menit kemudian, Yiran masih tetap diam dengan pandangan kosong. Tao sudah kembali menatap bukunya, dimana disana tertulis bahasa-bahasa inggris yang tidak Tao ketahui sebelumnya.

"Ah, Zitao?" panggil Yiran pelan. Pandangannya masih kosong. "Ya?" Tao menoleh dan memperhatikan wajah sahabat cantiknya itu. Manis, tapi tampak bodoh dengan mata kosong seperti itu. "Bisa kau ulangi? Aku tidak menangkap satu katapun dari kalimatmu sebelumnya."

.OoO.

"Aku pulang.." suara deritan pintu disusul suara berat milik Kris terdengar diseluruh penjuru ruangan yang kosong itu. Kris mengerjapkan matanya. Dimana Tao?

"Gege!" jeritan Tao membuat Kris melonjak kaget. Disusul suara jeritan perempuan yang Kris kenal. Kris tersenyum maklum. Dua anak itu jika sudah bersama bisa memecahkan sesuatu, termasuk gendang telinga Kris.

"Kris-ge Taozi jahaaatt!" Yiran berlari menuruni tangga dan berlindung dibelakang Kris. Tao mengepalkan tinjunya seakan siap meninju wajah cantik Yiran.

"Bukan aku ge! Yiran yang menyebalkan!" adu Tao sambil melirik-lirik Yiran sinis. Uh, menyeramkan sekali.

"Ada apa Ale? Ada apa ini Zitao? Bicarakan baik-baik." sahut Kris kalem. Ia dengan perlahan mendorong Tao mundur dan melepaskan cengkraman tangan Yiran pada bajunya.

"Aku sudah bicara baik-baik!"

"Tapi dia bicaranya terlalu cepat ge!"

"Kau saja yang lemot!"

"Aku? HAH?! LEMOT?!"

"Dasar! Cantik-cantik lemot!"

"APA KATAMU ZITAO?!"

"LEMOT!"

"YAA!"

"Astaga. Hentikan. Kalian sudah sama-sama dewasa." Kris menggeleng-gelengkan kepalanya lalu merebahkan tubuhnya diatas sofa.

"Oiya ge." suara Yiran mulai kembali terdengar setelah sekian detik ia dan Tao sibuk saling memelototi. Kris menoleh, "Ya?" Tao mencibir. Mengapa gege-nya begitu flat?

"Qira tjietjie menanyakanmu."

"Benarkah?" sahut Kris yang langsung disambut anggukan Yiran.

"Qira tjietjie mengajak liburan bersama saat hari libur nasional next week. Apakah gege mau?"

Kris menatap kedua makhluk dihadapannya bergantian.

"Berjanjilah kalian tidak akan membuat keributan disana."

"Apakah itu tandanya gege mengizinkan?" suara Tao mulai terdengar.

Kris mengangguk pelan.

"HORE!"

Kris kembali menggelengkan kepalanya. Baru saja ia melihat adegan 'saling memelototi' didepannya, kini dua makhluk itu sudah berbaikan kembali.

TBC

CEMANAAA?

Masih belum keliatan sih konfliknya.. ara juga gatau, khusus ff ini dan ff apologize itu konfliknya ga nongol2.. ara juga bingung, tumben ara idenya bias panjang gitu, biasanya kan dikit langsung konflik hehe-_-

Yaudin, ara gamau nunggu ampe tengah malem dulu. Biasanya kan ara –tanpa kesengajaan- apdet ff malem mulu-_- wkwk

Jangan lupa review yaa~~ dan doain ara bisa cepet apdet mulu-_- rasanya ganulis ff itu kayak ikan tanpa air/? Bagai chanyeol tanpa ara getooohhh/?

Last… review? *mukpol*