BRAK!
"Hosh … Hosh … I-ini es yang anda butuhkan, A-alfred …"
Seketika, seisi ruang tengah yang akhirnya bersuhu dingin itu menatap seorang Roderich Edelstein yang kini tepar di lantai sehabis menabrak pintu besar kost dengan gaya teletabis yang kejepit es balok.
"Lho, Lodeh? Kenapa elo berani repot?"
"Nama saya Rode—"
Alfred ngeluarin es krim dari bungkus yang dia pegang—dan langsung menyela perkataan Roddy. "Au' ah. Betewe, Matthias udah traktirin kita semua es krim lima menit yang lalu, bre."
Dan akhirnya, seorang Roderich Edelstein kembali terkapar di lautan luka dalam. Jangan nangis, Lodeh! Mengheningkan cipta untuk Lodeh tercinta kita yang baru mateng, dimulai!
.
.
Days In Kost
Hetalia : Axis PowersHidekaz Himaruya
Beware of Human!AU, absolute abalness, OOCness, bad nor immature language, typo, and many more. Still too fruking labil on making a parody-genred fanfiction
Picture? Not mine, ogay. Thus, it doesn't even related with this fanfiction /le sobs
The main character/s/ will be different (re: random) in each chapter
A/N : Italic/s/ are past—or someone's mind
Don't like? Pwease, don't read!
Saa, douzo!
.
.
Chapter two : "Es Krim"
.
.
Sang dedengkot siang kembali nyengir dengan bangganya—bukan kecenya, karena sudah berhasil mengusir segaris awan lembut, mini, nan tengil yang berani duduk di singgasana panas—dengan poster boyband-yang-katanya-maho-itu di sandarannya. Namun, melihat awan-awan yang lain menyingkir sejauh-jauhnya—meninggalkan si dedengkot siang itu sendirian di atas sana—membuatnya kini tersenyum kecut bak bidadari forever alone yang nyasar di catwalk.
Sabar ya, bang. Masih ada mpok bulan—sepuluh jam lagi. Tapi kalo udah kebelet banget, telpon abang ojek terdekat dan siapin uang ye.
Keadaan di World District nggak jauh beda dengan seratus dua puluh menit—alias dua jam yang lalu. Masih panas—dimana suhunya sepanas berita kalo World University bakal membuat mata kuliah buat para jomblo jemuran. Satu-satunya tempat yang memiliki tanda-tanda kehidupan adalah mall di pusat kota.
Uyeah. Liburan ke mall, like a boss.
Kembali ke kost-kostan kita yang selalu kinclong, Heta-kost. Berjarak waktu sekitar dua jam dari insiden bra itu, tingkat ke-gaje-an, kegalauan, dan kelabilan masih diatas ambang batas anak-anak sekolahan yang normal.
Kayak di ruang tengah, bad touch trio bareng mas-mas crossdresser penggemar daster bin pemilik Heta-kost nonton sinetron bareng di teve, Arthur yang masih sempet-sempetnya main catur sama Yao walau bibirnya bengkak sehabis ditabok Vic, dan Bella yang kini nodongin bra ke anak-anak kost—ke cewek, maupun cowok.
Mbak Bella, cowok ber-bra itu langka mbak.
Ludwig juga masih nggak jelas—masih mewek di kamarnya. Meratapi usaha menjahit bra yang nggak dihargai. Cukup tau beb—jadi, nggak perlu juga teriak-teriak 'Shine Bright Like a Doitsu' di dalam sana. Kami sudah lelahdengan muka ter-bully milikmu yang ngenes se-ngenes nasibmu, bang. Kami lelah.
"PETEEEE, TOLONG NYALAIN AC RUANG TENGAH DONG~!" Alfred yang tumben baca buku di ruang tengah meneriaki Peter Kirkland yang lagi nyari pete di dapur dengan volumenya yang biasa banget.
"Kucruuut! Seenak jenongmu aja, desuyo! Pete mau ngemil pete dulu, desuyoooo!" Peter kembali nyungsep di kulkas, mengacak-acak lemari pendingin—bukan AC itu untuk mencari seonggok—bukan—seikat pete yang katanya ditaruh Feliciano di dalam sana.
Wait. Kalo Pete makan pete, berarti selfcest dong?
Setelah ngebenerin posisi duduknya, pandangan Alfred terarah ke sesosok cewek moe yang lagi benerin karangan bunga di deket kamar mandi. Lili.
"LI-"
Ckrek.
"Teriak aja ke Lili, gue tembak lo."
Alfred merinding a la rockstar yang dipaksa pake rumbai-rumbai polkadot—bukan yang belang-belang untuk pentas. Segini cinta-kah seorang sniper kelas sapi laut kecebur dari keluarga Zwingli ini. Segini kah.
"Gue cuma—"
Piiiip.
Itu bukan suara bapak kost lagi ngasih sensor ke sinetron. Melainkan suara remote AC yang baru aja dipencet sama Kiku yang numpang lewat gegara terlalu lelah menghadapi suara teriakan dari bawah.
Mas, tumben kau lelah. Sekarang 'kan belon tanggal tua.
"Sudah, Jones san. Permisi, saya ingin istirahat." Kiku membungkuk lelah, lalu ngibrit ke kamarnya di lantai atas.
Lalu hening. Hening sehening-heningnya. Yang kedengeran cuma suara sinetron yang ditonton bad touch trio plus bapak kost. Hening banget.
"Mon Dieu, kok abang kepanasan ya~?"
"Ya bukan cuma elo. Gue yang awesome nggak ketulungan ini juga."
"Kalo gitu, kita jadi trio panas! Fusosososo~!"
Ngerasain gaada perubahan suhu di ruang tengah setelah AC nyala, anggota betete yang katanya masih abegeuh itu pada shirtless di ruang tengah—meninggalkan bapak kost yang bersiap untuk ngesot sejauh-jauhnya.
"Ohonhonhon~ Bapak mau kemana~?" Francis langsung narik ujung daster pak Raden—nama bapak kost mereka itu. Anggota betete yang lain juga gamau kalah. Ada yang narik pinggangnya Raden, sama sembunyi dibalik dasternya Raden.
Stop fanservice, bro. Kalian masih terlalu abegeuh buat ditabok bapak kost pake rendang. Mana rendangnya pake santan dan pedes, pula. Kasian masa depan kalian yang belom tercerahkan itu.
"JANGAN SENTUH GUEEEEE!" Raden berteriak horor, pas banget sama sang main character yang latah ngeliat temennya jatuh habis kepleset lantai kamar mandi. "GUE MASIH SUCI. JOMBLO PLUS KECE PULA."
Tiba-tiba, seorang fujoshi, Eliza, yang tadinya berniat benerin jemuran—langsung menghampiri betete plus bapak kost.
"Pak. Bapak bilang kalo bapak masih jomblo-nan suci plus kece, pak." Eliza nyengir horor, "Terus, dua hari yang lalu, tengah malem, di kamar bapak, ada suara siapa sama siapa tuh~?"
"I-ITU CUMA-"
"Dua malem yang lalu, bapak sama dia ngapain, pak?" lanjutnya.
Raden daster-flip saking frustasinya. Woles pak, nanti seisi kost bisa masuk rumah sakit gegara pendarahan. Bapak juga masih abegeuh 'kan.
"DEMI KON-DEEEEEE." Raden backflip. "Kalian, cukup sudah! Gue lelaaah!"
Yao langsung berpose Yaoming. Berpose selayaknya mbah-mbah salah fokus habis ngeliatin anak kecil jatuh ke sumur. "Lelah apaan, aru? Digulung, dilempar, atau dijadiin mar—"
"BODO!" cowok berdaster bling-bling itu guling-guling di lantai menuju kamarnya gegara frustasi—alias mewek. "Udah, gue mau tidur! ELO, GUE, END!"
Semuanya speechless ngeliat bapak kost mereka yang tumben-tumben mewek. Keheningan mereka sehening Heracles yang meratapi kucingnya yang mati ditabrak metromini kemaren malem. Yaranaika, ogay.
"…"
"…."
"….."
Kapan ngomongnya, mas?
"EH, BAPAK KOST PINTER DEH! Kenapa kita nggak kepikiran? Aliiiiiis!" Alfred menjerit penuh makna. Tatapannya berapi-api, seolah itu api bakal lompat indah dari balik kacamatanya.
"Bloody wanker! Elo juga punya alis, jenong!" Arthur menjerit balik seraya membacok Alfred dengan scone kemaren di tangannya.
Bang Arthur, di deket situ masih ada anak-anak lho bang. Jangan mempermalukan alis keluarga Kirkland, bang.
"UDAH AH!" Alfred menyingkir semeter lagi. "Jadi, siapa nih yang mau beli es krim di minimarket deket sini?"
Alfred ngelirik Lovino di sudut ruangan, yang lagi browsing di laptopnya tercinta. Dia ngusel-ngusel mendekat ke Lovino, mesra. "Lovi~ Beliin es k— "
Pluk.
PLAK!
"THE HELL, MAUNYA ELO AJE." Lovino ambil seribu langkah. "JANGAN SENTUH GUE."
Lovino galak lagi. Apa jangan-jangan cuma Antonio yang dikasih nyentuh dirinya, ya.
Alfred hopeless sejadi-jadinya.
Gue musti apa dong. Panas nih. Pinter banget pak Raden, ngasih saran—terus ngibrit ke kamarnya. OH GOD WHY.
Krieeet ..
"Guten T—"
"LODEEEEEH!" Alfred langsung menabrak sosok yang baru aja masuk ke dalam kost, Roderich Edelstein dengan santai-nya pake gaya Barney nabrak tembok. Nggak merhatiin kalo orang yang ia tabrak ini bakal dapet encok dua puluh menit kemudian.
"Nama saya Roderich Edelstein, Alfred. Bukan lodeh, sayur lodeh, ataupun kuah lodeh." Roddy bangun dari tempat jatuhnya tadi, sambil ngerapiin dasinya. "Ada apa, kalau boleh tahu?"
"Beliin kita es krim, doooong~!" Alfred ngusel-ngusel di kaki Roddy—bikin cowok berkacamata itu jadi merinding nggak jelas sekarang.
"I-iya. Berapa es krim?"
Alfred nengok daerah sekitarnya—seisi ruang kost yang masih kayak kuburan akibat teriakannya tadi. Gaada tanda-tanda keberisikan. "Dua deh. Satu buat elo, satu buat gue!"
"Baiklah. Mohon tunggu sebentar."
Sang mahasiswa abadi yang berkacamata itu langsung ngibrit lagi keluar kost, meninggalkan kost yang semakin sepi kayak kuburan.
.
.
.
Sret. Sret. Sret.
Saya .. harus … sampai …
Roddy mengabaikan tatapan prihatin orang-orang nggak kece di sekitarnya. Meskipun masih sodara jauhnya Ludwig—dan Gilbert yang kecepatan jalannya bisa setara sama kucing mewek yang lagi dikejer anjing, kecepatan jalannya Roddy bak ular keinjek yang disuruh merayap lurus.
Kenyataan yang nggak adil? Woh, iya dong. Then, shine bright like a hobo.
Kring.
Roddy akhirnya sampai di minimarket pertama setelah dua puluh menit kemudian. Dengan badan yang mulai encok dan nafas yang udah kayak sandi Morse, dia menghampiri supermarket mini itu.
"Permisi, selamat siang, dan ..."
Roderich melanjutkan salamnya yang bisa mencapai lima menit itu dengan lemah lembut selembut kupu-kupu. Jangan didengerin, bisa bikin diabetes.
Jadi heran, kenapa Eliza mau-mau aja sama abang ini, ye?
".. Jadi, pertanyaan saya sekarang, apakah minimarket ini menjual es krim?"
Si penjaga kasir cuma ngelanjutin acara makan permen karetnya yang tercinta sambil jagain matanya biar nggak ketiduran. Kalo dia ketiduran, adanya dia bakal masuk UGD gegara keselek permen karet. Itu doang.
".. Nggak. Udah, ada pertanyaan lagi? Gue mau tidur."
JEDUAR.
Dan—Roddy terjatuh dan tak bisa bangkit lagiiiii—mengheningkan cipta, dimulai.
.
.
.
"Hosh .." Roderich Edelstein akhirnya sampai di minimarket kedua yang berjarak beberapa meter dari minimarket pertama setelah tiga-perempat jam kemudian. "Permisi, saya mau cari es krimnya …"
"Di sono. Tiga meter, lurus."
Scheiße. Bagaimana caranya saya bisa sampai ke ujung sana dalam lima menit?
Pluk.
Sret.
Sret. Sret.
Tiada puding, jelly pun jadi. Akibat kakinya yang nggak bisa diajak kompromi, Roddy terpaksa ngesot menuju ujung minimarket—ngacangin tante-tante gaje di kasir yang kini mangap nggak nyante ngeliat cowok kece kayak Roddy lagi ngesot di lantai.
Set.
Akhirnya, Roddy berhasil untuk meraih dua bungkus es krim jelly di dalam kotaknya berlatarbelakang taburan partitur dan piano yang lagi nangis bahagia. Gamau nunggu lagi seabad, dia langsung ngesot ke kasir dan menyerahkan dua bungkus es krim dengan masa depan suram—akibat ikut ngesot itu buat dibayar.
.
.
.
BRAK!
"Hosh … Hosh … I-ini es yang anda butuhkan, A-alfred …"
Seketika, seisi ruang tengah yang akhirnya bersuhu dingin itu menatap seorang Roderich Edelstein yang kini tepar di lantai sehabis menabrak pintu besar kost dengan gaya teletabis yang kejepit es balok.
"Lho, Lodeh? Kenapa elo berani repot?"
"Nama saya Rode—"
Alfred ngeluarin es krim dari bungkus yang dia pegang—dan langsung menyela perkataan Roddy. "Au' ah. Betewe, Matthias udah traktirin kita semua es krim lima menit yang lalu, bre."
Dan akhirnya, seorang Roderich Edelstein kembali terkapar di lautan luka dalam. Jangan nangis, Lodeh! Mengheningkan cipta untuk Lodeh tercinta kita yang baru mateng, dimulai!
.
.
End of Chapter Two
.
.
AAAA— mon Dieuuuuuuu! QAQ
Akhirnya ini fict selesai juga setelah menghadapi data yang tiba-tiba terhapus akibat asddvirusasdf di lappie saya tercintaaa- /tepar gegara encok/ Ich liebe dich, lappieeeeeh! /mewek
Mana kesempatan saya buat asdfpacaranasdf sama lappie jadi terhambat gegara sakit—kemaren pula- /crais /rin
Credit the Ibu Kost's name to TheLandOfTheGod, da~?
Ampuni saya, anak-anak #HetaKost 2 yang tercintaaa- /peluk satu-satu/ Sori kalo chapter ini pendek sependek Japan yang gabisa tinggi gegara kekurangan susu Dan- /NO
Saya kekurangan inspirasi sih. Begitu nulis, BOOF! Ilang! /nangis/ Ilo sientooo! QAQ
Btw, kemaren-kemaren ada yang nanyain soal kucrut. Kucrut adalah … apaan ya? /dor
Next chapter: Random. | Terbully: Random.
Saa, thanks for reading, da~ Mind to give this /un/awesome Rin a pudding of love a.k.a review, alle?
Aufwidersehen,
Rinneh. (= ; w ; =)
.
.
Omake
.
.
Roderich menatap lesu piano-nya yang tercinta di depannya ini. Cowok bertahi-lalat ini langsung ngibrit ke ruang musik sesaat setelah temen-temennya yang tersayang sudah ngacir ke kamar masing-masing untuk pacaran dengan alat tidur mereka dibawah guling yang bersambut dengan mesranya.
Bilang tidur aja apa susahnya sih.
Roddy kembali meneteskan air mata buayanya—mending, daripada ngeces—di atas piano-nya itu. Ia kembali memencet tuts-demi tuts piano hitamnya itu—bukan polkadot—sembari mulai bernyanyi.
"Namaku harpa, ketika kita bersama, makan merica, untuk selamanya .. Namaku biola, ketika kita-"
Stop galau bang. Ganti lagunya. Kami nggak mau menguliahi anda untuk menjadi mahasiswa abadi kalo nyanyinya lagu galau.
Roddy mengganti partitur yang ada di depannya ini dengan partitur yang lain saking stress-nya habis dikasih harapan palsu sama Alfred bin Mpret tadi.
"Ehm .." Dia ngebenerin tenggorokannya sebelum nyanyi lagi.
"RODDY JUGA MANUSIAAAA …"
.
.
.
