n.b: male!jungkook and male!mark.


Masih pagi. Harusnya Mingyu, yang hobi naik bus paling awal, sudah duduk di kursi kelasnya, membuka buku pekerjaan rumah dan meminjam milik Minghao untuk dicontek (dengan iming-iming sup krim kantin yang enak itu).

Tapi pagi ini ia didatangi dua orang yang—yang paling dihindarinya sejak kejadian diluar dugaan itu.

Adalah Jeon Jungkook, yang di sela bibirnya ada tangkai permen murahan, menatap Mingyu dengan pandangan tidak bersahabat. Kalau boleh jujur, sebenarnya wajah Jungkook itu unyu, tidak cocok dengan sifatnya yang bertolak belakang. Sejak awal masuk dan menyebabkan masalah untuk pertama kalinya, ia terkenal sebagai berandal kelas satu yang sering jadi incaran Dongho dan kawan-kawan untuk dikerjai.

Tapi tentu saja hal itu terjadi sebelum semua orang tahu bahwa tidak hanya marganya yang sama dengan Wonwoo, tapi dalam darahnya juga mengalir gen-gen yang sama.

Mereka kakak-adik, walau wajahnya mungkin jauh berbeda. (Setelah itu Dongho tidak pernah cari masalah dengan Jungkook maupun timnya itu.)

"Oh, jadi ini pacarnya kakakku?"

Mingyu meringis—tidak ada yang lebih menakutkan dari diinterogasi oleh keluarga pacar. Jungkook menatapnya dengan malas—di sebelahnya ada teman seper-berandalan-nya, namanya Lee Minhyung. Karena ia lahir di Kanada, orang-orang lebih suka memanggilnya Mark. Mark jongkok, memperhatikan lantai. Barisan semut jelas lebih menarik dari adegan Jungkook yang menyudutkan Mingyu. Di bibirnya ada permen tangkai murahan seperti punya Jungkook.

"Aku Kim Mingyu," masih mempertahankan ringisan, "salam kenal."

"Aku sudah tahu." sahut Jungkook, intonasi sama malasnya dengan ekspresi. "Yang ingin aku tanyakan, bagaimana bisa kau menyukai kakakku? Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu?"

Mingyu berpikir. Jawaban apa yang cocok? Harusnya ia bisa saja jujur atau bisa juga ia bilang hanya mempermainkan Wonwoo. Atau bisa juga ia bilang terlalu gegabah karena tidak memikirkan Wonwoo, malah asal tembak. Yah, walau risikonya mungkin lebam di pipi atau pelipisnya.

Tapi mau bilang begitu saja, Mingyu tidak. Bukannya ia takut dengan pukulan Jungkook, tapi… ia hanya tidak tega. Memang tidak seharusnya Wonwoo dijadikan taruhan. Ia merutuki diri sendiri dalam hati.

Jungkook mendekat. "Halooooo, Tuan… Ada yang bertanya tadi…"

"Ah, em," Mingyu cengengesan. "Aku hanya menyukainya saja. Aku suka lihat wajahnya, perangainya yang tenang. Aku suka—ah! Aku suka melihatnya di perpustakaan. Mungkin sejak itu aku jatuh hati."

Mingyu dan alasan-alasan tidak masuk akalnya mulai bekerja.

Jungkook meniliknya. Gumaman dengan intonasi berubah-ubah antara pelan dan keras terdengar darinya, "Harusnya aku tahu kau menyukai kakakku. Aku tidak pernah melepaskan pengawasan darinya. Mungkin aku lengah."

"Apa kalian tidak masuk kelas? Ini mau bel." Mingyu mencoba peruntungan.

Mark menoleh. Barisan semutnya mungkin sudah mau berakhir. "Ia benar, Jungkook. Ayo masuk kelas, aku sih malas disuruh buat surat hukuman lagi oleh Guru Lee."

Jungkook menghela napas, menyerah. Sebelum mereka benar-benar pergi, ia menunjuk Mingyu dengan dua jari sambil memelototinya, seolah-olah bilang, 'aku-mengawasimu!'.

Bel berbunyi.

(Mingyu telat masuk kelas, ia kena detensi dobel karena pekerjaan rumahnya juga belum selesai.)


Pelajaran-pelajaran hari itu dilalui Mingyu dengan merinding-merinding sedikit, ingat kejadian pagi-pagi sekali. Bahkan saat istirahat, ia tidak keluar kelas karena takut bertemu Jungkook—yang pastinya sudah mengawasi entah dari mana.

"Kau benar-benar tidak ikut, Mingyu? Kudengar hari ini menunya daging!"

Aduh, Mingyu menangis dalam hati, walau ekspresi wajahnya tetap tegar. "Tidak, aku tidak lapar."

Dengan begitu, Soonyoung dan Minghao berlalu menuju kantin. Mungkin mereka akan lama, biasanya Soonyoung itu suka tambah nasi apalagi kalau menunya enak.

"Yo, Ming."

Mingyu merasa bahunya ditepuk. Yugyeom dari belakang kursinya menyapa. Mingyu membalik tubuhnya. "Oi. Apa?"

"Tumben kena detensi. Tadi pagi kau kemana? Setahuku tasmu sudah ada di sini sejak pagi." katanya sembari menawarkan biskuit yang ada di atas mejanya. Mingyu menahan diri mencomot sesuka hati, alhasil ia hanya mengambil dua.

"Ah, ya. Ada sebuah urusan." jawab Mingyu.

"Diare?"

Mingyu tidak dapat menemukan alasan lain. "Begitulah."

Ia ingin mengambil biskuit itu lagi tapi ia tahu Yugyeom tidak ke kantin, jadi ia menahan diri lebih kuat. Padahal, astaga, lapar sekali

"Mingyu! Ada yang mencari!" teriak seorang anak. Mingyu tidak yakin siapa yang barusan teriak, tapi ia berdiri dan melangkah keluar kelas.

Berdoa-doa semoga saja itu bukan Jungkook atau Mark, atau siapapun yang disewa Jungkook untuk menginterogasinya dalam babak kedua.

Tapi ternyata itu hanyalah Jeon Wonwoo.

"Eh, halo, Wonwoo," Mingyu menyapa kasual. Ia memang tidak ada rasa apa-apa pada gadis ini, jadi mau pura-pura malu juga susah. "Ada perlu apa?"

"Ini," Wonwoo menyodorkan kotak, mungkin isinya makanan. "Tadi pagi aku punya waktu lebih. Maaf kalau tidak enak, aku jarang masak."

"Oh?" Mingyu menerima kotak itu dengan tangan kanannya. "Terima…kasih."

Wonwoo tersenyum kecil. Ia irit bicara tapi senyumnya selalu tulus. "Sama-sama."

Mingyu mengangguk. Ia benar-benar tulus berterima kasih, apalagi mengingat keadaan perutnya yang sedang krisis tingkat atas. Ia duduk di kursinya dan Yugyeom melongok.

"Bekal, ya?"

Hal itu—saling memberikan bekal—memang sudah jadi tradisi bagi pasangan-pasangan di sekolah mereka, maka tidak ada lagi yang heran. Hanya satu-dua suara gadis-gadis iri karena bekal-bekal mereka yang sebelumnya tidak pernah diterima Mingyu.

"Iya, mau?" tawar Mingyu.

Yugyeom menggeleng. "Tidak, masa aku makan bekal buatannya? Tapi, Ming, kalau ia tahu kerja part-time-mu… ia menyesal tidak ya sudah membuatkan bekal?"

Mingyu mulai melahapnya. Itu kimbap yang sederhana dan Mingyu rasa merupakan pilihan yang tepat. Memberi bekal pertama kali memang harus menu aman—apalagi mengingat kemungkinan alergi makanan.

"Kalau begitu, ia jangan sampai tahu."


Mingyu selesai kerja part-time jam enam sore. Mingyu rasa jantungnya mau lepas ketika ia lihat Jungkook menunggu di depan tempatnya bekerja. (Demi apa, Jungkook kurang kerjaan, ya?)

Gumamnya, "Kafe, hm."

Mingyu ingin mendengus, tapi ditahan. Ia sedang berhadapan dengan berandal, yang punya kemampuan memilih baju tertentu yang membuat auranya tampak makin susah untuk didekati. "Apa kau ada perlu denganku?"

Jungkook mengabaikan pertanyaan itu seraya mengikuti Mingyu berjalan. "Barista?"

Mingyu tampak berpikir. "Sekaligus koki. Lebih cenderung koki."

Jadi ini interogasi babak duanya.

Jungkook manggut-manggut, tampak puas. "Setelah ini mau kemana?"

"Pulang. Aku harus mengantar ibuku ke supermarket." jawab Mingyu. "Apa kau mau memintaku ke suatu tempat?"

Jungkook menggeleng. "Tidak, jalan saja ke rumahmu. Aku sudah tahu rutenya."

Mingyu merasa bodoh. Sehari jelas cukup bagi si sialan Jungkook untuk mengorek informasi sedalam-dalamnya tentang pacar kakak tercintanya. Banyak informasi tentang Mingyu tersebar di antara penggemar-penggemarnya. Jungkook pasti memanfaatkan itu.

"Oh iya," Mingyu merogoh tasnya, hendak mengembalikan kotak bekal. "Tolong kembalikan pada Wonwoo—"

Jungkook langsung menggeleng-geleng. "Tidak mau. Nanti kakak marah padaku, dikiranya pasti aku membuntutimu."

Kali ini Mingyu benar-benar mendengus. "Perkiraannya tidak salah."

"Ini demi kebaikannya, tahu." Jungkook merengut. "Kakak itu baik. Harus dapat orang yang baik juga."

Mingyu tampak berpikir, tiba-tiba teringat ucapan Yugyeom. "Jangan bilang padanya kalau aku kerja jadi koki."

Mendengar hal itu, Jungkook mendongak, menoleh ke arahnya. Dari tadi memang ia hanya menatap ke sepatu bot coklatnya yang bagus itu. "Memang kenapa?"

"Seperti kau bilang, kakakmu itu baik. Jangan sampai ia terbebani mendengar aku kerja jadi koki, sementara ia membuatkan bekal begitu. Bukankah gadis-gadis suka membuat hal-hal jadi rumit?"

Jungkook berhenti melangkah, kernyitan ada di antara dua alisnya. "Maksudnya bagaimana, sih?"

"Aku hanya tidak mau ia berpikir masakannya kalah dariku, aku tidak mau ia malu. Bla-bla. Hal-hal seperti itu. Khas gadis-gadis." jelas Mingyu. "Apalagi tadi ia bilang jarang masak."

Jungkook kembali berjalan mengikuti langkah Mingyu yang pendek-pendek. "Oh."

Mingyu keki, penjelasan seriusnya dijawab hanya dengan begitu. Tapi apa yang ia harapkan?

Ia menatap Jungkook, iritasi dengan kelakuannya yang terus membuntuti. "Pergi sana! Hush, hush!"

"Apakah kau berusaha mengusir adik pacarmu?!"


Beberapa hari kemudian, Mingyu merasa timing-nya baru pas untuk mengatakan kejadian-kejadian aneh hari-hari yang lalu pada Soonyoung. Ia tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Mingyu, dan itu tidak membantu apa-apa, terima kasih.

"Haruskah kau tertawa sekeras itu? Aku sedang dalam penderitaan." kata Mingyu.

Soonyoung menyeka air matanya. Ia memang gampang menangis kalau sudah ketawa hebat. "Uh, maksudku—Jungkook, ia kurang kerjaan sekali."

"Nah," Mingyu mengambil keripik kentang dari dalam lemari, tempat ia menyembunyikan jajanan dari tangan-tangan jahil sepupunya. "Semua orang bisa lihat kalau ia kurang kerjaan."

"Hei, begitu-begitu, ia satu garis umur dengan kita."

Suara bungkus plastik keripik dibuka terdengar. "Hah? Masa?"

Soonyoung mengangguk. "Kudengar sih waktu sekolah menengah pertama, ia dapat kesempatan pertukaran pelajar. Tapi itu berarti ia harus mengorbankan setahun untuk mengejar materi sekolah. Jadi total sekolah menengah pertamanya adalah empat tahun."

"Berarti ia pintar, dong?"

Soonyoung mengangkat bahu. "Mungkin."

"Heh," Mingyu menyeringai. "Dari mana kau tahu yang begitu-begitu?"

"Yah, dengar-dengar saja. Gadis-gadis kalau menggosip kan' suaranya keras."

Helaan napas terdengar. "Untung ia masih junior. Coba kalau sama-sama kelas dua. Mati aku."

Soonyoung mengibaskan tangannya. "Berlebihan, ah. Omong-omong, hubunganmu dengan Wonwoo bagaimana? Kelihatannya makin baik?"

Mingyu mengunyah keripiknya. "Makin baik bagaimana?"

"Yah… Kau tidak terlalu membicarakannya. Eh, itu bentuk ketidakpedulian atau malah tanda hubunganmu makin baik, ya." jawab Soonyoung, mencomot keripik itu.

Mingyu masih mengunyah. Ia agak-agak kesal pada Soonyoung karena berani mengambil kesimpulan seperti itu ketika tidak dari keduanya yang benar. Tapi bagaimanapun juga, Mingyu tidak punya perasaan apa-apa pada Wonwoo. Ia harus mengakhiri ini cepat atau lambat.

Walau mungkin nanti lebam di dahi atau pelipisnya karena hantaman kepalan tangan Jungkook—Mingyu meringis.

"Tiga bulan. Akan kuakhiri dalam tiga bulan." gumam Mingyu. Ia tidak ingin hal ini didengar siapapun tapi kamarnya cukup sunyi sehingga Soonyoung menatapnya. "Tiga bulan sudah cukup untuk tidak membuatku terlihat seperti brengsek, 'kan?"

Soonyoung mengangkat bahu. "Sebenarnya itu relatif. Tapi… Yah, bisa juga."

Mingyu menghela napas. Keripiknya tidak tampak semenarik tadi.


Memang benar kata orang-orang, musim gugur itu musimnya sakit mewabah. Harusnya Mingyu yang punya tubuh atletis bisa dengan mudah menangkis virus-virus penyakit, tapi ia tidak punya pengaturan yang baik terhadap apa yang dimakannya. (Ia berpesta ayam goreng dan kola dengan Soonyoung sampai mabuk—mabuk kola maksudnya, sehingga lalu muntah-muntah dan ia kena demam.)

Ibunya sudah ribuan kali memberitahu, tapi namanya anak laki-laki, pasti ada saja yang dibantah.

Ia mengerang dalam tidurnya, keringat dingin tidak bisa berhenti keluar. Pada waktu-waktu begini, rasanya ia ingin mengomel pada Soonyoung saja. Kalau bukan karena ia, pasti Mingyu tidak akan minum kola kebanyakan. Kecintaan Soonyoung pada kola itu benar-benar diluar batas wajar.

Saat berikutnya, ia dapat mendengar bel rumah berbunyi. Dua kali, lalu terdengar suara ibunya berlari kecil, mungkin untuk menekan interkom. "Ya? Teman Mingyu? Oh! Sebentar, ya!"

Mingyu mengira-ngira siapa. Tidak mungkin Soonyoung mau mengunjunginya di waktu-waktu begini. Sipit itu pasti masih ngiler di kasurnya, tidak beranjak sampai dua jam ke depan. Siapa, ya yang berkunjung? Yugyeom? Atau… Jungkook?

Mingyu merinding. Jungkook? Big no. Bisa-bisa ia tambah sakit.

Eh, atau

Suara ibunya terdengar lagi. "Wah, cantiknya! Siapa ini?"

Jangan bilang kalau itu Jeon Wonwoo… Jangan bilang… Tolong katakan pada Mingyu itu bukan Jeon Wonwoo… Tolong katakan…

tbc


sekali-kali membayangkan kalau jungkook itu manly seru juga. biasanya dia itu tipe uke yang unyu dan pendiam. yang kubayangin adalah dia cowok nakal yang sayang keluarga.
(nakalnya ini cuma nakal biasa kok…)

review lagi, boleh? part ini kurang panjang ya? h3h3.