You

Hai minna :D makasih ya yang sudah baca dan review, makasih banget aku seneng sampe terharu ;w; . di chapter 2 ini kalau ada kesalahan seperti bahasa, salah ketik, atau ooc... hountoni gomenasai *bow* selebihnya, selamat dinikmati fic ini. Semoga mudah dimengerti yaa 'w')b

-Chapter 2-

Reader's Pov~

"(Reader)-sama keren banget kyaaa" ah berisik sekali sih mereka, he? inikan sekolah lamaku?

"(reader)-sama bagaimana sekolah *peeep* apa mereka kuat-kuat?" kuat?

"(reader)-sama keren, biar mereka tau tuh! Walau sekolah putri tapi kita kuat!" kenapa aku bisa sampai disini lagi?

"heh, kamu si (reader) dari sekolah putri *peeep* itu kan?" loh? Ko ada cowo ini? Dia kan... "hei coba lihat, perempuan tuh pasti lemah kalau dibeginikan!" loh? Kenapa dia memojokanku ke tembok? Mu-mukanya mendekat! Kalau begini terus,dia akan...ah! harga diriku bisa runtuh! Bug! Aku menendang perutnya dengan keras lalu memukul kepalanya dengan sebatang kayu. Loh? Ke-kenapa berdarah? Ke-kenapa dia tidak sadarkan diri? Orang-orang melihatku! Kenapa mereka melihatku... seperti itu?

"(reader), hei, (reader)!" siapa yang memanggil? A-aku tak boleh terlihat takut! Ta—tapi, si-siapa itu?

"hei (reader)!" ukh! Tanganku dipegang! Siapa tapi?

"(reader)... bangun," aku membuka mata dan ternyata tadi hanya mimpi. Aku bernafas tidak beraturan dan melihat sekitar. He? ko di dalam mobil? Sejak kapan? "(reader), kau tertidur. Lalu kau mimpi buruk kan? Tentang sekolahmu yang dulu,"

Ko dia tahu? "ke-kenapa kau tahu?"

"aku tahu segalanya," ah aku ingat sekarang.

/flashback/

Tadi saat jam pulang, aku mau kabur lewat pintu belakang. Lalu si iblis ini menyalakan pengeras suara dan mulai membacakan yang ada di dalam kertas itu.

"(nama lengkap reader) dinyatakan te—" he? dia sungguh-sungguh juga kali ini! Aku berlari secepat mungkin kearahnya dan menepis pengeras suara itu sampai terjatuh. Aku membekap mulutnya dengan kedua tanganku.

"jangan. Berani-berani. Kau. Baca. Ini." Kataku terputus-putus dan mengancam. Ia menarik kedua tanganku kebelakang. Sehingga aku bisa melihat wajahnya hanya beberapa centi dari wajahku.

"kau juga. Jangan berani-berani mengabaikan perintahku. Aku sudah bilang perintahku—"

"Absolute. Sudah ah cepat, nanti aku tertinggal bis. Rumahku kan lumayan jauh," aku melepaskan tanganku dari genggamannya. Saat aku berjalan melewatinya, ia menarik ku dan mendorongku masuk ke sebuah mobil yang ternyata dari tadi ada di depan kami. Aku pun terduduk di dalam dengan heran dan ia menghampiriku,

"jangan pernah memotong kata-kataku," ia memelototiku dengan tatapan 'kalau sudah saatnya dibunuh, enaknya dicincang atau direbus?' (aduh bahasa ku absurd ._.) .

"haaaah, iya iyaa. Nah sekarang, kenapa kita naik mobil?"

"aku selalu naik mobil,"

"iya iya orang kaya. Tapi memangnya kamu tahu dimana rumahku?"

"tentu, aku ini kan tahu segalanya."

Dan setelah itu tidak ada pembicaraan lagi sampai akhirnya aku tertidur.

/flashback end/

Sekarang, ia masih menatapku dengan dalam. Sepertinya ia memastikan sesuatu... entahlah apa itu. Eh, sebentar... apa-apaan jarak ini? Dekat sekali!

"hey, Akashi! Tadi waktu aku tidur kamu tidak melakukan apa-apa kan?"

"hmmmm,"

"apaan itu 'hmmm'? kau melakukan yang aneh-aneh ya?" sekarang balas aku yang memajukan tubuhku padanya.

"maksudku tidak. Bodoh."

"huft, untunglah. Eh sebentar... akh! Kita sudah melewati super market ya?" aku lupa kalau hari ini aku harus belanja dulu sebelum pulang. Di apartemenku bisa-bisa tidak ada makanan apa-apa.

"aku sudah tau kamu perlu. Makanya sudah dibelikan supirku bahannya," he? hmmm ternyata baik juga dia. Kadang-kadang sih,

"ah! Terimakasih yaaa hehe," aku tersenyum lebar karena telah terselamatkan. Ia memandangku heran. "kenapa mukamu? Memangnya aneh aku berterimakasih?"

"tidak, tapi itukan sudah seharusnya aku peduli dengan siapa saja yang melayani ku."

"ya ya ya terserah, ah ini uang untuk menggantikannya. Kalau lebih, kembaliannya simpan saja,"

"tidak perlu, kau pasti lebih butuh." Maksudmu aku orang miskin?

"hah? Jangan sombong karena kaya. Ambil nih," aku memaksanya untukmengambil uang tersebut.

"aku bilang tidak ya tidak."katanya menolak. Ah itu rumahku. Kesempatan bagus ini,

"baiklah, kuambil belanjaannya yaaa..." supir Akashi membukakan pintu untuk ku. ia sudah menungguku untuk keluar.

"iya. Sudah sana, sudah sampai." Katanya tanpa memperhatikanku dan mulai menutup mata untuk tidur.

"okay... hiaaattttt!" lalu aku menarik dasinya sampai longgar dan memasukan uangku kedalam bajunya. Ia kaget dengan kelakuanku, begitu juga supirnya. Tapi, biarkan saja... aku tak peduli. Aku mengencangkan dasinya sehingga uangnya susah untuk dikembalikan. "tuh, ambil! Sudah bagus aku tahu diri!" lalu aku lari masuk ke dalam apartemenku. Saat sampai di lantai atas, aku bisa melihatnya masih di depan apartemen. Aku memeriksa belanjaan dan... yang benar saja! Isinya hanya bahan untuk membuat sup tofu! "hey! Ko bahannya kebanyakan tofu?" ia tersenyum dan masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi. Ukh, agak sial juga. Tiba-tiba handphone ku berbunyi.

"sekalian. Buatkan aku bekal dari tofu juga. Akashi Seijuurou" itu e-mail dari Akashi. Heeee? Astaga apa sih makasudnya? Darimana ia tahu e-mail ku?

Akashi's Pov~

Perempuan yang aneh. Biasanya kan mereka pasti mematuhi perintahku, tapi kenapa dia begitu? Apalagi masalah uang, kalau diberi gratis kan tak usah dipikirkan. Aneh. Haaah, sudahlah tidur saja... aku melipat tanganku dan, ukh. Aku lupa, ada uang (reader) di dalam bajuku. Haha, perempuan yang menarik.

-skip-

Pagi itu seperti biasa aku mengecek ruang ketua osis. Biasanya aku masuk pasti sepi, karena anggota osis yang lain akan bekerja di ruang seberangku. Namun, pagi itu ada pemandangan yang berbeda. Di depan kantorku, aku melihat perempuan dengan rambut ikal panjang sepinggang, rambutnya coklat sangat gelap dan dibiarkan berantakan. Rok nya miring dan kaus kakinya panjang sebelah. Seperti sedang menunggu seseorang. Ia melihatku dan melambaikan tangannya,

"hoi, Akashi! Ini bekalmu, aku tidak tahu kelasmu makaya aku datang ke sini, hehe"

Ah ternyata (reader). Kalau diperhatikan, ia manis. Tapi kalau diam seperti tadi, kalau sudah berani seperti yang dari kemarin ia lakukan... lebih mirip gorilla. (peace ya reader )

"iya." Aku mendekatinya dan menerima bekalku. Lalu aku membuka ruangan ku, namun ia masih menungguku. Entah untuk apa, "hei (reader) kamu tunggu apa?" ia terlihat bingung aku bertanya seperti itu.

"tunggu kata-kata darimu,"

"kata-kata apa?"

" 'uwahhh bento buatan (reader) ungg pasti enak. Arigatou (reader) 3 ' " ia menceriakan suaranya dan seakan berharap aku berbicara kata-kata itu.

Aku menghela napas karena kelakuannya, "baiklah, terimakasih." Lalu ia tersenyum dan pergi. Hanya kata-kata itu saja membuatnya senang? Aneh. "(reader)! Sini dulu," aku menyuruhnya masuk ke ruanganku. Ia tampak bingung dan memiringkan kepalanya, tuh kan aku benar. Kalau dia seperti itu manis.

"apa?" ia menatapku bingung

"pegang bento ini dulu," aku membeeikannya padanya. Ia menerimanya dengan bingung.

"kau ini niat sekolah tidak? Berantakan sekali sih," aku menaikan kaus kakinya yang panjang sebelah, membenarkan dasinya, memasukkan bajunya, dan melepas gulungan jasnya. Lalu aku merapikan rambutnya. Aku serius membenarkannya, tapi ia malah tertawa.

"hahahahahahhaha," ia tertawa terpingkal-pingkal entah mengapa. "Akashi, kamu ini seperti ibuku saja haha,"

"memangnya kenapa?" aku heran dengannya. Sungguh.

"kau sebenarnya bisa baik juga seperti ini. Tapi kenapa kau punya hawa yandere tingkat dewa sih? Haha," ia memberikan bekal itu padaku. "kalau begitu, aku ke kelas dulu ya," ia menepuk pundak ku. "ah sebentar," katanya tiba-tiba berhenti di depan pintu. "arigato kaichou, dan... ungg gimana ya? Ah, aku suka sifat mu yang ini haha, " lalu ia pergi begitu saja. Suka ya?

Sebelumnya tidak ada yang bilang begitu. Dasar aneh, saking anehnya aku memikirkan maksud dia suka terhadap sikap ku yanng ini. Tanpa kusadari aku merengut sambil berjalan dan membuat orang-orang di sekitarku ketakutan, mereka berjalan menghindariku. Hmmm mungkin maksudnya seram karena aku sering merengut? Aku berhenti sebentar, dan membuat orang-orang yang daritadi jalan menghindariku kaget. Alhasil mereka ikut berhenti entah kenapa. Mungkin maksudnya suka sifatku itu, sifat yang baik? Hmmm baik yaa, baik itu termasuk ramah kan? Ramah itu bisa diterapkan dalam tersenyum kan? Aku menatap orang yang sedang berjalan disebelahku. Ia kaget sampai mau jatuh kebelakang. Aku mencoba tersenyum padanya, tapi orang itu malah keringat dingin dan kabur. Begitu juga yang lain, berarti maksudnya bukan itu ya? Sudahlah, lupakan saja.

Reader's Pov~

"(reader)-san kerasukan apa?" sasaki tampak kaget melihatku rapih memasuki kelas.

"memangnya aneh aku terlihat rapih?" balasku heran.

"tidak sih, justru semakin terlihat seperti perempuan," katanya menyindirku

"heh, memangnya aku perempuan jadi-jadian?"

"habisnya waktu hari pertama masuk klub kendo, kamu sudah bisa mengalahkan ketua. Ketua kan laki-laki, lanngsung kalah telak dari mu,"

"memangnya kalau dia laki-laki aku harus takut?"

"biasanya sih gitu, tapi kamu kan laki-la—" brug! Tiba-tiba ada laki-laki masuk ke dalam kelas menabrak kami berdua. "kyaaa!" teriak sasaki karena kaget.

"hei, jalan lihat-lihat! Kataku menarik kerah belakangnya,"

"ma-maaf! Tapi aku sedang di-dikejar maut!" kata laki-laki itu. Seperti habis melihat setan saja.

"memangnya ada apa?" aku mulai penasaran dan mendekatinya.

"ta-tadi kaichou senyum padaku!" kaichou? Akashi? Senyum? Anak ini mabuk sepertinya. Seluruh kelas ikut tegang. Ada yang berbisik-bisik, berteriak, dan mengasihani dia.

"sasaki, memangnya kenapa kalau Akashi senyum?" Sasaki juga ikut tegang ternyata.

"i-intinya bahaya!" balasnya terbata-bata.

"seperti?" aku makin penasaran jadinya, bagus dong kalau senyum harusnya.

"se-seperti akan a—" tiba-tiba pintu kelas terbuka, dan yang membuka adalah Akashi. Semuanya seperti menjerit dalam hati, dan laki-laki tadi langsung membungkuk pada Akashi. He? apa maksudnya?

"(reader), sini. Aku mau bicara." Ia memanggilku.

"tapi kan pelajaran mau dimulai,"

"aku sudah ijinkan kau tidak ikut pelajaran." Hah? Memangnya bisa? "baiklah, sasaki... nanti makan siang aku tunggu di atap ya,"

"iya—" lalu Akashi memotong,

"tidak perlu. Kau makan siang dengan ku."
"enak saja, aku mau sama—"

"sudah cepat." Lalu dia menarik lenganku. Teman sekelas melihatku dan melambaikan tangannya. Aku bisa melihat Sasaki berbisik 'kudoakan keselamatan mu'

-skip-

Ia membawaku ke ruangannya lagi. Ia duduk di kursinya dan mulai bekerja. Ia memberikan ku isyarat duduk dihadapannya.

"(reader) buatkan aku teh," perintahnya. Karena aku sedang lelah membantah, kubuatkan saja. "(reader) ambilkan berkas itu, berikan padaku," aku ambilkan saja deh. "(reader) bereskan bagian situ," aku bereskan... makin lama, ia terus memerintahku sana-sini. Ok, ini menyebalkan.

"hei Akashi, kau bisa kerjakan sendiri kan?" kataku sambil membersihkan lemari berkas.

"kau tidak lihat aku sibuk?" aku menoleh dan mendapatinya diantara tumpukan kertas. Sepertinya itu proposal dan semacamnya.

"kan bisa dikerjakan pulang sekolah," aku kembali membersihkan lemari berkas.

"tidak bisa, ada latihan basket. Sebentar lagi kan winter cup." Ia berbicara singkat-singkat sambil mengerjakan dokumennya. Aku kehabisan bahan bicara, dan ia sepertinya terlalu sibuk memerintahku. Aku kembali duduk di kursi depan mejanya dan memperhatikannya bekerja.

"aku kembali ke kelas ya, onegai?" kataku menirukan suara anak kecil.

"tidak. Kau disini."

"aku kan sudah tidak ada kerjaan disini, kau juga tidak memerintahku lagi," aku memukul meja karena kesal kepadanya. Ia sepertinya terganggu karena kelakuanku, ia menancapkan gunting di antara jari-jariku yang masih diatas meja. Kalau aku tadi bergerak, tanganku pasti ada ventilasi udara baru nih. "baikalah, tapi perintahkan aku supaya aku tak bosan,"

"baik. Aku perintahkan kamu untuk menemaniku disini,"

"sampai?"

"sampai aku puas," uuuuuuukkkhhhhhh apa sih maunya? Daripada ditusuk gunting lagi, aku diam saja memperhatikan ia bekerja. Lama-lama aku mengantuk dan... tertidur. Aku bisa merasakan tubuhku diangkat oleh seseorang. Aku diletakan diatas sofa lalu diselimuti dengan... mungkin jas? Lalu aku mendengar bunyi laptop, kertas, cangkir, dan barang-barang dipindahkan ke dekatku. Aku merasakan kepalaku diangkat dan dipindahan diatas... paha? Biarin deh, ngantuk banget. Yang penting tidur. Aku membuka mata sebentar dan melihat si kepala merah itu yang memangku ku. biarkan saja deh, kan dia bekerja. Tidak akan sempat aneh-aneh, sudahlah tidur saja lagi.

Chpater.2 end desuuu

Bersambung yaa 'w')/

Makasih buat kalian yang baca, sekali lagi mohon review yaa~ supaya kalau ada kesalahan aku bisa ngubah. Chapter.3 aku lanjut besok rasanya sih, jaa mata ne minna-san! Sekali lagi makasih yaaa :D mohon ditunggu chapter 3 nyaa =3 *bow*