"Light of Hearts"

Fanfiction by : Amanda Lactis

Chapter 2 : Benci dan cinta

.

.

.

Naruto tak berharap lebih, sungguh. Seminggu ini dia sibuk mengurus proposal pengajuan Club Musik dengan Kakashi beserta Tsunade yang tetap bersikukuh menolak ajuan tersebut. Dan bila sempat, Naruto akan makan siang berdua dengan Sasuke, atau menempelkan Sakura agar terus berdekatan dengan Sasuke. Karena mengingat masa lalu memang menyakitkan, sudah cukup baginya untuk membahagiakan sahabat nya. Setelah dipermainkan sebegitu besar, dipermalukan semasa SMP membuat benteng pertahanannya menebal. Sedikit banyak ia berterima kasih dengan sosok di masa lalu. Ah, iya, namanya saja enggan dia ucapkan. Terlalu banyak rasa sakit sampai membuat Naruto malas menyebut namanya.

"Ayolah, teme, temani Sakura-chan membeli buku dan kau akan menjadi lelaki baik!" Naruto mengekori kemana pun Sasuke pergi, gadis itu nyaris ikut masuk ke kamar mandi.

Sasuke memijit pelan pelipisnya,"Dobe, sudah ku katakan, aku tidak berniat menemaninya ke mana pun!" dia menghardik kasar, mendengus kesal dan kembali melanjutkan perjalanan pulang, sialnya rumah mereka berdua searah. Takdir buruk macam apa ini. Dan lagi, hanya berjarak beberapa meter. Sasuke jadi ingin mengusulkan pindah rumah jika dirasa sikap Naruto makin menyebalkan.

"Heh, kalau kau tidak mau menemani Sakura-chan, maka kau harus menemaniku ke toko buku!" Sasuke tersedak, agaknya terkejut mendengar permintaan lantang yang keluar dari bibir mungil Naruto, dia berhenti berjalan, meminta penjelasan lebih lanjut dari gadis pirang norak tersebut. Naruto menyeringai penuh kemenangan. "Aku ingin membeli beberapa novel, kau tahu bukan, gadis dan fantasy mereka?" sahutnya santai. Sasuke sweatdropp, merasa pernah mendengar kalimat akhir tadi.

"Terserah kau saja, dobe. Tentukan saja hari dan waktunya, dan jangan sampai terlambat."

Dari jauh Naruto mengetik pesan singkat pada seseorang, tak berhenti tersenyum, berhasil mengajak Sasuke ikut serta.

To : Sakura

From : Naruto

Aku berhasil mengajaknya! Nanti aku kabari! Selamat berkencan, ya~ tee-hee! :D

Naruto melanjutkan langkahnya, sesekali menggoda Sasuke sampai dia merona, menanyai kapan terakhir kali pria itu pipis di celana, mungkin? Yah, Naruto tidak ingin rencananya hancur begitu saja. Dia ingin akhir bahagia bagi kedua sahabatnya. Entah sejak kapan ia seenaknya memproklamasikan Sasuke sebagai sahabatnya. Bukankah begini lebih baik? Saat Sakura berhasil mendapatkan kembali hati Sasuke, maka Naruto mau tak mau harus mundur perlahan, membiarkan dua orang itu menikmati waktu berdua mereka. Tapi, benarkah ini yang ia inginkan? Naruto tertegun, tak terasa ia sudah sampai di depan rumahnya, kakinya berjalan cukup cepat, rupanya.

.

.

.

Hari Minggu datang dengan lambat, Naruto sampai mati-matian bertahan untuk memuluskan rencananya. Awalnya, Sasuke hampir curiga karena Naruto pernah terlihat berbincang ringan bersama Sakura dan tertawa kecil tanpa sebab. Namun berkat aktingnya yang memukau, Naruto berhasil mengelabui Sasuke. Buktinya, pria dingin itu datang ke toko buku terdekat, berpenampilan kasual seperti remaja lelaki kebanyakan. Naruto yang sudah mengkode kedatangan Sakura, terus terkikik, ia yakin ini pasti berjalan mulus. Naruto tidak mungkin gagal, batinnya penuh percaya diri.

"Sasuke-kun."

Sasuke menoleh, terkejut bukan main ketika melihat sosok yang tidak ia inginkan datang. Bukankah harusnya Naruto yang ingin ditemani membeli buku? Kenapa malah Sakura yang datang? Dan lagi, apa-apaan dengan dandanan gadis itu, serba pink dan membuat Sasuke sakit mata. Sialan, ini pasti ulah konyol si dobe, batin Sasuke berjanji untuk membalaskan dendamnya pada Naruto. Seenaknya saja menyuruh Sasuke menemani Sakura. Saat ia hendak berbalik dan berniat pergi, tangan Sakura menahan pergerakannya, mengundang rasa kesal yang semakin menjadi dalam benak Sasuke.

"Lepaskan aku, aku tidak mau melihat wajahmu."

"Sasuke-kun, kau mau membuat Naruto sedih?" bisik Sakura sedih, dalam pikirannya dia tidak berharap untuk kembali memadu kasih bersama masa lalu. Sasuke ada pada lembar masa lalunya. Namun, melihat kerja keras Naruto mau tak mau menggerakkan hatinya.

Sasuke jelas memikirkan ucapan Sakura, dia tahu sejak tadi Naruto mengawasi gerak-geriknya. Naruto bersembunyi di rak bagian belakang dan sengaja berbaur tanpa terlihat. Menolak usulan Sakura sama saja menyakiti hati Naruto, dan Sasuke tidak mau membuat teman pirang nya itu sedih. Mungkin harga dirinya harus diturunkan kali ini.

"Asal tidak terlalu berlebihan." Balas Sasuke datar, sibuk memilah beberapa buku ensiklopedi untuk dibaca. Sakura tersenyum, berdiri tepat di samping Sasuke dan ikut mengambil sebuah novel. Keduanya seolah menikmati waktu berdua, dari jauh Naruto sudah senang bukan main. Tangannya gatal ingin memeluk dua orang sok jaim di depan sana. Setelah dirasa cukup, Naruto memutuskan untuk menjauh, ia keluar dari toko tersebut dan berjalan entah kemana. Sasuke yang melihat hal itu langsung menjauhkan diri dari Sakura.

"Dia memang keras kepala, eh?" Sakura tertawa kecil. Sasuke menghela nafas pendek.

"Kau ada niatan untuk kembali dekat denganku, Haruno? Kalau iya, lupakan saja."

"Oh, tentu tidak, Sasuke-kun. Aku tidak memiliki perasaan suka padamu." Sakura membalas geli.

Sasuke senang, tentu saja dia senang karena tidak perlu menjaga sikap selama bersama Sakura. Toh, gadis itu juga tidak berniat kembali memadu kasih dengannya. Sekarang masalahnya ada pada Naruto. Cepat atau lambat, gadis berisik itu harus sadar bila dua orang temannya tidak akan pernah kembali bersama. Berteman mungkin iya, tapi berpacaran? Tidak bisa.

"Aku akan membalasnya nanti." Gumam Sasuke menatap kepergian Naruto.

"Naruto itu orang yang selalu mendahulukan orang lain, dia peduli dan tidak sadar kadang dia dimanfaatkan. Bukankah itu menyakitkan, Sasuke-kun?"

Sasuke tahu, di balik senyum konyol yang Naruto umbar, terselip rasa sedih yang disembunyikan dengan baik. Gadis itu terlihat bahagia dan membuat orang di sekitarnya merasa nyaman, tapi jauh di dalam hatinya, Naruto butuh yang namanya sandaran. Sejak berurusan dengan Naruto, Sasuke jadi ingin memasuki kehidupan kelam gadis itu. Ia ingin sedikit saja Naruto membagi masalahnya dengan Sasuke. Meski hanya sebentar, Sasuke berharap Naruto berhenti dan mengistirahatkan pikirannya.

.

.

.

Kakashi tidak suka memasuki kelas Sasuke, bukan karena apa tapi melihat Naruto yang terus-terusan tersenyum lebar berpengaruh pada pola pikirnya. Bagaimana tidak? Gadis itu selalu melemparkan pandangan aneh kearahnya, apalagi ketika Kakashi sedang mengobrol bersama guru penjaga UKS bernama Umino Iruka. Kakashi jadi parno dan berjanji untuk menjauhkan diri dari cucu kepala sekolah itu.

"Sensei, tidak lupa kan? Ayo, buat baa-chan menyetujui ide ku!" Naruto sampai nekat mengekorinya ke segala penjuru sekolah! Kakashi ingin menjitak kepala gadis itu sesekali saking kesalnya.

Kakashi menghela nafasnya. "Astaga Naru, sensei tidak berjanji untuk meyakinkan nenekmu, tahu." Sahutnya lesu. Mengajar banyak murid dalam sehari bukanlah perkara mudah untuk orang malas sepertinya.

"Sensei pilih foto aib mu tersebar atau menuruti permintaanku?"

Dan tentunya, Naruto mengucapkan hal itu tanpa merasa bersalah. Seolah membaca pikiran Kakashi yang kini terkejut bukan main. Foto aib apa? Apa aku melakukan yang aneh? Batin guru berusia tiga puluh tiga tahun tersebut.

"Lokasinya di UKS, sekitar dua hari yang lalu? Oh, ada Umino-sensei juga loh, kalian sedang-empph!" Naruto merasakan mulutnya dibekap oleh tangan Kakashi dan diseret menjauh dari sana. Beberapa murid menatap mereka penasaran beberapa lagi tampak cuek.

"Baiklah, kita bernegosiasi, Uzumaki." Kakashi mendesis rendah, matanya yang biasa terlihat tanpa minat kini berkilat tajam, dan hal itu tidak luput dari penglihatan Sasuke yang terdiam melihat posisi ambigu antara Kakashi dan Naruto. Hei bagaimana reaksimu saat melihat guru yang kau hormati berdiri tepat di depan gadis yang ceritanya menjadi temanmu apalagi jarak keduanya begitu dekat? Sasuke wajar kan berpikir yang tidak-tidak?

Naruto terkekeh. "Nah gitu kan enak, sensei! Besok ketemu di café xxx ya? Nanti kuberi fotonya! Bye bye sensei~!" ia melambaikan tangannya bahagia, berbeda dengan aura Kakashi yang suram.

"Aku tidak tahu kau sedekat itu dengan Hatake-sensei." Suara Sasuke terdengar lebih dingin, omong-omong.

Naruto malah mengumbar senyum lebar andalannya. "Rahasia dong, hehe! Duluan ya, teme! Sampai nanti di kelas." Gadis itu berjalan menjauh. Langkah kakinya terlihat bahagia diiringi nyanyian pelan dari bibir mungilnya. Oh oke, Sasuke jelas sangat curiga.

'Kenapa aku jadi penasaran?'

To Be Continued


Note : Halo! Duh saya maunya ngupdate ini tanggal 16 April bulan depan, karena yha anggep aja anniv dua taun fanfic ini dipublish dan tidak dikerjakan oleh author yang banyak kerjaan yaitu saya sendiri *Plak* sebenernya fanfic ini udah lama mau saya lanjut, cuman otak saya ga berjalan semestinya, mungkin lagi kekurangan serotonin kali yha *jduak* anyway, maaf yha baru bisa update. Serius deh fanfic ini saya kerjain selagi saya SMK dulu, eh pas saya buka tau-tau saya udah kuliah aja! Maaf, ya readers-tachi! Kerjain lanjutan fic ini ditemani lagu dari band favorit saa yaitu One Ok Rock! Lagunya kenak banget di saya sampe lancar ketiknya.

Judulnya Pierce maknanya sih dua orang yang sama-sama suka cuman mereka emang gak bisa satu lagi, jadi kudu pisah gitu. Minggu ini emang waktunya galau karena mingdep saya UTS! *mental breakdown* btw itu aja deh, sampai jumpa di chapter depan ya!

Chapter 3 : Bunga dan Mentari

Regards,

Amanda Lactis.