Title: As Time Goes By
Cast: Kyuhyun and other
Desclaimer: Semua cast milik Tuhan YME, but this story is mine
Genre: Family, angst, friendship
Rating: T
Warning: just fanfic, don't like don't read, typos, OOC, alur membosankan, cerita pasaran
Summary: Semua tidak akan kekal. Kyuhyun harus menjalani kehidupan baru yang jauh berbeda dari kehidupannya yang dulu.
Happy reading
Puput257™
Chapter 2
"Yak! Kau mengotori gaun mahalku!" pekik seorang gadis bergaun merah muda pada seorang pelayan yang kini menunduk dalam.
"Mianhamnida. Biar saya bersihkan," ujar pelayan itu seraya mencoba membersihkan noda jus jeruk pada gaun gadis itu, namun ditepis oleh sang gadis.
Manajer kafe yang mendengar keributan langsung keluar dari ruangannya. Ia menghampiri meja nomor dua yang menjadi sumber keributan.
"Mianhamnida, agasshi. Dia pelayan baru, masih dalam tahap belajar. Kami akan membayar ganti rugi jika memang perlu." Sang manager berucap dengan sopan lalu melirik pemuda yang merupakan pelayan baru di kafenya itu.
"Tidak perlu! Aku bukan orang miskin yang perlu ganti rugi."
Gadis berambut hitam sebahu itu kemudian melengos pergi dengan mulut yang tidak berhenti berucap.
"Mianhamnida atas ketidaknyamanannya," ujar pria dua puluhan tahun itu pada pengunjung kafe yang lain. Ia kemudian menghela napas pada pemuda yang baru diterima bekerja seminggu lalu itu.
"Kyuhyun, kau ke ruanganku setelah merapikan ini," ucapnya lagi.
Pemuda yang justru sedang menatap sulit pada gadis yang baru keluar itu tersentak. "Baik," jawabnya.
Sang manager berlalu setelah itu.
Kyuhyun segera membereskan 'hasil kerjanya' lalu membawanya ke dapur. Ia membuang pecahan gelas ke tempat sampah, mengabaikan pandangan bertanya dari seorang yang sedang berdiri di sudut dapur kafe -mengambil menu pesanan.
"Bagus, Kyu. Kau sudah membuat dirimu dalam masalah," gumam Kyuhyun pada dirinya sendiri. Pemuda bersurai coklat itu berhenti sejenak. Ia menarik napas sebentar sebelum mengetuk pintu coklat di hadapannya.
Tok tok tok
"Masuk," jawab suara dari dalam.
Cklek
Kyuhyun menutup pintu setelah masuk ke dalam.
"Duduklah," perintah pria dengan lesung pipit itu. Kyuhyun menurut, ia duduk di kursi yang berseberangan dengan meja kerja manager kafe tempat ia bekerja.
"Kau tahu kesalahanmu, bukan?"
"Ya, Siwon-ssi"
"Sebenarnya aku tidak benar-benar yakin dengan kemampuanmu, mengingat kau belum pernah bekerja sebelumnya. Namun aku juga teringat Paman Lee yang sudah menitipkanmu padaku."
Pria dengan nama lengkap Choi Siwon itu menunggu respon Kyuhyun yang sedari tadi diam.
"Aku sungguh membutuhkan pekerjaan ini, Siwon-ssi. Tolong jangan memecatku."
Siwon tergelak dengan respon Kyuhyun. Pemuda yang ia terima bekerja seminggu lalu itu nampak sangat berbeda. Menurutnya, Kyuhyun adalah orang yang tertutup dan cenderung selalu menyendiri saat berkumpul dengan pegawai kafe yang lain. Walau Siwon akui pekerjaan Kyuhyun selama seminggu ini bisa dikatakan bagus untuk seorang pemula, namun ia tidak menyangka Kyuhyun mau memohon padanya.
"Aku tidak akan memecatmu." Sebaris kalimat itu membuat Kyuhyun menghela napas lega.
"Kuharap kau lebih berhati-hati," ucap Siwon terdengar seperti nasehat.
"Terima kasih, Siwon-ssi. Aku akan lebih hati-hati."
Kyuhyun pamit setelah mengucap terima kasih. Ia mengurungkan langkah saat suara Siwon menginterupsinya.
"Panggil aku hyung saja, Kyu." Dan hanya dijawab anggukan oleh Kyuhyun.
Pintu itu kembali tertutup bersama Kyuhyun yang menghilang di balik pintu.
Siwon menopang dagunya di atas meja. Ia kembali teringat saat Paman Lee -tetangganya- menitipkan Kyuhyun untuk bekerja di kafe miliknya. Sedikit rasa kasihan menyergap di hati pria yang masih lajang itu setelah mendengar cerita tentang Kyuhyun dari Paman Lee.
"Cho Corporation. Siapa yang menyangka perusahaan sebesar itu bisa bangkrut dalam sekejap."
.
.
.
Kyuhyun merenggangkan tubuhnya setelah tugas terakhirnya -untuk membuang sampah- malam ini selesai. Ia kembali menutup tong sampah dihadapannya lalu melangkah masuk ke dalam.
"Kyuhyun, jangan lupa mengunci pintunya. Aku pulang dulu," ucap Siwon saat Kyuhyun baru masuk ke dalam. Pemuda tampan itu tersenyum sebelum menghilang di balik pintu kafe. Hari ini memang giliran Kyuhyun untuk membuang sampah dan mengunci pintu kafe.
"Hati-hati, hyung." balas Kyuhyun sedikit keras agar Siwon mendengar suaranya.
Setelah kejadian sore tadi, Kyuhyun berusaha bekerja lebih baik. Bukan karena takut dipecat -walau alasan itu juga termasuk- Kyuhyun hanya tidak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi.
"Hahh... "
Terdengar helaan napas dari satu-satunya orang dalam ruangan tersebut. Kyuhyun, ia merasa benar-benar lelah kali ini. Ia menyenderkan tubuh pada dinding dapur. Pemuda yang dipaksa hidup susah sejak beberapa minggu ini tampak menyeka ujung matanya yang entah kapan mulai berair.
"Aku tidak boleh menangis. Ini hidupku sekarang."
Terkadang Kyuhyun merasa jika Tuhan sungguh jahat padanya. Ia yang masih tujuh belas tahun terpaksa harus bekerja untuk bertahan hidup bersama ibunya. Bekerja menjadi hal yang sangat sulit bagi Kyuhyun mengingat apa yang biasa ia dapatkan selama ini.
Namun Kyuhyun juga merasa bersyukur. Ia masih punya Pak Lee yang sangat baik padanya -walau sikapnya pada mantan supirnya itu kurang baik selama ini. Pria paruh baya yang sekarang bekerja sebagai supir taksi itu selalu memberi bantuan, bahkan untuk hal terkecil sekalipun.
Pekerjaannya sekarang juga berkat bantuan Pak Lee. Berkat pria bermarga Lee itu, Kyuhyun dapat bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah dengan bayaran yang lumayan.
Kyuhyun menegakkan tubuhnya lalu mematikan lampu penerangan di setiap sudut kafe. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit. Ia berdecak karena merutuki dirinya yang sempat-sempatnya melamun. Setelah memastikan pintu kafe terkunci dengan benar, Kyuhyun melangkah pergi.
"Ibu pasti sudah tertidur," gumamnya seraya merapatkan mantel coklat di tubuhnya. Angin musim gugur membuat tubuhnya menggigil.
Berjalan kaki.
Kegiatan yang selalu Kyuhyun lakukan selama beberapa minggu ini. Ada rasa sesak yang menghampiri hati Kyuhyun mengingat dulu ia selalu berganti mobil setiap tahunnya.
"Angin malam membuat dadaku sesak."
Dengan langkah pasti Kyuhyun menghilang di tikungan di ujung jalan. Hanya disinari lampu jalan yang remang. Sepi. Sendiri.
Kyuhyun hanya tidak menyadari masih ada seorang pemuda yang kini beranjak dari kursi dekat pohon maple di depan kafe.
.
.
.
Prannggg!
Suara bantingan terdengar dari arah dapur. Membuat Kyuhyun yang baru membasuh wajahnya segera berlari keluar dari kamar mandi.
"Ibu!" teriak Kyuhyun sambil menahan tangan Nyonya Cho yang berusaha melukai tangannya dengan pecahan kaca yang tercecer di lantai. "Demi Tuhan, Ibu. Sadarlah! Jangan seperti ini... " lirih Kyuhyun tepat di muka sang ibu yang telah banjir air mata.
Wajah yang semula menatap pergelangan tangannya itu kini beralih menatap Kyuhyun. Ada raut keterkejutan disana.
Ctarrr!
Pecahan kaca di genggamannya terjatuh ke lantai, hancur menjadi bagian yang lebih kecil.
"Kyuhyun... " ucap perempuan yang merupakan ibu dari Kyuhyun, lalu menangkup wajah Kyuhyun. "Maafkan ibu... Maaf."
Kyuhyun menarik sang ibu ke dekapannya, menyalurkan rasa tenang pada orang yang paling ia sayang saat ini.
"Tidak apa, Ibu. Sekarang Kyu antar Ibu ke kamar. Ibu perlu istirahat."
Tanpa penolakan Nyonya Cho berjalan menuju kamar dituntun oleh Kyuhyun. Dengan hati-hati Kyuhyun menidurkan sang ibu yang langsung terpejam di ranjang.
"Selamat tidur, Ibu." Dikecupnya kening Nyonya Cho lalu Kyuhyun keluar dari kamar dengan langkah pelan. Kyuhyun kembali ke dapur untuk membersihkan lantai dari pecahan kaca.
Sudah kesekian kali Kyuhyun mendapati sang ibu membanting barang-barang, entah itu gelas, piring, vas, ataupun benda lain. Kyuhyun paham akan penyebabnya. Ibunya masih belum menerima keadaan mereka sekarang.
Jujur saja, Kyuhyun terkadang tanpa sadar menangis teringat hidupnya yang saat ini. Ada rasa marah dihatinya pada Tuhan. Kenapa harus ia? Kenapa harus keluarganya? Kenapa harus ayahnya?
Tetapi, akhirnya Kyuhyun seolah tersadar. Tuhan punya rencana yang lebih baik untuknya, untuk Ibunya setelah ini.
"Sshhh... "
Karena kurang hati-hati, pecahan kaca itu justru melukai jari tangan Kyuhyun. Ia hanya memandang tetesan darah yang jatuh dari ujung jarinya tanpa ekspresi. Tanpa berniat mengobati luka pada tangannya, Kyuhyun kembali membersihkan pecahan kaca tersebut.
.
.
.
"Kenapa kau masih bersekolah disini?! Harusnya kau bersekolah di SMA murahan di luar sana!" ucap seorang pemuda tanpa rasa bersalah.
Kyuhyun tidak bereaksi. Ini masih pagi dan ia punya urusan penting dengan Jung seongsangnim yang menunggunya di ruang guru.
Jika dua bulan lalu ia akan menundukkan kepala saat orang-orang mencacinya, kini ia hanya menatap orang-orang tersebut tanpa ekspresi. Jika dua bulan lalu ia merasa sangat malu pada setiap orang di sekolah ini, kini ia merasa urat malunya telah lenyap. Jika dua bulan lalu ia akan sakit hati mendengar cacian orang-orang, kini ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu.
"Seunghyun-ssi, aku harus ke ruang guru sekarang. Tolong jangan menghalangi jalan," balas Kyuhyun tanpa rasa takut.
Pemuda yang dulu ia kenal sebagai sahabatnya itu justru tersenyum mengejek. Seolah meremehkan ucapan Kyuhyun barusan.
"Kau memerintahku? Kau pikir kau siapa, eoh?" tanya pemuda itu -Seunghyun- dengan nada yang tak biasa. Seunghyun mendekati Kyuhyun. Dengan langkah pelan pemuda Choi itu berjalan mengitari tubuh Kyuhyun.
"Aku meminta tolong padamu," balas Kyuhyun.
Beberapa siswa yang lewat di koridor kelas mulai berbisik melihat mereka. Sudah terbiasa dengan Kyuhyun yang akhir-akhir ini menjadi bahan perbincangan setiap siswa disini. Seorang siswa populer yang dalam beberapa hari menjelma menjadi sampah -kata mereka.
"Cih!" Seunghyun melangkah pergi setelah melayangkan tatapan benci pada Kyuhyun.
Menghela napas pendek, Kyuhyun kembali meneruskan niat awalnya untuk menemui Jung seongsangnim di ruang guru. Ia berjalan memasuki ruang guru dengan langkah pasti, mengabaikan berbagai pandangan dari beberapa guru yang telah datang.
"Oh, Kyuhyun. Kau sudah datang. Kemarilah." Seorang guru yang terbilang muda itu nampak tersenyum dengan tangan melambai pada Kyuhyun yang sedang berjalan kearahnya.
Kyuhyun membalasnya dengan senyum. Setidaknya masih ada orang yang peduli padanya di sekolah ini. Jung seongsangnim -mungkin- adalah satu-satunya orang -setelah Pak Lee- yang memandangnya dengan tatapan sama. Tanpa peduli ia masih Kyuhyun yang kaya atau tidak.
"Ada apa seongsangnim memanggil saya?"
"Duduklah dulu. Ada beberapa berkas yang harus kau tanda tangani." Ucapnya seraya mengeluarkan tiga atau empat lembar kertas dari map di ujung mejanya.
Kyuhyun duduk di kursi yang ada. Matanya tidak beralih dari tulisan di kertas tersebut.
"Pembayaran uang sekolah dari rekening mendiang ayahmu telah dihentikan, mengingat rekening tersebut telah diblokir. Aku minta maaf soal ini," Jung seongsangnim berucap prihatin. Ia sebenarnya tidak sampai hati menyampaikan hal yang menyangkut soal ayah Kyuhyun.
Dengan senyum tipis Kyuhyun membalas, "Saya tahu, seongsangnim." Walau tidak dipungkiri, berbagai pertanyaan mulai berputar di kepalanya. Bagaimana ia membayar uang sekolah yang semahal itu? -menurutnya sekarang. Pekerjaan apa lagi yang harus ia kerjakan untuk mengumpulkan uang? Atau haruskah Kyuhyun mengesampingkan sekolah lalu memilih bekerja?
Seolah mengerti dengan pemikiran Kyuhyun, Jung seongsangnim segera menyahut.
"Tapi jangan khawatir soal pembayaran uang sekolahmu selanjutnya. Mengingat prestasimu selama ini, pihak sekolah setuju untuk memberikan beasiswa sampai kau lulus."
"Cho Kyuhyun, pihak sekolah memberikan beasiswa untuk anda karena telah memenangkan olimpiade matematika tahun ini."
"Tidak perlu! Ayahku masih mampu membiayai semuanya."
Kyuhyun tertegun. Benarkah?
"B-benarkah, seongsangnim? Anda tidak berbohong, bukan?" tanyanya tidak percaya.
Pria bermarga Jung itu tersenyum lalu mengangguk.
"Kau anak pintar, Kyu. Aku berusaha mempertahankan posisimu sebagai siswa di sekolah ini."
Ya. Jung Yunho -nama lengkapnya- lah yang mati-matian mengajukan beasiswa untuk Kyuhyun. Ia sendiri tidak paham kenapa ia melakukan hal itu. Pihak sekolah sempat menolak usulannya karena di awal tahun pelajaran Kyuhyun telah menolak pengajuan beasiswa. Namun dengan usaha keras Jung Yunho, akhirnya pihak sekolah mau memberikan beasiswa pada Kyuhyun.
Kyuhyun segera berdiri lalu membungkuk beberapa kali pada Yunho. "Terima kasih, Jung seongsangnim. Saya sangat berterima kasih pada anda," ucapnya.
"Jangan membungkuk seperti itu, tegakkan tubuhmu. Aku tidak enak pada guru lain," ucapnya sembari melirik beberapa guru di dalam.
Kyuhyun segera menegakkan tubuhnya kembali. Ia tersenyum pada Yunho, tulus. "Terima kasih atas kebaikan seongsangnim. Saya tidak tahu harusnya membalasnya dengan apa."
"Aku tidak melakukan apapun untukmu. Ini memang hak yang perlu kau dapatkan, Kyuhyun. Lagipula kau tidak perlu membalas apapun untukku. Dengan prestasimu yang membanggakan sudah membuatku senang."
.
.
.
Pemuda berkacamata itu memarkirkan sepedanya di halaman belakang kafe tempatnya bekerja. Pandangannya beralih dari sepeda pada pemuda bersurai ikal yang baru masuk melewati pintu belakang.
"Ambil itu! Ayo kita pulang, Pak Lee!"
Padahal Kibum -pemuda berkacamata itu- ingat betul. Dua bulan yang lalu ia masih melihat pemuda yang baru masuk ke dalam itu dengan segala kemewahannya. Tapi siapa sangka. Orang yang dua bulan lalu identik dengan segala harta melimpahnya kini terdampar di kafe tempatnya bekerja, dengan status sebagai pelayan -sama seperti Kibum.
Apakah kalian berpikir jika Kibum akan memperlakukan pemuda bersurai ikal itu sama seperti yang teman satu kelas -bahkan satu sekolahnya- nya lakukan?
Jawabnya tidak.
Keuntungan apa yang Kibum peroleh dengan melakukan hal tersebut? Tidak ada. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan paruh waktunya saat ini. Ia anak sulung dari tiga bersaudara dan kedua adiknya masih kecil. Orangtua Kibum bukanlah orang kaya yang mampu memberinya fasilitas lebih. Karena itu Kibum bekerja paruh waktu di kafe ini untuk sedikit meringankan beban orangtuanya.
Sudut hati Kibum berteriak mengiba melihat Kyuhyun. Bagaimana pemuda yang dulu selalu dielu-elukan, kini justru diperlakukan bagai barang tidak berguna. Tapi Kibum tahu betul, Kyuhyun bukan tipe orang yang mau dikasihani. Belum lagi, Kyuhyun tidak pernah mengakrabkan diri dengan pegawai lain. Membuat Kibum yang sempat berniat mengajak Kyuhyun berteman sedikit kesulitan.
Kibum tersadar dari lamunannya saat salah seorang teman kerjanya menggeplak bahunya. Ia hanya tersenyum menanggapi lalu melangkah masuk ke dalam kafe.
Sampai di dalam, Kibum menyapa beberapa koki yang sedang sibuk memasak. Ia lalu berjalan memasuki ruang ganti. Ia melepas mantel dan kemeja yang dipakainya, menyisakan kaos putih lalu menggantinya dengan seragam pelayan miliknya.
Jam menunjukkan pukul tiga sore, artinya pekerjaannya sudah menanti. Kibum keluar dari kamar ganti khusus pekerja di kafe tersebut. Ia mendekati Minho, kasir sekaligus adik kelas yang bernasib sama seperti dirinya.
"Baru datang, hyung?" tanya Minho pada Kibum yang melihat ke penjuru ruangan. Jam makan siang sudah lewat, jadi tidak heran jika kafe tidak terlalu ramai. Saat makan malam nanti baru lah tenaganya akan terkuras.
Kibum balas tersenyum, "Ya. Kau sudah lama?" tanyanya pada Minho yang kini menumpukan tangannya pada meja kasir. "Belum, mungkin sekitar sepuluh menit," jawabnya.
Minho mengerutkan dahi saat Kibum tampak memperhatikan satu titik. Kedua obsidian Minho mengikuti arah pandang Kibum. Ia memandang Kibum dan seseorang itu bergantian.
"Ada apa, hyung?" Tanya Minho menyadarkan Kibum. Pemuda berkacamata itu hanya mengangkat bahunya lalu bergegas mengambil buku pesanan dan bolpoin diatas meja kemudian menghampiri meja nomor tujuh.
.
.
.
Perempuan tiga puluh sembilan tahun itu menggeram marah. Ia melempar dompet kosong di tangannya.
"Sial! Uangku benar-benar habis!" Umpatnya lalu beranjak dari kamar. Dengan langkah cepat Nyonya Cho menuju kamar disebelah kamarnya -kamar Kyuhyun. Perempuan itu membuka pintu kamar Kyuhyun kasar.
Dibukanya satu-satunya nakas yang ada di kamar tersebut. Ia mengobrak-abrik isi nakas lalu menjatuhkan semua isinya ke lantai. Merasa tidak menemukan sesuatu yang ia cari, Nyonya Cho beralih membuka lemari berukuran kecil di sudut kamar. Ia terus mencari di setiap sisinya.
"Anak manis... " ucapnya diiringi senyum kala mendapat beberapa lembar won terselip diantara tumpukan baju. Perempuan yang terlihat lebih kurus dari dua bulan lalu itu mencium uang ditangannya.
Tanpa berniat merapikan kekacauan yang ia buat, Nyonya Cho melenggang keluar dari kamar putranya.
.
.
.
Langkah panjangnya terdengar menggema di sepanjang jalanan yang sepi. Kyuhyun, seperti biasa pulang berjalan kaki sendirian. Tanpa siapapun. Pemuda itu terlihat beberapa kali mengulas senyum tipis, entah karena apa.
Sedangkan seseorang yang tengah menaiki sepedanya menyipitkan mata melihat Kyuhyun yang berjalan sendiri.
"Kyuhyun... " panggilnya. Entah keberanian dari mana yang Kibum dapat untuk memanggil Kyuhyun. Ia turun dari sepedanya lalu berjalan menjajari langkah Kyuhyun yang kini terhenti sembari menuntun sepedanya.
"Ye?" Pemuda bersuarai coklat itu menyipitkan matanya saat seseorang mendekatinya. Gelapnya malam membuat Kyuhyun tidak bisa melihat wajah seseorang yang memanggilnya.
"Kau mau pulang?" Baru lah saat seseorang itu berjalan melewati lampu jalan, Kyuhyun dapat mengenalinya. Seseorang yang bekerja di kafe Siwon sama seperti dirinya. Kyuhyun juga merasa pernah melihatnya beberapa kali di sekolah. Apa dia satu sekolah dengannya?
"Ehm... Kau... " Kyuhyun tahu orang itu. Tapi ia tidak tahu namanya.
"Kim Kibum. Kita belum berkenalan secara pribadi selama ini," ucap Kibum sembari mengulurkan tangannya.
Kyuhyun memandang tangan Kibum yang terjulur di depannya. Sepuluh detik kemudian Kyuhyun baru menerima uluran tangan Kibum, menjabatnya.
"Cho Kyuhyun."
Setelah itu tidak ada percakapan lagi. Kyuhyun berjalan dalam diam begitupula Kibum yang menuntun sepedanya. Keheningan malam seolah menambah kecanggungan antara mereka.
Kibum yang merasakan tidak nyaman dengan suasana ini langsung berdehem. Ia mencoba mengambil alih perhatian Kyuhyun, namun pemuda itu tetap diam.
"Kyuhyun," panggil nya.
Kyuhyun menoleh pada Kibum. "Ne?" balasnya.
"Boleh aku memanggilmu seperti itu? Kita satu angkatan, bukan."
"Ya. Tentu saja."
Dan keheningan terjadi sampai Kibum memulai pembicaraan dengan Kyuhyun -lagi.
"Oh ya, kau tinggal dimana? Apa jauh dari sini? Aku tinggal di rumah di ujung persimpangan ini jika kau ingin tahu."
"Aku tinggal di ujung persimpangan juga," balas Kyuhyun membuat Kibum hampir menjatuhkan rahang.
"Mwo? Jangan bilang rumah dengan cat hijau toska itu rumahmu sekarang?"
"Ne"
Astaga. Bagaimana Kibum bisa tidak tahu jika Kyuhyun tinggal di seberang rumahnya. Rumah yang telah lama kosong dan baru dihuni oleh orang baru sekitar dua bulan lalu. Kemana saja ia selama ini?
"Jadi kita bertetangga."
Kyuhyun tidak menanggapi ucapan Kibum, ia hanya diam. Sampai di depan rumahnya, Kyuhyun berhenti.
"Senang bertemu denganmu, Kibum-sshi. Aku harus masuk," ucap Kyuhyun dengan sopan. Kibum bahkan tertegun melihatnya. Seorang Cho Kyuhyun melakukan hal ini padanya.
"Panggil aku Kibum saja, Kyuhyun." balas Kibum yang ditanggapi dengan senyum oleh Kyuhyun.
Sepeninggal Kyuhyun yang telah menghilang di balik pintu, Kibum hanya terdiam. Terkejut dengan Kyuhyun yang sekarang.
Jika dulu Kibum hanya melihat senyum mengejek Kyuhyun, tadi ia merasa melihat senyum tulus seorang Cho Kyuhyun.
"Apakah dia berubah karena hidupnya yang sekarang?"
Kibum rasa percuma ia bertanya di kegelapan malam. Lebih baik ia segera masuk ke rumah lalu tidur.
.
.
.
"Aku pulang... "
Kyuhyun menutup pintu depan rumahnya. Ia sudah terbiasa pulang sampai larut malam. Dan ia juga sudah terbiasa saat tidak mendapati siapapun yang akan menjawab salamnya.
Seperti biasa, Kyuhyun akan mengecek kamar ibunya terlebih dulu. Ia menghela napas mendapati kamar ibunya terkunci. Mungkin ibunya sudah tidur.
Tanpa berniat menganggu tidur sang ibu, Kyuhyun berjalan memasuki kamarnya. Ia meraba dinding kamarnya untuk mencari sakelar lampu. Setelah menemukannya Kyuhyun lantas menekan benda putih tersebut.
Namun alangkah terkejutnya Kyuhyun saat mendapati kamarnya berantakan. Semua isi nakasnya jatuh berhamburan di lantai. Begitu pula lemari bajunya yang terbuka dengan beberapa potong baju di lantai.
"Ibu... "
Kyuhyun segera berlari menuju kamar Nyonya Cho.
.
.
.
TBC
.
.
ANNYEOOONGGGG! *tereakpaketoa.
Ada yg inget ini fanfic. Gak ada ya? Ya udah deh. Gak ingetpun gapapa T_T Pada lupa pasti.
Maaf buat keterlambatan update chapter duanya. Maklum sibuk*dijitak*
Berhubung mau ujian kenaikan kelas, jadi author update fanfic ini. Ya, itung itung sebagai permohonan maaf karena update AAM yg ngaret pake banget. Jangan salahkan author jika setelah update ini bakal ngilang lama. Sebulan. Dua bulan, mungkin.
Terima kasih buat yg review di chapter 1 kemarin*lamabangetkemarinnya*
ikan / Hyunhua / Kuroi Ilna / Anna505 / wolverdose / kyuhae / Ririzhi / Choding / Lily / rheina / Atik1125 / Guest / Sparkyubum / Songkyurina / dwi-yomi / kyuli 99 / ladyelf11 / dewidossantosleite / abelkyu / AtikahSparkyu / ekha sparkyu / Little13 / Evilkyu Vee / Nanakyu / AlifiaR2012 / jihyunelf / okaocha / Leni220 / angella / MissBabyKyu / lydiasimatupang2301
Maaf gak bisa bales review. Tapi author baca kok. Trus ini tadi sekali ketik belum sempet ngedit. Masukan buat typos yg bertebaran sangat dibutuhkan.
Buat yg mau add fbnya author: Jung Je Ah
Last, thank you very much*bow
