Kebas. Hanya itu yang kurasakan. Ini tak mungkin terjadi. Namaku baru masuk undian sekali. Namun apa boleh buat? Lebih baik aku dibanding Katniss. Tubuhku gemetar dari atas sampai bawah. Namun kuusahakan kakiku untuk melangkah ke panggung. Aku bisa melihat Katniss di kerumunan depan, tampak nyaris pingsan, namun terlalu shock hingga tak bisa bicara. Kukepalkan tanganku melihat pemandangan itu. Tidak. Lebih baik ia tetap begitu, karena aku tahu, ia akan menggantikanku jika ia sadar. Kufokuskan pandanganku ke depan sampai aku tak sadar bagian belakang blusku ternyata belum masuk benar sehingga sekarang mencuat lagi. Hal kecil namun membuatku menyesal, karena Katniss akhirnya kembali ke kenyataan melihat ekor bebekku ini.
"Prim!' pekiknya, "Prim!"
Mendengar pekikannya yang tertahan, putus asa membuatku semakin menderita. Karena itu kupercepat langkahku agar ia tak mampu menahanku. Namun tepat saat aku akan menaiki tangga, ia berhasil menyusulku. Oh, tidak. Aku tak bisa membiarkannya mengajukan diri. Tanpa sadar aku memekik sebelum ia bahkan sempat menarik lenganku untuk mundur.
"Aku mengajukan diri!" pekikku. "Aku mengajukan diri sebagai peserta!"
Pekikanku tadi menyebabkan sedikit kekacauan. Belum pernah ada, bahkan di Distrik 1 dan 2, dimana mereka menganggap terpilih dalam Games berarti kehormatan besar, peserta yang terpilih dengan bersedia mengajukan diri agar posisinya tak terbantahkan. Ya memang. Jika namamu terpilih dan ada orang yang maju dan mengajukan diri untuk menggantikanmu, orang yang mengajukan diri tersebut resmi ikut dan tak dapat diganti oleh peserta lain lagi.
"Astaga!" kata Effie Trinket, tampak kaget. "Peserta yang mengajukan diri setelah dipilih? Ini tentu saja tak pernah terjadi. Sejarah baru bagi Panem terutama Distrik 12!"
Berlawanan dengan Effie yang kaget tapi tampaknya senang, Katniss luar biasa marah.
"Apa maksudmu tadi?! Mengajukan dirimu seperti itu. Apa maksudmu?! Kau tidak boleh pergi!" bentaknya sembari menarik lenganku. Namun aku menyentaknya hingga lepas, mengejutkan untuk tubuhku yang kecil.
"Aku yang akan ikut jadi aku yang memutuskan!" kataku, ikut marah. Namun dalam hati aku berharap ia jadi menggantikanku. Tapi aku tak bisa membiarkannya. Hidup Katniss jauh lebih berharga daripada aku, anak kecil tak berguna. Katniss tampaknya ingin membentak lagi, namun ia memelukku, dan hal itu membuat pertahananku runtuh. Aku mulai menangis.
"Hidupmu jauh lebih berharga Katniss. Siapa yang menafkahi Ibu jika kau tak ada," kataku terisak-isak.
"Apa maumu?" Katniss bertanya lagi, masih kedengaran gusar. Namun dari suaranya aku tahu ia juga menangis. "Mencegahku menggantikanmu karena kau tahu aku akan melakukannya?"
"Ya," kataku mantap. Dengan lembut aku melepaskan diri, berbalik, dan dengan pelan tapi pasti, mulai menaiki tangga.
"Siapa itu tadi?" tanya Effie penasaran.
"Katniss Everdeen," aku menjawab, nyaris berbisik.
"Pasti kakakmu, kan? Wah, kau tak mau dia jadi jagoannya, ya? Baiklah! Berikan tepuk tangan yang meriah untuk Primrose kecil yang berani!" seru Effie Trinket sambil bertepuk tangan. Tapi tak seorangpun mengikutinya, malah menunjukkan penolakan terberani yang bisa mereka lakukan. Diam. Kemudian serentak semua orang yang ada di kerumunan menyentuhkan 3 jemari tengah tangan kiri ke bibir mereka kemudian mengulurkan jemari mereka ke arahku. Gerakan yang berarti terima kasih, penghormatan, dan selamat tinggal untuk orang yang kau cintai.
Effie jelas tampak heran. Namun Haymitch bangkit dan menunjuk para kru kamera, berseru, "12 tahun... sangat berani... kalian seharusnya malu! MALU!"
Lalu ia terpuruk. Pingsan. Kemudian Haymitch yang teler berat dibawa dengan usungan sementara Effie berusaha melanjutkan acara. "Luar biasa!" serunya sambil berjalan ke bola kaca yang satunya, bola kaca anak laki-laki. "Dan sekarang, waktunya memilih anak laki-laki!" katanya riang sambil mencomot kertas pertama yang disentuhnya, kembali ke podium, lalu membacanya dengan jelas, "Peeta Mellark!"
Anak itu tampaknya seumuran Katniss, dengan tinggi badan sedang dan sedikit gempal. Rambut pirang abunya yang bergelombang jatuh di dahinya. Ia tampak terkejut walau wajahnya berusaha agar wajahnya tetap tanpa emosi. Walau agak sempoyongan, ia tetap naik ke panggung dan berdiri beberaapa meter dariku. Mata birunya menatap waspada. Letih namun mantap. Setelah melihatnya dari dekat, aku mengenalinya sebagai anak tukang roti dari Area Pedagang.
Effie Trinket bertanya apakah ada yang mau sukarela menggantikan Peeta, tapi tak seorangpun bergerak. Diam-diam aku merasa sedikit marah karena aku tahu Peeta punya seorang kakak berusia 18 tahun yang tentu saja bisa menggantikannya sementara kakaknya yang satunya sudah melebihi batas usia. Namun apa yang akan dilakukan Katniss sangat langka, karena hampir bagi setiap orang rasa bakti terhadap keluarga berbatas pada Hari Pemungutan.
Wali Kota mulai membacakan Perjanjian Pengkhianatan. Aku sudah hafal isinya sehingga aku membiarkannya lewat begitu saja di telingaku. Jika ini hari biasa, Katniss akan menguap lebar-lebar mendengarnya, yang selalu bisa membuatku tertawa. Tapi mungkin itu takkan pernah terjadi lagi.
Saat Wali Kota sudah selesai dengan Perjanjian Pengkhianatan dan mengisyaratkan aku dan Peeta untuk berjabat tangan. Jabatan tangannya mantap namun hangat. Matanya memandangku lekat-lekat dan meremas tanganku seraya tersenyum kecil, yang jelas berusaha menentramkanku. Hal ini entah kenapa membuatku percaya padanya. Tapi aku tak bisa berharap ia takkan membunuhku di arena. Dan aku tak mungkin membunuhnya dan tak akan pernah melakukannya.
Kami kembali berdiri menghadap kerumunan massa ketika lagu kebangsaan Panem dinyanyikan. Aku ikut bernyanyi, berusaha tidak memikirkan bahwa kami mungkin akan saling membunuh satu sama lain.
Saat lagu kebangsaan berakhir, kami digiring memasuki pintu depan Gedung Pengadilan. Setelah di dalam aku dibawa lagi menuju salah satu ruangan dan ditinggal sendirian di sana. Ruangan itu kecil namun sangat mewah, dengan karpet tebal dan sofa berlapis beludru. Aku duduk dan mencengkeram erat rokku. Waktu yang diberikan kepada para peserta untuk mengucapkan salam perpisahan dengan orang-orang yang mereka sayangi. Aku menyiapkan diriku agar tampak tegar dan berusaha berhenti menangis.
Yang pertama datang adalah Katniss dan ibuku. Aku langsung berlari memeluk Katniss, dan ibuku memeluk kami berdua. Selama beberapa menit tak seorangpun bicara. Kemudian Katniss berkata, "Kau harus menang Prim. Kau pintar dan aku tahu itu."
"Tapi aku tidak berani sepertimu," ujarku lemah. Aku sadar aku tidak bisa menang, dan Katniss tahu hal itu.
"Tidak. Kau hanya belum menemukan dirimu. Kau lebih berani, lebih kuat, dan lebih pintar daripada aku," Katniss menjawab dengan tegas. Hal inilah yang akhirnya membuatku dapat tersenyum.
"Mungkin saja," jawabku, berusaha kedengaran optimis. "Dan jika aku menang, aku akan adi pemenang termuda dan kita akan kaya raya."
"Masa bodoh dengan kaya raya. Aku hanya ingin kau pulang," tukas Katniss. Kemudian ia memegang tanganku dan berbisik, "Berjanjilah padaku untuk berusaha menang."
"Aku berjanji. Aku bersumpah. Untukmu dan untuk kita semua," kataku. Janji itu seolah memberikan api dalam diriku. Aku akan sungguh-sungguh berusaha, demi Katniss.
Kemudian aku memeluk ibuku dan berkata, "Jaga Katniss, ya. Jangan menghilang lagi. Janji?" Ucapan ini tentu saja mengejutkan mereka karena mereka menganggap aku terlalu muda untuk memahami hal itu.
Ibuku mulai bercucuran air mata dan memelukku semakin erat. "Janji."
Aku melepaskan diri, tersenyum, lalu ikut menangis. Hanya Katniss yang tetap berusaha menahan air matanya. Di tengah-tengah isakan kami ia berkata, "Madge memberikan sesuatu untukmu." Kemudian ia memberiku pin emas mungil yang amat indah. Aku sejenak terkesima menatapnya. Burung terbang di tengah-tengah lingkaran, hanya menempel ke lingkaran pada ujung sayap-sayapnya yang halus.
"Kau tahu apa ini?" tanya Katniss sambil menyematkan pin itu di blusku. "Burung mockingjay. Untuk melindungimu."
"Terima kasih," bisikku, lalu memeluknya lagi. Mungkin pelukan terakhirku dengannya. Ibuku memeluk kami sangat erat sampai sakit rasanya.
Waktunya sudah habis. Penjaga Perdamaian memerintahkan mereka keluar. Tanganku masih memegang tangan mereka saat aku berkata, "Aku menyayangi kalian." Kemudian pegangan kami lepas dan pintu dibanting menutup. Sunyi.
Tak ada lagi yang mendatangiku. Baguslah. Karena aku tak tahan kalau harus bersikap tegar lagi. Jadi aku membenamkan wajahku ke bantalan kursi dan menangis dalam diam.
Perjalanan dari Gedung Pengadilan sampai stasiun kereta api cukup singkat. Aku tak pernah naik mobil. Rasanya aneh karena di Seam, kami biasa berjalan kaki.
Untung aku sudah berhenti menangis. Karena stasiun dipenuhi wartawan lengkap dengan kamera di bahu. Aku berusaha menampilkan wajahku yang biasa: pendiam dan sopan. Tampaknya berhasil. Kulirik Peeta dan aku terkejut melihatnya menangis tanpa berusaha menutupinya. Aku tak tahu apakah itu sungguhan. Tapi aku rasa itu cuma trik untuk Hunger Games. Walaupun tubuhnya besar dan kuat, hasil dari mengangkat karung-karung tepung ke sana kemari, aku merasa ia cukup meyakinkan.
Berdiri menunggu di ambang pintu kereta untuk mengizinkan kamera melahap wajah kami membuatku tak tahan. Aku ingin cepat-cepat masuk. Untunglah beberapa saat kemudian kami diizinkan masuk dan pintu kereta menutup, menghalangi punggung kami dari terkaman kamera.
Kereta itu amat cepat. Membuatku tercengang karena aku tidak merasa berada di atas kereta. Aku yakin ini buatan Capitol yang akan mengantar kami ke sana dalam waktu kurang dari sehari. Kereta ini bahkan tampak makin tak seperti kereta di dalamnya, dengan kemewahan yang lebih hebat dari Gedung Pengadilan. Masing-masing orang diberi kamar pribadi, lengkap dengan kamar tidur, ruang pakaian, dan kamar mandi pribadi dengan pancuran yang bisa memancurkan air dingin dan panas tanpa harus memasaknya terlebih dahulu seperti yang kami lakukan di Seam.
Laci-laci di ruang pakaian penuh dengan pakaian-pakaian mewah. Effie memberitahuku untuk melakukan apa yang aku suka dan memakai baju apapun yang aku mau, asal bisa siap sejam lagi untuk makan malam. Aku kemudian melepas pakaianku dan mandi air hangat. Lalu memakai baju terusan biru muda. Kusematkan pin mockingjay lalu berbaring. Kasurnya sangat empuk dan halus, tidak seperti kasur di rumahku di Seam. Namun entah kenapa aku merasa asing dalam kenyamanannya.
Effie Trinket datang menjemputku untuk makan malam, lalu menuntunku melewati koridor sempit menuju ruang makan berpanel dengan meja-meja yang dipaku ke lantai penuh dengan piring-piring porselen. Peeta sudah berada di sana. Aku duduk berhadapan dengannya di sebelah Effie. Kemudian aku sadar ada yang kurang.
"Mana Haymitch?" tanyaku, untuk pertama kalinya bicara sejak pertemuanku dengan keluargaku.
"Dia bilang mau tidur sebentar," sahut Peeta.
"Yah, ini memang hari yang melelahkan," kata Effie ceria. Tampaknya ia lega dengan ketidakhadiran Haymitch.
Kami disuguhi makanan mewah yang takkan pernah bisa kami makan di Distrik 12. Aku makan sebanyak-banyaknya walau Effie mengingatkan kami untuk menyisakan ruang di perut kami. Kemudian ia mengoceh tentang betapa kami lebih baik daripada anak-anak tahun lalu yang makan dengan tidak beradab. Aku geli memikirkan reaksi Katniss akan ucapannya. Mungkin ia akan melakukan hal serupa untuk menjengkelkan Effie.
Setelah kami selesai makan, aku merasa sedikit mual. Kulirik Peeta dan ia juga pucat. Kami tidak terbiasa dengan makanan seperti ini. Aku berusaha keras agar aku tidak muntah. Penting sekali untuk menambah berat badan saat ini karena di arena nanti entah kapan aku bisa makan.
Kami menuju gerbong lain untuk menonton siaran ulang pemungutan di distrik-distrik lain. Satu persatu kami memperhatikan wajah-wajah lawan kami. Yang membuatku duduk lemas adalah anak laki-laki mengerikan dari Distrik 2 yang bernama Cato, yang kurasa bisa meremukkanku dalam sekali genggam dan anak perempuan berumur 12 tahun dari Distrik 11, yang tak seorangpun mau mengajukan diri untuk menggantikan tempatnya.
Aku rasa mungkin bukan aku saja orang yang paling tak beruntung hari ini.
