~Happy Reading!~
Di rumah sakit Seoul, seseorang tengah duduk menunduk di kursi yang tersedia di sana. Tangannya menarik dan mencengkram rambutnya yang tidak membuat kepalanya sakit sedikitpun itu dengan kuat.
Namja berusia 12 tahun itu masih menundukkan kepalanya. Matanya memancarkan sinar kelam dan sedih di saat bersamaan. Di kepalanya berbagai macam ingatan terus tergiang di kepalanya. Tidak di pedulikannya darah yang semakin banyak keluar dari kepalanya membasahi ikatan di kepalanya itu dan turun membasahi pipinya. Seiring turunnya darah di samping pipinya airmatanya juga turun membasahi lantai yang putih bersih.
"Hiks..."
Di pikirannya adalah bayangan tentang kecelakaan yang baru beberapa jam terjadi padanya dan Bumonimnya yang meninggal dalam kecelakaan mobil yang tragis dan Dongsaeng-nya...
"Aarrrgggghhh..." Teriak frustasi mengacak rambutnya asal.
Perkataaan Uisanim membuat dirinya merasa tidak berguna menjaga keluarganya bahkan Dongsaeng yang di sayanginya. Dongsaeng-nya bahkan koma karena benturan yang tidak pelan sedikitpun itu. Entah berapa lama Dongsaengnya tersebut akan koma. Uisanim tidak mengatakan padanya berapa lama sang adik akan koma jawaban ambigu-lah yang di berikan uisanim padanya.
"Aku akan mempertahankan milik kita Appa, Eomma, Dongsaeng-ie. Aku janji."
Ucapnya menatap lurus ke depan seakan-akan ada seseorang di depannya saat ini.
Ya, berjanjilah...
Seakan mendengar suara yang sangat familiar di kepalanya, dia menganggukkan kepalanya tanpa sadar.
... hyung-ie.
~T.B.O.M~
15 tahun kemudian...
CH Corp
Perusahaan itu semakin lama semakin berkembang pesat. Perusahaan yang sempat terbangkalai satu bulan yang lalu itu semakin mengembangkan sayapnya di dunia bisnis perekonomian dan perkembangan teknologi atau TI serta bisnis perhotelan.
Bulu-bulu sayapnya tersebar di berbagai negara dan berkembang menjadi burung yang baru. Namja yang dulunya berumur 12 tahun itu kini sudah menginjak usianya yang ke 27 tahun. Dia terlihat gagah dengan setelan jas hitam di dampingin kemeja putih serta dasi hitam dan jepit dasi hijau mudah yang bersarang manis di dasinya. Dia terlihat sangat memukau dan terlihat sangat berwibawa.
Cha Inguk
Itulah namanya. Pengusaha muda yang membawa CH Corp menuju kesuksesan besarnya. Namun, ini belumlah seberapa, karena dia ingin memancing keluar orang yang sudah membuat kecelakaan mobil mereka dulu keluar dari tempat amannya. Yah, kejadian tragis itu bukanlah murni kecelakaan. Tapi, sebuah kecelakaan yang sudah rencanakan agar mereka mati. Untungnya dia dan Dongsaengnya selamat walau Dongsaengnya harus koma sampai sekarang.
Entah kenapa Dongsaengnya memilih untuk terus tidur seakan tidak ingin melihat kenyataan yang ada. Kenyataan yang menjempit hati seseorang yang di sayanginya. Yah, Cha Inguk menghadapi dunia yang kejam sendirian tanpa sang Dongsaeng. Namun, dia selalu menyempatkan dirinya untuk datang menjenguk sang Dongsaeng tersayangnya. Menceritakan semua yang di alaminya pada sang adik. Dan lagi rasa sakit itu bertambah karena sang adik tidak meresponnya sama sekali. Hanya detak jantung dari pendeteksi detak jantunglah yang terdengar. Dan di sinilah dia sekarang. Cha Inguk kembali menjenguk sang adik untuk yang kesekian kalinya dalam 15 tahun ini.
'Dongsaeng-ie...' Lirihnya dalam hati.
"Hey! Apa kabarmu saeng-ie? Kau tidak ingin bangun? Kenapa kau selalu tidur? Apakah tidur lebih menyenangkan dari pada melihat Hyung-mu ini?. Kau tidak sayang yah sama Hyung?." Ucapnya setelah mendudukkan dirinya di samping tempat tidur sang adik.
"Haaahh... Kau tahu? Hyung merasa berat menjalaninya sendirian di dunia ini. Huuufftt... Ayolah bangun Saeng-ie. Hyung sudah menepati janji bukan? Jadi, ayo bangun. Hyung sangat merindukanmu... Senyuman, tawa bahkan suaramu... Hyung rasa.. Hyung sudah lupa bagaimana suaramu..." Ucapnya menatap sang Dongsaeng sendu.
Cha Hakyeon.
Nama namja yang terbaring itu. Masih tertidur dengan damai. Dia bukannya tidak ingin bangun dari tidurnya. Tapi, dia tidak bisa dan tidak tahu bagaimana caranya kembali sadar dari tidurnya. Dia mendengar semua keluh kesah sang Hyung dari dalam tidurnya. Yah. Dia mendengar semuanya. Jangan dikira dia tidak mendengarnya. Karena di tempat gelap itu hanya suara Hyung-nyalah yang terdengar. Tidak ada suara Appa atau pun Eomma-nya terdengar sedikitpun. Kesepian adalah kata yang tepat untuk mengatakan situasi yang mereka rasakan. Hakyeon selalu mendengar semuanya. Setiap kali dia mendengar suara sang Hyung yang terdengar putus asa saat bercerita padanya. Hakyeon merasa dia harus bangun dan menenangkan sang Hyung. Dan mengatakan bahwa dirinya akan selalu ada untuknya.
Namun, di tempat gelap itu. Tidak ada yang dapat di lihatnya selain cahaya yang melingkar di sekitarnya. Dia terus berjalan tanpa arah yang jelas saat mendengar suara Hyung-nya. Dia hanya terus berjalan menuju suara sang Hyung. Tanpa tahu dia berjalan di mana dan ke arah mana. Buta arah? Tidak... Hakyeon hanya perlu mencari jalan keluarnya sendiri. Karena di tempat gelap itu tidak ada penunjuk arah ke manapun.
Mereka hanya di halangi satu tempat saja.
Tes
Setetes airmata jatuh dari matanya. Tanpa dia sadari dia menangis dalam diam dan hanya dapat mendengarkan Hyungnya saja tanpa bisa menenangkannya.
~T.B.O.M~
Tidak jauh dari mereka juga dengan nasib yang sama di sebuah perusahaan yang bernama JG Corp. Seorang namja berwajah datar tanpa ekspresi menyembunyikan wajah tampannya di balik topeng phatom putihnya. Wajah tampan yang sudah tidak menampilkan senyuman sejak 15 tahun yang lalu. Dia berdiri dengan gagah di depan jendela kantornya yang menampilkan keindahan kota seoul saat malam hari. Sungguh indah. Namun, tidak dengan isi hatinya.
Jung Taekwoon
Itulah namanya. Nama yang sudah terkenal di kalangan relasi bisnis mereka bahkan dunia mengenal namanya. Dia adalah Leo kecil yang penuh senyum dan keimutan serta kelucuan waktu kecilnya. Namun, Dia yang sekarang tidak lagi mengenal arti cinta dan kasih sayang. Hatinya tertutup dengan sangat rapat. Tidak akan membiarkan siapapun memasuki hatinya sedikitpun. Bagai batu yang keras tanpa retakkan. Itulah bentuk hatinya, Keras dan Dingin bagai gunung salju yang sudah membeku begitu lamanya.
Di dalam hatinya yang paling dalam. Dia masih mencari apa artinya itu cinta dan bagaimana rasanya kasih sayang itu. Dia ingin merasakannya lagi. Walau harus dia dapatkan dari orang lain tidak apa-apa. Namun, tidak. hatinya yang keras dan membeku itu.. Siapa yang akan mendekatinya?.
hatinya menjerit minta tolong. namun, tidak ada yang bisa menolongnya. dia hanya bisa menunggu tapi untuk sesuatu yang baru. orang-orang yang terkasihnya dahulu telah pergi yang tersisa hanyalah beberapa dari mereka.
walau dia membutuhkan seseorang untuk menghancurkan dinding yang di buatnya. itu sesuatu mustahil karena hatinya keras seperti batu dan dingin seperti es. oleh karena itu sekarang dia tidak membutuhkan itu semua.
yah, benar... dia tidak memerlukan hal itu. Yang di butuhkan sekarang hanyalah Ahjumma Han, Noona Woojin, Ahjussi Yoon dan Han Sanghyuk.
Han Sanghyuk adalah cucu dari anak Ahjumma Han yang selamat dari kejadian itu yang bernama Woojin dan Sanghyuk sudah dia di anggapnya sebagai adiknya sendiri sejak kejadian itu. Dia tinggi dan masih SMA kelas 2 namja kecil yang tumbuh begitu cepat. Mereka berempat adalah sumber kebahagiaannya selama 15 tahun terakhir. Dia tidak membutuhkan orang lain lagi selain mereka. Yah, hanya mereka yang kubutuhkan. Batinnya.
Apakah benar dia hanya membutuhkan mereka saja?. kurasa tidak.
Namun, satu rahasia yang tidak pernah di sebar luaskan pada relasi bisnisnya dan hanya keluarga kecilnya yang baru itu juga yang mengetahuinya. Dia menutup rapat rahasia itu di dalam hatinya. Begitu rapat dan hanya orang-orang yang terpercayanyalah yang mengetahuinya. Kalian mau tahu?. Nanti sajalah. Masih begitu awal untuk memberitahukannya pada kalian. Jadi, mari menikmati ceritanya.
Tok Tok Tok
Tiga ketukan di pintunya membuatnya berbalik dan menatap tajam sosok yang masuk ke ruangannya.
"Bagaimana? Kau sudah menemukannya?." Tanya Taekwoon membuka pembicaraan.
"Ne, Sajangnim. Aku menemukannya." Jawab orang itu menatap tepat di mata sang bos dengan penuh keyakinan.
"Katakan."
"Mereka adalah orang-orang dari perusahaan Lee Corp. Sajangnim." Infonya.
'Lee Corp.' Batinnya
Matanya berkilat tajam kala mengulang nama sebuah perusahaan yang sudah lama, dia menyelidikinya. Sebuah perusahaan yang ada sangkut pautnya dengan masa lalunya.
'Lee Jukwang. Saatnya permainan di mulai..' Batinnya mendesis tajam di dalam hatinya. Kembali dia menatap keluar jendelanya. Menatap langit tanpa bintang di sekitarnya. Hanya bulan yang ada. Seolah mengambarkan tentang dirinya. Seringaian yang menyeramkan tercipta di wajahnya. Bayangan dirinya terpantulkan oleh kaca itu. Namja yang sedari tadi bersamanya hanya mampu memanggil di dalam hatinya dan berharap semuanya akan berjalan dengan sangat baik.
'Sajangnim...' Batinnya lagi.
Tidak ada yang bisa menghentikannya. Karena dia adalah seorang Jung Taekwoon. Seorang anak kecil yang sekarang menjadi dewasa hanya demi membalaskan dendam bumonimnya. Dendam yang sudah lama dia pendam sendiri. Dendam yang tidak akan pernah hilang dari hatinya. Namja yang sudah tersakiti luar dan dalam. Dia akan membalaskan yang lebih kejam dari semua yang di terimanya.
'Lihat saja nanti, Lee Jukwang.' Batinnya semakin melebarkan seringaian menyeramkannya.
Menyimpan dendam itu sangatlah berbahaya. Aniya?.
~T.B.O.M~
Di sebuah Universitas ternama bernama Sungkwang seorang namja putih mancung baru saja keluar dari universitas tersebut dengan beberapa temannya.
"Bye, sampai ke temu lagi besok..."
Lambaian tangan yang di balas dengan lambaian juga itu. Menampilkan sebuah senyuman manis dari wajahnya. Dia adalah seorang namja yang sangat suka melakukan aegyo. Namja yang lucu sebenarnya. Namja yang dapat membuat mood semua orang kembali ceria. Namja yang polos namun, penuh kelucuan. Hidup dalam keluarga yang harmonis pastinya sudah membuatnya tumbuh menjadi namja yang ceria dan tidak mengetahui arti dunia luar yang sebenarnya. Dunia yang penuh ancaman untuknya. Dia hanya tidak mengetahui sesuatu yang di sembunyikan oleh bumonimnya. Sesuatu yang besar dan mengejutkan. Pastinya itu.
Senyuman di wajahnya tidak luntur. Namja yang selalu berpikiran positif ini melajukan mobilnya dengan santai. Hari ini sangat menyenangkan untuknya. Baik dari segi hari bahkan waktu yang berlalu. Dia akan pulang menuju rumahnya yang berada di tidak jauh dari kampusnya. Sekitar 30 menit saja naik mobil. Tidak jauhkan? atau mungkin itu jauh?.
Lee Jaehwan
Nama namja itu. Dia hanya namja yang tidak mengetahui apapun selain kebahagian yang di rasakannya. Kebahagiaan yang membuat orang lain menderita?. Dia tidak tahu itu. Yang di tahu hanyalah cinta dan kasih sayang dari bumonimnya. Mereka sangat menyanyangi dirinya. Jaehwannie kecil yang manja, lucu bahkan terlalu ceria. Dan sifatnya dari kecil masih berada di tubuh itu. Lucu sebenarnya. Anak kecil yang beranjak dewasa namun, sifat kekanakan itu tidak hilang dari sana. Atau mungkin sifat itu sudah tersingkarkan sedikit?. Mana ku tahu. (Angkat bahu).
"Anyyeong, Ahjussi Oh." Sapanya saat dirinya sudah sampai di depan pagar rumahnya.
"Annyeong tuan muda." Jawab sang securiti/penjaga rumahnya ιτϋ membukakan pintu untuknya memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumahnya..
Dan setelahnya hanya sebuah senyuman yang di berikannya. Anak yang positif tapi, sayang tidak dengan bumonimnya.
~T.B.O.M~
"Bagaimana kalau kita bekerja sama dengan JG Corp, Sajangnim?." Saran sang seketaris Jeon kepada sang bos yang duduk di meja kerjanya.
"JG Corp?." Ulangnya. Kepalanya yang awalnya bersembunyi di dalam sebuah dokumen menjadi terangkat dan melipat dokumennya. Seakan tertarik dengan usulan sang seketaris Jeon, dia menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Bukankah JG Corp juga yang katanya di pimpin oleh pegusaha muda?." Tanya Inguk
"Ya, benar Sajangnim." Jawab Seketaris Jeon
"Siapa namanya?." Tanya Inguk
"Jung Taekwoon, Sajangnim." Jawabnya seakan mengerti pertanyaan bosnya.
"Ehm... Jung Taekwoon... Aku rasa pernah mendengar namanya." Ucap Inguk
"Ya, Sajangnim pernah bertemu dengannya di acara ulang tahun ke 15 putry dari perusahan Kim Corp." Jawab seketaris Jeon
"Aahh... Namja berwajah datar itu yah... Aku ingat.. Aku ingat.. Dia itu menarik, tidak menampilkan ekspresi sedikitpun di wajahnya. Kalau Hakyeon, mungkin dia akan menggangunya terus sampai dia tersenyum dan membuat namja itu menjadi temannya." Ucap Inguk
sejenak menerawang ke atas mengingat sang adik yang masih tertidur dalam dunianya dan kembali menunduk. Wajah sedihnya tak dapat di sembunyikannya lagi. Dia sudah sangat-sangat merindukan Dongsaengnya itu.
Seketaris Jeon sedikit merasa bersalah atas suasana di dalam ruangan kerja bosnya. dia juga ikut menunduk sedih merasakan kesedihan sang bos yang tidak bisa berkumpul kembali dengan satu-satunya keluarganya saat ini.
'Hakyeon-ie...' Lirihnya dalam hati.
~T.B.O.M~
Di Seoul Hospital, tepatnya di ruangan serba putih bernomorkan angka 630. di dalamnya seorang namja yang sudah tertidur cukup lama terbaring. dia terlihat putih padahal dulunya dia berkulit hitam manis. namja yang penuh keoptimisan saat kecilnya, keposesifan dan juga senyuman manisnya dapat menenangkan siapa saja yang melihatnya. dia adalah namja yamg di tunggu-tunggu dari tidurnya oleh sang kakak. namja yang menjadi sumber kekuatan kakaknya untuk bertahan. yah, dia adalah Cha Hakyeon.
Namja yang sedari tadi hanya bisa bertidur di dalam dunianya itu, perlahan mengerakkan jarinya. satu persatu jarinya bergerak menandakan dia akan segera sadar saat itu juga. matanya sedikit terbuka perlahan-lahan hingga mata itu terbuka sempurna menampilkan warna mata yang indah. dia terbangun dari komanya seakan-akan menjawab panggilan sang kakak tersayang.
sang kakak yang sangat di rindukannya. sang kakak yang menjadi alasannya tetap hidup dan bertahan sampai sejauh ini. sang kakak yang merupakan kekuatan terbesarnya sekarang. mereka saling melengkapi bukan?.
"Hyung-ie... aku kembali...".
~T.B.O.M~
Seorang namja dengan pakaian serba fasionable dan gaya potongam rambut sedikit di rapikan ke samping membuatnya terkesan seksi terlihat memasuki sebuah tempat yang menyediakan minuman keras, tempat dance dan juga musik yang mengelegar dengan lampu berwarna-warni menyoroti sebuah tempat tersebut. kakinya melangkah menuju sebuah tempat yang akan langsung memberinya minuman-minuman keras tersebut.
"1 vodka." ucapnya setelah mendudukan dirinya di salah satu kursi yang tersedia.
"baik. 1 vodka." ucap sang bartendar mengulang perkataan namja itu sebelum memberikan apa yang di minta namja itu.
tab
sebuah tangan menepuk bahunya. namja itu hanya melirik sesaat dan kembali sibuk dengan minumannya. orang yang menepuk bahunya itu menyandarkan punggungnya di meja bartender dengan siku tangannya juga bertenger di sana di sampingnya.
"Kau sedang apa di sini?." tanya orang itu.
"bukan urusanmu." jawab namja itu.
"benarkah?." tanyanya lagi. apa yang di terimanya bukanlah sebuah jawaban melainkan sebuah tatapan tajam yang menusuk.
"oh, baiklah, selamat menikmati waktumu, kawan." lanjut orang itu sebelum pergi meninggalkna namja itu sendirian.
"Ck. menyebalkan.".
siapakah dia?.
~T.B.O.M~
Sementara itu di sebuah kamar rumah sakit. Hakyeon, namja yang baru bangun dari komanya itu menatap langit dari jendela kamar rawatnya.
"langit yang gelap tanpa bintang dan bulan yang kesepian." ucapnya terus memandangi langit malam tersebut matanya masih belum ingin tertutup karena dia masih takut untuk menutupnya lagi. dia takut dia tidak akan terbangun lagi sebelum dia bertemu dengan kakaknya.
entah apa maksud perkataannya itu. namun, sepertinya mengandung makna yang berarti di dalam kata-kata itu.
Dia hanya merasa sesuatu yang baru akan terjadi di sekitarnya, memaksanya masuk ke dalam sesuatu yang baru itu. sesuatu yang seharusnya tidak boleh di miliki.
apa itu?.
~T.B.C~
Annyeonghasemnikaaaa... Key balik lagi membawa chapter 2-nya... selamat menikmati... dan mianhaeyo ini sedikit berbelit yah bahasanya. kkk... dan mian kalau ada typo.. key sudah berusaha menguramgi typo yang key buat. dan untuk urusan nama minuman di atas key cuman nyari sedikit referensi di google tentang nama minuman jadi Key ambil salah satu dari nama yang ada di google. ^^
Neomu Gomawo yang sudah mereview di chapter 01 TBOM ini. jangan bosan ne membaca karya key...
aahh... key akan menyelesaikan cerita ini sebelum key hiatus... mainaheyo ne.
kkk... byeee...
~Key~
