PinkuPinkuHunnie present

.

.

.

.

.

.

.

.

"Snow White Tears"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Main Cast :

Xi Lu Han (GS)

Oh Sehun

Huang Zitao(GS)

Park Chanyeol

Kim Jongin

Kim Junmyeon (GS)

.

Other EXO's member

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

WARNING!:

RATE M! NC

Maybe full of Dirty Talk and Sorry for Typo(s), OOC, abal abal story and other

.

.

.

.

.

.

Silahkan baca profil saya sebelum membaca dan mereview ff ini! :3

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TWO

.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun mengemudikan mobil dengan Ayahnya yang terduduk lelah disampingnya. Ayahnya terus melirik kearahnya sebelum akhirnya ia mulai bicara.

"Kapan kau ada jadwal kosong?"

"Malam hari." Jawabnya singkat.

"Malam ini aku terlalu lelah. Bagaimana kalau besok?"

"Atau lusa?" tutur Kris.

"Terserah. Lewat jam sembilan, maka aku deal."

"Oke. Siapkan dirimu nak." Kris menepuk pundak Sehun.

"Untuk apa?"

"Proyek besar yang pernah kubicarakan tahun lalu, kau ingat?"

"Perusahaan yang akan bergabung dengan perusahaan ayah?"

"Yep. Dan ini pekerjaan besar untukmu!"

"Hmm.."

"Pikirkan untungnya sehun-ah! Semua ini untuk masa depanmu!" Kris mengusap pundak anaknya. Dan lelaki muda itu tetap diam tanpa ekspresi.

Suasana menjadi sepi saat Kris menyadari mood anak lelakinya ini sedang tidak baik. Atau memang selalu seperti ini? Entahlah. Kris jarang sekali berbicara berdua dengannya seperti ini. Kris terlalu sibuk, begitupun Sehun.

"Apa kau menjaga Ibumu dengan Baik?"

Sehun tetap diam. Ia bisa saja jujur kalau ia tidak berada di rumah selama ayahnya pergi, namun mungkin Sehun akan dicekik dan kepalanya akan digantung di perpian ayahnya. Dibanding berbohong, Sehun lebih memilih diam.

Kris melepaskan jas kerjanya dan melipat lengan baju ketika istrinya keluar dari kamar tidur mereka. Junmyeon berlari kecil menuruni tangga dan berhamburan memeluk suaminya itu.

"Im home darling." Kris mengecup puncak kepala istrinya.

"Welcome back Kris." Junmyeon mencium bibir tebal suaminya itu dan Sehun hanya mendengus kesal sembari bolak balik mengambil semua barang barang ayahnya.

Kris menoleh kebelakang. Mendapati Sehun tidak ada disana barulah ia kembali pada Istrinya, yang sepertinya sudah ingin minta kejelasan darinya.

"Apa maksudmu dengan menjodohkannya, Kris?" Junmyeon berbisik.

"Ssstt, cukup ikuti saja permainanku. Aku jamin anak itu takkan bisa berkutik."

"kau bertemu dengan calonnya?"

"Yap. Tentu saja." Kris mengambil handphone hitam dari sakunya, membuka galeri foto dan menunjukkan sebuah foto pada Junmyeon.

"Astaga." Junmyeon menutup mulutnya yang terbuka lebar, ia sangat terkejut. Sementara Kris hanya tersenyum melihat Istrinya.

"Bagaimana bisa ia terlihat sangat cantik dengan rambut putih? Astaga dia benar benar indah."

"Kau tahu? Bahkan alisnya pun berwarna putih. Matanya jernih dan berwarna abu. Tapi justru dia tidak terlihat menakutkan sedikitpun."

"Aku harap rencana kita berjalan lancar. Lebih baik Sehun menikah dengan wanta baik baik meski ia punya kelainan. Dibandingkan dengan wanita Sehat yang hidupnya berantakan seperti Zitao. Aku tidak mau Kris."

"Aku juga tidak mau, sayang. Sehun putra kita satu satunya."

Pembicaraan yang sudah nyaris seperti bisik bisikan antara sepasang suami-istri itu berakhir dengan high five dan tawa dari keduanya. Meski rencana mereka memaksa, tapi mereka yakin ini yang terbaik untuk putranya.

.

.

.

.

Keesokan harinya Sehun memasuki kantornya lebih pagi dari biasanya. Hari ini dia tidak memperdebatkan sesuatu atau mempertengkarkan prihal Zitao dengan Ibunya. Ibunya pun kelihatan tidak mau mengusik mood pagi anak lelakinya itu. Sehun masuk dengan merogoh saku celana kainnya, pintu kaca itu terbuka dengan sendirinya. Sekertarisnya, Baekhyun mengikutinya dari belakang tanpa sepatah katapun.

"Sajangnim. Terima kasih sudah memaafkanku." Baekhyun membungkuk setelah Sehun terduduk di singgasananya.

Pria itu mengangguk sekilas. "Maaf karena membuatmu datang dua kali Byun."

"Tidak masalah sajangnim. Kalau begitu saya permisi." Baekhyun tersenyum dan membalikkan badan.

"Ah Byun."

Oh tidak! Batin Baekhyun. Pasti motning kiss lagi...

"Y-ya sajangnim?" Dia berbalik.

"Bawakan aku dua Americano." Sehun memakai kacamatanya dan membuka macbooknya.

Baekhyun melongo dan segera mengikuti perintah atasannya.

Aneh sekali, kenapa dengan atasannya itu? Baru kali ini Sehun tampak tenang dan begitu serius.

.

.

.

.

Kyungsoo memberanikan diri masuk kedalam ruangan direktur, dengan amplop cokelat di tangannya. Sesosok lelaki berambut semerah darah memperhatikannya dari jauh sana.

"Selamat pagi Bu." Kyungsoo tersenyum pada ssng direktur.

Dia Minseok, satu satunya wanita yang menjadi direktur bank di Korea.

"Ah Kyungsoo. Silahkan duduk." Ucap wanita dewasa itu dengan lembut.

"Terima kasih Bu." Kyungsoo mendudukan dirinya di sofa empuk di ruagan sejuk itu.

"Aku tahu maksud kedatanganmu kemari. Tuan Xi pasti sudah kembali ya?" Minseok duduk dihadapan Kyungsoo dengan anggun, khas dirinya.

"Iya bu." Kyungsoo mengulurkan tangan dan menaruh amplop itu dimeja.

"Aku menerimamu secara cuma cuma dan akupun akan melepasmu secara cuma cuma." Minseok tersenyum.

"Tapi.. Apa kau sudah berbicara dengan manager Park?" Tanya wanita itu kemudian.

"Belum." Kyungsoo menggeleng dengan wajah bersalahnya.

"Keputusanmu tergantung Manager Park. Kalau di berkata 'ya' maka kau bebas. Tapi jika dia berkata 'tidak' maka kau tetap disini." Ucapnya tegas.

"Tapi kenapa harus Manager Park?"

Minseok tahu bahwa Chanyeol sangat jatuh cinta pada Kyungsoo. Dan bagi Minseok, kedatangan Kyungsoo mampu merubah pribadi Managernya itu. "Tanyakan itu pada hatimu Kyungsoo." Minseok berdiri dan kembali ke meja kerjanya.

"Kalau begitu saya permisi Bu." Kyungsoo membungkuk dan keluar dari ruangan boss besarnya.

Bicara dengan Chanyeol bukan hal yang mudah bagi Kyungsoo saat ini, apalagi ia mulai membuka hati untuk lelaki itu. dan sekarang Kyungsoo harus keluar dari tempat kerjanya. Bagaimana reaksi Chanyeol? Kyungsoo menduga bahwa lelaki itu akan marah. Kyungsoo takut sendiri, dia bingung.

.

.

.

.

Kyungsoo meghela nafas sebeum membuka pintu ruangan pribadi Chanyeol. Senja itu Kyungsoo memberanikan dirinya. Ketukan demi ketukan dan sebuah suara memanggilnya masuk.

"Sudah hampir malam. Kenapa kau belum pulang?" Chanyeol terduduk dikursinya sembari menaikkan kakinya ke meja tinggi tinggi.

"Aku mencari waktu yang tepat." Kyungsoo mendekat dengan kedua tangan dibelakang tubuhnya.

"Untuk?" Chanyeol menaikkan sebelah alisnya.

"Memberikan ini. Direktur Minseok memintaku untuk menghadapmu, dia bilang kau yang sepantasnya memberi izin." Kyungsoo mengulurkan amplop coklat tersebut.

Chanyeol memicingkan matanya dan membaca surat pengunduran diri itu secara cermat dan berhati hati.

"Kau.. re-sign? Kenapa?" tanya lelaki tinggi itu ketus. Kini ia tengah duduk dan menyilangkan kakinya.

Kyungsoo membungkuk hormat. "Maafkan aku. Tuan Xi sudah kembali dan aku pun harus kembali padanya."

"Tuan Xi? Terdengar tidak familiar di telingaku." Chanyeol tertawa hambar.

"Jadi apa yang kau mau? Aku menyetujuinya?" sambung lelaki itu sambil berdiri. Tidak melihat kearah Kyungsoo sama sekali.

"Ya." Kyungsoo mengangkat kepalanya.

"Kau pikir semudah itu?" Chanyeol semakin ketus.

"Aku rasa itu mudah." Jawab Kyungsoo datar dan tetap tegas.

"Bagaimana aku bisa melihat wajahmu lagi?! bagaimana aku bisa merasakan setiap hari tertawa bersamamu?! Bagaimana aku bisa tahu kalau kau baik baik saja disana?! Kau tahu aku sangat mencintaimu bukan?!"

Kyungsoo tertegun dan tak bisa berkata kata. "Aku—tahu.." Jawabnya terbata.

"Lantas apa?! kau bahkan tak pernah memikirkan aku sebagaimana aku memikirkanmu Kyung. Tidakkah cukup hatiku tak pernah kau beri kepastian?! APA ITU TIDAK CUKUP ?!" Chanyeol menggebrak dan menghempaskan semua barang barang yang memenuhi mejanya, termasuk surat pengunduran diri Kyungsoo.

Wanita itu terdiam dalam pikirannya, ia menggigit bibirnya dan tangannya mengepal kuat kuat. "Aku.."

"Apa Hmm?!" Chanyeol menatap Kyungsoo intens dengan wajahnya yang mulai mendekat pada Kyungsoo.

"Aku juga memikirkanmu Chanyeol.. aku juga merasakan hal yang sama."

"Aku... aku.. mencintaimu. Sama seperti kau mencintaiku.." Kyungsoo tatap menunduk, matanya berkaca kaca.

"Katakan sekali lagi.."

"Aku mencintaimu." Kyungsoo mengangkat wajahnya dan menatap pria tampan itu dalam.

"Aku mencintaimu Chanyeol.. aku mencintaimu.. maaf karena aku baru mengatakannya." Kyungsoo tersenyum dengan butiran air mata yang mulai jatuh ke pipinya. Sementara lelaki dihadapannya masih bungkam, ia terlalu terkejut.

"Jadi, ayo kita mulai hubungan kita. Kita mulai berkencan. Dan lebih dekat lagi." Kyungsoo tersenyum dan mendekat pada Chanyeol.

Lelaki itu pun mendekat kearahnya, setelah jarak mulai terkikis diantara keduanya, Chanyeol menundukkan kepalanya. Mereka dua memejamkan mata dan ciuman pertama itu terjadi. Ciuman pertama di hubungan mereka yang baru, sekaligus ciuman pertama untuk wanita mungil bermata lebar itu.

"Saranghae..."

.

.

.

.

Malam itu Kris dan keluarganya sengaja berpakaian lebih rapi dari pada bisanya. Awalnya Tuan Xi yang akan datang mengunjungi mereka, namun karena Tuan Xi merasa sedikit kurang enak badan jadi Kris dan keluarganya yang akan datang menemui Tuan Xi, dan tentu saja cucunya, Luhan. Hanya saja Sehun tidak tahu soal Luhan, karena itu adalah bagian dari rencana Kris. Sehun terfokus pada jalanan, matanya elangnya tak lepas dari apa yang ia lihat dijalanan sana.

"Rumah Tuan Xi sangat jauh dari perkotaan."

"Padahal orang kaya kenapa mengasingkan diri?" Sehun buka mulut, dan ibunya tersenyum.

"Dia sudah Tua." Jawab Kris.

"Setua itu kah?"

"Ya rambutnya sudah beruban dan tubuhnya tambah gemuk. Dia juga mulai sakit sakitan, karena itulah ia meminta kita untuk menanda tangani surat kontrak dengannya."

"Apa dia seorang kakek?" tanya Sehun.

"Ya. Tapi istri dan anaknya sudah meninggal."

"Astaga kakek tua yang malang." Junmyeon ikut berbelas kasihan, karena ia memang tak tahu banyak soal Tuan Xi.

"Lalu dimana dia tinggal jika ia sudah sebatang kara?" Sehun menaikkan sebelah alisnya tanpa melepas pandanagn dari jalanan kota yang cukup ramai itu.

"Dia punya Mansion. White Mansion, yang jauh dari keramaian." Jawab Kris santai dan sukses menarik perhatian anak laki lakinya yang biasanya cuek itu.

"Wow, habat juga dia. Punya Mansion pribadi."

"Tentu, maka daripada itu kau tak boleh menolak Kontraknya. Pikirkan lah Sehun, dia orang kaya raya!" Ujar Kris antusias sekaligus memprovokasi anaknya.

"Ayahmu benar Sehun-ah. Lagipula bukankah kau ingin menikah?" pancing Ibunya.

Lewat perkataan Junmyeon Sehun terjerat. Ia berfikir jika ia menanda tangani kontrak dengan tuan Xi, maka ia bisa benar benar menikah dengan Zitao dan hidup terpisah dari kedua orang tuanya. Atau ia bisa menikah di luar negri, di negara asal Zitao misalnya? Sehun tidak merasakan setitik kecurigaan didalam dirinya, karena memang rencana ini sudah pernah Kris bicarakan dengannya satu tahun yang lalu. Jadi wajar saja bukan jika sehun tidak menyadari ada udang dibalik Kontrak dengan Tuan Xi.

"Apa yang bisa aku dapatkan dari kontrak ini?"

"Tuan Xi akan menjelaskan semuanya padamu nanti. Bersabarlah." Kris menepuk pundak Sehun pelan.

.

.

.

.

Gerbang besar setinggi dua meter itu dibuka oleh seorang pelayan. Sehun memarkirkan mobilnya di halaman luas yang tidak berumput dan keluar bersama kedua orang tuanya. Kedatangan mereka disambut oleh semua pelayan di Mansion itu. Jumlahnya sekitar sepuluh orang, ditambah tukang kebun, supir, pelayan pribadi, totalnya sekitar lima belas orang. Mereka semua berjajar di sisi kiri dan kanan.

"Selamat Malam Kris." Sapa seseorang disebrang mereka, mengenakan setelan tuxedo yang rapi. Pria berkumis tebal dan berbadan gemuk itu sudah pasti tuan Xi.

"Malam Tuan Xi." Kris membungkukkan badannya.

"Kabar baik?" tanya pria tua itu sambil tertawa.

"Baik. Ah, ini istriku Junmyeon."

Junmyeon mengulurkan tangan seraya membungkuk pada pria dihadapannya.

"Dan ini anakku satu satunya, Shixun."

Sehun tersenyum sambil membungkuk, dan Tuan Xi memperhatikan penampilannya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan tuan Xi meraba dagunya, berfikir bahwa Sehun adalah lelaki dewasa yang hebat.

"Kau sangat mirip dengan ayahmu dulu Shixun. Hanya saja dia lebih banyak bicara dan terlihat tidak berwibawa. Hahaha." Canda pak tua itu.

Sehun spontan tertawa, entah kenapa ia yang biasanya tak sudi mendengarkan orang tua bercanda gurau malah bereaksi sebaliknya pada tuan Xi.

"Oh itu terdengar asing. Sebut saja dia Sehun, bukankah lebih nyaman ?"

"Aku yang memanggilnya Kris, jadi aku berhak menentukan apa yang lebih nyaman di bibirku. Jadi kau bisa berhenti berkomentar." Pria tua itu tertawa renyah.

"Okay, aku akan menutup mulut." Kris tersenyum merespon perkataan tuan Xi yang blak blakan seperti biasanya.

"Memang berat tinggal di negri orang. Terlebih harus punya dua nama. Oh itu sulit." Komentar lelaki tua bertubuh besar itu.

"Yap itu benar." Kris mengangguk ngangguk.

"Jadi..Apa kita perlu makan malam dulu?" tanya Tuan Xi. Kembali ke pembicaraannya.

"Ah, mungkin kita bisa makan malam seusai pembicaraan kita." Jawab Kris.

"Baik, kalau begitu ikut aku." Tuan Xi melangkah dengan beban pada tongkatnya.

Saat melihat cara jalan tuan Xi yang sedikit aneh, Sehun bergegas ke sisinya. Membantu kakek itu agar menumpukan bebannya pada Sehun. Dan Kris tersenyum dari belakang.

.

.

.

.

Junmyeon membalikkan tubuhnya saat ketiga lelaki itu telah hilang dari pandangannya. Wanita anggun itu menoleh kesana kemari seakan mencari sesuatu, hingga seorang maid datang menghampirinya.

"Apa ada yang bisa saya Bantu ?" ucap Maid itu sambil membungkukkan badannya hormat.

"Apa aku boleh bertemu dengan nona muda?" Junmyeon ragu ragu.

"Tentu. Nona muda Xi sedang bersiap dikamarnya."

"Mari saya antar." Sambung maid itu tanpa mengurangi kesopanan.

Junmyeon tersenyum sambil berterima kasih pada Maid itu karena telah mengantarnya saat ini. Ibu satu anak itu menggeleng gelengkan kepalanya saat melihat betapa luasnya mansion milik Tuan Xi. Hampir setengahnya berwarna putih bersih, dan dibeberapa bagian berwarna biru laut. Langkahnya terhenti saat Maid itu mempertemukannya dengan orang lain.

"Ini Kyungsoo. dia pelayan pribadi nona muda Xi." Ucap si maid yang sebelumnya.

Junmyeon mengulurkan tangan dan disambut baik oleh gadis di sebrangnya. "Junmyeon. Salam kenal Kyungsoo agashii."

Kyungsoo tersenyum seraya membungkuk. "Senang bertemu dengan anda. Mari saya antar."

"Kau sudah lama menjadi pelayan disini?"

"Sudah cukup lama. keluargaku mengabdi pada Keluarga Xi."

"Ah begitu rupanya."

"Hmm.. tapi dua bulan lalu aku dibebaskan dari pekerjaanku sementara. Karena Tuan Xi dan nona muda harus pergi ke China. Tuan Xi melarangku ikut dengannya. Jadi aku baru bertemu dengan nona muda lagi."

Kyungsoo membuka pintu kamar satu satunya yang berwarna putih di sudut kiri lantai atas. Gadis muda itu membawa Junmyeon masuk kedalam kamar nona mudanya. Ketika Luhan menyadari orang lain masuk kedalam ruangan pribadinya, ia menengok dengan wajah polosnya. Junmyeon takjub melihat gadis seputih salju itu. Dia benar benar putih, bukan seperti artis artis diluar sana yang mengecat rambutnya menjadi putih yang justru malah terlihat abu abu. Dia putih, dari akar rambut hingga ujung rambut. Kulitnya juga putih, sedikit kemerahan di beberapa bagian.

"Nona Lu." Panggil Kyungsoo.

Gadis dengan marga Xi itu berdiri dan mendekat. "A..Annyeonghaseyo. Xi Luhan imnida." Ucapnya lembut seraya membungkuk sopan.

"Junmyeon. Kau tahu siapa aku?" Junmyeon tersenyum sambil mendekatkan wajahnya pada Luhan, dan gadis itu menggelengkan kepalanya pelan.

"Ibu dari Wu Shixun." Sambung wanita itu. secara tidak langsung ia ingin mengatakan bahwa ia akan menjadi Ibu mertuanya kelak.

Luhan berfikir sejenak. Oh tentu saja ia tahu, Shixun adalah nama China dari lelaki yang dipilih kakek untuknya. Lelaki yang pernah ia kenal semasa teman kanak kanak dulu.

"Senang bertemu dengan anda." Luhan tersenyum kecil.

.

.

.

.

"Mana Ibu?" Sehun menoleh kebelakang. Menyadari saat sampai di ruangan Tuan Xi ibunya tak terlihat lagi.

"Dia akan sangat cerewet kalau ikut dalam perbincangan ini Hun-ah. Dia akan mengganggu ke seriusan kita karena ocehannya yang tak bisa berhenti itu." Tentu saja fatal jika Junmyeon ada disini. bukan soal kecerewetannya. Tapi jika istrinya ada disini, itu akan menghancurkan rencananya. Gestur dan perkataannya pasti akan menjadi aneh, gugup dan menggebu gebu. Junmyeon tidak bisa dilibatkan dalam urusan ini. Dia takkan bisa tenang. Sedangkan rencana Kris adalah membuat Sehun menandatangani kontrak dengan cepat dan tergesa.

"Kurasa Ayah benar juga." Jackpot! Dia masuk kedalam perangkap!

Sehun duduk di hadapan Tuan Xi. Di meja itu ada surat kontrak yang akan ia tanda tangani. Sementara Kris? Ia hanya berdiri santai sambil melihat lihat isi ruang kerja tuan Xi.

"Ayahmu sudah memberitahukan soal rencana ini setahun lalu bukan?"

"Ya. Sudah lama sekali aku dan ayah membicarakannya." Jawab lelaki tampan itu.

"Ini adalah kerja sama terakhirku. Aku mempercayakan semuanya pada Kris." Kakek tua itu melihat kearah Kris.

"Dulu Tuan Xi sudah banyak sekali membantuku. Bahkan ketika aku di titik terberat dan nyaris gagal. Tuan Xi menyelamatkanku. Termasuk menyelamatkan hidupmu Sehun-ah." Ayahnya berucap santai.

Sehun mengerutkan dahinya. "Menyelamatkanku?"

"Saat bisnis Ayahmu bangkrut dan ia terlilit hutang. Kau nyaris jadi bayarannya. Tapi aku datang dan menolongnya."

"Dia benar Sehun." Kris mengiyakan.

Tuan Xi tertawa kecil. "Padahal aku tidak dekat dengannya dulu. Tapi karena kami dari ras yang sama, entah kenapa aku mempercayainya. Sebelum itu ayahmu membantuku. Saat aku pertama kali datang ke Korea, Ayahmu yang masih sangat muda itu mengajariku berbahasa Korea."

"Karena hal kecil itu kami jadi tak ragu membantu satu sama lain." Tuan Xi menatap Sehun dalam, menaruh harapan pada lelaki muda itu.

Sehun menopang dagu dan membaca isi surat kontrak itu. ia melihat kesamping kanan, ada sebuah perekam suara. Dan disudut ruangan ada kamera cctv. Jelas kakek ini mengharapkannya.

"Apa yang kudapatkan dari kontrak ini ?"

Tuan Xi tersenyum. "Aku sepenuhnya lepas tangan pada perusahaanku. Perusahaanku sepenuhnya bersatu dengan perusahaan ayahmu."

Yeah, dalam beberapa tahun lagi, perusahaan itu akan jatuh ketangan Sehun, anak laki laki satu satunya yang Kris miliki.

Sehun berfikir keras. Dan ia jatuh pada satu pertanyaan. "Kenapa semudah itu?"

"Aku semakin tua dan aku mulai sakit sakitan. Karena proyek satu tahun lalu yang kubicarakan dengan ayahmu itu belum kunjung terlaksana. Dan aku mulai sakit keras. maka kupercayakan itu pada Ayahmu. Yang tentu saja akan jatuh jua ke tanganmu. Lagipula ini bukan proyek mudah. Ini proyek yang sangat sulit dan sudah terancang setahun yang lalu."

Sehun masih berfikir. Ia belum sepenuhnya yakin.

"Aku punya penyakit jantung, dan mulai mengalami kelumpuhan di beberapa bagian. Belum lagi penyakit berat lain yang membuatku divonis hidupku tak lama lagi. aku sudah terlalu tua dan ini saatnya aku beristirahat... Surat wasiatku sudah di tulis. Semua yang menyangkut perusahaan akan jatuh ketanganmu..."

Sehun mengangguk dan mengambil sebuah balpoint berwarna perak, membuka tutupnya dan mulai mengeja nama dan tanda tangannya. Satu garis hitam Sehun tuai di bagian putih dari surat kontrak itu.

"..Didalam kontrak dan surat wasiatku tertulis aku akan memberikan seluruh hartaku padamu, ketika kau menandatangani surat itu. Ya, harta pribadiku, Mansionku, dan cucuku. Semuanya jatuh ketanganmu karena— "

Tuan Xi berhenti dari perkataannya saat ia lihat Sehun sudah menyelesaikan garis terakhir dari tanda tangannya dan menutup kembali balpoint itu. Kris tersenyum pernuh kemenangan.

"Jadi.. kau menerimanya?" Tanya Kris, seolah tak tahu apapun.

Sehun mengangguk mengiyakan. "Hmm. Tapi. Selurh harta? Apa itu tak berlebihan."

"Aku belum menyelesaikan perkataanku lho, anak muda...kau terlalu terburu-buru" Ucap lelaki berambut abu abu itu.

"Tak apa apa. Aku sudah menyetujuinya. Jadi Kakek bisa melanjutkan perkataan kakek sebelumnya."

"Apa kau akan menyanggupinya? Kau yakin dengan keputusanmu?"

"Hmm. Tentu saja. Toh aku sudah menandatanganinya bukan?"

"Kau yakin?" tanya pria tua itu sekali lagi, meyakinkan lelaki muda dihadapannya.

"Sangat yakin."

"Baik kalau itu maumu anak muda. Biar aku melanjutkan perkataanku. Semua hartaku akan jatuh pula ketanganmu ketika kau menandatangani surat itu. Harta pribadi, mansion, dan cucuku. Smua jatuh ketanganmu karena aku akan menikahkanmu dengan cucuku satu satu nya."

Sehun terbelalak. "Apa?!"

"Dengan begitu semuanya akan benar benar ada di tanganmu bukan?"

Sehun tak bisa berkutik ketika surat yang ia tanda tangani, beserta rekaman suara telah ada ditangan Tuan Xi. Rancana Kris menjebak putranya itu sukses besar.

"Kau yang mengatakan sendiri bahwa kau menyetujuinya. Kau sendiri yang terburu buru."

"Kalian menjebakku?!" Sehun menahan amarahnya.

"Tidak, sama sekali tidak berniat menjebakmu. Kau yang menjebak dirimu sendiri." Ucap Tuan Xi.

Sehun bungkam. "aku bahkan tidak tahu kalau kau memiliki seorang cucu."

Tuan Xi berbalik, memberikan surat dan perekam suara itu pada bodyguardnya. Ia lalu mengambil sebuah bingkai foto. Foto cucu satu satunya.

"Dia Xi Lu Han. Gadis berusia dua puluh enam tahun. Cucuku, sekaligus satu satunya keluargaku yang tersisa."

Sehun memejamkan matanya, mencoba menetralisir pikirannya. Bodyguard Tuan Xi dan Ayahnya keluar dari ruangan itu. Sehingga Sehun dan Tuan Xi bisa berbicara berdua. Setelah ia sedikit lebih tenang, Sehun mengambil foto itu.

Dia cantik. Meski foto dibingkai itu berwarna hitam-putih, itu tidak mengurangi kecantikan gadis ini. Rambutnya panjang dan sedikit bergelombang, tapi.. ada yang janggal..

"Dia satu taman kanak kanak denganmu dulu, mungkin kau tak mengingatnya." Tuan Xi kembali buka mulut.

"Tubuhnya lemah, dan dia sering sekali sakit. saat usianya enam tahun ia mengalami kelumpuhan di kakinya. Sehingga ia tidak bisa berjalan untuk waktu yang sangat lama. Luhan kembali berjalan tiga tahun lalu. Itu sangat sulit baginya."

"Aku sebenarnya tak mau memaksamu. Kris yang terus bersikukuh ingin menikahkanmu dengan Luhan. Awalnya aku menolak. Tapi, penyakitku semakin berbahaya dan vonisku tak lama lagi. aku tidak ingin Luhan sebatang kara. Karena itu aku menyetujuinya."

Sehun tenggelam dalam kesedihan yang tuan Xi sampaikan lewat kata katanya.

"Kemana orang tuanya?"

"Ibunya sakit dan ayahnya dibunuh. Keduanya tak ada lagi. Luhan bahkan belum pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Seusai ia dilahirkan, ibunya dirawat di rumah sakit. aku tidak ingin Luhan merasakn yang aku rasakan. Aku kehilangan istriku. Dan anakku."

"Ini membuatku gila." Sehun meremas rambutnya frustasi, ia benar benar tak bisa lagi menolak. Semuanya sudah ia setujui, dia terlalu terburu buru.

"Aku ingin kau menjaganya. Meski ia sudah bisa berjalan. Tapi Luhan tetap punya fisik yang lemah dan rentan terhadap penyakit. Luhan juga tak bisa keluar dari rumah. Ia harus terus diam didalam rumah. Sinar matahari bisa membuatnya terserang kanker kulit. Terlebih semua orang tidak suka melihatnya. Semua orang selalu menatapnya jijik, geli dan takut. Membuat bukan hanya fisiknya yang rapuh, tapi hatinya juga. Luhan tak bisa beradaptasi dan sering merasa ketakutan terhadap orang lain. Luhan sangat sensitif dan mudah tersakiti. Aku harap kau bersikap hangat padanya, dan jangan pernah kasar padanya."

"Ada apa dengan dirinya? Firasatku buruk sedari tadi." Sehun tertawa hambar, ia terlalu kesal.

"Luhan memiliki kelainan."

"Kelainan?"

"Ya. Ia kurangan pigmen hitam, sehingga sekujur tubuhnya berwarna putih."

"Albino?"

.

.

.

.

Ia benar benar kehilangan selera makannya. Ia terus memikirkan perkataan tuan Xi sebelumnya. Tuan Xi memberikan pilihan padanya, Satu bulan atau tiga bulan. Ia harus memilih kapan waktu yang ia inginkan. Itu terlalu singkat baginya. Menikah dengan waktu pendekatan diri hanya tiga bulan? terlebih ia harus menikahi wanita penyakitan dan memiliki kelainan? Oh apa kata orang orang nantinya? Lelaki sempurna seperti dirinya harus memiliki pasangan yang sempurna pula. Ia bahkan belum bertemu dengan Luhan sedari tadi, tuan Xi bilang bahwa gadis itu tak pernah makan malam.

Sialnya, Kris meminta Sehun bertemu dengan Luhan dan mendekatkan diri dengan gadis itu.

"Dia ada di halaman. Karena kelainannya ia hanya bisa keluar dimalam hari."

"Menakutkan dia seperti hantu."

"hei jangan begitu. Cepat atau lambat kau pasti akan mencintainya."

"Persetan. Ayah gila, membiarkan aku menikah dengan wanita lemah dan penyakitan sepertinya?! Menjijikan!"

"Aku tak punya pilihan lain. Kau adalah anakku satu satunya, dan aku tak mau menyia nyiakan hidupku untuk melihat anak sematawayangku menikah dengan wanita biadab pecandu seks yang berantakan itu. itu lebih dari menjijikan." Kris menggertak.

"Oke. Aku akan menikah dengannya, kemudian menceraikannya. Lalu mengasingkannya ke pulau terpencil."

"Terserah." Ayahnya tersenyum

"Apa?!"

"Kau bisa menceraikannya, membunuhnya, meracuninya, menyiksanya atau apapun itu. tapi aku yakin kau takkan bisa melakukannya."

"Kita lihat saja nanti." Sehun mendelik dan berjalan ke halaman luar.

Apa yang harus ia katakan pada Zitao nanti? Oh, Sehun masih tidak terima dengan semua ini. Sial betul dirinya, dijebak dan sekarang diminta menikah dengan wanita berkelainan. Ia masih bisa menerima jika wanita itu adalah tipe idealnya atau setidaknya 'Normal'.

Kakinya terhenti saat melihat taman bunga mawar putih didepannya. Hamparan warna hijau dan putih yang luas itu terlihat sangat indah. Ia berjalan terus sampai melihat sebuah meja bundar dan dua kursi berhadapan disana. jantungnya sedikit lebih cepat saat gadis dengan rambut putih itu menoleh kearahnya. Begitupun dengan pelayan disebelah gadis itu.

"Tuan Sehun?" Tanya si pelayan itu.

Sehun mengangguk.

"Silahkan duduk. Saya permisi."

Kyungsoo, si pelayan pergi dari tempat itu. meninggalkan Luhan yang tertunduk takut dan Sehun yang masih setia berdiri angkuh sambil menaruh tangannya di kedua saku celananya.

"Kau bisa duduk S—sehun sshi." Baru kali ini Sehun mendengar suara yang begitu lemah lembut dan merdu. Ah tidak, Junmyeon juga memiliki suara yang sama. tapi suara Luhan benar benar meluluhkan hati.

Sehun berjalan dan duduk dihadapan Luhan. Tapi gadis itu tetap menunduk, ia meremas roknya kuat kuat.

"Yak, apa begini caramu menyambut tamu? Angkat kepalamu." Ucapnya ketus dan dingin sambil menyilangkan kakinya.

"Mianhae.." Luhan tetap menunduk. Suaranya bergetar, ia begitu ketakutan.

"Ck.. kau menyebalkan."

BRAK—! Sehun menggebrak meja dengan tangan kirinya. Luhan terlonjak kaget, tapi tetap tidak mengangkat wajahnya. Geram melihat tingkah Luhan, Sehun menarik dagu gadis itu dengan tangan kanannya.

"Lihat aku." Sehun menaikkan dagu Luhan dan ia terdiam.

Gadis itu menatap Sehun takut. Mata abu abunya berkaca kaca. Matanya bening. Benar benar sangat indah, dengan bulu matanya yang putih itu ia justru terlihat menawan. Pipinya merah menahan takut. Dan bibir merah mudanya bergetar kecil. Sungguh, Sehun dibuat bingung. Jantungnya berdegup kencang.

"Jangan menatapku seperti itu sialan! Kau membuatku jijik."

Luhan menjauhkan wajahnya. "Maaf.."

"Sebegitu hampa dan menyedihkannya hidupmu? Sampai kakekmu yang harus bertindak."

Luhan hanya diam.

"Ah iya aku lupa. Kau bahkan tak punya siapapun selain kakekmu."

Luhan tertawa hambar. "Iya aku tidak bisa apa apa tanpa kakek."

Sehun hanya menatap Luhan sinis.

"Tapi kakek bilang aku akan menikah, jadi aku tidak akan merasa kesepian dan sendirian lagi."

"Ya. Aku orang yang akan menikahimu."

"Aku tahu." Luhan tersenyum kecil, Sehun rasanya kesal sekali melihatnya tersenyum. Ia terlalu cantik untuk hidup menderita seperti ini. Tapi Sehun menepis rasa simpati pada gadis itu dengan segera.

"Tapi jangan harap aku melakukannya karena keinginanku. Aku dijebak oleh ayahku sendiri, karena ia benci pada gadis yang kupilih dan sekarang aku harus menikah denganmu. Gadis yang sama sekali belum pernah kukenal." Yeah, semasa kanak kanak dulu Sehun juga tidak akrab dengan Luhan. Ia hanya tahu satu hal 'gadis itu teman sekelasnya'. Jelas itu bukan dikategorikan sebagai 'mengenal'.

"Kurasa kita bisa mendekatkan diri?" Luhan mengatakannya tanpa melihat kearah Sehun.

"Mendekatkan diri katamu? Aku harus lebih dekat dengan gadis berpenyakitan dengan kelainan yang menjijikan sepertimu? Kau pikir aku sudi melakukannya? Jangan terlalu banyak membaca cerita dongeng, putri cacat."

Luhan spontan menatap Sehun. Ia melihat kebencian yang begitu dalam di mata elang lelaki itu. perkataan Sehun menusuk sampai menembus punggungnya seperti pedang.

"Apa kau kemari hanya untuk menatakan kata kata kejam dan membuatku menangis?" ucap gadis itu dengan nada bergetar.

"Bukan. Aku hanya kemari untuk melihat seperti apa manusia albino itu. juga mengingatkan padamu, bahwa aku sama sekali tidak bersimpati pada keadaanmu. Keadaan dirimu yang lemah dan cengeng itu membuatku muak. Padahal aku tidak mengenalmu. Tapi selamat, Kausudah memberikan kesan pertama yang benar benar buruk dimataku."

Pertahanan Luhan jatuh, air matanya menetes begitu saja. Jujur, Luhan baru kali ini mendengar ucapan seperti itu langsung dihadapannya dengan suara tegas dan wajah dingin. Sakit sekali rasanya. Perlu Sehun tahu, Luhan bahkan tak pernah mendapat simpati orang orang, kecuali kakeknya dan Kyungsoo. Hanya dua orang itu. tak ada lagi.

"Kau tidak perlu menangis, aku takkan memberikan belas kasihan padamu."

"Apa—apa aku.. menghancurkan hidupmu? Atau menambah beban di hidupmu? Sampai kau bersikap seperti ini?" Luhan memniarkan air mata itu jatuh menghiasi pipinya.

"Ya, Jadi kenapa kau tidak enyah saja? Jadi tak ada lagi orang yang kau bebani. Benar bukan?"

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ngehehe.. hai guys.

Maaf ya FF ini lamaaaaaaaa banget lanjutannya.

Aku lagi mengalami mental breakdown. Anjir mood aku ancur banget. Dan aku juga lagi krisis identitas. Kelebih keadaan rumah bikin runyam dan kesel. Rasanya pengen cepet cepet minggat aja gitu..

Belum lagi aku ngga ngefeel gitu ngerjain FF nya :'( aku merasa dongkol. Mood jatoh terhempas berantakan. Biarin yah curhat dikit. Soalnya aku tipe orang yang ngga pernah cerita masalah pribadi ke siapapun. Aku simpen sendiri aja gituu. Dan itu bikin aku stress, insom, nokturnal, dan sakit kepala berkepanjangan setiap jalan atau berdiri.

Jadi aku mau perbaikan mental dengan curhat disini hahahahaha :') biarin ya kalau aku curhat dikit. Mau dibaca atau engga juga gapapa.

.

.

.

aku belum nentuin pasangan akhir dari cerita ini. Jadi aku mau bikin ending couple nya dari reviewan kalian. Kalau kalian banyak yang pengennya si A sama si B. Maka aku bikin endingnya A sama B. Kalau kalian pengennya B sama C maka aku bikin nya B sama C. Kalau kalian maunya C sama D maka aku bikinnya C sama D ./apalah ini teh :'(

.

.

.

.

Okee saatnya balas review!

1220 , rly : Iya albino :')

Saa : KKk Kris kan bokapnya Sehun mbak :'(

Selenia Oh : Iyap yg nabrak itu Luhan

Juna Oh : Iya Sehun kubikin kasar dan bringasan disini. biarin yaa :'(

Seravin , Fe261, Lu , Asmara Ara , cici fu, OhXiSeLu , yuanita: Sudah di next yaa

Chenma : Iyapp hihihi eonni benaar! Luhan nya mau aku siksa abis abisan disini:'( /jahat

heegi : Iya aku terinspirasi sama film deadpool jadi pengen bikin cerita yg ada cewe liar dan berantakan macem gituu.

Clarrisa Afternoon : Ngga cuma Chan sama Soo sih. Banyak pairing2 aneh disini :'D , kkk aku ngga ngefeel buat ngelanjutin Between two hearts and two lips. Ntar ya kalau mood udah muncul lagi :'(

Cheerry : luhan rambutnya ga berubah kok, cuma junmyeon ngira kalau dia tuh bule (pirang) padahal bukaan gituu

LisnaOhLu120 : Makasihhh semangaatnyaa :'') udah dilanjutt yaa

anxbyul : iyaap itu luhann ;)

Nisaramaidah28 : Sayangnya chan bukan jadi pahlawan buat baek :')

anggrek hitam : Iya albino :') maaf ya kalau menurutmu luhannya jadi ngga cantik...

ramyoon : iya albino diaaa aaaah selalu tunggu ff ini yaa. Btw ramyoon itu yg Ignya embulnyahunhan bukan ?

Jumarohfauziyah : kkk iya si Sehun ini udah disantet sama ztao keknya :'( sampe sebegitunye

Luhan1220 : KKK ANJRIT YAHUUD KKK REVIEWMU BIKIN KETAWAA KKK MAKASIH LOH YAAA IHH CINTA DEHHH 3 3

fuckyeahSeKaiYeol : Aisshhh style mu yang begini yaa hihihii. Kkk iya white hair. Kkk makasih ya udah ngingetin , mulai chap 2 gaaakan banyak enter lagi kok

Syi Sehun : Iya insyaallah bakal sedih dan menyakitkan.

Chaa : Terus review ya biar ff ini tetap hidup :')

qwerlws : KKk konflik lainnya bakal lebih heboh :')

Sehunluhan0494 KKK Luhan albino say disini heheh

SNAmaliia : udah diperbaiki di chapter 2 ya. Maaf bikin ngga nyaman bacanya

stephjung : kkk ngga kok ini bukan kutukan :'(

Wenxiuli12 : FF ini kulanjut setelah baca reviewmu loh. Makasih ya, padahal ff ini udah lumayan lama. dan kamu reviewnya pas banget, pas aku lagi ngga ngefeel buat lanjutin FF ehh reviewmu muncull, dan kuketik deh chapter 2 semaleman kkkk.

.

.

.

.

.

.

.

Makasih buat kelian semua yang udah mau review dan setia menunggu ff ini /pede.

Buat kalian yg selalu review semua ff aku juga makasih bangeeet ya :****

.

.

.

.

.

Bye byeee