.

"Munakata-san? Ada apa? Kau tampak lelah."

Reishi sontak mengangkat kepalanya. Setengah terkejut, tidak menyangka bahwa seorang gadis berpotongan tomboy sudah melipat lengan di atas dada sembari menatapnya.

"Ah, Miyazawa-kun. Maaf aku melamun, ada yang bisa kubantu?"

Gadis itu menghela napas sejenak lalu menjawab, "Ini, laporan arus kas yang kau minta. Aku sudah melakukan revisi berkali-kali, dan memang, ternyata ada yang mengambil uang kas OSIS. Hirumi-kun saat ini sedang dipanggil pembina OSIS untuk dimintai keterangan. Bagaimanapun… aku hanyalah sekretaris yang kau minta untuk mengecek ulang laporan keuangan Hirumi-kun sebagai bendahara. Dan penyelidikan tentang siapa oknum yang berani mengutil uang OSIS akan ditangani langsung oleh pembina OSIS."

"Hmm… baiklah, terima kasih atas kerja kerasmu, Miyazawa-kun," ujar Reishi, mengambil berkas laporan dari tangan sekretarisnya. Ia kemudian membalik-balik halaman berisi tabel-tabel dan angka-angka tersebut. Matanya memindai satu-satu dari setiap angka yang tertera dengan teliti. Otaknya bekerja cepat, seolah kalkulator canggih yang bisa langsung menghitung tanpa perlu susah-susah memencet tombol-tombol angka beserta perintah operasinya.

Meski di tengah-tengah, Reishi terhenti. Ia menengadahkan kepalanya lagi, dan gadis itu masih ada di hadapannya.

"Ada yang bisa kubantu lagi, Miyazawa-kun?"

Dan desis tawa yang ditahan si gadis membuat Reishi refleks mengangkat sebelah alisnya.

"Ada yang salah denganku—"

"—tidak, bukan apa-apa."

"Lalu kenapa kau tertawa?"

"Karena aku sedang bertanya-tanya dalam hati… sedang di mana kau saat ini, Munakata-san?"

Pertanyaan apa itu tadi? Kenapa rasanya terdengar begitu lucu, tapi Reishi tidak bisa tertawa sama sekali?

"Kau sungguh lucu, Miyazawa-kun. Memangnya aku terlihat seperti yang sedang berada di suatu tempat dan bukan di depanmu sekarang?"

"Sayangnya aku tidak berbicara tentang fisikmu. Aku berbicara tentang," gadis itu mengangkat tangan dan mengetukkan jari ke pelipis, "isi pikiranmu. Aku tidak melihat isi pikiranmu ada di tempat ini untuk mengerjakan pekerjaanmu sebagai Ketua OSIS, setidaknya untuk satu bulan ke belakang. Ada apa, Munakata-san? Kau jenuh menjalani ritual hidupmu?"

Reishi terperangah. Argumen itu mengena telak menembus benteng pertahanan dirinya. Reishi hanya terdiam. Tidak bisa berkata-kata. Tidak bisa berargumen. Tidak bisa beralasan. Bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri.

Gadis itu kemudian tersenyum simpul dan membungkuk sekilas. "Aku bukan tipe orang yang memaksa seseorang untuk mengeluarkan isi pikirannya, tapi aku merupakan tipe yang cukup peka akan kondisi lingkungan sekitarku. Kalau kau mau, kau bisa bicara padaku. Jika tidak, semoga kau segera menemukan kembali tujuan hidupmu."

Dalam satu gerakan, gadis itu berbalik. Ketika tangan itu mencapai gagang pintu, Reishi mendadak memanggilnya. Sesuatu yang terhitung sebagai sebuah reaksi refleks seorang Munakata Reishi, karena ia sadar bahwa otaknya sekalipun belum memberinya perintah untuk itu.

"Miyazawa-kun, apa yang membuatmu berpikir bahwa aku mungkin… tidak akan pernah membicarakan masalahku pada orang lain?"

Gadis itu diam sesaat. Tangan masih bertengger di gagang pintu. "… tapi aku tidak ingat pernah mengatakan hal itu, Munakata-san."

"Katakan saja bahwa aku mengimplikasikan pernyataanmu sebelumnya pada pertanyaanku itu. Bagaimana? Apa jawabanmu?"

Menit berikutnya, Reishi tahu ia telah salah bertanya. Salah karena sebuah senyum tipis yang ia dapatkan dari gadis itu, dan utamanya karena jawaban yang diberikan sang sekretaris OSIS padanya, yang lantas menenggelamkannya dalam jutaan perspeksi dan kalimat-kalimat pencarian lainnya.

"Karena kau, Munakata-san, adalah orang yang senang menanggung bebannya beserta beban orang lain di pundaknya. Bahkan seringkali melupakan, bahwa orang-orang di sekitarnya itu sama sekali tidak ingin bebannya ditanggungkan di pundakmu."


...


.

Project K (C) GoRa & GoHands

A WEEK FOR A LIFETIME

MikoRei week: Day 2 - Motifs

.

"Kalau begitu, berhenti peduli saja. Sekali lagi, aku tidak pernah meminta. Dan bukankah memang tidak pernah ada yang memintamu untuk kau menjadi dirimu yang sekarang?"

.

.

.

Reishi tidak pernah ingin menunjukkan berbagai macam bentuk keluhannya pada siapapun. Tidak pada dunia luar. Segala bentuk kelemahannya cukup disimpan untuk dirinya sendiri saja. Yang perlu orang lain tahu hanyalah dirinya yang sempurna… yah, sesekali melakukan kesalahan juga tidak apa, sebetulnya. Ia bangga dengan setiap detail kebahagiaan penuh harap dari keluarganya, juga dari teman-temannya. Tidak ada yang perlu mengetahui seperti apa dasar dari seorang Munakata Reishi. Cukup ia sendiri yang mengetahui dan memahaminya.

Namun Reishi di umur menjelang enam belas tahunnya mulai merasa lelah. Apakah pilihan jalan hidupnya ini memang yang terbaik? Mengapa kata-kata seperti jenuh dan muak mulai berkecamuk tak henti dalam pikirannya? Jika ia memang mencintai pekerjaannya, mencintai dirinya dan segala macam topeng yang dimilikinya, mengapa ia harus mengenal kata-kata itu? Seperti yang kehilangan arah… pandangan Reishi akan tujuan akhirnya mulai memburam.

Dan perkataan Miyazawa Kaho, sekretarisnya di OSIS, beberapa hari yang lalu itu sangatlah mengganggunya. Dunia idealnya adalah ketika semua hal berjalan sesuai dengan perhitungannya, termasuk dengan menanggung satu-dua sampai beribu cacat dunianya untuk ia perbaiki. Cukup oleh dirinya sendiri. Lalu bagaimana dengan segelintir mereka yang disebutkan dalam argumen Miyazawa Kaho?

Di sela-sela waktu kosongnya, sore menjelang malam pada suatu hari setelah jadwal latihan kendo usai, Reishi selalu menyempatkan diri untuk duduk diam, menenangkan pikiran dan batinnya di bawah naungan pohon sakura raksasa di bukit belakang sekolah. Hanya di tempat itu Reishi berani mengerucutkan bibir dan menghela napas kesal, atau sesekali mendengus dan bergumam tidak jelas, memisuh apa saja yang membebani kepalanya. Toh tidak akan ada yang mendengar. Tidak akan ada yang mengetahuinya—

"Munakata…? Sedang apa kau di situ?"

—sialan. Siapa pula yang berani mengganggu jam senggangnya, di tempat favoritnya, yang seharusnya hanya ia yang tahu? Reishi menoleh kanan-kiri, mencari-cari asal suara berat tersebut.

"Di atas sini, Munakata."

Reishi tengadah. Hanya untuk menemukan seniornya yang bersurai merah itu menatapnya balik dari dahan pohon. Satu seringai tipis tersungging di bibir pemuda itu, sementara Reishi mulai panik sendiri.

"Heh, ternyata Ketua OSIS kerjanya merenung dan memisuh di bawah pohon sakura. Aku mendengar persis setiap patah kata dan jumlah hela napas yang kau keluarkan, Munakata."

Tuh 'kan, benar? Dirinya pasti habis diejek setelah ini. Reishi sudah tidak bisa lagi menyembunyikan semburat merah jambu di pipinya.

"Kau sendiri? Sedang apa di sini? Tidak bersama Kusanagi Izumo-senpai dan Totsuka Tatara?"

"… aku tersanjung, kau hapal nama mereka."

"Itu karena kalian kerjanya membuat masalah di sekolah, Suoh-senpai."

Pemuda di atas pohon itu mendengus. Lalu kontak mata keduanya yang terputus ketika seniornya memalingkan wajah dan menatap langit berlembanyung mega jingga lembut. Sementara Reishi tidak berhenti memandang pemuda itu. Ia tidak menemukan garang yang biasanya terlukis di wajah Suoh Mikoto. Yang ia temukan tidak lain adalah sepi, seolah seniornya ini bukanlah biang kerok yang selama ini dikenalnya. Lalu ada hangat yang menyelusup benaknya. Ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan namanya, bahkan ia tidak tahu bagaimana cara mendefinisikannya.

"Aku hanya sedang ingin sendiri."

Jawaban seorang Suoh Mikoto memaksa Reishi untuk menyembunyikan senyum gelinya. "Kau? Ingin sendiri? Sementara ada dua orang yang setia menemanimu ke mana-mana? Kau sepertinya memang manusia paling tidak tahu terima kasih yang pernah aku kenal di muka bumi ini."

"… setidaknya masih lebih baik daripada Kaichou-sama yang ternyata teman-temannya palsu semua."

Deg!

"Apa yang ada dalam hidupku adalah urusanku, Suoh Mikoto-senpai. Dan aku tidak akan diam membiarkan orang sepertimu mengolok-olok kehidupanku, dan—"

Reishi tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena pemuda itu yang lantas melompat turun dari dahan pohon, lalu mendaratkan sebuah telapak tangan di puncak kepalanya.

Sesuatu dalam dada Reichi membuncah. Tiba-tiba ia disergap rasa sesak. Sesak yang nyaman.

"—lain kali, ucapkan kalimat itu dengan lantang, Munakata. Karena di mataku saat ini, kau tidak lebih dari seorang bocah cengeng yang sedang mati-matian menahan untuk tidak menangisi hidupnya sendiri."

Pemuda itu berlalu. Untuk kesekian kalinya meninggalkan Reishi dalam kesendirian. Namun kali ini, Reishi terjatuh. Kakinya lemas. Tubuhnya gemetar. Sepasang manik ungunya tidak bisa lepas dari punggung tegap yang lama-kelamaan menjauh itu, sementara sudut matanya mulai mencairkan tetesan-tetesan kecil yang sepertinya memang sudah merindu untuk bergulir di pipinya, lalu jatuh membasahi tanah kering.


...


Mikoto menatap ke dalam telapak tangannya. Ada rasa yang tertinggal. Ada imaji lembut yang menggelitik. Ada warna biru yang menyita isi pikirannya, lebih dari apapun yang pernah berkeliaran dalam kepalanya yang memang jarang dipakai berpikir hal-hal rumit itu. Ia sampai tidak bisa merasakan sengat tembakau tersulut di mulutnya, juga tidak mempedulikan abu di ujung satunya yang nyaris merontok mengotori seragamnya—

—berterima kasih pada Izumo yang menyorongkan asbak ke bawah dagunya.

"Kau tadi dari mana? Kupikir kau pulang duluan, makanya aku buru-buru menyusul ke sini."

Mikoto tidak menjawab. Hanya memalingkan wajah, menyusuri rak-rak minuman di bar milik paman Izumo—yang kini hak kepemilikan bar bernama HOMRA itu jatuh ke tangan Izumo sendiri.

"Kau tidak baru saja mencari masalah baru dengan bocah itu ketika aku dan Totsuka tidak ada, bukan?"

Mikoto mendengus. Egonya tertusuk oleh kalimat Izumo. "Memangnya untuk apa?"

"Aku tidak tahu," balas Izumo, mengedikkan bahu, "menurut sendiri, bagaimana? Karena belasan tahun aku bersamamu, Mikoto, dan aku tidak pernah melihatmu, sekalipun, memiliki ketertarikan khusus seperti ini pada seseorang—"

Menghembuskan zat-zat beracun tersebut dari mulutnya, Mikoto terkekeh kecil.

"—dan merokoklah dengan benar, Suoh Mikoto. Aku tidak mau setitik pun abu rokok jatuh mengotori counter atau lantai kayu."

Satu gerakan, Mikoto menyesap sisa batang tembakaunya lalu menancapkannya ke dalam asbak.

Serta sebuah seringai tipis. Diikuti sorot mata tajamnya yang melunak. Dan tangan kanannya yang mengepal, untuk kemudian ia buka lagi kemudian bergerak menyisir tengkuknya. Suatu reaksi yang berhasil membuat Izumo—yang semula tengah melakukan ritual-usap-gelas-wine-nya itu—melempar sorot keheranan padanya.


...


Reishi enam belas tahun, dan semenjak pertemuannya dengan Suoh Mikoto di bawah pohon sakura, hidupnya tidak pernah lagi sama. Kata-kata terakhir sang senior padanya benar-benar tidak bisa lepas dari kepalanya, menghantuinya ke mana saja Reishi melangkah. Seakan Suoh Mikoto selalu berada dekat dengannya, mengawasi setiap gerak-geriknya, lalu mengucapkan kalimat yang sama setiap kali Reishi terjatuh dan kehilangan arah.

Meski setiap saat Reishi berusaha menemui pemuda itu di pohon sakura yang sama, Suoh Mikoto tidak pernah ada di sana. Dan Reishi tidak punya waktu—serta alasan logis nan masuk akal—untuk menyambangi kelas seniornya itu pada jam istirahat atau sepulang sekolah. Tidak, tidak. Apa kata orang nanti jika ia terlihat mengejar-ngejar senior yang punya rekam jejak minus di seantero sekolah, sementara sang senior bersangkutan sedang tidak membuat onar apa-apa? Bisa berakhir sia-sia semua perjuangan dan pengorbanannya selama ini untuk menjadi sosok ideal dan panutan seperti yang diinginkan.

… diinginkan oleh siapa? Reishi tidak ingat ada yang pernah memintanya… dan Reishi sendiri mulai jenuh untuk terus berjalan di jalurnya itu.

Melangkah gontai sepulang sekolah di hari ia tidak ada kegiatan OSIS maupun latihan kendo, Reishi memutar jalan dan tidak melewati rute yang biasa ia lalui untuk pulang ke rumah. Ia tidak ingin pulang. Ia ingin pergi ke suatu tempat, kali ini tidak dengan pohon sakura karena ia sedang tidak ingin mengingat detail kalimat yang kerap menggaung di kepalanya.

Hingga ia tiba di sebuah gang gelap. Telinganya samar-samar mendengar suara perkelahian dari dalam gang tersebut. Ah, mungkin saja segerombolan preman atau yakuza, tandanya Reishi harus cepat-cepat kabur dari tempat itu sebelum terlibat—

"… kalian yang seharusnya enyah dari hadapanku."

—Reishi mematung. Suara yang dikenalnya terdengar dari dalam sana. Ingatannya yang lantas memanggil memori sepasang iris amber yang begitu dikenalnya. Tanpa menunggu lebih lama dan berpikir panjang, Reishi berlari masuk ke dalam gang, menerima segala resiko yang akan ia hadapi nantinya.

Namun perkiraannya meleset. Setibanya ia di ujung gang, yang ia temukan adalah enam orang pria babak belur tak sadarkan diri, bergelimpangan mengelilingi sosok yang berdiri tegap memunggunginya. Dan ketika sosok itu berbalik, sama sekali tidak ada luka tertoreh di tubuh sedikitpun meski raut wajah itu menampakkan perih yang teramat sangat, sesak yang sama kembali membelenggu Reishi.

"Dari semua orang di bumi… kenapa harus kau yang kutemui di gang sempit ini, Munakata?"

Reishi tidak tahu. Reishi tidak sadar. Bahwa dalam naungan kata selamanya, ia sendiri sudah terjebak dalam kungkungan seorang Suoh Mikoto.


...


"Ouch…! Pelan sedikit, Munakata."

"Kau tidak berhak melontarkan pendapat tentang caraku mengobati lukamu, Suoh-senpai. Lagipula, sejak awal untuk apa kau bertarung dengan preman-preman itu?"

"… bukan urusanmu."

"Memang bukan. Tapi lihatlah dirimu. Seorang diri, mengeroyok enam orang alih-alih dikeroyok, sembari masih menggunakan seragam sekolah. Kau tahu apa akibatnya untuk nama baik sekolah kita?"

"Bukan urusanku."

Mikoto melirik bocah di hadapannya, yang kemudian melepaskan sebuah helaan napas kecil dari mulut. Sementara si bocah bernama Munakata Reishi itu masih berusaha membebat luka di tangannya dengan… acak-acakan. Atau setidaknya Mikoto tahu cara membebat perban dengan benar dan baik dari Izumo yang selama ini kerap kali mengurusinya pasca adu jotosnya dengan preman manapun. Namun melihat usaha bocah itu… Mikoto hanya bisa tersenyum kecil sembari mengamati wajah lonjong Munakata Reishi lekat-lekat.

Lalu sepasang ungu itu balas menatapnya. Penuh tanda tanya. Namun penuh proteksi diri, Mikoto bisa melihatnya dengan jelas dari mata itu.

"Ada sesuatu di wajahku, Suoh-senpai?"

"Tidak."

"… kalau begitu, tolong berhenti menatapku seperti orang kelaparan, Senpai," bocah itu lalu mengikat ujung perbannya, "baik, sudah selesai."

Mikoto memperhatikan lengannya, yang kini terlihat seperti orang yang sedang mengalami patah tulang dari ujung jari hingga sikut. Tanpa sadar Mikoto mendengus, menahan tawanya.

"Usaha yang bagus, Munakata. Terima kasih banyak."

Baru saja Mikoto berdiri dan melangkah ke arah pintu, sebelum satu tarikan di ujung kemejanya yang membuatnya berbalik—

"O—oi… Munakata…."

—gerakan terampil, Munakata Reishi berkutat tanpa perlu banyak usaha untuk memasukkan kemejanya, merapikan rompinya, lalu mengikat ulang dasi yang semula menggantung asal di lehernya. Dari jarak sedekat itu, indera penciuman Mikoto menangkap sebuah aroma menguar dari tubuh juniornya. Wangi laut. Wangi yang asing di ingatannya, wangi yang kontras dengan tembakau dan alkohol yang selama ini hilir-mudik di ujung hidungnya….

… namun juga memberikan sebuah ketenangan baginya.

"Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Senpai?"

Mikoto menggumam. Sedikit menggerakkan kepala dalam bentuk anggukan samar.

"Apakah orang barbar dan liar sepertimu… punya tujuan dalam hidup?"

Mikoto mengangkat sebelah alisnya. Apa kata bocah itu tadi? Orang barbar dan liar? Harga dirinya seperti yang baru saja dipukul dan dihancurkan oleh palu godam raksasa. Namun raut wajah Munakata Reishi saat melemparkan pertanyaannya… raut itu sendu. Ada rasa yang lantas menyelusup dalam benak Mikoto.

"Aku tersinggung dengan kata-katamu barusan, Munakata."

Cepat-cepat pemuda di depannya itu mendongak. Raut ambigu yang tidak pernah pemuda itu tunjukkan menguap dengan cepat, karena yang Mikoto temukan kini adalah senyum sinis yang biasa sang Ketua OSIS sekolahnya itu berikan padanya.

"… oh? Mohon maaf kalau kau tersinggung, Suoh Mikoto-senpai. Tidak perlu kau jawab pertanyaanku, kalau begitu. Hahh… aku juga merasa bodoh karena membuang waktuku hanya untuk bertanya padamu, karena tentunya aku tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang tepat dari mulutmu itu."

Mendecak lidah. "Kau mulai membosankan, Munakata."

"Begitu? Lalu kenapa sejak awal kau seperti yang tidak pernah bosan mencari masalah di sekolah?"

"… karena aku juga tidak pernah memintamu untuk menghadapiku."

"Tapi kau tahu aku tidak bisa membiarkan segala bentuk kekacauan yang ditimbulkan orang-orang sepertimu."

"Kalau begitu, berhenti peduli saja. Sekali lagi, aku tidak pernah meminta. Dan bukankah memang tidak pernah ada yang memintamu untuk kau menjadi dirimu yang sekarang?"

Kedua manik ungu itu melebar. Kata-katanya seolah menjadi satu serangan balik yang telak mengena pada sisi terlemah pemuda di depannya. Tidak ambil pusing, Mikoto menggeser pintu kertas dan menyusuri lorong menuju pintu keluar, meninggalkan kediaman keluarga Munakata.

Juga meninggalkan sang putra bungsu keluarga Munakata dengan imaji terakhir bocah itu yang melekat di kepalanya. Raut terluka dari seorang Munakata Reishi.


...


Sejak hari itu, hari di mana Reishi merasa menjadi orang paling tolol dan paling menyia-nyiakan waktu di seluruh penjuru dunia setelah bersusah-payah meluangkan diri mengobati luka-luka sang senior berambut merah menyala di rumahnya sendiri, Reishi akhirnya mendapatkan jawaban atas sebuah pertanyaan hidup pertamanya. Lelah dan penat yang perlahan berangsur menghilang. Reishi kini bisa menghela napas lega.

Tidak ada yang salah dengan menjadi dirinya sendiri. Tidak ada yang salah dengan dunia idealnya selama ini. Tidak ada yang salah dengan menjadi panutan orang-orang di sekitarnya. Tidak ada yang salah, toh dirinya sudah yakin bawa ia memiliki pundak yang kuat untuk menadah harapan-harapan tersebut. Tidak ada yang salah dalam menggantung ambisi dan cita-cita setinggi langit, selama ia yakin bahwa ia memiliki sepasang sayap yang kuat untuk membawanya terbang meraih mimpinya tersebut.

Dan semua itu berkat kata-kata terakhir yang ditinggalkan Suoh Mikoto. Sepenggal kalimat yang menamparnya. Sepenggal kalimat di antara berbagai macam racauan dingin dari sang senior yang, setidaknya, tidak ingin Reishi lepaskan dari ujung ingatannya.

"Kau tampak lebih tenang sekarang, Munakata-san. Sudah menemukan apa yang kau cari?"

Reishi tersenyum sembari membereskan lembar naskah pidato di tangannya.

"Sudah. Dan terima kasih karena kau begitu memperhatikanku selama satu tahun ini, Miyazawa-kun. Aku bahkan tidak menyangka bahwa jawaban yang kucari ini berhasil kudapatkan dari tempat yang tidak pernah kuduga sebelumnya."

"Dan asumsiku… hal ini berhubungan dengan si senior biang onar dari kelas 3-D?"

Reishi sekali lagi tersenyum. Ia bangkit dari kursinya.

"Lebih baik kita bergegas ke aula untuk menghadiri acara kelulusan para kakak kelas, Miyazawa-kun. Aku sudah ingin berada di sana untuk memastikan Suoh Mikoto tidak membuat keributan di hari kelulusannya sendiri."


...


Pohon sakura di bukit belakang sekolah. Bunga-bunga berwarna merah jambu pucat itu berguguran di sekelilingnya. Dan aroma laut di sampingnya… Mikoto tidak tahu bahwa satu momen di dunia bisa begitu menenangkan seperti ini.

"Kau orang yang kuat, Senpai."

Mikoto mendengus. Telinganya gatal untuk mendengar sufiks itu dari mulut juniornya—yang memang pada acara kelulusannya tadi secara resmi sudah tidak lagi menjadi adik kelasnya. "Hentikan memanggilku dengan embel-embel menyebalkan itu, Munakata. Mulai hari ini aku sudah bukan seniormu lagi."

"Hmm, baiklah. Jadi, kau akan melanjutkan ke mana setelah ini?"

"… tidak tahu. Dan aku tidak peduli."

"Hei hei… kau tidak mungkin serius, 'kan, Suoh?"

Melirik ke sampingnya, Mikoto menemukan raut terkejut Munakata Reishi yang seolah tidak ingin mempercayai jawabannya barusan. "Kenapa? Memangnya kau berniat mengejarku, ke manapun aku akan melanjutkan sekolahku?"

"Tidak juga. Aku tidak bisa membuang masa depanku yang berharga hanya demi mengejar orang barbar sepertimu."

Jawaban khas seorang Munakata Reishi. Benaknya yang kemudian dijajah sebuah perasaan hangat. Rindu. Betapa ia mungkin akan merindukan adu mulutnya dengan bocah bermulut tajam ini. "Heh. Dan kau sudah bukan lagi bocah cengeng yang kutemui setengah tahun lalu di bawah pohon sakura, Munakata."

"Hmph. Bahkan orang seperti aku pun bisa bangkit dan mencari jalan baru dalam hidupnya, Suoh."

Mikoto menarik napas. Ia tidak peduli dengan masa depannya, tidak peduli ke mana nasib akan membawanya berlari. Yang ingin Mikoto lakukan hanyalah menikmati saat-saat itu. Saat-saat di mana ketenangan akan menyapanya setiap kali ia berdiri berdampingan maupun berhadapan dengan si pemuda bersurai biru gelap itu, tidak peduli apakah yang mereka tukar adalah adu mulut penuh caci-maki atau percakapan tenang penuh intrik seperti saat ini. Rasa penasaran yang mengusiknya di awal, yang lantas berubah dan memberikan arti lain padanya.

Mikoto tidak ingin melepaskan. Meski Mikoto tahu, jalannya dan jalan pemuda itu memang tidak akan pernah ditakdirkan untuk sejalan. Ibarat keduanya tengah berdiri di persimpangan jalan kini, dan Mikoto tahu jalannya bukanlah sisi jalan yang akan ditempuh pemuda di sampingnya itu.

Ia membalikkan tubuh, melangkah seraya melambaikan tangan singkat. "Jaga dirimu kalau begitu, Munakata Reishi."

"Ya. Kau juga, Suoh Mikoto. Ah… dan juga…."

Mikoto menghentikan langkahnya. Untuk terakhir kalinya, menatap pemuda itu dengan alis terangkat sebelah. "… apa?"

"Tidak. Hanya saja, kuharap kau bisa mengendalikan sifat temperamen dan semena-menamu itu, Suoh. Kau orang yang kuat, dan kau bisa menolong banyak orang dengan kekuatan itu."

Satu seringai tipis. Mikoto tahu itu sudah cukup untuk menanggapi pernyataan Reishi, dan Mikoto pun tahu bahwa Reishi menangkap maksudnya. Ia lalu meneruskan langkahnya, tanpa sekalipun melihat ke belakang.


...


Satu tahun setelahnya, dan kali itu giliran Reishi yang menjadi perwakilan angkatan untuk maju ke podium dan menyampaikan sepatah dua patah kata sambutan di hari kelulusannya. Sorak tepuk tangan membahana, Reishi mendapatkan kembali kebanggaan itu, terbangun dan menari-nari di benaknya. Ah ya, tidak ada yang salah dengan memilih jalan untuk memenuhi ekspektasi banyak orang. Hasil jerih payahnya bukanlah suatu hal yang buruk sama sekali. Koleganya kini menggunung—kalau bisa dikatakan demikian—dan lebih dari satu universitas terbaik di negerinya menawarkan berbagai macam tawaran beasiswa padanya. Sudah sepantasnya ia berbangga hati.

Sejenak ia teringat seniornya. Suoh Mikoto. Jika Suoh melihatnya kini, apa yang akan pemuda itu katakan?

Menyelinap keluar dari keramaian para wisudawan SMA-nya, Reishi melangkah memasuki lobi gedung sekolah. Matanya sendu mengamati setiap jengkal sekelilingnya, memorinya memanggil kembali kenangan yang dirajut selama tiga tahun lamanya, yang tiga puluh persennya ternyata memang ia habiskan bersama keributan yang diciptakan oleh ketiga biang kerok paling terkenal di sekolahnya. Reishi mengulas senyum tipis, menikmati setiap guyuran rasa dalam benaknya.

"Hei…! Munakata-kun, si mantan Ketua OSIS…! Melamun saja di sini dan tidak ikut siram-siraman di halaman depan?"

Terlonjak, Reishi menoleh, untuk menemukan dua senyum lebar menyapanya.

"Miyazawa-kun, Inoue-kun… aku bersyukur aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku setelah serangan mendadak kalian ini."

Inoue Hirumi, pemuda tanggung berambut klimis dengan kacamata tebal, sekaligus mantan bendaharanya yang pernah terlibat kasus pencurian uang kas OSIS, meninju pelan bahunya. "Jangan terlalu kaku, Munakata. Ini hari terakhir kami berdua akan bertemu denganmu, dan kau sama sekali tidak terlihat sedih akan kehilangan kami."

Satu kejutan lagi. Kedua bola mata Reishi membulat. "Kalian… tidak akan melanjutkan ke universitas di kota ini?"

Giliran Miyazawa Kaho yang menjawab pertanyaannya. "Hirumi-kun akan melanjutkan studinya di bidang kedokteran di ibu kota. Sedangkan aku akan kembali ke kotaku. Adikku sakit-sakitan selama ia berada di kota ini, jadi aku akan membawanya pulang ke kota asal kami. Dan mungkin… aku akan fokus merawat adikku dulu hingga ia pulih, baru setelahnya aku melanjutkan kuliahku."

Reishi menganggukkan kepalanya. Ah, pantas saja ia begitu jarang bertemu dengan dua orang tangan kanannya semenjak hari terakhir ujian kelulusan. Keduanya ternyata sibuk mempersiapkan kepindahan mereka. Dan artinya di persimpangan jalan kini, Reishi akan berpisah jalan dengan segelintir dari orang-orang yang mendapat kepercayaannya, orang-orang yang sudah bukan sekedar 'kenalan' baginya. Meski Reishi tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Pertemuan berarti perpisahan. Mungkin suatu saat nanti ia pun akan menemukan mereka yang berfungsi sama seperti Inoue Hirumi dan Miyazawa Kaho dalam formulasi dunia idealnya.

Pandangannya kemudian beralih pada pintu sebuah loker yang menganga di antara loker lainnya yang tertutup rapi. Dan Reishi tidak salah lihat, itu adalah loker yang semula miliknya, bahkan nama 'Munakata Reishi' belum digantikan dengan nama adik kelas yang akan menjadi pemilik loker itu untuk setahun ke depan. Penasaran, Reishi melangkah menuju loker tersebut, memastikan apakah ia memang kelupaan menutup lokernya atau….

… setangkai bunga sakura jatuh dari dalam lokernya. Dan tidak ada benda lain lagi di sana. Reishi terpaku. Bunga sakura di lokernya itu seolah menjadi penanda sekaligus sebuah undangan yang hanya dimengerti dirinya sendiri.

"Munakata-kun? Apa itu…?"

"Maaf, Inoue-kun dan Miyazawa-kun…! Ada yang harus kuselesaikan. Sampai nanti…!"

Dan dalam langkah tergesa-gesa, disertai gedoran menggebu dalam dadanya, Reishi berlari. Menuju bukit belakang sekolah, menuju pohon sakura di mana ingatannya melayang pada saat pertama kalinya ia berhasil berbincang normal tanpa perkelahian atau tatapan sengit dengan seorang Suoh Mikoto.


...


Mikoto yakin, pemuda itu pasti datang. Hanya dengan patahan dahan pohon sakura yang ia letakkan diam-diam selagi prosesi kelulusan berlangsung, dan Munakata Reishi pasti tahu maksudnya.

Ia lantas menengadah. Menatap nanar Pedang Damocles berwarna merah yang menggantung di atas kepalanya. Perlambang kekuatannya. Kekuasaan baru yang kini digenggam telapaknya. Dirinya sebagai Raja Merah, raja ketiga dari tujuh raja yang menguasai Kota Shizume. Sesuatu yang tidak pernah dimintanya, dan Damocles memilihnya begitu saja. Sementara hal inilah yang akan ia perlihatkan pada pemuda itu.

Gila? Memang. Namun saat itu, Mikoto merasa tidak memiliki pilihan lain lagi.

Telinganya kemudian menangkap satu derap langkah tergesa-gesa dari kejauhan. Lambat-laun mendekat. Mikoto tidak bisa menyembunyikan lengkung sendu di bibirnya.

"Suoh—"

Tanpa perlu melanjutkan kalimatnya, Mikoto tahu apa yang tengah berlarian dalam kepala Reishi. Sosok dirinya yang berdiri di bawah pohon sakura, disertai balutan bola aura berwarna merah menyala dan menari-nari di sekelilingnya. Dan yang pasti menjadi objek paling menyita perhatian bagi pemuda itu adalah pedang raksasa di atas kepalanya. Mikoto hanya bisa bertaruh bahwa Reishi sudah mengetahui sebelumnya mengenai keberadaan Pedang Damocles dan Pelat Dresden yang sebetulnya telah menghantui Kota Shizume sejak bertahun-tahun lamanya.

"Suoh, kau…."

Dan tatapan sarat makna yang balas menatapnya. Didominasi ego yang tidak ingin mempercayai apa yang ditangkap sepasang manik ungu tersebut. Dan lagi-lagi, Reishi akan memancarkan raut wajah itu. Raut wajah yang terluka. Sebuah ekspresi dari Munakata Reishi yang paling tidak bisa Mikoto hapus dari ingatannya.

"Maaf, Munakata. Kau harus melihatku berakhir seperti ini."

Bibirnya gemetar saat ia mengucapkan kalimatnya. Seketika terbayang dalam kepalanya, takdir yang akan menjemputnya sebagai mereka yang memiliki gelar sebagai Raja Merah. Dijanjikan kekuatan menggiurkan yang punya efek samping fatal apabila dipergunakan tidak layak. Dari reaksi Reishi, sepertinya pemuda itu juga tahu seluk-beluk mengenai para raja. Antara lega atau semakin terbebani. Mikoto tidak tahu yang mana yang tengah ia rasakan kini.

Pemuda di hadapannya itu menunduk, kentara mati-matian menyembunyikan segala warna di wajah. Hanya satu bisik lirih yang kemudian ditangkap Mikoto.

"… sejak kapan?"

Mikoto menghela napas. "Enam bulan yang lalu."

Pemuda itu mendongak, dan sepasang manik ungu yang lantas mencari jawaban di balik sepasang amber miliknya. Sesuatu dalam dadanya yang kemudian meraung perih. Enam bulan, bukan waktu yang sebentar. Mikoto ragu apakah ini memang keputusan yang tepat untuk memberitahu Reishi mengenai kondisinya atau tidak.

Pertanyaannya adalah, mengapa ia masih saja nekat untuk melibatkan pemuda itu dalam hidupnya?

Pemuda itu kemudian bertanya lagi padanya, "Kenapa baru memberitahuku sekarang?"

"Awalnya aku bahkan tidak ingin melibatkanmu dalam hal ini, Munakata."

"Tapi kenapa—"

Ya, tidak ingin melibatkan. Itulah argumen pertama yang muncul di otak Mikoto di saat pertama ia menerima kekuatan tersebut. Bahkan sejujurnya ia juga tidak ingin mengotori tangan Izumo dan Totsuka dalam permainan para raja. Cukup ia sendiri yang memikulnya. Cukup dirinya saja yang menanggungnya. Namun argumen itu seketika mengingatkannya akan sosok seorang pemuda yang pernah bersinggungan jalan dengannya, yang tengah kebingungan mencari jalan ketika pemuda itu terlanjur menanggung segala macam beban lingkungan seorang diri. Dan dengan keberadaan pemuda itu… seorang Munakata Reishi pastinya tidak akan pernah membiarkan jalurnya sebagai seorang Raja Merah yang penuh resiko itu dijalaninya dengan serampangan.

Mikoto tahu bahwa Reishi, tidak peduli memperoleh informasi dari mana pun, cepat atau lambat akan dengan sukarela melibatkan diri dalam permainan tersebut.

Meski yang tidak Mikoto ketahui dan perhitungkan sebelumnya adalah… bagaimana cara Reishi untuk terlibat dalam urusan para raja.

"Kalau begitu, aku akan menjadi Raja Biru, dan akulah akan menjadi orang yang bisa mengawasi setiap sepak terjang langkahmu, Suoh Mikoto."

Satu detik yang seolah ratusan tahun lamanya. Mikoto mengerjap. Pemuda di hadapannya itu sudah gila. Sama gilanya seperti dirinya. Mempertaruhkan diri menjadi raja lain hanya demi dirinya? Oh, mungkin Munakata Reishi sudah mengenal jelas istilah, 'Raja hanya bisa dibunuh oleh raja lainnya'.

Mikoto terkekeh. Tidak ada lagi getir mampir di wajahnya. Yang ada hanya sebuah senyum, begitu tulus. Kedamaian yang sempat hilang disapu jeratan tali takdir kini datang menghampirinya. Mengetuk jiwanya. Damai yang sama seperti satu tahun lalu, saat Reishi mengantarnya hingga persimpangan jalan hidup yang sempat memisahkan keduanya. Kini ia akan berjalan pada jalur di mana ia akan selalu melihat sosok Reishi. Mengejarnya. Menjadi pengontrolnya. Menjadi obat bagi ketidakwarasan pikirannya.

Sementara wajah lonjong di hadapannya itu menggoreskan warna merah jambu yang manis di tulang pipinya. Mikoto semakin ingin tertawa keras.

"Mohon bantuannya kalau begitu, Munakata Reishi."


...


.

.

.

Author's note: MAAF TELAT...! Night Antares mendadak kena musibah, pas banget mau update chapter ini... dan jadinya telat 1 jam padahal di GMT+7 udah tanggal 24 *sobs*. Tapi ya udahlah ya, yang penting engga telat parah banget, hehehee... Yap, hari ini temanya tentang motifs, sekali lagi mohon maaf kalau ternyata hasilnya engga memuaskan dan engga sesuai tema. Kali ini Night Antares fokus sama motif di balik Reishi yang jadi Raja Biru (tentunya berkaitan dengan Mikoto, huhuhuuuu). Dan sedikit berbeda dari seri Kings, beberapa bagiannya ada yang dibalik sudut pandang (yang semula dari PoV Reishi, sekarang jadi PoV-nya Mikoto), semoga engga bikin pembaca Kings bosan sama beberapa adegan di fanfiksi ini. Tak lupa terima kasih banyak untuk pada pembaca, dan special thank you untuk Akai yang sudah me-review chapter 1 (hahaha, engga kebayang waktu SMP-nya Mikoto gimana, apalagi tanpa adanya "lawan tanding" yang macem Reishi, heheheee). Okay, sampai bertemu di chapter berikutnya dan tetap ditunggu komentar dan kripiknya~! (^^)v