Hate to Love

By: vAither

The Characters in this fanfic (except Mai and Kuro) is belong to Riichiro Inagaki and Yuusuke Murata-sensei

Chapter 2

▓COLD WAR▓

Setelah kejadian dalam mobil itu, Mai menjauhi Yamato dengan sangat kentara. Ia tak pernah menyapa Yamato, apalagi berbicara padanya. Sikapnya itu bagaikan ia tidak menganggap adanya eksistensi seorang Yamato Takeru dalam rumah. Sementara Mamori memilih berada di pihak netral juga mengabaikan perang dingin antar Mai dan Yamato. Terlebih karena ia sedang hamil dan tidak boleh banyak pikiran, dan juga dengan adanya perang dingin mereka tidak pernah lagi bertengkar.

Mamori bersyukur akan hal tersebut. Jadi ia tidak perlu lagi pusing memikirkan harus berpihak pada siapa.

"Tadaima!" Suara riang khas Mai sontak saja membuat Mamori langsung berlarian kecil menuju pintu masuk, menghampiri Anezaki Mai yang sedang membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Sebuah kertas besar berwarna coklat berada di sampingnya.

"Kau membelinya 'kan?" Mamori menengadahkan kedua tangannya. "Berikan padaku!"

Kata tidak yang keluar dari mulut Mai langsung membuat wajah Mamori tertekuk. "Mamori-nee lebih mementingkannya daripada kepulanganku?" rajuk Mai dan membuat ekspresi yang sama seperti Mamori.

Raut wajah Mamori berubah cerah. "Okaerinasai, Mai-chan~~" Ia menerjang Mai dengan pelukan erat.

Mai tak bisa berbuat apa-apa selain terkikik. "Ini," Tangannya menyodorkan tiga buah benda berbentuk persegi panjang yang dilapisi oleh kertas berwarna keperakan. Mamoripun menerimanya dengan mata biru miliknya yang berbinar penuh kebahagiaan.

"Arigatou, Mai-chan!" Pelukan hangat diberikan Mamori lagi kepada Mai sebagai ucapan terimakasih.

Mai masuk ke dalam rumah diikuti Mamori yang asyik membuka kertas keperakan itu. "Ne... Sejak kapan Mamori-nee menyukai dark chocolate?"

"Baru beberapa minggu ini..." ujarnya sembari menggigit kepingan coklat itu. "Mungkin ini maunya," Mamori mengelus perutnya yang mulai membuncit. Di usia kehamilannya yang menginjak 19 minggu, Mamori sangat ketagihan dengan yang namanya dark chocolate padahal seumur-umur ia tidak mentolerir rasa pahit pada mulutnya.

"Kukira Mamori-nee akan memilih creampuff atau makanan manis lainnya," ujar Mai sebelum membanting dirinya ke sofa panjang. "Kau bahkan tidak sama sekali menyentuh makanan manis akhir-akhir ini."

"Jangan tanya padaku, tanya pada dirinya..." Mamori menunjuk perutnya.

Mai lalu menghampiri Mamori dan mengelus perutnya lembut, "Aka-chan... Kau memiliki selera yang sama seperti ayahmu 'ya?" Mai menempelkan indra pendengarannya pada perut Mamori.

Ujaran Mai tidak lekas membuat Mamori marah. Ia malah berpikir bahwa ucapan Mai itu ada benarnya. Sedikit atau mungkin banyak anak ini pasti akan memiliki sifat dan fisik milik ayahnya. Sebelum terlahir saja anak ini sudah memiliki kesamaan dengan ayahnya. Ia tak akan menyangkal hal itu.

Mai menegapkan tubuhnya. "Biar aku yang membuat makan malam," pintanya.

"Tumben ada apa?"

"Tidak ada apa-apa... Mamori-nee istirahat saja."

Dalam sekejap Mai sudah berlalu meninggalkan Mamori seorang diri di ruang tengah. Entah karena khawatir atau alasan apa, Mamori membuntuti Mai ke dapur lalu duduk di meja makan yang berada dalam dapur dan langsung berhadapan pada konter tempat memasak.

"Aku tidak akan membubuhi racun pada makananmu, Mamori-nee."

Mamori menelan cokelat yang ada di mulutnya lalu berucap, "Ya, kau memang tidak mungkin melakukan hal itu padaku. Tapi Yamato."

Tawa Mai pecah, "Hal itu perlu dipertimbangkan," Mamori bergidik ngeri mendengar penuturan adik sepupunya. "Jika menaruh racun tidak termasuk tindakan melanggar hukum, aku akan melakukannya dari lama," lanjutnya.

"Jangan coba-coba."

"Tidak akan..." Mai masih tertawa.

Mai menaruh kertas coklat berisi belanjaannya ke atas meja sebelum mengeluarkan seluruh isinya. "Hari ini aku akan memasak makanan yang enak!" Ia mengenakan apron putih bergambar maskot rocket bear milik Mamori.

"Apa yang akan kau masak?" Mamori tentunya penasaran karena bertanya demikian.

Mai hanya nyengir tanpa arti dan itu cukup membuat Mamori memberenggut kesal. Bunyi ketukan pisau dan talenan segera muncul beberapa saat kemudian. Mamori sekarang telah meninggalkan dapur dan memilih untuk membaringkan tubuhnya di sofa dan menghabiskan cokelatnya.

"Tak lama lagi kau akan berubah menjadi babi, Mamori-san..."

"MOU!" tanpa menoleh Mamori sudah mengetahui siapa seseorang yang amat sangat sengaja mengatakan sindiran tersebut. Orang itu, "Yamato-kun!"

"Satu coklat satu hari, Mamori-san!" Dengan gesit khas atlet Amefuto, Yamato dapat dengan mudah merebut dua batang coklat yang belum dibuka dari genggaman Mamori. "Makanlah buah," Yamato menyarankan.

"Ini 'kan dark chocolate! Pahit! Tidak manis..." kata Mamori, bibirnya tertekuk.

"Tetap tidak baik jika dikonsumsi berlebihan. Dan lagi siapa yang membelikanmu ini?"

"Mai-chan..." Mamori menggembungkan pipinya selagi berucap, "Kau menyeramkan, Yamato-kun. Tiba-tiba muncul..." Ia memberi jeda sebelum melanjutkan, "Kau seperti hantu."

Yamato terkekeh akibat ucapan gadis berambut auburn itu, "Mana ada hantu yang tampan sepertiku? Cokelatnya kusita, Mamori-san."

"Mouuuu~~"

Yamato masuk ke dapur untuk menaruh dua keping cokelat ke dalam kulkas. "Apa yang kau masak?" tanya Yamato. Ia membuka pintu kulkas tanpa menoleh ke arah Mai yang sibuk menumis. Yamato selalu memulai pembicaraan di antara mereka. Ini sudah menjadi kebiasaan Yamato. Mai juga sudah terbiasa berpura-pura tuli dan bisu jika Yamato berbicara. Walau merasa diabaikan, Yamato tak lantas pergi dari dapur. Ia tetap disana. Menatapnya. Memandanginya.

Mamori menatap miris kedua orang terdekatnya dari balik pintu dapur. Ia tahu benar perubahan sikap Yamato pada Mai.

▓COLD WAR▓

"Meski Mai-chan kelihatan seperti anak kecil yang manja dan egois, namun ia bisa berpikir jauh lebih dewasa dibandingkanku."

Mamori-san seringkali membicarakan Mai jika sedang berdua denganku. Akupun tidak keberatan dan menjadi pendengar yang baik. Namun perkataannya mengenai sikap Mai yang dewasa itu membuatku ragu.

Di mataku, sosok Anezaki Mai itu hanyalah seorang bocah yang bermuka dua yang egois.

Aku jarang mengobrol dengannya jadi aku tidak tahu pasti, seperti apa sebenarnya sosok seorang Anezaki Mai.

Ah, nampaknya aku melupakan suatu fakta penting mengenai Anezaki Mai.

Fakta yang selalu berdengung di benakku.

Fakta bahwa dirinya, seorang Anezaki Mai membenci Yamato Takeru.

Tak usah ditanya mengapa ia membenciku. Itu pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab.

Terlalu klise.

Aku terlalu terbuai dengan pemikiranku mengenai si bocah itu hingga akhirnya seketika suara dengingan keras memenuhi telingaku. Seseorang baru saja melemparkan bola amefuto tepat ke kepalaku yang tidak terlindungi oleh helm. "Itu sakit." Aku mengelus bagian kepalaku yang terasa berkedut.

Pria berkulit putih serta berbadan besar menghampiriku. Tyler Jerhardt. Dia atlet American Football keturunan Amerika-Jerman, kami berada di bawah naungan tim yang sama. Dengan kata lain dia rekan satu timku.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Ia mendudukan tubuhnya yang hanya terbalut celana jins di sebelahku yang juga demikian. Benar! Mengapa aku terlalu masuk dalam pemikiranku hanya untuk memikirkan orang yang tidak penting. Aku hampir kena gegar otak ringan karenanya.

"Ponselmu sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu."

Apa?

Aku merogoh kantung celanaku. Dan benar saja aku telah melewatkan 6 panggilan masuk dari Mai.

Tunggu dulu...

Panggilan masuk dari Mai? Ini pasti hanya halusinasiku. Aku terlalu memikirkannya tadi. Dan lagi, tidak mungkin 'kan seorang Anezaki Mai meneleponku?

SRET!

Ponselku telah berpindah tangan. Tyler merebutnya dari genggamanku. "Pacarmu?" tanyanya yang hampir bersamaan dengan bunyi dering ponselku. "Dia kembali menelpon, jawab," titahnya.

Lagi-lagi nama Anezaki Mai masihlah terpampang di layar ponsel pintarku.

"Moshi-moshi," sapaku.

Ada dua kemungkinan penyebab mengapa ia menelponku saat ini.

Pertama.

Ia mabuk dan meneleponku untuk dimaki-maki. Mengapa aku bisa berpikir demikian? Karena Mai tidak akan meneleponku jika tidak berada dibawah pengaruh alkohol. Tetapi, hanya ada sedikit peluang hal ini bisa terjadi, karena sang raja siang masih kuat bergantung di atas langit. Lagipula hanya sekali itu saja Mai mabuk-mabukan, setelahnya ia tidak pernah lagi melakukannya.

"Yamato-san," jawab suara dari seberang telepon.

Sewaktu ia mendengar suara tegas dari Mai jelas membuktikan kemungkinan pertama harus segera tersingkir dari daftar. Yang kedua adalah skenario terburuk dalam otak Yamato.

"Rumah sakit T, sekarang!"

Kemungkinan kedua adalah...

"Mamori-nee mengalami kontraksi. Ia akan segera melahirkan."

▓COLD WAR▓

"Mamori-san!" Yamato mendobrak pintu ruang rawat. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya. Ia langsung menduduki kursi di sebelah ranjang Mamori.

"Kau bisa mengganggu pasien lain, Yamato-kun..."

"Maaf aku tidak bermaksud..." Yamato menundukkan wajahnya yang dibanjiri oleh keringat dingin. "Jadi bagaimana keadaanmu?" tanyanya kembali

"Tentu sakit, Yamato-kun..." Mamori berusaha duduk bersandar di kepala ranjang namun usahanya itu dihalangi oleh Yamato. "Istirahatlah," Yamato berkata.

"Kukira kau akan langsung melahirkan..." Manik hitam memandang Mamori yang tersenyum menatapnya balik. "Aku bahkan berlarian di sepanjang koridor rumah sakit dan diomeli oleh para perawat."

"Benarkah?"

Tangan besar Yamato menggenggam erat tangan Mamori. "Aku panik. Mau bagaimana lagi?" Sebenarnya tanpa perlu berkata seperti itu, Mamori sudah mengetahuinya. Semua perasaan milik Yamato dapat terpancar jelas dari raut wajahnya.

Ketika itu sebuah pertanyaan muncul di kepala Mamori.

Bagaimana jika orang yang sedang menungguinya saat ini adalah Hiruma Youichi?

Dan entah bagaimana pertanyaan-pertanyaan lain mulai bermunculan di benaknya.

Apakah Hiruma Youichi akan tetap menampakkan poker face miliknya?

Apakah seorang Hiruma Youichi akan menunjukkan raut wajahnya yang sejujurnya pada saat ini? Pada saat dirinya akan mempertaruhkan nyawa demi melahirkan buah hati mereka.

Apa yang akan dilakukan Hiruma Youichi?

"Mamori-san?" suara milik Yamato langsung membuyarkan lamunannya. Genggaman tangan Yamato terasa mengerat di tangannya, kepanikkan Yamato juga semakin terlihat. "Kau tidak apa-apa?"

Seketika itu juga, Mamori sadar. Aliran airmata mulai turun dari pelupuk matanya dan turun dengan deras tanpa bisa berhenti. Jelas saja Yamato semakin panik melihatnya.

"Sakit... Sakit, Yamato-kun," hanya itu yang Mamori katakan sebelum ia melepaskan tangannya yang ada di genggaman Yamato dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Sakit sekali," ulangnya terus menerus.

Sakit...

Itulah yang dia rasakan. Namun yang membuatnya menangis sesengukkan bukan hanya disebabkan oleh rasa sakit dari perutnya. Tapi juga dadanya yang terasa amat nyeri.

"Apa kontraksinya?" Rasa panik Yamato bercampur dengan rasa takut. Ia tahu, sebentar lagi Mamori akan menjalani proses yang akan membahayakan hidupnya.

"Sakit, Yamato-kun..." Mamori berkata dengan suara parau karena tangisannya. Ia menarik lengan jaket Yamato dengan erat demi melampiaskan rasa sakit yang dirasakannya.

"Akan kupanggilkan—," kata-kata yang diucapkan Yamato terpotong begitu ia melihat Mamori memencet bel yang ada di sebelah bantal miliknya. Tak selang berapa lama beberapa perawat datang dan membawa Mamori ke ruang persalinan dengan terburu-buru.

"Ganbatte, Mamori-san," kata Yamato yang ikut berlarian mengantar Mamori ke ruang persalinan hingga sosok Mamori menghilang di balik ruangan itu.

Dalam beberapa saat, Yamato hanya terdiam di depan pintu ruangan itu sebelum dirinya berbalik dan...

"Kau mengagetkanku!"

...menemukan seorang Anezaki Mai yang berdiri di belakangnya. Kepalanya tertunduk sehingga wajahnya tertutupi oleh rambut hitamnya, sementara tangannya memegang tas berisi perlengkapan yang akan dibutuhkan Mamori selama di rumah sakit.

"Kemana saja kau?" Yamato menduduki kursi tunggu yang ada di depan ruangan diikuti oleh Mai yang berjongkok memeluk lututnya di sebelah pria berambut ikal itu.

"Aku di depan kamar rawat Mamori-nee sedari tadi..." ucap Mai dengan suara yang teredam.

Indra pendengaran mereka dapat menangkap suara rintihan kesakitan Mamori dan juga suara milik dokter yang membantu proses bersalin tengah memberi instruksi. Mai makin memendamkan kepalanya dalam-dalam untuk mengusir suara itu dari telinganya.

Sementara itu, perhatian Yamato teralihkan sepenuhnya pada Anezaki Mai. "Kau sudah tidak marah padaku?" ia bertanya demikian karena Mai yang mulai berbicara padanya setelah mendiaminya selama sembilan bulan.

"Bodoh! Aku benci kau. Kebencianku tidak akan hilang sampai aku mati." Kata Mai yang masih enggan mengangkat wajahnya.

Yamato tertawa mendengar suara ketus Mai. "Lalu mengapa kau sudi berbicara denganku sekarang?" Ia bangkit dan duduk di lantai tepat di sebelah Mai. Ia jelas menginginkan jawaban Mai. Ia tidak bisa menyembunyikan keingintahuannya yang begitu kentara.

"Mamori-nee..." sahut Mai cepat. Ia terdiam, kemudian meralat, "Ie... karena aku membutuhkan bantuanmu."

"Untuk menemani Mamori-san?" tebakan Yamato nampaknya benar karena ia dapat melihat Mai menganggukan kepalanya. Ia menyunggingkan senyum lebarnya, sangat senang mendengar bahwa Mai membutuhkan bantuannya

Interaksi mereka terhenti ketika suara Mamori makin terdengar oleh mereka. "Kuharap Mamori-san baik-baik saja..." Yamato memandang kembali pintu ruang bersalin.

Mai mendongakkan kepalanya dan menatap Yamato. "Kau meremehkan Mamori-nee?"

Kepala Yamato berputar ke arah Mai "Aku tidak meremehkan—"

Dengan cepat Mai kembali menyembunyikan kepalanya. "Mamori-nee itu kuat! Dia pasti baik-baik saja!" ujarnya terus-menerus.

▓COLD WAR▓

Walau sebentar, tapi aku yakin melihat jejak airmata membasahi pipi Mai. Gadis itu nampaknya berpura-pura tegar, tapi nyatanya ia lebih panik dan lebih takut dibanding aku. Dasar! Ia bahkan masih memakai sandal kelincinya. Ia pasti begitu terburu-buru saat mengantar Mamori-san ke rumah sakit hingga lupa mengganti sandalnya.

Mengapa Mamori-san bilang gadis bermuka dua ini jauh lebih dewasa darinya?

"Kenapa kau menangis? Kau bilang Mamori-san pasti baik-baik saja 'kan?" ledekku.

Aku bisa melihat bahunya yang bergetar kencang. "Aku mengatakan hal itu untuk meyakinkan diriku sendiri. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi."

Aku mendengus. "Sekarang kau yang terlihat meremehkan Mamori-san." Aku terdiam menatapnya yang tengah mengangkat kepalanya. "Kau takut 'kan?"

"Ya, aku takut, hal itu tidak bisa kupungkiri."

Sahutannya membuatku tertawa dalam hati. Aku merasa menang dalam perdebatan ini. "Bodoh! Kau benar-benar bocah yang 'sok. Kau juga bisa-bisanya meneleponku dengan datar dalam keadaan genting seperti ini."

Ia menoleh dan menunjukkan seringainya, "Walau aku berkata tenang, kau tetap panik 'kan? Apalagi jika aku mengatakannya dengan panik, kau bisa-bisa terlibat kecelakaan lalu lintas akibat terlalu panik."

Kata-katanya ini ada benarnya juga.

Sialan bocah ini.

Aku mengangkat kedua tanganku mengakui kekalahanku padanya. "Kau menang."

"Arigatou, Yamato-san."

"Untuk apa?"

Dan dia memilih mengabaikanku. Menyebalkan. Ide untuk menjahilinya yang keluar begitu saja dari otakku membuatku tersenyum.

"Bagaimana hubunganmu dan Tino?" Aku mengalihkan pembicaraan.

Mai mengelap wajahnya dengan lengan hoodienya. Ia melirikku sekilas sebelum membuang wajahnya. "Jangan suka mencampuri urusan orang lain."

"Jadi Tino sudah punya pacar?" ujarku penuh canda dan dibalasnuya dengan tatapan tidak percaya. Rasanya tebakanku benar lagi. "Benar 'kan?" Kurasakan cubitan keras di pahaku. "Hey!"

"Tidak lucu, Yamato-san!" ia berdiri dan melemparkan tas milik Mamori-san padaku. "Aku benci kau!" tambahnya dengan menggembungkan pipinya.

Aku tak dapat menahan senyum melihat gadis ini, "Hati-hati dengan perkataanmu nona," ujarku. "Kebencian dapat berbuah cinta, kau tau?" mungkin dia tidak tahu, tapi aku tidak bercanda mengatakan hal ini.

Aku berdiri dan menyamakan tubuhku dengannya. "Kurasa itu terjadi padaku."

▓COLD WAR▓

Chapter 2: End

Maaf review buat chapter 1 nanti saya balas di chapter 3 yah...

Maaf banget juga atas kesalahan di chapter 1