CHAPTER 1
White Day
15 maret : Dua hari setelah hari kelulusan
Sudah dua hari berlalu sejak hari perayaan kelulusan SMP Kunugigaoka dilaksanakan. Lingkungan sekolah terlihat lengang, karena hari ini libur antar semester dimulai. Akan tetapi, jauh dibelakang sekolah tersebut, di pedalaman gunung yang penuh dengan pohon yang tumbuh subur berwarna hijau, di sebuah bangunan sekolah tua yang disebut sebagai kelas 3E, tampak keramaian yang tidak biasa. Hari ini mantan Siswa kelas 3E Berkumpul kembali di bangunan tempat mereka menimba ilmu bersama almarhum guru mereka setahun terakhir ini, Koro Sensei. Dua hari yang lalu, akhirnya mereka berhasil meneyelesaikan misi berat yang diembankan pada mereka dari negara, yaitu membunuh makhluk super yang menjadi guru mereka di kelas ini.
Hari ini, seluruh siswa kelas 3E berkumpul kembali di gedung tua ini bukan tanpa sebab. Ada banyak sekali hal yang harus dibahas oleh mereka. Terutama, mengenai rencana pembelian lingkungkan kelas mereka, berserta seluruh kawasan gunung di sekitarnya, dengan uang hadiah dari pemerintah. Karasuma Sensei, sebagai perwakilan dari pemerintah berjanji akan datang ke kelas pada pukul 15.00, dan sambil menunggu beliau datang, anak-anak mengisi waktu dengan bekerja bakti, membersihkan seluruh lingkungan sekolah berserta hutan di sekelilingnya, yang selama ini dijadikan tempat untuk memburu koro sensei.
Tanpa perlu membagi tugas, anak-anak menyebar ke seluruh lingkungan kelas untuk membersihkan banyak hal. Benda yang paling banyak mengotori gunung tersebut adalah peluru bb anti sensei. Benda kecil ini tersebar di penjuru gunung, dan harus dibersihkan karena cukup menggangu keindahan gunung. Selain itu, anak-anak juga membersihkan ruangan dalam kelas, yang berisi banyak benda milik mereka, seperti senjata, jebakan-jebakan mereka, dan berbagai macam perlengkapan untuk membunuh koro sensei.
Nagisa dan Kayano tampak membersihkan ruang kelas mereka biasa belajar. Sementara Karma dan Okuda membersihkan ruang lab. Kelompok terasaka menuju ke kolam renang dan membersihkan lingkungan sekitarnya. Sementara anak-anak lain tampak menyebar ke barbagai penjuru gunung, terutama di tempat dimana mereka biasa memasang jebakan. Tampaknya, beberapa jebakan masih terpasang di tempatnya, termasuk jebakan mesum okajima tentunya. Sedangkan di gudang, tampak Hayami, Fuwa, dan Hara membereskan barang-barang yang cukup berserakan di gudang itu. Bekas kerusakan gedung saat Kayano mengamuk dulu, juga masih sedikit kelihatan. Mereka bertiga berencana membersihkannya juga.
Ketika ketiganya sedang membersihkan gudang itu, seorang anak laki-laki berponi panjang masuk ke gudang itu.
"Hayami san,.." kata pemuda itu dengan datar
Hayami pun menoleh, berserta kedua gadis lainnya.
"Chiba kun, ada apa? " Kata Hayami pada anak laki-laki yang berponi pajang itu
"Kalau gudang sudah bersih, ayo bersih kan "tempat biasanya"" kata chiba sambil menunjuk ke suatu arah
Tanpa dijelaskan, Hayami langsung mengerti.
"Oke, biar aku selesaikan dulu..." belum selesai Hayami berkata, Fuwa langsung memotong kata-katanya
"aaa.. Rinka chan, biar aku dan hara saja yang membereskan gudang ini! Sana bantu Chiba Kun!" kata Fuwa dengan senyuman menggoda dan sambil mendorong hayami ke arah chiba
"Iya Rinka, kami berdua sudah cukup kok untuk membereskan tempat ini!" Tambah Hara
Hayami tidak dapat menolaknya lagi. Dan dengan muka yang sedikit cemberut, ia menuruti kata kedua teman dekatnya itu.
"Oke, ayo kesana!" kata hayami pada rekan snipernya itu sambil mengambil sapu dan keranjang sampah di sudut gudang.
Keduanya pun menjauh dari gudang, masuk menuju hutan yang lebat dibelakang gudang. Fuwa dan Hara melihat sepasang sniper ini dengan wajah yang berseri-seri.
"Hmmm. Fanfic Ini bahkan lebih seru dari cerita cinta di manga sebelah!" Kata Fuwa seperti biasa sambil 'break the fourh wall'..
"Aku setuju dengan mu.. Yuzuki chan!" Kata hara dengan semangat dan mata yang bersinar-sinar.
Chiba dan Hayami menuju ke sebuah lokasi yang terletak di dekat puncak bukit. Tempat itu adalah sebuah arena latihan tembak yang dibuat oleh mereka berdua dibantu dengan karasuma sensei. Tempatnya berkontur cukup ekstrim, dengan berbagai macam pepohonan dan bebatuan besar yang dapat dijadikan sebagai tempat latihan menembak yang sangat bagus. Terdapat puluhan sasaran tembak menancap ditanah maupun bergelantungan di pohon, yang terbuat dari berbagai macam barang bekas seperti kaleng, potongan kayu, botol air mineral, boneka usang, dll. Dan semua sasaran itu dicat kuning menyala, dengan tambahan gambar wajah koro sensei.
"Hayami, kau bersihkan peluru yang berserakan di tanah ini duluan ya, aku mau mencopot semua sasaran tembak itu.." Kata chiba sambil menunjuk ke kumpulan sasaran tembak di depannya
"Oke.. kalau sudah selesai bantu aku memunguti peluru-peluru ini, Chiba" kata hayami sambil mulai memunguti butiran-butiran peluru berwarna pink yang banyak berserakan di sekitarnya.
Keduanya bekerja dengan cepat dengan tugasnya masing-masing tanpa berbicara sedikitpun. Seperti biasa kedua anak ini mengerjakan tugasnya secara 'profesional'. Tidak ada yang berubah dari keperibadian dua anak ini sejak dulu, selalu fokus dan gesit dalam melakukan pekerjaan mereka. Hayami memunguti peluru bb yang berserakan di tanah, dan memasukkanya ke dalam keranjang sampah yang ia bawa dari gudang tadi. Sedangkan chiba bergelantungan di pohon untuk melepaskan sasaran tembak yang dipasang di banyak tempat. Dulu ia sendiri yang memasangnya. Jadi dirinya masih ingat dimana saja letaknya, dan dapat mengejakan pekerjaanya dengan cepat.
Sekitar 30 menit berlalu, chiba turun dari pohon dengan membawa sekeranjang besar sasaran tembak yang sudah ia lepas dari tempatnya. Ia kemudian meletakkan keranjang tersebut di bawah sebuah pohon besar dan bergegas menghampiri hayami yang masih asyik memunguti peluru di dekatnya.
"Aku sudah selesai, biar kubantu memunguti peluru-peluru itu Hayami.." Kata chiba sambil mulai memunguti
"Aa, Kerja bagus Chiba.. Terimakasih!" kata Hayami sambil mengelap keringat yang mulai mengucur di dahinya
Keduanya pun kembali terlarut dalam kesunyian masing-masing. Dalam menjalankan tugasnya, dua anak ini memang selalu berteman dengan kesunyian. Selama ini mereka sudah cukup merasa nyaman dengan cara bekerja mereka ini. Butir demi butir peluru diambil, perlahan tapi pasti keranjang sampah yang mereka bawa penuh.
"Hayami, kamu bawa makan siang?" tanya Chiba secara tiba tiba sammbil berhenti bekerja
"Tentu saja.. kenapa ?" Hayami ikut berhenti memungut peluru-peluru itu
" Aku mau turun ke kelas sebentar, membuang semua peluru dan sasaran tembak dikeranjang ini. Kalau kau mau, biar kuambilkan makan siang mu.. kayaknya lebih praktis kalau kita makan siang disini. Toh pekerjaan kita masih banyak.. "
"Boleh saja.. terimakasih ya.. tasku kutaruh di belakang kelas. Kamu tahu kan tasku yang mana?"
"Tentu saja. Kalau begitu tunggu sebentar ya.. " chiba mengangkat keranjang penuh berisi peluru bb dan sasaran tembak itu dan meninggalkan Hayami yang kembali melanjutkan pekerjaanya.
Sambil menunggu Chiba, Hayami kembali membersihkan area di sekitarnya. Tampaknya, masih cukup banyak sampah yang berserakan di sekitar sana. Gadis bermata Hijau itu kali ini mengambil sapu dan serok yang ia bawa dari gudang tadi. Dan ia mulai perlahan menyapu. Namun, diantara sampah yang ia sapu itu terdapat sebuah potongan kardus yang bergambar sesuatu di belakangnya. Karena ia penasaran, dupungutlah benda itu.
Melihat tulisan di potongan kardus itu, tiba-tiba Hayami merasakan kesedihan yang mendalam. Dadanya terasa sesak, dan airmata mulai menetes di pipinya. Ternyata, potongan kardus itu bergambar gurita kecil, gambar yang biasa digambar oleh Koro Sensei sebagai identitas akan dirinya. Dan dibawah gambar tersebut terdapat tulisan
"Semangat! Untuk Chiba kun dan Hayami san"
Tampaknya tulisan ini dulu dibuat dan ditinggalkan oleh koro sensei saat mereka berdua sedang berlatih menembak di lokasi ini. Hanya saja, mungkin mereka berdua tidak menemukannya. Memang, sering sekali koro sensei mengawasi latihan menembak Chiba dan Hayami. Bahkan terkadang, koro sensei ikut membantu latihan mereka berdua dengan menjadi targetnya. Walaupun biasanya pada akhirnya keduannya tidak dapat sekalipun menembak tagret yang dibawa oleh koro sensei. Dan biasanya latihan itu berakhir dengan mereka bertiga yang tertawa terbahak-bahak karena ulah usil guru mereka tersebut.
Hayami mengingat momen-momen bahagia itu, dan hal ini membuatnya menjadi sedih. Ia kini harus menerima kenyataan bahwa gurunya yang sangat ia hormati itu kini telah pergi untuk selama-lamanya. Dan air mata yang mengalir di pipinya itulah bukti kesedihannya. Hayami menangis sambil memeluk potongan kardus tersebut.
"Hayami..?"
tiba-tiba terdengar suara berat dibelakang hayami. Suara yang sudah sangat ia kenal, yaitu suara rekannya, Chiba. Tidak terasa anak berponi panjang sudah selesai membuang sampah dan kembali lagi ke tempat latihan menembak itu dengan membawa bekal makanan milik mereka berdua, dan keranjang sampah yang sudah kosong.
"Hayami..? kenapa kamu menangis? " tanya Chiba dengan bingung
Walau hayami berusaha untuk mengelap airmatanya, namun percuma. Chiba pasti sudah tahu kalau dia menangis.
"Aku tidak apa-apa.." kata hayami sambil mengelap kedua matanya.
Melihat keadaan rekannya itu, Chiba berusaha untuk mengerti dengan tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Ayo istirahat dulu. Sambil makan siang.. nanti kalau kamu sudah baikan, kalau mau, kamu boleh cerita semuanya kepadaku.. " kata chiba sambil menyerahkan bento milik Hayami
Gadis itu pun menuruti ajakan rekannya. Dan mereka berdua duduk di bawah sebuah pohon besar untuk beristirahat sejenak. Jam menunjukkan pukul 12 siang. Jadi matahari berada tepat diatas kepala. Sangat tidak enak kalau harus melanjutkan pekerjaan di jam seperti ini.
Keduanya makan siang dengan lahap namun tetap hening. Sesekali hayami masih mengusap air matanya. Chiba memperhatikan rekannya itu dengan bingung, namun memilih utnuk membiarkan Hayami menyelesaikan makan siangnya.
Setelah beberapa lama, keduanya selesai memakan bekalnya. Chiba pun mulai bertanya kepada rekannya itu
"Kalau kamu mau, kamu bisa bercerita apa yang membuatmu sedih... "
Hayami hanya diam dan menyodorkan potongan kardus yang ia temukan tadi. Chiba pun melihatnya dengan seksama. Ia pun juga ikut terdiam untuk beberapa saat melihat tulisan dan corat-coret itu.
"Koro Sensei.. Beliau memang guru yang terbaik.. " Kata Chiba sambil tersenyum
Mendengar kata Chiba, hayami kembali menitikkan airmatanya. Ia masih berusaha menahan tangisnya
"Chiba.. kamu ingat kalau beliau menggangu latihan kita dulu? Dia biasanya bergelantungan diatas pohon itu.. " kata hayami sambil menunjuk pohon yang ada di depan mereka
"Tentu saja aku ingat. Bahkan dia pernah bercosplay menjadi diriku.. lengkap dengan poninya.. "
Keduanya mulai mengenang kembali apa yang pernah mereka lakukan di tempat ini dengan guru mereka tersebut. Senang, sedih, pernah mereka lalui di tempat ini. Mereka selalu bisa merasa nyaman di tempat ini.
"Hayami.. tidak apa-apa kok kalau kamu masih mau menangis. Aku mengerti kalau kamu masih sedih. Tapi berjanjilah, setelah ini kamu harus maju, melangkah ke depan, dan meneruskan perjuangan mu seperti yang diinginkan oleh koro sensei.." kata Chiba menyemangati Hayami.
"Chiba... " Hayami sudah tidak dapat menahan tangisnya lagi.
Chiba pun mendekati rekannya itu dan merangkulnya. Hayami tidak menolak, dan mulai menangis dengan tersedu-sedu. Sementara, Chiba yang merangkulnya pun, juga sedikit menitikan airmatanya. Hanya saja, poninya yang panjang itu menutupinya dengan rapat.
Dalam hati Chiba berkata "Koro sensei, maaf ya kami mau menangis sekali lagi.. tapi kami berjanji akan melangkah maju setelah ini.. ".
Chiba dan Hayami tetap bertahan dalam posisi itu selama beberapa lama.
Setelah Hayami mulai tenang, Chiba pun melepaskan rangkulannya. Gadis itu tampak sudah tidak begitu sedih lagi, tapi mukanya memerah. Bukan karena sedih, tapi karena malu. Baru pertama dirinya diangkul oleh Chiba. Namun, momen tadi cukup sempurna sehingga hayami secara tidak sadar tidak merasa malu atau risih bersentuhan dan sangat dekat dengan Chiba.
"Kau sudah baikan, hayami..? " tanya Chiba.
"iya. Terima kasih ya Chiba.. " kata Hayami sambil mengusap air matanya yang terakhir.
"Syukurlah kalau begitu... " kata Chiba sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Chiba mengeluarkan sebuah bungkusan kecil bersampul merah. Dan kemudian ia mendekati kepada rekannya itu.
"Hayami.. aku mau memberikan ini.. Semoga bisa sedikit mengurangi kesedihanmu.." Chiba menyodorkan benda itu dengan kedua tangannya.
"Chiba.. a.. apa ini? " tanya Hayami dengan sedikit gelagapan.
"Ini hadiah white day dariku. Maaf telat sehari... Dan.. terimakasih ya untuk cokelatnya saat valentine kemarin.. "
Dengan muka memerah Hayami menerima bingkisan itu. Ia mengamati bingkisan yang disampul rapi dengan warna kesukaanya itu.
"t... t.. terimakasih chiba.." kata Hayami dengan gugup.
"Sama-sama.. selamat White day.. oya, langsung saja dibuka kalau kamu mau.. "
"O.. oke.. " kata hayami yang dengan hati-hati mulai membuka bingkisan itu.
Isi bingkisan itu membuat hayami tersenyum dengan manis. Sebungkus cokelat putih dan sebuah gantungan kunci berbentuk kucing yang lucu tersusun rapi dalam bingkisan tersebut. Chiba baru-baru ini mengetahui kalau Hayami sangat suka dengan kucing.
"Maaf kalau bingkisan itu sederhana sekali. Aku membelinya dengan buru-buru.. Tahu sendiri kan bagaimana orang-orang pers itu memburu kita akhir-akhir ini..." kata Chiba sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"T.t..tidak masalah kok.. Aku, menyukainya.. Terimakasih ya.." kata hayami sambil mengamati gantungan kunci yang bentuknya cukup lucu itu.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya.." kata Chiba dengan lega.
Meskipun bingkisan tersebut cukup simpel, namun dalam hati hayami sangat senang. Bukan hanya karena ia dibelikan gantungan kunci kucing kesukaanya, namun juga karena chiba yang memberikannya. Hayami selama ini mengaggap Chiba sebagai salah satu orang terdekatnya, yang mengerti apa saja tentang dirinya.
"Oh iya, hampir saja aku lupa mengatakanya. Terimakasih ya atas bantuannya selama satu tahun ini.. Maaf bila aku banyak berbuat salah padamu.. " kata Chiba kembali membuka pembicaraan
"Oh.. tentu saja,, terimakasih kembali Chiba, justru kamulah yang banyak membantuku selama satu tahun ini.. dan, aku minta maaf juga kalau selama ini banyak berbuat kesalahan padamu.."
Keduanya pun tersenyum. Mereka bersyukur bisa menjadi bagian dalam kelas pembunuhan ini. Begitu banyak kenangan berharga, pembelajaran, serta pengalaman yang mereka dapatkan di sini. Semua kenangan manis itu tidak akan dilupakan oleh keduanya, maupun seluruh siswa di kelas pembunuhan ini.
"Umm.. Chiba.. Aku mau memberitahukan sesuatu padamu.." kata hayami tiba-tiba
"Ada apa Hayami? Katakan saja.." kata Chiba penasaran
"Sebenarnya, aku memutuskan mau mendaftar di SMA yang sama denganmu.. "
Kata-kata Hayami mungkin terdengar biasa bagi orang lain. Namun, mendengar kata-katanya tadi, Chiba sangat senang. Akhir-akhir ini chiba sering memikirkan bagaimana jadinya kalau dirinya harus berpisah dengan sahabat dan rekan baiknya itu. Dan mendengar hal itu tadi membuat Chiba tersenyum dengan sangat lebar.
"Sungguh? Syukurlah kalau begitu..." anak berponi itu tampak sangat bahagia
"T.t..tapi jangan salah sangka ya.. aku mendaftar disana bukan karena ingin satu sekolah denganmu.. Aku mendaftar disana karena SMA itu cukup bagus peringkatnya, dan lokasinya dekat dengan rumahku.. j..jadi.. j.j..jangan salah paham..!" kata Hayami dengan muka memerah, dan style tsunderenya
"Tentu saja.. Aku tidak berfikiran aneh-aneh kok.. namun jujur aku senang kalau bisa satu sekolah lagi dengan mu besok.." kata Chiba
"a..a.. yang membuatmu senang?" tanya hayami dengan muka yang makin memerah
"Siapa yang tidak senang bisa bersekolah ditempat yang sama dengan sahabat baiknya? Aku menantikannya.."
"...B..bb..baiklah.." wajah Hayami makin mirip seperti kulit tomat
Kemudian, keduanya mulai mengakhiri istirahat makan siangnya dan melanjutkan pekerjaan bersih-bersihnya. Setelah beberapa jam keduanya bekerja keras membersihkannya, Tempat berlatih menembak mereka kini telah kembali ke keadanya yang semula, dan tampak bersih. Tanah yang biasa diinjak-injak oleh mereka kini telah ditumbuhi rumput-rumput kecil yang hijau dan menyegarkan mata. Sasaran tembak yang bergelantungan di pohon telah diturunkan semua, dan Peluru bb yang berserakan di tanah telah diambil semua.
Chiba dan Hayami berdiri sejenak, memandangi area latihan tembak itu. Mereka berdua sadar, kalau kebersamaan mereka, dan segala aktifitas yang biasa dilakukan di tempat yang penuh kenangan ini tidak akan bisa lagi mereka ulangi di kemudian hari. Memori-memori yang indah di tempat itu sekilas kembali terbayang di kepala mereka. keduanya seakan tidak mau meninggalkan tempat yang mereka sukai itu.
Namun, keduanya telah berjanji untuk melangkah maju untuk menggapai cita-cita mereka. kenangan di tempat ini akan mereka gunakan sebagai motivasi untuk bisa berkembang di masa depan. Chiba kemudian menyatukan kedua telapak tanganya di depan dadanya, Hayami pun mengikutinya, mereka berdua mengirim doa kepada guru yang sangat mereka hormati, yang senantiasa menemani mereka berlatih menembak di tempat ini.
Chiba dan Hayami kembali ke ruang kelas setelah pekerjaan mereka selesai. Yang lainnya pun juga tampak sudah selesai dengan tugas mereka masing-masing. Semuanya kemudian duduk di bangku mereka masing-masing, sambil menunggu kedatangan karasuma sensei. Semuanya tampak lega setelah selesai membereskan area gunung yang akan mereka beli tersebut.
Pukul 15.00 tepat, Sesuai janji karasuma sensi datang bersama staff-staff kementrian jepang. Mereka membahas banyak hal, dan salah satunya yang paling penting adalah mengenai pembelian lingkungan gunung tempat kelas 3E ini berada. Pembelian tersebut diatasnamakan kelas 3E, menggunakan sebagian uang hadiah dari pemerintah yang berjumlah 3 milyar yen itu. Perundingan itu berjalan dengan lancar. Selain itu, datang juga perwakilan dari perusahaan yang membuat Ritsu, untuk mengambil Hardware Ritsu yang berbentuk Box kotak hitam itu. Namun, saat ini ritsu sudah tidak berada di dalam hardware itu, karena sudah memindahkan dirinya di jaringan internet, yang dapat bergerak bebas ke mana pun. Jadi, hari ini bukanlah perpisahan Distu Dengan anak-anak kelas 3E.
Dan terakhir, seluruh anak kelas 3e membuat jadwal kunjungan mereka ke bangunan kelas 3e ini,untuk merawatnya secara berkala, agar tempat yang penuh dengan kenangan indah ini bisa tetap terjaga, dan berguna bagi orang lain yang membutuhkan. Semua murid eks kelas 3E Setuju untuk datang ke sekolah minimal satu bulan sekali, untuk melakukan perawatan gedung dan bersih-bersih secara berkala.
Langit berangsur-angsur berubah warnanya dari orange menjadi biru. Setelah membahas banyak hal, akhirnya seluruh kegiatan anak-anak eks kelas 3E hari ini telah usai. Karasuma sensei dengan rombongannya telah pulang terlebih dahulu. Yang tersisa di bangunan sekolah itu hanya tinggal beberapa murid. Mereka tampak masih sibuk merapikan barang-barang pribadai yang akan mereka bawa pulang. Beberapa anak meminta kepada pemerintah agar dapat tetap menyimpan senjata-senjata seperti pisau, pistol, maupun senapan laras panjang yang mereka gunakan untuk memburu koro sensei dulu. Pemerintah pun menyetujuinya, dengan syarat tidak boleh digunakan untuk main-main. Dan beberapa anak memutuskan untuk menyimpan senjata mereka di bangunan sekolah itu. Walaupun ada juga yang membawanya pulang sebagai pajangan dan kenang-kenangan, seperti Chiba dan Hayami.
Setelah semuanya beres, anak-anak yang tersisa segera turun gunung karena hari sudah beranjak menjadi malam hari.
"Hayami, boleh aku pulang bersamamu?" pemilik rambut poni panjang itu berlari menghampiri hayami yang tampak sudah mulai melangkah untuk turun dari gunung itu.
"Oh, tentu saja Chiba.." Gadis bermata hijau itu menanggapi permintaan rekannya dengan senang hati.
Karena barang bawaan mereka banyak, mereka berdua berjalan dengan lambat. Nagisa, kayano, dan karma pun pamit pulang lebih dulu mendahului Duo Sniper ini.
Chiba dan Hayami berjalan berduaan menuruni bukit yang sangat mereka hafal itu. Keduanya adalah orang terakhir yang meninggalkan bagunan kelas mereka itu. Anak-anak yang lain sudah duluan, dan bahkan ada yang sudah sampai di dekat banguna sekolah utama. Namun duo sniper ini memilih untuk menikmati perjalanan pulang mereka berdua ditemani dengan kesunyian, dan suara jangkrik yang mulai muncul di sekitar mereka.
Malam ini cukup cerah. Bulan bersinar dengan sangat indah. Bintang bertaburan dilangit, menemani bulan yang diprediksi akan segera hancur menjadi kepingan kecil karena gravitasinya itu.
"Biar kubawakan barang bawaanmu.. Berat kan?" Kata Chiba mulai menyibak kesunyian diantara dirinya dan Hayami
"Tidak perlu.. aku bisa membawanya sendiri.." Hayami sebenarnya memang sedikit kerepotan. Karena ia juga membawa pulang senapan laras panjang kesayangannya, dan barang-barang miliknya yang biasanya ia tinggal di sekolah.
"Hmm.. kamu tampak kesusahan lho membawa barang sebanyak itu. Paling tidak, biarkan aku membawa senapan mu sini.." Kata Chiba menawarkan jasanya lagi
"Sudah.. tidak per.. Uwahhh!" Belum sempat hayami mengakhiri kalimat penolakannya, dirinya terpeleset sesuatu. Karena barang bawaanya cukup banyak, Hayami tidak dapat mengendalikan tubuhnya, dan akan jatuh. Namun, dengan sigap, partner menembaknya menangkapnya, dan mencegahnya jatuh. Tangan Kiri Chiba merangkul pundak Hayami, dan tangan Kanannya memegang tangan Hayami. Keduanya kembali diam beberapa saat.
"C..C..Chiba.. L..lepaskan tanganku.." Hayami mulai sadar kalau Chiba belum melepaskan tangannya. Pipinya kembali memerah seperti tomat.
"Ah.. Oh.. maaf.." Chiba yang juga baru sadar, melepaskan tangannya dan rangkulannya dengan muka yang mulai memerah.
Keduanya diam beberapa saat karena malu. Namun, kemudian Hayami menuruti tawaran rekannya itu.
"Hmm.. baiklah.. tolong bawakan senapanku ini ya.." Hayami dengan sedikit malu menyodorkan tas panjangnya yang berisi senjata kesayangannya itu kepada Chiba.
"Tentu saja.. sini biar kubawakan.." Chiba kemudian membawa tas itu di samping tasnya yang berisi snipernya.
"Terima.. kasih ya.. " Kata Hayami pelan
"Santai saja.."
Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan pulangnya, dan tidak terasa mereka sudah sampai di bawah, di dekat bangun sekolah utama. Malam ini suasana kota cukup ramai karena cuaca cerah. Duo Sniper itu berjalan dengan santai. Dan mereka pun kembali mengobrol lagi
"Hayami, kamu sudah siap dengan ujian masuknya?"
"Tentu saja sudah.. tapi aku masih tetap terus belajar.. kalau kamu?"
"Aku juga sudah memeprsiapkan semuanya.. Aku sudah siap.."
"Baguslah kalau begitu.."
"Oh ya Hayami, mau belajar bersama?"
"Hmm.. ide bagus.. Kapan? Dan dimana?"
"Lusa? Perpustakaan kota tampaknya cukup nyaman.."
"Hmm.. boleh saja.. mau mengajak siapa lagi?
"Kita berdua saja.. bagaimana?"
"B..berdua?..." Wajah Hayami kembali berubah warna.
"Iya, tidak apa-apa kan? Aku tidak berpikiran aneh-aneh lho.." Chiba seakan bisa memperediksi kata-kata hayami selanjutnya yang bersifat tsundere
"Huff.. baiklah.. lusa.. jam 10 pagi, langsung datang saja ke perpustakaan kota. Bagaimana?"
"Setuju.."
"Jangan salah paham ya.. ini bukan kencan!" Kata Hayami sambil memalingkan mukanya
"Iya iya.. Aku mengerti, 'tsundere Sniper'..."
"Huff.. Dasar 'Protagonis Game Eroge!" kata hayami sambil mempercepat langkahnya meninggalkan rekannya itu
"H.. Hey jangan ngambek dong Hayami.. Tunggu!" Chiba berlari kecil dengan sempoyongan karena barang bawaanya banyak sekali. Hayami melihat rekannya itu sambil tertawa kecil.
Sementara itu, sekitar 20 meter dibelakang Duo Sniper ini, ada tiga orang yang membuntuti mereka dengan hati-hati. Dua orang anak laki-laki berambut merah dan biru, dan seorang anak perempuan berambut hijau. Mereka bersembunyi di belakang rerumputan yang ada di pinggir gang.
"Karma... lebih baik kita mengakhiri penguntitan ini.." Kata Nagisa dengan muka cemberut.
"Heee... Ini lagi seru-serunya nagisa.. kenapa mesti berhenti?" Kata Karma sambil memotret Chiba dan Hayami yang berjalan berduaan itu dengan Handphonenya.
"Mereka berdua akrab sekali ya.. aku jadi iri.." Kata kayano dengan mata yang berseri-seri.
"Kayano, bukannya kamu juga dekat dengan Nagisa? Kenapa harus iri pada pasangan lain?" Karma tiba-tiba memeprlihatkan foto ciuman mereka berdua.
"HEEEEEEEEEE! K..kenapa kamu masih menyimpan foto ini, Karma!" Nagisa berteriak melihat foto memalukan itu
"H...HHH...HAPUS FOTO ITU!" Kayano tidak kalah berisik meneriaki Karma
"Ssssstttttttttttt! Kalau kalian berisik mereka bisa dengar!" karma berusaha menenangkan Nagisa dan Kayano yang malu itu.
Karma melihat ke arah Chiba dan Hayami lagi, tapi mereka berdua sudah tidak ada karena telah berbelok gang.
"Ah. Mereka menghilang. Ayo kejar lagi...!" Karma keluar dari tempat persembunyianya dan berlari ke arah Chiba dan Hayami terakhir terlihat tadi
"Karma.. kapan kamu mau menghilangkan kejahilan mu itu.." Keluh nagisa pada teman baiknya itu.
"Entahlah.. sepertinya keusilannya tidak akan hilang selamanya.." Keluh Kayano yang masih malu mengingat kejadian ciumannya dengan Nagisa itu.
Ketiga Anak itu benar-benar membuntuti Chiba dan Hayami semalaman ini, sampai keduanya berpisah pulang ke rumahnya masing-masing...
...
NEXT CHAPTER
CHAPTER 2 : Pengumuman
Terimakasih kepada para pembaca, Fanfic ini akan terus diupdate sampai tamat. Jangan bosan-bosan menunggu yak. Untuk jadwal update, tidak tentu. Bisa 1-3 hari sekali.
