Title : I'm Not a Liar

Desclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

Pair : XXX x Naruto, All Seme x Menma, Menma x All Uke, Menma x Girls, Itachi x Kurama, etc

Rate : T (M for Later)

Genre : Hurt & Family

WARNING! Yaoi, OOC, Typo, Bad!Menma (Bi Sex and playboy), Hurt!Naruto, Abuse, Mpreg, Death Chara.

So, Yang nggak suka boleh segera keluar dari dari cerita ini. Happy Reading.

.

.

.

Episode 2 : Naruto dan Iruka

.

.

.

5 tahun kemudian (Naruto dan Menma berumur 10 tahun dan Kurama 16 tahun)

.

.

.

"Salam kenal, Saya Iruka Amano. Mulai hari ini saya akan membantu mengajar anak – anak Namikaze-san." Ucap seorang pria muda sekitar umur 21 tahun memperkenalkan diri sambil membungkukkan tubuhnya di depan rumah keluarga Namikaze. Rambutnya yang berwarna hitam diikat satu dan memiliki tanda melintang di dekat mata dan hidungnya. Sepertinya bekas luka yang sudah lama sekali.

"Salam kenal, Boleh saya panggil Iruka-sensei saja? Mohon bantuannya untuk mendidik Menma dan Kurama ya." Ucap Minato dengan senyumnya yang menawan sambil membungkukkan tubuhnya. Iruka mengangguk menyetujui panggilan yang diberikan oleh Minato. Bagaimanapun ia merasa bangga telah di panggil dengan sebutan sensei.

"Ayo ucapkan 'mohon bantuannya' kepada Iruka-sensei Kurama, Menma" ucap Kushina yang berdiri di sebelah Minato sambil memegang kepala Kurama dan Menma.

Serentak Menma dan Kurama menundukkan kepala mereka, "Mohon bantuannya Iruka-sensei" dan memberikan salam bersamaan.

"Wah.. Anak – anak yang pintar ya." Iruka tersenyum.

"Hahaha.." Kushina sedikit tertawa. "Jangan terkecoh Iruka-sensei. Bagaimanapun mereka masih kecil. Mungkin mereka akan mengganggu anda." Ucap Kushina. Iruka hanya bisa ikut tertawa garing mendengar ucapan Kushina.

"Hahaha.. sebaiknya kita masuk dulu ke dalam Iruka-sensei." Ajak Minato dan mereka pun masuk kedalam kediaman Namikaze. Iruka di persilahkan untuk duduk di sofa ruang keluarga dan di sajikan minuman oleh pembantu yang bekerja di kediaman Namikaze. Menma dan Kurama segera masuk ke dalam rumah menuju kamar mereka masing – masing untuk mengambil buku pelajaran yang akan mereka pelajari hari ini. Sementara Kushina dan Minato menemani Iruka mengobrol.

"Maaf Namikaze-san, boleh saya pinjam toiletnya?" ucap Iruka sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Oh.. Silahkan Iruka-sensei. Anda hanya perlu belok ke kanan di sana. Nanti ada pintu bertuliskan toilet." Balas Minato mengarahkan Iruka.

"Terima kasih." Balas Iruka dengan tersenyum dan langsung melangkahkan kakinya menuju tempat yang ditunjukkan oleh Minato.

Saat Iruka berbelok ke kanan dan Minato serta Kushina tidak dapat lagi melihat sosok Iruka, Ia melihat sosok berambut kuning berumur sekitar 10 tahun. Iruka berpikir itu Menma, karena ia hanya melihatnya dari belakang. Iruka merasa bingung dengan keterdiaman sosok Menma tersebut. Tetapi karena ia ingin segera ke toilet, maka ia segera masuk ketoilet yang terletak di sebelah kiri nya.

Naruto, si bocah yang Iruka lihat tadi merasakan kehadiran Iruka. Ia segera membalikkan tubuhnya dan menunggu di depan toilet sambil memeluk boneka rubahnya. Mata nya yang begitu polos, menatap pintu toilet dengan rasa ingin tahu yang begitu besar.

'Pasti guru kak Kurama dan kak Menma yang baru. Aku harus memperkenalkan diriku juga.' Pikirnya dalam hati. Ia tersenyum manis tidak sabar menunggu Iruka untuk keluar. Tidak sampai 10 detik ia menunggu di depan pintu, sesosok kembarannya muncul di dekatnya.

"Apa yang kamu lakukan Naruto?" Panggil Menma tiba – tiba mengagetkan Naruto.

"Ehh?" Naruto terkejut akan kehadiran Menma secara tiba – tiba. Baru saja Menma keluar dari kamarnya sambil membawa tas berisi buku pelajaran dan alat tulisnya untuk menghampiri Iruka yang ia pikir masih ada di ruang keluarga.

Menma menatap tajam Naruto dan mendekatkan dirinya pada Naruto tanpa memutus kontak mata mereka, "Masuklah ke kamar. Jangan mengganggu aku dan kak Kurama belajar dan jangan mencoba – coba mendekati guru kami. Dasar tukang cari muka." Ucapan pedas keluar dari mulut Menma.

Naruto sedikit tersinggung, tapi ia takut kepada Menma dan tak ingin melukai Menma. Karena Naruto tahu bahwa semua rasa sakit yang dirasakan Menma otomatis akan ia rasakan juga.

Naruto sedikit meremas boneka rubahnya, "A...aku..."

'Klek'

Menma dan Naruto memalingkan mukanya memandang Iruka yang baru saja keluar dari toilet.

"Iruka-sensei." Ucap Menma tiba – tiba. Sementara Iruka hanya bisa mengerjab bingung melihat ada dua Menma di hadapannya. Lalu ia menggerakan telunjuk tangan kanannya ke arah Menma dan Naruto bergantian.

"Me..Menma ada dua?" Ucap Iruka bingung. Menma tidak peduli dengan pertanyaan dari Iruka yang bingung. Ia segera mendorong tubuh Naruto untuk masuk ke bagian rumah yang lebih dalam. "Masuk Naru. Kamu tidak boleh di sini." Ucap Menma memaksa Naruto untuk jalan menjauhi Iruka. Naruto yang di dorong hanya bisa melawan sedikit kekuatan Menma yang memang lebih kuat dari dirinya. Mau nggak mau ia mengikuti perintah Menma dengan berat hati. Wajahnya menyiratkan kesedihan. Ia menengokkan kepalanya ke arah Iruka sambil terus berjalan menjauh, "Aku Naruto, sensei. Mohon bantuannya untuk mengajar kak Menma dan kak Kurama ya." Ucapnya tersenyum manis lalu berbelok ke kiri hingga sosoknya menghilang.

Iruka hanya dapat melihat sosok itu menghilang bersama Menma. 'Naruto?' pikirnya. 'Kenapa dia tidak ikut belajar bersama?' Iruka merasa bingung dan termenung akan pikirannya sendiri.

Tak lama, terlihat Menma kembali . "Ayo sensei. Kita belajar" ucap Menma sambil menggenggam tangan Iruka dan mengajaknya ke ruang tamu. "Oh.. Iya." Gumam Iruka pelan.

Itulah awal pertemuan Iruka dengan Naruto, dimana Naruto akan menjadi murid didik kesayangannya di masa depan nanti.

.

.

.

2 tahun kemudian (Naruto dan Menma berumur 12 tahun dan Kurama 28 tahun)

.

.

.

"Ayo pa, ma. Hari ini kak Menma dan kak Kurama akan memasuki semi Final pertandingan Taekwondo. Kita harus cepat berangkat menonton mereka!" Ucap Naruto dengan semangat dan penuh antusias. "Iya" ucap Kushina dan Minato bersamaan.

Memang benar, untuk hal yang satu ini, Kushina dan Minato tidak ada alasan untuk tidak membalas perkataan Naruto. Bagaimanapun, Kushina dan Minato tak kalah semangat untuk menonton pertandingan Menma dan Kurama untuk memenangkan kompetisi tersebut. Mereka tahu bahwa Menma dan Kurama sangat berbakat dalam bidang apapun. Bahkan mereka bisa ikut pertandingan Taekwondo ini semua berkat Minato dan Kushina yang memaksa mereka untuk belajar bela diri guna melindungi diri mereka sendiri, soalnya Kushina dan Minato takut Menma atau Kurama di serang di tengah jalan. Pengecualian untuk Naruto. Mereka tak pernah begitu memperhatikan anak bungsu mereka itu seperti memerhatikan Kurama dan Menma. Sudah sejak lama mereka mengabaikan Naruto karena menurut mereka, Naruto masih seorang pembual yang selalu mengatakan sakit pada saat tidak terdapat luka. Padahal akhir – akhir ini Naruto sudah hampir tidak pernah mengeluh, kecuali memang benar – benar ada luka yang terlihat di fisiknya seperti terjatuh dari sepeda saat pulang sekolah atau salah satu bagian tubuhnya mendapatkan memar karena terkantuk sesuatu. Suatu luka yang memang benar – benar terlihat oleh mata.

Setelah mereka siap, mereka pun segera berangkat menggunakan mobil Camry hitam milik Minato. Naruto di belakang, sedangkan Kushina dan Minato di depan. Sudah biasa juga saat mereka hanya bertiga, yang mengobrol itu Kushina dan Minato saja, sedangkan Naruto menjadi nyamuk di antara mereka dan di anggap tak ada. Ingin main HP, ia tidak bisa, karena Naruto tidak memiliki nya. Berbeda dengan Menma dan Kurama yang telah mendapatkan HP sejak mereka masih berumur 8 tahun. Naruto tahu bahwa dirinya tidak pernah dianggap ada. Tapi hal itu tidak membuat dirinya terusik sama sekali. Hal ini sudah biasa dia alami dan dia memang merasa tidak membutuhkannya. Akhirnya ia hanya menatap pemandangan di luar jendela mobil.

Saat ini yang di pikirkan oleh Naruto adalah rasa sakit yang sedikit – sedikit muncul di perutnya. Ia tidak tahu, apakah ini ada hubungannya dengan Menma atau dia ada salah makan tadi pagi. Naruto sangat tahu bahwa sekarang masih jm 1 siang dan pertandingan Menma akan di mulai tepat pukul 2 siang, tidak mungkin Naruto akan merasakan sakit sekarang ini, kecuali ada yang menyakiti Menma sebelum pertandingan di mulai. Bagaimanapun Naruto tidak mau mengeluh sakit saat ini, ia tak ingin merusak mood kedua orang tuanya yang terlihat bahagia karena Menma dan Kurama. Ia juga sudah berkomitmen tidak akan mengeluh apabila sakitnya bukan hal yang kelihatan oleh mata. Tapi sekarang Naruto jadi sedikit khawatir saat ini akan keadaan Menma. Ia berharap tak terjadi apa – apa pada Menma saat ini.

Tepat pukul 2 kurang 15 menit,keluarga Namikaze telah berkumpul bersama di Stadion Konoha, dimana tanah yang dimiliki stadion ini sangat besar. Terdapat lapangan basket, lapangan tenis, lapangan sepak bola, dan lain sebagainya termasuk salah satu gedung indoor untuk Taekwondo yang dipakai untuk lomba sekarang ini.

"Menma! Kurama! Semangat!" Ucap Kushina semangat menyoraki kedua anaknya yang sekarang sedang duduk di bangku pemain di pinggir lapangan tersebut. Minato juga tak kalah seru berteriak mendukung kedua anak nya tersebut.

"Kak Kurama! Kak Menma! Semangat yaaa! Menangkan pertandingan ini!" Begitu juga Naruto yang sangat semangat mendukung kedua kakaknya tersebut meskipun tidak di gubris kedua kakaknya itu. Pertandingan semifinal pertama adalah pertandingan Kurama Namikaze dan Itachi Uchiha. Naruto dapat melihat dari atas ke tengah lapangan bahwa kakaknya itu sedang di goda oleh lawannya. Terlihat Kurama yang merasa kesal menanggapi perkataan Itachi yang entah itu apa, Naruto tidak mengetahuinya. Selama ini Naruto tidak pernah mengetahui hubungan pertemanan Kurama diluar rumah. Tapi melihat kakaknya yang digoda seperti itu, Naruto tersenyum tipis karena kakaknya terlihat lebih hidup. Biasanya ia hanya melihat Kurama yang tersenyum baik terhadap Menma dan jutek terhadap dirinya. Baru kali ini dia melihat ekspresi lain yang tak pernah di lihatnya di dalam rumah.

Kemudian matanya melihat tempat lain, terlihat Iruka yang melambai ke arahnya dari pintu masuk. Naruto tersenyum melihatnya dan membalas lambaian Iruka. Iruka segera menghampiri keluarga Namikaze dan mengobrol dengan Kushina dan Minato. Di satu sisi, Iruka ternyata di temani oleh seorang pria berambut putih jabrik. Setelah Iruka mengenalkan teman prianya itu yang bernama Kakashi, Kakashi hanya menganggukan kepalanya dan terdiam. Entahlah, Naruto tidak tahu apakah ia tersenyum atau merasa bosan, soalnya Kakashi itu terus mengenakan masker. Naruto juga terdiam mendengarkan percakapan mama papanya dengan Iruka yang membahas betapa hebatnya Kurama dan Menma.

Pertandingan Kurama dan Itachi akan di mulai sebentar lagi. Mereka telah bersiap di tengah – tengah arena pertandingan. Begitu pula percakapan antara Iruka dengan Minato dan Kushina telah berhenti. Bersamaan dengan berbunyinya bel tanda dimulainya pertandingan, Naruto merasakan rasa sakit yang semakin jadi di perutnya.

'ukhh... kenapa dengan perutku'

Naruto memegang perutnya, "Ma, Pa, Naru ke toilet dulu ya." Lalu segera keluar dari bangku penonton tanpa di gubris sama sekali oleh Kushina dan Minato. Sekilas Kakashi an Iruka melihat Naruto yang keluar dari tribun penonton menuju pintu bertuliskan 'Exit'.

Sedikit linglung, Naruto memasukki toilet yang di temuinya. Ia segera masuk ke dalam salah satu bilik dan membuka celana nya. Awalnya dia pikir, ia hanya sakit perut karena salah makan. Tapi begitu melihat corak darah yang terdapat di celana dalamnya, ia sedikit pucat.

'Da...darah? Dari mana ini?' wajahnya sangat pucat, panik melanda pikirannya. 'Gi..gimana ini? Aku kenapa?' perasaannya sangat tidak tenang. Ia bergelut dengan pikirannya sendiri tanpa ada pencerahan.

Setelah 15 menit ia hanya berdiam diri di dalam toilet, tiba – tiba ada yang menggedor pintu biliknya.

"Naruto? Apa kamu ada di dalam?" panggil suara itu.

Menyadari suara siapa itu, Naruto segera memakai celana nya kembali dan membuka pintu bilik yang ia masukki. Terlihat jelas siapa yang ada di luar pintu itu.

"I..Iruka..-sensei" Naruto berucap gagap.

Iruka yang melihatnya mengetahui ada yang aneh dengan Naruto. Wajahnya terlihat pucat sekali, matanya menyiratkan kepanikkan. "Naruto?" Iruka menggenggam bahu Naruto "Kamu tidak apa – apa kan?" tanya Iruka.

"A...aku..." Naruto ambruk di dalam pelukkan Iruka.

"Narutoo!" Iruka segera menggendong Naruto yang ternyata sangatlah enteng.

Ia memang tahu bahwa keluarganya tidak pernah memperhatikan Naruto, tapi ia tak menyangka, keluarganya sendiri tidak mau mengakui adanya keganjilan yang dimiliki oleh Naruto. Sejak pertama mereka bertemu, Iruka sudah yakin sekali bahwa Naruto tidak pernah dianggap. Iruka juga tahu bahwa selama ini Naruto dikatan pembohong karena sering mengeluh sakit. Pernah sekali ia bertanya pada Kushina dan Minato, mereka hanya mengatakan bahwa Naruto sudah pernah di cek ke dokter dan dikatakan bahwa Naruto selama ini hanya mencari perhatian. Iruka juga pernah mendengar Naruto mengeluh sakit dengan suara sangat pelan saat mengajar, padahal waktu itu dia memukul kepala Menma, bukan kepala Naruto. Iruka menyadari kesakitan Naruto saat itu meskipun Naruto tidak mengatakan nya secara langsung, Iruka setidaknya mengetahui tingkah laku Naruto yang benar – benar kesakitan. Meski ia sempat bingung dan merasa Naruto memang mencari perhatiannya, ia tetap sangat sayang kepada Naruto. Selama ini Iruka tidak pernah mengajarinya dalam pelajaran, tetapi setidaknya ia pernah mengobrol dengan Naruto dan mengajarkan beberapa hal moral yang disambut oleh Naruto dengan senang hati. Semua hal yang dikatakannya di tanggapi dengan senyum lebar dan mata berbinar milik Naruto. Iruka luluh akan pandangan polos itu, bahkan Naruto sudah ia anggap sebagai adik sendiri, bukan berarti ia tidak menganggap Menma dan Kurama sebagai adiknya juga. Tetapi ia sudah terpesona dengan sifat Naruto yang kuat menghadapi tekanan dari keluarganya dan tetap menyayangi keluarganya tersebut.

Iruka segera memanggil taksi yang lewat di jalan setelah keluar dari stadion dan menaikki nya menuju rumah sakit Konoha. Terlihat Iruka memencet nomor di ponselnya.

"Halo. Shizune-san" Ucap Iruka, "Tolong beritahu Tsunade-san, akan ada pasien sekarang. Aku ingin dia di cek seluruh organ dalamnya. Aku takut ada yang aneh dengan tubuhnya." Iruka terdiam sebentar, mendengar balasan dari seberang sana. "Oke, Terima kasih" dan iapun mengakhiri obrolan tersebut.

Iruka menatap Naruto yang tidur di pangkuannya, lalu mengusap kepalanya pelan. Terasa dingin dengan banyak keringat disana. "Bertahanlah Naruto". Perjalanan menuju rumah sakit selama 15 menit itu terasa 5 jam untuk Iruka. Beberapa kali ia mendengar Naruto mengigau dengan muka kesakitan dan mengelap keringat dingin yang mengalir dari kepala Naruto menggunakan sapu tangannya.

Sesampainya di rumah sakit, Iruka segera menggendong Naruto dan menuju ruangan tujuannya tanpa menggubris bagian administrasi yang memanggilnya sejak ia memasukki rumah sakit.

"Tsunade-san! Shizune-san!" Panggil Iruka dengan suara panik saat sudah sampai di ruangan yang ditujunya, diikuti oleh beberapa orang security yang mengejar Iruka. Lalu seorang wanita muda berambut hitam pendek keluar dari ruangan tersebut dan sedikit menenangkan para security yang tadi ikut berlari mengejar Iruka. Setelah mendengarkan penjelasan dari wanita yang ternyata bernama Shizune tersebut, para security itu pun pergi.

"Segera taruh dia di sini Iruka." Shizune menunjukkan ranjang kosong, dimana ruangan ini merupakan ruangan untuk melakukan CT Scan, sesuai dengan permintaan Iruka dalam teleponnya tadi. Iruka pun segera meletakkan Naruto pada ranjang tersebut.

Lalu dari pintu masuk tersebut, seorang dokter berkuncir 2 berambut pirang memasukki ruangan tersebut "Keluarlah Iruka. Saya dan Shizune akan melakukan scan dan radiasinya tidak baik untukmu." Ucap wanita tersebut.

"Baiklah Tsunade-san. Mohon bantuannya" Irukapun segera keluar dan duduk dibangku yang tersedia di luar ruangan. Ia terdiam dengan berbagai pikiran di kepalanya. Apa yang aneh dengan tubuh Naruto? Apa yang membuat dirinya begitu pucat tadi ketika keluar dari toilet? Apa yang harus lakukan pada Naruto? Begitu banyak hal yang bersangkutan dengan Naruto ingin ia ketahui.

Selama pikirannya masih tertuju pada Naruto, ponselnya pun berbunyi.

"Halo.."

"Iruka? Kamu dimana? Daritadi belum balik dari WC?" tanya suara di sebrang sana.

"Kakashi.. Maaf. Saat ini aku sedang ada di rumah sakit."

"... Kamu kenapa Iruka?" terdengar nada khawatir tetapi tetap tenang dari sebrang sana.

"Ini bukan aku.. tapi.."

"Iruka. Scan telah kami lakukan. Setelah ini anak itu akan kami masukkan ke dalam ruang VIP." Ucap Tsunade tepat setelah ia keluar dari ruangan scan. "Tunggulah di ruangan VIP itu, 10 menit lagi hasil scan akan keluar." Tsunade pun meninggalkan Iruka.

Lalu Shizune pun keluar dari ruangan tersebut sambil mendorong ranjang Naruto. "Maaf Kakashi, sebentar aku mau membantu Shizune-san." Tanpa mematikan telepon, Iruka meletakkan ponselnya di dalam saku celananya dan membantu Shizune mendorong ranjang tersebut. Tak lupa beberapa perawat lelaki lainnya yang melihat segera turun tangan untuk mendorong ranjang Naruto menuju kamar yang telah disiapkan.

Sementara itu Tsunade yang sedang mencetak hasil scannya setelah 10 menit berlalu telah mendapatkan hasilnya. Ia segera mencoba membaca hasil anatomi tubuh Naruto. Lalu menemukan hal mengejutkan dirinya. "Tak mungkin..." ia tak percaya dengan hasilnya. Tsunade segera berlari menuju ruangan Naruto tanpa memperdulikan aturan rumah sakit yang seharusnya

Di dalam ruangan Naruto, ada Shizune dan Iruka yang sedang mengobrol. "Tenanglah Iruka, hasilnya akan keluar sebentar lagi. Lalu layar ini.." Shizune menunjuk salah satu layar dalam ruangan tersebut. "Ini peralatan baru rumah sakit ini. Kamu bisa memantau keadaan fisik Naruto meskipun tidak sampai organ – organ dalamnya. Tetapi jika mendapatkan sebuah luka fisik, maka akan terdapat sebuah reaksi di layar tersebut. Kamu lihat kan garis yang membentuk siluet bentuk tubuh itu berwarna biru?" Iruka menganggukan kepalanya. "Jika terdapat luka fisik, maka warna nya akan berubah menjadi merah pada bagian yang terluka. Aku menambahkan peralatan ini setelah mendengar cerita yang kamu katakan barusan, sekalian mengetes alat ini. Bagaimanapun kita harus mengetahui apakah selama ini dia memang hanya anak yang mencari muka atau ia mengatakan hal yang sebenarnya."

Iruka menganggukan kepalanya, "Terima kasih Shizune-san. Kamu memang sahabat ku yang terbaik." Sambil mengelus surai pirang milik Naruto yang masih tertidur. Iruka pun mengeluarkan ponselnya, "Maaf Shizune-san. Daritadi aku masih bertelepon dengan Kakashi. Aku jawab dulu ya." Shizune tersenyum "Silahkan" lalu berjalan mendekati Naruto.

"Iruka... Kalau kamu sibuk, sebaiknya di tutup saja teleponnya. Memangnya siapa yang sakit?" tanya Kakashi dengan nada malas.

"Naruto. Tadi dia pingsan di dalam toilet. Karena khawatir, aku segera membawanya ke tempat Tsunade-san untuk di cek."

Mendengar nama tersebut, Kakashi melirikkan matanya sebentar ke kanan, "Apa aku perlu memberi tahu keluarganya?" tanya nya. "Tapi aku rasa kedua orang tuanya itu tidak mencari bocah itu. Mereka terlalu fokus menonton anak keduanya." Lanjut Kakashi.

Ya! Iruka sudah yakin sekali bahwa kedua orang tua Naruto pasti tidak ada yang khawatir. Bahkan ia juga pernah menceritakan hal ini kepada Kakasih, makanya Kakashi bertanya dulu kepada Iruka sebelumnya. "Tidak perlu Kakashi. Aku yang akan menanggung biaya Naruto. Kamu tak perlu memberi tahu Namikaze-san. Karena ada yang perlu aku cek kebenarannya." Ucap Iruka serius.

Kakashi hanya terdiam, saat ia bertanya lebih lanjut..

'DHUAAAKKK'

Terdengar suara tendangan begitu melihat Menma baru saja tertendang dibagian dada oleh lawan tandingnya. Seketika, Menma terlihat kesakitan, tetapi perlahan rasa sakit itu menghilang dan iapun segera melawan musuh tandingnya tersebut.

"Kakashi..." "Ya Iruka?" jawabnya dalam saluran telepon.

"Apa... baru saja Menma terkena pukulan atau tendangan di bagian dadanya?" Kakashi dapat mendengar bahwa suara Iruka terdengar sedikit bergetar atau lebih tepatnya ada rasa takut dalam suaranya tersebut.

"Iya. Dari mana kamu tahu?" tanya Kakashi di sebrang telepon sana.

"..." Iruka hanya terdiam melihat layar yang memberitahu kondisi tubuh Naruto. Ia tak bisa berkata apa – apa. Dalam pikirannya, banyak sekali hal – hal tak masuk akal. Bagaimana bisa? Tubuh Naruto terkoneksi dengan Menma? Jika Menma terluka, maka Naruto yang akan mengeluh dan luka Menma menutup? Kenapa selama ini Naruto selalu merasa sakit, padahal ia tidak terjatuh ataupun tergores atau amit – amit tertabrak kendaraan? Bagaimana bisa? Iruka menjatuhkan ponselnya. Ia hanya mematung di tempat dengan wajah terkejut. Akhirnya... Akhirnya dia mengetahui jawabannya. Pertanyaan yang selama ini selalu menggeluti pikirannya akhirnya terjawab. Ternyata selama ini Naruto memang tidak berbohong. Selama ini Naruto selalu berkata jujur.

"Iruka? Irukaa?" Panggil dari ponsel disebrang sana sedikit khawatir. Bagaimanapun saat ini Iruka tidak sadar akan sekitarnya.

Sementara Iruka berkutat dengan pemikirannya, Shizune juga sedikit heran dengan garis biru yang tiba – tiba berubah merah di sekitar dada Naruto. Shizune segera menyibakkan baju Naruto hingga bagian dada, tetapi tidak terdapat luka sama sekali. Tapi ia heran melihat layar yang jelas – jelas menunjukkan ada nya luka fisik yang di terima oleh Naruto. Apakah alat baru ini rusak? Apa Naruto mengalami luka dari dalam tubuhnya? Pertanyaan besar muncul di kepala Shizune. Tanpa sengaja, ia melihat bercak darah merembes dari celana Naruto.

Heran dengan darah yang keluar tersebut, Shizune mencoba untuk membuka celana Naruto. Belum sempat ia menyentuh celana Naruto..

'BRAK!'

Pintu kamar Naruto terbuka kasar. Tampilah Tsunade dengan nafas menderu. Shizune dan Iruka yang tadinya sedang merenung masing – masing kaget akan kehadiran Tsunade yang mengejutkan. Tsunade memandang Iruka dengan wajah serius dan melangkahkan langkahnya dengan pasti menuju Iruka.

Tepat setelah berdiri tak lebih dari 1 meter dari Iruka, Tsunade langsung menyodorkan hasil scan yang di temuinya. Iruka segera melihat hasil scan tersebut. Begitu pula dengan Shizune yang juga penasaran. Keduanya melihat secara bersamaan bentuk tubuh Naruto, dari atas ke bawah sampai mereka menyadari sesuatu dan melotot akan hasil scan dengan tidak percaya.

"I... ini..." ucap Iruka terbata.

"Ya.. Seperti yang kamu lihat. Hal yang mungkin terjadi 1 berbanding 1 juta orang di dunia." Ucap Tsunade dengan serius, "Aku ingin kamu selalu membawanya ke sini berkala setiap 3 bulan sekali Iruka. Bagaimanapun keadaannya perlu di pantau."

Iruka yang ditatapnya hanya bisa mengangguk ragu. Ia tak tahu, apakah berita ini harus di beritahu kepada keluarga Namikaze atau tidak. Ia ingin keluarga Namikaze mengetahui apa yang terjadi pada tubuh Naruto. Tetapi sekali lagi, ia memastikan bahwa semua keputusan tersebut akan berada di tangan Naruto. 'Oh Tuhan. Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi pada Naruto?'

.

.

.

To be Continue

Mind to Review after Reading? Thank You.

Jawaban Review – review:

Typo dimana – mana

Pas aku baca ulang memang ada beberapa kata yang lupa untuk dimasukkan. Jujur, bahasa yang aku gunakan di sini jadi miskin kata n susah di mengerti dan aku setuju bahwa semua itu menjadi Typo (akibat sudah lama banget ga bikin fanfic kali ya) hahaha. Maaf yaaa and thanks for correction. ^u^

SasuNaru tapi kok ada SasuMen? Sasu-nya ada 2?

Wait buat episode ke 3, di sana bakal di ceritain gimana hubungan Naruto, Menma and Sasuke. Yang pasti Menma nya itu playboy dan Sasuke hanya 1, dia kan ga bisa pakai kagebunshin di sini. Selain itu, banyak karakter lainnya juga bermunculan di ep 3. Di tunggu saja. ^u^

Apa ada DeathChara?

Kalau di ending yang aku pikirin c ada. Tapi kalau kalian berhendak lain, ada alternatif ending c. Tapi tetep ada death chara juga. Hahaha~

Kurama nggak suka sama Naruto?

Kurama kan emosian. Aku buat karakter dia ga suka sama Naruto soalnya cengeng. Kalau Menma kuat. Dia senangnya sama orang yang jauh lebih kuat. Tapi ada saat nya nanti Kurama sadar kok. ^u^

Bakal sedih ceritanya?

Sedih ga ya? Aku juga bingung. Masih bisa bikin orang nangis ga ya sama cerita yang aku buat? Yang pasti aku mau buat fict ini sedih n buat Naru susah. (Maap yaaa~)

Menma sadar ga? Kalau Naruto luka, Menma merasakan juga?

Menma ga tahu. Lagipula saat umur Naru sudah 12 tahun seperti cerita di atas, Naruto sudah jarang bngt mengeluh sakit.

Menma ga bisa merasakan kayak yang Naruto rasakan. Apalagi Menma punya regenerasi yang hebat. Di cerita ini Menma akan dibuat egois n ga peduli sama sekitarnya. Mungkin keturunan sifat Kurama? Hehehe~

Naru Kemana? Matikah?

Naru uda jadi Bapak nya Boruto and Himawari dari cerita Masashi-sensei. Hehehe. Bercanda. Kalau di cerita ini semuanya tergantung kalian. Mau di buat meninggal atau nantinya hidup bahagia. Author sih lebih suka Naruto nya melepas penderitaannya (ngerti maksudnya kan?). ^u^

Mending Kalo uda gede ga usa bilang – bilang lagi kalau sakit.

Ini sudah di laksanakan dalam chapter ini. ^o^/

Nggak suka pair SasuMenma

Aku sih biasa aja. Hehehe. Tapi Sasu paling cocok sama Naru. Cuma kalau Sasuke di buat selingkuh sama Menma n ceritanya jadi menyudutkan Sasu merasa bersalah pada Naru, aku senang. Terus Sasu di buat menyesal. Hahaha... Hanya daya khayal saja.

Thanks to:

fratello99, rama24, cutenaru, Ai no Est, michhazz, MdmNaru, Aoi423, .12, Habibah794, , Just fan, Hikaru Q.A, gici love sasunaru, rheafica, TikaChanpm, Nyonya416, hikarusherizawa, JustCallMeAzi, Hyull, chennie21, Chie392, akira lia, lisabluebeery544, 85, hunkailovers, amelia, Allen491, Jasmine Daisyno Yuki, meli12, Zuki chan, Yukiiartic, rama24, Do Namikaze, elleinadk for your review, follow and favorite.

Also thanks to all silent reader.