Supply creates its own demand.

Mari kita putar pendulum waktu—untuk lebih spesifiknya, beberapa tahun yang lalu, saat Ivan Braginsky menganggap pemikiran Jean Baptiste Say sebagai angin lalu yang tidak menentu. Aksi yang bukan tanpa dasar sebetulnya, mengingat teori ekonomi para kaum klasik tersebut tidak dapat menjawab krisis ekonomi yang mengalami stagnasi. Jadi, jangan salahkan dirinya jika ia memang bukan penganut aliran klasik dengan ajaran fisiokratis.

"Biar kuluruskan semua ini, Braginski. Aku akan membayarkan uang yang kujanjikan dengan tiga kondisi—"

Mari kita putar pendulum waktu—kembali ke dari vakum waktu; terbangun ke detik yang semula berlalu. Waktu dimana seorang Ivan Braginski ragu akan asumsi yang tercipta tanpa determinasi. Waktu dimana seorang Ivan Braginski bergeming dalam perang pemikirannya sendiri. Waktu dimana seorang Ivan Braginski menutup mulutnya rapat dengan tenggorokan yang seolah tercekat.

"—Pertama, hilangkan semua identitas lamanya. Aku yakin kau tidak akan menemui kesulitan dengan yang ini 'kan, Braginski?"

Penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri. Bisakah Ivan menganggap bahwa ia berada dalam lingkup keberadaan sesungguhnya dari konsep yang ia abaikan?

"Kedua, aku tidak mau ada orang lain yang mengetahui bahwa aku… terlibat dengan… yah… transaksi ilegal?"

Oh, pemuda berdarah Inggris di hadapannya membuat Ivan ingin tertawa layaknya orang sakit jiwa. Sakit jiwa. Jiwa sakit. Sakit di dalam jiwa. Jiwa di dalam sakit. Sakit. Jiwa. Sakit jiwa. Cih, bagaimana tidak? Pemuda Inggris tersebut dengan brengseknya benar-benar menciptakan kondisi yang seolah ingin memecutnya dengan kenyataan tak terelakkan bahwa teori klasik tidak sepenuhnya salah.

"Ketiga—persetan dengan kolega—setelah transaksi ini, anggap tidak terjadi apa-apa."

Dan persetan untukmu juga, Arthur Kirkland.

Perfection

Hetalia Axis Power © Hidekaz Himaruya

Perfection © Golden Marionette

Warning: Shounen-ai, AU, OOC, cross-dressing, don't like don't read. I've warned you.

Genre: Romance/Drama

Chapter 1: la beauté est dans la rue

Happy reading!

Jangan tanya kenapa—Arthur sendiri tidak tahu mengapa ia menciptakan anomali yang semakin tidak terkendali dalam gores riwayat kehidupannya. Benar, logikanya seolah berada dalam vakum waktu yang menjadi musabab keterlibatannya sampai sejauh ini. Kelewat jauh. Oh, bahkan Arthur ingin bertanya kepada dirinya sendiri; kenapa seorang seperti dirinya mau menjejak di tempat tanpa pijak kebenaran, menghamburkan uang hanya untuk pemuda ras mongoloid yang sama sekali tidak dikenalnya, dan bahkan terlibat dalam transaksi gelap penuh muslihat.

Demi Merlin, Arthur benar-benar tidak tahu.

Mungkinkah itu adalah tindakan impulsif? Mungkinkah itu adalah ketidaksinkronan raga dengan logika? Mungkinkah itu adalah rasa kasihan? Mungkinkah itu adalah selilitan rasa kemanusiaan? Mungkinkah itu adalah kesalahan?

Mungkinkah. Mungkinkah. Mungkinkah.

Terlalu banyak kemungkinan—dan Arthur masih punya permasalahan yang memerlukan atensinya, omong-omong. Membagi pemikiran dalam beberapa diversi hanya akan membuat fokusnya kabur. Jadi, pemuda yang marga keluarganya termasuk dalam daftar golongan aristokrat tersebut menggelengkan kepalanya pelan guna mengusir tumpukan pemikiran liar di kepala alih-alih terus tenggelam di dalamnya.

"Monsieur, kita sudah sampai di tempatnya."

Suara baritone seorang laki-laki beresonansi di telinga Arthur, membuatnya bangun dari dimensi lamunan. Kirkland muda itu mengalihkan pandangannya ke sumber suara—untuk spesifiknya, laki-laki yang berdiri satu meter di depannya. Laki-laki tersebutlah—yang entah siapa namanya—yang telah mengantarkan Arthur dari ruang kerja Ivan menyusuri koridor pengap berbau asap lain. Lalu... entahlah. Daritadi Arthur sibuk dengan pemikirannya sendiri untuk menyadari bahwa ia sudah berada di depan sebuah pintu kayu yang dipalang besi.

Arthur mengangkat sebelah alisnya, namun toh ia tidak menguarkan sepatah aksarapun bahkan saat laki-laki tersebut mengkoordinasikan bagian tubuhnya untuk membuka palang dan membuka kunci dari pintu kayu ek tersebut.

Krieeet

Laki-laki itu membuka daun pintu—menampakkan kekelaman yang hanya dihiasi cahaya temaram. Satu. Dua. Tiga. Detik masih bermain. Tik tik tik. Tanpa petikan kata terucap. Tik tik tik. Berdetik di antara nurani dan akal rasional diri.

"Ini kuncinya, Monsieur."

Mengalihkan pandangannya ke sumber suara, Arthur mendapati bahwa laki-laki tadi tengah mengulurkan tangan ke arahnya. Kunci. Rupanya laki-laki itu menyerahkan sebuah kunci kecil yang kini berada di telapak tangannya. Tanpa intensi untuk bertanya, sang Kirkland mudapun berjalan mendekat dan meraih kunci tersebut.

"Well, thanks."

Dan langkah itupun kembali memijak, mengantarkan sang pemilik dengan surai pirang bergerak turun menyusuri tangga itu dalam senyap. Sang laki-laki pengantar tadi tampak tidak menampilkan pertanda untuk menemani sang Kirkland muda. Yah... untuk hal ini, Arthur tidak ambil perduli.

Indera penglihatannya mulai mengedar sekitar, hanya untuk mendapati sebuah konklusi bahwa ia tidak akan mau menginjakkan tapak langkahnya di tempat seperti itu lagi. Tempat gelap di mana tikus-tikus gemuk berkeliaran dengan bebas tanpa batas. Tempat gulita di mana kanan-kirinya hanyalah pemandangan jeruji tanpa isi. Tempat tanpa pijaran cahaya di mana pusat kegilaan impulsif Arthur bernaung sekarang.

Tap. Tap. Tap—

—Tap.

Lalu langkah derap-berderap itu berhenti kala indera penglihatannya menangkap sosok pemuda Asia beriris cokelat tua duduk meringkuk di pojok salah satu ruangan balik jeruji. Memutuskan untuk menilik objek tersebut beberapa sekon, Arthurpun mengarahkan fokus matanya ke arah pemuda yang nampak tidak menyadari kehadirannya itu.

Sang objek—atau sang pemuda Asia, terserah—terlihat seperti remaja pada umumnya, dengan rambut hitam yang tampak kompatibel dengan iris coklat tua miliknya namun begitu kontradiktif dengan kulit putihnya. Ah, sungguh perpaduan yang menarik atensi. Andaikan saja bercak darah yang mengering di pipinya hilang dan pakaian yang ia kenakan bukanlah kaus putih compang-camping, pastilah ia akan terlihat identik dengan boneka porcelain.

Dan... tunggu, benarkah apa yang Arthur lihat? Bahwa ada bias kegetiran di mata pemuda itu? Kalaupun benar, kenapa dirinya merasakan perasaan ganjil yang memaksanya untuk merengkuh pemuda itu?


x

XxXxXxXxX

x


"Jadi namamu Honda Kiku? Namaku Wang Yao, aru."

"Apa kau tahu alasan mengapa orangtuamu meninggalkanmu?"

"Itu karena kau tidak berharga."

"Ya, Kiku. Kau tidak berharga. Karena itulah orangtuamu meninggalkanmu."

"Aku keluarga satu-satunya yang kau punya? Bah, jangan bercanda. Aku bahkan tidak pernah menganggapmu sebagai anak angkatku!"

"Hahaha. Seseorang sepertiku... tidak pantas kau panggil ayah, aru."

"—Kiku, la... ri."

DOR!

Tersentak, Honda Kiku mencengkram rambutnya erat—berusaha mengusir kelebatan mozaik gambaran yang mulai menjerat. Tapi nihil; kelebatan itu tidak berhenti berkeliaran di dalam pemikiran.

Fantastis.

Kiku menghela nafas panjang. Ia merasa percuma—apapun yang ia lakukan tidak bisa mendistraksi pikirannya dari Wang Yao, laki-laki yang menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki. Laki-laki yang juga telah pergi; membiarkan Kiku duduk meringkuk sendiri dengan berteman sepi.

Entah berapa satuan waktu yang telah terlewat semenjak dirinya bergeming dalam hening. Ia tidak perduli. Atau lebih tepatnya, ia tidak mau perduli. Pemuda itupun mengeratkan pelukannya pada kedua tungkainya. Dengan pandangan nanar, ia mengalihkan fokus matanya ke arah lantai ruangan tempatnya terkungkung—

Krieeeeet

—dan tanpa sadar, tetesan itu bergulir menyusur pelan.

Cepat-cepat Kiku mengusap bekas air mata itu dengan punggung tangannya secara kasar. Detik berikutnya, pemuda Asia Timur tersebut menoleh dan mendapati bahwa pintu jeruji besinya sudah dibuka oleh entitas yang tidak familiar baginya.

Entitas yang kini melangkahkan kaki ke arahnya merupakan manifestasi dari seorang pemuda tampan bersurai pirang, yang mengenakan pakaian mahal dari perancang kenamaan. Sorot matanya menatap datar ke arah Kiku tanpa gentar. Samar-samar, Kiku merasakan hawa aneh yang mulai merasuk dalam diri.

Kiku mengunci mulutnya rapat—bahkan saat pemuda tak dikenalnya itu berlutut di hadapannya dan menatap lurus ke arah matanya, seolah tak memperdulikan detakan jantungnya yang mulai berdentum-dentum.

Hening bermain sejenak dalam alunan detik satuan waktu.

Lalu bibir pemuda berambut pirang tersebut terbuka, menguarkan petahan-petahan kata yang ditujukan kepada Kiku. Oh, jangan lupakan uluran tangan sang pemuda berambut pirang yang seolah mewakilkan ajakan untuk keluar dari penjara memuakkan tersebut.

"Honda Kiku... kau milikku sekarang—" berkata ia penuh determinasi yang tak terbagi dalam divisi "—ikutlah bersamaku."


x

XxXxXxXxX

x


"Halo?"

"..."

"Elizaveta? Hoi, apa kau mendengarku?"

"..."

"Eli—"

"What a fvcking bastard—" berdesis penuh kemarahan "—Berikan aku alasan yang bagus, aku ulangi, ALASAN YANG BAGUS untuk menggangguku selarut ini, Kirkland!"

Arthur menjauhkan ponsel miliknya dari indera pendengarannya. Kehilangan kemampuan mendengar di usianya yang terbilang muda jelas bukan hal yang ia inginkan. Menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya, Kirkland muda itupun kembali mempersempit jarak antara indera pendengarannya dan ponsel hitam yang masih ia genggam.

"Will you shut your bloody mouth up, Elizaveta?" geram Arthur sembari tetap memfokuskan matanya ke jalan di hadapannya. Tangannya kanannya yang bebas dari ponsel ia koordinasikan pada kemudi Lamborghini Reventon kesayangannya.

"Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku, Mister Eyebrow!"

Kernyitan tertera di dahi Arthur saat ia mendengar kata terakhir yang diucap oleh seorang wanita di seberang sana.

"Dan bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu jika kau terus mengumpat seperti itu, hah? Dan apa-apaan itu dengan Mister Eyebrow?"

"Bagaimana aku tidak mengumpat jika kau dengan kurang ajarnya mengusik ketenanganku selarut ini? Hah, ada masalah dengan sebutan itu? Perlukah kubawa cermin di kamarku untuk MENYADARKANMU?"

Arthur menghela nafas—lagi.

"Bukan keinginananku untuk mengganggumu, Elizaveta. Hanya saja... aku sedikit terlibat masalah. Pokoknya, kau harus ke rumahku sekarang! Masalah ini tidak mungkin dibicarakan seperti ini."

"Huh? Apa katamu? Masalah? Jangan bilang masalah yang kau maksud adalah scone buatanmu."

"Tidak. Ini bukan tentang scone buatanku, wanita aneh. Ini tentang... well, kau tahu Ivan Braginski?"

"..."

"Elizaveta?"

"Aku akan ke rumahmu sekarang, Arthur."

Arthur menarik segaris lengkung senyuman tipis mendengar pernyataan barusan. Well, walaupun Elizaveta Héderváry bukanlah wanita yang penuh dengan aura lady-like yang absolut (jangan lupakan fakta bahwa ia memiliki obsesi terhadap hubungan yang masuk dalam kategori anomali) setidaknya wanita muda yang telah berteman dengan Arthur dari kecil itu bukanlah cecunguk tanpa perasaan yang tega mengabaikan rekannya sendiri.

"Dan Arthur? You owe me a Louis Vuitton clutch."

"Cih, baiklah."

Pip.

Sambunganpun terputus—mengembalikan Arthur Kirkland kembali dalam atmosfer di dalam mobilnya yang entah mengapa terasa begitu canggung. Terlebih, pemuda bersurai hitam yang duduk di sisi kirinya belum angkat bicara sedikitpun sejak mereka keluar dari salah satu rumah milik Ivan Braginski.

Pemuda berdarah Inggris itu mengerling ke arah Kiku yang menatap nanar pada kaca mobil bagian kiri. Ia berdehem pelan untuk menarik atensi sang pemuda itu sebelum merangkai kata-kata yang akan ia ucap.

"Jadi, namamu Honda Kiku, benar?" tanya Arthur sekedar basa basi. "Kudengar kau berasal dari Jepang. Apakah kau bisa berbahasa Perancis?"

Tak ada jawaban.

Yang dilakukan Kiku hanyalah melirik pemuda di samping kanannya sebelum kembali memperhatikan kaca di sebelah kirinya. Entah mengapa sekarang pemandangan musim gugur di Perancis terlihat lebih menarik di bandingkan terlibat dalam sebuah konversi yang mungkin akan menaikkan tensi.

"Well? English, perhaps?" tanya Arthur kembali.

Masih tak ada jawaban.

"Hei, kau bisa bicara 'kan? Atau bolehkah aku berasumsi bahwa kau hanya menguasai bahasa—"

"Kenapa?" potong Kiku tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca mobil. "Kenapa kau membeliku?"

Untuk sepersekian detik, Arthur tertegun akan fakta bahwa pemuda di sampingnya akhirnya angkat bicara dalam bahasa Perancis yang terbilang fasih. Namun, pemuda itu bisa merasakan bahwa Kiku seolah tengah menyamarkan suaranya yang nyaris terdengar serak. Tidak mau terdistraksi oleh hal tersebut, sang pemuda Kirkland tersebut menggelengkan kepalanya pelan sebelum menggerakkan kedua tangannya itu memutar kemudi ke arah kanan.

"Kau jangan salah sangka. Aku membelimu karena... karena aku bosan!" tandas Arthur yang langsung menyesali apa yang telah ia katakan.

"Begitu?" tanya Kiku datar. "Berarti kau tak ubahnya seperti mereka yang ada di pelelangan itu."

Untuk yang ini, Arthur tidak membalas.

"Berarti kau tak ubahnya seperti mereka yang ada di pelelangan itu."

Kenapa kata-kata barusan terasa menyakitkan?

TBC


Behind the scene:

"Biar kuluruskan semua ini, Braginski. Aku akan membayarkan uang yang kujanjikan dengan tiga kondisi. Pertama, hilangkan semua identitas lamanya. Aku yakin kau tidak akan menemui kesulitan dengan yang ini 'kan, Braginski? Kedua, aku tidak mau ada orang lain yang mengetahui bahwa aku… terlibat dengan… yah… transaksi ilegal? Ketiga—persetan dengan kolega—setelah transaksi ini, anggap tidak terjadi apa-apa."

Dan persetan untukmu juga, Arthur Kirkland.

"Kolkolkol, ternyata kau menyebalkan, da." *mengacungkan pipa dengan binal*

"CUUUUUT!"


"Elizaveta?"

"Aku akan ke rumahmu sekarang, Arthur."

"Dan Arthur? You owe me a Louis Vuitton clutch."

"Cih, baiklah."

"Dan juga doujinshi YAOI NC-17."

"WTF?"

"CUUUUUT!"


ASDFGHJKL;

Abaikan behind the scene, wahai orang-orang yang budiman. Itu hanyalah keisengan belaka orz

MUAHAHAHA, akhirnya saya update fic ini setelah entah-berapa-lama. Silahkan salahkan tugas-tugas saya 8DDD *banting tugas ppt*

Oh ya, maaf karena review reply saya balas di sini m(_ _)m

Lee EunHae: OH YEAH! Di sini Arthur menjadi cowok kebanyakan duit sih. Jadi buat menyelamatkan OHOKukenyaOHOK dari tangan Ivan, pasti akan ia bayar XDD
Bah, kalau gue sih pasti beli SMnya aja sekalian OwOb
O/O Ma-makasih, Pet #pelukcium #dor
Romancenya baru berkembang, Pet. Mungkin beberapa chapter ke depan baru bisa buat adegan fluff hohoho

kumonnetskazette: Tentu saja kakak ingat kau, Kaze! #pelukciumdenganbrutal #plakdor Hohoho, iya, kakak kangen nulis fic di FFn :3
Makasih Kaze O/O *guling-guling kesenengan* dan... yeah AsaKiku memang awesome OwOb
A-adegan Rate-M? Kakak 'kan belum memastikan apa fic ini nanti pindah rate atau tidak. Ternyata Kaze... hohoho XDD *dibuang*

Silahkan~ Toh meski ada konsep lelang, tapi jalan ceritanya beda, bukan? :3 Kaze mau buat fic? Ayo buat! *pecut Kaze* *dipecut balik*

Nyasararu: Makasih~ m(_ _)m *pelukeraterat* #tabokaja

Untuk prolog, saya buatnya satu hari. Tapi ngeditnya 2 hari 8DD

Hohoho, itu karena Ivan sangat mencintai YaoYao, da XD
Fufufu, itu karena saya senang menghancurkan image Wang Yao B-) #plakplakplak OHOK—ma-maksud saya, karena saya ingin membuat karakter Wang Yao yang sedikit (atau banyak?) berbeda

Cross-dressing akan ada di chapter-chapter selanjutnya. MUAHAHAHA XD *tawa setan*

Asia RyuuBirthday: Ma-makasih banyak XD AsaKiku... menurut saya mereka pasangan yang manis x3

Silahkan~ Justru saya senang kalau fic saya ada yang suka XD

Hikaru no Hoshi: Jeongmal kamsahamnida XD
Sebenernya fic ini pakai sudut pandang orang ketiga kok. Tapi mungkin gaya penulisan saya terbawa oleh RP orz

Silahkan~ *hugs*

Rin-chanHonda: O/O Makasih banyak xD Ngek, saya jadi blushing baca review anda (?) #pelukciumseenaknya *ditendang*

And yeah, AsaKiku FTW! *kibar-kibar spanduk AsaKiku*
Itu adalah bukti cinta Ivan pada Yao (?) 8DDD

Hoh, Arthur memang contoh pemuda kebanyakan duit D8

Silahkan~ x3 *kesenengan sendiri*

Pena Hitam: LOL, anda kayaknya senang sekali Kiku dijual 8DD (padahal sendirinya senyum-senyum gaje waktu ngetik fic)

Saya mau doujin AsaKikuuuuu D8 #lha?
Arthur merupakan spesimen kelebihan duit yang sedang mencari uke (?) #apaancoba #abaikan

costae: ABSOLUTELY YES! Suara Kyu memang asdfghjkl;qwertyuiopzxcvbnm, 8D *nemplok di punggung Kyuhyun* *ditabok Sungmin* (?)
MUAHAHAHA, itulah adalah bukti cinta Ivan pada Yao XDD #plak

Yap! Ivan terlalu cinta sama Yao buat membiarkan dia sama orang lain OwOb

Thanks to

My partner-in-crime a.k.a Copet a.k.a Lee EunHae

My imouto a.k.a kumonnetskazette #ngakungaku

Nyasararu

Asia RyuuBirthday

Hikaru no Hoshi

Rin-chanHonda

Pena Hitam

costae

Kritik dan saran akan membantu.

Review?