"Sakura, kalau Kaa-san perhatikan, kantung matamu semakin hitam saja"

Sakura menghentikan acara makannya sebentar. Meraba sedikit bagian bawah matanya kemudian melanjutkan sarapannya lagi.

"Akhir-akhir ini aku memang tidur sedikit larut. Banyak tugas sekolah yang harus aku kerjakan" Tidak sepenuhnya dia berbohong. Memang akhir-akhir banyak sekali guru yang memberikan pekerjaan rumah. Terkadang ia juga harus rela mengisi waktu istirahatnya dengan mengerjakan tugas. Namun ia juga tahu dengan pasti, kantung matanya tercipta karena memang jam tidurnya sangat terbatas.

"Pantas saja kau selalu berangkat pagi-pagi sekali dan pulang telat" desah Haruno Mebuki. Ia sedikit menyesali keadaannya yang sekarang sedang sakit sehingga membuat Sakura harus susah payah sekolah sekaligus menghidupi dirinya dan juga adiknya. Andai saja beberapa bulan yang lalu dia tidak ceroboh saat menyebrangi jalan, mungkin dia tidak akan duduk di kursi roda seperti ini.

Sakura hanya tersenyum kecil menanggapi ibunya kemudian melihat kearah adiknya yang masih setia dengan sereal miliknya. Terkadang ia tertawa kecil karena melihat cara makan Aya yang masih berantakan, padahal usianya sudah menginjak tujuh tahun.

Gadis bersurai merah muda itu melihat kearah jam dinding yang ada diruang makan. Sudah pukul delapan, berarti dua jam lagi jadwal ibunya untuk check up.

.

.

Sakura mendorong perlahan kursi roda ibunya menyusuri koridor rumah sakit Suna dengan Aya yang setia berjalan disampingnya sambil mengulum permen lollipop kesukaannya. Gadis itu segera berbelok ke arah kiri saat menemukan persimpangan. Matanya terus mencari pintu dengan tulisan Dr. Uchiha Fukagu. Sesekali sepasang emerald miliknya menoleh kesamping. Memastikan Aya tidak tertinggal dibelakang.

Senyum sedikit mengembang di bibir tipis Sakura saat matanya bisa melihat pintu yang dimaksud olehnya. Gadis itu mendorong sedikit cepat kursi roda ibunya.

Tok

Tok

"Silahkan masuk"

Sakura tersenyum kecil melihat Dr. Fukagu yang menyambutnya dari belakang meja kerjanya. Mereka memang cukup akrab karena sudah beberapa kali dalam waktu tiga bulan ini Sakura datang keruangannya untuk mengantarkan ibunya check up.

Setelah Sakura duduk dan Aya mendudukkan diri dipangkuannya, Uchiha Fukagu nampak berbasa- basi dulu dengan Haruno Mebuki. Menanyakan bagaimana keadaan Mebuki, apakah bagian bawah tubuhnya yang lumpuh mengalami sedikit kemajuan. Dokter paruh baya itu mengembangkan senyumnya ketika wanita didepannya mengatakan kalau jemari kakinya sudah mulai bisa digerakkan meski masih sedikit kaku.

Beberapa menit kemudian, seorang suster yang akan membantu terapi berjalan Mebuki masuk kedalam ruangan.

"Kau mau disini atau bagaimana Sakura ?"

Sakura nampak berpikir sebentar sebelum menjawab dokter berkacamata dihadapannya. Terapi ibunya akan berlangsung cukup lama, Aya juga sudah mulai kebosanan diruangan Dr. Fukagu. Mungkin lebih baik ia berkeliling saja dirumah sakit.

.

.

Sakura menatap taman dihadapannya dengan pandangan kosong. Sedikit mengabaikan adiknya yang masih asik berceloteh sejak tadi sambil menjilati ice cream ditangannya.

Dia sedang bingung sekarang. Keuangannya sudah mulai menipis. Tidak akan cukup untuk bekal makan selama seminggu. Apalagi akhir bulan ini juga dia harus mendapatkan uang lebih untuk membayar hutang ayahnya yang memang harus dibayar setiap bulan selama dua tahun.

Selama bersekolah di Konoha, ia memang hanya bisa menerima pelanggan untuk tidur dengannya ketika hari sabtu dan minggu saja. Sedangkan untuk hari- hari lainnya, ia hanya mau menemani pelanggannya untuk sekedar makan atau karaoke. Dia tidak mau ambil resiko bangun kesiangan. Padahal bayaran untuk tidur itu jauh lebih besar.

Gadis berusia tujuh belas tahun itu menghela napas pelan. Raut wajahnya sangat menunjukkan betapa lelahnya dia. Rasanya dia ingin berhenti dari pekerjaannya yang hina itu, tapi nanti dia mau kerja apa ? Gadis seusia dirinya cukup sulit mendapatkan pekerjaan, terlebih lagi dia juga harus sekolah. Mungkin dia bisa menjadi penjaga toko atau pelayan part time, tapi hasilnya tentu tidak seberapa. Tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, apalagi saat ini juga ibunya sedang sakit. Perlu biaya lebih.

Ah, bicara tentang ibunya, Sakura tidak tahu apa wanita itu masih mau menganggapnya anak kalau tahu pekerjaannya sangat hina. Gadis muda itu selalu berharap kalau ibunya tidak tahu. Biarlah ia terus membohongi ibunya dengan mengatakan ia bekerja part time di toko kue.

Dering ponsel membuyarkan lamunan Sakura. Gadis itu merogoh tas selempang yang dibawanya untuk mencari benda mungil yang masih terus berbunyi. Begitu mendapatkannya, Sakura sedikit tersenyum melihat nama Kakashi yang menghubunginya. Ia akan mendapatkan uang hari ini.

.

.

Sakura terus memasang senyum manisnya saat menemani Hatake Kakashi makan malam. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu tampak antusias menikmati makanan yang disuapi oleh Sakura.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Sakura sangat senang menemani pria dihadapannya ini. Selain tampan, dia juga baik dan yang membuat Sakura menyukainya karena pria ini tidak pernah menyentuhnya secara berlebihan. Kakashi hanya pernah mencium pipi dan tangannya, terkadang keningnya juga.

Intinya, Kakashi membayarnya hanya untuk menemaninya makan karena pria itu merasa sangat kesepian. Kalau tidak salah, Kakashi dulu sempat bercerita kalau istrinya itu merupakan wanita yang sangat sibuk. Dia terlalu mementingkan karirnya. Padahal tanpa istrinya bekerja pun, hidup mereka sudah sangat berkecukupan.

"Kudengar dari Ino, kau pindah sekolah lagi. Kemana ?"

Sakura menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuapi Kakashi. Gadis itu tersenyum kecil.

"Iya. Konoha High School"

"Benarkah ? Sepupuku juga bersekolah disana. Namanya Uzumaki Karin. Kau mengenalnya ?"

Sakura menggeleng kecil kemudian kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi. Kalaupun ia mengenal Uzumaki Karin, memangnya apa yang harus dia lakukan ? Bukankah lebih baik ia tidak mengenal salah satu siswa disekolahnya ? Agar ia bisa dengan mudah melakoni pekerjaannya dan yang pasti tidak harus pindah sekolah lagi.

Setelah satu jam lebih menemani Kakashi makan malam. Akhirnya pria itu berniat mengantarkan Sakura pulang. Namun baru seperempat perjalanan, ponsel pria yang memiliki warna mata berbeda itu berdering. Pria itu sedikit berdecak melihat caller ID yang menghubunginya.

"Ada apa ?" Tanya Kakashi to the point saat menempelkan ponselnya ditelinga

"Kenapa harus kujemput ? Kau kan ada mobil ?" Kakashi sedikit menghela napasnya ketika lawan bicaranya mulai merengek karena mobilnya baru saja masuk ke bengkel. Anak itu, kenapa tidak pernah bosan menghancurkan mobil orangtuanya.

"Dimana kau sekarang ?" akhirnya dengan terpaksa Kakashi menuruti permintaan orang di ujung sana. Toh, biar bagaimanapun dia sangat menyayangi sepupunya itu.

Setengah jam kemudian, Kakashi menghentikan mobilnya dengan mulus dihalaman parkir sebuh kafe yang bisa dibilang cukup besar. Sepertinya kafe itu merupakan tongkrongan anak muda karena pengunjungnya di dominasi oleh usia sekolah.

Cklek !

"Kenapa la- eh ?"

Sakura langsung menegakkan tubuhnya karena kaget pintu mobil disampingnya dibuka secara tiba-tiba. Begitu pula sang pelaku yang ternyata seorang gadis bersurai merah panjang dengan kacamata yang menggantung di hidung mancungnya. Gadis itu nampak membulatkan matanya namun hanya sebentar karena gadis itu langsung melengos sambil menutup kembali pintu disamping Sakura.

Gadis yang memiliki tinggi tidak jauh berbeda dengan Sakura itu segera membuka pintu mobil bagian belakang dan langsung mendudukkan dirinya disana. Gadis itu berdecih dalam hati melihat gadis yang hari ini dibawa Kakashi. Sampai kapan kakak sepupunya membayar perempuan jalang terus ? Kenapa tidak menceraikan istrinya saja kemudian menikah lagi kalau dia memang sudah tidak suka dengan perangai istrinya ?

~oOo~

Detik jarum jam seolah berpacu cepat pagi itu. Membuat Sakura harus rela berlari kencang dari stasiun Konoha menuju sekolahnya. Sepasang iris emeraldnya sukses melebar melihat gerbang sekolahnya yang mulai ditutup oleh satpam. Sakura semakin mempercepat larinya, tapi memang dasar nasibnya yang sial, gerbang sekolahnya langsung tertutup dengan rapat. Menyisakan dirinya seorang yang masih sibuk mengatur napas sambil memegangi perutnya.

Hah, ini salah alarm miliknya yang mati tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Jadi kalau sudah begini mau bagaimana ? Pulang lagi ? Nanti ibunya pasti akan bertanya aneh-aneh. Tidak mungkin ia mengatakan pada ibunya kalau dia kesiangan, sedangkan dirinya berangkat dari rumah pukul setengah enam. Ibunya kan tahunya dia bersekolah di Suna High School yang jaraknya dari rumah hanya sekitar empat puluh menit kalau berjalan kaki.

Mau ke tempat Ino juga tidak mungkin kalau dia memakai seragam sekolah. Lain kali ia harus membawa baju ganti di dalam tasnya untuk mengatasi hal semacam ini kalau terjadi lagi.

Sakura bermaksud melangkahkan kakinya kesamping ketika sepasang netra miliknya melihat seorang pemuda yang mengenakan seragam seperti miliknya nampak berdiri dengan tenang di salah satu ujung gerbang sekolah. Dia sedikit bernapas lega karena tahu bukan hanya dirinya yang kesiangan.

"Sampai kapan kau mau berdiri disana ?"

Sakura sedikit tersentak. Pemuda dengan iris kelam itu berbicara padanya kan ? Karena memang tidak ada siapa- siapa lagi selain mereka berdua.

"Kau mau ikut masuk atau tidak ? Kalau mau, ikuti aku !"

Sakura belum sempat bertanya ketika pemuda itu berjalan meninggalkannya. Tanpa ambil pusing, Sakura segera berjalan cepat untuk mengikuti pemuda dihadapannya. Ia juga tidak bertanya ketika pemuda itu mengajakknya mengelilingi dinding sekolah.

Sakura sedikit mengernyitkan alisnya ketika pemuda dihadapannya mengisyaratkan untuk ikut berhenti di depan pagar kawat yang banyak ditumbuhi tumbuhan merambat. Bahkan bagian bawahnya dipenuhi rumput liar yang bisa dibilang panjang dan juga cukup lebat.

Gadis yang memiliki dahi lebar itu menatap pagar didepannya dengan pemuda disampingnya dengan pandangan heran. Apa pemuda itu bermaksud mengajaknya memanjat pagar di depan mereka ? Tapi ini kawat, sangat berbahaya ! Kalau memang beniat memanjat kenapa tidak melewati tembok bagian samping saja ?

Belum hilang keheranan Sakura, dia melihat pemuda dihadapannya menyibak rerumputan yang menggumpal. Iris hijau Sakura hampir melompat melihat sesuatu dibalik rerumputan itu. Ada lubang besar yang tercipta disana.

"Aku sengaja membuatnya bersama kawan- kawanku. Sebelumnya aku belum pernah menggunakannya dan ini akan jadi yang pertama" Sakura mengangguk kecil mendengar penjelasan pemuda dihadapannya.

Kemudian pemuda itu membiarkan Sakura untuk masuk duluan sambil tetap menyibak rerumputan yang menutupi lubang itu. Setelah Sakura masuk, pemuda itu pun langsung menyusul dibelakangnya. Sakura sedikit tercengang melihat pemandangan didepannya. Sebenarnya dia ada dibagian sekolah sebelah mana ? Kenapa ada danau dan pepohonan besar dihadapannya ? Sepasang bibir tipis Sakura tidak bisa berhenti tersenyum menatapnya. Membuat pemuda disampingnya sedikit jengah.

"Kau seperti baru pertama kali kesini saja"

"Memang"

Sakura tersenyum kecil melihat pemuda disampingnya terlihat bingung.

"Aku belum genap sebulan bersekolah disini" jelas Sakura

"Tapi aku seperti pernah melihatmu sebelumnya tapi bukan disekolah ini" kali ini Sakura yang nampak bingung. Dia tidak ingin bertanya karena pemuda dihadapannya seperti sedang berpikir. Sepertinya dia sedang mengingat dimana sebelumnya mereka bertemu. Sakura hanya mampu berdoa kalau mereka bertemu bukan pada saat Sakura sedang pergi bersama pria hidung belang, karena dia juga merasa tidak asing dengan wajah dihadapannya.

"Ah, kau yang hari itu menabrakku"

Eh ? Sakura menaikkan salah satu alisnya. Kapan ? Dia terlalu banyak menabrak orang akhir-akhir ini. Jadi dia tidak tahu kalau pernah menabrak pemuda dengan rambut raven dihadapannya.

"Maaf aku tidak ingat sama sekali, tapi terimakasih karena hari ini telah menolongku"

"Hn. Tidak apa"

"Aku Haruno Sakura"

"Uchiha Sasuke"

Sasuke ? Sepertinya Sakura pernah mendengar nama itu. Gadis itu mengernyitkan dahinya. Berusaha mengingat.

Ah, dia pemuda yang hari itu dibicarakan teman sekelasnya kan ? Pemuda yang mengambil gambar yang entah apa ditaman sekolah ? Pantas saja wajahnya terasa tidak asing.

.

.

Sakura memakan bekal makan siangnya dengan tenang ketika jam istirahat berlangsung. Meski telinganya sesekali menangkap pembicaraan beberapa siswi dikelasnya yang lagi-lagi membicarakan Uchiha Sasuke. Sebenarnya apa kelebihan pemuda itu ? Kenapa sepertinya dia sangat populer di sekolah ini ?

"Iya, tadi kulihat Karin mengajaknya makan siang tapi Sasuke menolak"

Sakura menggigit sosis disumpitnya dengan perlahan. Karin ? Apa yang dimaksud mereka adalah Uzumaki Karin ? Sepupunya Hatake Kakashi ?

"Ya ampun, dia dingin sekali sih sampai Karin yang cantiknya berlebihan saja dia tolak"

Kali ini Sakura mengunyah sosisnya dengan lambat. Benarkah Uchiha Sasuke dingin ? Rasanya pemuda itu sangat ramah padanya. Ah, tapi peduli apa ? Itukan pendapat mereka.

Setelah makanannya habis, Sakura segera merapikan kotak makanannya kemudian berjalan keluar kelas. Bermaksud meletakkan kotak bekalnya kedalam loker.

Sakura melangkahkan kakinya kedalam ruangan loker dengan sedikit takut. Ternyata ruangan loker kalau sedang sepi terasa menakutkan. Bahkan langkah kakinya pun menggema ke seluruh ruangan menandakan betapa heningnya keadaan disana.

Dengan tergesa- gesa Sakura membuka loker miliknya yang untungnya tidak terlalu jauh dari pintu masuk.

"Sakura ?"

Sakura hampir saja menjatuhkan kotak makannya kalau saja refleknya tidak cukup bagus. Gadis itu menemukan Sasuke yang berdiri disampingnya dengan senyum tipis.

"Jadi ini lokermu ?" Tanya Sasuke sambil menyenderkan tubuhnya diloker sebelah Sakura. Tangan pemuda itu dimasukkan kedalam saku. Yah, Sakura akui kalau pemuda itu memang keren.

"Iya" Jawab Sakura singkat karena dia tidak ingin terlibat pembicaraan panjang dengan Sasuke.

"Boleh aku tahu nomor ponselmu ?"

Sakura sedikit menghela napas kemudian mengunci lokernya. Ditatapnya Sasuke dengan malas.

"Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin menjadi temanmu" kata Sasuke dengan cepat sambil menegakkan tubuhnya.

"Aku tidak butuh teman" Ujar Sakura sambil berlalu melewati Sasuke

"Mana mungkin kau tidak butuh teman ? Bagaimana kalau nanti kau butuh bantuan kemudian tidak ada yang menolongmu ?"

Sakura menghentikan langkahnya meski tidak berbalik untuk melihat Sasuke. Gadis itu memejamkan matanya sebentar. Kedua tangannya terkepal erat. Berusaha memendam emosi yang bisa meledak kapan saja.

Teman katanya ? Menolong ?

Cih, Sakura ingin tertawa mendengarnya.

Dulu ketika ia bersekolah di Ame dan Suna, banyak yang mau menjadi temannya. Namun setelah mengetahui siapa dia sebenarnya, mereka malah menjauhinya dan menghujatnya. Sakura tidak mau tertipu lagi kali ini.

"Kau akan menyesal kalau menjadi temanku" tukas Sakura sambil berjalan kembali. Meninggalkan Uchiha Sasuke yang menatap punggungnya tidak mengerti.

Selama ini semua gadis selalu mendekatinya bahkan mengejarnya dan baru kali ini dia mencoba mendekati seorang gadis yang malahan menolaknya meski ini masih tahap awal.

Entah apa yang mampu membuat Sasuke merasa begitu tertarik dengan Haruno Sakura. Sakura memang tidak secantik Karin atau seseksi Tenten. Dia hanya merasa gadis itu sedikit berbeda.

"Aku tidak akan menyerah, Haruno Sakura"

TBC