Pada dasarnya, Tuhan selalu adil pada umatnya. Saat beliau mengambil sesuatu dari hambanya, maka beliau akan menggantinya, dengan sesuatu yang lebih indah. Ketika beliau menurunkan cobaannya, maka terdapat hikmah di dalamnya. Tak semua cobaan akan memberikan kesedihan yang mendalam, adapula cobaan yang akan membuat semua tersadar akan kebesaran-Nya.

.

.

.

.

.

My Life.

Chara © MK

Rated : T

Naruhina slight Sasusaku slight Saino.

Warn : Typo, Eyd, alur mungkin cepat.

.

.

.

.

.

Terinspirasi dari '1 litre of tears'

.

.

.

.

.

.

Chapter 1 : Kemunduran Hyuuga corp.

Mereka berempat, Hyuuga Hiashi, Hyuuga Hikaru, Hyuuga Neji, dan Hyuuga Hanabi, tengah berlari melewati lorong-lorong rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit, mereka segera menuju ke resepsionist, dan bertanya akan keberadaan Hinata. Sekarang mereka tengah berusaha untuk sampai tepat waktu.

Hinata butuh pendonor darah. Mungkin ini yang paling sulit adalah saat-saat seperti ini. Dimana Hinata butuh darah, tetapi darah Hinata berbeda dari ayah, ibu, dan kakaknya. Dia sama seperti Hanabi, sangat disayangkan Hanabi belum cukup umur untuk mendonorkan darah. Sedangkan kakeknya, yang memiliki darah yang sama dengannya, telah pergi meninggalkan kehidupan ini.

Kriet!

Dokter keluar dengan pakaian yang serba hijau.

.

"Dokter! Bagaimana keadaan putriku?" Hyuuga Hiashi tampak layaknya orang yang kebakaran jenggotnya.

Sejenak, orang yang dipanggil dokter itu, menaikkan tangan menuju wajahnya, dan melepas masker yang dia pakai.

"Hyuuga-san, dia membutuhkan pendonor! Kecelakaan itu, membuat dirinya kehilangan darah." Jawabnya.

"Senpai!" kini giliran Hyuuga Neji yang berteriak.

"Oh! Neji!"

"Neji-kun, kamu mengenal dokter ini?" Hyuuga Hikaru semakin bingung dengan semua ini. Putri sulungnya kecelakaan dan membutuhkan darah, serta Neji mengenal dokter yang menangani Hinata.

"Ah, iya kaa-san. Kaa-san, Tou-san, perkenalkan dia ini senpaiku di perkuliahan, namanya Uchiha Itachi. Dia juga peraih medali emas saat olimpiade Sains Biology yang pernah aku ceritakan." Jawab Neji dengan mata berbinar.

"Hentikan ocehan bodohmu, Neji. Adikmu membutuhkan darah, bukan pengenalanku." Itachi mendengus sebal melihat kouheinya yang sibuk memperkenalkan dirinya dan lupa apa yang terjadi.

"Hahaha.. Maafkan aku senpai. Ara? Bukannya senpai memiliki golongan darah yang sama dengan adikku?" Tanya Neji, mencoba mengalihkan topik.

"Benar juga! Aku akan mendonorkan darahku!" ucap Itachi sambil menepuk pelan jidatnya.

Dan semua menjadi sweatdrop, melihat kelakuan si dokter muda itu.

"Dasar sensei baka."

Semua orang menoleh kearah Hyuuga Hanabi, umurnya yang belum menginjak 15 tahun, sudah berani mengumpat seseorang. Dipastikan, setelah ini, Hanabi akan mendapat hadiah dari sang ayah, sebuah pukulan.

.

.

.

.

Hari terus berlalu dan keadaan Hinata juga semakin membaik. Dia sudah sadar semenjak pendonoran darah berhasil. Awalnya dia selalu meminta maaf, karena telah merepotkan dan merusak jadwal. Namun, ucapan sang ibu yang ampuh, mampu membuat dirinya tenang kembali.

Setelah seminggu dirawat, Hinata diijikan pulang. Kini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga. Ko, salah satu bawahan Hyuuga Hiashi datang dengan terengah-engah.

"Tuan!" teriaknya.

"Ada apa, Ko?" Hiashi menyipitkan mata meminta penjelasan.

"Bahaya, Tuan!"

"Apanya yang bahaya?" kini Hiashi menjadi geram atas kelakuan Ko yang tidak to the point.

"Salah satu berkas penting, telah di curi oleh hacker dan perusahaan lain menyalinnya dan mempromosikannya dengan harga yang lebih murah." Ucap Ko dengan nada khawatir.

Hiashi terdiam sesaat. Produk itu, produk terbarunya, terbaiknya, dan baru akan ia promosikan. Ini bencana untuk Hyuuga corp. Kemungkinan mereka akan bangkrut, karena produk tidak laku. Matanya tertutup, dia terdiam sebentar dan memikirkan semua ini.

"Siapkan mobil, aku akan ke perusahaan sekarang juga!" titahnnya.

Ko berlari keluar dan menghilang dari pandangan Hyuuga Hiashi. Ia melangkah menuju kamar pribadinya. Begitu masuk ke kamar pribadinya, dia mengganti pakaian, dan mengambil berkas. Istrinya, Hyuuga Hikaru, membuntutinya masuk ke kamar.

"Anata, apakah ini akan berakhir buruk?" tanyanya.

"Entahlah, doakan aku!"

Hyuuga Hikaru mengangguk atas ucapan suaminya. Hiashi berlari melewati Hinata, Neji, dan Hanabi yang tengah mematung diatas sofa ruang tamu. Apakah ini akhir untuk perusahaan mereka?

.

.

.

.

Hyuuga Hiashi, berlari melewati anak buahnya yang menyapanya. Dia bergegas masuk ke ruang kerjanya dan membuka laptop kesayangannya. Membuka sebuah ruang chat yang berisikan para pembisnis yang memutuskan hubungan kerja, karena pembedaan produk. Kepalanya terasa bebal sekarang. Dia seperti orang bodoh yang kehilangan permen lollipop. Mulutnya menganga dan mata yang menatap kosong.

Ini tidak baik,pikirnya.

Hyuuga Hiashi, pemimpin Hyuuga corp. Ayah kandung dari Hyuuga Hinata dan Hyuuga Hanabi. Suami dari Hyuuga Hikaru. Ayah angkat dari Hyuuga Neji. Kakak dari ayah kandung Hyuuga Neji, Hyuuga Hiazhi. Mantan pemilik Racing community.

Dirinya bangun dari kursi kerjanya, dan berjalan menuju ruang sekretaris pribadinya.

"Kumpulkan semua pembisnis yang sebelumnya bekerjasama dengan kita." Titahnya.

"Ha'i."

.

.

.

.

.

.

Sementara di lain tempat, yaitu Hyuuga mansion, Hyuuga Hikaru terdiam di depan teras rumah. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sesekali dia memejamkan mata, seraya memijat pelan pelipisnya.

Kami-sama, kumohon mudahkan jalan kami, doanya.

Hyuuga Neji keluar dengan segelas teh herbal yang dibuatnya. Wajahnya sedikit mengeras, dia tak bisa membuat ibunya banyak pikiran seperti ini. Dia letakkan segelas teh itu, di atas meja.

Tuk!

Selembut apapun, meja dengan lapisan bagian atas kaca, akan membuat suara, jika bergesekan dengan benda lain. Hikaru membuka kelopak matanya dan menatap heran Neji.

"Ada apa, Neji-kun?" tanyanya.

"Minumlah, Okaa-san. Jangan terlalu dipikirkan, Otou-san pasti mampu menghadapi semua ini. Dia tak akan pernah membiarkan pengorbanan Hyuuga Hiazhi menjadi sia-sia." Ucap Neji dengan percaya diri.

"Arigato."

Hyuuga Hikaru menelan habis, teh yang diberikan Neji.

Kring~~~ / Drrt!Drrt!

"Eh?"

Mereka berdua tersentak bersama, tiba-tiba, kedua ponsel mereka berdering keras. Milik Hikaru ada di atas meja, sedangkan milik Neji, ada di saku celananya. Hikaru mengangkat smartphonenya, begitu pula dengan Neji.

"Aku akan ke dalam dulu, Okaa-san. Otou-san menelpon." Ucap Neji.

"Baiklah."

.

.

.

.

.

Hyuuga Neji pergi meninggalkan sang Ibu dengan ponsel yang masih berdering keras. Dia mengangkat dan mengarahkan ponselnya menuju dan telinganya.

"Ada apa, Tou-san?" Tanya Neji.

"Pergilah ke perusahaan sekarang." Hyuuga Hiashi mengucapkan itu penuh dengan tekanan.

"Kenapa terburu-buru, Tou-san?"

"Ini berakhir buruk."

Hati dan pikiran Neji, mengeras seketika. Bagaimana nasib mereka nanti?

"Baiklah, aku akan segera kesana."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Disisi lain, Hyuuga Hikaru mengangkat telpon, dari dokter Orochimaru. Dokter Orochimaru adalah pemimpin saat operasi Hyuuga Hinata, saat kecelakaan kemarin.

"Moshi-moshi?"

"Ah, Hyuuga-san? Bisakah besok, anda dan putri anda meluangkan waktu untuk melakukan scan otak?"

Tbc.

OMG!

Kenapa jadi alurnya nggak sama gini? Gomenasaiii! Ini akan hipu buat sesuai rencana awal ya.. sebenarnya, hipu pengen buat kehancurannya hyuuga corp lebih detail.,. Cuma, karena hipu itu nggak mudeng, apa itu corp, hipu nggak perjelas deh.

Kenapa klo gak tahu kok masih tambahin corp? sebenarnya hipu sering liat di fanfic lain ada yang pake corp, hipu ikut-ikutan deh.

Hipu plagiat ya? Huahahahaha… kalo dibilang iya, enggak. Kalo dibilang enggak, iya.

Oh iya, makasih ya buat yang udah mem-favorit, mem-follow, dan mereview.

Dan sekian note dari hipu. Sampai jumpa dichap depan yawww..

Mind to RnR?

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H

"Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin."