Bleach © Tite Kubo
Papa, Mama © Rizu Auxe09
Warning: AU, maybe OOC? First Fic.
Chara: Sougyo no Kotowari-centric
Chapter 2's summary: "Uang 'kan tidak datang dengan sendirinya."—Sougyo
~~~~~0000~~~~~
Papa Mama
Chapter 2: Job and Uncle
Hari sudah semakin siang dan matahari pun mulai menunggu. Dengan yukata lusuh, Sougy dan Koto melangkah keluar dari tempat persembunyiannya yang di sebutnya rumah walau matahari sedang mengeluarkan senjatanya. Tentu mereka jadi was-was, takut-takut paman ringo mengejutkan mereka dari belakang dan langsung menangkap dua bocah usil itu. Mereka menyusuri jalan dan menyapa orang dewasa lain yang juga lalu-lalang. Sebagian besar, orang dewasa itu membalas sapaan dua bocah yang terlihat lugu di luar. Akan tetapi tidak sedikit juga orang dewasa yang mengacuhkan Sougy dan Koto. Meski begitu, Sougy dan Koto tak jera menyapa para penduduk Rukongai, walau mereka sendiri juga tidak kenal dengan orang yang mereka sapa.
"Panas, Sougy-chan," keluh si Koto sambil mengipas-ngipas yukatanya.
"..sebenarnya kita mau kemana, sih?" Sougy melirik ke arah adik kembarnya yang langkahnya melambat.
"Aku juga enggak tahu, tapi aku ingin sekali pergi melihat anak-anak lain sekolah." jawab Sougy tetap tegar melawan terik matahari. Ia sendiri tetap berjalan di depan Koto.
"Hee? Sekolah? Tempat belajar dan bermain yang di ceritakan bibi Katen?" tanya Koto yang langsung di jawab dengan anggukan Sougy.
"Kau tahu, Koto-chan. Rasanya aku ingin pergi ke tempat itu." andai Sougy terlalu jauh untuk anak kecil miskin yang tak punya keluarga seperti dirinya.
"Koto-chan juga ingin sekali bisa sekolah, Sougy-chan! Tapi, sekolah 'kan harus pakai uang," Koto berseru saat kakaknya selesai berandai seolah-olah punya andaian yang , begitu memikirkan ketidakmampuan mereka ia menjadi lesu. Sougy lalu berhenti berjalan.
"Sougy-chan?" tanya Koto ngeh kakaknya berhenti di depannya. Sougy lalu menoleh ke adiknya.
"Ayo kita bekerja!" Sougy berkata dengan penuh semangat, tapi sayang semangatnya tidak di mengerti adiknya yang hanya melongo.
"Bekerja?" Sougy mengangguk cepat. Ia lalu nyengir lebar.
"Kau bilang ingin sekolah dan butuh uang 'kan? Ayo kita cari pekerjaan!" Lagi-lagi, Koto hanya melongo.
"Tapi bekerja itu apa?" tanya Koto yang masih belum puas akan jawaban anak kecil yang lebih tua darinya—atau memang saja dia yang tidak mengerti arti bekerja. Sougy menghela nafas. Ia merasa harus benar-benar memutar otaknya lebih kencang.
"Itu loh, yang di lakukan Bibi Katen buat mencari uang supaya bisa makan. Uang 'kan tidak datang dengan sendirinya." Ternyata, pemikiran Sougy yang masih berumur 6 tahun sudah lebih matang dari adik kembarnya. Koto langsung memukulkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.
"Oh, itu yang namanya bekerja, ya?" Sougy hanya merutuki adiknya dalam hati. Baru mengerti dia.
"Tapi, dimana kita akan bekerja, Sougy-chan?" tanya Koto lagi. Sougy terlihat berpikir keras. Tak lama kemudian raut wajahnya berubah dan berlagak menjetikkan jarinya.
"Bagaimana kalau kita membantu paman ringo?" Sougy menyatakan pendapatnya. Koto terkejut bukan main.
"Eh?! Di tempat paman ringo? Tapi 'kan, paman ringo jahat sama kita, Sougy-chan. Ingat pagi tadi 'kan? Aku enggak mau!" tolak Koto menta-mentah. Sougy menyilangkan kedua tangannya.
"Itu 'kan memang salah kita, Koto-chan! Kita 'kan enggak bayar, dan kita harus ngembaliin apel-apelnya paman ringo." terang Sougy sedikit kesal mendengar kepolosan Koto terus-menerus.
"Tapi, kalau apel-apel itu dikembaliin, kita makan pakai apa?" tanya Koto dengan harapan bisa merubah hati kakaknya.
"Untuk itulah kita bekerja, adikku! 'Kan paman ringo juga dapat apel-apel itu dengan uang. Makanya, untuk dapat apel itu kita harus kerja terlebih dulu!" Koto tercengang mendengar penjelasan Sougy bertubi-tubi yang bahkan tidak diterangkan Katen.
"Tapi,"
"Koto-chan juga mau sekolah 'kan?" Belum sempat Koto mengeluarkan protesnya atas penjelasan-yang-tidak-dimengerti milik anak kecil berfisik sama dengannya, Sougy sudah memotongnya dan tersenyum di akhir kalimatnya. Mata si Koto-chan membesar mendengar kata-kata 'sekolah'.
"Mau! Koto-chan mau sekali, Sougy-chan!" serunya senang.
"Kalau gitu, kita harus dapat uang dari bekerja di tempat paman ringo, ya!" bujuk Sogy sekali lagi, dan membuahkan hasil yang membuat hatinya berkata 'yes' saat adiknya mengangguk.
"Nah, sekarang kita pulang dulu ya. Kita ambil apel-apel milik paman ringo dan meminta beliau menerima kita jadi pekerjanya." Sougy lalu berjalan, berlawanan arah dari jalan yang ditelusurinya dan Koto. Koto mendengus pelan, tapi tak lama kemudian dia tersenyum dan berlari kecil menyusul kakaknya.
Di tempat tak jauh dari perdebatan Sougy dan Koto, seorang gadis mungil berambut coklat panjang mengenakan yukata putih dengan corak kupu-kupu menoleh ke arah Sougy dan Koto yang sudah berjalan cukup jauh dari tempatnya.
"Mereka ingin sekolah, ya?" gumamnya pelan.
~~~~~0000~~~~~
Sougy dan Koto akhirnya memutuskan bekerja (walau sebenarnya, Sougy yang memaksa untuk bekerja). Mereka memutuskan mengunjungi paman ringo yang ganas pada mereka. Sambutan dari pemilik toko apel itu pada dua anak kecil yang polos pun mulanya tidak menyenangkan. Namun, begitu melihat dua plastik besar dengan banyak apel di dalamnya, paman ringo pun dapat memaafkan mereka dan menerima mereka.
"Makanya, lain kali kalau mau apel, bawa uang!" nasihat paman ringo. Sougy dan Koto hanya terkekeh-kekeh. Lalu, Sougy pun teringat pada niat awalnya.
"Paman," panggil Sougy kemudian.
"Kami ingin bekerja di sini!" Paman ringo mulanya terkejut, dan menolak dengan halus permintaan Sougy.
"Kalian 'kan masih kecil, lebih baik kalian sekolah dulu." dalih paman ringo. Mendengarnya, raut wajah Koto menjadi sedih. Melihat adiknya yang sedih, Sougy langsung bersujud di depan paman ringo.
"Tolonglah, paman. Kami tidak punya uang, walau kami ingin sekali sekolah. Jadi, kami, terutama aku memohon pada paman. Terimalah kami!" paman ringo cukup tercengang dengan pernyataan si sulung. Anak sekecil ini sudah mau bekerja demi sekolah? Paman ringo lalu tersenyum bangga. Ia kembali mengingat anak-anaknya yang sudah sukses bekerja di Seireitei.
"Baiklah, aku menerima kalian." Paman ringo akhirnya setuju, membuat Sougy dan Koto tersenyum lebar.
"Benar?" Paman ringo mengangguk.
"Mulai besok kalian bisa bekerja sekaligus sekolah." Tambahnya. Tiba-tiba senyum di wajah Sougy dan Koto hilang mendengar baris kalimat paman ringo.
"Ada apa?" tanya paman ringo yang menyadarinya.
"Kami 'kan masih tidak punya uang. Jadi, mana bisa kami pergi sekolah?" tanya Koto lugu. Paman ringo tertawa.
"Kalian tidak usah khawatir. Di daerah dekat sini baru saja di buka sekolah gratis oleh seorang konglomerat yang datang dari Seireitei. Bagaimana kalian tertarik? Kalau tertarik, besok siang, paman akan mengantar kalian kesana." Paman ringo menawarkan sebuah peluang emas bagi impian dua saudara di hadapannya. Mendengarnya, Sougy dan Koto langsung tersenyum lebar. Mereka lalu berlari menerjang kaki-kaki kurus paman penjual apel itu.
"Terima kasih, paman ringo!" seru mereka senang.
"Sama-sama, anak-anak. Tapi mulai sekarang panggil bos kalian ini Paman Zangetsu atau Bos!" kata paman ringo yang bernama aslikan Zangetsu. Sougy dan Koto sama-sama mengangguk dan bersenda gurau bersama paman baru mereka.
~~~~~0000~~~~~
"Aku pulang!" seru seorang gadis mungil dengan jepit rambut bunga sakura begitu menggeser pintu depan rumahnya. Seorang pria bertubuh besar juga menyertainya.
"Selamat datang, Tobiume, Gegetsuburi," Lalu muncul seorang wanita cantik menggunakan kimono berwarna putih menyambut kedatangan gadis itu dan pria berambut merah. Setelah bercipika-cipiki dengan ibunya, gadis bernama Tobiume itu lalu menceritakan pengalamannya berbelanja di pasar Rukongai. Tak lupa menceritkan perihal keinginan dua saudara kembar berambut abu-abu untuk sekolah.
"Benar loh, bu. Mereka ingin sekali sekolah. Aku kasihan mendengar mereka terus mengeluh karena tidak punya uang untuk sekolah." kata Tobiume mengakhiri cerita panjangnya. Sang ibu yang cantik jelita dengan rambut putih yang senada dengan kimono-nya mengangguk-angguk.
"Kamu tahu di mana mereka tinggal? Kita bisa mengajak mereka belajar di sekolah kita." Saran sang ibu. Tobiume menggeleng pelan dan beraut wajah sedih.
"Enggak, bu. Tadi, aku tidak sempat bertanya." sesal Tobiume. Sang ibu lalu memeluk putri mungilnya.
"Tidak apa-apa, besok kita tunggu saja di sekolah, ya." hibur wanita berambut panjang itu. Tobiume hanya mengangguk di pelukan ibunya. Mereka lalu saling berbincang-bincang dan berjalan di lorong rumah yang terlihat paling mewah di Rukongai itu.
Keinginan yang kuat, pasti akan membuahkan hasil yang baik
Sekolah, hanya itu keinginan dari dua anak kecil yang miskin
End Chapter 2
~~~~~0000~~~~~
Chapter kedua dari cerita Papa Mama ini.
Tetap RnR ya. Kritik, saran dan flame di persilahkan.
Balasan review anyonym:
Ruki_ya: Yup, Rizu suka banget HitsuRuki, baru IchiRuki. Ini multichip kok, buktinya di updet. ^^
Aihara Zala: Ahaha, enggak apa-apa kok, Aihara-san. Nanti juga lama-kelaman ngerti. XD
Zen-zen: Eh? Bener? Tenang aja, masih lanjut kok, mbak, walau tahu sendiri sekolah keak gimana haha~ *di lempar buku*
