TORIKAGO
By Cavelya
Cast : Uzumaki Naruto - Hyuga Hinata, Uchiha Sasuke - Haruno Sakura, Sai - Yamanaka Ino, Nara Shikamaru - Sabaku no Temari
Disclaimer : Masashi kishimoto
Warning : AU, OOC, 20, Semi-Mature
Summary : Can you stop this feeling?
DLDR!
.
.
Hinata POV
Tsuyu telah berakhir di paruh pertama bulan juli dengan cepat, secepat liburanku yang hanya dapat di hitung dengan jari. Sabtu dan minggu dalam festival Tanabata terjadi begitu buruk di awal bulan, merusak rencana Temari saat menyusun libur sekolah musim panas dua pekan mendatang.
Kakekku sebabnya, datang tak terduga dengan kalimat yang menghancurkan ikatan dua remaja tanggung temanku. Sedang aku yang sebagai masalah.
Amethyst-ku masih saja pilu kala melihat keduanya saling menjauh. Bagai Pungguk Merindukan Bulan itulah yang kurasakan, hingga tawa berat, lemparan joke bahkan kalimat sarkastis dari mulut keduanya yang dulu di anggap mengganggu kini mulai di tunggu-tunggu.
"Hinata? Ada apa?" tanya Temari-senpai. Irisnya yang meneduhkan menatap prihatin kepadaku.
Lalu ku jawab dengan gelengan pelan sambil memainkan hashi yang ada di atas mangkok. Aku bahkan hampir melamun lagi, jika kekasih Ino datang bersama dengan Naruto.
Tiba-tiba insekuritasku berkuasa, hatiku berdebar sakit ketika senyum lima jarinya di umbar ke orang lain. Aku menunduk kecil, lantas membandingkan diriku dengan Shion, Sara dan Amaru. Classmate-ku yang cantik dan fashionable.
Ku alihkan perhatian sambil menahan air mata. Tapi pikiranku merujuk pada kata-katamu saat tertiupnya api di atas kue ulangtahun dalam sweet seventeen-ku.
Hinata, coba khayalkan sejenak sepuluh tahun ke depanmu.
Yang ku bayangkan adalah ada kau dan aku berdiri di atas puncak sebagai suami istri yang bahagia.
Ah, Naruto, kenapa kisah cinta kita begitu rumit? Andai saja aku memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu, apakah kau akan mempertahankanku? membawaku pergi bersamamu?
Air mata yang kutahan mulai terurai menjadi isakan pelan. Keheningan lalu menjadi momok menakutkan saat tatapan mereka melihatku.
Pergi adalah jalan terbaik untukku, berlari sudah sering aku lakukan. Tetapi entah untuk alasan apa, aku berdiri di atas kakiku yang bergetar dan menatap Naruto yang masih tertegun di tempatnya duduk.
Saat itu Sasuke yang kebetulan lewat mulai menghampiriku, Naruto tertarik untuk berdiri dan menatap curiga.
Tidak Naruto, jangan berfikir seperti itu.
Kini agar tidak semakin rumit, seraya menghela nafas panjang dan mengabaikan air mata yang menggenang di pipi. Aku mulai berbicara,
"Bukankah aku tampak menderita? Katakan padaku Naruto-kun, kau juga melihatnya bukan?"
Semua orang terkesiap, Ino bahkan menutup mulutnya ngeri. Aku tahu, seorang pendiam sepertiku terlihat luar biasa dapat berbicara di depan khalayak ramai.
Tapi aku tidak peduli, yang ku pedulikan adalah raut wajah Naruto yang merasa menyesal.
"Paling tidak katakan pada kakekku, bahwa kau mencintaiku."
Dengan setengah berlari, aku keluar kantin menuju toilet. Meninggalkan Naruto yang terhenyak saat tangisku semakin pecah.
Paling tidak aku sudah mengatakannya, ujarku dalam hati.
.
Naruto POV
"Aku tidak mungkin menikahinya, Naruto." Itu suara Sasuke.
Jantungku nyaris berhenti ketika mendengar suaranya. Satu minggu yang tragis, menahanku untuk bertahan dalam diam saat dia ada.
Aku lantas menghela nafas panjang begitu lega. Emosi yang ku pendam terpental keluar ketika suara beratnya kembali terdengar.
"Mana mungkin aku menerima hal merepotkan seperti itu, dobe." Sasuke tersenyum tipis dan aku menyeringai kecil. Dia memberikan kepalan tangannya ke arahku yang ku sambut baik dengan melakukan hal sama.
Aku tidak tahu jalan pikiran Sasuke yang kini melupakan image cool dan poker facenya. Tapi yang aku tahu, bagaimana keadaannya. Pemuda raven itu tidak mungkin menghianati sahabatnya sendiri.
"Katakan pada Iruka-sensei, kami tidak akan masuk kelasnya hari ini!"
Ino menepuk kening sambil geleng-geleng kepala. Merasa lucu dengan apa yang ku ucapkan. Sambil lari mundur yang tak wajar, aku pun berteriak pada Ino.
"Ino, jangan lupa izinkan untuk Hinataku." Aku hanya ingin mempertegas kalimatku sebelumnya, 'kami' yang ku maksud adalah aku dan Hinata. Sekaligus mempertegas bahwa gadis cantik bersurai indigo itu adalah milikku.
"Dan kau, Teme. Jangan harap kau ku lepas begitu saja."
Setelah itu aku pun berlari dengan benar. Menuju toilet wanita dimana Hime-ku berada, beruntung Shino memberitahuku saat berada di koridor.
Aku pun menunggu di depan pintu, menunggu hingga sesak di dadanya berkurang karena ulahku. Seperkian menit kemudian, tubuhnya yang elok keluar dan irisnya yang mempesona menatapku terkejut.
"Jangan menangis lagi, ayo kita pergi sekarang! Ada yang harus ku beritahukan pada Hamura-Ojiisan!" ku menarik lembut tangannya, meskipun geraknya enggan untuk pergi.
"Beri aku kesempatan untuk membuktikannya, akan ku minta Otousan dan Kaasan datang pula, jadi Hinata ikutlah denganku."
.
Sasuke POV
Aku meninggalkan kelas begitu saja sebelum Iruka-sensei datang, kaki-kakiku melangkah dengan sendirinya ke dalam lapangan basket indoor sekolah.
Sampai disana, yang ku dapati Shikamaru telah di culik mimpi dan kelas dua belas yang sedang bermain basket. Terlihat seperti biasa, Iris Jade Temari yang selalu diam-diam menatap ke arah bocah nanas tersebut.
Aku mendengus bosan, tapi bukannya keluar, yang ku lakukan kini mulai duduk di bangku penonton.
Tidak peduli, merusak acara tidur Shikamaru dengan suara berisik gadis-gadis satu tingkat di atasnya. Aku mulai menutup mata, yang ku bayangkan pertama kali adalah surai lembut merah muda dan bibir mungil itu.
Pride Uchiha yang membelenggu ku seolah hilang dengan senyum lebar yang ku berikan padanya malam itu.
Seolah tidak bisa menjaga perilaku anehku, aku terus tersenyum lebar bahkan sekarang. Membuat Shikamaru yang kebetulan terbangun di saat bersamaan dengan teriakan membahana gadis-gadis, bergumam merepotkan.
Trademark yang selalu dia gumamkan rupanya mengundangku berpikir bahwa Cinta rupanya memang merepotkan.
Aku tersenyum lagi, karena gadis musim semi lagi-lagi merasuki pikiranku. Bagaimana dia bergerak gelisah dengan yukata-nya yang terlihat Indah di tubuhnya, atau ketika wajahnya yang cantik bersemu merah karena malu.
Sayang, aku tidak tahu siapa namanya, umurnya bahkan kekasih, apakah dia memilikinya?
Tunggu—
Aku tersenyum masam tiba-tiba, membayangkan gadis musim semi itu di miliki orang lain. Tanpa alasan yang jelas, aku mulai beranjak pergi.
Mengambil ponsel android dan menelepon seseorang yang bisa membantuku.
"Itachi-nii, aku akan ke rumahmu sekarang."
Ternyata Izumi-nee yang mengangkatnya, tertawa kecil mendengar kalimat singkatku. "Boleh, saja. Sasuke, datanglah ke Osaka."
TBC
At least, sory for typo.
