Maaf ya baru sempat update ^^ Chouchou habis ujian, dan mood writingnya tidak seberapa bagus, jadi maaf kalau chapter ini hanya segini... Kalau kalian suka, mohon saran dan masukannya, ya~ Thanks and enjoy!
Chapter 2
My Heart Breaks
" Hng...," Rin menguap sambil membuka matanya. Badanku menjadi kaku. Bagaimana mungkin, timing yang sangat hebat ini? Aku tertangkap basah sedang mencium Rin... Bagaimana ini... Ah, yang penting sekarang aku harus segera duduk di tepi tempat tidurnya, yang penting jangan dengan posisi seperti ini dong!
" R-Rin, anu, ini...," aku tergagap. Dalih apa yang bisa aku katakan sekarang untuk menutupi kegugupan dan juga perasaanku? Apakah Rin akan menyadarinya? Walaupun termasuk anak yang tidak peka, tapi kalau seperti ini caranya, pasti Rin akan menyadari perasaan 'menyimpang'-ku. Sebuah ide terbesit di benakku kemudian.
" Aku kangen kamu, Rin... Dulu kita sering mengucapkan selamat tidur dengan cara mencium pipi kan? Jadi, tadi itu aku hanya...," aku menghentikan diriku sendiri ketika melihat Rin yang segera menarik selimutnya dan berbalik membelakangiku. Aku tunggu dia mengatakan sesuatu, mencaciku atau semacamnya. Namun ternyata Rin hanya diam saja. Dia tidak berbalik lagi menghadapku. Dia terus membelakangiku.
" ...Maaf," menyadari kecilnya kemungkinan Rin yang marah akan menanggapiku, aku pun memutuskan untuk menyerah dan masuk kembali ke kamarku. Besok pasti akan kujelaskan semuanya kepada Rin. Tapi tunggu! Mungkin saja Rin akan melapor ke orangtua kami mengenai sikap menyimpangku ini. Atau bisa saja ia membenciku dan akan menjauhiku. Bagaimanapun usahaku, bagaimanapun caraku berdalih, hubungan kami pada akhirnya pasti akan hancur...
Because a ' bond' is just too fragile
It's just like a fragile glass...
Which will break immediately
If I touch it...
Pagi telah tiba. Seorang remaja berambut pirang yang hampir berusia 15 tahun itu segera mengambil jam wekernya, walaupun jam itu belum berbunyi. Ia menatap jam dengan tatapan tidak percaya. Dengan cekatan ia pun memutuskan untuk meletakkan jam itu kembali dan masuk ke kamar mandi. Ia tidak bisa tidur. Tidak setelah apa yang terjadi tadi malam. Bayang-bayang bersalah dan ketakutannya itu menghantuinya.
Dengan perlahan, Len menuruni tangga. Aroma roti panggang yang khas yang diciumnya begitu ia hampir turun ke lantai pertama membuatnya merasa bahwa semuanya berjalan seperti biasa. Seakan-akan kejadian tadi malam itu tidak pernah terjadi.
" Ah, Len, kamu sudah rapi! Ayo makan dulu," kata Ibu sambil tersenyum dengan lembut. Sesaat, Len merasa sangat lega mendengar suara lembut ibunya dan melihat senyum ibunya yang sangat mirip dengan senyum Rin, adiknya itu. Dengan patuh Len duduk dan mulai memakan roti jatahnya saat terdengar suara yang membuatnya tegang dan terduduk kaku.
" Ohayou, Okaa-san! Ohayou, Len-kun! (Selamat pagi, Ibu! Selamat pagi, Len!)," seru gadis itu seraya mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Gadis itu tersenyum dan membungkuk ke arah Len. Membuat Len dapat merasakan basahnya rambut Rin, dan aroma shampoo Rin yang sangat disukainya. Juga wangi perempuan. Dari Rin, adiknya. Sesaat ia merasa bahwa jantungnya akan berhenti.
" Wah, hari ini roti panggang, ya? Seperti biasa, ya! Hehe...," Rin pun mengambil tempat duduk di sebelah Len. Len menahan nafasnya was-was.
" Ano, Rin...," Len berusaha untuk berbicara dengan benar tanpa tergagap karena ketegangan yang ia rasakan.
" Ah, Len! Kitte, kitte! (dengar, dengar!)," Rin memotong kalimat Len dan mulai mengoceh dengan suara riangnya, " tadi malam aku bermimpi! Aku bermimpi ketika masih kecil, saat kita tidur bersama, kita akan saling mengucapkan selamat tidur dengan ciuman di pipi! Aaah, kangennya! Kenapa aku tiba-tiba memimpikan hal itu lagi ya?"
Len tertegun. Rin memang benar-benar anak yang lugu... Namun di dalam hatinya, ia merasa lega karena adiknya hanya mengira kejadian semalam itu mimpi. Len menghela nafasnya, ia merasa lega sekali. Namun ia masih khawatir bahwa ia akan mengulangi hal yang ia lakukan tadi malam. Bahkan, lebih...
"Ehm, itu...," Len tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya terus menunduk, tak berani menatap wajah Rin. Biarlah... lebih baik kalau dia menganggap semuanya mimpi... Jangan sampai ketahuan... Perasaanku... ini...
"Ehehe, mungkin karena aku membahas masa kecilku dengan Kaito-kun, yaa?" Rin tertawa bahagia sambil melahap rotinya. Wajahnya yang terlalu polos membuatnya terlihat lebih muda, atau lebih tepatnya terlihat lebih kekanakan. Rin melahap rotinya sambil terus berbicara, " Hey, Len~ kamu punya cewek yang kamu sukai, nggak? Kalau kau punya, kasih tau aku yaa! Aku pasti akan mendukungmu, habis aku ingin kamu bahagia seperti aku dan Kaito—"
BRAK!
Belum sempat Rin menyelesaikan kalimatnya, Len menyelanya dengan pukulan keras pada meja. Rin yang sedang asyik memakan roti dan tertawa riang sambil ngobrol itu tertegun. Rotinya jatuh kembali ke atas piring, untung saja dia meletakkan piringnya tepat di bawah tangannya. Sementara itu, Ibu yang sedang menyiapkan bekal untuk Ayah segera berhenti dan menatap tajam ke arah Len.
" Apa-apaan kamu, Len-," kata Ibu sambil terkesiap. Len belum menyentuh makanannya sedikitpun dan dengan tatapannya yang marah, menatap balik ke arah Ibu. Kemudian Len menatap Rin—dan ia melihatnya. Tatapan ketakutan dan tertegun yang tampak dengan jelas dari wajah Rin.
"..kh," Len menggertakan giginya. Apa-apaan aku ini... Len segera mengambil tasnya yang ia letakkan dekat kursinya dan pergi menjauhi meja makan. Ia berhenti saat menyadari bahwa kedua wanita itu masih menatap ke arahnya dan siap akan menegur jika ia tidak mengatakan sesuatu.
" Aku... ingat kalau ada janji dengan teman... Aku berangkat duluan... Maaf, aku makan di sekolah saja," kata Len terbata-bata sambil berusaha terlihat alami. Setelah mengatakan kalimatnya, ia segera berlari keluar rumah, tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada lawan bicaranya untuk memberi tanggapan. Len berlari sekencang-kencangnya dan berhenti ketika dia kehabisan nafas dan tenaga. Tentu saja ia tak punya banyak energi untuk berlari pagi, makanannya tak ia sentuh sedikitpun, namun anehnya ia sudah berlari cukup jauh dari rumah. Ia berkeringat keras, wajahnya pucat.
.
..
...
Len membungkukkan badannya dan berusaha menghirup nafas dalam-dalam sambil terengah-engah. Ia menutupi mulutnya dan meninju tembok bata yang kebetulan berdiri kokoh di sebelahnya.
" Apa-apaan aku ini...," kata Len pelan, dan dalam benaknya terbesit gambaran Rin yang dengan riangnya menggandeng tangan Kaito, " aku ini benar-benar... BODOH!" Teriakannya bergema di jalan yang masih sepi.
Aku benci. Aku benci melihat Rin bahagia dengan orang lain. Aku tak mau. Ini tak bisa diterima. Kenapa Rin tak pernah sadar akan perasaanku terhadapnya? Apa aku tak masuk hitungannya karena aku saudaranya? Kenapa... kenapa aku harus ditakdirkan menjadi kembaran Rin? Aku kan satu-satunya orang yang paling mencintainya! Hanya aku yang bisa membahagiakan Rin! Ini sungguh tak adil! Wajah dan tawa polosnya itu... aku sangat menyukainya... Aku ingin... menodai dan merusak kepolosannya itu-...
DEG!
HAH!
Terkesiap dari pikiran gelapnya, Len terkejut. Ia terkejut dan tak pernah menyangka bahwa dirinya akan berpikiran seperti itu. Air mata mengaliri pipinya, wajahnya memerah.
"Aku... memang tak pantas... untuk Rin... Apanya... APANYA YANG HANYA AKU YANG BISA MEMBAHAGIAKAN RIN?" Len meninju tembok yang keras itu berulang kali, " Aku bahkan ingin menghancurkan hubungan kami! Ingin membeberkan semuanya dan melukai Rin yang polos! Aku ini... Aku ini...!" Len berhenti saat merasakan sakit yang menjalari tangan kanannya yang sudah berdarah-darah akibat jotosan keras ke tembok yang tak bersalah itu.
Len menengadah ke atas, " Tuhan... kenapa... Kenapa jadi begini? Apa yang... harusnya kulakukan?" Air mata membanjiri wajahnya. Dengan tangan kirinya yang masih belum bernoda, ia menutupi wajahnya yang merah dan mungkin sudah tak rapi lagi karena tangisannya.
Andai aku tahu akan jadi seperti ini, lebih baik aku tak usah lahir saja sekalian... daripada aku tak bisa memilikimu...
.
.
.
"...Len...," Rin tiba-tiba menengadah ke langit dengan wajah serius. Kaito yang berjalan di sisinya terdiam sejenak.
" Ada apa, Rin?" tanya Kaito. Rin segera menoleh ke Kaito dan melemparkan senyum polosnya.
" Nggak apa-apa, kok! Yuk, ke sekolah!" kata Rin dengan riang. Len... kenapa dia akhir-akhir ini yaa?
To be continued...
Reviews are warmly welcomed! ^^ See you in the next chapter~
