Sebelumnya terima kasih semuanya atas reviewnya, saya sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya. Saya sudah mencoba untuk mengedit ulang chapter sebelumnya dan semoga hasilnya menjadi lebih baik.
Fic ini adalah fic terjemahan dari fanficBirds Tell a Story,created by MadokaKotone, published on 18-08-2007 and finished on 22-08-2007.Saya sudah mendapat izin dari author aslinya. XD
.
.
Disclaimer: Saya gak bisa gambar jadi saya bukan Tite Kubo.
Genre: Romance
Pair: Kurosaki Ichigo dan Kuchiki Rukia
Rated: T
.
~ Birds Tell a Story ~
.
Chapter 2: Apa yang Rukia lihat
Rukia hanya bisa diam terpaku. Ia pun melonggarkan cengkeramannya di kemeja Ichigo. Apakah percakapan itu yang ia dengar di malam itu? Kata-kata yang sangat tajam itu, ternyata bukan untuknya? Sekarang, Ichigo harus tahu kebenarannya karena Rukia merasa sangat sengsara karena tidak bisa berada di samping Ichigo. Rukia pun menolehkan kepalanya, sedikit berbisik, "Jadi… apa yang kau katakan?"
-Ichigo's Situation-
Shinigami daiko ini menatap Rukia dengan alis yang dinaikkan. Rukia sedang mencengkeram bajunya tetapi matanya melihat ke arah lain. Wajahnya? Masih dengan ekspresi yang sama. Gadis mungil ini pun masih terdiam. Padahal, biasanya Rukia akan memaksanya untuk menjawab, tidak peduli jika ini adalah hal penting atau tidak. Sekarang, ia bahkan tidak memaksa Ichigo untuk menjawab. Rukia malah terlihat sedikit… tertekan.
Ichigo mendesah, ia tahu Rukia tidak akan suka dengan jawabannya, tetapi adakah cara lain untuk mengajak Rukia bicara? Bahkan bisa bersama dengannya lagi, seperti ini, sudah cukup baginya, "Karena aku merindukanmu,"
"Apa?"
Ichigo menjadi panik. Ia segera menjawab kembali sambil mengibaskan tangannya di udara, "Uhh, lupakan saja! Lupakan! Hehe heehee," … lalu Ichigo menjitak kepalanya sendiri. Sial, apakah baru saja aku mengatakannya keras-keras? Kau benar-benar bodoh, Ichigo, bisa-bisanya melontarkan kata-kata seperti itu! Kau tahu Rukia tidak menyukaimu jadi lupakan saja!
"Aku harap dia juga merindukanku," Ichigo segera menutup mulutnya dan memutar badannya sebelum Rukia dapat melihat mukanya yang memerah seperti perempuan yang sedang jatuh cinta. Tidak mungkin ia bisa bersikap seperti itu juga. –Lalu ia membayangkan Kon di pikirannya, sedang memarahinya habis-habisan. Ia pasti akan bilang: AH! Bakabakabaka Ichigo! Kau sangat payah! Bagaimana bisa kata-kata itu bisa keluar dari mulutmu? Oi, bagaimana kau bisa mendapatkan Rukia kalau begini caranya, huh?Ichigo tidak memperhatikan Rukia yang berada di balik punggungnya. Ia pun merengut dan memutar matanya. Sekarang aku berpikir seperti Kon?
-Rukia's Situation-
Rukia berdiri di sana sambil melihat seekor burung berwarna putih terbang menuju sebuah pohon. Daun-daun di pohon itu berguguran karena getaran yang disebabkan oleh sayap burung itu. Burung itu tidak peduli jika daun-daun itu gugur olehnya, karena ia langsung melesat ke dahan yang lain dan mendarat di samping seekor burung lain dan segera memeluk burung itu.
Saat itu, Rukia mendengar Ichigo bergumam, "Karena aku merin- mu,"
Rukia menaikkan alisnya, ia tidak menangkap apa yang barusan Ichigo katakan, "Apa?"
Ichigo mengibaskan tangannya di udara dan berbicara dengan gagap, "Lupakan saja! Lupakan!" …Lalu Ichigo menjitak kepalanya sendiri.
Rukia sweat-dropped. Dasar orang aneh… tetapi… hal itulah yang aku rindukan darinya.Rukia tersenyum dan ia kembali menonton aksi burung tadi, sepenuhnya ia lupa bagaimana dan mengapa ia datang ke sini lagi dengan Ichigo.
Ketika angin bertiup, daun-daun mulai berguguran lagi di sekitar burung-burung itu. Lalu salah satu dari burung itu mengembangkan sayapnya, menandakan ia akan segera terbang. Burung yang satunya, yang baru saja mendarat, menghentikan burung yang mau terbang itu dengan paruhnya. Pelan-pelan Rukia membuka mulutnya, tenggelam melihat bagaimana burung-burung tadi beraksi. Saat itu, burung yang berwarna putih yang tadi mengembangkan sayapnya, mencoba untuk mengusir burung itu pergi. Usaha itu sia-sia karena burung yang satunya itu tidak mau mengalah.
Di samping kanannya, Rukia mendengar gumaman, "Dan aku harap dia juga merindukanku," Rukia memutar kepalanya. …Dia? Siapa 'dia'?
Namun yang dilihat Rukia hanyalah Ichigo yang sedang berdiri membungkuk, kedua lengannya dilipat. Rukia menghela napasnya, Pasti, dia itu adalah Orihime.
Matanya kembali ke burung-burung tadi, lalu ia berpikir, Kenapa aku merasa seperti ini?
Burung yang sedang diusir tadi masih tidak juga mau bergerak.
Rukia mulai merasa sesak, ia mengangkat tangannya ke dadanya, Perasaan… yang ada di dalam dadaku ini… sangat menakutkan..
Burung yang sedang mengusirnya kini mencoba lagi memaksanya untuk keluar, menyenggol burung itu hingga ke tepi dahan.
Air matanya mulai terancam untuk keluar, Burung-burung itu… Aku sudah mendorong Ichigo untuk pergi… Di Soul Society… dan sekarang.. di dunia ini…
Menyerah, akhirnya burung yang diusir itu terbang ke dahan lain, dan burung yang satunya ikut mendarat di belakangnya, burung itu tidak henti-hentinya mencoba untuk mengusirnya.
Yang hanya Ichigo ingin lakukan adalah melindungiku… tetapi… aku menyuruhnya pergi… dan sekarang…
Akhirnya karena burung itu merasa tidak diinginkan, burung yang diusir itu pelan-pelan menjauh dari burung satunya, dan terbang meninggalkan dahan itu.
Tetesan air mata mengalir di pipinya saat Rukia menyadari, Dia sudah meninggalkanku… Maafkan aku… Aku melakukannya untukmu, Ichigo. Kita tidak seharusnya bersama, karena… ini untuk kebaikan kita bersama.
-Ichigo's Situation-
Ichigo mengambil napas dalam-dalam, ia akan mengatakan kepada Rukia apa yang baru saja dikatakannya, Aku tidak peduli jika kau tidak menyukaiku, tetapi kau perlu untuk tahu kebenarannya.Ichigo membalik tubuhnya, "Baiklah, aku bilaaa…"
Rukia sedang menangis. Pria itu pun menganga lebar, lalu mengikuti arah pandangan mata Rukia ke pohon yang berada di kejauhan sana. Ichigo merasa heran, Apa yang sedang dilihatnya? Tidak ada apa-apa disana.
Dengan kerutan permanennya, ia kembali melihat Rukia, dan Rukia sudah berlari melewatinya, dengan air mata yang masih mengalir, ia berbisik di telinganya, "Maafkan aku, Ichigo!"
Kurosaki Ichigo hanya bisa memandang punggung itu dari kejauhan. Ia memanggil Rukia untuk kembali. Rukia tidak boleh pergi kali ini tanpa tahu kebenarannya, "Rukia! Rukia!"
-Di dalam kelas-
"HEIII! ICHIGO? DIMANAKAH ENGKAU BERADA ICHIGOOOO?" Suara Keigo menggema di telinga teman-teman sekelasnya yang sangat malang. Ada yang memegangi kepalanya, dan ada juga yang menutupi telinga mereka.
Mizuiro menghela napas dan membuka telepon genggamnya, "Mungkin bersembunyi darimu… Asano-san,"
"AYIII, LAGI-LAGI KAU MEMAKAI KATA-KATA SOPAN! AKU TIDAK BISA MENAHANNYA LAGI!" Keigo menyambar sebuah meja dan mengangkatnya di atas kepalanya, "AKU AKAN MEMUKULI ICHIGO BEGITU IA TIBA DISINI, DASAR ANJING PEMALAS! DAN YANG TERBURUK ADALAH MUNGKINIAMENGAJAKKUCHIKI-SANBERSAMANYAJUGA-"
"URUSAI, BAKA!" Tatsuki memukul kepala Keigo, memaksanya untuk menaruh kembali meja yang ia angkat… dan membiarkan meja itu jatuh di atas kepala Keigo.
Yang bisa anda lihat hanyalah tangan Keigo yang menggapai-gapai ke segala arah, "I-i-i…itai. Arisawa-san… terlalu keras…"
Gadis tomboy itu mengejeknya, "Tidak keras untuk semua orang, itu hanya untuk orang payah sepertimu," lalu ia mendengar desahan keluar dari mulut Inoue di belakangnya. Tatsuki berputar dan menaruh tangannya di bahu Inoue, "Orihime, daijoubo ka?"
Inoue mengangguk dan tersenyum, menutupi kekecewaannya mengapa Kurosaki-kun-nya dan Kuchiki-san belum datang. Lalu ia membuat alasan dengan mengibaskan tangannya, "Tentu saja, Tatsuki-chan! Aku sudah membuat bekal yang sangat special hari ini! …Tetapi… Aku meninggalkannya di rumah… jadi aku mengirim pasukan robot yang tidak bisa dilihat dengan sayap untuk membawanya kepadaku!"
Lalu ia menaruh jari di bibirnya, memikirkan apa yang akan ia katakan selanjutnya, sementara Tatsuki sweat-dropped, "Oh iya! Tetapi karena air hujan kemarin menetes dari gedung-gedung dan mengenai mereka, mereka jadi berkarat… Jadi," Ia tersenyum berseri-seri ke temannya yang bingung, "Jadi tidak ada roti-bakar-mentega-dengan-ikan-rasa-kacang-merah-di-atasnya-dengan-sedikit-gula-dan-lada-yang-dicampur-dengan-wasabi-dan-madu-serta-mustar untukku hari ini! Ahehehee!"
Semua orang yang berada di sekitar Inoue, mendengar kalimat terakhirnya Inoue. Mereka hanya bisa bersweat-dropped. Beberapa ada yang menutup mulut mereka, yang lainnya mengekor di jendela. Chad mengubah posisinya di tempat duduknya, Keigo berkedip, Mizuiro batuk, Ishida tertusuk jarumnya sendiri dan menyumpahinya, sementara Asagawa berusaha untuk tetap tersenyum tanpa tersedak.
"O-oh… kalau itu yang sebenarnya terjadi Ori-chan…" Gadis tomboy itu menggaruk kepalanya. Aku tidak tahuapa yang dipikirkan anak ini.
-School Grounds-
Ichigo semakin frustasi, Rukia tidak akan meresponnya meskipun Ichigo sudah berteriak ke arahnya dengan begitu keras. Ichigo sudah berusaha mengejarnya sekitar 12 blok dari tempat Rukia berdiri hingga sekarang yaitu, di depan sekolah mereka. Pria berambut oranye itu terkejut disaat ia hampir putus asa untuk menangkap shinigami mungil yang membuatnya hampir gila itu, ketika ia hampir menabrak Rukia. Ia begitu tenggelam di dalam pikirannya sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa Rukia berhenti untuk melihat jendela kelas mereka. Stroberi itu menaikkan alisnya dan mengamatinya untuk melihat apa yang menarik perhatian Rukia.
Apa yang Ichigo lihat adalah pemandangan yang membuatnya merasa jijik dan ngeri disaat yang bersamaan yaitu: muntahan dari teman sekelas mereka di jendela kelasnya yang sepeti air terjun berwarna cokelat. Ichigo menutup mulutnya dan matanya melebar. Tiba-tiba Rukia memegang tangannya dan merengut, masih mengamati jendela kelasnya.
Ichigo menoleh kepadanya, "Apakah ada hollow?"
Rukia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, aku tidak merasakan apapun sejak datang ke sekolah."
"Yeah," Ichigo menyimpulkan. Ia masih menatap wajah gadis mungil itu, wajahnya terlihat sedang terpesona. Pria berambut oranye itu harus bertanya, "Oi, bagaimana bisa kau masih melihat ke arah sana?"
Gadis berambut hitam itu mengangkat bahunya, "Itu bukanlah hal yang kau lihat sehari-hari, itu saja," Dalam sekejap ia meraih lengan Ichigo dan menuju ke pintu, "Sekarang ayolah, kau sudah terlambat,"
"Kau juga!"
"Tch, itu tidak penting. Cepat jalannya, dasar lamban, aku tahu kau sudah menunggu-nunggu saat-saat untuk melihat Inoue!" Rukia menggodanya dengan suara palsunya, dan disaat yang sama hati Rukia terasa seperti dirobek-robek. Ia harus membuat yang terbaik di saat-saat terakhirnya di dunia ini. Ia menyimpulkan, bersama-sama dengan Ichigo sudah cukup baginya, meskipun hanya untuk membuat Ichigo marah. Rukia tidak melihat wajah Ichigo yang sedang bingung terhuyung-huyung mengikutinya di belakang. Malah ia menggeser pintu menuju ke kelas mereka. Ruang kelas mereka menjadi sepi senyap ketika mereka sampai.
Aku mencintaimu, Ichigo, tetapi…
Rukia melepaskan tangannya dan Ichigo berbisik 'apa yang terjadi?' ke teman-temannya, yang membalasnya dengan tanda leher-yang-digorok. Ichigo mengangguk saat Rukia mengendap-endap ke mejanya, berusaha untuk menghindari tempat-tempat licin yang tersebar di kelas. Ia menaruh tasnya dan meminta maaf ke guru, "Maaf, sensei. Kurosaki-kun dan saya tadi harus menolong seorang pejalan kaki menyebrang jalan, lalu dia-"
"Tidak apa-apa, Kuchiki, duduk saja di kursimu jadi kita bisa melanjutkan pelajarannya,"
"Ah…hai," Rukia melihat Ichigo. Ia sudah duduk di kursinya dan merengut ke arahnya. Rukia pun kembali memperhatikan papan tulis.
Aku tahu kau tidak akan membalas cintaku.
Rukia memandang mejanya dan mendesah.
Maafkan aku jika sudah menjadi beban untukmu selama ini, aku hanya tidak bisa meninggalkanmu.
Menengadah kosong ke papan, Rukia kembali mengenang semua hal yang sudah ia lewati bersama Ichigo, serangan hollow, latihan bersama, pencarian dan penyelamatan, dan semua yang terjadi di kelas ini. Rukia duduk diam di sepanjang periode kelas, ekspresinya sayu. Rukialah satu-satunya yang di dalam kelas itu yang menyadari ada sesuatu… yang menggantung di udara.
Aku tidak punya banyak waktu yang tersisa disini, jadi aku hanya berharap yang terbaik, untukmu… dan Orihime.
Rukia kemudian berpikir kembali ke kejadian pagi tadi, dan mengingat apa yang ia lakukan bersama Ichigo. Semua yang ia lakukan adalah menanyakan Ichigo sebuah pertanyaan tentang Inoue dan Ichigo pun mengamuk. Lalu Rukia ingat dirinya tadi melamun. Rukia mengingat kembali malam itu di saat ia tidak sengaja mendengar Ichigo berbincang dengan Keigo, ketika ia mendengar bel sekolah berbunyi.
Aku tidak tahu apa yang kau katakan di belakang sana, tetapi aku tahu apa yang kau katakan tentang diriku.
Hal itu membuat Rukia sedih, ia tahu Ichigo tidak menyukainya, tetapi apakah itu terlalu kasar? Kata-kata itu bahkan lebih dingin dari zanpakutonya. Entah bagaimana, pikirannya kembali kepada interaksi di antara burung-burung tadi. Mata Rukia menunjukkan bahwa ia paham saat ia mencengkeram tasnya yang berada di atas lututnya, bukan di lantai.
Jangan khawatir, aku mengerti sekarang,
Rukia, untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, bukannya berjalan menuju pintu, ia malah menunggu semua orang untuk meninggalkan kelas. Ia tidak tahu Ichigo sedang menunggunya di balik pintu. Ia beringsut ke arah jendela, ia menggores jarinya dengan ragu di permukaan meja. Saat di kelas, ia merasa seperti ia tidak diinginkan di sana lagi, seperti ia hanya seorang anak baru dimana orang-orang tidak punya waktu untuk mengenalnya. Ia berusaha untuk mengingat setiap detail, dari letak-letak meja mereka, arah cahaya sinar matahari masuk, sampai noda-noda kecil di papan tulis yang tidak bisa dihilangkan di papan tulis.
Aku mengerti… kalau aku tidak pantas untuk berada disini.
Rukia membuka lebar jendela dengan tangannya yang bernoda air mata. Ia hendak melarikan diri ketika jari-jari yang panjang menggenggam tangannya.
"Siapa bilang kau bisa pergi, Cebol?"
Ichigo.
To be continued…
Akhirnya chapter 2 update juga… *nyengir kuda* Maaf ya author belum sempat buat balesin review yang kemaren tapi kalau ada waktu, author janji bakalan bales review dari anda semua. Mengenai kata-kata yang kurang jelas di chapter sebelumnya, author udah coba edit lagi dan udah diupload lagi kok. Semoga hasilnya menjadi lebih baik =D
~Preview untuk chapter selanjutnya~
"Jangan tinggalkan aku!"
"Ichigo, kau tahu aku harus pergi,"
"Tidak, …kau tidak boleh pergi!"
.
Jangan lupa review yaaa…. XD
