Note: disini Tao yang dimaksud "Tampan" itu. Tao motong rambutnya pendek kaya anak cowo dan keliatan tampan dan cantik bersamaan. Sejenis tomboy gituh, XD.

.

.

Just Take A Sad Story

.

Chap II

.

.

.

"T-Tao?" panggil si Wu Fan ragu. Dan yang dipanggil pun berbalik.

DEG

'Ini Bohong' batin Wu Fan terkejut.

"ah, Wu Fan gege ada apa?" Tanya Tao–yang dipanggil- dengan tatapan yang berbeda dari Tao yang biasanya, menurut Wu Fan.

"k-kau…" kata Wu Fan menggantung tergagap.

"oh, ini? Hehehe aku mulai bosan dengan model yang lama. Jadi kopotong deh" kekeh Tao –garing-.

'Ini bukan Tao. Bukan Tao-ku' batin Wu Fan miris.

.

-Kau berubah Peach-

.

Tao sampai dikelasnya dengan rasa sesak dihati. Sesak yang dikarenakan ekspresi Wu Fan tadi, entah kenapa Tao menangkap rasa terkejut sekaligus kecewa di air muka Wu Fan tadi.

"Dui bu qi" lirih Tao. Setitik air mata jatuh dari mutiara hitamnya.

.

.

"Aku pulang"

"Ah, Tao kau sudah pulang. Cepat mandi lalu turun untuk makan malam" kata Wu Fan sambil melepas celemek yang ia gunakan saat memasak tadi.

"He'em" dehem Tao acuh. Menaiki anak tangga setengah berlari.

"Sekalian panggilkan Jie jie-mu" kata Wu Fan saat Tao sampai dianak tangga paling atas. Dan lagi – lagi hanya dibalas dengan deheman oleh Tao. Wu Fan terus memandangi punggung Tao sampai tak terlihat lagi. Wu Fan hanya bisa menghembuskan nafas pelan.

Tao turun dari lantai atas bersama Mei yang berjalan didepannya. Mereka duduk dikursi masing – masing. Wu Fan dan Mei duduk bersebelahan sedangkan Tao diseberang Mei. Mereka memulai makan dengan berdoa bersama. Makan dalam keheningan.

"Oh ya, Gege ingat Yixing?" Tanya Mei tiba – tiba memecah keheningan yang ada. "He'em" jawab Wu Fan sambil memasukkan sesumpit nasi kemulutnya. "Kudengar dia pergi Korea selatan untuk audisi artis disebuah agensi ternama dan dia lolos ge" tutur Mei bersemangat. "Wah, cita – citanya tercapai ternyata. Dia dari dulu memang ingin menjadi artis di Korea selatan"

Tao hanya sekilas memandang pemandangan didepannya. Sesak. "Aku selesai" kata Tao bangkit dari duduknya sambil membawa peralatan makan yang ia gunakan tadi untuk dibasuh.

Wu Fan memandang Tao tak biasa.

.

.

"Hey Wu! Kuliat akhir – akhir ini mukamu kusut sekali? Apa yang kau pikirkan?" Tanya salah satu sahabat Wu Fan, Chen namanya.

"Meiyou" jawab Wu Fan singkat lalu kembali mengerjakan tugasnya.

"Oh ya, aku baru tau kalau Huang Zi Tao itu adikmu. Kukira hanya Mei saja. Ckck" cerocos Chen, tak menyadari perubahan air muka Wu Fan.

Ini sudah seminggu semenjak kejadian 'Tao mulai berubah' Wu Fan tak henti – hentinya memikirkan Tao. Entah mengapa rasanya sangat sesak saat melihat Tao yang sekarang. Mulai banyak yang mengenal Tao, banyak yang memperhatikan Tao dan Wu Fan tak suka itu.

"Hey Wu, kau tau si Chanlie kudengar menyukai adikmu—

Tao"

DEG

.

Tao merasa asing dengan semua ini. Sebelumnya ia Tak pernah merasakan yang namanya popular. Seperti saat ini. Ia sedang mengikuti pelajaran olahraga. Dan Ia lah yang sedang menjadi pusat perhatian, sedikit risih. Tapi, Tao merasa senang. Mungkin dengan begini Wu Fan akan meliriknya, pikirnya.

"Baiklah pelajaran kita cukupkan sampai disini. Silahkan beristirahat" kata Ma laoshi.

Tao menuju ruang ganti untuk beristirahat dan menggati pakaiannya. Namun belum sampai Tao diruang ganti Tao dicegat oleh kakaknya. Bukan Wu Fan.

" Mei Jie?"

"Tao ikut aku kita harus bicara" kata Mei sambil menarik tangan Tao menuju lapangan tenis sekolah. Mei melepas genggamannya dari tangan Tao, menatap Tao lamat – lamat dari ujung kaki sampai ujung kepala. Hingga gadis bersurai pirang itu menghembuskan nafas berat. Tao menatap kakak kandungnya itu takut – takut. Pasalnya selama seminggu ini ia dan kakak perempuannya itu jarang berbicara, tepatnya Tao lah yang menhindar berbicara dengan Mei maupun Wu Fan. Takut sang kakak marah padanya.

"Tao–" Nafas Tao tercekat saat Mei memanggilnya.

"Y-ya?" Tanya Tao dengan suara kecil pelan nan halus.

"KAU KEREN SEKALI SEKARANG KYAAAA~" histeris Mei dengan anarkisnya menguncang tubuh tinggi Tao gemas. Melihat reaksi sang kakak yang jauh dari ekspektasinya akhirnya Tao dapat kembali bernafas dengan lega.

"Coba kau dari dulu seperti ini, astaga kau keren sekali" kata Mei tersenyum sambil menatap Tao sayu, tangannya tak henti memainkan rambut hitam Tao yang pedek itu. Hanya dibalas kekehan halus dari Tao. "Yasudah hanya itu saya yang ingin kukatakan padamu. Aku kembali kekelas bye bye" kata Mei berlari kecil meninggalkan Tao. Dibalas lambaian tangan dari Tao.

.

Sudah dirasa cukup jauh dari lapangan tenis gadis bersurai pirang itu menghentikan langkahnya. Sambil menggenggem erat rok sekolah miliknnya gadis itu bergumam lirih

"Aku tak mungkin mengatakannya"

Diujung matanya dapat dilihat kilau bening air mata yang mulai keluar. Namun sesaat kemudian salah satu sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah seringai.

"Tapi sepertinya Rapunzel kita telah menyerah dan berubah menjadi sesosok kesatria. Tidak ada pangeran yang menikah dengan kesatria, pangeran hanya akan menikah dengan putri yang cantik"

.

Tao keluar dari ruang ganti, ia telah berganti pakaian. Berjalan menuju kantin. "Bi, aku beli roti coklat dan susu vanilla" pesan Tao pada bibi penjaga kantin. Setelah membayar apa yang dipesannya Tao mencari bangku yang kosong namun tak satupun bangku kosong yang ia lihat. Hingga sebuah lambaian tangan mengalihkan atensinya. Tao tersenyum, itu Chanlie.

"Tao duduklah disini" kata Chanlie sambil menggeser duduknya guna tempat Tao berduduk. "terima kasih" ucap Tao duduk ditempat yang Chanlie sediakan.

"Kau juga suka roti coklat dan susu vanilla?" Tanya Chanlie sekedar basa-basi.

"Ya" jawab Tao seadanya.

"Aku juga" kata Chanlie sambil mengoyangkan roti coklat yang ia makan dan menunjuk kotak susu vanilla miliknya. Tao tersenyum menanggapi.

"Kau tau dekat stasiun ada ada toko roti yang enak disana juga menyediakan susu atau pun kopi untuk pelanggan yang ingin mencicipi roti di toko itu langsung" kata Chanlie persuasive. Tao mulai menatap Chanlie, tergoda akan arah pembicaraan Chanlie. "Kalau kau mau, pulang sekolah ini temani aku ketoko roti itu. Akan kutraktir" dan langsung tanpa ba bi bu lagi langsung direspon dengan anggukkan dan senyum ceria khas seorang Huang Zitao. Chanlie yang tak tahan melihat tingkah Tao langsung mengacak surai hitam pendek itu. Dan entah kenapa Tao merona dibuatnya.

.

Mata itu tajam nan panas pemandangan dari pintu kantin ini sangat membakar hatinya, membuatnya ingin berteriak pada dua orang disana. Padahal tak seharusnya ia merasakan hal itu. Dia bukan siapa – siapa disini, dicerita ini. Dia bukan bagian inti dari cerita ini. Bukan pemeran yang diperlukan disini. Tapi kenapa ia harus merasa sesakit ini.

TBC

Setelah 1000 abad ngga update. Dan akhirnya update dengan tidak memuaskannya, pendek, hancur, taka ada feel, hambar. Aku merasa malu.

Masih adakah yang mau membaca ini?

TT – TT

Yosh! Aku punya beberpa pertanyaan untuk para reader jika berkenan menjawab.

Adakah yang tau maksud Mei mengatakan 'rapunsel-kesatria-pangeran-putri'? jelaskan secara spesifik. ( pertanyaan ini berhadiah )

Siapakan orang yang melihat ChanTao dikantin?

Dan pertanyaan terakhir adakah yang masih mau ff ini lanjut?

REVIEW tetap diperlukan untuk FF ini. Krisar sangat saya butuhkan

Prince . Myjonggie